Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Franka Franklin Makarim mengungkap sisi emosional keluarga Nadiem Makarim selama menghadapi proses persidangan.

Ayah Nadiem, Nono Anwar Makarim, sebagai pengacara senior berintegritas. Sementara ibunya, Atika Algadri, dikenal sebagai aktivis antikorupsi.

Franka mengaku sedih melihat kedua orang tua Nadiem yang kini telah lanjut usia namun tetap setia mendampingi proses persidangan.

Menurut Franka, kedua orang tua Nadiem selalu hadir sejak pagi hingga larut malam di ruang sidang tanpa pernah absen.

Ia mengatakan keluarga tetap mendukung Nadiem karena meyakini sang suami tidak bersalah berdasarkan fakta persidangan.

Saat ditanya apakah orang tua Nadiem akan memiliki sikap berbeda jika fakta persidangan menunjukkan hal sebaliknya. Jika memang ada bukti kesalahan, keluarga justru akan tetap berdiri pada prinsip integritas dan pertanggungjawaban hukum.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rsUqbkMCeog



#nadiemmakarim #mendikbudristek #chromebook



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/670351/istri-nadiem-makarim-ungkap-keteguhan-orang-tua-sang-suami-di-persidangan-rosi
Transkrip
00:00Saya masih bersama istri Nadi Makarim, Franka Franklin Makarim.
00:04Franka, tadi sempat saya singgung dari seorang pengusaha yang sukses, brilian, banyak sekali menjadi idola.
00:12Dan kemudian diminta gabung ke pemerintahan.
00:17Rasanya seorang Nadi Makarim yang mempopularkan panggil saya, Mas Menteri, menjadi flamboyan di kabinet sebelumnya.
00:28NLN 180 derajat berbeda, sekarang duduk sebagai satu pesakitan.
00:34Saya ingin membuat ilustrasi, ini tidak tentang seorang Nadi Makarim, tetapi seorang putra dari pasangan tokoh yang luar biasa.
00:45Pak Nono, seorang pengacara besar, berintegritas, melahirkan banyak pengacara hebat.
00:53Lalu Ibu Atika, seorang perempuan, aktivis, dikenal luas sebagai pegiat anti korupsi.
01:04Menurut Franka, ini tragis gak sih pengalaman hidup yang harus dijalani seperti ini?
01:09Is it ironis dan tragis?
01:12Mas, saya kalau mengingat Ibu dan Bapak itu, saya sering sedih gitu.
01:24Mbak, karena mereka sudah berada di umur yang cukup tua ya sekarang.
01:32Pak Nono berapa sekarang?
01:34Pak Nono 87 tahun ini dan Ibu 81.
01:38Dan mereka hadir di persidangan dari awal jam 9 selalu apa, setengah 9 bahkan kadang-kadang.
01:48Sampai kadang jam 1 pagi mereka ada di situ, mereka tidak pernah absen dan mereka berdiri tegak untuk menemani anaknya.
01:56Dan itu membuat saya merasa kadang sedih untuk mereka.
02:02Apakah itu mempengaruhi reputasi orang tua yang dibangun selama ini berpuluh-puluh tahun?
02:08Saya rasa tidak ada pemikiran seperti itu sama sekali di keluarga, Mbak.
02:12Karena?
02:13Karena kami percaya bahwa Nadiem tidak bersalah.
02:17Kecuali dalam fakta persidangan membuktikan selama ini hal yang sebalik ya, Bu Atika akan tentu bisa punya pandangan yang berbeda
02:24meskipun itu anaknya sendiri?
02:26Betul.
02:26Yang mungkin banyak orang mungkin tidak bisa membayangkan ya bahwa memang Bapak dan Ibu duduk di sini untuk menguatkan anaknya.
02:38Tapi apabila kejadian ini adalah terbalik, artinya ada bukti dan memang dia bersalah, dia mungkin akan duduk di meja sebelah
02:49gitu.
02:50Biarpun seberat dan semenyakitan apapun kalau memang harus dipertanggungjawabkan karena ada kesalahan, mereka pasti akan menuntut yang sama.
02:58Tadi sebelum kita jeda Mbak Franka mengatakan bahwa satu dari refleksi, apa refleksi apalagi dari sekian lama masa persidangan?
03:18Satu yang mungkin juga selalu Nadiem itu sangat konsisten itu adalah rasa cintanya untuk Indonesia.
03:28Saya tahu banyak yang tanya, tapi jawaban dia memang tidak pernah berubah.
03:32Mau dia itu pulang dari sekolah di Amerika, setelah dia juga di tengah kesuksesannya di Gojek, dalam pemerintahan maupun dalam
03:44penjara, dia tetap memikirkan dan khawatir tentang Indonesia dan apa yang bisa dia lakukan.
03:51Dan salah satu yang sangat saya lihat adalah apapun yang terjadi dia akan selalu bersyukur dan bangga dia mengabdikan hidupnya
04:01kepada Indonesia.
04:05Tadi saya ingin masuk ke poin tadi, bedakan antara sesuatu yang dianggap dulu tidak pernah dianggap atau dinarasikan,
04:18dulu sebagai menteri tidak pernah ke kampus-kampus, tidak pernah cukup menyapa, stakeholders.
04:27Saya tahu ada banyak kecewaan, saya tahu ada banyak rasa marah atau tidak cukup yang dia lakukan, bagaimanapun juga dia
04:36adalah seorang manusia yang tidak sempurna.
04:38Tapi saya harap sistem hukum kita dan juga orang banyak dapat menyadari bahwa itu bukan alasan yang cukup untuk memencarakan
04:51suami saya.
04:53Bahwa apabila dia memang tidak ada kesalahan dan tidak ada yang dilakukan, kenapa dia harus ada di sana?
05:02Jadi bukan, Anda ingin mengatakan bahwa jangan karena tidak suka dengan suami saya, maka ia dipenjarakan.
05:10Betul.
05:13Franka juga ingin bertemu dengan DPR, Komisi Hukum.
05:17Komisi 3, apakah ini juga ingin menariknya ke masalah politik?
05:24Jadi, dari awal Mbak Rosy, kami mengambil dan menempuh semua jalur hukum yang tersedia.
05:34Jalur-jalur yang bisa secara hukum membantu membuka kebenaran yang ada.
05:40Jadi pada saat di awal gitu ya, mungkin namanya adalah pra-peradilan gitu,
05:47biarpun mungkin banyak yang bilang itu tidak mungkin ya, kita tetap coba bagaimana kita akhirnya Mas Nadiem harus menjalankan peradilan
05:58tadinya,
05:59mau dari rumah sakit, mau datang gitu semua, pokoknya dijalani.
06:02Intinya semua avenue hukum yang ada, kami akan selalu memperjuangkan agar kasus dan kebenaran ini keluar.
06:10Dan itu saja sebenarnya harapan saya pada saat itu.
06:13Apapun, untuk ruang dimana untuk bisa menjelaskan posisi suami Anda.
06:22Memeluarkan fakta.
06:23Tapi IBAM sudah difonis.
06:27IBAM adalah asistennya Mas Nadiem.
06:31Dia adalah konsultan teknologi pada saat itu.
06:37Franka sudah menyiapkan yang terburuk sekalipun.
06:45Kemungkinan bahwa suami saya bisa dijatuhi hukuman adalah satu bentuk kenyataan yang harus saya siapkan.
06:55Tapi sekali lagi ya, kita akan terus berjuang sampai akhir.
07:03Pertanyaan terakhir saya, Franka.
07:07Merasa nggak bahwa dari seluruh persidangan yang ada dan opini yang juga cukup terbelah antara ingin membela, mau membela,
07:17dan juga yang mengatakan, ya Mas Nadiem pantas dihukum seperti tuntutan Jaksa.
07:25Apakah Anda merasa masih ada ruang reputasi Nadiem Makarim dipulihkan?
07:38Yang saya doakan adalah agar kebenaran dan fakta yang ada betul-betul dapat dilihat
07:45dan dapat menjadi satu fondasi di mana keadilan itu masih bisa didapatkan oleh kita sebagai warga negara.
07:57Saya juga melihat betapa besarnya harapan itu, saya rasa bukan karena ini adalah Mas Nadiem,
08:05tapi karena ini adalah untuk bukti bagaimana sistem keadilan kita harus melihat fakta persidangan seperti apa adanya.
08:16Bahwa kalau memang tuduhan tidak terbuktikan, maka itu tidak cukup untuk membicarakan satu orang.
08:22Dan Mbak Rosi yang terakhir, saya betul-betul percaya bahwa kita semua itu adalah harapan dan terang dalam negara ini.
08:37Yang dipersatukan oleh rasa cinta untuk negara ini.
08:41Dan itu akan selalu lebih besar daripada siapapun yang mau memadamkannya.
08:48Franka, terima kasih banyak sudah memberikan penjelasan dan pertanyaan yang selama ini,
08:56menjawab pertanyaan yang selama ini banyak mengemuka soal big question dari kasus ini.
09:03Well, good luck.
09:04Terima kasih Mbak Rosi, terima kasih banyak.
09:06Wawancara ini bukan untuk mempengaruhi proses persidangan yang masih berlangsung.
09:13Namun, untuk mendengar suara seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri yang juga bisa dialami oleh banyak perempuan lainnya.
09:27Para perempuan yang sedang mencari keadilan.
09:30Terima kasih sudah menyaksikan Rosi.
09:32Kita jumpa lagi Kamis depan.
09:34Selamat malam.
09:36Terima kasih sudah menonton!
Komentar

Dianjurkan