00:00Jadi itulah pemikiran saya.
00:02Paling tidak bisa bahasa Inggris.
00:03Bahasa Inggris.
00:04Gak usah harus fasih-fasih amat juga gak apa-apa kan Pak.
00:06Betul.
00:07Bisa bahasa Inggris.
00:08Adalah pengalaman kerja.
00:10Punya pengalaman kerja.
00:11Dan ketiga, pernah merasakan suasana bergaul sama orang asing.
00:16Kenapa ini penting?
00:18Karena kita tuh mendatangkan banyak investor-investors asing.
00:24Jadi kalau dia gak terbiasa sama orang asing, dia udah minder dulu.
00:28Jadi kalau dia udah terbiasa sama orang asing, kan enak bicaranya.
00:33Komunikasinya jelas.
00:35Sering yang karena tidak kompeten atau tidak confidence malah.
00:40Jadi kalau ditanya itu, bilang siap, izin apa itu gak bisa.
00:46Jadi karena dia pernah berinteraksi dengan orang asing, maka dia punya level confidence yang memadai.
00:54Jadi gak inlander kalau ini dulu kan sebutan ya, minderan sama orang asing.
00:59So paling tidak bisa bahasa Inggris, memaham bahasa Inggris.
01:03Lalu kemudian pernah punya pengalaman kerja dan punya interaksi dengan orang asing.
01:09Itu yang menurut Bapak lebih baik diterima di perusahaan yang Bapak pimpin.
01:16Dibandingkan IPK-nya kumlaut.
01:19Betul.
01:20Itu karena saya udah sering HRD kita tuh selalu kriteriannya ambil yang IPK-nya tinggi-tinggi.
01:26Kumlaut, universitas top gitu kan.
01:29Saya buktikan ke mereka, wah ini bukan cara memilih yang benar.
01:34Karena ternyata sesudah dicoba, mereka tuh belum bisa apa-apa.
01:39Ya, masih tahu istilahnya tuh kalau mau sedikit cynical.
01:44Ya, unconsciously incompetent.
01:47Tidak sadar kalau masih bodoh.
01:50Sombong lagi, minta gaji tinggi lagi.
01:53Kan IPK-nya bagus.
01:54Iya, betul.
01:55Tapi sebenarnya gak ngerti apa-apa.
01:57Ya, belum siap pakai.
01:58Tapi sesudah dia masuk pekerjaan, ya berapa ada yang 2 tahun, 3 tahun gitu ya.
02:05Baru sadar, sesudah ternyata dia harus tanya orang yang sudah pengalaman, yang gak IPK-nya kan.
02:11Malah mungkin sekolahnya SD, SMP.
02:13Tapi udah lama bekerja.
02:15Nah, disitu baru dia itu sadar kalau dia tuh sebenarnya belum ngerti apa-apa.
02:20Nah, itu udah trainable.
02:21Oke, nah jadi Bapak mindset HR yang saya rasa gak hanya di perusahaan Bapak, di HR banyak perusahaan juga lebih
02:31mengejar angkat dibanding melihat sesuatu yang sebenarnya lebih trainable, ya Pak.
02:36Tapi kembali ke pertanyaan saya, 97 merancang konsep kampus secara serius meskipun baru benar-benar terrealisasi, koreksi saya kalau salah,
02:452001 betul ya Pak ya?
02:46Betul.
02:46Itu untuk seorang pengusaha betul, tadi Bapak mengatakan bahwa ada kebutuhan jangka panjang yang Bapak ingin lihat.
02:53Tapi saya masih merasa, wow, harusnya pengusaha zaman itu lebih mikirin dirinya sendiri supaya gak makin boncos atau rugi dengan
03:05ekonomi yang luar biasa terpuruk pada waktu itu.
03:09Kenapa seorang Pak Darmono jauh lebih memikirkan investasi anak bangsa yang belum ketahuan ini bakal berhasil atau enggak?
03:19Di mana gitu logika bisnisnya?
03:22Kalau misalnya kita bicara ini soal bisnis.
03:24Atau ini memang tidak melulu tentang bisnis, tapi tentang bagaimana menjawab tantangan Indonesia ke depan karena belajar dari krisis 97
03:34-98?
03:35Sebetulnya gini, tidak hanya masalah pendidikan.
03:39Waktu itu juga tahun 97-98 itu kan monetary krisis ya, yang banyak pengusaha mengalami masalah.
03:46Jadi pemikiran restrukturisasi penting.
03:49Tapi waktu itu, image daripada orang banker maupun investor itu terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia itu jelek.
03:58Terhadap Indonesia juga jelek.
04:00Sehingga kita harus menunjukkan mereka bahwa kita ada satu tindakan, strategi untuk membuat ke posisi kita baik.
04:08Dengan membangun presiden di Indonesia ini, maka mereka semua bilang, oh ini orang tidak menyerah terhadap problem yang lagi dihadapi.
04:16Malah mempersiapkan satu program jangka panjang.
04:20Karena dengan adanya pembangunan di pendidikan ini, maka orang-orang yang tadinya itu mau tidak membayar, melanjutkan cicilan membeli rumah,
04:32lanjut lagi.
04:34Terus orang-orang yang tadinya tidak mau beli pabrik, masuk lagi.
04:38Oh berarti manajemen ini mempunyai satu strategi masa depan yang jangka panjang, jelas.
04:44Jadi ada kebutuhan lain juga dari image building.
04:49Ya, Bapak juga ingin membangun trust di situ ya.
04:52Betul.
04:52Karena nggak hanya sekedar oke, Jawa BK sebagai kawasan industri pabrik banyak tutup, bukan hanya sekedar oke.
04:59Hari ini dan ke depannya nggak jelas, maka yaudah dibiarin aja.
05:03Tetapi ada satu pembangunan yang mungkin Bapak sendiri nggak tahu bakal untungnya kapan.
05:12Ya, betul.
05:13Tapi bukan itu yang dicari, tapi building trust.
05:16Betul.
05:17Atas satu komitmen dan idealisme yang Pak Dar punya.
05:20Betul.
05:21Anak saya waktu itu yang paling kecil, umur 17 tahun.
05:25Dia bilang, Pak, you want to build a university?
05:29It's going to take 50 years to be famous, you know.
05:32By the time you will be dead and I may be dead too.
05:37Saya ingat betul tuh kata-kata.
05:39Jadi memang ini pendidikan is a long-term project.
05:43Tapi juga memberikan dampak lain yang sangat positif.
05:47Yaitu melihat orang ini berpikir panjang.
05:50Dan membangun perusahaannya untuk bukan jangka pendek.
05:54Dan itu yang dibutuhkan di Indonesia tahun 1997-1998 itu.
06:00Saya memang tidak habis pikir sih.
06:04Karena tahun itu kan harusnya betul-betul pengusaha itu bisa dibilang sibuk menyelamatkan usahanya sendiri.
06:11Tapi ada seseorang yang justru berpikir tentang pendidikan.
06:14Buat saya agak lain, Pak.
06:17Betul.
06:18Tapi waktu itu gara-gara bangun perusahaan universiti saya jadi kenal semua tokoh-tokoh.
06:22Yang bisa membantu untuk penyelesaian restriksasi hutang kita juga.
06:27Jadi presiden, calon presiden, menteri.
06:31Semua saya jadi kenal.
06:32Karena ini visi yang begitu sangat didambakan juga oleh banyak orang.
06:40Terutama para pemikir kita, juga penguasa.
06:45Kenapa namanya presiden universiti, Pak?
06:47Kan lulusannya berarti Pak SBY, Pak Jokowi.
06:51Ini kan nggak bisa instant ya.
06:54Tapi waktu itu saya panggil konsultan dari Australia.
06:57Profesor Don Woods yang sudah membangun curtain dari institut menjadi curtain universiti.
07:06Terus kemudian dia bangun Notre Dame University di Fremantle.
07:09Terus dia bangun Bond University.
07:11Jadi ini pengalaman yang bagus ya, saya tanya.
07:15Brown, bikin universitas itu bagaimana sih?
07:18Dia bilang tidak sulit.
07:20Asal kamu bisa cari anak-anak yang pintar, asal dosnya-dosnya bagus, kamu bayar yang benar, selesai.
07:26Simple ya.
07:27Nah, cuman sempit ini presiden universiti atau pendidikan itu seperti bisnis.
07:33Harus ada strong differentiation.
07:35Jadi apa strong differentiation-nya dia tanya?
07:38Nah, saya jelaskan tadi tuh yang empat hal tadi ya.
07:41Itu differentiation-nya.
07:42Dari bahasa Inggris harus magang, harus tinggal di dormitory, dan juga harus sudah biasa bergaul sama orang asing.
07:52Jadi saya pikir 30% orang asing, 70% orang anak Indonesia.
07:57Ya, dosenya juga.
07:59Itu menjadi...
08:00Karena tanpa menerima mahasiswa asing, gak ada gunanya.
08:03Gak ada environment internasional.
08:05Dan harus di asrama.
08:06Karena orang tua kan juga pasti khawatir anaknya gimana.
08:10Jadi ini menjamin orang tua juga akan keamanan anak-anak itu.
08:13Tapi kembali tadi kenapa namanya Universitas Presiden alias...
08:17Nah, jadi si Brown Rose kan tanya.
08:19Terus namanya apa?
08:21Saya bilang nama ini yang kayak apa kriterianya?
08:25Dia bilang harus universal.
08:26Artinya bahasa apapun itu harus orang mengerti.
08:30Karena saya juga mengharapkan anak-anak asing kan.
08:33Dan kemudian Anda punya visi apa?
08:36Saya bilang visi saya ini harus jadi nomor satu di Indonesia.
08:39Kalau gitu, apa namanya dia tanya?
08:43Ya Presiden.
08:44Dia bilang, oh, wait, wait a minute.
08:47I'll write my print for one night.
08:48I'll come back to you tomorrow katanya.
08:50Nah, besok dia ngomong, gak ada yang lebih...
08:53Saya pikir tadinya crown ya.
08:54Tapi bahasa Indonesia kan bukan crown.
08:58Yaudah Presiden, setuju dah dia bilang.
09:00Nah, itulah mulainya.
09:01Hanya karena Bapak ingin suatu saat lulusan ini bisa menjadi orang nomor satu Republik Indonesia.
09:08Ya, itu harapan kita semua.
09:11Namanya juga harapan ya Pak?
09:13Dan nama adalah doa.
09:14Betul, betul, betul.
Komentar