Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik Kementerian Kelautan dan Perikanan yang belum mengoptimalkan alokasi anggaran pembelian kapal.

Kritikan Purbaya dibalas Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono di media sosial.

Dua menteri saling sindir, kita akan bahas bersama Politisi Partai Golkar Ahmad Irawan dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Baca Juga Gaduh Saling Sindir soal Dana Kapal, Menkeu Purbaya: Pak Trenggono Sahabat Saya di https://www.kompas.tv/nasional/650329/gaduh-saling-sindir-soal-dana-kapal-menkeu-purbaya-pak-trenggono-sahabat-saya

#menkeu #purbaya #kkp

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/650384/saling-kritik-menkeu-vs-menteri-kp-pengamat-dan-politisi-kritisi-gaya-komunikasi-koboi-purbaya
Transkrip
00:05Dua Menteri Kabinet Merah Putih, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa dan Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono saling sindir secara terbuka.
00:16Awalnya Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengkritik Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP yang belum mengoptimalkan alokasi anggaran pembelian kapal.
00:26Menkyu bilang menerima aduan dari pengusaha industri kapal dan galangan kapal dalam negeri yang sampai saat ini belum mendapatkan pesanan
00:36dari KKP.
00:37Padahal kata Purbaya tambahan anggaran yang diminta oleh KKP ke Kementerian Keuangan sudah disetujui dan cair.
00:57Organnya enggak ada, ini apa-apaan. Ini mungkin kalian kurang aktif apa gimana nih?
01:05Kenapakah kami belum orang dan belum ada-ada di sana? Kan kita mau orang-orang teman ekonomi.
01:10Wah, apa saya anggarin kok. Luki saya pak.
01:16Bukan hutang bisa diselukasi, enggak dipakai. Terus kalau depan presiden selalu bilang, ada.
01:23Kalau saya lihat kondisi galangan kapal domestik, mungkin sepas ratus, mungkin lebih sedikit lagi.
01:32Malah hanya harganya mahal, bahan bakunya mahal, dipajakin, segala macam.
01:39Kan saya tetap saya kalau itu. Saya kalau itu, kalau kalau itu saya suruh diri kalau itu.
01:45Tidak lama kritik Purbaya langsung dibalas Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Terenggono lewat media sosial.
01:52Yang terhormat Menteri Keuangan, bahwa dana untuk pembangunan kapal tersebut bersumber dari pinjaman luar negeri dari pemerintah Inggris.
02:00Coba Anda tanya dulu deh sama anak buah Anda. Bener nggak tuh uang kapal sudah dikucurkan?
02:08Tanggapan dari sakti ini kembali di respons Purbaya.
02:11Dia bilang ucapannya mengenai tidak ada pesanan kapal KKP.
02:14Ia simpulkan dari pengecekan yang ia lakukan di galangan kapal.
02:18Saya nggak tahu kan dia suka promosi kapal banyak.
02:22Saya cuma cek kan ke galangan, ada nggak yang di order?
02:27Ya belum, berarti kan belum ada pesanan ke sana.
02:30Mau dibikin tangan kapan saya nggak tahu.
02:32Yang betul Pak Atarenggono mungkin saya datanya salah.
02:35Kan sebagian uangnya kata pinjaman.
02:38Tapi pinjamannya warna kan awal kita juga kan, tetap aja.
02:41Sekarang yang diturunkan berapa Pak?
02:42Saya nggak tahu, angkanya berubah-ubah terus.
02:45Yang penting gini, ketika ada program tadi pembuatan kapal,
02:50cepat dilunjukkan ke bawah.
02:53Dua menteri saling sindir secara terbuka di depan publik
02:56menimbulkan pertanyaan soal koordinasi antar kementerian
03:01dan juga soliditas Kabinet Merah Putih.
03:04Tim Liputan, Kompas TV.
03:09Dua menteri saling sindir.
03:11Kita akan bahas bersama politisi Partai Gulkar Ahmad Irawan
03:14dan Direktur Eksekutif Carta Politika Yunarto Wijaya.
03:17Selamat malam, Mas Kirawan.
03:19Malam, malam, malam.
03:20Toto, malam, malam.
03:21Malam, Mas Rady.
03:23Malam, Mas Kirawan.
03:24Halo, Mas. Malam.
03:25Saya ke Anda dulu, kalau melihat apa yang kita saksikan tadi,
03:31ini lebih kepada saling kritik, saling mengoreksi,
03:34atau jangan-jangan ada ketidakcocokan antar menteri?
03:39Anda sebagai partai pendukung Pak Prabowo dan Gibran,
03:43terutama juga yang ada di Kabinet, bagaimana melihat ini?
03:46Kalau saya sih melihatnya bahwa ini kan berangkat dari Pak Pulbaya mengecek di lapangan gitu,
03:54dan kemudian direspon oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Pak Trenggono.
04:00Jadi sebenarnya ini bukan persoalan soliditas.
04:04Ada tiga hal setidaknya memang yang mungkin bagi media ini menarik.
04:08Yang pertama tadi itu kaitannya dengan persoalan komunikasi dan koordinasi tadi.
04:13Jadi bukan persoalan soliditas Kabinet.
04:17Yang kedua adalah persoalan etika tadi,
04:20artinya kritik yang disampaikan di depan publik atau dalam forum itu tadi,
04:24atau Pak Trenggono-nya kemudian merasa tersinggung, disentil.
04:31Yang ketiga itu adalah kaitannya dengan kewenangan itu sendiri.
04:36Dan memang kalau, ya saya sih memperhatikan ya,
04:39yang dilakukan oleh Pak Pulbaya memang kadang-kadang seringkali menyederhanakan persoalan
04:46atau kemudian menyerempet-menyerempet kementerian lain.
04:51Dengan kata-kata Anda lebih melihat gaya komunikasinya Pak Pulbaya ini yang harusnya jangan seperti ini?
04:57Ya, saya sih menilai begitu.
05:00Dalam perspektif saya, Pak Pulbaya mestinya tidak seperti itu.
05:04Harusnya kan bisa dilakukan pengecekan.
05:08Apalagi kemudian kalau kita kaitkan dengan sumber pendanaan dari pengadaan kapal tersebut
05:14berasal dari hibah atau pinjaman luar negeri,
05:18setahu saya bahwa kaitannya dengan hibah atau pinjaman tersebut itu kan baru tuh.
05:22Kalau dikaitkan dengan kunjungan presiden ke Inggris dan kemudian pinjaman itu dari Inggris.
05:28Seharusnya pinjaman tersebut, dana hibah tersebut,
05:31karena masuk dalam mekanisme APBN harusnya ada persetujuan terlebih dahulu dari DPR
05:38terkait dengan pinjaman dana hibah tersebut dan kemudian Kementerian Kelautan setelah disetujui Kementerian Kelautan secara teknis melakukan eksekusi terhadap program.
05:47Jadi memang proses pengecekan yang dilakukan oleh Pak Purbaya memang termasuk relatif sangat cepat.
05:53Oh berarti sebenarnya ada manfaatnya pengecekan itu cuma cara komunikasinya yang Anda soroti ya soal...
06:00Iya harusnya kan bisa diselesaikan dalam rapat kabinet atau koordinasi komunikasi di Inggris Kementerian.
06:07Ini yang akan saya tanyakan ke Mas Soto. Mas Soto seharusnya diselesaikan di internal kabinet.
06:13Nah kalau sudah ada di ruang publik ya yang muncul akhirnya persepsi publik adalah ini ada friksi, ini ada ketidak
06:19solitan antar menteri.
06:21Perlu nggak presiden sebenarnya menengahi atau berbicara untuk menengahi masalah-masalah seperti ini?
06:27Nggak perlu. Presiden itu fungsinya bukan... itu sebenarnya tugas dari Manchester ya kalau bicara secara organisasi.
06:33Tapi yang ingin saya kampaikan ada tiga, ada beberapa poin lah. Yang pertama, ini kan sebenarnya satu contoh saja loh.
06:38Asumsi bahwa manajemen organisasi yang jumlahnya lebih besar, yang isinya lebih banyak orang, itu lebih punya potensial konflik.
06:48Dan itu yang dari awal kan dikritik dengan Pak Prabowo yang menempatkan jumlah menteri terbanyak sepanjang sejarah setelah zaman Bung
06:54Karno.
06:56Potensi konflik ini akan lebih mungkin terjadi. Entah menteri partai. Ini untungnya tidak menteri partai ya.
07:01Kalau antar menteri partai, nanti isunya akan lebih rame lagi. Oh antar partai, gontok-gontokan dan lain-lain. Itu yang
07:07pertama.
07:08Yang kedua, kalau memang khusus berbicara mengenai Pak Prabowo dengan Mas Renggono, terutama terkait Pak Prabowo ya.
07:16Sisi positifnya kita harus akui lah. Gaya komunikasinya ini membuat orang tertarik.
07:20Karena ceplas-ceplos, koboy, tidak normatif, dan orang cenderung ingin kemudian mendengarkan.
07:25Gaya selepetannya itu membuat orang ingin tahu gitu ya, apa yang sedang dilakukan oleh para menteri.
07:31Tapi di sisi lain, seringkali, kalau saya lihat bukan gaya komunikasinya, tidak diikuti oleh substansi yang benar.
07:38Sehingga lebih banyak menimbulkan polemik.
07:40Ini bukan pertama kalinya loh.
07:42Akhirnya dikritik kembali oleh, yang diselepet oleh Pak Purbaya.
07:46Pak Purbaya akhirnya meminta maaf lewat media juga.
07:50Contoh lain misalnya perdebatan dengan beberapa kepala daerah.
07:53Termasuk dengan Deddy Mulyadi, yang dianggap ada uang mendidikan di bank.
07:57Ternyata perbedaannya adalah kacamata bahwa mendidikan di bank ini bukan berarti kemudian di deposito saja.
08:04Tapi juga di giro operasional.
08:06Yang itu lumrah dijalankan oleh kepala daerah dalam konteks menjalinkan pemerintahan.
08:12Jadi poin saya, Pak Purbaya banyak sekali masyarakat yang senang dengan gaya komunikasi Anda yang seplos-seplos.
08:18Mungkin orang suka dengan gebrakan-gebrakan Anda.
08:21Tapi hati-hati loh.
08:22Peran dari Menteri Keuangan itu harusnya lebih berhati-hati ketika kemudian mengeluarkan sebuah statement.
08:28Karena ini terkait dengan semua kementerian.
08:31Contoh, jangan banyak bikin janji juga.
08:34Misalnya dengan mudah mengatakan, nanti gampang 6% pertumbuhan ekonomi.
08:38Itu akan efeknya gede.
08:40Pengusaha, market, masyarakat berhitung didasarkan pada keyakinan menteri ketika tidak tercapai.
08:45Efeknya bukan sekedar janji pacar kepada pacarnya untuk kemudian tidak terrealisasi.
08:51Ini efeknya kepada segeru masyarakat.
08:53Yang kedua, misalnya ketika kita tahu ada off-site.
08:55Misalnya ketika ada kritik dari Citigroup.
08:58Ekonomi Citigroup, Pak Purbaya misalnya mengatakan dia baru master, saya PhD.
09:03Itu menurut saya bukan sebuah etika yang baik dari seorang Menteri Keuangan.
09:08Terlepas ada sisi positif yang harus diakui muncul dari sosok Pak Purbaya dengan geberakannya.
09:12Yang ketiga, ada hal yang substantif ini, Mas Radi.
09:15Kenapa sih perdebatan ini seringkali terjadi?
09:18Misalnya antara Menteri Keuangan dengan Kepala Daerah, Menteri dengan Menteri saat ini.
09:23Pertanyaan mendasarnya kalau kita lihat ya, termasuk dalam konteks BPJS, dan yang diendapkan.
09:28Pertanyaannya adalah ketika Pak Purbaya terus-menerus mengatakan uang saya banyak.
09:33Sebenarnya pemerintah punya uang.
09:35Uangnya kan bukan punya Pak Purbaya gitu ya, tapi punya negara.
09:39APBN itu sedang ada problem cash flow atau enggak sih?
09:42Sehingga kemudian muncul masalah-masalah ini.
09:45Jadi itu juga bagian dari jangan terlalu cepat untuk mengatakan uang saya banyak.
09:49Karena pada ketik itu ekspektasi dari publik terkait terlaksananya program, tidak dipotongnya program-program,
09:56program pemerintah yang lain, itu pasti akan muncul.
10:00Sementara faktanya yang sekarang sedang terjadi adalah sebaliknya.
10:04Oke, Pak Purbaya tuh sering bilang ya, rugi dong gue, rugi dong gue kalau ngomong soal keuangan.
10:09Ini memang gayanya yang seringkali dilontarkan di depan publik.
10:13Tapi begini, saya akan bertanya juga ke Bung Irawan.
10:17Pak Purbaya ini disukai publik ya?
10:19Meskipun ceplas-ceplos, kadang-kadang gayanya koboy seperti Mas Soto bilang tadi.
10:23Tapi publik menyukai ini karena kadang-kadang ya to the point,
10:26meskipun tadi Mas Soto bilang secara substansi harus lebih ditelah lagi.
10:32Apakah sudah tepat berbicara seperti itu atau tidak.
10:34Nah, tapi dari sini bisa terlihat bahwa publik berada di barisannya Pak Purbaya
10:39karena kita tidak bisa menafikan bahwa publik agak a priori terhadap partai politik.
10:45Nah, apa yang harusnya bisa dilakukan partai politik,
10:48terutama menteri-menteri yang berasal dari partai politik.
10:50Saya akan tanyakan hal itu nanti setelah jadah di Sapa Indonesia Melantok Talbot bersama kami.
11:03Menkyu versus Menteri KKP yang saling sindir.
11:05Tapi sepertinya sudah selesai ya, karena terakhir saya lihat media sosialnya Pak Terenggono.
11:10Ini sudah bilang, that's all folks, back to work.
11:13Sudah selesai ini, back to work.
11:15Ini karena memang sepertinya ingin saja memberikan reaksi ketika Pak Purbaya menembak
11:19menteri-menteri yang dinilainya tidak bisa kooperatif.
11:21Tapi itu versinya Pak Purbaya.
11:22Tapi begini, tadi saya tanyakan ke Bungi Rawan.
11:25Bahwa Purbaya ini disukai oleh publik, disukai oleh netizen lah kalau katakan di media sosial.
11:31Karena ya itu tadi, cepas-ceplos dan sering menyasar menteri-menteri yang berlatar belakang partai politik.
11:38Kadang-kadang juga kan dari partai politik.
11:39Dan partai Golkar punya beberapa menteri di kabinet.
11:42Yang ini saya tanyakan, apa yang ingin partai perbaiki ketika publik lebih memilih sosok Purbaya dibandingkan partai politik?
11:53Kami tentu juga senang mendengar kalau Pak Purbaya kemudian disenangi oleh publik gitu.
12:00Bagi kami tidak ada perbedaan antara menteri dari partai atau menteri dari partai.
12:06Yang ada menteri dari kabinet merah putih.
12:09Tetapi yang perlu jadi introspeksi dan kemudian juga yang dimasukkan buat Pak Purbaya itu adalah bahwa
12:15tidak cukup kemudian pernyataan-pernyataannya itu disenangi oleh publik.
12:19Tetapi juga dia harus correctness gitu.
12:21Jadi yang disampaikan juga harus benar gitu.
12:25Harus benar dan kemudian juga ikut menjaga anu tadi termasuk soliditas kabinet, etika, pemerintahan,
12:33terus kemudian prosedur supaya secara substansi yang disampaikan ke publik itu benar gitu.
12:39Supaya kemudian publik dalam menerima pesan itu juga bisa memahami gitu.
12:44Itu apa yang kemudian yang sedang dikerjakan oleh pemerintah.
12:47Jadi tidak ini, tidak terjadi saling menyalahkan antar menteri-menteri yang ada di dalam kabinet.
12:55Oleh karena itu penting untuk kembali mengingatkan Pak Purbaya,
12:58jangan menyederhanakan persoalan, optimisme itu penting.
13:02Tetapi kemudian data-datanya harus correctness gitu.
13:05Oke, tadi juga sempat disinggung oleh Mas Soto,
13:08soal substansi yang disampaikan juga jangan melenceng.
13:11Ini kadang-kadang memang agak nyambung ketika ada kritik yang disampaikan,
13:16selopetan tadi ya bahasanya Mas Soto, selopetan disampaikan oleh menteri tertentu,
13:20tapi ternyata salah sasaran.
13:21Ya, dulu ada kalau kita ingat tuh almarhum Pak Rizal Ramli, kepret.
13:33Oke, sekarang kita beranjak ke gaya komunikasi.
13:36Kalau memang ini kan sudah khasnya Pak Purbaya begitu Mas Soto,
13:40gaya komunikasinya begitu.
13:41Nah, dan publik suka, itu yang sekarang sedang digarisbawahi.
13:47Jadi, itu tadi, kalau meskipun publik suka, harus ada substansi yang diperbaiki.
13:52Jadi, bagaimana cara memperbaikinya dan menengahi jembatan komunikasi
13:56dengan menteri-menteri lainnya, terutama yang berantar belakang partai politik?
14:01Ketika Pak Purbaya sadar bahwa dia adalah saat ini superstar,
14:05orang ingin mendengarkan, pendukungnya banyak, netizen akan membicarakan,
14:09seharusnya itu dianggap oleh Pak Purbaya sebagai beban bahwa dia harus lebih correct
14:15untuk kemudian menyampaikan sesuatu.
14:18Jadi, dalam konteks ini, saya tidak mengkritik sama sekali gaya komunikasi Pak Purbaya.
14:24Itu menjadi secercah atau wasa ketika orang bosan.
14:28Alah, kalau yang namanya menteri, pejabat, elit, itu ngomongnya ada bahwasannya,
14:33normatik, yang saya hormati, yang saya muliakan, dan lain-lain.
14:36Orang kemudian ingin menjadi terlibat,
14:38karena jaraknya kemudian menjadi terasa lebih kecil gitu ya.
14:42Dalam konteks ini, menurut saya, itu hal yang baik.
14:45Tapi ketika tidak diirimi oleh correctness tadi,
14:48yang terjadi adalah kekiseruhan.
14:51Polemik, bukan dalam konteks orang kemudian membahas substansinya,
14:55tapi ngebelain Pak Purbaya saja.
14:58Sehingga kemudian orang akhirnya membenci siapapun yang terlibat dalam pro dan kontra dengan Pak Purbaya.
15:05Karena faktanya memang beberapa kali Pak Purbaya tidak menempatkan correctness itu.
15:10Nah, ini yang juga menurut saya tadi di poin ketiga ya,
15:13sebetulnya ada hal yang mendasar sekali Mas Radi.
15:15Kenapa sih perdebatan ini terjadi tadi Pak Purbaya dengan Kepala Daerah,
15:19lalu kemudian Kisru BPJS,
15:21lalu kemudian terkait dengan sekarang misalnya dengan KKP.
15:25Pertanyaannya sebenarnya duitnya beneran banyak gak sih?
15:27Seperti kata Pak Purbaya,
15:28kalau duitnya banyak, harusnya gak seperti ini.
15:31Saya yakin menteri-menteri juga senang,
15:33kalau duitnya banyak beneran, mereka eksekusi akan cepat.
15:35Tapi ketika kemudian duit dan cash flow-nya,
15:38saya berikan satu contoh ya,
15:39ketika kita berbicara mengenai Pak Purbaya mengatakan duitnya banyak,
15:43rata-rata dari Pemda,
15:44atau minimal saya udah mendengar langsung,
15:47Pemda Jawa Barat misalnya mengatakan masih ada hutang,
15:511 triliun lebih, sekitar 1,5 triliun,
15:54kalau saya gak salah,
15:54dari 2 tahun pemerintahan,
15:57di bulan 2024 dan 2025,
16:00yang memang berasal dari pemerintah pusat,
16:02dari DBH terutama ya,
16:04dana bagi hasil.
16:05Nah, itu yang menurut saya,
16:07Pak Purbaya juga,
16:08kalau Anda sudah dilihat netizen jujur,
16:10Pak Purbaya juga harus berani jujur,
16:11bagaimana kondisi keuangan kita sepenuhnya.
16:14Jangan setiap rapat dikatakan,
16:15uangnya ada, uangnya ada, uangnya ada,
16:18tapi pada akhirnya kita melihat,
16:19seakan-akan ada perebutan antara anggaran pos pendidikan dengan MBG,
16:23antara anggaran kesehatan dengan MBG,
16:26dan lain-lain.
16:26Kalau Pak Purbaya berani jujur,
16:28bahkan termasuk memberikan feedback yang baik kepada Pak Presiden,
16:32menurut saya itu baru luar biasa.
16:33Oke, terakhir saya ke Bung Irawan,
16:36kalau di DPR,
16:36DPR juga kan punya fungsi budget ya,
16:40sama-sama membicarakan ini dengan pemerintah.
16:42Selama ini dengan diskusinya DPR dengan pemerintah,
16:45mengingat tadi kata Mas Soto,
16:47uangnya ada, uangnya ada.
16:48Kalau Anda di DPR melihat,
16:50sebenarnya uang anggarannya ada nggak sih untuk kementerian?
16:53Ya pasti ada lah,
16:54anggarannya ada.
16:55Anggarannya ada.
16:55Anggarannya memang ada,
16:56cuma kan memang ada proses alokasi.
17:00Memang besar begitu,
17:01seperti yang dibilang Pak Purbaya.
17:03Besar ukurannya, Pak?
17:04Ya, anggaran kan Pak Purbaya,
17:06uang kita banyak gitu,
17:07uang kita banyak.
17:08Ini memang ada anggarannya untuk kementerian-kementerian ini?
17:11Ya, memang ada.
17:11Memang ada.
17:12Dan sebenarnya beberapa bulan lalu kan kami telah menetapkan APBN,
17:16masing-masing kementerian kan telah mendapatkan alokasi anggarannya.
17:19Itu ada.
17:21Tetapi dalam konteks yang diperdebatkan Pak Purbaya dengan Pak Trenggono,
17:26itu adalah kaitannya dengan Hiba atau pinjaman luar negeri itu.
17:30Dari sisi teknis sebenarnya,
17:32teknis penganggaran,
17:35uang itu belum ada di Kementerian Kewangan.
17:37Belum ada.
17:38Karena itu kan pinjaman Hiba yang semestinya,
17:41yang semestinya secara teknis,
17:43itu harus disetujui dulu oleh DPR.
17:46Jadi memang dalam konteks ini,
17:48bukan saya membela Pak Trenggono-nya,
17:51tetapi sistem itu menjelaskannya seperti itu.
17:54Harusnya disetujui dulu DPR pinjaman Hiba itu.
17:58Jadi bahan evaluasi sepertinya ya untuk Pak Purbaya,
18:01jika memang menyaksikan tayang ini,
18:03semoga ke depannya komunikasi yang terbangun
18:05dengan berbagai menterian juga lain.
18:06Mas Rady, 10 detik aja.
18:08Silahkan, silahkan.
18:09Singkat aja, Mas Rady.
18:10Simpel aja.
18:11Ya, menurut saya kalau teman-teman menteri lain,
18:14termasuk menteri parpol,
18:15merasa kemudian kok panggungnya sepertinya
18:16diambil oleh Pak Purbaya,
18:18sehingga jadi pemilik kebenaran,
18:19ya sudah pelajari cara berkomunikasinya,
18:21jangan normatif lagi.
18:22Ceplas-ceplos juga,
18:23kokboy juga,
18:25dengan lebih kadar correctness yang lebih tinggi,
18:28menurut saya akan menjadi narik kok,
18:30untuk tontonan buat publik.
18:3210 detik juga.
18:34Koboy dibalas koboy lah, ya.
18:37Jadi sekali lagi saya bilang,
18:38ini tidak ada menteri parpol,
18:39menteri non-parpol.
18:40Menteri Kabinet Merah Putih,
18:42yang itu koordinasi komunikasi di dalam,
18:44itu diperbaiki.
18:45Makasih banyak,
18:46Bung Girawan dan Mas Soto,
18:47telah berbincang malam hari ini,
18:48sampai Indonesia malam,
18:49kita ketemu lain waktu.
18:49Selamat malam.
18:51Makasih, Mas Girawan.
18:52Halo, Mas.
18:52Halo, Mas.
Komentar

Dianjurkan