Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 15 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu ketidakpastian global yang semakin meluas.

Selain berdampak pada stabilitas geopolitik, konflik tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi dan energi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pengamat ekonomi dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai bahwa potensi disrupsi akibat konflik dapat memengaruhi tiga sektor utama, yakni energi, inflasi, dan jalur perdagangan internasional.

Baca Juga Siaga 1 TNI Saat Konflik Timur Tengah, Seberapa Siap Indonesia? | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/656558/siaga-1-tni-saat-konflik-timur-tengah-seberapa-siap-indonesia-rosi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/656559/iran-vs-israel-as-memanas-anthony-budiawan-daya-beli-melemah-jika-konflik-berlanjut-rosi
Transkrip
00:00Di tengah situasi perang yang memicu ketidakpastian global, apakah kita benar-benar sudah siap menerima dampaknya?
00:09Saya masih berdiskusi dengan salah satu warga negara Indonesia yang ikut evakuasi dari Iran.
00:13Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019, Zulfan Lindan,
00:19serta pengamat ekonomi dari Political Economy and Policy Studies, Antoni Budiawan.
00:24Pak Antoni, begini, kalau mengutip pernyataan dari Presiden Prabowo hari Senin tanggal 9 Maret,
00:28beliau bilang, kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan,
00:34tetapi sekali lagi, kita bersyukur bahwa sebenarnya bangsa Indonesia punya kekuatan.
00:40Merujuk pada kondisi sekarang, dinamika global yang serba tidak pasti ditambah ada konflik itu,
00:46posisi kita, kekuatan kita itu ada di mana kalau begitu?
00:50Pertama, kalau kita ini terjadi disrupsi mengenai BBM, ini kan masalahnya ada tiga hal ya,
00:56akan terjadi masalah energi, BBM dan gas dan sebagainya,
01:02dan yang kedua adalah inflasi, dan ketiga adalah jalur perdagangan.
01:06Ini yang terkena impasnya.
01:09Nah, kalau kita lihat banyak BBM, mungkin kita bisa ada windfall profit dari batubara.
01:16Batubara itu akan naik juga harganya, tapi sampai sejauh mana kita belum tahu intensi daripada dari kenaikan itu sendiri.
01:28Tapi yang sangat rentan kalau saya lihat dari semuanya ini adalah fiskal tadi.
01:34Bagaimana kalau fiskal ini naik menjadi lebih dari tiga persen.
01:38Nah, ini kan harus ada mitigasinya.
01:40Kalau yang lain-lain itu mitigasinya bisa mengurangi pemakaian dan sebagainya itu, itu lebih sederhana.
01:47Karena apa? Karena tiga persen ini dipatasi oleh undang-undang.
01:50Kita tidak bisa menaikkan lagi.
01:53Kalau untuk menaikkan lagi, itu berarti harus ada merubah undang-undang yang jangka panjang atau bisa melalui perpu.
01:59Atau kita harus mengurangi belanja itu.
02:02Dan kalau kita harus mengurangi belanjanya, belanja negara itu, jadi cuma ada dua hal.
02:07Yang belanja-belanja lainnya sudah rigid sekali.
02:10Kita 100 persen dari kita punya pendapatan itu belanja yang sangat rigid, yang mandatory.
02:16Jadi apa yang mau dikaitkan?
02:18Yang tidak yang masih dikaitkan adalah cuma dua hal.
02:22Antara dilema untuk mengurangi subsidi atau mengurangi makan bergisi gratis.
02:27Nah ini yang harus dievaluasi.
02:30Yang mana? Saya rasa mitigasi kita sangat rentan sekali di dalam fiskal.
02:35Karena itu terkait langsung dengan banyak hal.
02:39Tapi secara jangka pendek, kita punya kekuatan apa untuk bisa memastikan kondisi ekonomi kita di tengah gejolak konflik yang tak
02:46berkesudahan?
02:47Ini benar-benar kita aman, masih tetap aman, Pak.
02:50Saya rasa secara ekonomi, secara ekonomi begini.
02:53Kalau ekonomi kita tumbuh 3 persen, tumbuh 2 persen, seperti di tahun 2020 kita minus 2,07 persen.
03:02Itu tidak masih masalah gitu.
03:04Selama kita punya fiskal masih bisa menangani ini.
03:08Nah itu waktu ada fiskal kita naik defisit bisa 3 persen itu dihapus ya, menjadi 6 persen gitu.
03:16Nah itu yang menyelamatkan gitu.
03:17Nah sekarang apakah bisa apa tidak untuk kesuduh? Itu satu.
03:20Tapi untuk menaikkan defisit tadi dengan terpu atau apapun, masalahnya adalah bagaimana dengan kepercayaan asing ini
03:28yang melihat fiskal kita ini sudah dalam kondisi rentan.
03:32Dan ini mengkonfirmasi bahwa kita, ruang fiskal kita sangat sempit.
03:37Nah ini yang bisa berpengaruh kepada peringkat utang dan sebagainya.
03:41Mau mengaitkan yang negatif penilaian itu tadi dari beberapa outlook yang dikeluarkan.
03:45Nah karena apa? Karena mereka melihat, sewaktu mereka mengeluarkan itu, mereka juga melihat bahwa kita punya defisit sudah 2,68
03:53persen.
03:54Jadi di sini sudah tidak ada lagi ruang fiskal untuk bisa mitigasi external shock.
04:00Sangat minim sekali.
04:01Jadi kalau untuk fiskal, menurut saya sudah sangat sulit untuk kita ini kan, kecuali menaikkan defisit atau mengurangi belanja tadi.
04:10Anda di DPR yang saya pahami Pak Zulfan pernah berada di komisi bidang perdagangan, bidang energi dan sejenisnya.
04:18Kalau melihat dinamika yang ada sekarang, yang Anda bayangkan efeknya kemudian realita yang muncul di lapangan itu seiring sejalan atau
04:27justru kita ya seperti pernyataan Pak Prabowo tadi, sebetulnya kita masih punya kekuatan untuk menjaga, ekonomi kita tetap terjaga di
04:33tengah kondisi yang tidak pasti ini.
04:35Sekarang kan secara detail diurahkan enggak, bagaimana caranya mempertahankan itu?
04:41Itu kan kita belum dengar.
04:43Kalau kita bicara global itu kan gampang.
04:46Tapi detailnya itu seperti apa?
04:50Ya kan?
04:51Menghadapi pangan kita banyak.
04:53Beras, jagung, minyak.
04:56Terutama minyak kan, kalau minyak ini naik kan pasti semua ongkos naik, biaya naik kan.
05:03Daya beli sekarang masyarakat juga lagi rendah-rendahnya.
05:05Ya makanya.
05:06Walaupun pemerintah mengatakan bahwa daya beli masih aman kan gitu.
05:11Tapi kan kita kadang-kadang kalau bicara global itu gampang.
05:15Tapi ketika kita riset, lakukannya secara detail, itu kan kita lihat kelemahan-kelemahannya di mana.
05:22Nah jadi, kalau menurut saya kita ini, kelemahan kita adalah karena terlalu besar impor kita.
05:31Segala macam barang kita impor.
05:33Mulai dari pakaian, makanan, bahkan kita punya minyak kan masih ada yang impor.
05:41Beda negara yang Iran seperti perang sekarang, yang dibilang dolarnya, satu dolar itu 16 juta.
05:50Enggak pengaruh mereka karena enggak ada barang impor.
05:54Tidak ada impor.
05:56Yang impor di sana itu adalah mobil Ferrari ada, Lamborghini ada.
06:03Itu kan orang tertentu.
06:04Masuk dari Turki mereka bawa jalan darat.
06:07Tapi kalau makanan-makanan biasa itu tidak ada yang impor.
06:11Jadi, saya melihat bahwa daya beli, kemudian daya ekonomi mereka tetap stabil.
06:17Jadi kalau ada di TV, oh Iran kesulitan segala macam, enggak ada.
06:22Bulan puasa, restoran buka semua.
06:25Nah, maka yang jadi pertanyaan justru yang ketakutan warga Indonesia nih.
06:28Apalagi ngaruh ke BBM subsidi kita, Pak.
06:30Nah, yang dikhawatirkan oleh publik bahwa kita juga melihatlah ada antrean panjang di SPBU dalam beberapa hari terakhir ini di
06:39beberapa daerah.
06:40Wajarkah ketakutan itu muncul, Pak?
06:42Saya kira wajar lah.
06:44Karena kan gimana ya?
06:46Kita tadinya bicara penumpukan itu, antrean itu kan menjelang lebaran.
06:52Ya kan?
06:53Biasa kalau terjadi krisis.
06:55Ini kapan ini?
06:57Kalau Trump bilang akan kita cepat selesaikan, Iran bilang 6 bulan paling kecil, paling cepat.
07:03Bahkan dia bilang kami sanggup seumur hidup perang ini.
07:07Akan memberi pelajaran kepada Amerika dan Israel.
07:11Sebagian orang kan mengatakan ini emosional.
07:13Tapi kalau menurut saya melihatnya bukan emosional.
07:16Karena daya tahan pangan mereka, daya tahan energi mereka, daya tahan semangat dan ideologi mereka itu memungkinkan untuk mereka berperang
07:26panjang.
07:26Itu sesumbar saja atau memang realitanya?
07:29Realita itu.
07:30Enggak main-main.
07:32Kalau dibilang, Trump kan tadi bilang tuh waktu pembukaan kita.
07:36No internet.
07:38Ya kan?
07:39Tidak punya internet.
07:41Tidak punya pemimpin.
07:42Sekarang pemimpin tidak punya.
07:44Mengapa internet itu dimatikan?
07:46Internet dimatikan oleh pemerintah karena melalui internet lah diorganisir dari luar untuk menggerakkan oposisi.
07:57Dengan dimatikan internet, lalu ketahuan lah bahwa ada susupan pakai Starlink.
08:06Jadi kalau masih ada komunikasi di antara masyarakat dengan menggunakan internet berarti Starlink.
08:13Gampang ditangkap.
08:14Hmm, oke.
08:16Nah, ketakutan-ketakutan itu Pak, daya beli kita lemah Pak Antoni.
08:20Ditambah dengan ada konflik ini, kekhawatiran BBM subsidi akan berpengaruh.
08:24Sekalipun kemudian sudah dijamin oleh pemerintah, kondisinya aman, stok masih aman, harga juga masih tidak akan terpengaruh.
08:31Ditambah lagi yang terbaru yang saya cermati juga, badan energi internasional mengatakan akan menyediakan 400 juta barel minyak dari cadangan
08:39darurat negara-negara anggotanya.
08:40Menurut Anda ini hal yang wajar bahwa pemerintah bilang, oke, kondisi terkendali?
08:45Saya pikir seperti tadi Mas Juhalan katakan, sekarang masalahnya sampai sejauh mana detail yang dikatakan kondisi ini terkendali.
08:53400 juta dari cadangan dari negara-negara anggota, itu mereka kan membutuhkan juga, orang sekarang aja di Eropa udah kekurangan
09:05dan harga sudah melonjak kok.
09:07Jadi itu tidak semudah itu bahwa kita bisa mendapatkan kekurangan-kekurangan minyak kita.
09:13Kita tambahkan sedikit ya, bagaimana mau menyiapkan cadangan?
09:18Sedangkan minyak di Timur Tengah itu kan sudah dibom, kilang-kilang minyak itu sudah dibom semuanya.
09:25Selat Hormuz 20%
09:27Ya, Eropa, kemudian di Emirat, di Bahrain, Qatar, Saudi, dan mereka tidak bisa mau keluar dari mana, labuhannya sudah hancur.
09:41Oke, jadi ngelamatkan daya beli masyarakat kita ini gimana kalau begitu, Pak?
09:44Ya, daya beli pasti begini, dalam kondisi ini, pasti daya beli ini pasti melemah gitu ya.
09:51Jangan sampai sekarang pemerintah tidak mempunyai mitigasi.
09:55Jadi saya rasa mitigasi saat ini, ya kembali lagi menurut saya adalah bagaimana dampak ini,
10:01dampak ini jangan membuat satu risiko yang paling besar terhadap masyarakat,
10:08misalkan terjadi PHK ya, karena perusahaan-perusahaan juga akan menghadapi masalah di sini.
10:14Dengan daya beli turun, harga produksi naik gitu.
10:18Jadi ini akan meluas kepada ekonomi gitu, inflasi dan sebagainya gitu.
10:23Jadi yang perlu di sini, ya seperti pandemi, yang kita perlukan adalah di dalam kondisi ekonomi terpuruk,
10:31pasti melalui fiskal gitu.
10:33Tidak bisa tidak gitu, fiskal yang menjadi penyangga ini semua gitu.
10:37Tapi masalahnya sekarang bisa atau tidak, sekarang masalahnya adalah bagaimana kita mau mengevaluasi
10:45belanja mana, pengeluaran mana yang kita harus dahulukan untuk kepentingan rakyat.
10:50Saya rasa itu gitu.
10:51Oke, dan eskalasi perang antara perang Amerika Serikat Israel versus Iran yang makin terbuka sampai dengan saat ini,
11:00memicu kewaspadaan militer juga.
11:02Di negara kita, TNI kita sudah menetapkan status siaga satu.
11:07Apakah ini menunjukkan adanya ancaman keamanan serius juga di negara kita?
11:11Kita bahas sebentar lagi.
Komentar

Dianjurkan