Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Nori Chandrawati, anak keempat Try Sutrisno, mengungkap bahwa sejak awal keluarganya tidak terbiasa menggunakan pengawalan, bahkan ketika ditawarkan secara resmi.

"Anak saya tujuh, mati satu saya masih punya enam, itu kata Bapak," kata Nori menirukan sang ayah.

Saat Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden, tawaran pengawalan kembali datang.

Namun Nori menolak. Bahkan ketika akhirnya harus menerima, Nori membatasi secara tegas hanya mau dikawal oleh satu pengawal.

Dalam aktivitas sehari-hari, ia juga menolak perlakuan istimewa.

"Kalau gitu saya ikut ke tempat supir aja dulu, bareng parkir dulu, baru turunnya bareng-bareng," katanya.



Ia menegaskan sikap tersebut hasil didikan langsung dari sang ayah.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Fv7A7e4pCBg




#trysutrisno #wapres #panglimatni



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/662312/anak-try-sutrisno-enggan-dikawal-berlebihan-ungkap-kelakar-ayahnya-rosi
Transkrip
00:00Kebetulan Mas Cepil masih di luar, saya yang di Jakarta.
00:05Pas waktu itu Bapak presen, terus dari pas Pampres itu grup B datang.
00:13Sebelum itu itu dulu, waktu Panglima TNI, Panglima TNI dulu kan, datang saat Danden Mah.
00:21Bilang Pak, mohon izin ini putra-putra dikawal, mau bagaimana?
00:26Bapak bingung, dikawal buat apa?
00:28Nah, izin karena sebelumnya Pak Benny, kan?
00:32Oh, kalau Pak Benny karena putra hanya satu, wajar.
00:36Mbak Ria, Pak Benny Murdani, anaknya Mbak Ria.
00:39Mati satu, saya pasti punya enam, itu kata Bapak.
00:46Kocak, serius Bapak bisa selucu itu?
00:48Waktu pas ini, bapak itu bercanda.
00:50Bercanda, beneran banget.
00:52Nah, waktu pas RI2, karena kebetulan saya yang di Jakarta,
00:56terus datang ini, apa, dari grup B-nya menyampaikan,
01:01Mbak izin dikawal.
01:03Hah?
01:04Emang harus?
01:05Saya bilang gitu kan.
01:06Oh, saya nggak usah om.
01:08Saya nggak ini kok biasa sendiri, saya bilang.
01:11Ya, ini sudah ininya Mbak.
01:12Oh ya, kalau gitu ke Bapak dulu.
01:14Terus, udah dibujuk sebenarnya.
01:16Akhirnya dia bilang, kalau bilang Bapak, nggak dikasih Mbak.
01:19Karena kami sudah menghadap Bapak.
01:22Lalu, Bapak bilang apa?
01:23Eh, Nora punya, itu, apa, Ria Miza itu punya pasukan,
01:28Sa Batalion.
01:29Firman punya pasukan.
01:31Kunto punya pasukan.
01:33Itu kan, semua.
01:34Jadi, intinya itu nggak perlu.
01:35Ini yang ini kan dekat saya.
01:36Maksudnya, kebetulan rumah saya dekat, kan?
01:38Nggak usah, nggak perlu.
01:39Sampai akhirnya, dari daripada pas Pampresip,
01:41Itu, aku pas kuliah.
01:43Saya bilang, oke, ini karena lagi nggak ada di luar, kan?
01:45Nggak, aku masih kuliah, waktu pas Pampresip.
01:48Akhirnya, kita berjanjian hanya boleh satu.
01:50Maksudnya, saya hanya mau satu.
01:53Nggak usah, karena disiapinya banyak.
01:54Ini kan, ada yang langsung 6 ngantus.
01:56Terus, saya jadi kayak ibu pejabat.
01:58Kalau di depan, iya, nanti kalau Mbak nanti ke Tanah Abang,
02:01jadi turun, nanti di lobby,
02:03yang satu supir biar ngantus.
02:05Nggak, kalau gitu, saya ikut ke tempat supir aja dulu,
02:08bareng, parkir dulu, baru turunnya bareng-bareng.
02:09Jadi, saya nggak usah banyak banyak.
02:12Itu karena Papa wanti-wanti.
02:14Itu karena Papa, bukan kamu.
02:16Papa udah mau begitu,
02:17cuman kalau ke saya jahil.
02:19Kan, dibilangin, menurut Protap, katanya harus 6.
02:22Jadi, 2 di mobil kita, 4 di mobil belakang.
02:25Nah, pas saya, pas Papa menaik itu,
02:27pas saya masuk UI, gitu.
02:29Aduh, gitu, mau jadi mahasiswa,
02:31harus dikawal, gitu kan.
02:32Aduh, males banget, gitu.
02:33Mbak Nori udah nikah, gitu kan.
02:35Dia udah dibilangin dari awal.
02:37Kata Bapak, nggak boleh.
02:38Saya nggak dibilangin gitu sama Bapak.
02:40Saya nggak mau, gitu.
02:41Saya mau naik kereta ke Depok.
02:44Terus, kata Bapak.
02:45Kalau Bapak, tuh, kata saya gini.
02:46Yaudah, presentasi aja, gitu.
02:47Ke depan, ada ajudannya Papa.
02:51Dan grup B.
02:53Terus ke, apa?
02:55Aspirnya Pak, Om Joko, ya.
02:57Ada Om Joko, gitu.
02:58Terus, dan pas Pampres,
03:01saya disuruh presentasi,
03:02kenapa saya tidak mau dikawal.
03:03Enam orang.
03:04Karena waktu itu ada,
03:05sampai kecetus dari saya,
03:06saya bilang gini,
03:07Om, kalau,
03:07kan kita terus manggilnya Om, gitu ya.
03:09Om, kalau Bapak udah selesai dari Wapres,
03:12Bapak udah selesai nih karir,
03:13Bapak udah puncaknya.
03:14Saya baru mulai hidup saya, gitu.
03:16Jadi saya mau,
03:17orang tuh ngeliat saya,
03:18sayanya dulu, gitu.
03:19Give me a chance for people to get to know me,
03:21saya bilang gitu.
03:22Eran, oh iya mbak,
03:23udah negosiasi,
03:24akhirnya, yaudah, katanya.
03:26Dua orang gantian, gitu.
03:28Akhirnya yang merangkap supir.
03:29Karena kita udah biasa juga,
03:31waktu jaman Papa Panggap itu,
03:33memang ada satu supir yang ngikut kita juga,
03:35sekaligus ngawal.
03:36Tapi Mbak Lia,
03:38karena ini cuma satu,
03:39Mbak Lia latihan nembak.
03:40Nah, kalau itu saya mau.
03:42Latihan nembak, itu saya mau.
03:44Tapi tiga kali seminggu, mbak,
03:45di Tanah Abang 2.
03:46Ya, itu kalau itu saya mau.
03:48Jadi saya mainnya sampai yang awal.
03:50Karena Papa, bukan karena kamu.
03:52Benar.
Komentar

Dianjurkan