00:00Di tengah situasi perang yang memicu ketidakpastian global, apakah kita benar-benar sudah siap menerima dampaknya?
00:09Saya masih berdiskusi dengan salah satu warga negara Indonesia yang ikut evakuasi dari Iran.
00:13Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019, Zulfan Lindan,
00:19serta pengamat ekonomi dari Political Economy and Policy Studies, Antoni Budiawan.
00:24Pak Antoni, begini, kalau mengutip pernyataan dari Presiden Prabowo hari Senin tanggal 9 Maret,
00:28beliau bilang, kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan,
00:34tetapi sekali lagi, kita bersyukur bahwa sebenarnya bangsa Indonesia punya kekuatan.
00:40Merujuk pada kondisi sekarang, dinamika global yang serba tidak pasti ditambah ada konflik itu,
00:46posisi kita, kekuatan kita itu ada di mana kalau begitu?
00:50Pertama, kalau kita ini terjadi disrupsi mengenai BBM, ini kan masalahnya ada tiga hal ya,
00:56akan terjadi masalah energi, BBM dan gas dan sebagainya,
01:02dan yang kedua adalah inflasi, dan ketiga adalah jalur perdagangan.
01:06Ini yang terkena impasnya.
01:09Nah, kalau kita lihat banyak BBM, mungkin kita bisa ada windfall profit dari batubara.
01:16Batubara itu akan naik juga harganya, tapi sampai sejauh mana kita belum tahu intensi daripada dari kenaikan itu sendiri.
01:28Tapi yang sangat rentan kalau saya lihat dari semuanya ini adalah fiskal tadi.
01:34Bagaimana kalau fiskal ini naik menjadi lebih dari tiga persen.
01:38Nah, ini kan harus ada mitigasinya.
01:40Kalau yang lain-lain itu mitigasinya bisa mengurangi pemakaian dan sebagainya itu, itu lebih sederhana.
01:47Karena apa? Karena tiga persen ini dipatasi oleh undang-undang.
01:50Kita tidak bisa menaikkan lagi.
01:53Kalau untuk menaikkan lagi, itu berarti harus ada merubah undang-undang yang jangka panjang atau bisa melalui perpu.
01:59Atau kita harus mengurangi belanja itu.
02:02Dan kalau kita harus mengurangi belanjanya, belanja negara itu, jadi cuma ada dua hal.
02:07Yang belanja-belanja lainnya sudah rigid sekali.
02:10Kita 100 persen dari kita punya pendapatan itu belanja yang sangat rigid, yang mandatory.
02:16Jadi apa yang mau dikaitkan?
02:18Yang tidak yang masih dikaitkan adalah cuma dua hal.
02:22Antara dilema untuk mengurangi subsidi atau mengurangi makan bergisi gratis.
02:27Nah ini yang harus dievaluasi.
02:30Yang mana? Saya rasa mitigasi kita sangat rentan sekali di dalam fiskal.
02:35Karena itu terkait langsung dengan banyak hal.
02:39Tapi secara jangka pendek, kita punya kekuatan apa untuk bisa memastikan kondisi ekonomi kita di tengah gejolak konflik yang tak
02:46berkesudahan?
02:47Ini benar-benar kita aman, masih tetap aman, Pak.
02:50Saya rasa secara ekonomi, secara ekonomi begini.
02:53Kalau ekonomi kita tumbuh 3 persen, tumbuh 2 persen, seperti di tahun 2020 kita minus 2,07 persen.
03:02Itu tidak masih masalah gitu.
03:04Selama kita punya fiskal masih bisa menangani ini.
03:08Nah itu waktu ada fiskal kita naik defisit bisa 3 persen itu dihapus ya, menjadi 6 persen gitu.
03:16Nah itu yang menyelamatkan gitu.
03:17Nah sekarang apakah bisa apa tidak untuk kesuduh? Itu satu.
03:20Tapi untuk menaikkan defisit tadi dengan terpu atau apapun, masalahnya adalah bagaimana dengan kepercayaan asing ini
03:28yang melihat fiskal kita ini sudah dalam kondisi rentan.
03:32Dan ini mengkonfirmasi bahwa kita, ruang fiskal kita sangat sempit.
03:37Nah ini yang bisa berpengaruh kepada peringkat utang dan sebagainya.
03:41Mau mengaitkan yang negatif penilaian itu tadi dari beberapa outlook yang dikeluarkan.
03:45Nah karena apa? Karena mereka melihat, sewaktu mereka mengeluarkan itu, mereka juga melihat bahwa kita punya defisit sudah 2,68
03:53persen.
03:54Jadi di sini sudah tidak ada lagi ruang fiskal untuk bisa mitigasi external shock.
04:00Sangat minim sekali.
04:01Jadi kalau untuk fiskal, menurut saya sudah sangat sulit untuk kita ini kan, kecuali menaikkan defisit atau mengurangi belanja tadi.
04:10Anda di DPR yang saya pahami Pak Zulfan pernah berada di komisi bidang perdagangan, bidang energi dan sejenisnya.
04:18Kalau melihat dinamika yang ada sekarang, yang Anda bayangkan efeknya kemudian realita yang muncul di lapangan itu seiring sejalan atau
04:27justru kita ya seperti pernyataan Pak Prabowo tadi, sebetulnya kita masih punya kekuatan untuk menjaga, ekonomi kita tetap terjaga di
04:33tengah kondisi yang tidak pasti ini.
04:35Sekarang kan secara detail diurahkan enggak, bagaimana caranya mempertahankan itu?
04:41Itu kan kita belum dengar.
04:43Kalau kita bicara global itu kan gampang.
04:46Tapi detailnya itu seperti apa?
04:50Ya kan?
04:51Menghadapi pangan kita banyak.
04:53Beras, jagung, minyak.
04:56Terutama minyak kan, kalau minyak ini naik kan pasti semua ongkos naik, biaya naik kan.
05:03Daya beli sekarang masyarakat juga lagi rendah-rendahnya.
05:05Ya makanya.
05:06Walaupun pemerintah mengatakan bahwa daya beli masih aman kan gitu.
05:11Tapi kan kita kadang-kadang kalau bicara global itu gampang.
05:15Tapi ketika kita riset, lakukannya secara detail, itu kan kita lihat kelemahan-kelemahannya di mana.
05:22Nah jadi, kalau menurut saya kita ini, kelemahan kita adalah karena terlalu besar impor kita.
05:31Segala macam barang kita impor.
05:33Mulai dari pakaian, makanan, bahkan kita punya minyak kan masih ada yang impor.
05:41Beda negara yang Iran seperti perang sekarang, yang dibilang dolarnya, satu dolar itu 16 juta.
05:50Enggak pengaruh mereka karena enggak ada barang impor.
05:54Tidak ada impor.
05:56Yang impor di sana itu adalah mobil Ferrari ada, Lamborghini ada.
06:03Itu kan orang tertentu.
06:04Masuk dari Turki mereka bawa jalan darat.
06:07Tapi kalau makanan-makanan biasa itu tidak ada yang impor.
06:11Jadi, saya melihat bahwa daya beli, kemudian daya ekonomi mereka tetap stabil.
06:17Jadi kalau ada di TV, oh Iran kesulitan segala macam, enggak ada.
06:22Bulan puasa, restoran buka semua.
06:25Nah, maka yang jadi pertanyaan justru yang ketakutan warga Indonesia nih.
06:28Apalagi ngaruh ke BBM subsidi kita, Pak.
06:30Nah, yang dikhawatirkan oleh publik bahwa kita juga melihatlah ada antrean panjang di SPBU dalam beberapa hari terakhir ini di
06:39beberapa daerah.
06:40Wajarkah ketakutan itu muncul, Pak?
06:42Saya kira wajar lah.
06:44Karena kan gimana ya?
06:46Kita tadinya bicara penumpukan itu, antrean itu kan menjelang lebaran.
06:52Ya kan?
06:53Biasa kalau terjadi krisis.
06:55Ini kapan ini?
06:57Kalau Trump bilang akan kita cepat selesaikan, Iran bilang 6 bulan paling kecil, paling cepat.
07:03Bahkan dia bilang kami sanggup seumur hidup perang ini.
07:07Akan memberi pelajaran kepada Amerika dan Israel.
07:11Sebagian orang kan mengatakan ini emosional.
07:13Tapi kalau menurut saya melihatnya bukan emosional.
07:16Karena daya tahan pangan mereka, daya tahan energi mereka, daya tahan semangat dan ideologi mereka itu memungkinkan untuk mereka berperang
07:26panjang.
07:26Itu sesumbar saja atau memang realitanya?
07:29Realita itu.
07:30Enggak main-main.
07:32Kalau dibilang, Trump kan tadi bilang tuh waktu pembukaan kita.
07:36No internet.
07:38Ya kan?
07:39Tidak punya internet.
07:41Tidak punya pemimpin.
07:42Sekarang pemimpin tidak punya.
07:44Mengapa internet itu dimatikan?
07:46Internet dimatikan oleh pemerintah karena melalui internet lah diorganisir dari luar untuk menggerakkan oposisi.
07:57Dengan dimatikan internet, lalu ketahuan lah bahwa ada susupan pakai Starlink.
08:06Jadi kalau masih ada komunikasi di antara masyarakat dengan menggunakan internet berarti Starlink.
08:13Gampang ditangkap.
08:14Hmm, oke.
08:16Nah, ketakutan-ketakutan itu Pak, daya beli kita lemah Pak Antoni.
08:20Ditambah dengan ada konflik ini, kekhawatiran BBM subsidi akan berpengaruh.
08:24Sekalipun kemudian sudah dijamin oleh pemerintah, kondisinya aman, stok masih aman, harga juga masih tidak akan terpengaruh.
08:31Ditambah lagi yang terbaru yang saya cermati juga, badan energi internasional mengatakan akan menyediakan 400 juta barel minyak dari cadangan
08:39darurat negara-negara anggotanya.
08:40Menurut Anda ini hal yang wajar bahwa pemerintah bilang, oke, kondisi terkendali?
08:45Saya pikir seperti tadi Mas Juhalan katakan, sekarang masalahnya sampai sejauh mana detail yang dikatakan kondisi ini terkendali.
08:53400 juta dari cadangan dari negara-negara anggota, itu mereka kan membutuhkan juga, orang sekarang aja di Eropa udah kekurangan
09:05dan harga sudah melonjak kok.
09:07Jadi itu tidak semudah itu bahwa kita bisa mendapatkan kekurangan-kekurangan minyak kita.
09:13Kita tambahkan sedikit ya, bagaimana mau menyiapkan cadangan?
09:18Sedangkan minyak di Timur Tengah itu kan sudah dibom, kilang-kilang minyak itu sudah dibom semuanya.
09:25Selat Hormuz 20%
09:27Ya, Eropa, kemudian di Emirat, di Bahrain, Qatar, Saudi, dan mereka tidak bisa mau keluar dari mana, labuhannya sudah hancur.
09:41Oke, jadi ngelamatkan daya beli masyarakat kita ini gimana kalau begitu, Pak?
09:44Ya, daya beli pasti begini, dalam kondisi ini, pasti daya beli ini pasti melemah gitu ya.
09:51Jangan sampai sekarang pemerintah tidak mempunyai mitigasi.
09:55Jadi saya rasa mitigasi saat ini, ya kembali lagi menurut saya adalah bagaimana dampak ini,
10:01dampak ini jangan membuat satu risiko yang paling besar terhadap masyarakat,
10:08misalkan terjadi PHK ya, karena perusahaan-perusahaan juga akan menghadapi masalah di sini.
10:14Dengan daya beli turun, harga produksi naik gitu.
10:18Jadi ini akan meluas kepada ekonomi gitu, inflasi dan sebagainya gitu.
10:23Jadi yang perlu di sini, ya seperti pandemi, yang kita perlukan adalah di dalam kondisi ekonomi terpuruk,
10:31pasti melalui fiskal gitu.
10:33Tidak bisa tidak gitu, fiskal yang menjadi penyangga ini semua gitu.
10:37Tapi masalahnya sekarang bisa atau tidak, sekarang masalahnya adalah bagaimana kita mau mengevaluasi
10:45belanja mana, pengeluaran mana yang kita harus dahulukan untuk kepentingan rakyat.
10:50Saya rasa itu gitu.
10:51Oke, dan eskalasi perang antara perang Amerika Serikat Israel versus Iran yang makin terbuka sampai dengan saat ini,
11:00memicu kewaspadaan militer juga.
11:02Di negara kita, TNI kita sudah menetapkan status siaga satu.
11:07Apakah ini menunjukkan adanya ancaman keamanan serius juga di negara kita?
11:11Kita bahas sebentar lagi.
Komentar