Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri President University, Dr. (H.C.) Setyono Djuandi Darmono, mengungkapkan tantangan besar dalam membangun citra kampus yang berlokasi di Cikarang, kawasan yang kerap dianggap tidak "elite".

Ia menegaskan, justru dari lingkungan industri itulah ekosistem internasional terbentuk.

Model pendidikan di President University pun dirancang berbeda, dengan menekankan pengalaman langsung di dunia kerja sejak dini. Bahkan, magang dilakukan sejak tahun pertama mahasiswa.

Menurut Darmono, pendekatan ini penting karena pengalaman langsung jauh lebih efektif dibanding sekadar teori. Ia pun menegaskan filosofi pembelajaran berbasis keterlibatan.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/v_WGJzK85iA



#pendidikan #presidentuniversity #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666574/kunci-lulusan-president-university-mendunia-magang-sejak-tahun-pertama-rosi
Transkrip
00:00Pak, saya bertanya dengan seseorang yang saya rasa pasti Bapak tahu.
00:11Waktu itu beliau mengatakan bahwa diminta oleh pemerintah Vietnam
00:21membuat planning rekonstruksi banking system dan privatisasi BUMN.
00:26Saya didatangi sekelompok anak muda Vietnam dan menyapa dengan bahasa Indonesia.
00:32Rupanya mereka lulusan presiden universiti dan sekarang bekerja untuk pemerintah Vietnam.
00:39Dan sekarang mereka menjadi bagian dari transformer di government di Vietnam.
00:49Kira-kira Bapak bisa menebak nggak siapa orang?
00:52Saya udah losing track gitu karena udah sanggeng panjangnya.
00:57Dari Pak Laksamana Soekardi.
00:59Jadi sebagai seorang founder pun, he was amazed.
01:03Karena ketika dia ke Vietnam, dia menemukan anak-anak lulusan presiden universiti
01:07dan bekerja di pemerintahan di Vietnam dan menjadi transformer di sana.
01:16Jadi bibit-bibit ini tidak saja untuk Indonesia, tetapi juga untuk mereka yang sudah bekerja,
01:22mereka yang menjadi warga negara asing.
01:24Tapi dari situ Pak, kalau untuk bicara soal mahasiswa di Indonesia gitu.
01:31Kan tadi, di Cikarang gitu.
01:34Itu kan, maaf ya Pak ya, jangan tersinggung ya Pak.
01:38Kan nggak elit Pak kawasannya, Pak.
01:41Nah tapi kenapa Bapak merasa bahwa kalau orang dari luar, oke lah.
01:45Tadi yang Bapak bilang negaranya belum maju dan diinin.
01:47Tapi kalau untuk anak Jakarta, anak Indonesia, mereka punya kampus yang lebih di tempat gaul gitu.
01:53Bagaimana satu kawasan yang dianggap tidak cukup elit buat anak calon mahasiswa,
01:59itu bisa dianggap, wah ini adalah tempat terbaik saya untuk menimba ilmu.
02:03Ya, jadi memang itu tantangan untuk mencitrakan bahwa Cikarang itu bukan disa tertinggal.
02:12Itu memang tantangan.
02:14Makanya perlu banyak promosi, bicara di kompas, sampai itu perlu.
02:21Karena mereka supaya tahu bahwa sebetulnya tempat ini harus dilihat,
02:29apakah itu disa Cikarang 40 tahun yang lalu, atau Cikarang hari ini yang sudah menjadi the fastest growing city di
02:37Indonesia,
02:38yang dihuni ribuan pabrik di sana.
02:41Total Cikarang itu berserta tujuh kawasan industrinya, itu hampir 200 km persegi, yang hampir setengahnya Jakarta.
02:51Ya, atau mungkin justru kenapa Bapak membangun di sini, kalau asumsiku, justru di sini menjadi salah satu simbol,
02:58link and match-nya, mahasiswa yang bersekolah dan kemudian dengan daya tampung di mana mereka bekerja kemudian.
03:07Betul, karena tempat seperti Cikarang ini mungkin ga ada tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan kelas internasional.
03:18Karena di sini ada pabrik-pabrik dari 36 negara.
03:23Sehingga interaksi antara mahasiswa, dosen, dengan para pekerja-pekerja pabrik yang banyak, orang asingnya, itu tinggi sekali.
03:33Jadi meskipun Cikarang, tapi this is an international city, dengan environment international.
03:40Dan sesudah 37 tahun, berserta kawasan-kawasan yang lain, ini udah menjadi kota metropolitan.
03:48Tapi Pak, setelah ada asrama, pendidikannya, yang juga berskala internasional, berbahasa Inggris,
03:57apa yang membuat Bapak merasa pendidikan atau apa yang menjadi pendidikan di Presiden University,
04:04ini menjadi salah satu bekal, seperti tadi candaan saya, harapannya, lulusannya, minimal, jadi Presiden Republik Indonesia.
04:13Minimal loh saya bilang.
04:15Ya, jadi begini kan, kalau mereka masuk Presiden University, itu saya minta kepada Pak Rektornya,
04:22supaya anak ini segera on the job training, magang, di perusahaan-perusahaan yang ribuan.
04:29Tahun pertama?
04:29Tahun pertama.
04:30Langsung?
04:31Langsung, sudah harus segera magang.
04:33Why?
04:34Bukannya diajarin teori-teori dulu, atau apa, pengenalan apa?
04:37Sudah harus langsung, sebab seeing is believing.
04:40Jadi, pendidikan itu begini, when you hear dosen ngomong, you will forget.
04:46When you see, you may remember.
04:49But when you are involved, you will understand.
04:52Jadi, mereka harus dibikin involved, masuk ke pabrik-pabrik, supaya melihat juga, dan mendengar juga, tapi juga langsung involved.
05:00Nah, itu lebih mudah untuk mereka dikasih pelajaran teori.
05:06Contohnya juga, gini lah.
05:07Kita ajarin anak kita berenang, dengan teori macam-macam.
05:11Tiga tahun juga nggak bisa berenang.
05:13Langsung aja jorokin, ceburin ke kolam berenang.
05:16Gelagapan sedikit, nggak apa-apa.
05:17Tapi, udah itu dia menghargai perlunya teori.
05:21Nah, itu baru mendengar.
05:24Jadi, sama, harus langsung diceburkan.
05:26Sekolah kedokteran di mana-mana juga begitu.
05:29Di luar negeri, semua itu harus tahun pertama sudah diajak ke rumah sakit.
05:33Tapi, kenapa fakultas ekonomi, fakultas teknik, kok dikasih teori.
05:40Teori sekarang kelihatannya ZGPT.
05:42Ada semua.
05:43Jadi, mesti dibawa ke tempat kerja.
05:47Nah, tempat kerja di mana?
05:48Ada ribuan pabrik di Cikarang.
05:51Pak, apa kritik mendasar Bapak pada dunia pendidikan di Indonesia?
05:59Selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan