Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Purbaya mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

"Tapi untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan apa dipicu oleh pemburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat," ujar Purbaya, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga Rupiah Masih di Rp17.278 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Bukan Akibat Ekonomi Terpuruk di https://www.kompas.tv/nasional/665063/rupiah-masih-di-rp17-278-per-dolar-as-menkeu-purbaya-bukan-akibat-ekonomi-terpuruk

#purbayayudhisadewa #menterikeuangan #rupiah

Video Editor: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/665066/menkeu-purbaya-respons-rupiah-melemah-sempat-sentuh-rp17-300-per-dolar-as
Transkrip
00:00Saya bilang lebih lemah lagi, tapi saya bilang sih, kalau fundamentannya kuat seperti ini, untuk membaliknya tidak terlalu rumit.
00:11Tapi untuk saya sih, ini bukan tanda pemburukan, apa dipiculet, pemburuknya ekonomi domestik dibanding negara lain kita masih kuat.
00:23Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, lain-lain masih kuat.
00:26Cuma gerakan nilai tukarnya beda kan, Anda lihat Malaysia menguat, Thailand menguat harap dolar, relatif dari awal tahun sampai sekarang.
00:33Tapi kan akan begini-begini.
00:35Coba Anda tanya ke Bank Sentral, kenapa seperti itu.
00:40Mungkin saya bukan ahlinya di sini, tapi yang jelas adalah, fondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan akan semakin cepat.
00:49Karena kita akan semakin serius, perbaikin kendala-kendala di perekonomian.
01:09Terus, ini kan juga terjadikan noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterperukan dalam beberapa bulan ke depan.
01:18Mereka bilang kan 3 bulan waktu itu kan, berarti 2 bulan lagi, Juni, Juli.
01:22Tapi keadaannya tidak seperti itu.
01:24Noise dari pemerintah sudah kita rapikan nih, pajak sudah tidak ada lagi.
01:29Pajak orang kaya, pajak PPN untuk jalan tol, dan lain-lain itu tidak ada.
01:37Kalau mereka melihat rinsera, kalau saya bilang tidak ada.
01:41Kenapa? Lebih baik saya rapikan yang ada sekarang, dan kurangi kebocorannya semaksimal mungkin.
01:49Masih cukup besar bocornya, dan masih ada yang main-main.
01:53Saya sekarang lihat perilaku pegai-pegai pajak kita, salah kelihatan agak aneh, dari angka-angka ya.
02:05Rupiah itu dipengaruhi kondisi global dan ekspektasi.
02:09Noise yang disebutin di dalam negeri itu yang membentuk ekspektasi.
02:15Jadi kita mesti mengendalikan ekspektasinya sebetulnya, cuman itu bukan daerah saya, jadi saya tidak bisa masuk sekarang.
02:24Cuman ketika di luar negeri juga ada yang nanya, saya iseng.
02:29Kamu rupiahnya di lemahin sengaja ya?
02:36Dalam ilmu moneter, ilmu exchange rate, dunia exchange rate, itu ada yang disebut beggar tie neighbor policy untuk nilai tukar.
02:50Jadi satu negara sengaja memperlemah nilai tukarnya, supaya negara partner dagangnya susah berkompetisi dengan kita.
02:59Kalau Anda baca kan, Malaysia komplain kan, Singapura juga, Malaysia yang komplain.
03:03Kita sengaja, saya bisa baca di mana lah di TikTok.
03:06Kita sengaja memperlemah nilai tukar.
03:09Akibatnya barang-barang mereka kalah bersaing.
03:13Saya bilang nggak begitu, ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada, tapi dalam jangka pendek kan ada negatif sentimen
03:21ketika itu.
03:24Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju berapa.
03:32Level yang lebih lemah lagi.
03:33Tapi saya bilang sih, kalau penamentannya kuat seperti ini, untuk membaliknya tidak terlalu rumit.
03:42Nanti saya diadun agama B ini.
03:58Selamat menikmati.
04:12Melihat fakta secara utuh, menelusuri yang tak terlihat.
04:16Satu langkah lebih dekat, satu langkah lebih mendalam.
04:19Saksikan di Poinvestigasi di Kompas TV, channel 11, di televisi anda.
04:32Saksikan di Poinvestigasi di Kompas TV, channel 11, di televisi anda.
Komentar

Dianjurkan