- 12 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Dalam pertemuan, Presiden AS Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Trump menyebut Xi ingin membantu meredakan situasi dan menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka.
Di sisi lain, China juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Iran.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Yulius Purwadi Hermawan menilai situasi saat ini menunjukkan Iran sedang memainkan strategi mengulur waktu, sementara AS berada dalam tekanan politik domestik menjelang pemilu.
"Iran mengulur waktu, sedangkan AS tidak punya banyak waktu jelang pemilu," kata Yulius dalam program Sapa Indonesia Pagi, Jumat (16/5/2026).
Menurut Yulius, Iran dan Amerika Serikat terikat pada hukum kebiasaan internasional yang mengatur kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menilai penyelesaian konflik tidak akan berlangsung cepat karena Iran kemungkinan menuntut kompensasi atas dampak perang dan tekanan yang mereka alami.
"Akan sangat panjang. Iran mencari alasan untuk mengganti biaya kerusakan dari perang," ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Timur Tengah BRIN Nostalgiawan Wahyudhi menilai Iran saat ini berada di posisi yang cukup kuat dalam diplomasi internasional.
"Iran tahu dia di atas angin dalam diplomasi ini. Iran tidak akan melepaskan 47 tahun penderitaan, ini sebuah kesempatan berharga," kata Nostalgiawan.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
Baca Juga Detik-detik WNA Dijambret di Bundaran HI hingga Jatuh Tersungkur di https://www.kompas.tv/nasional/669068/detik-detik-wna-dijambret-di-bundaran-hi-hingga-jatuh-tersungkur
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669080/china-di-tengah-konflik-as-iran-mampukah-xi-bujuk-teheran-sapa-pagi
Trump menyebut Xi ingin membantu meredakan situasi dan menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka.
Di sisi lain, China juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Iran.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Yulius Purwadi Hermawan menilai situasi saat ini menunjukkan Iran sedang memainkan strategi mengulur waktu, sementara AS berada dalam tekanan politik domestik menjelang pemilu.
"Iran mengulur waktu, sedangkan AS tidak punya banyak waktu jelang pemilu," kata Yulius dalam program Sapa Indonesia Pagi, Jumat (16/5/2026).
Menurut Yulius, Iran dan Amerika Serikat terikat pada hukum kebiasaan internasional yang mengatur kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menilai penyelesaian konflik tidak akan berlangsung cepat karena Iran kemungkinan menuntut kompensasi atas dampak perang dan tekanan yang mereka alami.
"Akan sangat panjang. Iran mencari alasan untuk mengganti biaya kerusakan dari perang," ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Timur Tengah BRIN Nostalgiawan Wahyudhi menilai Iran saat ini berada di posisi yang cukup kuat dalam diplomasi internasional.
"Iran tahu dia di atas angin dalam diplomasi ini. Iran tidak akan melepaskan 47 tahun penderitaan, ini sebuah kesempatan berharga," kata Nostalgiawan.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
Baca Juga Detik-detik WNA Dijambret di Bundaran HI hingga Jatuh Tersungkur di https://www.kompas.tv/nasional/669068/detik-detik-wna-dijambret-di-bundaran-hi-hingga-jatuh-tersungkur
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669080/china-di-tengah-konflik-as-iran-mampukah-xi-bujuk-teheran-sapa-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Intro
00:08Di tengah kebuntuan negosiasi dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terbang ke Tiongkok untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
00:16Presiden Tiongkok Xi Jinping menyambut Presiden Trump dengan berjabat tangan saat keduanya bertemu di Beijing.
00:21Dalam pertemuan itu, Trump mengklaim Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka selat hormus
00:26karena ketegangan antara Washington dan Teheran masih belum terselesaikan.
00:32Presiden Xi would like to see a deal man. He would like to see a deal man.
00:37And he did offer, he said, if I can be of any help at all, I would like to be
00:42of help.
00:42He did say that.
00:43Yeah, he did say that. And look, anybody that buys that much oil has obviously got some kind of a
00:48relationship with him.
00:50But he said, I would love to be of help if I can be of any help whatsoever.
00:53However, he'd like to see the hormus straight open.
00:57He said, if I can be of any help whatsoever, I would like to help.
01:02Sementara, Xi Jinping mengatakan, saat ini di situasi internasional sangat dinamis dan penuh gejolak.
01:07Kedua negara seharusnya menjadi mitra, bukan pesaing atau lawan.
01:37Sementara, Xi Jinping mengatakan, saat ini di situasi.
01:47Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arakshi menyalahkan Amerika Serikat atas ketegangan di Selat Hormuz.
01:53Arakshi menegaskan, selat tersebut terbuka untuk semua kapal komersial,
01:57namun menekankan minim nyala melintas maritim di jalur vital tersebut disebabkan oleh blokade ilegal Amerika.
02:04Arakshi menambahkan, kapal-kapal harus bekerjasama dengan Angkatan Laut Iran.
02:08The Strait of Hormuz is now suffering first and most from the U.S. aggression
02:14and the blockade that they have imposed on it.
02:18As far as we are concerned, the Strait of Hormuz is open for all, you know, commercial vessels,
02:29but they need to cooperate with our Navy forces.
02:33So we have not made any obstacles, it is Americans who have made blockade,
02:39and I hope that that could be ended by the removal of this illegal blockade imposed by America.
02:49Situasi di peranan Selat Hormuz dan sekitarnya memanas sejak perang berkecamuk
02:54antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.
02:58Teheran memblokir aktivitas perlintasan Selat Hormuz selama perang berkecamuk.
03:03Kemudian Amerika Serikat merespons dengan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran
03:07meskipun gejatan senjata yang rapuh berlaku sejak 8 April lalu.
03:17Di tengah kebuntuan negosiasi dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump
03:21terbang ke Tiongkok untuk bertemu Presiden Xi Jinping
03:24untuk membahas kerjasama ekonomi hingga ketegangan geopolitik global, termasuk Selat Hormuz.
03:30Dalam pertemuan itu, Donald Trump mengklaim Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka Selat Hormuz.
03:36Apakah Tiongkok mampu membujuk Iran untuk membuka Selat Hormuz?
03:39Akan kita bahas bersama dengan pakar hubungan internasional, Universitas Paharahiangan,
03:44Julius Purwadi Hermawan, dan pengamah Timur Tengah, Badan Riset dan Inovasi Nasional Nostalgiawan Wahyudi.
03:50Selamat pagi, Mas Wawan, Pak Julius.
03:53Ya, selamat pagi, Mas Bray.
03:55Selamat pagi, Mas Bin.
03:56Saya ke Pak Julius lebih dahulu, ini laporan dari NBC News,
04:00bilang bahwa pejabat Amerika Serikat mengungkap kesepakatan yang di-taken
04:05ataupun mungkin disepakati oleh dua negara di antara Amerika Serikat atau juga Tiongkok,
04:09terutama soal Selat Hormuz, sama-sama ingin membuka Selat Hormuz,
04:14kemudian Tiongkok juga katanya menentang untuk militarisasi dan juga pengenaan tarif di sana.
04:20Apakah dengan hal ini berarti Tiongkok nanti akan lebih getol lagi untuk menekan Iran agar membuka Selat Hormuz, Pak Julius?
04:28Ya, apakah Tiongkok akan lebih getol lagi ya setelah bertemu dengan Trump?
04:33Tentu saja banyak faktor nanti yang akan terjadi kemudian.
04:37Tetapi poin yang paling penting ini kan sudah ada komitmen yang sifanya retorik ya.
04:42Dan itu biasa dalam sebuah pertemuan di antara pemimpin, apalagi levelnya KTT,
04:47itu akan disampaikan oleh masing-masing pihak.
04:50Jadi ada empat poin yang disampaikan oleh Xi Jinping ya,
04:54dan itu janjinya kurang lebih ya, janji retorik setidaknya kepada Presiden Trump.
04:58Yang pertama menolak militarisasi yang dilakukan di kawasan Selat Hormuz.
05:04Dan militarisasi akan memperah konflik, itu argumentasi Xi Jinping.
05:08Lalu yang kedua adalah menentang tarif sepihak yang dilakukan oleh siapapun,
05:13dalam hal ini kita bicara pasti Iran ya, membebankan biaya tarif atau tarif tol
05:18bagi kapal-kapal komersial, kapal-kapal tanker yang melepati jalur tersebut.
05:21Lalu kemudian Tiongkok juga menjanjikan untuk membantu di balik layar,
05:27menggunakan pengaruhnya terhadap Iran.
05:29Itu juga disampaikan, diplomasi belakang layar.
05:32Termasuk hal yang penting adalah komitmen non-militer ke Iran.
05:36Jadi Trump meminta supaya Tiongkok tidak lagi menyuplai persenjataan ke Iran.
05:41Dan itu memang disampaikan.
05:42Nah, apakah kemudian akan direalisasikan?
05:45Tentu saja akan banyak faktor.
05:46Dalam pertemuan kemarin kan masih ada beberapa yang gantung ya,
05:51utamanya misalnya terkait dengan isu Taiwan.
05:54Tergantung niat baik Presiden Trump menangan isu Taiwan,
05:59baru kemudian Xi Jinping juga akan melihat apakah akan merealisasikan secara penuh.
06:04Tetapi kalau kita lihat niat baik Tiongkok dari awal,
06:09saya kira itu akan dilakukan gitu ya.
06:12Sejauh Amerika Serikat juga menunjukkan niat baik.
06:15Itu bagian yang sangat penting yang saya kira Presiden Xi Jinping sangat cerdas.
06:20Ketika menghadapi seorang Presiden Trump ya,
06:23bahwa Trump akan menunjukkan niat baik dulu.
06:25Baru komitmennya akan dieksekusi.
06:28Tapi kalau misalnya kita lihat Pak Julius untuk Tiongkoknya sendiri,
06:33memang secara di depan gitu pastikan akan ada narasi-narasi yang kemudian
06:39istilahnya membuat Donald Trump ini juga bisa puas dalam tanda kutip.
06:43Tapi di belakang layar bisa jadi misalnya ini ada laporan dari Intelijen Amerika Serikat
06:47dari New York Times ini dilaporkan bahwa Tiongkok melalui negara ketiga
06:52ini diam-diam mengirimkan senjata juga ke Iran.
06:55Sebenarnya Tiongkok ini niatnya memang ingin pelanjut perang
07:00antara Iran dan juga Amerika Serikat
07:01atau mendorong tadi untuk perdamaian ataupun perundingan misalnya?
07:06Ya harus diakui ya, tidak ada pemenang yang dapat mengambil keuntungan
07:10dari perang antara Amerika Serikat dan Iran ya, itu harus diakui.
07:14Dan Tiongkok merasakan dampaknya, termasuk kemudian terkait dengan
07:19distribusi supleminya ke Tiongkok, itu harus diakui.
07:23Jadi kalau kita membaca niat baik dari Tiongkok yang visioner gitu,
07:29bahwa sesungguhnya yang diinginkan adalah penghentian perang
07:34antara Amerika Serikat dan Iran, itu pandangan saya.
07:38Tetapi bahwa kemudian apakah betul dia menyuplai ke Iran,
07:42itu sudah realitas ya, dan negara melakukan itu.
07:45Amerika Serikat kan juga melakukannya ke Israel gitu ya,
07:48lalu Tiongkok dengan berbagai macam cara juga melakukannya.
07:51Nah sekarang pertanyaan apa salahnya?
07:53Buat Amerika Serikat salahnya adalah itu melanggar
07:56sepukatan internasional, embargo senjata ke Iran.
07:59Tetapi lagi ya, apakah Tiongkok punya posisi tentu saja
08:03terkait dengan embargo ini adalah kewajiban mitra sejati
08:10dari Iran untuk tetap mendukung.
08:12Dan Iran sangat percaya betul ya, komitmen Tiongkok gitu ya,
08:17untuk menjadi mitra ke depan yang sangat-sangat berkomitmen
08:21untuk menjaga dan membantu Iran dalam situasi yang sangat sulit.
08:27Nah pertanyaan apa salahnya? Kembali lagi tadi ya.
08:29Apa salahnya dalam politik global kalau sebuah negara ingin menjaga pengaruh?
08:35Dan terutama dalam situasi di mana unilateralisme itu menjadi karakteristik utama.
08:40Trump ini kan sedang bermain-main dengan kekuatannya sebagai negara super power.
08:44Dan dunia ini membutuhkan kekuatan penyimbang.
08:48Dan saat ini yang kita bisa harapkan sebagai kekuatan penyimbang adalah Tiongkok.
08:52Dan Xi Jinping tahu betul betapa pentingnya kekuatan penyimbang dalam politik global.
08:57Oke, baik. Saya ke Mas Wawan.
09:00Mas Wawan, kalau Anda melihat jika Tiongkok yang meminta untuk membuka Selat Hormuz,
09:05apakah Iran mau?
09:08Iya, Mas Bre. Jadi sebetulnya posisi dari Iran itu sudah sangat-sangat signifikan ya,
09:15ketika sejak Iran dan Amerika mau untuk duduk dalam negosiasi di Pakistan.
09:20Jadi meskipun secara profil itu merupakan salah satu usaha upaya dari Pakistan,
09:27tetapi kita tidak bisa betul namanya menafikan bahwa Cina memberikan garansi kepada Iran untuk duduk dalam negosiasi.
09:37Jadi seperti ini Mas Bre.
09:38Jadi meskipun ada kesepakatan antara Trump dengan Xi,
09:43memang untuk Selat Hormuz itu berkaitan tidak hanya dengan Cina,
09:47tapi seluruh dunia.
09:48Jadi ekonomi dan ketahanan energi dunia juga terancam.
09:51Jadi memang ada kepentingan ekonomi bersama untuk membuka Selat Hormuz.
09:54Dan yang kedua yang menarik sebetulnya Mas Bre.
09:56Jadi ada ketidaksepakatan ya tentang nuklir ya,
10:00yang tidak diungkapkan secara gamblang antara Trump dengan Cina.
10:03Trump mengatakan bahwa Cina sepakat untuk tidak menyediakan senjata nuklir bagi Iran.
10:09Namun ada hal yang tidak diungkapkan ya,
10:11yaitu bahwa Cina tetap tidak sepakat membatasi nuklir untuk keperluan sipil ataupun damai.
10:17Itu yang perlu kita senangkan.
10:20Jadi kita bisa melihat di sini secara diplomatik ya.
10:23Jadi kita bisa melihat secara profil diplomasi Amerika di dunia itu secara influence menurun.
10:29Jadi AS tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menundukkan Iran dengan kekuatan sendiri.
10:34Jadi ada permintaan, bantuan Cina yang merupakan momen diplomatik, defisit bagi AS.
10:39Dan juga pengakuan AS terhadap kapasitas diplomatik dan ekonomi Cina di dunia ya.
10:45Dan ini seolah-olah Cina menjadi kunci akhir dari exit way, perang Iran dan Amerika Serikat.
10:51Yang kedua kita bisa melihat bahwa AS pada titik tertentu tidak bisa menyetir Cina.
10:55Jadi bagaimana tegasnya Cina menyatakan bahwa kemungkinan konflik antara Cina dengan Amerika bisa terjadi dalam kasus Taiwan.
11:05Jadi semacam ada diplomatic pressure yang di-highlight oleh Cina terhadap Amerika Serikat.
11:11Dan nyaris sebetulnya tidak ada diplomatic pressure yang diberikan Trump terhadap Cina.
11:16Karena Trump sendiri yang datang ke Cina.
11:18Yang ketiga yang perlu kita cermati adalah belum ada diplomatic trust.
11:21Jadi ini yang belum terbangun dari pembicaraan antara Trump dengan Xi.
11:26Jadi terlalu banyak kasus sebetulnya yang perlu diselesaikan antara AS dan Cina ya.
11:30Kasus Taiwan, perang dagang, rantai pasok, tanah jarang ya.
11:34Teknologi AI dan juga pembatasan ekspor semikonduktor yang itu masih mengganggu sebetulnya hubungan dagang antara Cina dengan Amerika.
11:42Dan kalau kita lihat ya sebetulnya tema dari pembicaraan tentang Salah Pohon Musi itu masih sebagian kecil sebetulnya.
11:53Dilihat dari kepentingan Cina yang cukup besar ya.
11:55Tidak akan menyanyiakan kunjungan Trump yang terbatas ke Cina ya.
11:59Jadi ekonomi first lebih dominan dalam diplomatik ini.
12:03Jadi ada national interest dari kedua negara yang memang ingin dibicarakan secara lebih serius.
12:07Jadi AI tidak akan mengorbankan kepentingan nasional ini hanya untuk membicarakan tentang konflik misalnya Salah Pohon Musi yang merupakan sebagian
12:20ya.
12:20Dan pertemuan diplomatik ini juga sangat, kita melihat bahwa Cina juga dengan Amerika juga sangat tergantung ya.
12:28Misalnya Amerika sangat bergantung dengan manufaktur dan produksi Cina yang berbiasa murah.
12:31Cina tergantung dengan konsumen AS dan teknologi mutakhir yang diperlukan.
12:35Dan yang berikutnya adanya, Cina tetap ingin mempertahankan adanya aliansi yang trusted yang sudah dibangun antara Rusia, Iran, Korut, dan
12:46Cina sebagai kekuatan penyeimbang.
12:47Seperti yang tadi ditutarkan oleh Pak Julius, itu memang benar.
12:50Dan yang terakhir mungkin yang perlu kita pertambahkan ya.
12:53Saya belum melihat bahwa pertemuan antara Xi dengan Trump ini lebih bersifat meyakinkan sustain dan berdampak permanen.
13:02Kita tahu bahwa ini bukan yang pertama kali Trump untuk bertemu dengan Xi di Cina ya.
13:08Pada tahun 2017 juga ada pertemuan sebetulnya.
13:11Tetapi perang dagang yang begitu keras, batasan ekspor, tarif, dan benturan politik masih terjadi.
13:16Terutama di Laut Cina Selatan.
13:17Sehingga saya kira ini perlu banyak yang kita pertimbangkan ya.
13:21Jadi ini merupakan sebuah jendela, ada langkah yang bagus.
13:24Terus untuk kembali melihat ya dalam posisi Cina untuk memainkan fungsi diplomatiknya.
13:32Dan juga kalau kita cermati ya, ada posisi Cina yang perlu kita garis bawahi sebelum kita berbicara tentang Selat Hormus
13:39lebih banyak.
13:39Yang pertama, kita melihat posisinya masih tetap.
13:42Cina menginginkan deeskalasi.
13:45Tetapi Cina tidak menginginkan regime change.
13:47Itu yang seperti diharapkan oleh Trump.
13:49Dan Cina juga masih terbuka, secara terbuka menyalahkan sebetulnya terjadinya misalnya mandeknya diplomasi nuklir, agresi perang, atau blokade Hormus yang
14:00menyebabkan permasalahan energi dan ekonomi dunia itu merupakan adalah kesalahan dari Amerika Serikat sendiri.
14:07Dan juga tetap setuju ya dengan adanya akses nuklir terhadap Iran untuk keperluan sipil dan damai ya.
14:16Dan yang satu lagi yang perlu kita cermati, kemarin Cina juga melakukan veto di Dewan Keamanan PBD terhadap upaya defensif
14:24action ya.
14:25Jadi sikap non-interference ini perlu dicermati.
14:28Sejauh mana nanti Cina akan masuk dalam posisi perdamaian ini.
14:32Karena untuk posisi non-interference dan juga defensif action itu bagi Cina adalah sesuatu yang akan meningkatkan eskalasi.
14:39Dan juga akses bantuan kemanusiaan ataupun saya kira ya meskipun ada statement bahwa Cina tidak akan mengirimkan bantuan persenjataan kepada
14:47Iran.
14:48Tetapi kita harus tahu bahwa sebetulnya selama ini bantuan dari Cina kepada Iran bukan G2G.
14:53Tapi business to government atau business to business.
14:56Seperti yang dilakukan oleh AS selama ini yang sangsi yang dilakukan AS terhadap perusahaan-perusahaan Cina.
15:02Karena tidak ada pemberitahuan persi bahwa Cina mendeklarasikan untuk ikut dalam secara ekspresif, secara defensif ataupun ekspansif untuk membantu Iran.
15:15Tetapi bagaimana perusahaan misalnya intelijen dari Cina seperti Miservision itu bisa melacak pesawat B-2 dan juga military base dan
15:23juga Citra Satri yang memberikan.
15:25Ini loh kekuatan Amerika misalnya F-35 yang berada di sini juga pesawatnya seperti ini.
15:29Dan itu sebetulnya langkah-langkah dua kaki yang sebetulnya kita inginkan Cina selama ini.
15:34Oke, nah kita bicara soal Amerika Serikat.
15:36Saya ke Pak Julius.
15:38Amerika Serikat Trump sebelum pertemuan Xi Jinping bilang tidak butuh Tiongkok untuk menyelesaikan perang di Iran.
15:43Tapi di sisi lain Marco Rubio, Menwaes malah bilang kita perlu meyakinikan Tiongkok untuk berperan lebih aktif untuk menghentikan aktivitas
15:51Iran di Teluk Persia.
15:53Jadi sebenarnya Amerika Serikat ini butuh atau tidak sih untuk bisa menyelesaikan perang di Iran menggunakan Tiongkok seperti itu?
16:01Ya, pernyataan yang berbeda di antara Presiden dan Menteri Lagi itu menunjukkan bahwa ada keletihan yang luar biasa yang sedang
16:11dialami oleh Amerika Serikat di dalam konteks perang dengan Iran.
16:15Itu kelihatan ya, bahwa tidak butuh Iran atau tidak butuh Tiongkok, itu disampaikan oleh Presiden Trump.
16:22Sementara Marco Rubio, Menteri Lagi menyampaikan memerlukan banyak pihak untuk mendukung penyelesaian perang Amerika Serikat dengan Iran, termasuk pembukaan Selatormus.
16:33Realitasnya yang kita lihat kan Amerika Serikat tidak bisa sendiri, itu betul dan itu saya kira kalau disampaikan oleh Trump,
16:40dia akan malu.
16:41Malu berat, sudah terlalu sombong di dalam tweetnya, di dalam media sosial bahwa Amerika Serikat bisa melakukan apapun.
16:49Tetapi nyatanya sampai hari ini, kontrol atas Selatormus masih dipegang oleh Iran.
16:55Dan itu sangat nyata, sangat nyata.
16:58Dan semakin nyata lagi, kemarin kan ada 30 kapal tanker, kapal niaga dari Tiongkok lepas dari Selatormus.
17:08Itu menunjukkan bahwa sekalipun ada kontrol, tetap Iran juga melakukan pertunjukan preferensial.
17:17Siapa yang menjadi sahabat baik dari Iran akan dibantu untuk melalui Selatormus, siapa yang tidak akan ditutup.
17:26Nah, Tiongkok adalah salah satu yang mendapatkan keuntungan.
17:29Kalau tadi ditanya Mas Brey ke Mas Pawan, apakah Tiongkok akan mau membuka, mendukung Iran supaya membuka, dan Iran mau
17:39tunduk atau tidak.
17:40Jawabannya mungkin tidak terburu-buru.
17:41Karena sekalipun ditutup oleh Iran, Tiongkok masih mendapatkan akses bagi kapal-kapal komersial dan tankernya untuk melalui Selatormus.
17:51Nah, tidak sesuatu yang buru-buru.
17:54Nah, Marco Rubio saya kira sadar betul terkait dengan situasi ini.
17:58Penutupan Selatormus dengan blokade Amerika Serikat tujuannya kan melumpuhkan perekonomian Iran.
18:03Tetapi nyatanya perekonomian ini masih bisa bertahan.
18:07Dan salah satu yang bisa bertahan adalah karena Tiongkok masih menerima dengan jumlah yang cukup signifikan suplai dari Iran.
18:17Termasuk dari negara-negara teluk yang melalui Selatormus.
18:21Oke, jadi tidak gimana ya?
18:24Istilahnya Amerika Serikat juga sadar bahwa Tiongkok tidak akan secepat itu untuk memaksa Iran membuka Selatormus.
18:30Karena secara negaranya sendiri juga tidak terlalu tertekan karena masih ada akses yang diberikan oleh Iran.
18:35Tapi Pak Yulis, kalau kita perhatikan misalnya ada pernyataan dari Inggris kemudian juga sejumlah negara lainnya yang katanya juga ingin
18:44mengirim kapal-kapal untuk bisa membuka Selatormus di Timur Tengah.
18:48Apakah ini juga dilihat Amerika Serikat sebagai tanda-tanda mereka mendapatkan dukungan sehingga Trump dengan percaya diri gitu.
18:56Saya tidak butuh Tiongkok kok untuk membuka Selatormus masih ada orang-orangnya ataupun pihak-pihak yang masih mendukung saya di
19:01sana.
19:03Ya, sebelumnya kan Trump sudah meminta negara seperti Perancis dan Inggris untuk membantunya.
19:11Membantu membuka Selatormus melalui tekanan militer atau dukungan-dukungan yang lain.
19:17Seperti misalnya harapan Trump untuk Inggris supaya mengirimkan minesweepers, penyapu ranjo yang diperkirakan ditaruh oleh Iran di sekitaran Selatormus.
19:29Itu kan harapan dari Amerika Serikat, Presiden Trump.
19:33Tetapi respon resminya kan menolak, ya. Respon resminya menolak.
19:37Nah, sekarang apa yang terjadi ketika kemudian Perancis dan Inggris mulai menyiapkan dan bahkan mulai mengirimkan kapal-kapalnya ke sana
19:47gitu ya.
19:47Barangkali kita bisa membaca ini bagian dari strategi baru.
19:52Strategi baru karena mereka juga terdampak oleh penutupan Selatormus.
19:55Tetapi saya kira strategi baru ini akan ada batasnya.
19:59Tidak serta-merta kemudian untuk memerangi Iran. Tidak gitu.
20:03Tetapi ini akan menjaga kapal-kapal komersial dan tanker di kedua negara tadi.
20:10Supaya harapannya Iran juga berkenam untuk membukanya.
20:14Mental pressure but big impact.
20:18Tekanan yang kecil tetapi impact yang besar.
20:20Tetapi saya tidak yakin bahwa Perancis dan Inggris kemudian akan bersekutu dengan Amerika Serikat memerangi Iran di Selatormus.
20:30Saya tidak yakin.
20:31Itu bagian pressure yang kita sebut strategi membuka hati Presiden Iran, terutama IRGC ya.
20:40Supaya mau membuka jalur bagi kapal-kapal komersial dan tanker Perancis dan Inggris.
20:47Urusannya antara Inggris-Perancis dengan Iran, bukan dengan Amerika Serikat.
20:50Bukan berarti mereka mau bersekutu gitu ya.
20:52Mas Awan, kalau kita bicara soal Iran.
20:54Iran ini katanya akan memperluas definisi Selatormus.
20:58Tidaknya di sekitaran Pulau Hormus saja tapi juga akan meluas gitu ya.
21:02Kemudian ada juga pernyataan bahwa Iran katanya akan membuat aturan baru nih ya.
21:07Yang katanya akan disesuaikan dengan hukum internasional.
21:10Ini apakah akan membuat kondisi di Selatormus semakin rumit ataukah mungkin membuat daya tawar Iran di Selatormus semakin besar atau
21:19seperti apa mas?
21:21Ya, kalau kita lihat ya sebetulnya apakah China memiliki kemampuan itu untuk mengubah Iran.
21:28Jadi pada posisi ini kita cukup optimis sebetulnya dia memiliki kemampuan itu.
21:33Tapi China akan sangat berhati-hati.
21:34Jadi apakah misalnya tadi ada target apa mengembalikan Selatormus seperti yang semula ya?
21:41Nah itu yang perlu kita catat ya.
21:43Jadi kalaupun ada kesepakatan antara Xi dengan Trump yang diungkapkan tadi sebetulnya,
21:50apa sih keuntungan Amerika?
21:51Sebetulnya tidak ada kemajuan yang didapatkan oleh Amerika.
21:55Karena kembali ke satangan pabrik.
21:57Jadi kalau Selatormus yang free sebelumnya juga free sebelum perangan.
22:00Ketika nuklir untuk keperluan damai itu memang sudah sebelum itu yang diinginkan oleh Iran seperti itu.
22:08Jadi tidak ada kemajuan diplomatik atau kemenangan diplomatik yang didapatkan oleh Amerika sendiri.
22:16Namun kita perlu mencermati di sini adalah,
22:18yang pertama apa yang akan di-approve oleh Iran ketika ada tuntutan untuk kembali membuka Selatormus.
22:25Mungkin dengan tekanan China ada beberapa titik yang bisa dinegosiasikan yang mungkin sejauh China bisa lakukan ya.
22:33Yang pertama mungkin tetap bisa akan mengupayakan untuk Selatormus free.
22:37Tidak ada penghutan dan itu juga sesuai dengan kepentingan China.
22:40Nah namun mungkin apakah Iran akan menerima ketika kemampuan dia untuk tetap bisa mengontrol Selatormus,
22:55pengelolaan Selatormus itu di luar kepenanganan Iran itu saya kira tidak akan dilepaskan.
22:59Iran sangat tahu bahwa bukan hanya persenjataan militer dalam eskalasi ketagangan seperti ini,
23:06pengelolaan Selatormus termasuk salah satu strategi diplomasi yang sangat kuat.
23:10Dan itu saya kira tidak akan dilepaskan.
23:12Kemungkinan tetap free, tetapi untuk pengelolaan khusus lalu lintas dari kapal dagang itu saya kira masih akan diupayakan untuk dikerjasamakan
23:20antara Iran dengan Oman.
23:22Dan yang berikutnya target yang sebetulnya diinginkan adalah pembukaan blokade ekonomi, sanksi ekonomi selama 47 tahun.
23:30Ini yang kemungkinan yang bisa dinegosiasikan setelah adanya maksudnya China ke Iran.
23:35Dan ini sangat penting.
23:37Selain bagi untuk Iran itu sendiri, tapi China juga berkepentingan agar transaksi minyak misalnya dari Iran yang selama ini dilakukan
23:43oleh Iran terhadap China,
23:45itu bukan sebagai sebuah transaksi yang dianggap ilegal di mata internasional ataupun Amerika Serikat.
23:50Dan yang berikutnya yang mungkin bisa dinegosiasikan adalah jaminan untuk tidak diserang secara permanen.
23:56Ini yang penting.
23:57Jadi kalau misalnya ganti rugi perang, saya kira Amerika tidak akan membayar itu.
24:01Karena Amerika juga menghadapi permasalahan ekonomi yang sangat takut.
24:05Namun demikian, apakah China sangat diuntungkan?
24:08Dia sangat diuntungkan.
24:09Selama ini, terutama tentang profil diplomatik dari China itu sangat meningkat.
24:17Diuntungkan, secara politik diuntungkan.
24:19Secara diplomatik juga diuntungkan.
24:21Jadi dengan adanya veto kemarin di Dewanan Keman PBB itu sudah terlihat bahwa sebetulnya
24:26posisi yang diplomasi China itu sangat menuntungkan secara internasional.
24:30Dan China juga akan sangat berhati-hati untuk mengambil peluang ini, saya kira.
24:33Jadi dengan perang AS dan Iran ini memiliki dampak high profile diplomatic mission ya.
24:39Jadi ketika misalnya China bisa menjadi subjek yang sentral untuk bisa menyelesaikan perang ini,
24:45maka pengakuan akan pengaruh dan juga kekuatan diplomatik China di dunia sebagai negara super power akan sangat kukuh.
24:53Itu yang perlu kita pertimbangkan, Mas Brie.
24:56Dan satu hal ya, sebetulnya terakhir kita sampaikan.
24:59Di luar kesepakatan ini, saya ingin menanyakan bagaimana posisi Israel?
25:05Israel adalah sebuah negara yang ikut berperang dengan AS melawan Iran.
25:09Tetapi Israel tidak pernah diikutkan dalam negosiasi sejak awal hingga saat ini.
25:14Dan bahkan ketika AS menuju ke China untuk sebagian untuk membicarakan masalah diplomasi,
25:20Israel tidak diikutkan.
25:22Jadi ada faktor Israel yang berpotensi untuk merusak perdamaian.
25:26Jadi Israel, kemarin sudah ada statement dari Nyetanyahu bahwa Israel ada posisi ready untuk war,
25:31melakukan Amerika menyerang Iran kembali.
25:34Dan jika perang berhenti dan konflik antara AS dan Iran berhenti,
25:41maka dunia akan kembali fokus pada genosid yang ada di Gaza,
25:45dan juga satu, tentang adanya aneksasi baru yang dilakukan oleh Israel terhadap Lebanon Selatan.
25:51Dan ini sebuah masalah.
25:52Saya kira Israel menjadi faktor penentu yang tidak mungkin akan diam begitu saja melihat berbagai kasus yang terjadi di sini.
26:00Itu yang perlu kita pertimbangkan.
26:01Tapi sebelum kita bicara soal Israel saja, ini AS sama Iran saja belum ketemu gitu ya.
26:06Gimana kita mau bicara soal damai.
26:08Nah, saya mau ke Pak Julius.
26:09Pak Julius, dengan rumitnya menunjuk perundingan antara AS dan juga Iran,
26:14Iran terakhir kasih lima syarat yang tadi mungkin beberapa sempat disebutkan oleh Mas Wawan.
26:20Ada soal cabut sanksi, akhiri perang di semua front,
26:23lepaskan aset Iran yang dibekukan, kompensasi kerusakan perang,
26:27sampai dengan mengakui kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
26:30Ini syarat-syaratnya masih, gimana ya?
26:33Masih agak sulit sepertinya untuk dipenuhi oleh Amerika Serikat.
26:36Sampai kapan saling lempar poin ini akan berakhir dan akhirnya Amerika Serikat dan juga Iran akan duduk bersama gitu?
26:42Ya, Iran saya bilang buying time ya.
26:46Mengelur-melur waktu.
26:47Sementara Amerika Serikat tidak punya banyak waktu.
26:51Mendekati pemilu Selat, presidensial Selat gitu ya.
26:54Itu sangat berbahaya untuk Trump ya.
26:58Jika isu konflik dengan Iran tidak diselekat dengan sangat segera gitu.
27:03Tetapi yang saya kembali lagi tadi ke pertanyaan Mas Beri ke Mas Wawan terkait dengan praktek baru yang diinginkan oleh
27:10Iran gitu di Selat Hormuz.
27:12Nah, kalau kita pahami bahwa dua negara ini, Iran dan Amerika Serikat kan bukan penandatangan UNCLOS ya, hukum laut internasional
27:23gitu.
27:23Artinya mereka bukan partis gitu.
27:25Tetapi kenapa kemudian ini dilakukan saat ini, mengontrol Selat Hormuz,
27:30lalu kemudian pelukada Amerika Serikat di sekitaran Teluk Oman untuk menghadang kapal-kapal yang lewat Selat Hormuz.
27:36Ini karena mereka berkeyakinan bahwa ada hukum kebiasaan, praktek-praktek kebiasaan internasional yang sedang berlaku gitu.
27:43Buat Amerika Serikat, sekalipun dia tidak menantangani perjanjian hukum laut internasional,
27:49adalah kewajiban untuk negara yang sebetulnya selatnya,
27:53talking point itu ada di wilayah kedaulatannya untuk membuka sebagai wilayah yang terbuka.
27:58Nah, untuk isu ini misalnya, berapa lama kira-kira akan selesai ya, dinegosiasikan.
28:03Saya kira bisa sangat panjang, bisa sangat panjang.
28:06Pertama, bahwa Amerika Serikat punya niat baik enggak untuk membicarakan ini sebagai hukum kebiasaan atau praktek kebiasaan baru.
28:14Nah, itu prinsip dulu.
28:16Nah, kalau kemudian secara prinsip boleh, lalu akan dibicarakan mungkin hanya dalam jangka waktu tertentu.
28:23Alasan dari Iran misalnya ini kan untuk mencari biaya,
28:26mengganti biaya untuk membangun infrastruktur yang dihancurkan oleh Amerika Serikat.
28:31Kalau Amerika Serikat tidak membayar kompensasi, dari mana biaya itu?
28:34Misalnya lima tahun misalnya ya, tarif tol sebagai praktek kebiasaan baru, tapi dalam batasan tertentu.
28:41Termasuk kemudian di sisi yang mana gitu ya, itu akan dilakukan.
28:45Koordinasinya harus seperti apa?
28:47Mungkin terpikir ada board, badan yang mengelola bersama,
28:52yang nanti beranggotakan antara pasti Iran dan kemudian Oman,
28:55lalu kemudian juga pihak-pihak yang sifatnya netral untuk melolak ini.
29:01Tetapi lagi, supaya negosiasi bisa segera dimulai gitu ya, terkait dengan selat hormus,
29:07ada perlu terobosan-terobosan baru gitu.
29:10Nah, itu dia gitu.
29:11Hanya memang Trump belum mau bicara tentang hormus ya,
29:15jika Iran tidak mau bersepakat terkait dengan pengayaan uranium.
29:19Nah, itu secara substansi lagi itu juga belum.
29:22Jadi menurut saya, berapa lama, tergantung apakah secara prinsip mereka bersepakat dulu, Mas Prey.
29:27Terkait dengan kontrol selat hormus,
29:30dan kemudian terkait dengan pengayaan uranium yang sebetulnya semuanya bisa dalam jangka waktu.
29:35Bisa dalam pengertian ada waktu-waktu tertentu yang bisa disepakati di dua isu itu.
29:41Itu jawaban Mas Prey.
29:42Jawaban saya, Mas Prey.
29:43Oke, terakhir saya mau ke Mas Wawan.
29:46Mas Wawan, ini singkat saja.
29:47Ya, akankah Anda melihat antara Amerika Serikat dan juga Iran akan bertemu?
29:51Paling tidak dalam sebulan terakhir ini.
29:53Setelah antara Iran-Tiongkok bertemu, Amerika Serikat-Tiongkok juga bertemu.
29:59Anda melihatnya apakah ini kemudian mempercepat dalam tanda kutip
30:02kita bisa melihat pertemuan antara Amerika Serikat dan juga Iran?
30:07Jadi, seperti ini Mas Brey.
30:09Jadi, ketika Amerika meminta bantuan Cina untuk membuka jalur diplomasi baru ya,
30:14itu menunjukkan sebetulnya kepanikan dan frustasi Trump ya.
30:17Memang Iran sangat tahu bahwa dia di atas angin dalam diplomasi ini dan Trump tidak punya waktu.
30:23Seperti yang dikatakan Pak Juliusu, memang benar.
30:25Dan Iran tidak akan menyianyakan penderitaan selama 47 tahun untuk dilepaskan begitu saja.
30:31Dan itu yang perlu kita catat.
30:32Jadi, mengapa Iran sangat getol dan gigih ya?
30:35Tidak mau goyah.
30:36Karena blokade yang 47 tahun itu, saat ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga.
30:43Dan Cina itu merupakan disadari oleh Amerika memiliki potensi pressure diplomatik tersendiri ya.
30:50Mungkin bentuknya bukan ansaman terhadap Iran.
30:53Tetapi, saya kira Iran secara foreign policy akan bersifat rasional.
30:57Jadi, dia akan bersifat rasional dalam menurunkan tuntutannya.
31:01Dia sadar betul, tidak semua tuntutannya itu bisa dipenuhi oleh Amerika Serikat.
31:06Namun demikian, masalah pengelolaan Selat Hormuz bersama, misalnya dengan Oman,
31:12seperti yang sudah dilakukan pembicaraan awal oleh Arasi dengan Oman,
31:16itu merupakan salah satu upaya sebetulnya dari Iran untuk menurunkan tensi.
31:22Dan juga banyak hal ya, meskipun misalnya sampah uranium, reaksi reaktor uranium tidak semua penuhnya dihentikan,
31:29tetapi Iran tetap bersekukuh untuk tujuan sipil ataupun damai.
31:33Dan saya kira banyak peluang-peluang yang bisa dibicarakan ya ketika kita berbicara tentang Iran.
31:39Hanya saja memang yang agak kekeh itu dari Trump sendiri.
31:43Ketika Iran mau menurunkan tensi, membuka Hormuz, Trump tidak mau.
31:46Jadi, Trump memiliki kepentingan bahwa dia harus menang dalam perang ini
31:50untuk keluar dari tekanan politik di dalam negeri untuk pemilu selah yang akan ada sekitar bulan November
31:57untuk menghilangkan profil dia yang buruk di mata internasional dengan NATO, dengan Eropa,
32:06dan juga intervensi yang selama ini yang terlanjur.
32:08Dia terlalu percaya diri mengatakan bahwa regime change akan berganti di Iran
32:13dan akan mengalami kekalahan dalam hitungan hari.
32:17Dan itu tidak terjadi ya. Bahwa dia lupa bahwa Iran bukan seperti Irak,
32:23bukan seperti Afganistan ataupun Venezuela.
32:25Dan dia tidak mempunyai exit way.
32:27Kita tahu bahwa sebetulnya dalam perang Irak, itu akan kembali pada pemimpin rezim si Ah.
32:32Dan yang paling naas adalah Taliban.
32:34Di mana Afganistan ketika ditinggalkan kembali ke pemerintahan Taliban
32:37ketika dia juga melakukan perang di awal.
32:40Jadi, dalam arti seperti ini, Trump ini dan juga Amerika pada umumnya
32:45pandai untuk membuka, untuk membuka konflik misalnya intervensi atau agresi terhadap sebuah negara
32:51tetapi tidak mempunyai exit yang bagus.
32:54Dan ini menjadi catatan.
32:55Mungkinan Iran akan mematahkan pembicaraan diplomatik ini sedikit bergeser
33:00dan mungkin kemungkinan target diplomasi dari Amerika mungkin perlu dinegosiasikan ulang.
33:05Jadi, kemungkinan tidak hanya bisa didapatkan oleh Trump.
33:09Posisi Trump yang kepepet, dia yang kepepet, dia yang terdesak
33:12tapi kok dia yang tidak mau ngalah gitu ya untuk bisa exit way dengan cantik seperti itu.
33:17Kita lihat bersama-sama apakah Amerika Serikat akan melunak,
33:20akankah dia menurunkan tensinya untuk bisa nanti bertemu dengan Iran gitu ya
33:25untuk bernegosiasi karena banyak sebenarnya poin-poin yang bisa mereka bicarakan
33:28dan bisa disepakati seperti itu.
33:30Terima kasih Mas Nostalgia Wan Wahyudi, pengamatan Timur Tengah Berin
33:34dan juga Pak Julius Purwadi Herbawan, pakar hubungan internasional Universitas Parahyangan
33:39sudah bergabung di Sapa Indonesia Pagi. Selamat pagi.
33:44Saudara jangan beranjak Sapa Indonesia Pagi, mas saya akan kembali dengan informasi lainnya.
33:49Di antaranya lebih dari 9.000 Jumat Haji Indonesia dari 23 kloter
33:52diberangkatkan dari Madinah menuju Mekah untuk menjalani rangkaian ibadah haji.
34:14Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar