Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinetnya.

Sejumlah nama lama kembali masuk dalam jajaran Kabinet Pemerintahan PrabowoGibran.

Dalam reshuffle kali ini juga muncul jabatan baru, yakni Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, yang dijabat oleh Hasan Nasbi.

Mengapa Prabowo membuat nomenklatur baru di kabinet? Benarkah langkah ini dilakukan karena adanya persoalan komunikasi di pemerintahan?

Pemimpin Redaksi KompasTV Yogi Nugraha membahasnya bersama:

M Qodari - Kepala Bakom RI

Gun Gun Heryanto - Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lukman Hakim Saifuddin - Menteri Agama 2014-2019




Saksikan dalam program Satu Meja the Forum episode Otak-atik Kabinet: Ada Apa dengan Komunikasi Istana? Tayang Rabu, 29 April 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.



#prabowo #reshuffle #menteri



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666133/full-presiden-prabowo-reshuffle-kabinet-ada-apa-dengan-komunikasi-istana-satu-meja
Transkrip
00:00Demi Allah, kita akan setia kepada kita yang berada dalam negara politik.
00:11Mungkin karena banyaknya inisiatif kita, banyaknya terobosan kita, banyaknya kebijakan kita,
00:20mungkin narasi ke rakyat kurang sempurna, kurang intensif.
00:28Ini saya kira perlu kita perbaiki komunikasi kita kepada rakyat.
00:41Jadi jangan lagi terulang seperti perode-perode sebelumnya.
00:44Dan yang paling penting, kalau bisa, jubil-jubil pemerintah itu harus berani head to head
00:49dengan influencer, dengan genzi yang hampir setiap saat selalu speak up dan kritis kepada pemerintah.
01:15Selamat malam, kami memulai satu meja The Forum malam ini
01:20dengan ucapan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya
01:24untuk seluruh korban kecelakaan kereta api di Bekasi Timur.
01:29Termasuk rekan kami, Nur Aynia Eka Rahmadi.
01:36Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinet.
01:39Kali ini, catatan diberikan pada Tim Komunikasi Istana.
01:43Presiden seperti ingin mendorong agar kabinetnya lebih aktif dan solid dalam mengelola komunikasi pemerintah.
01:50Otak ati kabinet, ada apa dengan komunikasi istana?
01:53Inilah satu meja The Forum malam ini bersama saya, Yogi Nugrah.
01:57Sudah hadir di Studio Kompas TV untuk membahas tema malam ini,
02:01Mas Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama 2014-2019.
02:05Apa kabar Mas Lukman?
02:06Baik, baik.
02:07Sehat selalu?
02:09Alhamdulillah.
02:09Alhamdulillah.
02:12Ada Muhammad Khodari, saya harus hati-hati, takut salah posisi.
02:17Kepala Badan Komunikasi Pemerintahan atau BAKOMERI, minggu lalu masih KSP ya?
02:22Masih KSP.
02:23Tepat sekali. Selamat untuk jabatan barunya.
02:26Bismillah.
02:27Semoga bisa memenuhi keinginan Presiden dan rakyat Indonesia.
02:30Sudah saya tambah panjang, Mas Yogi.
02:32Lalu ada juga Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik sekaligus Dekan Uin Sarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Gun-Gun Herianto.
02:43Apa kabar Mas?
02:44Kabar baik, Mas Yogi.
02:46Kayaknya lagi menyiapkan tulisan untuk kasih pemerintah.
02:49Betul, betul.
02:50Untuk kolom di kompas.
02:52Memang hari ini kita harus sering-sering banyak menulis untuk pemerintah ini.
02:56Mas Bung Kodari, Bung Kodari, selamat dulu atas jabatannya.
03:01Bismillah, sekali lagi bismillah.
03:05Orang lama pos baru dan usai pelantikan, Bung Kodari mengatakan bahwa saya ini adalah orang yang dalam kurun waktu kurang
03:14dari dua tahun,
03:15sudah dilantik tiga kali dan orang yang pertama ada di awal pemerintahan Prabowo Gibran.
03:21Untuk sementara rekornya ada di saya ini, Mas.
03:23Oh gitu, apa maknanya itu? Anda ingin mengatakan bahwa saya adalah orang yang sekarang sedang dipercaya oleh Presiden sehingga mendapatkan
03:34posisi baru untuk memastikan bahwa komunikasi pemerintah itu jauh lebih baik atau setidaknya bisa memahami apa yang seringkali disampaikan oleh
03:43Presiden kepada publik.
03:44Saya kira sebetulnya barangkali Presiden melihat ada akumulasi pengalaman di situ yang semakin relevan untuk posisi-posisi yang kemudian ditugaskan
03:56kepada saya.
03:57Misalnya pertama kali saya menjadi Wakil Kepala Staf Kepresidenan, saya terus terang bersyukur sekali posisi itu dimulai dengan Wakil Kepala
04:08Staf Kepresidenan karena saya kan sepanjang usia itu sebetulnya berada di luar pemerintahan.
04:14Walaupun saya berinteraksi dengan teman-teman di pemerintahan, tetapi periode itu memberikan saya kesempatan untuk agak lebih banyak bisa observasi,
04:25tidak harus yang di depan, dan artinya oh begini, oh begitu.
04:32Jadi itu proses pembelajaran yang luar biasa dan kemudian kesempatan yang kedua yang ditugaskan kepada Bapak Presiden adalah menjadi Kepala
04:40Staf.
04:41Sesuatu yang dalam tanda kutip itu mungkin lebih mudah buat saya, karena apa? Karena saya sudah memahami organisasinya, saya sudah
04:51memahami cara kerjanya, saya mungkin sudah melihat juga ruang-ruang yang bisa dikembangkan dari tempat itu dan itulah yang dijalani.
05:01Nah yang menarik adalah pada saat saya dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, itu ada tugas tambahan dari Bapak Presiden.
05:11Dan memang di dalam perpres KSP itu ada pasal di mana Presiden bisa memberikan tugas lain di luar yang tertulis
05:20di perpres.
05:21Kalau bicara KSP kan tugasnya satu, mengendalikan program-program prioritas, kemudian yang kedua, mengelola isu-isu strategis.
05:30Nah waktu itu ada satu tugas dari Bapak Presiden yaitu membantu proses komunikasi.
05:35Cara saya untuk membantu proses komunikasi itu pertama adalah dengan membentuk gugus tugas media di KSP,
05:44yang di dalamnya itu ya proses-proses komunikasi, produk-produk komunikasi itu kita tingkatkan.
05:52Dan yang kedua, beberapa kegiatan memang terkait dengan komunikasi.
05:58Misalnya program press conference ya rutin setiap hari Rabu, melaporkan perkembangan program-program prioritas,
06:08mengundang menteri-menteri yang topiknya sedang relevan di media masa atau di masyarakat,
06:14untuk ketemu dengan teman-teman wartawan.
06:17Nah saya melihat akumulasi dari proses itu yang mungkin membuat Presiden memberikan
06:23dan satu pendugasan baru kepada saya, Pak Dari, sebagai Kepala Badan Komunikasi.
06:27Ini, Pak Dari yang mesti dilihat adalah ini jadi perbincangan, di ruang redaksi juga perbincangan.
06:33Wih, menggantikan seorang Anggaraka Prabowo yang adalah orang kepercayaan Presiden sejak lama.
06:39Apakah ini bisa diartikan bahwa Presiden sudah berpindah kepercayaannya dari Anggaraka Prabowo kepada seorang Muhammad?
06:45Tidak.
06:45Oh tidak.
06:46Cepat sekali jawab tidaknya, diayun-ayun dikit gitu.
06:50Jangan langsung tidak.
06:52Karena memang jawabannya sudah ada.
06:54Oh iya iya. Jadi gimana?
06:55Jadi begini, saya terbuka saja. Presiden itu belakangan sering berkomunikasi dengan, berkomunikasi tentang komunikasi dengan saya, dengan Pak Anggaraka, dan
07:09Pak Hasan Nasbi.
07:11Oke.
07:12Oh jadi sudah ada pertemuan dulu?
07:13Sudah ada diskusi-diskusi, telepon-telepon.
07:16Jadi kalau ada satu hal yang beliau ingin tanyakan, atau satu hal yang beliau ingin mendapatkan saran atau masukan, itu
07:25teleponnya itu kita biasanya tiga itu.
07:29Istilahnya apa? Conference call.
07:31Oh conference call.
07:31Ya termasuk misalnya waktu beliau mau ketemu dengan beberapa tokoh yang diskusi di Hambalang itu.
07:40Itu, sorry, termasuk pernyataan Presiden soal kita akan tertipkan.
07:45Nah kalau soal kita akan tertipkan, sekali lagi saya klarifikasi ya, hemat saya yang mau ditertipkan itu bukan pengamat, tapi
07:52mafia dan koruptor.
07:53Kan sudah pernah dibahas di satu jawab itu.
07:55Kan ini audiensnya beda.
07:57Betul, betul, betul. Ini serinya berbeda.
08:00Jadi saya meluruskan bahwa pernyataan Presiden itu harus dibaca secara runtut, jadi kata ditertipkan itu lahir bukan setelah kata pengamat,
08:08tapi setelah kata mafia dan koruptor.
08:10Saya menyampaikan di sini supaya Prof Gun-Gun dan Mas Lukman lebih rileks.
08:15Contohnya begini, waktu ibu yang mau diundang, Presiden bilang, ini yang diundang siapa?
08:21Saya misalnya mengusulkan, Pak ini tema ekonomi sedang menjadi perhatian, karena itu saya usul agar mengundang ekonom.
08:29Misalnya begitu. Dan lahirlah dari diskusi itu, Dede Basri dan Muhammad Faisal misalnya.
08:38Sebagai contoh, itu contoh bagaimana proses komunikasi itu dibahas, didiskusikan, mendapatkan saran masukan secara kolektif.
08:48Dan Bapak Presiden sangat terbuka dengan pendapat dan saran.
08:52Dan itu sekaligus menjawab misalnya, oh Presiden maunya saja atau Presiden tidak terbuka terhadap saran dan masukan.
08:58Jadi, kalau ditanya, kembali kepada pertanyaan tadi, apakah beralih?
09:03Enggak, karena kepercayaan itu bersifat kolektif.
09:05Oke, sementara kita. Saya ke Prof Gun-Gun.
09:08Prof, kalau bicara seolah otak-atik, kita tahu jawaban normatifnya adalah itu kan hak prerogatif.
09:14Tapi kali ini saya ingin mendalami begini, ibarat kesebelasan itu semak bola.
09:19Kalau timnya lagi leading, itu nggak ganti-ganti pemain.
09:23Tapi kalau lagi ketinggalan, terus kemudian last minute dia udah ngotot, dia akan ganti.
09:28Backnya diganti, pemain tengahnya diganti.
09:30Apakah sama juga ini dengan tim komunikasi atau mungkin lebih luas lagi?
09:35Bacaan Prof Gun-Gun.
09:36Saya lihat memang kemarin bermasalah.
09:39Komunikasi kan diakui juga sejak 25 April 2025.
09:44Presiden.
09:45Bahwa tata kelola komunikasi kita masih kurang bagus.
09:48Oleh apa? Serangan, orang serangan-serangan makar atau gimana?
09:52Menurut saya, itu kan reaksi saja.
09:54Oke.
09:55Aksi yang harus dilakukan sebenarnya adalah membuat semacam desain komunikasi kelembagaan.
10:02Yang itu melintasi KSP, BAKOM, KOMDIJI, dan kementerian-kementerian teknis lainnya.
10:11Ini yang sering disebut dalam bahasa teknokrasi sebagai protokol komunikasi kelembagaan.
10:19Saya mungkin konfirmasi juga ke Bangko Dari.
10:22Apakah di era Pak Prabowo sudah ada satu desain protokol komunikasi kelembagaan?
10:28Yang kemudian itu dari A ke Z menjelaskan posisi peran fungsi sekaligus.
10:36Ada 12 item sebenarnya standar internasional dalam konteks protokol.
10:43Contoh misalnya, information role, peran informasi, narasi utama.
10:47Yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mereka yang mewakilnya jadi spokesperson dari pemerintah.
10:55Kemudian yang lain lagi misalnya soal apa yang kemudian dilakukan jika ada krisis.
11:02Nah hal-hal seperti ini, ini nggak bisa parsial BAKOM saja, parsial KSP saja, parsial kementerian teknis saja.
11:12Kalau itu terjadi, maka menteri dengan menteri bisa berkelahi di Twitter atau di X.
11:17Masih ingat kasus KP dengan kementerian?
11:20Hari ini terjadi kan?
11:21Atau misalnya tiba-tiba muncul pernyataan yang sebenarnya sepertinya spontan, tetapi pernyataan pejabat publik itu pasti basisnya adalah intensi.
11:34Nggak ada pernyataan aktor politik high level yang harus diamini sebagai pernyataan yang spontan, nggak ada.
11:40Itu harus diletakkan dalam koridor pernyataan official, resmi.
11:47Kenapa? Melekat pada dirinya, itu adalah jabatan publiknya.
11:51Dan Prof. Gun-Gun melihat fenomena ini ada di dalam pemerintahan?
11:55Iya kan, sambung menyambung nih.
11:57Dan itu harus dibenahi, makanya saya yakin Presiden mengevaluasi itu.
12:02Makanya kemudian dilakukan resupple.
12:05Sampai muncul kepala BAKOM baru.
12:07Iya kan, kalau misalnya KSP, kemudian BAKOM sekarang tambah ada satu penasehat Presiden bidang komunikasi.
12:15Artinya komunikasi dalam prioritas Presiden harusnya menjadi peran di tengah, arus utama lagi.
12:22Bukan lagi peran pinggiran yang sifatnya instrumentalistik, tidak berdampak apa-apa.
12:27Dan luar biasa kalau kebijakan tanpa komunikasi kebijakan, program prioritas tanpa komunikasi prioritas itu yang ada adalah paradoks.
12:37Paradoks. Oke.
12:38Saya ke Mas Lukman nih.
12:40Mas Lukman ada di kabinet, pernah dalam praktek langsung berkomunikasi.
12:47Baik menjalankan komunikasi ke publik ataupun dari Presiden juga.
12:52Kalau Anda melihat kan sekarang ini fenomenanya ada orang-orang lama yang sudah keluar, Hasan Nasbidi tarik lagi dengan atribusi
13:03putusan khusus komunikasi.
13:06Ada juga karding yang sudah pernah di kabinet masuk lagi.
13:12Apa yang Anda baca dari sini?
13:15Sebenarnya Presiden itu ingin melakukan konsolidasi politik kah atau memang ingin memperbaiki bicara soal kaitan dan kinerja?
13:26Ya tentu kalau ditanyakan apa motifnya dari otak atik kabinet, ini saya tergelitik juga dengan temanya ini otak atik kabinet
13:35ada apa dengan komunikasi istana?
13:38Saya pikir tadinya ada apa dengan cinta.
13:40Ada apa dengan cinta.
13:41Karena komunikasi itu kan basisnya harus cinta.
13:43Itu nanti bakom yang baru nanti yang menjelaskan kalau ada apa dengan cinta.
13:46Jadi tentu motifnya beragam, tapi saya ingin batasi karena ini temanya tentang komunikasi.
13:51Saya menduga Bapak Presiden itu resah dengan pola komunikasi kabinetnya.
13:59Terbukti dengan adanya pergantian ini.
14:02Dan mudah-mudahan pergantian ini betul-betul mampu mengatasi keresahan beliau.
14:09Jadi memang banyak kalangan yang menilai bahwa yang mendasar itu terkait dengan koordinasi.
14:18Koordinasi.
14:18Komunikasi itu karena ini kan tim ya seperti Anda tadi menganalogikan sepak bola gitu kan.
14:26Tidak bisa perorangan ini sebuah tim.
14:29Pemerintahan itu satu tim gitu.
14:31Nah kalau diantara anggota kabinetnya itu tidak hanya sekedar berbeda,
14:36tapi bahkan saling menegasikan satu dengan yang lain,
14:41ya publik tentu akan sangat resah.
14:43Dan Bapak Presiden tentu juga resah.
14:45Nah jadi koordinasi ini mendasar.
14:48Saya ingin menggarisbawahi yang disampaikan oleh Pak Gun-Gun tadi itu bahwa
14:53memang masalah itu selalu muncul dari statement-statement yang muncul dari anggota kabinet yang...
15:02Dengan intensi tertentu.
15:03Iya intensi tertentu.
15:04Mungkin karena keterbatasan informasi terkait dengan bidang tugas dan tanggung jawabnya,
15:11sehingga lalu kemudian out of context begitu ya statement-nya atau near empathy banyak sekali
15:18yang seperti tidak memperhatikan empati publik begitu.
15:24Atau bahkan justru saling bertentangan satu dengan yang lain.
15:29Nah sehingga dalam pikiran saya terkait dengan koordinasi ini sangat mendesak diperlukan adanya semacam tim mitigasi.
15:40Jadi kalau tadi itu istilahnya adalah...
15:42Oh jadi kalau ada yang kira-kira blunder gitu harus segera di...
15:46Harus segera gitu.
15:47Misalnya kalau munculnya yang dianggap kontroversi dari Presiden,
15:51Menteri juga gak berani mungkin.
15:53Ya.
15:53Misalnya sekedar contoh ini sekedar contoh saja.
15:55Contoh.
15:56Terkait selat Malakom yang baru.
15:58Ini isu selat Malaka gitu.
16:00Iya, iya.
16:01Menteri Keuangan statement-nya seperti itu.
16:04Iya.
16:04Kita semua sama tahu.
16:05Beliau ingin dipajakilah seperti selat Hormuz gitu.
16:10Lalu kemudian dalam waktu yang sangat singkat,
16:13Menlu membantah.
16:16Tidak hanya berbeda tapi menegasikan itu.
16:19Belum lagi seorang blanket air flight yang Amerika.
16:20Misalnya Panglima mengatakan bahwa kita siaga aku.
16:23Iya, iya.
16:24Lalu kemudian Kasat menyatakan tidak ada instruksi.
16:28Oke.
16:29Jadi ini tidak hanya berbeda tapi bahkan saling menegasikan.
16:34Saling menegasikan.
16:35Nah publik ini perlu kejelasan.
16:38Jadi yang saya maksud mitigasi itu kalau misalnya diantara.
16:40Memang tidak terhindar karena apalagi ini kabinetnya semakin gemuk kan begitu.
16:44Di antara anggota kabinet bisa saja berbeda.
16:47Tapi butuh satu instrumen koordinasi ya.
16:49Tapi harus ada satu yang mengklarifikasi.
16:52Oke.
16:52Seperti kasus sekarang ini tentang tragedi kecelakaan Bekasi Timur ini.
16:58Ini kan publik menunggu.
16:59Terbongnya dipindahin.
17:00Bukan itu koordinasi ya.
17:02Tapi poin saya ya publik itu menunggu.
17:04Betul publik tahu bahwa perlu waktu untuk investigasi dan lain sebagainya.
17:09Tapi publik ingin mendapatkan informasi bahwa pemerintah bekerja terkait dengan insiden atau kecelakaan ini.
17:17Sehingga progresnya ada di mana.
17:19Masalahnya apa dan seterusnya dan seterusnya.
17:23Nah ini siapa ini yang menyuarakan?
17:26Nah jadi yang saya maksud mitigasi itu begitu.
17:29Jadi penasihat khusus nanti tentu sebagai pembantu presiden.
17:34Saya akan bekerja sama yang sangat erat.
17:38Dengan Abang Dah Kabakom yang baru.
17:41Bang Kodari.
17:42Mungkin juga nanti dengan Ibu Menkom Diji.
17:44Dengan Ibu Menkom Diji untuk memperkuat lagi bidang komunikasi yang diperkelahkan oleh pemerintah.
17:54Supaya pesan-pesan yang ingin diketahui oleh publik itu bisa lebih baik lagi.
18:00Bisa jauh lebih sampai dan bisa dipahami oleh masyarakat.
18:07Masih di Satu Menjadi Forum.
18:09Sebelum ke Bung Kodari saya ke Prof. Gun-Gun dulu.
18:12Dikasih dulu jawab keempatan.
18:14Bentar biar ada pengantarnya dulu Pak.
18:17Karena gini.
18:18Tadi pernyataan Hasan Nasbi tadi menyebutlah bahwa wah ada Angkodari, ada Menkom Diji.
18:26Tapi saya melihatnya begini.
18:27Ada orang mengatakan bahwa penunjukan seorang Angkodari di dalam kabinet dan tim komunikasi itu adalah menunjukkan bahwa sebenarnya ada pengakuan.
18:36Yang tadi saya bilang agak kedodoran nih.
18:38Karena lagi banyak serangan ini.
18:40Dan banyak hal-hal yang mesti dijelaskan.
18:42Prof. Gun-Gun melihat yang sama gak soal itu?
18:44Iya saya melihat yang sama.
18:45Contohnya misalnya di Kompas sendiri kan menyebut bahwa tujuh bulan yang wakum kemarin sebelumnya hanya satu kali konferensi misalnya.
18:53Ya kan ada di Kompas tuh.
18:55Seingat saya, saya tadi pagi baca itu begitu.
18:57Nah ini perlu memang semacam penguatan.
19:01Jadi begini Mas Yogi, saya melihat perlu ada semacam peran informasi yang dipertegas.
19:07Contoh ya, penasehat presiden bidang komunikasi itu wilayahnya substansi, namanya itu FCR tuh.
19:15Finding Conclusion Recommendation Pada Presiden.
19:17Oh yang dia memformulasi ya.
19:20Jadi dia memfeeding presiden.
19:21Itu wilayahnya, jangan ke publik.
19:23Jadi dia harus berdisiplin sebagai koki informasi untuk presiden.
19:27Itu utusan khusus komunikasi.
19:29Jadi nanti jangan kemudian ditarik-tarik perannya pada wilayah juru bicara.
19:34Ke publik.
19:35Kenapa?
19:35Karena harus ada yang memang berdisiplin menjaga wilayah ini.
19:40Narasi yang akan keluar dari presiden.
19:41Itu yang pertama.
19:43Kemudian, KSP itu pada yang disebut dengan komunikasi presidensial.
19:51Setelah narasi jadi kan ada komunikasi presidensial.
19:54Komunikasi presidensial tuh karakternya tiga.
19:56Official, Directive, Autoritatif.
20:01Nah tiga ini, ini adalah khas dari komunikasi presidensial untuk program prioritas.
20:05Jubirnya sama tapi.
20:06Bukan, KSP itu bukan bicara soal jubir.
20:08Tapi bicara soal komunikasi presidensial yang wilayahnya itu untuk komunikasi politik, supra, dan infrastruktur.
20:16Legislatif, yudikatif, sama lima elemen dari infrastruktur.
20:21Apa?
20:21Media misalnya, kemudian partai politik, kemudian kelompok kepentingan, kelompok penekan, sama figur yang potensial
20:30menguatkan atau melemahkan komunikasi presidensial.
20:33Itu wilayahnya KSP.
20:35Kemudian wilayahnya Bakom, menurut saya adalah lebih pada, pertama, the bottlenecking, gitu ya.
20:42Pada isu-isu yang kemudian melintas sektoral.
20:46Kementerian, lembaga, daerah.
20:48Sekaligus juga ke public internal, pemerintah, dan eksternal.
20:53Contohnya misalnya hadir di berbagai kepentingan publik untuk tahu.
20:57Right to know-nya publik, seperti lewat media.
21:00Nah, disitulah menurut saya perlu berdisiplin di masing-masing.
21:04Jangan sampai yang presidensial, komunikasi presidensial, masuk ke wilayah kementerian, lembaga, dan daerah.
21:10Kecuali untuk hal-hal yang the bottlenecking, gitu.
21:13Siapa yang mengelola supaya disiplin itu?
21:15Siapa wasit?
21:16Ya, tentu presiden sebagai pemilik hak prerogatif, ya.
21:19Saya akan ke Bumbu Dari kalau begitu.
21:21Ya kan, tadi sudah diberikan gambar.
21:23Makanya saya tidak langsung.
21:24Ya, ya, ya.
21:24Kan dulu pengantar oleh seorang profesor.
21:26Baik, itu pandangan seorang pengamat.
21:31Dulu pengamat juga, loh.
21:33Saya sebagai praktisi akan mengembalikan semuanya kepada perpres atau tupoksi yang memang sudah diatur dalam undang-undang atau dalam peraturan
21:44di bawahnya.
21:45Jadi pertama ya, perpres atau tupoksinya KSP itu, eh, bakom itu adalah untuk orkestrasi komunikasi di pemerintahan.
21:54Oh.
21:55Jadi ada dua aspek di situ.
21:57Yang pertama, mengkoordinasikan atau mengorkestrasi komunikasi di KL-KL, kementerian dan lembaga.
22:06Persisnya bagaimana saya sedang pelajari satu dua hari ini, saya sudah punya gambaran.
22:11Tetapi intinya, masalah-masalah yang tadi disebut oleh Mas Lukman, itu juga sudah masuk radar kami.
22:18Dan pada titik itu, misalnya saya membayangkan bahwa nanti ke depan perlu ada semacam pertemuan, katakanlah dengan para menteri.
22:26Jadi, untuk pertama misalnya, ya, tupoksi masing-masing apa sih? Begitu.
22:31Pasti semua kembali ke sana, kalau kita bicara KL.
22:34Apakah misalnya seorang menteri keuangan bisa berbicara tentang masalah-masalah yang berurusan atau erat sekali dengan luar negeri, misalnya?
22:44Begitu.
22:44Saya kira kalau masing-masing KL itu disiplin dengan tupoksinya, insya Allah ini sudah dalam jalurnya masing-masing.
22:53Begitu. Itu satu.
22:54Yang kedua, tentu saja bahwa masing-masing menteri ini kan latar belakangnya sangat beragam.
22:59Ada yang pernah bersentuhan, bahkan akrab dengan komunikasi.
23:05Misalnya kepala KSP aja.
23:06Kepala KSP kan beragam.
23:08Kebetulan saya orang yang akrab dengan dunia media.
23:11Biasa berhadapan.
23:12Sehingga awareness saya tentang media mungkin lebih baik dibandingkan dengan kepala KSP yang backgroundnya tidak pernah bersentuhan dengan media.
23:20Karena itu memang perlu kalibrasi untuk katakanlah pimpinan di KL itu untuk lebih paham soal logika, media, protokol, komunikasi, dan
23:31seterusnya.
23:32Maksudnya KSP karena nggak ada background di media, artinya bisa dibilang bahwa Pak Dudung jangan dulu bicara ke publik atau
23:38ke publik.
23:38Tidak.
23:39Biar ngasih tau teman-teman, jangan wawancara Pak Dudung.
23:41Pak Dudung punya kemampuan komunikasi yang sangat baik.
23:45Nggak apa-apa.
23:46Ini kan bagian dari usulan dari Prof. Gun.
23:49Kan saya bilang tidak semua.
23:50Oh tidak semua.
23:51Tidak termasuk Pak Dudung.
23:53Pak Dudung punya pengalaman yang panjang.
23:55Oh KSP yang lain ini ya.
23:56Dengan media.
23:57Barangkali ya.
23:58Oh ya ya.
23:59Jangan diteruskan mas.
24:01Nggak, nggak, nggak.
24:01Nggak, nggak, nggak, nggak, nggak.
24:03Iya, iya, iya.
24:04Iya, itu yang pertama.
24:05Nah kemudian yang kedua, kalau bicara KSP, sekali lagi tugasnya itu adalah soal pengendalian program prioritas nasional.
24:14Memang ada mengolah isu juga, tetapi sepertinya ya, saya kemarin ngobrol dengan Pak Dudung, tidak ada tugas khusus untuk membantu
24:22komunikasi.
24:23Karena itu saya kulun-wun bahwa program press conference mingguan itu, itu saya bawa ke Bakom.
24:32Terlebih lagi memang sebelumnya sudah kerjasama KSP dengan Bakom.
24:36Jadi tradisi untuk tiap hari Rabu, ada dialog, ada paparan mengenai pencapaian program prioritas, menghadirkan kementerian yang ya sedang aktual,
24:47itu akan diteruskan di Bakom.
24:49Jadi persisnya biar publik clear lebih teknis nih.
24:52Saya tambahkan sedikit ya, saya menjawab dulu, menjawab dulu Bang Mas Lukman.
24:56Belum, belum, belum.
24:58Kalau Kepala Bakom itu panjang.
25:00Ini udah mulai Kepala Bakom ya?
25:01Saya lupa, saya lupa.
25:03Iya, iya, iya.
25:04Jadi begini, tadi beliau kasih contoh mengenai apa yang terjadi di Bekasi Timur.
25:08Hemat saya justru, pada hari ini itu contoh komunikasi yang cukup baik Mas Lukman.
25:13Pertama dari segi apa?
25:15Dari segi empati, ya.
25:17Langsung datang Pak Dasko, langsung datang Pak Kapolda.
25:20Kemudian malam itu juga Pak Menteri, Pak Dirut KAI dan Pak Menhub sudah langsung tampil, memberikan informasi.
25:29Pak Menhub yang terbilang jarang tampil.
25:31Tampil, memberikan informasi mengenai peristiwa tersebut, mengenai korban, dirawat di mana, dan seterusnya.
25:37Lalu kemudian tadi siang, beliau melakukan press conference lagi, mengupdate perkembangan.
25:43Lalu Bapak Presiden juga sudah datang.
25:47Tadi pagi, tadi malam ya.
25:49Tadi pagi sudah datang, nanti saya dapat kabar sore ini sepulang dari Ceracap akan datang lagi.
25:56Itu dari segi empati.
25:57Kemudian dari segi perhubungan, Pak Dirut KAI menjelaskan, sebagai akibat dari adanya peristiwa tersebut, maka jalur hilirnya ditutup dulu.
26:10Untuk apa? Untuk pemeriksaan oleh KNKT.
26:13Ya, intinya.
26:13Mengenai peristiwanya diserahkan kepada KNKT untuk memproses.
26:17Lalu ditambahkan lagi, sebagai akibat dari peristiwa ini, maka kemudian KRL, ya, kalau nggak salah ya, KRL, yang tadinya sampai
26:25ke Cikarang, sekarang sampai ke Bekasi.
26:27Jadi, saya kira sih kalau bicara mengenai praktek komunikasi, kalau dalam kasus peristiwa di KAI tersebut, cukup bagus.
26:34Oke, saya ke Mas Lukman. Mas Lukman, ini mumpung ada bakom.
26:39Jadi, ada anggapan mengatakan bahwa hari ini beberapa orang, para pihak, akademisi, pengamat itu, cara menyampaikan kritikannya kurang santun.
26:49Ada cara dan sebagainya.
26:50Atau sebaliknya, juga ada yang mengatakan, ini pemerintah ini diberi masukan kok.
26:56Padahal kan bicara pembangunan itu tidak hanya bicara soal fisik, tapi juga bicara soal ruang integritas publik kan.
27:01Anda melihat apa? Yang paling tidak Anda kan juga ada di.
27:05Nah, ini bagus sekali nih pertanyaannya. Jadi, komunikasi itu kan dua belah pihak, itu kan.
27:12Maka, kenapa tadi saya di awal saya menyebut cinta?
27:16Cinta, ya.
27:17Jadi, pemerintah itu kan melayani, gitu ya, abdi negara, melayani.
27:24Jadi, posisinya terhadap rakyat itu jangan equal, jangan memposisikan diri setara dengan rakyat.
27:32Pemerintah itu melayani.
27:34Mengayomi.
27:35Mengayomi, jadi segala sesuatunya itu basisnya harus cinta.
27:41Artinya, jangan resisten terhadap kritik sekasar atau sekeras apapun.
27:47Itu adalah sesuatu yang input masukkan.
27:51Dasarnya adalah bagaimana cara pandangi rakyat kita kan macam-macam, gitu.
27:56Jadi, jangan dilihat caranya, tapi substansinya kalau terkait dengan dalam perspektif pemerintah karena dia punya kewajiban untuk melayani itu.
28:05Nah, jadi menurut saya tadi yang kaitannya dengan mitigasi tadi itu harus dibangun kesadaran mereka-mereka yang memang mendapatkan amanah
28:14untuk mengembangkan amanah menjadi pemerintah ini.
28:17Jadi, untuk tadi itu melihat apapun masukan atau kritik sekalipun itu bukan di persepsi sebagai musuh atau lawan.
28:29Tapi, itu adalah ya rakyatnya yang memang harus dilayani, gitu.
28:34Jadi, perspektif atau paradigma ini yang menurut saya harus dibangun.
28:39Sehingga tidak ada tadi itu statement-statement yang near empati, tidak ada statement yang mengecilkan.
28:48Misalnya, ketika ada tagar kabur aja dulu, lalu kemudian direspon dengan ya sudah kabur aja, gitu.
28:55Dan kalau perlu nggak usah kembali, gitu.
28:56Itu kan statement yang seakan-akan rakyat itu bagian dari musuh, gitu.
29:03Yang lalu kemudian direspon.
29:04Nah, yang contoh-contoh begini ini menurut saya, ya, bakom saya pikir punya harapan untuk bagaimana kita boleh berharap pada
29:13kepala bakom yang baru, ya.
29:14Iya, persepsi ini yang menurut saya perlu dibentuk terlebih dahulu sehingga pendekatannya, semangatnya itu cinta terhadap apapun yang disuarakan oleh
29:22rakyatnya, gitu.
29:24Oke, oke.
29:25Dan ada tuduhan untuk menjelekan kita sebagai bangsa.
29:30Jadi begini ya, kalau saudara tidak suka dengan dua-tiga orang, jangan merusak seluruh bangsa.
29:39Kalau tidak suka sama Prabowo, silahkan.
29:432029
29:47Bertarung.
29:51Iya, kan?
29:57Masih di Satu Meja The Forum.
30:00Mas Lukman, tadi kan relate dengan yang tadi sampaikan.
30:04Ini kan, ini kita diskusikan, karena...
30:08Mas Yogi ini ya, bukanya pelan, tapi...
30:12Ini saya perhatikannya, memang ciri khasnya ini, Mas Yogi ini.
30:17Hati-hati kita dengan kalimat pertama itu.
30:19Karakteristiknya tidak harus dilihat, kan.
30:21Tapi, ini penting juga, apakah Mas Lukman melihat, ya, seharusnya seorang presiden mungkin bisa menahan.
30:27Tapi kalau sudah bicara karakter, mungkin emang karakternya seperti itu.
30:31Padahal mungkin substansinya ya, hatinya baik dan sebagainya.
30:34Mas Lukman melihat bagaimana dalam konteks posisi presiden?
30:37Justru disinilah pentingnya komunikasi.
30:39Karena ada ilmunya, ada strateginya, dan seterusnya.
30:42Jadi, oke, karakter satu hal, tapi cara berkomunikasi, apalagi bagi pejabat publik, itu hal lain yang harus dibenahi.
30:51Jadi, poin penting saya tadi itu cinta.
30:53Jangan menganggap rakyatnya sendiri sebagai lawan, musuh, atau sesuatu yang ingin mengancam.
31:02Terkesan begitu ya?
31:03Itu kan tadi resistennya tinggi sekali, gitu.
31:06Jadi, saya sangat berharap, ya, anggap sekeras apapun, itu adalah tanda cinta, gitu kan.
31:13Orang kalau nggak punya cinta, dia cuekin tuh nggak perlu kritik, gitu.
31:19Tadi di Cilacap juga, pada saat peresmian hilir, saya juga sama, ada statement juga.
31:24Mungkin Kepala Bakom sudah monitor, tuh.
31:26Kalau yang nggak setuju sama saya, keluar, gitu.
31:28Nah, cara-cara seperti ini menurut saya, ya, ini nanti Pak Kodari lah.
31:34Ya, nanti coba kita dengar.
31:35Gimana rencananya Kepala Bakom yang baru mengubah konsep atau profil komunikasi politiknya seorang presiden?
31:42Pertama, Bapak Presiden adalah seorang patriot yang cintanya sangat besar kepada bangsa dan negara dan rakyat Indonesia.
31:49Ini salah satu kenapa ditunjuk jadi Kepala Bakom, ya, ini.
31:52Karena bisa membuat formulasi kalimat.
31:54Justru karena beliau sangat cinta, maka lahirlah program-program yang sangat berpihak kepada rakyat Indonesia.
32:03Contohnya, sekolah rakyat.
32:04Anak yang tidak bisa sekolah, dari keluarga tidak mampu,
32:09diberikan sekolah, diberikan pendidikan, diberikan hidup,
32:13supaya mereka bisa punya masa depan yang lebih baik.
32:15Satu contoh.
32:16Nah, yang kedua, memang kita juga tidak bisa naif.
32:19Kalau Mas Lukman yang ngomong,
32:21saya menyampaikan pendapat ini, masukan ini karena cinta,
32:25saya percaya kepada beliau.
32:27Tapi apakah semua yang mengatakan seperti itu adalah seperti Mas Lukman?
32:32Tentu tidak.
32:34Kita tidak boleh naif.
32:36Mas Lukman kebetulan pernah memberikan masukan kepada Presiden.
32:40Pernah Menteri Agama,
32:42tapi beliau ini dalam kacamata saya,
32:44beliau ini nada dasarnya adalah seorang Ustadz,
32:47seorang Kiai.
32:48Jadi ada...
32:48Selalu dalam dari...
32:49Kalau yang lain, kenapa emang?
32:50Yang lain, kenapa?
32:51Kita lihat juga kan yang lain-lain itu ada politisi,
32:54ada yang kalkulasi elektoral,
32:57ada juga kekuatan luar negeri,
32:59dalam negeri.
32:59Ada pengamat ini, Prof. Gun-Gun?
33:01Ada juga...
33:02Prof. Gun-Gun, beliau seorang akademisi.
33:05Dengan cinta juga.
33:07Saya bisa menanggapi ya.
33:08Saya lanjutkan lagi.
33:08Saya tidak sedikit saja.
33:10Mumpung, belum selesai.
33:11Boleh, boleh.
33:11Poinnya ini kan supaya clear.
33:14Bisa ngomong setelah saya sampaikan.
33:17Oh, cukup susu.
33:17Saya tadi sudah dengarin Mas Lukman.
33:19Jadi kita menanggapi juga bahwa ada 6.000 hektare
33:26kebun sawit ilegal
33:27yang ditindak oleh Bapak Presiden.
33:31Dan itu kan kita tahu bahwa apakah kemudian
33:34yang punya kebun sawit itu akan selamanya
33:37disita, lalu kemudian dikembalikan kepada negara
33:41uangnya untuk...
33:43Saya menanggap maksudnya kalau yang tadi poin-poin tadi itu clear.
33:45Poinnya dan nuansa itu jangan menuansakan bahwa
33:48Presiden seorang pemimpin itu
33:51seolah-olah itu asal rakyat berbeda
33:53kemudian...
33:54Jadi yang disantakan oleh Pak Kodari itu sebenarnya benar.
33:56Benar sebenarnya.
33:58Yang dimasukkan bukan Pak Lukman.
34:00Tapi kita juga tidak boleh naib
34:04bahwa agenda itu banyak dan bermacam-macam.
34:07Aktor juga banyak dan macam-macam.
34:09Dan yang terakhir, kalau ada yang menyerang
34:12atau kemudian mengatakan sesuatu yang tidak benar
34:14hemat saya, ya harus dijawab.
34:16Karena itu juga saya jawab.
34:18Kita menjawab.
34:19Itu yang saya bilang.
34:20Your words against my words.
34:22Gitu loh.
34:23Saya yakin dengan ya niat Presiden yang penuh cinta
34:26kepada rehat Indonesia
34:27dengan program-program yang begitu luas
34:30dengan manfaat yang nyata.
34:32At the end of the day,
34:33mayoritas masyarakat Indonesia itu
34:34akan mendukung apa yang dilakukan oleh Bapak.
34:37Oke, saya nanggap poinnya Pak Kodari.
34:38Dan kata-kata, frekuensi,
34:41frekuensi, kemudian juga
34:43frekuensi serta intensitasnya
34:45itu yang mungkin harus diambahkan oleh Presiden.
34:47Sekarang untuk melonggapin.
34:48Program yang banyak itu harus disampaikan
34:51Mas Rukman silahkan.
34:52Mas Rukman silahkan.
34:53Jadi saya bersepakat dengan poinnya.
34:57Tapi maksud saya,
34:59ini kan tema kita tentang komunikasi.
35:02Strategi komunikasi publik.
35:03Untuk kebaikan lah ya.
35:04Bapak Presiden, betul.
35:06Tidak semua orang punya niat baik.
35:08Punya tindakan baik.
35:09Apalagi ranah politik, macam-macam.
35:11Tidak semuanya di latar belakang.
35:13Ada agenda lah.
35:14Bapak Presiden kan punya aparatus
35:16yang ada intelijen.
35:18Kalau memang ada tindakan-tindakan,
35:20ada niat mensria
35:22yang betul-betul melanggar undang-undang,
35:24tindakan yang bisa melakukan itu semua.
35:27Tapi poin saya bukan di situ.
35:28Adalah bagaimana ruang publik itu
35:31diisi dengan komunikasi
35:34yang lebih memberikan rasa nyaman
35:39kepada semuanya.
35:40Jadi tidak konfrontatif begitu.
35:42Di ruang publik ya.
35:43Jadi supaya rakyat itu memahami
35:46bahwa resistensinya tidak tinggi.
35:51Lebih kepada cara mendengarkan.
35:53Rakyat ini kan ingin didengar sebenarnya.
35:57Jadi ditampunglah, didengarlah.
36:01Walaupun nanti tindak lanjutnya seperti apa,
36:05jangan sejak awal sudah resisten.
36:08Ini yang lalu kemudian menimbulkan
36:09anak-anak masalah baru.
36:11Jadi begini.
36:13Keduanya sudah, saya boleh ke akademisi dulu.
36:15Bapak Presiden itu pidatonya banyak dan panjang.
36:19Isinya berisi tentang hal-hal
36:21dan program-program yang beliau bangun
36:23untuk kemandirian bangsa.
36:25Untuk peningkatan kesejahteraan.
36:28Kalau ada satu dua item
36:30yang nadanya seperti itu,
36:33maka itu, ya itulah bagian dari
36:35cara beliau untuk mengingatkan kita.
36:37Bukan substansi.
36:38Untuk mengingatkan.
36:39Untuk mengingatkan kita semua.
36:41Tidak boleh naif.
36:42Indonesia ini negara kaya.
36:44Banyak yang berkepentingan di sini
36:47semenjak ratusan tahun yang lalu.
36:49Jangan kita terlena,
36:51waspadalah, waspadalah, waspadalah.
36:52Prof Gun-Gun,
36:54tadi kan saya menyampaikan,
36:56ada orang-orang lama,
36:57ada arus balik yang katanya
36:58kelompok Jokowi,
37:00kalau memang itu benar,
37:01tapi juga ada bagaimana
37:02cara Presiden menyampaikan,
37:04merespon sebagai seorang pemimpin.
37:06Anda melihat?
37:08Ya, dalam komunikasi itu
37:09ada namanya CPM.
37:11CPM.
37:12Saya kutip dari Sandra Petronio.
37:14Communication of Privacy Management.
37:16Jadi Management of Privacy Komunikasi.
37:19Seorang Presiden ataupun Menteri
37:22di bawahnya,
37:23itu memang yang harus diperkuat itu CPM.
37:25Kapan misalnya
37:27satu pernyataan itu
37:28bisa punya daya ledak.
37:30Yaitu pada saat
37:32pertama menyangkut
37:33hal-hal yang tidak mengenakan
37:35dari sisi pilihan diksi,
37:37dari sisi intensi,
37:39dari sisi momentum.
37:40Mungkin bahasanya bagus,
37:42tapi momentumnya keliru.
37:43Kayak kemarin misalnya
37:45Menteri PPA.
37:46Itu bisa jadi niatnya baik.
37:49Ya kan?
37:50Tapi momentumnya
37:51tidak pas.
37:52Itu juga harus dibaca sebagai
37:54cara mengelola CPM.
37:56Terus contoh misalnya,
37:58mungkin juga niat...
37:59Kalau gimana dengan
38:00kes-kesnya pidato Presiden yang...
38:02Ya, termasuk
38:02misalnya soal
38:04kata menertibkan.
38:06Meskipun tadi,
38:07apa namanya,
38:08ada semacam narasi
38:10pra dan
38:10pascanya.
38:12Artinya ada kalimat.
38:13tetapi kemudian kan
38:15itu harus...
38:16yakin akan dibaca
38:17dalam konteks
38:18satu pilihan diksi
38:21yang mungkin
38:21bisa punya
38:23potensi
38:25merusak
38:26dari keseluruhan
38:27narasi yang dibangun
38:28di situ.
38:29Karena apa?
38:31Orang sudah mungkin
38:32punya memori kolektif
38:33di masa lalu
38:33soal
38:34bagaimana
38:35ditertibkan itu.
38:36Oke.
38:36Sama juga misalnya
38:38inflasi pengamat
38:39itu kan menciptakan
38:40musuh baru.
38:42Menciptakan musuh baru.
38:43Kenapa?
38:44Pengamat itu
38:45menurut saya
38:45harus jadi mitra.
38:47Mitra kritis.
38:49Kenapa?
38:49Karena demokrasi yang...
38:50Karena kalau kata-kata
38:51inflasi itu seolah-olah
38:52ada kelebihan.
38:53Ada peningkatan
38:54meluncarkan gitu.
38:54Ya apalagi kan ditambah
38:55dengan kalimat penjelasnya.
38:56Ya kan?
38:57Misalnya tidak sesuai
38:58background-nya.
38:59Itu akan kemudian
39:00backfire
39:01ke pemerintah.
39:02Contohnya banyak
39:03menteri yang tidak
39:04pas
39:04background-nya.
39:05Hal seperti ini kan
39:06menyangkut
39:08communication privacy
39:09management sebenarnya.
39:11Belum lagi
39:11kalau kita bicara
39:12karena begini
39:13komunikasi hari ini
39:14ditandai selain oleh
39:15CPM itu
39:16oleh narasi.
39:18Narasi
39:18sudah kita bahas
39:19bagaimana
39:20misalnya memformulasikan
39:21narasi
39:22pemerintahan Prabowo
39:23dan saya yakin
39:24Bakom
39:25salah satu
39:26kekuatannya
39:27harusnya di situ.
39:28Bagaimana
39:29mengorkestrasi
39:30narasi pemerintah
39:31lewat kementerian
39:31lembaga dan daerah
39:32supaya kemudian
39:33itu ada satu
39:34benang merah
39:36yang dibaca
39:36oleh publik
39:37sebagai benang merah
39:38yang koheren
39:38yang padu
39:39gitu.
39:40Nah yang ketiga
39:41dari hal yang
39:42paling penting
39:43dalam komunikasi
39:44itu adalah
39:45simbolik
39:46convergen
39:46jadi penyatuan
39:48kesadaran bersama
39:49lewat satu simbol-simbol
39:51tertentu yang kemudian
39:52diberikan oleh
39:53pemerintah
39:54menjadi sinyal
39:54menjadi
39:55stimulan
39:56menjadi rangsangan
39:57yang positif.
39:58Nah kalau kemudian
40:00ada
40:01simbol
40:02baik kata-kata
40:03maupun tindakan
40:04yang
40:04menyiratkan
40:05bahwa pemerintah
40:06itu memang
40:07sangat akomodatif
40:09pada kehendak
40:10publik
40:10saya yakin
40:11tidak muncul
40:12fenomena-menomena
40:13letupan
40:14seperti
40:14Agustus
40:15yang lalu itu.
40:16Terima kasih.
40:16Makin banyak catatan
40:18buat bakom
40:18yang baru ini.
40:19Masih di
40:20Satu Menjadi Forum
40:21segmen terakhir
40:22kepala bakom
40:24masih soal
40:25retorika
40:25Bapak Prabowo
40:26tadi.
40:27Jadi begini
40:27ini pidato beliau
40:28nih ya
40:28barusan di
40:29Cilacap.
40:30Pada saya memberikan
40:31kesempatan bahwa itu
40:32konsep bakom
40:33ke depan
40:33tapi
40:33tidak apa-apa
40:34masih bagian
40:35fundamental soalnya.
40:37Pada siang hari ini
40:38dalam acara
40:39yang bersejarah
40:40dan membanggakan
40:41groundbreaking
40:42hilirisasi
40:43tahap 2
40:43yang mencakup
40:4413 proyek
40:45strategis
40:45hilirisasi
40:46senilai lebih
40:47116 triliun
40:48meliputi
40:495 proyek
40:50sektor energi
40:505 proyek
40:51sektor mineral
40:513 proyek
40:52sektor pertanian
40:53dan seterusnya
40:53panjang sekali.
40:54Kemudian
40:55hilirisasi
40:56adalah jalan
40:57menuju kebangkitan
40:58bangsa Indonesia
40:59yang kita lakukan
41:00dalam banyak bidang
41:01di tahun pertama
41:01saya memimpin
41:02adalah memperkuat
41:03fondasi
41:04yang sudah dilakukan
41:05oleh presiden sebelumnya.
41:06Lalu beliau geser
41:07dari
41:08peresemian hilirisasi
41:09itu ke
41:09SMA Negeri 1
41:11Cilaca.
41:12Beliau di situ
41:12berpidato
41:13tahun ini
41:14sudah 70 ribu
41:15sekolah yang
41:16diperbaiki
41:17tahun lalu
41:1817 ribu
41:19tahun ini
41:1970 ribu
41:20tahun depan
41:20saya target
41:21kalau bisa
41:22lebih dari
41:23100 ribu
41:24apa poin
41:24yang akan
41:25disampaikan?
41:25jangan
41:27ceripiking
41:27satu kalimat
41:29beliau
41:30soal tadi
41:31kalau tidak
41:31jangan dibilang
41:32Indonesia gelap
41:33kalau tidak suka
41:34Anda ke Yaman saja
41:35jangan itunya
41:37yang di highlight
41:37tetapi
41:38poin substansi
41:39tadi itu
41:40harus dilihat
41:41itu yang saya maksudkan
41:42pidato presiden
41:43sekian panjang
41:44itu jangan itunya
41:45yang di highlight
41:45dan kalau kita
41:46kaitkan dengan
41:47tema hilirisasi
41:48kembali lagi
41:49banyak di luar negeri
41:51itu tidak senang
41:52kita hilirisasi
41:53karena selama ini
41:54mereka mengambil
41:55manfaat
41:56dengan kita kirim
41:57bahan mentah
41:57nah sekarang presiden
41:58tidak mau
41:59membangun nilai tambah
42:00lewat apa?
42:01hilirisasi
42:01jadi kalau di luar itu
42:02ada yang tidak senang
42:04kemudian
42:05ya dia
42:05subversi
42:06dia infiltrasi
42:08dan seterusnya
42:08kita tidak boleh naif juga
42:09begitu
42:10tapi tidak semuanya gitu
42:11ada juga yang berikan
42:12masukannya baik
42:13makanya saya katakan
42:14dari awal
42:14kalau Pak Lukman
42:15yang bicara
42:16itu beda dengan
42:17yang lain yang berbicara
42:18dan semuanya
42:19dalam koridor konstitusi
42:21kalau dalam koridor konstitusi
42:22silahkan
42:23kalau di luar konstitusi
42:25kita lawan
42:26oke
42:26Mas Lukman
42:27ya karena ini sudah bagian akhir ya
42:29jadi
42:30ya kami sih hanya bisa berharap
42:32ini dengan
42:33yang baru pejabat
42:35boleh
42:35mendesak juga boleh loh
42:36ada di
42:37ya berharap lah
42:38berharap
42:38jangan disak
42:39desak nanti
42:40jadi poinnya begini
42:43dengarlah suara rakyat
42:45dengarlah suara rakyat
42:46pasti
42:46jadi
42:47jadi
42:48rakyat kita itu
42:49cerdas
42:50rakyat kita itu
42:51kritis
42:51apalagi sekarang ini kan
42:53era digital
42:55gitu
42:55mereka lebih ekspresif
42:57lebih responsif
42:59dan
43:00punya data juga
43:01rakyat itu punya data
43:02gitu
43:03jadi
43:03memang tidak mudah
43:05bagi pejabat
43:06di era
43:06sekarang ini
43:07memang harus punya
43:09kemampuan
43:09komunikasi
43:11tidak hanya kemampuan komunikasi
43:12tapi juga penguasaan
43:14bidang tugas
43:14dan tanggung jawabnya
43:15terkait dengan data
43:16dan segala sesuatunya
43:18jadi
43:18pertama
43:20menurut saya
43:21dengarlah suara rakyat
43:22yang kedua
43:23yang tidak kalah pentingnya
43:24adalah
43:24empatik
43:25empatik
43:26empatik
43:27jadi
43:28cintailah rakyat itu
43:30gitu
43:30jangan anggap musuh
43:32jangan anggap lawan
43:33jangan anggap sesuatu yang
43:34mengancam kedudukannya
43:36tapi adalah
43:37justru
43:37tadi istilahnya mitra
43:39cinta rakyat
43:39man tadi udah
43:40dengar program-program
43:41iya
43:42ini kan saya berharap
43:43saya kan berharap
43:45ini
43:45sangat cinta rakyat
43:47ini kan contoh
43:48resistensi itu
43:49tinggi sekali
43:50gitu
43:50saya baru bicara
43:52seperti ini saja
43:53resistensinya sudah
43:54jadi
43:57poin
43:57poin saya
43:58yang ketiga
43:59adalah
44:00bahwa
44:01komunikasi itu
44:03memang
44:04memerlukan
44:05koordinasi
44:06jadi
44:06koordinasi
44:07menurut saya
44:08menjadi bagian yang
44:09niscaya
44:10oke
44:10oke
44:11Prof Gun Gun
44:12masih ingin menegaskan
44:15soal
44:15tokol komunikasi
44:17yang
44:17di desain oleh
44:18Presiden
44:18saya memang ada
44:19tiga rekomendasi
44:20menurut saya
44:24rekomendasi yang pertama
44:25itu harus ada
44:26kejelasan
44:26antara
44:27komunikasi
44:28politik
44:28komunikasi
44:29publik
44:30sama komunikasi
44:31organisasi
44:31birokrasi
44:32ini tiga hal
44:33yang harus
44:35ditata
44:36dengan baik
44:37contoh misalnya
44:38komunikasi
44:38organisasi
44:39itu menyangkut
44:40internal
44:41bagaimana
44:42misalnya
44:42SDM-SDM
44:43komunikasi
44:44di lingkungan
44:45bakom
44:45di lingkungan
44:46KSP
44:47dan tentu
44:48yang lain-lain
44:48di kementerian teknis
44:49itu terkoordinasi
44:50itu yang bahasa
44:51Bengkodari tadi
44:52orkestrasi
44:53komunikasi publik
44:54menyangkut
44:55hal-hal yang bisa
44:56di deliver ke publik
44:58secara reguler
44:59termasuk pada saat
45:00krisis
45:01nah
45:02komunikasi politik
45:03jangkarnya adalah
45:04memengaruhi lingkungan
45:06politik
45:06melalui
45:07kelompok-kelompok
45:08yang memang
45:09bisa
45:09diajak bersama
45:11atau
45:11memang
45:12menangkal
45:13atau kontra
45:14narasi
45:14dari
45:15pernyataan-pernyataan
45:16yang bisa merugikan
45:17pemerintah
45:17selama tidak
45:18dalam kontek
45:19ancaman
45:19gitu ya
45:20selama tidak
45:21dalam kontek
45:21ancaman
45:22itu yang
45:22rekomendasi
45:23pertama
45:23yang kedua
45:24bagus melakukan
45:25considering
45:25ini adalah
45:26strong recommendation-nya
45:27untuk
45:28bakom
45:29bakom bisa
45:30melakukan
45:30considering
45:31seluruh kementerian
45:32termasuk
45:32menteri-menterinya
45:33menurut saya
45:34dalam satu
45:35tata kelola
45:36komunikasi
45:37kelembagaan
45:38yang
45:38yang ajek
45:39yang kita bahasakan
45:41sebagai protokol
45:42komunikasi
45:43kelembagaan
45:44nah yang terakhir
45:45itu menurut saya
45:46memang harus
45:47ada satu
45:48basis
45:49data dalam
45:51komunikasi
45:51ya
45:52sehingga kemudian
45:53evident based
45:54konteks
45:55terutama dalam
45:56kebijakan
45:56maupun dalam
45:57komunikasi
45:57kebijakan
45:58nah tiga hal ini
45:59bagi saya
46:00penting dalam
46:01setiap komunikasi
46:02yang namanya
46:03komunikasi
46:03pemerintah
46:04berbeda
46:05dan komunikasi
46:06level bawah
46:06masyarakat
46:07awam
46:08atau masyarakat
46:08biasa
46:09oke
46:09sudah dicatat
46:10oleh
46:10terima kasih
46:12mas Lukman
46:13terima kasih
46:14kepala
46:14kapal
46:15kapal
46:15Indonesia
46:15dengan senang hati
46:17terima kasih
46:17terima kasih
46:18Prof Gunggun
46:18terima kasih
46:19Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan