Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 7 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto menyoroti besarnya potensi pemborosan dalam anggaran negara yang dinilai tidak efisien dan berisiko mengarah pada praktik korupsi.

Ia menyebut, langkah efisiensi yang dilakukan pemerintah telah berhasil menghemat ratusan triliun rupiah dari belanja yang dinilai tidak tepat sasaran.

"Dan dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan," kata Prabowo, kala menjawab sejumlah pertanyaan yang disampaikan pakar dan jurnalis di Hambalang, Kamis (19/3/2026).

Prabowo bahkan mengaitkan belanja tersebut dengan potensi penyimpangan jika tidak segera dipangkas.

"Keyakinan saya itu semua Rp308 Triliun ini kalau tidak potong ini ke arah korupsi," katanya.

Menurutnya, penghematan yang telah dilakukan baru tahap awal dan masih banyak ruang untuk efisiensi lanjutan.

Ia mencontohkan berbagai pos anggaran yang dinilai tidak efisien, seperti kegiatan seremonial, pembelian alat tulis kantor, hingga rapat di luar daerah.

"Coba masa kita ada biaya seremonial. Tiap kementerian, tiap badan di seluruh esan Indonesia itu ada biaya untuk ulang tahun. Saya bilang sudahlah," kata Presiden.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan pejabat yang kerap menggelar rapat di luar kota.

"Semua pejabat maunya rapat di luar daerah, luar kota. Di luar kota. Ada yang mau di Bali, ada yang mau kajian-kajian," katanya.

Prabowo menegaskan efisiensi anggaran menjadi langkah penting untuk memastikan belanja negara benar-benar digunakan bagi kepentingan masyarakat.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Joshua

Baca Juga Tarif Khusus Lebaran untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Cuma Rp1 | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/658142/tarif-khusus-lebaran-untuk-mrt-lrt-dan-transjakarta-cuma-rp1-kompas-siang



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/658159/prabowo-soroti-anggaran-tak-efisien-pengeluaran-akal-akalan-ke-arah-korupsi
Transkrip
00:00Terima kasih Bang Moderator. Terima kasih Pak Presiden, Pak Prabowo.
00:04Ini pertama kali saya diundang ke sini, berdialog langsung dengan Bapak.
00:10Sebetulnya tadi ketika Pak Prabowo menyebut masalah hidrosilisasi dan hilirisasi,
00:14sebetulnya saya mau bertanya soal itu, karena kami di Kor banyak sekali melakukan kajian
00:18kaitannya dengan industri, termasuk EV tadi dan juga ke daerah-daerah smelter, Pak.
00:23Tapi sepertinya untuk yang pertama ini saya ingin menanyakan tentang yang sedang hangat dibicarakan sekarang.
00:32Jadi dampak daripada perang terhadap ekonomi domestik kita, Pak.
00:39Kita tahu harga minyaknya kan sudah sempat beberapa kali menyentuh 100 dolar per barrel.
00:45Rupiah juga sudah sempat menyentuh 17 ribu per USD.
00:51Jadi dari hitung-hitungan kami sendiri, memang kalau dalam waktu yang panjang,
00:59ICP harga minyak dunia itu di atas 80 dolar per barrel dan nilai tukar rupiah di sekitaran 17 ribu,
01:08memang dampaknya ke pembengkakan subsidi energi itu bisa lebih dari 100 triliun tambahannya saja, Pak.
01:14Itu artinya kalau dibandingkan persentase terhadap PDB, berarti sudah tembus 3%.
01:21Nah, saya mendengar dari media bahwa Pak Prabowo ingin menahan itu,
01:27bahwa defisit APBN tidak tembus 3%.
01:31Tapi pertanyaannya bagaimana, Pak?
01:34Karena konsen kami, kalau seandainya menahan 3% itu dilakukan dengan efisiensi yang caranya sama dengan tahun lalu 2025,
01:45kita sudah saksikan sendiri, Pak.
01:48Bagaimana dampaknya?
01:49Saya ketemu dengan banyak pelaku.
01:51Dampaknya bagaimana?
01:53Termasuk di daerah, Pak.
01:55Di daerah, kalau Bapak ingat, ada gejolak di Pati, gejolak di beberapa daerah yang lain,
02:01itu karena susah untuk mencari jalan keluar bagi daerah untuk terpaksa mereka menaikan pajak.
02:08Karena transfer ke daerah kan dipotong, Pak.
02:11Karena efisiensi juga.
02:12Nah, jadi apakah cara untuk efisiensi yang Bapak ingin lakukan sama?
02:20Ataukah mungkin ada cara yang lain, Pak?
02:22Misalnya, contohnya begini, Pak.
02:23Apakah ada terpikir cara untuk refocusing, misalnya, Pak, ya?
02:27Termasuk, misalnya, mengalihkan sebagian daripada program-program yang sudah ada,
02:33yang banyak alokasi anggaranya, termasuk mungkin program prioritas,
02:38ke pos-pos yang sifatnya tangkap darurat ini, Pak.
02:41Oke, saya jawab.
02:42Iya, Pak. Silahkan.
02:43Pertama, tolong undercheck transfer ke daerah mana yang dipotong dan mana yang tidak dipotong.
02:49Ya?
02:50Ya?
02:51Kalau tidak salah, yang dipotong juga yang bersifat tidak produktif.
02:55Dan saya ingin menjelaskan, waktu pertama kita lakukan efisiensi,
03:01kita menghemat 308 triliun dari pusat sebagian besar.
03:08Dan dari mana itu?
03:10Dari semua pengeluaran yang akal-akalan.
03:16Keyakinan saya itu semua 308 ini kalau tidak potong, ini ke arah korupsi.
03:25Pak Muhammad, saya kembali ke dasar ya.
03:29Saya akan kembali ke dasar.
03:31Bapak-bapak kan ekonomi.
03:34Kalau kita bicara ekonomi Indonesia, selalu keluar angka I-Core.
03:38Betul.
03:41Incremental Capital Output Ratio.
03:44I-Core kita 6,5.
03:47Dibandingkan dengan Korea, mereka itu 4.
03:52Singapura 4.
03:54Kalau tidak salah Thailand 4.
03:56India 5.
03:57Artinya apa?
03:58Kalau kita lihat kita 6.
04:00Korea 4, Singapura 4.
04:03Arti itu adalah 2 dari 2, 4 per 6 kan 2 per 3.
04:15Jadi kita ini kalau angka itu artinya kita 30% lebih tidak efisien dari Thailand, Malaysia, Filipina apalagi, Vietnam apalagi.
04:28Vietnam 3,6.
04:30Filipina, saya mau tanya.
04:32Dua kali lewat tidak ada sih.
04:33Saya mau tanya Pak Muhammad.
04:35Kita bedanya apa sama orang Filipina?
04:39Kita rasnya apa?
04:42Apa kita lebih bodoh?
04:43Kita lebih tidak efisien.
04:46Kalau saya pakai ini sebagai dasar, artinya saya datang mendekati APBN kita yang 3.700 triliun.
05:00which is 230 miliar dolar.
05:04Pertama saya sudah lihat, ini 30% dari 230 itu 75 miliar dolar.
05:12Tidak efisien ini.
05:14Dan saya sudah buktikan, dengan efisiensi saya bisa menghemat di awal 308 triliun.
05:22Itu sama dengan 18 miliar dolar.
05:26Masih banyak yang bisa kita hemat, Pak Muhammad.
05:30Banyak sekali yang bisa kita hemat.
05:32Coba.
05:34Masa kita ada biaya seremonial.
05:40Tiap kementerian, tiap badan, di seluruh esoran Indonesia itu ada biaya untuk ulang tahun.
05:49Saya bilang sudah lah.
05:52Seremoni hanya di ruangan, potong tumpeng.
05:55Iya kan?
05:58Biaya percetakan dan souvenir, kita potong 75%.
06:03Pembelian alat tulis kantor, kita potong 90%.
06:07Tiap kantor selalu beli alat tulis, beli buku, komputer hampir tiap tahun.
06:15Sewa gedung, peralatan, rapat seminar sejenis.
06:20Sudah ada kantor kementerian, semua pejabat maunya rapat di luar daerah.
06:28Di luar kota.
06:29Di luar kota.
06:31Ada yang mau di Bali.
06:33Ada yang mau kajian-kajian, analisa-analisa saya bilang, masalahnya sudah jelas kok.
06:43Masalahnya kemiskinan, kesenjangan, lapangan kerja.
06:47Iya kan?
06:48Jembatan anak itu teriak, Pak Prabowo.
06:51Tiap hari kami basah.
06:54The problem is there.
06:56Jadi, saya lihat dengan penghematan yang pasti kekorupsi.
07:02Nah, ini di awal, di akhir, di akhir tahun pertama pemerintahan saya,
07:10Menteri Keuangan melapor, Pak, kita masih ada sisa sekian ratus triliun juga.
07:17Itu contoh.
07:19Jadi, menurut saya, kalau kita hadapi krisis, ya semua upaya kita pelajari.
07:28Pertama, kita harus turunkan konsumsi.
07:31Ya, kita bisa turunkan konsumsi.
07:33Saya lihat negara-negara lain, umpamanya, lagi mikir, hari kerja jadi empat, dari lima jadi empat.
07:42Filipin, Pakistan sudah.
07:44Kemudian, work from home.
07:46Bekerja dari rumah.
07:47Waktu COVID kita lakukan.
07:49Cukup berhasil.
07:51Saya kira kita bisa lakukan itu juga.
07:53Mungkin 75 persen karyawan dan pegawai bisa kerja dari rumah.
07:59Sekarang ada Vicon, ada banyak teknologi.
08:0430 tahun yang lalu nggak ada.
08:05Itu satu.
08:06Kita juga bisa, sebagai contoh tadi ya, work from home, kita juga bisa, umpamanya, satu mobil nggak boleh ditumpangi satu
08:15orang.
08:17Di negara-negara lain juga.
08:19Satu mobil, minimal empat orang.
08:22Iya kan?
08:22So, banyak cara.
08:25Jadi, maaf ya.
08:27Ada yang dramatisasi, penghematan.
08:30Kita tidak kurangi biaya pendidikan, apapun kita tidak kurangi.
08:35Kita tidak kurangi biaya operasional.
08:38Justru, maaf ya, kita buka-bukaan saja.
08:42Saya berani, jangan nantang-nantang pemerintah pusat.
08:47Banyak biaya yang harusnya dilaksanakan oleh kabupaten dan provinsi, tidak dilaksanakan.
08:55Contoh tadi, jembatan.
08:58Jembatan desa, rakyat harus teriak.
09:02Presiden harus turun tangan.
09:05Maaf, ada dana desa.
09:10Kemana dananya di bupati?
09:12Kemana gubernur?
09:14Tapi oke lah.
09:15Saya tidak, saya ambil alih tanggung jawab.
09:18Jadi, kita ini harus terbuka, kita harus fair.
09:22Banyak pejabat itu terlalu banyak, menurut saya, ya tidak efisien.
09:28Anda lihat sendiri, kita buka-bukaan ya.
09:32Ada kabupaten, eh apa kabupaten ya?
09:35Pemerintah daerah, dia beli mobil dinas gubernur berapa?
09:398M.
09:40Provinsi, ya ada tuh provinsi.
09:42Provinsi.
09:44Saya presiden di mobil Indonesia, saya pakai mobil mau, buatan Indonesia.
09:50Iya kan?
09:53Harganya 700 juta itu.
09:55Mungkin karena ini presiden ya, ada anti-pluru.
10:02Mungkin harganya 1M.
10:03Tapi tidak 8M.
10:06Coba kita selidiki semua.
10:08Efisiensi.
10:09Habis itu, kunjungan kerja, kunjungan kerja.
10:14Sudahlah.
10:15Itu yang kita minta.
10:17Kesadaran, rasa tanggung jawab.
10:19Iya kan?
10:20Bupati, kerja untuk rakyatmu.
10:24Gubernur, kerja untuk rakyatmu.
10:27Iya kan?
10:28Itu yang kita minta.
Komentar

Dianjurkan