Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anak ketujuh Try Sutrisno yakni Natalia Indrasari mengaku pernah iseng mencoba menguji seberapa kuat pengaruh nama besar keluarganya dalam kehidupan nyata.

Ia menceritakan pengalamannya saat mencoba melakukan reservasi di sebuah restoran di Jakarta.

"Saya telpon minta reservasi atas nama Natalia, tujuh orang gitu. Nggak ada, nggak bisa," katanya.

Ia kemudian menelpon lagi dan berpura-pura menjadi sekretaris dari Lia Try Sutrisno. Hasil berbeda didapat saat nama keluarga disebut.

Meski demikian, ada kesadaran bahwa nama besar bukan untuk sekadar dimanfaatkan demi kepentingan pribadi, seperti yang diajarkan ayahnya.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Fv7A7e4pCBg


#trysutrisno #wapres #panglimatni

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/662310/cerita-anak-try-sutrisno-soal-privilege-begitu-sebut-nama-langsung-dapat-rosi
Transkrip
00:00Kalau kilas kembali ke kilas balik gitu, Mbak Nori gitu, Mbak Nori nggak pengen yang merasa Nori Trisutrisno?
00:10Tadi Mama nggak menyampaikan.
00:13Satu yang sampai hari ini saya syukuri, saya dilahirkan dari ibu dan bapak.
00:19Tapi dari kecil sudah dibilang, diingatkan selalu, mungkin tadi kalau disampaikan saudara-saudara,
00:26ya kita begini, ya memang begini, nggak perlu kayaknya kalau sekarang, malu Mbak malah.
00:33Malu kalau pakai Trisutrisno terus kita berbuat salah.
00:37Jadi bukan berarti maunya mau seenaknya dengan nggak pakai nama papa, bukan.
00:41Tapi justru itu papa selalu ngingetin.
00:44Kamu hidup itu gampang kok, simple.
00:47Kalau kamu nggak mau terlibat dengan masalah hukum, ya jangan melanggar.
00:53Kalau kamu nggak mau dimusin orang, ya jangan nyakitin orang.
00:56Jangan ngambil hak orang.
00:57Jadi kalau kamu sudah itu kamu lakukan, kamu jalankan, apa yang mesti kamu takut di dalam hidup?
01:04Jadi buat saya memakai nama Trisutrisno itu justru sesuatu yang beban moralnya luar biasa besar.
01:11Kalau saya bersikis.
01:12Harus pertanggung jawabkan.
01:14Padahal papa bilang boleh, Mbak.
01:16Harus pertanggung jawabkan.
01:18Harus pertanggung jawabkan.
01:19Padahal papa bilang boleh.
01:21Artinya itu hak kamu loh, kamu boleh pakai.
01:23Jadi kita tidak dilarang.
01:26Cuma kita nyakitin sendiri.
01:27Jadi tanpa embel-embel di belakang aja.
01:29Kan tadi sudah sampaikan, Mbak.
01:31Benar aja, jelas aja.
01:33Salah kok begitu gitu.
01:35Itu udah tanpa nama belakang tuh.
01:37Apalagi kalau kita taruh di belakang.
01:38Terus aku suka nyoba-nyoba sih, Mbak.
01:40Aku suka jahil ya.
01:42Sebagai perempuan gitu.
01:44Kan kalau di Indonesia itu, as a culture, perempuan Indonesia itu kan part of something.
01:51Dulu waktu saya kecil saya ngerasa, ini kok saya diajarin itu kayak contradictory gitu.
01:58Di rumah kita diajarin untuk berdikari, berdiri di kaki sendiri.
02:01Kamu punya identitas sendiri, kamu tuh siapa.
02:03Makanya kita bertuju tuh identitasnya memang beda-beda, karir beda-beda, semua minatnya beda-beda.
02:07Dan papa mama approach-nya juga ke kita beda-beda.
02:10Jadi emang very individually appreciated gitu ibaratnya gitu.
02:16Tapi sementara di lingkungan masyarakat, saya gitu dan kakak-kakak yang cewek,
02:22ini kita kalau bergaul sih petiga gitu.
02:23Kita tuh selalu yang dilihat duluan tuh anaknya siapa.
02:27Nanti yang istrinya siapa.
02:31Adiknya siapa.
02:32Kakak saya tuh gaul semua, Mbak.
02:33Jadi kalau saya keluar tuh, oh ketemu baru-baru sih lah.
02:37Ah, adiknya Firman gitu.
02:38Gitu kan, gitu kan gitu.
02:40Yo adiknya Cepi, adiknya ini gitu.
02:42Kapan sih gitu saya dilihat sama, sebagai saya sendiri gitu.
02:45Ada cowok naksir gitu.
02:47Wah ininya dulu, ininya dulu, ininya dulu gitu.
02:49Tapi belakangan ya, setelah saya gede, saya jadi tahu gitu bahwa orang tua saya itu nyiapin kita untuk jadi individu.
02:57Itu untuk supaya kita siap jadi bagian si masyarakat ini.
03:02Karena kalau kita ga siap sebagai individu, kita ga bisa jadi bagian masyarakat yang bisa kontribusi aktif.
03:09You cannot give what you don't have.
03:11Jadi kalau kita ga punya jati diri, kita tuh jadinya ngikut terus gitu.
03:16Bener kan gitu.
03:17Karena kan apa-apa nilainya adalah kamu harus kontribusi.
03:19Ya kalau kita jadi pengikut, you're along for the right aja gitu.
03:24Karena kenapa aku nanya ini?
03:26Karena kan pasti Mbak Cepi, Mbak Nori, Lia, kan masa tumbuhnya remaja, SMA, kuliah, itu kan Bapak bener-bener lagi
03:37in power kan.
03:40Itu kan kalau mau belagu kan enak banget ya.
03:43Ya itu yang tadi saya bilang, saya kadang-kadang nyoba, saya pengen tahu gitu ya.
03:47Sepowerful apa sih nama Trisno-Trisno gitu ya.
03:49Saya pernah nih ada trendy like restaurant whatever gitu.
03:52Di Jakarta gitu kan, saya nelpon minta reservasi atas nama Natalia tujuh orang gitu.
03:59Gak ada, gak bisa.
04:00Saya telpon berapa menit kemudian, saya telpon lagi dengan suara agak lebih softan gitu kan.
04:04Di Bibo Bawau, Bibo Bawau kan.
04:06Terus saya minta tolong, ECE-ECE-nya saya sekretarisnya.
04:11Ibu Lia Trisno-Trisno langsung dapet berapa orang, Bu.
04:14Ternyata emang laku gitu.
04:16Jadi saya suka bercanda gitu.
04:20Jadi Lia Trisno-Trisno itu kayak nama panggung gitu.
04:23Kalau saya bilang nama Natalia Dresari gak ada yang tahu gitu.
04:26Lia Trisno-Trisno tahu gitu.
04:27Nah makanya kenapa gak digunain aja?
04:29Gak usah, ngapain juga.
04:30Ada cerita, tadi mau kita cerita.
04:32Jadi moral ceritanya lu dalam sekali ya.
04:34Jadi boleh pakai Trisno-Trisno.
04:37Tapi yang paling penting dari menjadi anak Trisno-Trisno itu adalah bagaimana melakoni hidup.
04:44Itu sebenarnya pesan moralnya ya, Bu.
04:46Jadi jangan sekedar disandangkan di nama, tapi kemudian you're a loser.
04:52Cuman bisanya kronisnya.
04:55Ternyata.
04:56Ternyata.
04:57Ternyata.
04:58Ternyata.
Komentar

Dianjurkan