Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 jam yang lalu
PANDEGLANG, KOMPAS.TV - Seorang ibu rumah tangga di Cibitung, Pandeglang, Banten, seorang diri membesarkan dua anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.

Selama 10 tahun, mereka bertahan di rumah yang nyaris roboh tanpa listrik dan fasilitas layak.

Sebuah gubuk di tengah perkebunan di Kampung Balengbeng, Cibitung, Pandeglang, Banten, menjadi tempat Aam merajut hari bersama dua buah hatinya.

Kondisi ekonomi yang terbatas membuat Aam dan kedua anaknya bernaung di bangunan yang jauh dari kata layak.

Dinding bambu yang rapuh nyaris ambruk dimakan usia. Bahkan saat hujan, air kerap masuk ke dalam rumah.

Saat malam, Aam dan anaknya mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan karena tak ada aliran listrik.

Kehidupan serba terbatas ini dijalani Aam selama 10 tahun. Ia tak punya pilihan lain karena penghasilannya tak menentu sebagai pekerja serabutan.

Untuk makan sehari-hari, terkadang ia mengandalkan bantuan warga.

Aam hanya berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan untuk membantu memperbaiki rumahnya, agar keluarganya bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan aman.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga Penyanyi Rizki Ridho Tunaikan Haji Bersama Ibu, Gantikan Ayah yang Telah Wafat di https://www.kompas.tv/nasional/665093/penyanyi-rizki-ridho-tunaikan-haji-bersama-ibu-gantikan-ayah-yang-telah-wafat

#miskin #gubuk #ekonomi #pandeglang #keluargamiskin

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/665095/10-tahun-tinggal-di-rumah-gubuk-tanpa-listrik-ibu-di-pandeglang-berjuang-hidupi-dua-anak
Transkrip
00:00Informasi lain seorang ibu rumah tangga di Cibitung, Pandeglang, Banten
00:03seorang diri membesarkan dua anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.
00:07Selama 10 tahun mereka bertahan di rumah yang nyaris roboh
00:10tanpa listrik dan fasilitas yang layak.
00:16Sebuah gubuk di tengah perkebunan di kampung Balengbeng, Cibitung, Pandeglang, Banten
00:20jadi tempat AAM meracut hari bersama dua buah hatinya.
00:26Kondisi ekonomi yang serba terbatas.
00:29Membuat AAM dan dua anaknya bernaung di bangunan yang jauh dari kata layak.
00:36Dinding bambu yang rapuh nyaris amruk dimakan usia.
00:40Bahkan saat hujan, air kerap masuk ke dalam rumah.
00:44Saat malam, AAM dan anaknya mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan
00:49karena tak ada aliran listrik.
00:52Hidupan serba terbatas ini dijalani AAM selama 10 tahun.
00:56Ia tak punya pilihan lain karena penghasilannya tak menentu sebagai pekerja serabutan.
01:02Untuk makan sehari-hari, terkadang ia mengandalkan bantuan warga.
01:07Kalau kamar mandi tetap, misalkannya ada sumur atau jerbang tuh disini belum ada, nggak ada.
01:13Kalau mau mandi gitu, tetap kita ke selokan aja.
01:17Kalau tidak, kalau musim banjir, ngambil air aja ke sini.
01:20Jadi banjirnya di tempat ini aja.
01:22Satu bulan 500 juga susah, sulit sekarang.
01:25Jadi keuangan itu turun, Pak.
01:29Oh, keuangan sekarang ibu turun ya?
01:30Turun, ya.
01:31AAM hanya berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan
01:36untuk membantu memperbaiki rumahnya
01:38agar keluarganya bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan aman.
01:43Yuda Dwi Taruna, Kompas TV, Pandeklang, Banten.
Komentar

Dianjurkan