Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 7 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sebanyak 39 pejabat negara dalam Kabinet Merah Putih, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto, dilaporkan belum tercantum dalam laman e-LHKPN milik Komisi Pemberantasan Korupsi. Menyikapi hal tersebut, Indonesia Corruption Watch mendatangi KPK untuk meminta penjelasan resmi melalui surat permintaan klarifikasi yang disampaikan ke Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).

Peneliti ICW, Yassar Aulia, menyebut hingga awal Mei 2026, nama Presiden, 16 menteri, 20 wakil menteri, serta 2 kepala badan belum dapat diakses dalam sistem e-LHKPN, meskipun batas pelaporan telah berakhir pada 31 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa LHKPN merupakan instrumen penting dalam pencegahan korupsi karena memungkinkan publik mengawasi potensi peningkatan kekayaan yang tidak wajar pada penyelenggara negara.

ICW menilai ketidakmunculan data tersebut dapat disebabkan oleh proses verifikasi yang masih berlangsung atau kemungkinan belum dilaporkannya LHKPN oleh pejabat terkait. Oleh karena itu, ICW mendesak KPK untuk memberikan penjelasan transparan kepada publik guna menghindari spekulasi dan memastikan kepatuhan terhadap kewajiban pelaporan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

Editor: Lintang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/667324/icw-minta-kpk-terbitkan-lhkpn-prabowo-38-pejabat-kabinet-merah-putih
Transkrip
00:06selamat menikmati
00:31selamat siang rekan-rekan semua
00:33hari ini tanggal 6 Mei
00:362026
00:38Indonesia Corruption Watch
00:39datang ke Komisi Berantasan Korupsi
00:41secara spesifik kami bersurat
00:44kepada Pejabat Pengelola Informasi
00:46dan Dokumentasi KPK
00:47adapun surat yang kami layangkan
00:50meminta informasi
00:52kepada KPK terkait
00:54dengan penjelasan
00:56mengapa
00:57ada 38
00:59anggota Kabinet Merah Putih
01:02termasuk Presiden Prabowo Subianto
01:04disini
01:05yang laporan harta kekayaan penyelenggaraan
01:08negaranya belum tercantum
01:10di situs
01:12ILHKPN milik KPK
01:13disitu biasanya di laman
01:16pengumuman atau e-announcement
01:17pasca tenggat waktu pelaporan
01:20yakni tanggal 31 Maret setiap tahunnya
01:22itu kita bisa mengakses
01:24laporan-laporan atau salinan-salinan dari
01:26para penyelenggaraan negara yang sudah melaporkan
01:29harta kekayaan mereka
01:30tapi berdasarkan pemantauan ICW
01:32setidaknya per 4 Mei kemarin
01:3438
01:36nama
01:37dari
01:38Kabinet Merah Putih
01:40belum ada
01:41termasuk
01:42laporan harta kekayaan penyelenggaraan negara
01:44Prabowo Subianto itu sendiri
01:45tentu
01:46banyak alasan
01:47yang bisa melatar belakangi
01:49kenapa
01:49nama-nama
01:50mereka belum ada
01:51di website KPK
01:53bisa itu berkenaan dengan
01:55sedang dilakukannya verifikasi
01:57atau perbaikan oleh KPK
01:59tapi juga
01:59ada kemungkinan
02:01memang
02:0139 nama tersebut
02:03belum melaporkan
02:04harta kekayaan mereka
02:05kalau teman-teman ingat
02:07memang pada tanggal 1 April
02:082026
02:10satu hari pasca tenggat waktu
02:12pelaporan ILHKPN
02:13periode 2025
02:14juri bicara KPK
02:16Budi Presetio
02:17sempat mengatakan bahwa
02:18Presiden dan Wakil Presiden
02:20melaporkan ILHKPN secara tepat waktu
02:22tentu kami ingin mempercayai KPK
02:24dan juga ingin percaya bahwa Presiden
02:26tepat waktu
02:27dalam melakukan kewajiban
02:29hukumnya
02:30untuk melaporkan ILHKPN
02:31tapi lagi-lagi
02:32sebagaimana
02:33ICW coba periksa
02:35dari website KPK itu sendiri
02:37di ILHKPN
02:38per 4 Mei kemarin
02:39yakni
02:40lebih dari 1 bulan
02:41dari tenggat waktu
02:42nama-nama
02:4338 anggota Kabinet Merah Putih
02:45belum ada
02:46jadi kami melayangkan
02:48permohonan informasi
02:48supaya KPK bisa memberikan
02:50klarifikasi yang jelas
02:51dan terang kepada publik
02:52apa alasan
02:5339 nama tersebut
02:55belum ada
02:56dan belum bisa diakses
02:57kepada masyarakat
02:58rasanya
02:59kurun waktu
03:001 bulan lebih
03:01sudah cukup
03:01lebih dari cukup bahkan
03:02untuk KPK melakukan verifikasi
03:04dan juga pemeriksaan
03:05terhadap laporan
03:06yang sudah di
03:07submit
03:07harapannya
03:08paling lambat
03:0931 Maret kemarin
03:10apalagi ini berkenaan
03:11dengan pejabat tinggi
03:12berkenaan dengan
03:14anggota Kabinet
03:14yang seharusnya menjadi prioritas
03:15untuk diperiksa
03:17perlu diingatkan
03:19instrumen LHKPN ini
03:20bukan sekedar
03:21perkara tertib formalitas
03:24administratif belaka
03:25tapi yang merupakan
03:25instrumen
03:26untuk menjadi
03:27alat pencegahan korupsi
03:30melalui pengawasan publik
03:31di situ
03:32kita bisa melihat
03:33apakah ada peningkatan
03:34kekayaan tidak wajar
03:35atau ada kekayaan
03:36yang memang
03:37tidak seperti dilaporkan
03:39nah ketika
03:40laporan tersebut
03:41tidak tercantum
03:43di website KPK
03:44apalagi sudah
03:44satu bulan lebih
03:45ini
03:45membatasi
03:47hak-hak publik
03:48untuk mengawasi
03:48aset-aset
03:49kekayaan penyelenggaran negara
03:50jadi itu
03:51tujuan kami hari ini
03:53untuk meminta
03:53klarifikasi kepada KPK
03:55harapannya
03:55supaya
03:56tidak ada
03:57dugaan di publik
03:58bahwa
03:5939
04:00anggota Kabinet
04:01Merah Putih
04:02termasuk Presiden sendiri
04:03telah melanggar
04:05ketentuan yang ada
04:06di sejumlah peraturan
04:08perundang-undangan kita
04:08salah satunya
04:09undang-undang tentang
04:11penyelenggaran negara
04:12yang bersih dan bebas
04:12dari KKN
04:13disitu kan tertuang
04:14kewajiban
04:14bagi seluruh penyelenggaran negara
04:16tidak terkecuali Presiden
04:17untuk melaporkan
04:18LHKPN mereka
04:19secara rutin
04:20setiap tahun
04:21dan juga ketika
04:22mereka baru menjabat
04:22maupun setelah
04:23selesai dari jabatannya
04:30secara komposisi
04:32nanti bisa saya bagikan
04:33tapi
04:33dari 38
04:35anggota Kabinet tersebut
04:36setidaknya
04:37kami melihat
04:37ada 16 menteri
04:3820 wakil menteri
04:39dan 2 kepala badan
04:41tentu dengan keterbatasan
04:43sumber daya manusia kami
04:45sangat mungkin
04:45akannya berlebih
04:46oleh karena itu
04:46penting bagi KPK
04:47untuk satu persatu
04:48mengklarifikasi begitu ya
04:49nama-nama di kabinet
04:51kenapa belum tercantum
04:52di website
04:54hal KPN
04:54tadi sudah menyampaikan surat
05:00memang tidak ketemu
05:01karena langsung melalui
05:02loket PPID
05:02jadi suratnya sudah kami
05:03sampaikan
05:04dan ini sudah ada
05:04tanda terimanya
05:29memang itu merupakan potret
05:32yang sayangnya
05:33menjadi gambaran umum
05:36begitu ya
05:36bagaimana
05:37kepala daerah
05:38di Indonesia
05:38baik bupati
05:39maupun gubernur
05:40seringkali
05:41justru jauh
05:42dari tali mandatnya
05:43dengan rakyat
05:43ini kan paling mudah
05:44terlihat di konteks
05:45Kalimantan kemarin
05:46mendapatkan demo
05:47besar-besaran
05:48akibat
05:49kebijakan anggaran
05:50yang tidak sesuai
05:51dengan kebutuhan
05:52dan juga bahkan
05:52pola kehidupan
05:53yang rasanya
05:54tidak selaras
05:55dengan kerja-kerja
05:56pelayanan publik
05:57ini
05:57kalau kami melihatnya
05:58selain ada masalah
06:00dari pengawasan internal
06:01di daerah itu sendiri
06:03melalui inspektorat
06:04ada isu
06:05soal bagaimana
06:06di 2024 kemarin
06:07di pilkada
06:08begitu ya
06:09para partai
06:10yang mengusung
06:10kepala daerah ini
06:11justru cenderung
06:13kami melihatnya
06:14mendorong
06:14pragmatisme politik
06:15jadi mencoba
06:16mencari kader-kader
06:17dengan cara yang instan
06:18yang berujung pada
06:20mereka
06:20ketika menjalankan
06:21kekuasaannya
06:22di kursi pemerintahan
06:23tidak merasa dekat
06:24dengan publik
06:25atau tidak merasa perlu
06:26untuk bertindak
06:27secara akuntabel
06:28ini yang terjadi di Kaltim
06:29hanya satu contoh
06:32bukti
06:32bukti kecilnya saja
06:34dari puncak gunung es
06:35bagaimana
06:36pemerintahan daerah kita
06:37sangat jauh
06:37sayangnya dari
06:38tali mandat
06:38dengan rakyat
06:39ini kan juga ada
06:41isu di nasi politik
06:42ya
06:42karena ternyata
06:43di wilayah Kaltim
06:44yang punya
06:45kekuasaan
06:45dan ternyata
06:46masih punya
06:47hubungan kekuasaan
06:48dengan
06:48di
06:49dupur Kaltim
06:50itu
06:50berdasarkan
06:53pemantauan kami
06:54di 2024 kemarin
06:55memang
06:56banyak daerah-daerah
06:58yang kaya
06:58akan sumber daya alam
06:59itu
07:01terindikasi
07:02kepala daerahnya
07:02memiliki
07:03relasi dinasti
07:04politik
07:04baik itu di
07:05DPRD
07:06baik itu di
07:06pemerintahan juga
07:07maupun
07:08di
07:09anggota keluarganya
07:10yang pernah menjabat
07:11di posisi yang sama
07:12tentu
07:13ini
07:14berawal
07:15dari
07:15tidak adanya
07:16hukum positif kita
07:17yang melarang
07:18begitu ya
07:18praktik-praktik
07:19semacam ini
07:20yang sebenarnya
07:20juga memanti
07:21konflik kepentingan
07:22tapi
07:24ini dibiarkan
07:25begitu saja
07:26oleh para partai
07:26dan juga
07:27pihak-pihak yang mengusung
07:29para kepala daerah ini
07:30yang jadinya
07:32mengaburkan
07:32begitu ya
07:33batas-batas
07:34mana yang urusan publik
07:35mana yang urusan keluarga
07:48sebenarnya
07:48ini sudah sejalan
07:50dengan aspirasi publik
07:51begitu ya
07:51tapi memang
07:53harus dicatat
07:54bahwa ini
07:54praktik yang langka
07:55sebetulnya
07:56ada respons yang cukup
07:59cepat
08:00dari
08:00institusi
08:01legislatif
08:02yang memang
08:03seharusnya berperan
08:03sebagai checks and balances
08:04dari eksekutif itu sendiri
08:24lagi-lagi
08:25ini kembali kepada
08:26memang hilangnya
08:27tali mandat
08:29antara kepala daerah
08:30dan rakyatnya
08:31begitu
08:32pola yang umum terjadi
08:33kalau misalkan
08:35kita melihat
08:36bagaimana kepala daerah ini
08:37diusung dengan cara-cara yang instan
08:38ketimbang berangkat
08:39dari keinginan publik
08:40untuk mencalonkan
08:41calon kepala daerah mereka
08:48tentu segala indikasi
08:50adanya penyelewengan
08:51penyalahgunan kekuasaan
08:52dan juga
08:53indikasi
08:53praktik korupsi
08:55bahkan memang
08:55harus selalu
08:56ditindaklanjuti oleh KPK
08:57supaya menjadi terang
08:58dan tidak menjadi spekulasi
08:59di masyarakat
09:01dengan tidak dilaporkan
09:02para pejabat
09:03dan seluruh
09:05kabinet ini
09:05jadi
09:07ingin meneruskan saja
09:08kami baru menemukan
09:09indikasi
09:10bahwa
09:11nama-nama
09:1138 anggota kabinet
09:13dan juga nama presiden
09:14belum ada
09:15di website
09:16LHKPN
09:17ini
09:17kemungkinan banyak
09:18tadi saya bilang
09:19bisa KPKnya
09:20belum melakukan verifikasi
09:21bisa juga memang
09:22belum melaporkan
09:22makanya kami
09:23tujuan kami
09:24melakukan permohonan informasi
09:26supaya KPK yang menjawab
09:27memberikan klarifikasi
09:27kepada publik
09:28apakah betul
09:29karena sedang melakukan
09:30verifikasi laporan
09:31atau jangan-jangan memang
09:32belum melapor
09:33tentu kalau misalkan
09:34ditemukan di kemudian hari
09:36jawabannya adalah
09:37belum melapor
09:38sudah menjadi kewajiban
09:39hukum KPK
09:40sebagaimana di peraturan
09:41KPK itu sendiri
09:42tentang pelaporan
09:43LHKPN
09:43dan juga Undang-Undang
09:44Penyelenggaran Negara
09:45yang bersih dan bebas
09:46dari KKN
09:46ada kewenangan
09:48yang dimiliki oleh KPK
09:49untuk memberikan sanksi administratif
09:50berupa rekomendasi
09:51ke lembaga yang bersangkutan
09:52supaya bisa dipertimbangkan
09:54diberikan sanksi
10:03menemani pagi Anda
10:04dengan informasi-informasi terbaru
10:06satu langkah lebih dekat
10:07satu langkah lebih mencerahkan
10:09saksikan Kompas Pagi
10:10hanya di Kompas TV
10:12channel 11
10:13di televisi Anda
10:14selamat menikmati
10:15selamat menikmati
10:17selamat menikmati
10:17selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan