Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat membandingkan Selat Hormuz dan Selat Malaka saat berbicara di acara Simposium PT SMI pada Rabu (22/4/2026).

"Arahan Presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran. Kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia. Tapi kapal lewat Selat Malaka tidak kita charge, ya," ujar Menkeu Purbaya.

"Tidak tahu betul apa salahnya. Sekarang Iran mau charge kapal lewat Hormuz. Kalau kita bagi tigaIndonesia, Malaysia, Singapuralumayan, kan. Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang," lanjutnya.

Baca Juga Menkeu Purbaya: Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh Rampung, Tinggal Diumumkan di https://www.kompas.tv/ekonomi/664533/menkeu-purbaya-restrukturisasi-utang-kereta-cepat-whoosh-rampung-tinggal-diumumkan

#purbaya #menkeu #hormuz #iran #malaka


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/664553/menkeu-purbaya-bandingkan-selat-hormuz-malaka-ungkit-arahan-presiden-prabowo

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Jadi ke depan harusnya kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen.
00:06Jadi saya gak suka kisaran 5 persen.
00:09Karena kata orang-orang, itulah ada ekonomi.
00:13Mungkin teman-teman yang padahal.
00:16Indonesia itu kalau pemimpinnya pintar bisa 6 persen.
00:19Kalau gak ngapa-ngapain tumbuhnya 5 persen aja.
00:23Jadi kalau 5 persen kelihatannya kita gak ngapa-ngapain.
00:26Jadi kita akan mengecepatkan tumbuhan yang lebih cepat.
00:32Inflasi masih terkendali.
00:34Devisi APBN dijaga dikuat 3 persen dari PDB.
00:38Artinya penda mental ekonomi kita masih kuat.
00:41Kita ngiritlah dengan 3 persen tumbuhnya bisa ke 5 persen.
00:45Dengan DPC 3 persen masih bisa tumbuh di atas 5 persen.
00:48Menuju 5,5 ke 6 persen.
00:51Dan seperti arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran.
00:56Kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia.
01:00Tapi kapal lewat Selat Malaka gak kita charge.
01:04Nah tuh, itu apa salah?
01:06Sekarang Iran mengecharge kapal lewat Selat Hormuz.
01:10Kalau kita bagi 3, Indonesia, Malaysia, Singapur, lumayan kan?
01:15Punya kita jalurnya paling panjang.
01:17Singapur kecil, Malaysia, kita bagi 2 lah.
01:20Kalau bisa seperti itu.
01:22Tapi kan gak begitu.
01:27Jadi, dengan segala kekayaan kita,
01:31kita tidak boleh berpikir defensif.
01:33Kita harus main ofensif.
01:36Tapi tetap terukur.
01:38Jadi kita akan terhantem lebih cepat
01:40dengan tetap menjaga
01:44kredibilitas fiskal kita.
01:51Anda pasti bertanya.
01:53Kalau fiskalnya ngirit,
01:55karena bisa tumbuh lebih cepat.
01:57Karena kita akan pastikan real sektor tumbuh.
02:00Bagaimana caranya?
02:01Kita pastikan
02:02ada cukup likuiditas di sistem perekonomian kita.
02:09Sebenarnya ini tugas Bank Sentral,
02:10tugasnya BI Pak,
02:11Pak Damin.
02:13Ya, kita nyalain oh sedikit lah.
02:15Yang penting ekonominya tumbuh lebih cepat ke depan.
02:21Masalah kita bukan tidak tahu arah,
02:25tapi salah satu masalah yang kita hadapi adalah
02:28logistic cost.
02:29yang saat ini masih sekitar
02:31belasan persen dari PDB
02:33sudah turun sedikit,
02:35tapi masih lebih tinggi dari negara maju.
02:39Artinya,
02:40barang kita mahal,
02:41daya saing jadi turun.
02:44Kalau mungkin 10-15 tahun yang lalu
02:46kita saling ngomong tuh,
02:47akan merupakan biaya logistik.
02:49Tapi 10 tahun terakhir,
02:5010 tahun terakhir,
02:52kita tidak pernah bicara lagi itu.
02:54Saya pikir,
02:55sudah bagus.
02:56Rupanya belum.
02:57Rupanya ya,
02:58kita malas mikir itu aja,
02:59kita cari topik yang lain lebih seru.
03:01Tapi itu enggak akan kita lupakan.
03:03Kita akan perbaiki lagi.
03:05Utamanya kan logistik cost juga
03:06di pelabuhan-pelabuhan ya.
03:08Itu di bawah Kementerian Keuangan,
03:11Pak Ryo ya.
03:14Kita akan perbaiki.
03:21Kita sering dengar di luar,
03:23di TikTok lah,
03:24saya suka lihat TikTok tuh,
03:26bahwa ekonomi kita lagi merat-marit katanya,
03:29APBN-nya ambur aduh,
03:32hutangnya besar sekali.
03:34Tapi kalau kita lihat dari standar internasional,
03:37yang kita ambil,
03:38walaupun yang diambil pada Amin waktu itu kali ya,
03:40yang paling strik,
03:41diambilkan maastricht rule ya,
03:43maastricht treaty.
03:44Bahwa rasio utang KPD di bawah 3%
03:47dan hutangnya di bawah 60%.
03:52Depisi KPDB kita bisa kita pertahankan di bawah 3%
03:56dan hutang kita masih di 40%
03:59dan mudah-mudahan akan,
04:01bukan mudah-mudahan,
04:02akan kita tekan terus ke depan
04:03dengan cara memperbaiki
04:06tax collection kita.
04:07Jadi saya sudah organize pajak NB Cukai
04:13supaya lebih rapi lagi ketika mengembangkan pajak
04:17dan saya usahakan
04:20semaksimal mungkin
04:22mereka bermain di jalur yang benar.
04:26Sudah ada perbaikan,
04:29tax collection kita dibandingnya 2 bulan,
04:322 bulan pertama tahunnya dibanding 2 bulan pertama tahun lalu,
04:35tumbuhnya 30%.
04:37Maret agak turun sedikit 20%
04:40karena ngebaran dan kamadan kan panjang.
04:43Tapi itu indikasi awal bahwa
04:46kita bisa perbaiki.
04:48Saya akan pertahankan sampai akhir tahun
04:50untuk pertumbuhan kita tetap 30%.
04:56Jadi
05:02orang bilang kita gak punya fiscal space lagi.
05:06kalau saya bilang,
05:07saya masih punya fiscal space.
05:11Buktinya apa?
05:13BBM naik,
05:14saya gak berubah apa-apa kan?
05:16BBM bersubsidi,
05:17harga minyak dunia naik,
05:20BBM bersubsidi,
05:21tetap kita jamin,
05:22kita subsidi sampai akhir tahun.
05:24Mungkin sampai tahun-tahun berikutnya.
05:26Tapi karena anggaran saya setahun,
05:28ya saya bilang setahun.
05:31apakah pertumbuhan akan melambat?
05:33Tidak saya realokasi dana dari empat tempat yang biasanya,
05:38ya senang-senang lah,
05:40yang dampak kepertumbuhan ekonomi terbatas.
Komentar

Dianjurkan