00:00Nah, ngobrol dulu dengan Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro sudah bersama kami di Breaking News Kompas TV.
00:08Mas Agung.
00:10Ya, selamat siang Mas Isan semuanya.
00:13Baik, ini ada enam tokoh yang akan diprediksi akan jadi materi dari pelantikan hari ini oleh Presiden Prabowo Subianto.
00:24Anak membacanya seperti apa?
00:26Iya, saya kira memang reshuffle selalu saja diawali dengan tiga alasan atau tiga motif Mas Isan.
00:32Pertama, alasan-alasan soal politis, ada perimbangan soal kekuasaan baik dalam konteks koalisi di pemerintahan maupun dalam konteks bagaimana menteri
00:42itu loyal terhadap Presiden maupun konsisten dengan program-program yang diusung oleh Presiden.
00:49Yang kedua, soal-soal suka atau tidak teknokratis, ini terkait kinerja.
00:55Ya, bisa jadi memang alasan ini menjadi alasan utama karena kita tahu ada beberapa hal yang memang perlu dievaluasi ataupun
01:02perlu diperbaiki.
01:03Apakah soal misalkan terkait ya kehutanan kita, lingkungan kita, soal-soal komunikasi Kabinet, soal-soal kemudian terkait bagaimana konsolidasi kinerja
01:18Kabinet supaya lebih terukur dan teratur dalam mencapai target dan arahan yang sudah ditetapkan oleh Presiden.
01:25Nah, yang ketiga alasan-alasan yuridis gitu.
01:28Alasan ini memang seringkali mengemuka ketika memang ada masalah hukum ataupun masalah yang kemungkinan akan menjadi beban bagi seorang menteri
01:38ataupun bagi seorang pembantu Presiden.
01:41Sehingga Presiden mengambil langkah maju untuk ya memastikan menteri ini diganti.
01:46Karena kita tahu postur Kabinet Presiden Prabowo hari ini memang sangat besar.
01:51Sehingga untuk meminimalkan beragam macam ya kemungkinan buruk itu harus dimitigasi sebaik mungkin.
01:57Sehingga tidak memberikan beban yang berlebihan kepada Presiden maupun Kabinet itu sendiri.
02:02Kemudian untuk konteks hari ini alasannya bisa jadi bukan hanya satu politis saja atau alasan teknokratis saja mas Isan.
02:09Tapi tiga alasan itu saling berkelindan sehingga secara subjektif akhirnya Presiden menggunakan hak prerogatifnya.
02:15Mungkin sebagai pengantar begitu mas Isan.
02:19Tapi ada nama-nama lama juga.
02:21Ada Abdul Karding, ada San Nasbi di sini juga.
02:26Tapi nanti dibahasnya usai jeda Mas Agung, Mas Korol.
02:29Tetaplah bersama kami di Breaking News Kompas TV.
02:32Kita bergeser ke Mas Agung Baskoro, Direktur Eksekutif Trias Politika.
02:36Mas Agung tadi pertanyaannya adalah orang-orang lama masih muncul kembali seperti Abdul Karding,
02:42ada Hasan Nasbi yang kembali masuk ke istana walaupun memang tidak benar-benar pergi tadi.
02:49Anda membacanya seperti apa dinamika di sana?
02:53Ya, sekiranya memang praktis hanya nama Jumhur Hidayat yang baru ditetapkan sebagai anggota Kabinet.
03:00Seandainya memang nanti dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Mas Isan.
03:03Yang jelas dua nama yang tadi sempat mengemuka, bahkan tiga, Kodari, Hasan Nasbi, kemudian Pak Hanif Faisal Nerofik, Pak Dudung,
03:13dan Abdul Kardir Karding,
03:15itu memang nama-nama lama yang masuk dalam posisi yang baru ya.
03:20Ada reposisi di situ.
03:21Ya, kalau misalkan jadi berubah ya dari misalkan Pak Kodari, dari misalkan KSP, misalkan arahannya yang beredar di media hari
03:31ini soal dia menjadi Kepala Bakom misalkan,
03:34ataupun Pak Dudung menjadi KSP ya, menggantikan Pak Kodari semacam itu.
03:39Abdul Kardir Karding, Kepala Karantina ya, kemudian juga Pak Hasan Nasbi, utusan komunikasi untuk Presiden semacam itu.
03:47Jadi, hal-hal semacam itu kan menurut saya cuma sebatas reposisi saja, karena mereka semua sebelumnya juga ada posisi ya.
03:54Walaupun misalkan Hasan Nasbi, komisaris, tapi yang jelas kan masih di dalam pemerintahan.
03:58Pak Dudung juga utusan Presiden ya.
04:00Jadi, semua nama-nama di luar Pak Jumhur itu adalah orang-orang di dalam pemerintahan,
04:05tapi memang posisinya memang bukan posisi yang cukup strategis dalam artian menentukan ya,
04:11arah kemana Kabinet maupun wajah Presiden di mata publik. Seperti itu, Mas.
04:17Ya, kalau ada tadi dikatakan sebat, ada potensi, posisi baru, dan juga perubahan terkait dengan sebelumnya,
04:25bahkan PCO berubah menjadi badan komunikasi.
04:30Ini Anda membacanya, stabilitas di istana ini seperti apa?
04:35Ya, pasang surut soal reshuffle ini kan memang yang mengetahui lebih detail Presiden ya,
04:41karena ini memainkan hak prerogatifnya.
04:43Tapi, di luar itu semua, Presiden ingin memastikan Kabinetnya fit and proper
04:47dengan ya visi, misi, maupun rancangan kerja yang sudah beliau tetapkan
04:51sebelum beliau menjadi Presiden di masa kampanye.
04:55Sehingga orang-orang ini harapannya bisa mengejauh antahkan narasi maupun visi Presiden
05:00secara lebih konkret, lebih praksis, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat secara luas.
05:06Karena kita tahu, beberapa kali memang Kabinet anggota-anggotanya agak-agak merespon situasi dan kondisi
05:15ketika misalkan publik meminta kejelasan ataupun meminta semacam soal transparansi, semacam itu.
05:22Sehingga dengan adanya wajah-wajah baru ini harapannya bisa lebih baik, bisa lebih optimal,
05:27bahkan harapannya bisa membuat situasi dan kondisi ruang publik opini kita semakin lebih optimal,
05:34ya memahami bahkan merespon aspirasi maupun ya tuntutan yang disampaikan oleh publik secara luas seperti itu.
05:42Oke, Mas Agung sepanjang 2025 saja sudah empat kali reshuffle Kabinet terjadi.
05:49Anda pandangnya seperti apa? Kedepan apakah ada kemungkinan reshuffle ini memang bakal sering seperti itu?
05:57Ya, konsekuensi logis dari postur Kabinet yang besar ataupun gemuk memang akhirnya membuat Presiden
06:04kurang optimal ya, Mas, menjalankan kinerja karena kita tahu para menteri ini kan mesti butuh waktu
06:11menyesuaikan ritme yang dijalankan dan diperintahkan oleh Presiden.
06:15Mudah-mudahan mau tak mau ya Presiden juga punya keterbatasan waktu untuk mengontrol itu.
06:19Sehingga ketika misalkan terjadi reshuffle yang ke-5 misal atau yang ke-6 hari ini
06:25itu menandakan memang ada problem soal ya pemahaman para menteri terhadap arahan Presiden.
06:31Kemudian yang kedua juga ada problem soal bagaimana menteri memenuhi QPA ya
06:36supaya memang sesuai dengan targetan Presiden untuk memastikan program-program yang dia ingin sampaikan ke pasyarakat
06:44itu bisa dirasakan langsung efek dan manfaatnya.
06:46Bukan malah sebaliknya, ada semacam disinformasi, ada miskomunikasi dan seterusnya.
06:52Jadi arahan ini memastikan bahwa Presiden memegang kendali penuh terhadap kualitas kinerja Kabinetnya
06:59termasuk para menteri-menterinya supaya apa?
07:01Supaya mereka tidak terlena dengan posisi yang mereka miliki hari ini
07:05karena yang saya dengar juga ini reshuffle-nya bersifat bertahap ya Mas Iksan ya.
07:10Artinya bisa jadi ada reshuffle berikutnya yang itu lebih besar lagi untuk memastikan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh Kabinet
07:19misalkan soal geopolitik, geostrategis bisa terkontrol, soal-soal ekonomi yang hari ini mendapat surutan tajam
07:25karena kita ada penurunan di beberapa hal bisa terjawab ya dengan solusi-solusi praktis
07:30maupun soal-soal program-program populis pemerintah yang hari ini juga banyak diperhatikan oleh publik
07:35soal ya makan bergizi gratis, kualitas programnya, setelah kuantitasnya bagus, kualitas programnya bagaimana?
07:41Semacam itu, ini yang menjapkan sorotan terus
07:43misalkan soal menunya ya, itu bagaimana kualitasnya
07:47soal transparansi anggarannya yang disorot, soal motor-motor trailnya
07:52soal kemudian ya kemarin ada soal keracunannya, soal kemudian soal ya dalam artian penyelenggaraannya
08:02semacam itu, jadi kualitas ini kan penting ya, kuantitas oke
08:06ya tapi kalau kualitasnya problematik dan tidak terselesaikan ini kan jadi beban
08:10padahal ini flagship program utama dari Presiden Prabowo semacam itu
08:14ataupun misalkan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih
08:17jadi saya kira ini mungkin jadi pemantik ya untuk memastikan anggota kabinet
08:23tetap fokus bahkan lebih baik dalam bekerja memastikan kesejahteraan masyarakat
08:27seperti itu
08:28Baik, Mas Agung tetap bersama kami kita akan bahas ini lagi
08:31usai jeda dan saudara tetaplah di Breaking News Kompas TV
08:33usai jeda bersama rekan kami Tili Ria Pela
Komentar