Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Perang Iran versus AS dan Israel meluas ke negara sekitar Iran. Terbaru, Israel menyerang Lebanon yang diklaim menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Selain itu kapal milik Iran di perairan India juga ikut diserang.

Seberapa besar kemungkinan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat ini meluas? Faktor apa yang paling menentukan eskalasi tersebut?

Jika konflik terus meningkat, negara atau aktor mana saja yang paling berpotensi ikut terlibat dan mengapa?

Kita sudah terhubung dengan Teuku Rezasyah, Dosen Hubungan Internasional FISIP Unpad.

Baca Juga [FULL] WNI di Dubai Ungkap Dampak Perang Iran vs AS-Israel di https://www.kompas.tv/nasional/655187/full-wni-di-dubai-ungkap-dampak-perang-iran-vs-as-israel

#perangiran #india #amerikaserikat #telukarab #indopasifik

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655259/blak-blakan-pakar-kupas-tuntas-kemungkinan-perang-iran-meluas-hingga-kelemahan-as-dan-israel
Transkrip
00:00Intro
00:03Untuk membahas eskalasi konflik di Timur Tegah, kita sudah terhubung dengan Tegu Reza Shah, dosen hubungan internasional Visib Universitas Pajajaran.
00:14Selamat malam Pak Reza, Assalamualaikum.
00:17Waalaikumsalam, selamat malam, salam dari Bandung.
00:20Salam Pak Reza.
00:21Pak Reza, yang dikhawatirkan oleh masyarakat global adalah kemungkinan konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini meluas menjadi perang
00:32di kawasan Timur Tegah.
00:34Menurut Anda, analisis Anda, faktor apa yang paling menentukan eskalasi ini?
00:41Pertama, kalau saya merujuk kepada kawan-kawan saya di Iran, mereka mengatakan sebenarnya Amerika Serikat dan Israel itu sudah kalah.
00:49Karena mereka berdua ini menargetkan perang itu tiga hari, dan sekarang perang itu sudah satu minggu.
00:56Berarti Amerika Serikat dan Israel memiliki masalah dengan perencanaan.
01:00Kemudian juga mereka ternyata pertahanannya mulai koyak, di mana Iran itu sudah mulai menggunakan peluru-peluru kendali jarak menengah untuk
01:11sampai ke Israel.
01:13Ada memang kecenderungan, ini perang meluas.
01:15Kita misalnya antara lain melihat banyaknya bandara yang sudah ditutupkan.
01:19Saya perhatikan bandara-bandara itu, Abu Dhabi sudah ditutup, Ben Gurion di Israel ditutup, di Bahrain ditutup, di Qatar ditutup,
01:28bandara internasional Hamad, di Kuwait juga ditutup.
01:31Itu artinya negaranya sudah siap untuk bersikap lebih tegas ini, bersikap lebih tegasnya terhadap Amerika Serikat atau kepada Iran.
01:40Tapi ini semua masih belum, saya belum memiliki informasi yang akurat soal itu ya.
01:46Tapi yang jelas juga adalah Iran ini sudah merasa di atas angin, karena semua skenario yang dirancang oleh Amerika Serikat
01:54itu meleset.
01:55Misalnya penghancuran dari dalam meleset, jadi tampaknya Iran sudah yakin sekarang bahwa kalau dalam hal dia terpaksa berhadapan dengan negara
02:04-negara sekitarnya,
02:05karena dia siap melakukan itu.
02:07Juga saya perhatikan, Inggris juga sikapnya belum jelas, Spanyol juga belum jelas, mereka mengatakan, mereka komplain terhadap Amerika, mengaluh terhadap
02:16atas sepak terjang Amerika.
02:19Tapi ketegasannya sendiri belum ada, walaupun Inggris sebenarnya merupakan anggota NATO.
02:23Jadi kita masih berhadapan dengan situasi yang simpang siur, oke, mungkin saja skenario perang itu meluas ya, apalagi karena Iran
02:33sudah menutup Selat Hormuz tersebut.
02:36Cuman yang saya belum lihat adalah belum adanya komitmen dari negara-negara Timur Tengah.
02:41Mereka masih bingung, apakah ingin melihat Iran yang menguat, tapi resikonya adalah kalau kampanye Amerika Serikat itu pertarungan Sunni Siah
02:50akan berjalan,
02:50atau mereka ingin melihat Iran lemah, dengan resiko Israel Raya akan semakin cepat.
02:55Jadi sementara skenario-nya masih wait and see.
02:59Kita masih nunggu, karena belum ada komitmen dari negara-negara tersebut untuk pegang Iran atau pegang Amerika Serikat.
03:06Tapi dari sisi Amerika Serikat sendiri, Donald Trump mengatakan siap berperang hingga 4 pekan lebih. Ini bagaimana?
03:14Saya teringat ya, tentara Amerika Serikat itu militansinya itu tidak seperti Iran.
03:20Ini sudah terbukti di perang di Vietnam di masa lalu. Sudah terbukti juga di perang di Afganistan.
03:25Mungkin dalam perang menggunakan teknologi tinggi, mungkin mereka berpikir menang ya.
03:30Tapi kalau begitu nanti masuk ke dalam perang darat, ini Iran sudah buktikan.
03:34Pangkalan-pangkalan Amerika Serikat itu sudah diserang.
03:36Dan ribuan personilnya yang jumlahnya 40 ribu itu sudah terpencar-pencar.
03:41Sebagian sudah ke wilayah yang lebih aman, dan sebagian lagi hanya menjaga pos.
03:45Kalaupun itu terjadi, tentunya tidak sulit bagi Iran untuk melakukan perang darat.
03:50Karena mereka sudah benar-benar menguasai lokasi.
03:53Misalnya lokasi bawah tanah.
03:55Dan saya perhatikan mereka banyak belajar dari pengalaman kita.
03:58Perang-perang gerilya, mereka belajar dari bukunya Bapak Nasution.
04:05Dan juga mereka belajar dari pengalaman Vietnam.
04:08Jadi ini yang ditunggu oleh Iran sebenarnya.
04:10Perang asimetris di mana nanti darat itu benar-benar Iran yang menguasai wilayah akan mengungguli Amerika Serikat.
04:17Ya kan kalau perang darat ini belum terjadi.
04:21Perangnya masih jarak jauh.
04:23Amerika Serikat mengandalkan proksi-proksinya di Arab Teluk.
04:27Lalu Anda melihatnya apakah ini akan merugikan Amerika Serikat jika perang jarak jauh ini terlalu lama?
04:35Terkait dengan biaya perangkah atau seperti apa?
04:40Strategi yang Iran miliki itu memang hebat ya.
04:43Dia mengandalkan peluru kendali balistik ya.
04:46Itu ada yang jarak pendek.
04:49Misalnya jarak pendek itu sekitar 200 kilo.
04:52Kemudian jarak menengah itu 750 sampai 1.000 kilo.
04:57Jarak jauh itu sampai 3.500 kilo.
04:593.500 kilo ini yang akan menyasar Israel.
05:03Dan peluru kendali Iran itu memang sudah terarah.
05:07Bahkan sebelum terjadinya perang darat,
05:12Iran itu sudah menyasar wilayah-wilayah mana yang dianggap itu membahayakan.
05:17Misalnya dia tahu di Kuwait itu masih ada instalasi yang siap dengan perang laut.
05:24Kemudian dia juga sudah melihat bahwa ada destroyer yang berada di sekitar Kuwait misalnya.
05:34Dan juga dia sudah melihat bahwa kapal-kapal perang Amerika Serikat itu walaupun bukan lagi levelnya adalah kapal Induk,
05:41tapi sudah mulai berkeliaran juga di sekitar Kuwait, di sekitar Syria, di sekitar Jordan.
05:49Dan tentunya mereka itu sasarannya adalah ke Iran.
05:51Dan untuk itu Iran sudah siap dengan peluru kendali yang sudah sangat terarah.
05:56Kalau saya bertemu dengan para pakar-pakar dari Iran, mereka mengatakan we will win.
06:02Mereka sangat percaya sekali, we will win.
06:04Dan karena mereka yakin Amerika Serikat itu tidak berani melakukan serangan darat.
06:07Karena mungkin mereka akan menurunkan tank.
06:10Mungkin mereka akan menurunkan perangkat-perangkat seperti peluru howitzer.
06:16Tapi Iran sudah siap dengan dukungan dari setahun lalu dari China dan Rusia.
06:23Sehingga mereka sudah menyiapkan perangkat-perangkat anti-tank yang tepat guna untuk wilayah gurun pasir.
06:30Jadi ini yang ditunggu-tunggu oleh Iran sebenarnya.
06:32Dan juga teknologi pemantauan Iran sudah banyak sekali yang melakukan modifikasi
06:37dari teknologi pemantauan yang dibuat oleh Rusia dan China.
06:40Nah, jadi kalau saya berbicara dengan pakar-pakar dari Iran, mereka mengatakan teknologi mereka itu benar-benar asli.
06:47Sehingga sulit disabot oleh teknologi barat.
06:50Terkait dengan penembakan kapal Irisdena yang baru pulang latihan bersama di India, di perairan Sri Lanka.
07:00Ini Anda melihatnya apa yang terjadi? Apakah ini Iran kecolongan kah atau seperti apa?
07:06Saya pikir Iran kecolongan ya, karena mereka berpikir wilayah di sekitar Asia Selatan itu aman.
07:13Tapi ini sebenarnya juga potensi bahwa perang ini bisa meluas ke wilayah Indo-Pasifik.
07:19Dan ini yang kita perlu hati-hati sekali.
07:21Karena di wilayah Indo-Pasifik itu banyak sekali pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat.
07:26Misalnya mulai dari Guam, dari New Zealand, dari Australia, dari Korea Selatan, di Jepang, kemudian sampai ke Taiwan.
07:34Ini sangat riskan sebenarnya, kalau misalnya perang sampai meluas ke situ.
07:40Karena dalam hal terjadinya, Amerika Serikat mengatakan serangan pada kami adalah serangan juga kepada mitra-mitra kami yang strategis di
07:49Indo-Pasifik.
07:49Kalau Trump berani memaksakan hal seperti ini, maka akan ada aliran besar-besaran dari wilayah-wilayah Indo-Pasifik ke Timur
07:57Tengah.
07:57Dan otomatis mereka akan melewati alur laut ke Pulauan Indonesia, Alki I, Alki II, dan Alki III.
08:03Dan ini merupakan suatu masalah yang sangat besar bagi Indonesia di kemudian hari.
08:07Saya sangat berharap hal ini tidak terjadi.
08:10Ini juga terkait dengan isu yang ramai, terkait dengan false flag.
08:15Seperti serangan di pangkalan Inggris di Siprus, serangan ke Azerbaijan juga.
08:20Yang dituduh adalah dilakukan oleh militer Iran.
08:24Namun, klaim dari Iran sendiri tidak ada serangan ke arah sana.
08:27Ini Anda melihat apakah mungkin false flag ini adalah salah satu strategi perang?
08:32Ataukah bagaimana Anda menganalisis ini?
08:36False flag ini adalah hal yang lazim ya.
08:39Bahwa seolah-olah saya tidak bertanggung jawab atas yang terjadi, yang terjadi.
08:44Tapi yang pelakunya adalah lawan saya.
08:46Ini mungkin sekali.
08:47Dalam dunia intelijen, pembuatan bukti palsu itu sangat mudah.
08:51Kemudian juga perancangan skenario seolah-olah ada skenario yang berhasil dibocorkan.
08:59Itu juga mungkin.
09:00Cuma masalahnya, dengan tingkat stres yang sangat tinggi ini,
09:06ternyata angkatan bersenjata di luar Iran, di luar Amerika, dan juga di luar Israel,
09:14juga semakin peka.
09:15Karena mereka tidak mau terjebak dalam hal-hal yang merugikan mereka kelak.
09:18Karena itu mereka melakukan penelitian mendalam,
09:21dan dari situ mereka mengetahui bahwa pelakunya bukanlah yang dituduhkan oleh kalangan-kalangan Amerika Serikat maupun Israel tersebut.
09:28Dan tentunya Iran juga cukup bukti,
09:30karena dalam teknologi perang sekarang,
09:33jalur-jalur satelit itu sudah bisa dipetakan.
09:35Dan untuk itu, inilah bantuan terhebat daripada Rusia dan China sejak dua tahun terakhir.
09:41Dan untuk itu, dalam hal diperlukan pertukaran bukti,
09:45saya pikir Iran sudah siap untuk itu.
09:47Oke, Amerika mengatakan siap perang jangka panjang,
09:51namun Iran juga mengatakan tidak mau untuk berdialog lagi.
09:54Kalau konflik terus meningkat, negara atau aktor mana saja yang paling berpotensi ikut terlibat dan mengapa?
10:00Ini yang kami tunggu jawaban dari Anda.
10:02Selesai jeda.
10:04Saudara, kita masih bersama Breaking News Kompas TV.
10:07Masih membahas eskalasi perang yang terjadi di Timur Tengah antara Iran versus Israel dan Amerika Serikat.
10:15Dan kita masih bersama dengan Tegu Reza Shah, dosen Hubungan Internasional Universitas Pajajaran.
10:22Pak Reza, masih bersama kami?
10:23Siap, selamat pagi.
10:25Selamat pagi, Pak Reza.
10:26Jika konflik terus meningkat, karena Amerika Serikat bilang siap perang panjang, empat pekan lebih.
10:31Iran juga di sisi lain mengaku tidak mau untuk berdialog lagi karena mereka merasa kecewa karena saat perundingan serangan datang
10:40tiba-tiba Sabtu lalu.
10:42Kalau konflik ini terus meningkat, negara atau aktor mana saja yang mungkin berpotensi ikut terlibat?
10:50Kalau bicara potensi, itu secara teori memang mungkin ya.
10:54Tapi saya mencoba melihat bagaimana kesiapan negara-negara tersebut saat ini.
10:58Misalnya Mesir, Mesir itu sedang menghadapi masalah ekonomi.
11:02Ini dampaknya besar sekali terperang terhadap industri pariwisata mereka.
11:06Yang mereka lakukan sekarang adalah mengendalikan turusan Suez Canal, agar kapal-kapal itu bisa lewat wilayah tersebut.
11:13Kemudian juga Mesir itu saat ini tergantung pada bantuan dari Amerika Serikat.
11:20Hanya untuk jaga-jaga, karena Mesir juga terus-teran tidak siap untuk itu.
11:24Kemudian juga saya mencoba melihat Syria.
11:27Syria hanya bergerak di sekitar perbatasan dia dengan Lebanon dan Irak.
11:31Hanya untuk mencegah, jangan sampai ada infiltrasi dari Iran masuk.
11:37Kemudian saya juga melihat di Occupied West Bank.
11:40Occupied West Bank ini berada di bawah kendali Israel.
11:44Jadi tampaknya dari situ juga tidak.
11:46Mereka sulit menggabungkan diri dengan Iran.
11:50Kemudian saya juga melihat di Mesir.
11:52Mesir masih sibuk dengan perbatasan dengan Rafah.
11:56Jadi saya belum melihat negara-negara timur tengah itu sekitar Iran itu akan bergabung untuk melawan Iran.
12:03Walaupun kampanye itu luar biasa dari Amerika Serikat dan Israel.
12:08Mesir mengkampanyekan Sunni lawan Siah.
12:11Kemudian melakukan juga kampanye-kampanye perihal keburukan Iran di dalam negeri itu.
12:17Terutama sekali Iran yang tidak berhasil mengelola kelompok-kelompok minoritas.
12:23Kemudian Iran yang tidak bisa mengendalikan wilayah perbatasannya.
12:27Jadi ini yang terjadi saat ini.
12:29Dan yang paling menarik adalah Amerika Serikat dan Israel itu mencoba menggalang solidaritas dari kelompok-kelompok minoritas di Iran.
12:41Seperti kelompok Azerbaijan, kelompok Kurdi, kelompok Lurs, kelompok Balukistan, dan kelompok-kelompok Arab.
12:47Dan sementara memang ini perang ini dipaksakan untuk Iran dari luar dan juga dari perbatasan.
12:55Dan untuk itu Iran terus terang sedang kelabakan saat ini.
13:01Tapi bagaimanapun juga ya ini adalah yang harus mereka lakukan.
13:0540 hari berkabung ini ternyata berkabung dengan penuh kesiagaan.
13:11Tapi bagaimanapun saya perhatikan Iran itu sudah siap dengan perang jangka panjang.
13:16Karena selama dua tahun terakhir mereka memperbanyak pembuatan drone dan pembuatan peluru kendali.
13:21Bahkan sampai peluru kendali balistik sekalipun.
13:24Ya untuk keserangan udara, Iran tampaknya siap dengan drone dan juga balistiknya.
13:30Lalu penembakan torpedo Amerika Serikat yang menenggelamkan Iris Dena di perairan Sri Lanka ini membuka diskusus tersendiri Pak Reza.
13:39Soal bagaimana di perairan. Seperti apa sebenarnya kekuatan militer Iran kalau di laut?
13:46Kalau saya perhatikan itulah kelemahan Iran.
13:48Lemah di laut dan lemah di darat.
13:50Walaupun mereka memiliki teknologi asli Iran ya.
13:55Tapi mereka selama ini memang sudah mencoba melakukan pendalaman atas teknologi-teknologi yang asli tersebut.
14:05Saya mencoba melihat bahwa memang mereka berhasil tapi belum combat proven begitu.
14:11Kalau misalnya di pesawat udara mereka masih memberdayakan pesawat-pesawat lama.
14:17Misalnya pesawat F-5 Amerika Serikat yang serinya Phantom itu memang direkayasa untuk menjadi model Iran dengan nama Azarax.
14:26Kemudian pesawat-pesawat dari reconnaissance memang sudah ada.
14:32Model-model tua dari Amerika Serikat dengan nama misalnya Chakafak gitu ya.
14:36Kemudian ada juga pesawat-pesawat latih bekas Amerika Serikat maupun bekas Rusia.
14:43Tapi direkondisikan oleh Iran dengan nama Fajr F-3.
14:48Saya harus akui terlambat bagi Iran untuk membeli pesawat-pesawat dari Cina misalnya pesawat J-10 atau J-20.
14:56Tapi entah mungkin ke depan mereka akan lakukan itu.
15:00Dan untuk itu saya memiliki data bahwa memang mereka lemah di laut dan lemah juga di udara.
15:08Dan memang kandasnya kapal laut Iran itu memang sesuatu hal yang tidak mereka fikirkan.
15:20Karena mereka berpikir ini lokasinya jauh dari wilayah tempur.
15:23Tapi ini adalah resiko dan untuk itu rakyat Iran sekarang sedang berduka atas wafatnya sekitar 75 personil angkatan laut tersebut.
15:31Oke Pak Reza kalau dalam kajian hubungan internasional kita berharapnya tentu global berharap perang ini berakhir dan juga tidak berpengaruh
15:42panjang dan signifikan terhadap geopolitik dan juga ekonomi.
15:47Biasanya konflik seperti ini akan berakhir kemungkinan melalui skenario apa?
15:51Kemenangan militer salah satu pihakkah atau negosiasi yang akhirnya terjadi atau sementara dengan gencatan senjata seperti apa analisis Anda?
16:02Amerika sudah punya skenario ya.
16:05Pertama skenario mereka menyerang dan Iran menyerah.
16:12Itu satu.
16:13Karena ini Trump itu maunya begitu.
16:15Mengganti rezim.
16:16Dan syaratnya adalah rezim tersebut ditundukkan.
16:22Sudah dicoba ditundukkan pada hari Sabtu lalu tapi ternyata tidak berhasil.
16:26Karena pemerintah Iran itu sangat kompak.
16:28Sebab antara rakyat dan pemerintah itu ada sistem namanya merjai taklit.
16:32Di mana rakyat itu tidak mengkhianati negara mereka.
16:36Dan mereka berpikir kami sudah bertahan lebih dari 3.000 tahun di muka bumi ini.
16:40Masa harus menyembah-nyembah satu negara yang berdiri pada tahun 1776 silam.
16:46Tapi bagaimanapun skenario Donald Trump adalah namanya itu unconditional surrender.
16:53Jadi menyerah tanpa syarat.
16:56Kemudian skenario kedua adalah skenario Maduro.
17:00Skenario Maduro itu melakukan operasi intelijen setelah mereka berhasil melemahkan loyalitas pasukan-pasukan garda revolusi.
17:09Kemudian skenario ketiga Amerika Serikat adalah mengembalikan dinasti.
17:14Dan mereka sudah siap dengan seorang raja yang anak dari Syahan Syah Muhammad Reza Pahlevi Aryamer Sirus.
17:21Dan nama raja ini adalah Reza Sirus.
17:24Dan Reza Sirus ini sumpahnya sudah jelas.
17:26Akan mengembalikan Iran ke masa demokrasi.
17:30Dan membuka hubungan diplomatik seluas-luasnya dengan Amerika Serikat.
17:33Dengan Israel dan negara Uni Eropa.
17:35Dan menyerahkan penguasaan minyaknya kepada perusahaan-perusahaan Amerika.
17:40Ini yang sangat diharapkan oleh Amerika Serikat itu.
17:45Kembalinya seorang dinasti.
17:46Dan skenario yang selanjutnya adalah mengganggu terus masyarakat.
17:50Karena masyarakat Iran saat ini terus terang sedang susah.
17:54Dalam suasana berduka.
17:55Dan juga mereka melihat sumber-sumber ekonomi mereka itu sangat rusak ya.
18:01Dan untuk itu Amerika Serikat tampaknya akan terus mengupayakan agar ada pemberontakan dari dalam.
18:07Sekecil apapun itu.
18:08Tapi dikampanyekan kepada luar negeri.
18:10Dan nanti terutama di arah perbatasan ya.
18:14Di wilayah perbatasan barat.
18:15Ini uniknya Iran.
18:17Perbatasan baratnya itu panjangnya di barat itu 1.600 km.
18:21Perbatasan di timur laut itu 1.200 km.
18:25Perbatasan timur itu hampir 1.000 km.
18:27Perbatasan di Tenggara dengan Pakistan itu 900 km.
18:33Perbatasan dengan Turki dengan di barat daya itu sepanjang 534 km.
18:38Kemudian perbatasan dengan Azerbaijan sepanjang 432 km.
18:43Perbatasan dengan Armenia adalah 44 km.
18:45Dalam kondisi seperti itu tersebut akan banyak masyarakat-masyarakat asli.
18:50Asli Irak, Turkmenistan, Afganistan, Pakistan maupun Turki yang belum tentu satu ide dengan pemerintah pusat.
18:57Dan secara teori yang bisa dilakukan adalah melakukan gangguan.
19:01Kemudian nanti seolah-olah terkesan terjadi kekacauan.
19:07Misalnya kekacauan itu adalah kriminal.
19:09Terjadi adalah etnik cleansing.
19:11Ataupun ada kejahatan-kejahatan genosida oleh pemerintah Iran.
19:15Dan nanti dari situlah merupakan pintu masuk untuk menerapkan satu prinsip PBB yang namanya responsible to protect.
19:21Dan ini ya.
19:22Terus sekarang ini ya Iran sangat kuatirkan itu.
19:24Di mana dalam kondisi sedang susah ini perbatasan dia itu digoyang.
19:27Dan ini merupakan ancaman tersendiri bagi Iran.
19:31Dan Amerika Serikat tahu persis bahwa mereka akan masuk ke Iran lewat penguasaan perbatasan-perbatasan Iran tersebut.
19:39Oke.
19:39Pak Reza kita ke soal perundingan antara kedua belah pihak.
19:45Dan di sini Indonesia menawarkan diri untuk menjadi mediator.
19:50Banyak pihak yang meragukan terkait dengan kemampuan kita untuk masuk ke dalam pusaran perang ini.
19:57Lewat jalur mediasi.
19:59Namun pemerintah kemarin juga disebutkan oleh salah satu tokoh yang diundang oleh pemerintah.
20:05Yaitu Prof. Jimli Asidiki mengatakan Indonesia di sini bisa menjadi global player.
20:11Seperti itu.
20:11Tidak bermain sendiri tapi berangkul sejumlah negara.
20:14Untuk masing-masing diberikan tugas untuk berdialog dengan negara terlibat konflik.
20:21Seperti Amerika, Israel dan juga Iran.
20:23Sementara Iran sendiri tidak membuka pintu untuk dialog terkait dengan perang ini.
20:28Sementara Indonesia lebih baik berdialog dengan siapa?
20:32Apakah Amerika Serikat ataupun mencoba untuk terus membuka jalur komunikasi dengan Iran?
20:40Pertama kita harus menghargai ya upaya Indonesia untuk menjadi mediator.
20:46Karena ada amanah konstitusi itu.
20:48Amanah konstitusi untuk terus memelihara perdamaian dunia.
20:52Juga kita melihat bahwa ada mandat dari KTT, Liga Arab, dan Organisasi Konferensi Islam bulan November tahun 2023.
21:02Itu meminta Indonesia dan beberapa negara seperti Turki, Arab Saudi untuk benar-benar memerhatikan masyarakat Palestina.
21:10Dan sekarang memang sudah terdapat kedekatan emosional antara Indonesia dengan Turki.
21:16Cuman masalahnya dalam melakukan perundingan tersebut, dalam menjadi mediator, itu kan ada prakondisi.
21:23Kita kan belum tanya sama Iran prakondisinya apa.
21:26Karena bagi Iran prakondisi itu bukan hanya militer, tapi juga budaya.
21:31Misalnya Amerika Serikat sudah lama memberikan sanksi.
21:35Sanksi itu harus dicabut dulu.
21:38Kemudian Amerika Serikat senantiasa menganggap remeh Ayatullah Iran yang wafat.
21:45Menggunakan kata-kata yang sangat karas, yang bagi Iran itu sangat kasar.
21:49Menyebutnya Ayatullah kami itu sebagai teroris, Ayatullah kami itu gemar membunuh.
21:58Jadi ini adalah hal-hal yang Iran tidak kendaki.
22:01Kemudian pada saat yang sama juga Iran akan menolak kalau hak dia untuk bertahan itu diganggu.
22:07Karena selama ini Iran mengatakan, kami tidak akan bergerak menuju nuklir untuk bersenjataan.
22:13Kami sangat setia pada International Atomic Energy Agency dan juga kami sangat setia pada aturan-aturan Non-Nuklir Proliferation Treaty.
22:21Bahkan Ayatullah sudah mengharamkan penggunaan nuklir untuk tujuan perang.
22:24Jadi ini adalah kondisi-kondisi yang akan Iran yakinkan dulu bahwa Amerika Serikat akan menerima prakondisi tersebut.
22:32Kemudian juga Amerika Serikat itu juga sangat keras.
22:35Mereka menghendaki perubahan regime.
22:36Jadi kalaupun nanti kita berdialog dengan Iran maupun dengan Amerika Serikat dan kita menyertai, berkinerja bersama Turki,
22:47maka ini adalah tantangan pertama yang harus dilakukan.
22:49Pada saat yang sama juga Iran akan melihat setulus apa Indonesia melakukan itu.
22:54Karena tentunya Iran mengatakan, kami ini sudah berunding dengan mereka.
22:57Pada saat perundingan Joint Comprehensive Plan of Action, Amerika Serikat itu yang menggagalkannya.
23:09Dan sekarang pada saat kami akan mencapai persetujuan yang disuruhi seprofesi oleh PBB,
23:14Amerika Serikat kembali melanggar itu.
23:17Jadi harus ada jaminan dulu.
23:18Kita harus bisa berdialog dengan Amerika Serikat bahwa
23:22kalau ini, kalau benar-benar Anda percaya pada kami, maka ini adalah prakondisi.
23:28Iran minta, apakah Anda tidak akan ingkar janji?
23:30Dan untuk itu kan tidak mudah.
23:33Sebelum kita berbicara soal sebagai mediator,
23:37kita hendaknya juga benar-benar menguasai persyaratan untuk prakondisi.
23:41Prakondisi sebelum menjadi mediator.
23:43Dan untuk itu, selain kesiapan Indonesia untuk menurunkan diplomat-diplomat terbaiknya,
23:48juga Indonesia hendaknya sudah mempersiapkan studi.
23:51Bagaimana studi kita untuk tahapan sebagai negosiator ini?
23:56Tahapan misalnya satu bulan pertama,
23:58tahapan satu bulan kedua,
24:01dan juga ketiga misalnya.
24:02Karena selama ini perjanjian yang dibuat oleh Iran dan Amerika Serikat itu
24:05dibatalkan pada tahap ketiga.
24:07Dan untuk itu kan kita harus terbuka dengan Iran.
24:09Dan kita terbuka juga dengan Amerika Serikat.
24:12Dan terbuka juga dengan dunia.
24:14Bahwa kami ini adalah juru runding yang handal,
24:18yang tidak berpihak.
24:19Dan untuk itu, terus terang tidak mudah.
24:22Tapi ini merupakan amanah konstitusi untuk melakukan itu.
24:25Baik kekecewaan Iran karena diserang saat sedang berunding,
24:30juga menjadi tantangan tersendiri bagaimana masuk untuk berkomunikasi
24:34terkait dengan penyelesaian perang ini melalui jalur negosiasi.
24:37Pak Reza.
24:38Pak Reza, kita harus tutup.
24:41Kita akan berdialog lagi di kesempatan lain.
24:44Terima kasih.
24:45Tegu Reza Syah, dosen hubungan internasional,
24:47Universitas Pajajaran,
24:49sudah berbagi paparannya bersama kami di Breaking Dios Kompas TV.
24:52Terima kasih Pak Reza.
24:54Terima kasih kembali.
24:55Terima kasih.
24:55Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan