Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden RI Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih pada Senin (27/4/2026).

Ada 6 tokoh yang isunya akan direshuffle kali ini. Dudung Abdurachman, M. Qodari, hingga Hasan Nasbi tampak hadir di Istana Kepresidenan Jakarta di tengah kabar tersebut.

Kita bahas selengkapnya soal reshuffle kabinet bersama Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro.

Baca Juga Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet, Dudung Abdurachman-Hasan Nasbi Merapat ke Istana di https://www.kompas.tv/nasional/665538/presiden-prabowo-reshuffle-kabinet-dudung-abdurachman-hasan-nasbi-merapat-ke-istana

#reshufflekabinet #prabowo #reshuffle

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/665564/analisis-pengamat-agung-baskoro-soal-alasan-prabowo-reshuffle-6-tokoh-kabinet
Transkrip
00:00Nah, ngobrol dulu dengan Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro sudah bersama kami di Breaking News Kompas TV.
00:08Mas Agung.
00:10Ya, selamat siang Mas Isan semuanya.
00:13Baik, ini ada enam tokoh yang akan diprediksi akan jadi materi dari pelantikan hari ini oleh Presiden Prabowo Subianto.
00:24Anak membacanya seperti apa?
00:26Iya, saya kira memang reshuffle selalu saja diawali dengan tiga alasan atau tiga motif Mas Isan.
00:32Pertama, alasan-alasan soal politis, ada perimbangan soal kekuasaan baik dalam konteks koalisi di pemerintahan maupun dalam konteks bagaimana menteri
00:42itu loyal terhadap Presiden maupun konsisten dengan program-program yang diusung oleh Presiden.
00:49Yang kedua, soal-soal suka atau tidak teknokratis, ini terkait kinerja.
00:55Ya, bisa jadi memang alasan ini menjadi alasan utama karena kita tahu ada beberapa hal yang memang perlu dievaluasi ataupun
01:02perlu diperbaiki.
01:03Apakah soal misalkan terkait ya kehutanan kita, lingkungan kita, soal-soal komunikasi Kabinet, soal-soal kemudian terkait bagaimana konsolidasi kinerja
01:18Kabinet supaya lebih terukur dan teratur dalam mencapai target dan arahan yang sudah ditetapkan oleh Presiden.
01:25Nah, yang ketiga alasan-alasan yuridis gitu.
01:28Alasan ini memang seringkali mengemuka ketika memang ada masalah hukum ataupun masalah yang kemungkinan akan menjadi beban bagi seorang menteri
01:38ataupun bagi seorang pembantu Presiden.
01:41Sehingga Presiden mengambil langkah maju untuk ya memastikan menteri ini diganti.
01:46Karena kita tahu postur Kabinet Presiden Prabowo hari ini memang sangat besar.
01:51Sehingga untuk meminimalkan beragam macam ya kemungkinan buruk itu harus dimitigasi sebaik mungkin.
01:57Sehingga tidak memberikan beban yang berlebihan kepada Presiden maupun Kabinet itu sendiri.
02:02Kemudian untuk konteks hari ini alasannya bisa jadi bukan hanya satu politis saja atau alasan teknokratis saja mas Isan.
02:09Tapi tiga alasan itu saling berkelindan sehingga secara subjektif akhirnya Presiden menggunakan hak prerogatifnya.
02:15Mungkin sebagai pengantar begitu mas Isan.
02:19Tapi ada nama-nama lama juga.
02:21Ada Abdul Karding, ada San Nasbi di sini juga.
02:26Tapi nanti dibahasnya usai jeda Mas Agung, Mas Korol.
02:29Tetaplah bersama kami di Breaking News Kompas TV.
02:32Kita bergeser ke Mas Agung Baskoro, Direktur Eksekutif Trias Politika.
02:36Mas Agung tadi pertanyaannya adalah orang-orang lama masih muncul kembali seperti Abdul Karding,
02:42ada Hasan Nasbi yang kembali masuk ke istana walaupun memang tidak benar-benar pergi tadi.
02:49Anda membacanya seperti apa dinamika di sana?
02:53Ya, sekiranya memang praktis hanya nama Jumhur Hidayat yang baru ditetapkan sebagai anggota Kabinet.
03:00Seandainya memang nanti dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Mas Isan.
03:03Yang jelas dua nama yang tadi sempat mengemuka, bahkan tiga, Kodari, Hasan Nasbi, kemudian Pak Hanif Faisal Nerofik, Pak Dudung,
03:13dan Abdul Kardir Karding,
03:15itu memang nama-nama lama yang masuk dalam posisi yang baru ya.
03:20Ada reposisi di situ.
03:21Ya, kalau misalkan jadi berubah ya dari misalkan Pak Kodari, dari misalkan KSP, misalkan arahannya yang beredar di media hari
03:31ini soal dia menjadi Kepala Bakom misalkan,
03:34ataupun Pak Dudung menjadi KSP ya, menggantikan Pak Kodari semacam itu.
03:39Abdul Kardir Karding, Kepala Karantina ya, kemudian juga Pak Hasan Nasbi, utusan komunikasi untuk Presiden semacam itu.
03:47Jadi, hal-hal semacam itu kan menurut saya cuma sebatas reposisi saja, karena mereka semua sebelumnya juga ada posisi ya.
03:54Walaupun misalkan Hasan Nasbi, komisaris, tapi yang jelas kan masih di dalam pemerintahan.
03:58Pak Dudung juga utusan Presiden ya.
04:00Jadi, semua nama-nama di luar Pak Jumhur itu adalah orang-orang di dalam pemerintahan,
04:05tapi memang posisinya memang bukan posisi yang cukup strategis dalam artian menentukan ya,
04:11arah kemana Kabinet maupun wajah Presiden di mata publik. Seperti itu, Mas.
04:17Ya, kalau ada tadi dikatakan sebat, ada potensi, posisi baru, dan juga perubahan terkait dengan sebelumnya,
04:25bahkan PCO berubah menjadi badan komunikasi.
04:30Ini Anda membacanya, stabilitas di istana ini seperti apa?
04:35Ya, pasang surut soal reshuffle ini kan memang yang mengetahui lebih detail Presiden ya,
04:41karena ini memainkan hak prerogatifnya.
04:43Tapi, di luar itu semua, Presiden ingin memastikan Kabinetnya fit and proper
04:47dengan ya visi, misi, maupun rancangan kerja yang sudah beliau tetapkan
04:51sebelum beliau menjadi Presiden di masa kampanye.
04:55Sehingga orang-orang ini harapannya bisa mengejauh antahkan narasi maupun visi Presiden
05:00secara lebih konkret, lebih praksis, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat secara luas.
05:06Karena kita tahu, beberapa kali memang Kabinet anggota-anggotanya agak-agak merespon situasi dan kondisi
05:15ketika misalkan publik meminta kejelasan ataupun meminta semacam soal transparansi, semacam itu.
05:22Sehingga dengan adanya wajah-wajah baru ini harapannya bisa lebih baik, bisa lebih optimal,
05:27bahkan harapannya bisa membuat situasi dan kondisi ruang publik opini kita semakin lebih optimal,
05:34ya memahami bahkan merespon aspirasi maupun ya tuntutan yang disampaikan oleh publik secara luas seperti itu.
05:42Oke, Mas Agung sepanjang 2025 saja sudah empat kali reshuffle Kabinet terjadi.
05:49Anda pandangnya seperti apa? Kedepan apakah ada kemungkinan reshuffle ini memang bakal sering seperti itu?
05:57Ya, konsekuensi logis dari postur Kabinet yang besar ataupun gemuk memang akhirnya membuat Presiden
06:04kurang optimal ya, Mas, menjalankan kinerja karena kita tahu para menteri ini kan mesti butuh waktu
06:11menyesuaikan ritme yang dijalankan dan diperintahkan oleh Presiden.
06:15Mudah-mudahan mau tak mau ya Presiden juga punya keterbatasan waktu untuk mengontrol itu.
06:19Sehingga ketika misalkan terjadi reshuffle yang ke-5 misal atau yang ke-6 hari ini
06:25itu menandakan memang ada problem soal ya pemahaman para menteri terhadap arahan Presiden.
06:31Kemudian yang kedua juga ada problem soal bagaimana menteri memenuhi QPA ya
06:36supaya memang sesuai dengan targetan Presiden untuk memastikan program-program yang dia ingin sampaikan ke pasyarakat
06:44itu bisa dirasakan langsung efek dan manfaatnya.
06:46Bukan malah sebaliknya, ada semacam disinformasi, ada miskomunikasi dan seterusnya.
06:52Jadi arahan ini memastikan bahwa Presiden memegang kendali penuh terhadap kualitas kinerja Kabinetnya
06:59termasuk para menteri-menterinya supaya apa?
07:01Supaya mereka tidak terlena dengan posisi yang mereka miliki hari ini
07:05karena yang saya dengar juga ini reshuffle-nya bersifat bertahap ya Mas Iksan ya.
07:10Artinya bisa jadi ada reshuffle berikutnya yang itu lebih besar lagi untuk memastikan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh Kabinet
07:19misalkan soal geopolitik, geostrategis bisa terkontrol, soal-soal ekonomi yang hari ini mendapat surutan tajam
07:25karena kita ada penurunan di beberapa hal bisa terjawab ya dengan solusi-solusi praktis
07:30maupun soal-soal program-program populis pemerintah yang hari ini juga banyak diperhatikan oleh publik
07:35soal ya makan bergizi gratis, kualitas programnya, setelah kuantitasnya bagus, kualitas programnya bagaimana?
07:41Semacam itu, ini yang menjapkan sorotan terus
07:43misalkan soal menunya ya, itu bagaimana kualitasnya
07:47soal transparansi anggarannya yang disorot, soal motor-motor trailnya
07:52soal kemudian ya kemarin ada soal keracunannya, soal kemudian soal ya dalam artian penyelenggaraannya
08:02semacam itu, jadi kualitas ini kan penting ya, kuantitas oke
08:06ya tapi kalau kualitasnya problematik dan tidak terselesaikan ini kan jadi beban
08:10padahal ini flagship program utama dari Presiden Prabowo semacam itu
08:14ataupun misalkan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih
08:17jadi saya kira ini mungkin jadi pemantik ya untuk memastikan anggota kabinet
08:23tetap fokus bahkan lebih baik dalam bekerja memastikan kesejahteraan masyarakat
08:27seperti itu
08:28Baik, Mas Agung tetap bersama kami kita akan bahas ini lagi
08:31usai jeda dan saudara tetaplah di Breaking News Kompas TV
08:33usai jeda bersama rekan kami Tili Ria Pela
Komentar

Dianjurkan