- 22 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi jalan buntu.
Meski beredar kabar bahwa draf kesepakatan sempat mendekati tahap penandatanganan, sejumlah isu krusial masih menjadi penghalang tercapainya kesepakatan final.
Alumnus Rajaratnam School of International Studies NTU, Rico Marbun, menilai kebuntuan negosiasi tidak hanya berkaitan dengan program nuklir Iran.
Sementara itu, pengamat militer Anton Aliabbas mengatakan peluang Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran masih berada di bawah 50 persen.
Menurutnya, AS lebih membutuhkan tercapainya kesepakatan dibandingkan melanjutkan konflik terbuka.
Baca Juga Kala Presiden Prabowo Tak Mau Jalan Dahului Megawati-Bergandengan di Upacara Hari Lahir Pancasila di https://www.kompas.tv/nasional/672203/kala-presiden-prabowo-tak-mau-jalan-dahului-megawati-bergandengan-di-upacara-hari-lahir-pancasila
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/672208/negosiasi-damai-as-iran-buntu-ancaman-perang-masih-membayangi-ini-kata-pengamat
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Upaya perdamaian Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata sepakat.
00:04Kedua negara masih bertahan dengan poin kesepakatan yang diajukan.
00:08Di antaranya soal senjata nuklir Iran hingga pembukaan blokade di Selat Hormuz.
00:12Lantas adakah titik tengah yang bisa membuat Amerika Serikat dan Iran mengakhiri perang?
00:17Kita akan bahas bersama dengan alumnus Rajaratnam School of International Studies NTU, Rico Marbun,
00:22dan pengamat militer Said Anton Ali Abbas.
00:25Selamat pagi, Bang Rico, Mas Anton.
00:27Selamat pagi.
00:30Baik. Bang Rico, saya mau ke Anda dulu.
00:32Ini kan kita bicara soal draft kesepakatan yang katanya ini kemarin, pekan lalu gitu ya,
00:37hampir sempat mau ditandatangani oleh Trump.
00:40Tapi Trump masih menggantung, belum mau kasih keputusan akhir di sana.
00:45Nah, jika Anda melihat, ini apakah memang ganjalannya di Trump?
00:48Jadi Trump tinggal tandatangan aja sebenarnya.
00:51Mereka kemudian langsung bisa bersepakat,
00:53ataupun paling tidak untuk kesepakatan kejatan-kejatan akan diberlakukan,
00:57atau memang masih rumit sekali antara kedua negara?
00:59Ini terutama soal hormus dan juga nuklir.
01:02Jadi, kita memang akan sulit melihat kesepakatan dalam waktu dekat ini,
01:07karena tarik-menarik perdebatan hangatnya itu justru tentang tema-tema yang non-nuklir semua.
01:15Jadi, kita bisa lihat sekarang ini sebenarnya keberatan itu terjadi di dua sisi,
01:21baik Amerika maupun Iran.
01:22Iran, karena dia merasa di dalam posisi di atas angin,
01:27kemudian ditambah ketidakpercayaan terhadap Amerika,
01:30maka diskusi tentang perdamaian ini dibagi oleh Iran itu menjadi dua tahap.
01:35Tahap yang pertama itu tahap tentang tema-tema yang urusannya tidak ada hubungannya dengan nuklir.
01:42Jadi, perjanjian tentang kesepakatan nuklir itu justru masuk di tahap kedua.
01:46Tahap pertama itu apa saja?
01:48Tahap pertama itu Iran misalnya meminta supaya pertempuran di seluruh lini itu dihentikan,
01:54terutama yang sekarang itu terjadi di Lebanon dan Palestine.
01:58Dan kita lihatkan sampai sekarang ini perang di sana justru berkecamuk makin parah.
02:02Yang kedua, Iran meminta supaya kendali Selat Hormuz itu ada di tangan mereka.
02:07Nah, dan meminta supaya Amerika itu menghentikan double blokadenya di Selat Hormuz.
02:15Jadi, yang ketiga kita juga bisa melihat tuntutan maksimalis dari Iran yang menyatakan bahwa
02:25sebaiknya Amerika check out dari Timur Tengah, check out dari negara-negara telur.
02:32Kita ingat sekarang masih banyak pangkalan militer Amerika di Iran dan kurang lebih ada 50 ribu,
02:36eh, di Timur Tengah dan kurang lebih ada 50 ribu pasukan Amerika tersebar di beberapa negara.
02:42Dan tuntutan keempat dari Iran mereka meminta supaya aset-aset yang telah dibekukan itu dicairkan sebagian.
02:49Kalau ini disepakati oleh Amerika, ya, berarti kan ini sama saja untuk masuk ke tahap kedua,
02:57yaitu tahap tentang senjata nuklir itu sendiri, itu Amerika pasti akan kehilangan leverage.
03:02Jadi rasanya ini titik temu yang belum, belum, belum, apa namanya, belum ketemu.
03:06Dan ada juga faktor kedua, faktor di luar Amerika dengan Iran,
03:10yaitu usaha sabotase yang dilakukan oleh Israel.
03:14Kita tahu bahwa genjatan senjata yang diumumkan secara sepihak oleh Amerika
03:19dan sedikit banyak dipatuhi juga oleh Iran, itu bermula pada kurang lebih sekitar awal April lalu,
03:26dan itu mengikutkan sebagian wilayah Libanon.
03:31Perdamaian itu dipersyaratkan juga terjadi di Libanon dan juga terjadi di Palestina, jalur Gaza, begitu.
03:37Nah, sementara kita tahu sekarang Israel ini pasukannya setelah mereka berhasil menguasai kurang lebih 10 km dari perbatasan Israel,
03:46mereka masuk lagi, ya, masuk lagi ke arah utara, ke arah utara Libanon,
03:51itu mereka mentargetkan menguasai sampai sedalam 30 km.
03:55Kalau ini terjadi, ya, kalau ini terjadi, maka kemungkinan besar akan ada dua tahapan perang, ya.
04:03Kalau yang Israel mau ini terjadi, yang pertama itu akan ada perang regional,
04:06artinya Iran akan bertempur secara langsung dengan Israel, begitu ya.
04:11Nah, kalau ini terjadi, maka Amerika dikhawatirkan akan masuk lagi ke dalam perang baru.
04:18Nah, ini tarik-menarik, tarik-menarik, tarik-menarik, apa namanya, situasi yang sangat pelik di lapangan ini
04:25membuat kita sulit untuk melihat akan ada keputusan, apa namanya, damai, walaupun chance-nya itu masih 50-50.
04:34Dan kalau kita lihat juga, ya, satu hal yang lebih ditakutkan oleh Amerika ketimbang,
04:41oleh Trump, ya, ketimbang tidak bisa menyelesaikan perang, itu adalah terlihat kalah.
04:45Jadi, kalau misalnya kendali atas Selat Hormuz, ya, itu ada di tangan Iran,
04:52dan tidak terbuka untuk dunia internasional,
04:55dan Amerika misalnya check out dari Teluk, itu kan sama saja kalah perang.
05:00Ini lebih ditakutkan ketimbang-ketimbang tidak bisa menyelesaikan perang.
05:03Hmm, oke, masih soal gengsi Amerika Serikat yang menghalangi,
05:07dan juga tadi, umit gitu ya, poin-poinnya masih belum ketemu titik tengahnya,
05:10dan juga masih ada peran Israel di sana sebagai, ya, pemanas lah istilahnya dalam konflik ini.
05:16Saya ke Mas Anton, Mas Anton, jika kita perhatikan soal pernyataan dari Pete Hexed,
05:21kemudian yang bilang bahwa kami masih punya senjata yang cukup,
05:25kemudian masih mampu untuk memulai perang lagi,
05:28tapi di sisi lain Trump juga bilang belum mau melakukannya.
05:30Nah, kalau Anda melihatnya, apakah kemudian ada potensi bahwa Amerika Serikat benar-benar, gitu ya,
05:35akan melakukan serangan jika kesepakatan tidak kunjung, terpenuhi seperti itu?
05:42Makasih, Mas Gray.
05:43Kalau saya sih melihatnya, apakah mereka mau untuk melakukan kembali,
05:48saya masih, apa namanya, melihatnya skalanya masih relatif di bawah 50 persen.
05:53Mengapa demikian, bahwa satu, mereka jelas punya kapasitas itu, kapabilitas itu,
05:58tapi sampai sekarang mereka tidak melakukan itu, gitu ya.
06:01Jadi, justru memang yang seringkali diulang adalah ancaman dan keinginan untuk MUI tanda tangan istirahat.
06:09Itu ya, itu yang memang selalu berulang-ulang, gitu.
06:11Jadi, sementara kalau sebelumnya, sebelumnya nggak pakai bab ibu, langsung aja diserang, gitu ya.
06:15Jadi, sementara kalau sekarang cuma ancaman saja.
06:18Kenapa? Artinya kita harus melihat bahwa sebenarnya kebutuhan untuk MUI tanda tangan ini sebenarnya ada di pihak Amerika Serikat yang
06:24lebih besar.
06:25Gitu, itu satu.
06:26Walaupun misalnya, kenapa kok ini terasa alot, memang ada beberapa hal yang bisa kita lihat.
06:32Kenapa kemudian, seakan-akan kok klik sekali.
06:35Yang pertama jelas ketika kita bicara tentang gap uranium, gitu ya.
06:38Gap uranium ini yang paling banyak, ya.
06:40Paling banyak untuk menarik-menariknya.
06:42Kenapa? Karena memang ada beberapa hal, gitu ya.
06:45Ada dua hal, seidaknya, yang juga ikut mendasar ketika kita bicara tentang gap uranium.
06:49Satu adalah perdebatan, apakah ini bicara tentang moratorium atau zero enrichment, gitu.
06:54Karena dari pihak Iran, Iran melihatnya ini moratorium.
06:57Seakan-akan seperti dulu kesepakatan yang sempat ditinggalkan oleh Trump.
07:01Gitu, ini moratorium, gitu ya.
07:03Iran minta lima tahun, lalu ada bilang konsepnya ada 20 tahun, ada gap.
07:08Kalau misalnya kesepakatan yang lama kan cuma 15 tahun.
07:10Sementara Trump di media sosial bilangnya zero enrichment, nol.
07:14Itu satu.
07:15Kedua adalah soal dust, gitu ya.
07:17Ini dust yang dipercaya bahwa ini pernah, sudah terbenam di tanah.
07:22Dan Amerika bilang ini nanti, ini harus dihancurkan.
07:25Karena yang punya kemampuan Cina, gitu ya.
07:27Nanti dihancurkan dengan pengawasan badan atom internasional, gitu.
07:32Nah, Trump juga bilang bahwa no dust, no dollar, gitu ya.
07:37Jadi, itu yang kemudian tarik-menarik ada dua.
07:40Lalu, kemudian misalnya ada kontradiksi, tadi yang disebut sama Mas Riko, misalnya kontradiksi statement, gitu.
07:47Dari sisi Iran kan bilang dan menginginkan ada penarikan melundur pasukan, lalu pembukaan blokade,
07:53yang kemudian Amerika Serikat membantah, gitu ya.
07:56Itu yang kedua, tiga, memang yang jelas tekanan Israel.
07:59Belum lagi kita bicara misalnya tentang konsesi, ini ngomong tentang ekonomi, gitu ya.
08:03Jadi, tentang frozen asset, gitu, misalnya, dan pencapaian ekonomi,
08:10kalau di sisi Amerika Serikat kan mintanya inilah sangat lambat.
08:13Sementara Iran berharapnya ini langsung otomatis.
08:16Jadi, ketika kami patuh, itu langsung, gitu.
08:17Jadi, memang perdebatan-perdebatan ini, itu yang kemudian cukup pelik, gitu ya.
08:22Sehingga kemudian sampai sekarang masih berlarut-larut, gitu.
08:26Jadi, saling kunci-mengunci.
08:27Itulah kenapa kemudian kondisinya seakan-akan menjadi status quo, seperti saat ini, Mas Bre.
08:32Jadi, tapi kalau misalnya ditanya bahwa apakah perang akan mungkin, jawabannya mungkin.
08:37Tapi, kenapa tidak lakukan?
08:39Ya, karena mereka berhitung ulang, gitu.
08:40Bahwa di satu sisi Israel, memang sangat punya kepentingan.
08:44Itulah kenapa Dardegor-nya itu ada di wilayah Lebanon Selatan.
08:48Karena Israel sangat paham bahwa ini perang terhadap Iran adalah matari kampanye politiknya Netanyahu, gitu ya.
08:56Itu kenapa kemudian Dardegor-nya selalu ada di sana.
08:59Karena dia memang selalu ingin membuat gaduh.
09:00Karena di sana juga akan menghadapi pemilu.
09:03Itulah kenapa mereka membutuhkan adanya reeskalasi.
09:06Untuk apa?
09:07Untuk bisa menarik simpati dan dukungan publik saat pemilu.
09:11Kenapa?
09:12Karena memang publik Israel dalam hal ini, itu sangat menghendaki dan mendukung perang Iran.
09:18Nah, ini lah yang menjadi pertanyaan gitu, Mas Anton.
09:21Soal Israel kah yang kemudian membuat Amerika Serikat ngotot banget soal nuklir di Iran harus ditiadakan?
09:27Enggak. Itu bahwa itu ada salah satu faktor, gitu.
09:30Tapi kemudian memang yang membuat bingung, gitu, sebenarnya adalah dari pihak Amerika Serikat sendiri.
09:35Amerika Serikat ini enggak jelas sebenarnya menghendaki moratorium atau zero enrichment.
09:40Karena itu kan hal yang berbeda.
09:41Karena bagi Iran, tidak ada masalah untuk kita, untuk Iran, untuk melakukan pengayaan uranium sepanjang itu untuk kebutuhan damai.
09:50Toh itu juga berada di bawah rezimnya internasional NPT, gitu.
09:54Toh juga selama ini ketika misalnya dalam kesepakatan yang lama,
09:58IAEA kan juga ikut memantau bagaimana tingkat kepatuhan Iran terhadap, apa namanya, kesepakatan yang lama.
10:05Bahkan Trump sendiri kan ngeliat, gitu.
10:07Dan pernah mengakui bahwa Iran itu patuh loh dalam kesepakatan lama.
10:10Cuma problemnya kan, memang jadi ironis, gitu.
10:14Ketika kita bicara tentang perang ini yang berdampak sangat luas,
10:17kok perundingannya kemudian seakan-akan kok punya substansi yang sama dengan kesepakatan yang dulu Trump pernah tinggalkan, gitu loh.
10:23Ngapain kita perang sebenarnya, ya kan?
10:25Ya kita tinggal renegosiasi aja, gitu.
10:28Jadi kan, tapi bagi saya memang dari sisi Amerikanya itu enggak solid.
10:31Jadi, di satu sisi, Witkoff, gitu ya, dan tim negosiatornya itu bicara tadi.
10:37Itu yang tertuang, gitu ya, yang disampaikan oleh misalnya dari pihak Pakistan.
10:40Bicara tentang moratorium.
10:42Tapi statementnya Trump di media sosial bilangnya malah zero enrichment, gitu loh.
10:47Ini mana yang mau dipegang, gitu.
10:49Jadi, dan kalau misalnya zero enrichment kan Tuhan ini membatasi negara untuk melakukan pengayaan secara damai, gitu.
10:55Jadi kan padahal sah-sah saja, gitu.
10:57Nah, ini yang memang, mereka memang cenderung khawatir bagaimana dari NPT yang lama itu kan cuma 3-3 persen sekian,
11:05gitu.
11:06Kemudian dalam waktu yang singkat bisa jadi 60 persen, kan?
11:09Butuh 90 persen, gitu.
11:11Dan dibilang 90 persen itu hanya waktunya juga tidak lama bagi Iran, gitu.
11:14Itu kan yang ditakutinya, gitu.
11:16Tapi, bagi saya sih dari sisi Amerika Serikatnya itu memang enggak solid, gitu.
11:20Enggak solid.
11:20Karena sebenarnya pengen proposalnya itu yang jelas yang mana, gitu.
11:23Itu yang memang sekali membuat kebingungan dari sisi Iran.
11:26Dan sebenarnya yang kami lagi ingin deal itu adalah ngomong tentang moratorium yang ditawarkan dari Amerika.
11:31Atau yang dari cintanya Trump, nih.
11:33Ngomong tentang zero enrichment, gitu.
11:35Itu, Mas.
11:36Oke.
11:36Nah, kalau menurut Bang Rico, Bang Rico, kalau Anda melihatnya memang masalahnya ada di Amerika Serikat.
11:42Seperti yang tadi Mas Anton bilang bahwa bingung antara moratorium atau zero enrichment, gitu.
11:47Atau ini masalahnya sebenarnya di Iran.
11:49Yang bilang bahwa tegas, gitu.
11:51Tidak akan ada negosiasi soal nuklir.
11:54Jadi, memang kita harus ingatkan perang ini dan semua kesulitan yang kita hadapi sekarang ini tidak akan terjadi
12:00kalau Amerika tidak memutuskan untuk menyerang-erang pada 28 Februari lalu.
12:06Jadi, starting point itu ada di situ.
12:09Nah, sekarang kalau kita melihat situasi ini menjadi tambah rumit,
12:15karena sekarang yang ditakuti itu bukan lagi weapon of mass destruction.
12:19Kalau nuklir itu kan weapon of mass destruction yang ditakutkan oleh Amerika dan Israel akan dimiliki oleh Iran.
12:26Tetapi juga sekarang yang sudah jelas terlihat di lapangan, ini namanya weapons of economic destruction.
12:33Jadi, yang kita lihat sekarang itu adalah senjata pemusnah ekonomi.
12:37Yang terganggu ekonominya itu adalah seluruh dunia.
12:39Dan itu apa?
12:40Jadi, sekarang Iran punya dua kartu.
12:42Satu kartu nuklir, yang kedua itulah namanya kartu Selat Hormuz.
12:46Dan bukan hanya Selat Hormuz.
12:48Kalau kita lihat lagi di peta, ada satu wilayah itu yang namanya Bab Al-Mandeb.
12:53Yang di sana itu di, apa namanya, di dekat Bab Al-Mandeb itu.
12:57Itu dikuasai oleh gerilyawan atau pejuang yang itu dekat sekali kaitannya dengan Iran.
13:05Itu namanya Huti.
13:06Jadi, kalau dua-dua choke point ini, weapons of economic destruction ini, senjata pemusnah ekonomi ini,
13:13dua-duanya itu digenggam oleh, dua-duanya diganggu oleh Iran,
13:18maka kita akan melihat kesulitan ekonomi yang itu lebih parah daripada yang kita rasakan sekarang.
13:25Dan itu kartu yang dimiliki oleh Iran, itu yang ingin diselesaikan oleh Amerika sekarang.
13:30Sebelum mereka bicara soal, apa namanya, soal nuklir.
13:35Dan yang kita harus waspadai bersama-sama, mudah-mudahan ini saya sangat berharap ini tidak terjadi.
13:41Ketika ada, apa namanya, ketika ada ekskalasi militer lanjutan.
13:47Karena Iran ini dia dalam posisi yang merasa, satu, dia tidak punya red line lagi.
13:52Ya kan, kalau kita ingat dari war game yang dilakukan beberapa tahun, dilakukan selama bertahun-tahun,
13:59itu mereka mengatakan bahwa Selat Hormuz akan mereka blokade, akan mereka tutup kalau terjadi serangan terhadap Iran.
14:06Nah, salah satu red line-nya itu adalah keselamatan dari pimpinannya.
14:10Nah, ini kan pimpinannya langsung dieliminasi di hari pertama.
14:15Jadi, mereka tidak ada red line lagi.
14:17Sehingga mereka merasa bahwa ya, at all cost mereka akan mengajukan persyaratan yang itu sesuai dengan posisi mereka yang di
14:27atas angin.
14:27Ketika itu dilihat oleh Amerika dan Israel, maka pilihannya itu bukan pertempuran terbatas.
14:35Kalau sekarang ini kan kita melihat pertempuran terbatas.
14:37Di Selat Hormuz kita beberapa waktu yang lalu, itu kita melihat adanya proyek Operation Freedom misalnya.
14:44Proyek Operation Freedom ini kan sebenarnya Amerika ingin mencoba-coba apakah benar mereka bisa men-take over kendali terhadap Selat
14:52Hormuz.
14:52Ternyata gagal.
14:53Beberapa waktu yang lalu, beberapa hari yang lalu bahkan, setelah ternyata ada sekitar 25 kapal itu bisa lewat dari Selat
15:03Hormuz ya,
15:04yang itu diizinkan oleh Iran, Amerika kurang lebih tanker yang berbendera Amerika mematikan transpondernya dan kemudian mencoba lewat.
15:13Tapi kan itu ternyata diserbu oleh Iran dan Amerika akhirnya membalas dengan membom Bandar Abbas.
15:19Artinya kan gagal juga.
15:21Jadi perang secara terbatas ini, limited war yang dilakukan oleh Amerika dan Iran, ini menunjukkan bahwa Alhamdulillah sampai saat ini
15:29masih ada keinginan untuk melihat jalan damai.
15:32Tapi kalau ternyata tidak ketemu, maka eskalasi perang ini, ini akan berekskalasi ke perang yang lebih dahsyat dari yang kita
15:40lihat.
15:40Kenapa? Karena waktu Epic Fury kemarin itu 13 ribu target di Iran itu sudah dihancurkan.
15:46Artinya yang di atas tanah, yang di atas tanah, di atas permukaan, itu sebagian besar sudah ditarget.
15:52Tapi ternyata ada lebih besar lagi dan itu tersebar secara merata di bawah tanah.
15:59Itu tidak akan mungkin bisa dihancurkan dengan persenjataan konvensional.
16:03Itu pasti akan dihancurkan dengan persenjataan yang lebih berat dan ini akan mengerikan.
16:07Karena itu kan artinya ada perbincangan soal nuklir taktis di sana.
16:11Dan pilihannya saya melihat hanya itu.
16:16Hanya itu kalau menurut saya.
16:17Yang membuat Iran itu akhirnya mau takluk.
16:19Nah, kemudian kita bicara soal dari kemungkinan perang semakin besar.
16:24Tapi kalau kita simak pernyataan dari Trump, saya ke Mas Anton, Trump bilang bahwa mereka sengaja menahan diri.
16:33Karena sadar bahwa kalau mereka menyerang militer Iran, itu dampaknya akan merugikan bagi mereka.
16:40Nah, ini sebenarnya Amerika Serikat itu sudah sadar, sudah bisa mengkalkulasi apa yang akan mereka lakukan akan berdampak apa.
16:47Atau ini secara tidak langsung, Amerika Serikat mengakui bahwa kekuatan Iran masih besar?
16:53Ya, sebenarnya kalau misalnya kita cermati ya, kita cermati apa yang disampaikan oleh Trump melalui media sosial kan itu sebenarnya
17:01pesan-pesan ya.
17:02Pesan-pesan, poin-poin yang ingin dibahas dalam negosiasi dan dalam hal ini dia ingin memaksa Iran untuk patuh.
17:08Ngomong tentang zero enrichment misalnya, saya pikir akan sangat kecil kemungkinannya jika kita bicara dalam rejim NPT,
17:18bahwa kemudian ada negara yang benar-benar bisa dipaksa untuk meninggalkan itu, untuk sampai zero enrichment gitu ya.
17:27Kecuali misalnya negara itu kemudian dirombak total dan itu kan memang diupayakan oleh Trump ternyata gagal.
17:34Sehingga kemudian berlarut gitu ya, ini kan.
17:37Jadi, dari kalau misalnya saya melihat bagaimana pola ancamannya Trump, lalu kemudian bagaimana pesan-pesan yang diinginkan oleh Trump,
17:46itu kan sebenarnya Trump lebih menginginkan bagaimana kemudian MOU itu bisa ditandatangani.
17:51Gitu ya, jadi kalau misalnya sejauh ini mereka masih tetap ingin memaksakan dia satu paket gitu,
17:56sementara kalau Iran itu dipingin dipisah dalam dua tahapan gitu.
18:02Tahapan pertama kita bicara tentang Hormuz dulu, kalau kita disepakati karena ini yang memang tak concern internasional,
18:07baru habis itu kita masuk dalam fase gencatan senjata, yang ini kemudian kita bisa bahas misalnya salah satunya oleh tentang
18:13nuklir gitu ya.
18:15Jadi, ada jeda-jeda gitu ya.
18:17Nah, sementara kan kalau misalnya Amerika pengen langsung aja keseluruhan gitu.
18:22Jadi, ini ada-ada memang apa namanya, memang saling coba mengunci ya bagaimana ada yang mengen tahapan, ada yang pengen
18:29utuh gitu ya.
18:31Jadi, saya melihatnya itu.
18:33Walaupun kemudian, kalau nanti ada MOU yang disepakati di tim negosiasi gitu ya, tim negosiatur,
18:39jangan-jangan kemudian Trumpnya yang gak mau tanda tangan kan itu juga bisa jadi scenario gitu ya.
18:43Itu sementara di lapangan, tiba-tiba Trump ngecuit gitu.
18:46Saya gak setuju gitu.
18:47Jadi, dan itu kan selalu dilakukan oleh dia gitu.
18:50Jadi, bagaimana kemudian di lapangan yang difasilitas oleh Pakistan gitu,
18:54coba udah bekerja keras gitu, ngomong tentang moratorium,
18:58eh tiba-tiba dia bicara, gak ada, zero enrichment gitu.
19:01Jadi, seringkali Trump kemudian di Washington itu membuat gebrakan yang surprise,
19:06yang kemudian membuat kondisi negosiasi yang dilakukan secara tidak langsung itu menjadi kacau balau.
19:12Itulah kenapa kemudian Iran itu selalu berkali-kali bilang,
19:15kami itu distrust dengan Amerika.
19:17Kenapa?
19:18Antara di lapangan sama di Washington itu kok kadang-kadang beda.
19:22Ini mana yang saya dengerin gitu.
19:23Ini yang seringkali membuat dinamika.
19:27Saya melihatnya dinamika negosiasi itu menjadi panjang gitu, menjadi rumit.
19:31Kenapa?
19:32Karena kadang-kadang Trump itu muncul dengan idenya sendiri gitu.
19:36Jadi, Trump idenya berubah.
19:38Walaupun misalnya, saya melihatnya, kenapa dia berubah-berubah?
19:41Jangan-jangan ini ada poin yang dia ingin masukkan gitu ya.
19:45Masukkan, bagi dia untuk saving face gitu.
19:48Jadi, uranium ini kan sebenarnya,
19:49kalau misalnya kita lihat kan, ini sebenarnya dulu itu sudah pernah dibahas gitu.
19:53Ada kesepakatan tahun 2015.
19:56Kenapa kok jadi inti?
19:57Saya melihatnya ini jangan-jangan, ini hanyalah decoy gitu ya.
20:01Jadi, ini adalah sasaran antara sebenarnya ada paket.
20:03Ada ide yang ingin dimasukkan oleh Trump.
20:06Dan ini masih agak alot gitu, disepakati oleh Iran gitu loh.
20:10Kenapa?
20:10Kalau misalnya ini masuk, Trump bisa jadi menjual bahwa ini adalah kemenangan dia.
20:15Nah, sebetulnya kan bagi saya, ketika Iran sudah bicara tentang penangguhan moratorium,
20:20kan Iran itu sudah agak mundur.
20:23Sudah agak mundur dari posisinya gitu.
20:25Jadi, dia sudah mau dibicara uranium, ada time frame dan lain-lain.
20:28Tapi, ketika dipaksa di sebuah enrichment,
20:30nah ini bubar nih ceritanya.
20:31Nggak mau mereka.
20:32Kalau kita boleh sebagai negara yang berdaulat, negara yang set,
20:35nggak ada yang masalah.
20:36Kenapa kok dia memaksakan gitu.
20:38Jadi, saya melihatnya, jangan-jangan ini ada memang,
20:40jadi ini, jadi ada barter, seakan-akan ada barter ini,
20:43yang masih belum dipakati oleh Iran.
20:45Jangan-jangan seperti itu gitu.
20:47Nah, itu yang belum muncul.
20:48Sebenarnya, tabirnya itu apa sih ya negosiasinya?
20:51Apakah misalnya, Amerika pengen ikut tarif tol hormus misalnya?
20:56Atau kayak apa?
20:57Dan kita juga nggak tahu, Mas Fri.
20:59Itu, Mas Fri.
20:59Nah, ini yang mau saya tanyakan ke Bang Riko.
21:02Bang Riko, ini singkat saja.
21:04Memang soal apa yang diinginkan oleh Amerika Serikat ini,
21:07kemudian mau direvisi.
21:09Ini Trump bilang lagi revisi proposal untuk soal uranium dan juga selat hormus.
21:13Kita bicara soal selat hormus ini.
21:14Nah, ketika yang di awal saja soal pengayaan dan juga soal moratorium Indonesia tidak jelas,
21:23kemudian dia ingin merevisi lagi, membuat syarat lebih berat lagi,
21:27Iran seperti apa?
21:28Iran bakal ada nggak sesuatu yang bisa dikompromikan oleh Iran?
21:32Apa yang kemudian bisa membuat Iran mengetujui apa yang diajukan oleh Amerika Serikat?
21:38Jadi, menurut saya ini ada dua sisi.
21:40Kalau kita melihat sekarang yang kuat sekali,
21:42jadi ada tarik-menarik antara pro-perang dan pro-damai di dua negara,
21:46baik di Amerika maupun di Iran.
21:48Kalau kita lihat argumentasi pro-perang di Amerika yang membuat,
21:51apa namanya, negosiasi ini seakan berlarut-larut,
21:55itu karena mereka sadar bahwa ternyata salah perhitungan pada saat memulai perang.
22:01Mereka berpikir setelah 38 sampai 40 hari perang,
22:04itu Iran bisa ditaklukkan dengan mudah.
22:07Nah, tapi kan ternyata itu tidak terjadi.
22:09Bahkan sekarang, hegemony Amerika Serikat di teluk,
22:13di teluk, negara-negara teluk, itu kan terancam.
22:15Kalau kendali selat hormus itu ada di tangan Iran,
22:19jangan lupa itu kan pangkalan militer Amerika banyak sekali di sana.
22:21Nah, apa iya Iran mau membiarkan kapal militer Amerika keluar masuk dari Laut Arab situ,
22:29kemudian masuk ke negara-negara teluk,
22:31kan pasti tidak akan diizinkan oleh Iran.
22:35Sehingga, kalau hegemony oleh Amerika itu terancam,
22:38pasti mereka akan mengajukan persyaratan yang lain.
22:41Yang kedua sekarang, kita bisa melihat juga pro-perang di Iran,
22:45ini juga menguat.
22:46Jangan lupa, pemimpin Iran terdahulu itu dikenal dengan strategi,
22:51yang dinamakan dengan strategic patience.
22:54Jadi, kesabaran yang strategis.
22:55Jadi, mereka tidak akan mau menyerang lebih dulu kalau tidak diserang.
22:59Tetapi kan, pemimpin-pemimpin yang punya haluan seperti itu,
23:02itu dieliminasi oleh Amerika.
23:04Yang sekarang itu adalah pemimpin-pemimpin militer,
23:07IRGC yang muda-muda,
23:09dan mereka melihat bahwa kesabaran ini atau damai ini
23:12bisa jadi bukan hal yang baik untuk Iran.
23:15Sehingga, sekarang ini ada informasi,
23:17begitu ya, bahwa justru inilah saatnya sekarang Iran itu
23:21makin kuat untuk mengejar senjata nuklir.
23:23Karena pembangunan senjata nuklir itu rata-rata dilakukan di bawah tanah,
23:29dan hanya butuh waktu 12 bulan
23:31untuk menaikkan dari 60% ke 90%.
23:35Dari 90% itu, kemudian mereka memperkirakan
23:38kurang lebih butuh waktu 3 plus 3 bulan
23:41untuk mempersiapkan bom nuklir
23:43seperti, tidak usah canggih-canggih,
23:46tapi seperti yang terjadi pada Perang Dunia Lalu,
23:49Perang Dunia Kedua Lalu,
23:50dan kemudian untuk melakukan tes.
23:52Jadi, kalau ini dibiarkan berlarut-larut,
23:58bukannya tensi makin turun,
24:02yang terjadi, ini potensi ekskalasinya akan makin besar.
24:06Karena baik pihak Amerika maupun Israel melihat,
24:09wah, jangan-jangan ini hanya waktu bagi mereka
24:11untuk mengulur waktu.
24:14Sementara di saat yang bersamaan,
24:15mereka juga melihat,
24:16wah, ini berarti kita semakin tercekik secara ekonomi,
24:20semakin tercekik, semakin terisolasi.
24:23Jangan lupa, baru-baru saja Amerika mengeluarkan sanksi baru,
24:27yaitu pesawat yang ada dari, apa namanya,
24:30pesawat yang dari Iran,
24:31atau perusahaan yang berhubungan dengan aviasi dari Iran,
24:34semua akan di-block.
24:36Soal kripto juga lagi di-sanksi gitu ya.
24:39Nah, ini tekanan-tekanan.
24:411 bilion dolar.
24:42Jadi ya, mereka melihat sekarang ya,
24:45jangan-jangan memang tidak ada cara lain,
24:47tidak ada bahasa yang dimengerti oleh Trump dan Amerika,
24:50kecuali bahasa kekuatan.
24:51Ini kan bahaya.
24:51Ini dia yang kita khawatirkan.
24:53Iran kemudian yang selalu merasa terancam dan terdesak
24:55dan ditekan oleh Amerika Serikat,
24:57bisa muntap one day gitu ya,
24:59dan bisa menyerang Amerika Serikat.
25:00Ini yang tidak kita inginkan tentunya.
25:02Kita nantikan bagaimana kemudian dari kedua negara,
25:05terutama Trump,
25:05ini bisa berlaku dalam terkunci bijak gitu ya,
25:09dalam negosiasi ini,
25:11supaya peran berakhir gitu ya,
25:12dan juga rasional seperti itu.
25:14Terima kasih.
25:15Bang Riko Marbun,
25:16alumnus Rajaratnam,
25:17School of International Studies,
25:19NTU,
25:19dan juga Mas Anton Ali Abbas,
25:21pengamat militer SAID,
25:22sudah bergabung bersama kami di Sampai Daudi,
25:24siap lagi.
25:25Selamat pagi.
25:25Terima kasih.
25:25Terima kasih.
25:25Terima kasih.
25:26Terima kasih.
Komentar