Kenapa kekaisaran besar bisa runtuh justru saat berada di puncak kejayaan? Dalam pembahasan ini, kita mengupas teori sejarah tentang kebangkitan dan kejatuhan peradaban yang bukan sekadar soal kekayaan atau sumber daya, tetapi dinamika internal masyarakatnya.
Menggunakan konsep asabiyyah dari Ibnu Khaldun, dijelaskan bahwa kelompok pinggiran yang miskin sering kali menang karena memiliki solidaritas, energi, dan daya juang tinggi. Sebaliknya, peradaban kaya justru rapuh akibat korupsi, eksklusivitas, dan konflik elit.
Contoh nyata terlihat pada bangkitnya Dinasti Qin, ekspansi Makedonia di era Alexander, hingga keruntuhan Aztec. Kemiskinan ternyata bisa menjadi bahan bakar kreativitas dan kerja sama tim yang solid.
Analisis ini juga menyoroti bagaimana negara yang pernah hancur total seperti Jerman dan Jepang mampu bangkit kembali menjadi kekuatan global. Ditambah perspektif teori permainan, dijelaskan bahwa ketika sebuah negara mencapai puncak kekuasaan, insentif untuk berinovasi perlahan menghilang—digantikan oleh kesombongan dan stagnasi.
Apakah siklus ini akan terus berulang di masa depan?
Komentar