Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
Kasus yang menimpa Amsal, seorang videografer asal Sumatera Utara, benar-benar bikin geleng kepala.

Bagaimana mungkin seseorang bisa dituduh korupsi hanya karena bekerja secara profesional dan menghasilkan karya berkualitas?

Di masa pandemi COVID-19, Amsal membuat video profil desa untuk sekitar 20 desa di Kabupaten Karo. Semua proyek berjalan lancar, klien puas, dan laporan pertanggungjawaban selesai tanpa masalah.

Namun bertahun-tahun kemudian, ia justru ditangkap dan dituduh melakukan mark-up anggaran.

Yang lebih mengejutkan:

Biaya editing dianggap nol rupiah
Biaya audio dan alat produksi dihapus
Bahkan ide & konsep dianggap tidak punya nilai

Dari sinilah muncul tuduhan kerugian negara ratusan juta rupiah.

Apakah ini benar penegakan hukum… atau justru kriminalisasi pekerja kreatif?

Jika kasus seperti ini dibiarkan, bukan tidak mungkin ribuan freelancer dan pelaku ekonomi kreatif akan takut bekerja dengan pemerintah.

Tonton video ini sampai habis, karena ini bukan cuma soal satu orang… tapi masa depan industri kreatif di Indonesia.

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Halo semuanya, hari ini kita mau ngebahas sebuah kasus hukum yang jujur aja ya,
00:04aneh banget dan bisa jadi ancaman serius buat ribuan pekerja kreatif di Indonesia.
00:09Jadi pastikan kalian subscribe dan bantu sebarin analisis ini ya,
00:12karena ini bener-bener penting.
00:14Oke, kita mulai dari pertanyaan ini.
00:16Ini pertanyaan dari Amsal sendiri, si videografer yang jadi terdakwa.
00:19Pertanyaannya kedengeran sedarana ya,
00:21gimana caranya penyedia jasa nge-mark up anggaran?
00:24Tapi justru, ini adalah inti dari semua kejenggalan yang bakal kita bongkar.
00:28Coba deh kalian bayangin, seorang pekerja kreatif, videografer,
00:33terancam masuk penjara 2 tahun.
00:35Tuduhannya korupsi, padahal proyeknya udah selesai dan kliennya pun puas.
00:40Ini bener-bener kasus yang gak masuk akal dan bisa dibilang memalukan.
00:44Oke, pertama-tama kita kenalan dulu deh sama Amsal, terdakwanya.
00:48Dan kita lihat proyek apa sih yang sampai bikin dia duduk di kursi pesakitan.
00:53Jadi, Amsal ini bukan orang baru di bidangnya.
00:56Dia videografer profesional yang punya inisiatif bagus,
01:00nawarin jasa bikin video profil buat desa-desa.
01:02Proyeknya lancar jaya, 20 video sukses dibuat,
01:06dan yang paling penting, kliennya, yaitu pihak desa, itu seneng banget sama hasilnya.
01:11Harusnya kan happy ending ya?
01:13Nah, disinilah ceritanya jadi aneh banget.
01:16Beberapa tahun setelah proyek itu kelar tanpa ada masalah apapun,
01:20Amsal tiba-tiba ditangkap.
01:22Tuduhannya, korupsi karena dianggap melakukan markup anggaran.
01:26Proyek yang tadinya sukses, tiba-tiba jadi kasus pidana.
01:30Gimana ceritanya?
01:31Sekarang, kita masuk ke bagian yang paling absurd dari semua ini.
01:36Bukti utama yang dipakai jaksa.
01:38Sebuah hasil audit yang, terus terang, bener-bener ajaib.
01:43Jadi gini, Amsal itu ngajuin proposal dengan harga 30 juta rupiah per video.
01:48Buat orang yang ngerti industri kreatif, angka segini itu sebenarnya wajar.
01:52Bahkan bisa dibilang murah loh untuk video profil durasi 40 menit.
01:55Tapi, menurut audit dari Inspektorat Pemda,
01:59harga wajarnya itu cuma 24,1 juta rupiah.
02:02Nah, pertanyaannya kan, kok bisa beda?
02:05Dari mana coba datangnya selisih hampir 6 juta rupiah per video itu?
02:09Jawabannya, bakal bikin kita semua geleng-geleng kepala.
02:13Dan ternyata, ini dia biangnya.
02:15Selisih itu muncul karena auditor nganggep beberapa pekerjaan kreatif dan teknis itu nilainya 0.
02:21Kosong, gratis.
02:23Iya, kalian gak salah dengar.
02:25Biaya buat editing video, 0 rupiah.
02:28Mikirin ide sama konsep, 0 rupiah.
02:31Bahkan jasa sewa mikrofon pun dinilai 0.
02:33Gak ada harganya sama sekali.
02:35Jadi, bisa dibilang, seluruh dakwaan korupsi ini tuh dibangun di atas fondasi pemikiran
02:41kalau skill profesional, waktu yang dihabiskan buat ngendit, dan ide-ide kreatif itu semuanya gratis.
02:46Ini udah bukan lagi ngomongin beda harga.
02:48Tapi ini soal meniadakan nilai dari sebuah profesi.
02:52Biar kita paham kenapa audit tadi itu ngaco banget, kita perlu mundur dikit.
02:56Kita harus ngerti bedanya pengadaan barang sama pengadaan jasa.
03:00Ini kuncinya.
03:01Gini deh gampangnya, kalau kita beli barang, misalnya laptop ya, ya kan gampang.
03:07Cek spesifikasinya, bandingin harganya, mana yang paling pas, jelas dan terukur.
03:13Tapi, saat kita beli jasa, kayak bikin video, yang kita bayar itu bukan cuma produk akhirnya doang.
03:18Kita bayar keahliannya, idenya, waktu begadangnya, pengalamannya, seluruh proses kreatif yang gak bisa diukur kayak barang fisik.
03:27Dan, inilah kesalahan fatal dalam kasus AMSAL.
03:30Auditornya pakai kacamata beli barang buat menilai sebuah proyek jasa kreatif.
03:34Mereka cuma ngitung biaya sewa alat, tapi mereka lupa atau sengaja mengabaikan nilai dari otak dan tangan yang mengubah alat
03:42itu jadi sebuah karya.
03:44Tapi, keanehannya gak berhenti di situ.
03:46Kalau kita bedah lebih dalam lagi dokumen dakwaannya, kita bakal nemu lebih banyak masalah yang fundamental.
03:53Luar biasanya lagi nih, di surat dakwaan untuk kasus korupsi pengadaan ini,
03:58peraturan presiden soal pengadaan barang dan jasa pemerintah yang notabene aturan utamanya itu sama sekali gak dicantumin.
04:06Mekanisme pengadaannya apa juga gak dijelasin.
04:09Ini kan aneh banget kayak mau nuntut orang tapi salah pasal.
04:12Mungkin ada yang mikir, ah ini kan cuma kasus satu orang.
04:15Eits, jangan salah, kasus ini dampaknya bisa kemana-mana dan ini serius bisa jadi ancaman buat seluruh ekosistem ekonomi kreatif
04:22di Indonesia.
04:23Kalau AMSAL sampai difonis bersalah, ini bisa jadi presiden hukum yang super bahaya.
04:29Puluhan ribu pekerja kreatif, freelancer, dan konsultan yang kerja buat proyek pemerintah bisa kena getahnya.
04:36Tiap kali mereka ngasih penawaran harga, bisa-bisa dianggap sebagai potensi markup.
04:41Efek jangka panjangnya, ya para profesional jadi pada takut buat kerjasama dengan pemerintah.
04:48Ngeri kan?
04:49Ujung-ujungnya kualitas layanan publik yang butuh sentuhan kreatif bisa menurun.
04:53Dan kolaborasi antara pemerintah dengan para ahli bisa mati suri.
04:57Oke, kita udah lihat auditnya yang janggal, logikanya yang salah, dan dampaknya yang berbahaya banget.
05:04Sekarang saatnya kita merenungkan pertanyaan terakhir yang paling penting dari semua ini.
05:09Ini dia pertanyaan intinya.
05:11Kalau negara melalui aparat penegak hukumnya sendiri, menilai keahlian, ide, dan keringat para kreatornya seharga 0 rupiah,
05:20terus siapa lagi yang bakal berani dan mau menyumbangkan talent tanya untuk kemajuan bangsa ini?
05:25Ini pertanyaan yang harus kita jawab bareng-bareng.
05:27Nah, kami pengen banget dengar pendapat kalian.
05:30Gimana pikiran kalian soal kasus ini?
05:32Tulis di kolom komentar ya.
05:34Jangan lupa juga buat like dan yang paling penting, bagikan analisis ini biar makin banyak orang yang sadar betapa krusialnya
05:41isu ini.
05:42Terima kasih sudah menyimak.
Komentar

Dianjurkan