00:00Terima kasih Bang Moderator. Terima kasih Pak Presiden, Pak Prabowo.
00:04Ini pertama kali saya diundang ke sini, berdialog langsung dengan Bapak.
00:10Sebetulnya tadi ketika Pak Prabowo menyebut masalah hidrosilisasi dan hilirisasi,
00:14sebetulnya saya mau bertanya soal itu, karena kami di Kor banyak sekali melakukan kajian
00:18kaitannya dengan industri, termasuk EV tadi dan juga ke daerah-daerah smelter, Pak.
00:23Tapi sepertinya untuk yang pertama ini saya ingin menanyakan tentang yang sedang hangat dibicarakan sekarang.
00:32Jadi dampak daripada perang terhadap ekonomi domestik kita, Pak.
00:39Kita tahu harga minyaknya kan sudah sempat beberapa kali menyentuh 100 dolar per barrel.
00:45Rupiah juga sudah sempat menyentuh 17 ribu per USD.
00:51Jadi dari hitung-hitungan kami sendiri, memang kalau dalam waktu yang panjang,
00:59ICP harga minyak dunia itu di atas 80 dolar per barrel dan nilai tukar rupiah di sekitaran 17 ribu,
01:08memang dampaknya ke pembengkakan subsidi energi itu bisa lebih dari 100 triliun tambahannya saja, Pak.
01:14Itu artinya kalau dibandingkan persentase terhadap PDB, berarti sudah tembus 3%.
01:21Nah, saya mendengar dari media bahwa Pak Prabowo ingin menahan itu,
01:27bahwa defisit APBN tidak tembus 3%.
01:31Tapi pertanyaannya bagaimana, Pak?
01:34Karena konsen kami, kalau seandainya menahan 3% itu dilakukan dengan efisiensi yang caranya sama dengan tahun lalu 2025,
01:45kita sudah saksikan sendiri, Pak.
01:48Bagaimana dampaknya?
01:49Saya ketemu dengan banyak pelaku.
01:51Dampaknya bagaimana?
01:53Termasuk di daerah, Pak.
01:55Di daerah, kalau Bapak ingat, ada gejolak di Pati, gejolak di beberapa daerah yang lain,
02:01itu karena susah untuk mencari jalan keluar bagi daerah untuk terpaksa mereka menaikan pajak.
02:08Karena transfer ke daerah kan dipotong, Pak.
02:11Karena efisiensi juga.
02:12Nah, jadi apakah cara untuk efisiensi yang Bapak ingin lakukan sama?
02:20Ataukah mungkin ada cara yang lain, Pak?
02:22Misalnya, contohnya begini, Pak.
02:23Apakah ada terpikir cara untuk refocusing, misalnya, Pak, ya?
02:27Termasuk, misalnya, mengalihkan sebagian daripada program-program yang sudah ada,
02:33yang banyak alokasi anggaranya, termasuk mungkin program prioritas,
02:38ke pos-pos yang sifatnya tangkap darurat ini, Pak.
02:41Oke, saya jawab.
02:42Iya, Pak. Silahkan.
02:43Pertama, tolong undercheck transfer ke daerah mana yang dipotong dan mana yang tidak dipotong.
02:49Ya?
02:50Ya?
02:51Kalau tidak salah, yang dipotong juga yang bersifat tidak produktif.
02:55Dan saya ingin menjelaskan, waktu pertama kita lakukan efisiensi,
03:01kita menghemat 308 triliun dari pusat sebagian besar.
03:08Dan dari mana itu?
03:10Dari semua pengeluaran yang akal-akalan.
03:16Keyakinan saya itu semua 308 ini kalau tidak potong, ini ke arah korupsi.
03:25Pak Muhammad, saya kembali ke dasar ya.
03:29Saya akan kembali ke dasar.
03:31Bapak-bapak kan ekonomi.
03:34Kalau kita bicara ekonomi Indonesia, selalu keluar angka I-Core.
03:38Betul.
03:41Incremental Capital Output Ratio.
03:44I-Core kita 6,5.
03:47Dibandingkan dengan Korea, mereka itu 4.
03:52Singapura 4.
03:54Kalau tidak salah Thailand 4.
03:56India 5.
03:57Artinya apa?
03:58Kalau kita lihat kita 6.
04:00Korea 4, Singapura 4.
04:03Arti itu adalah 2 dari 2, 4 per 6 kan 2 per 3.
04:15Jadi kita ini kalau angka itu artinya kita 30% lebih tidak efisien dari Thailand, Malaysia, Filipina apalagi, Vietnam apalagi.
04:28Vietnam 3,6.
04:30Filipina, saya mau tanya.
04:32Dua kali lewat tidak ada sih.
04:33Saya mau tanya Pak Muhammad.
04:35Kita bedanya apa sama orang Filipina?
04:39Kita rasnya apa?
04:42Apa kita lebih bodoh?
04:43Kita lebih tidak efisien.
04:46Kalau saya pakai ini sebagai dasar, artinya saya datang mendekati APBN kita yang 3.700 triliun.
05:00which is 230 miliar dolar.
05:04Pertama saya sudah lihat, ini 30% dari 230 itu 75 miliar dolar.
05:12Tidak efisien ini.
05:14Dan saya sudah buktikan, dengan efisiensi saya bisa menghemat di awal 308 triliun.
05:22Itu sama dengan 18 miliar dolar.
05:26Masih banyak yang bisa kita hemat, Pak Muhammad.
05:30Banyak sekali yang bisa kita hemat.
05:32Coba.
05:34Masa kita ada biaya seremonial.
05:40Tiap kementerian, tiap badan, di seluruh esoran Indonesia itu ada biaya untuk ulang tahun.
05:49Saya bilang sudah lah.
05:52Seremoni hanya di ruangan, potong tumpeng.
05:55Iya kan?
05:58Biaya percetakan dan souvenir, kita potong 75%.
06:03Pembelian alat tulis kantor, kita potong 90%.
06:07Tiap kantor selalu beli alat tulis, beli buku, komputer hampir tiap tahun.
06:15Sewa gedung, peralatan, rapat seminar sejenis.
06:20Sudah ada kantor kementerian, semua pejabat maunya rapat di luar daerah.
06:28Di luar kota.
06:29Di luar kota.
06:31Ada yang mau di Bali.
06:33Ada yang mau kajian-kajian, analisa-analisa saya bilang, masalahnya sudah jelas kok.
06:43Masalahnya kemiskinan, kesenjangan, lapangan kerja.
06:47Iya kan?
06:48Jembatan anak itu teriak, Pak Prabowo.
06:51Tiap hari kami basah.
06:54The problem is there.
06:56Jadi, saya lihat dengan penghematan yang pasti kekorupsi.
07:02Nah, ini di awal, di akhir, di akhir tahun pertama pemerintahan saya,
07:10Menteri Keuangan melapor, Pak, kita masih ada sisa sekian ratus triliun juga.
07:17Itu contoh.
07:19Jadi, menurut saya, kalau kita hadapi krisis, ya semua upaya kita pelajari.
07:28Pertama, kita harus turunkan konsumsi.
07:31Ya, kita bisa turunkan konsumsi.
07:33Saya lihat negara-negara lain, umpamanya, lagi mikir, hari kerja jadi empat, dari lima jadi empat.
07:42Filipin, Pakistan sudah.
07:44Kemudian, work from home.
07:46Bekerja dari rumah.
07:47Waktu COVID kita lakukan.
07:49Cukup berhasil.
07:51Saya kira kita bisa lakukan itu juga.
07:53Mungkin 75 persen karyawan dan pegawai bisa kerja dari rumah.
07:59Sekarang ada Vicon, ada banyak teknologi.
08:0430 tahun yang lalu nggak ada.
08:05Itu satu.
08:06Kita juga bisa, sebagai contoh tadi ya, work from home, kita juga bisa, umpamanya, satu mobil nggak boleh ditumpangi satu
08:15orang.
08:17Di negara-negara lain juga.
08:19Satu mobil, minimal empat orang.
08:22Iya kan?
08:22So, banyak cara.
08:25Jadi, maaf ya.
08:27Ada yang dramatisasi, penghematan.
08:30Kita tidak kurangi biaya pendidikan, apapun kita tidak kurangi.
08:35Kita tidak kurangi biaya operasional.
08:38Justru, maaf ya, kita buka-bukaan saja.
08:42Saya berani, jangan nantang-nantang pemerintah pusat.
08:47Banyak biaya yang harusnya dilaksanakan oleh kabupaten dan provinsi, tidak dilaksanakan.
08:55Contoh tadi, jembatan.
08:58Jembatan desa, rakyat harus teriak.
09:02Presiden harus turun tangan.
09:05Maaf, ada dana desa.
09:10Kemana dananya di bupati?
09:12Kemana gubernur?
09:14Tapi oke lah.
09:15Saya tidak, saya ambil alih tanggung jawab.
09:18Jadi, kita ini harus terbuka, kita harus fair.
09:22Banyak pejabat itu terlalu banyak, menurut saya, ya tidak efisien.
09:28Anda lihat sendiri, kita buka-bukaan ya.
09:32Ada kabupaten, eh apa kabupaten ya?
09:35Pemerintah daerah, dia beli mobil dinas gubernur berapa?
09:398M.
09:40Provinsi, ya ada tuh provinsi.
09:42Provinsi.
09:44Saya presiden di mobil Indonesia, saya pakai mobil mau, buatan Indonesia.
09:50Iya kan?
09:53Harganya 700 juta itu.
09:55Mungkin karena ini presiden ya, ada anti-pluru.
10:02Mungkin harganya 1M.
10:03Tapi tidak 8M.
10:06Coba kita selidiki semua.
10:08Efisiensi.
10:09Habis itu, kunjungan kerja, kunjungan kerja.
10:14Sudahlah.
10:15Itu yang kita minta.
10:17Kesadaran, rasa tanggung jawab.
10:19Iya kan?
10:20Bupati, kerja untuk rakyatmu.
10:24Gubernur, kerja untuk rakyatmu.
10:27Iya kan?
10:28Itu yang kita minta.
Komentar