Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Jumat (30/1/2026), Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh yang dianggap kritis pada pemerintah. Apa sebenarnya motif dan tujuan dari pertemuan ini?

Rosianna Silalahi mengundang salah satu tokoh "oposisi" yang bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, yakni Sekretaris Kementerian BUMN 2005-2010, Said Didu.

Saksikan dalam ROSI episode Prabowo Bertemu para Tokoh, Apa Maknanya? Tayang Kamis, 12 Februari 2026 pukul 20.30 WIB LIVE di KompasTV.



#prabowo #saiddidu #politik

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/650366/said-didu-siap-jadi-jubir-presiden-prabowo-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih
00:30Saya tidak tahu namanya, lupa ya, tapi ya asli tokoh-tokoh nasional itu sudah menyatakan bahwa betulnya tidak ada oposisi. Ini masalah komunikasi.
00:43Tetang komunikasi itu sudah terjalin. Ya saya tahu bahwa tokoh-tokoh itu mengatakan bahwa sekarang waktunya kedaulatan rakyat kembali.
01:00Bapak Presiden terbuka untuk berdialog, menerima masukan, kemudian juga beliau menjelaskan program-program yang dalam satu tahun lebih beberapa bulan ini beliau jalankan yang semua memang berorientasi untuk kepentingan rakyat.
01:19Selamat malam. Saya Rosyana Silalahi, Anda menyaksikan program Rosy.
01:35Akhir Januari, tepatnya Jumat 30 Januari, Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh yang dianggap kritis pada pemerintah.
01:43Apa sebenarnya motif dan tujuan dari pertemuan ini? Malam ini saya mengundang salah satu tokoh oposisi yang bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
01:53Ia adalah seorang yang sebenarnya pernah berada dalam pemerintahan. Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010, Bapak Syed Lido.
02:01Pak Syed, terima kasih selamat malam sudah di Rosy.
02:04Terima kasih juga.
02:05Setelah ketemu Pak Presiden, langsung nggak ada kabarnya, tidak bisa dihubungi katanya pulang kampung.
02:12Ini pulang kampung mau refleksi untuk mengubah pandangan politik atau apa nih?
02:17Saya biasa kalau saya ingin menunggu reaksi publik seperti apa sebenarnya atas pertemuan ini.
02:26Karena ini kan Pak Prabowo sepertinya baru pertama kali membuka pintu untuk ketemu dengan orang yang mengkritisi pemerintahan selama ini.
02:36Nah, saya biarkan. Hampir 10 hari saya menghilang.
02:39Memang pulang kampung?
02:40Dan saya dihubungi untuk kembali dan saya bilang enggak, nanti saya ingin menikmati kampung saya dulu.
02:49Itu akhirnya baru saya muncul untuk membicarakan dengan Mbak Rosy nanti apa yang terjadi sebenarnya, apa di belakang itu semua.
02:57Kenapa saya ingin dengar dan saya rasa penonton Rosy Kompasivi juga ingin mendengar cerita dari Pak Said Didu.
03:03Karena Pak Said Didu belum, di antara para tokoh itu ya termasuk yang belum menceritakan apa isi pertemuan.
03:09Dan rasanya penting sekali untuk mengetahui asal-muasal pertemuan Presiden dengan Pak Said Didu dan tokoh lainnya.
03:17Karena setelah itu beruntun tuh, habis itu dengan para mantan menlu, para tokoh agama ulama soal posisi Indonesia di Board of Peace, soal Israel dan Palestina.
03:31Lalu kemudian juga ada Apindo dan ada pengusaha-pengusaha besar lainnya.
03:35Jadi seolah pertemuan Presiden dan Pak Said Didu dan para tokoh lainnya seperti membuka jalur komunikasi mereka dengan Pak Prabowo.
03:45Saya mau tanya adalah pertanyaan awal Pak Said Didu, apa asal-muasal bisa bertemu dengan Presiden Prabowo?
03:52Asal-muasalnya sebenarnya begini, saya agak capek juga berjuang nih, tapi kok bangsaku semakin hari semakin terpuruk.
04:01Dalam segala hal, demokrasi, kemiskinan, korupsi, ketimpangan, semua terpuruk.
04:07Dan kita hanya mendaur ulang terus itu terjadi, sehingga tertikir oleh saya, ini ada yang salah ini, bangsa ini.
04:15Nah, sehingga muncul keinginan saya mengumpulkan seluruh komponen di rumah saya, yang saya istilahkan dialog, konro, barongko, dan durem.
04:26Di rumahnya Pak Said Didu, sebelum bertemu dengan Presiden Prabowo?
04:29Itu tanggal 27. Nah, saya mengumpulkan empat komponen yang saya istilahkan.
04:36Orang dalam, ya ini saya undang Burhanuddin Abdullah, Laude Kamaluddin.
04:41Yang selama ini memang menjadi tink-tinknya Pak Prabowo?
04:44Ya, tink-tinknya Pak Prabowo.
04:45Orang yang saya anggap di pavilion, belum dalam, tapi bekas luar masuk, sudah berhubungan terus.
04:51Di teras lah ya, kira-kira ya.
04:53Yang ketiga, orang luar yang masih punya harapan ke Prabowo.
04:59Yang ketempat, orang luar yang sudah tidak punya harapan.
05:03Berkumpul di rumah saya, saya bilang kita harus...
05:06Jadi empat simpul tokoh ini banyak, tapi mereka merepresentasikan itu.
05:11Orang dalamnya Pak Prabowo, orang yang masih di teras, orang yang di luar masih punya harapan, dan orang yang sudah tidak punya harapan pada Pak Prabowo.
05:18Nah, saya biarkan ini bicara, tapi sepertinya ada orang yang memainkan, sehingga tanggal 25, ini kan acara 27.
05:2725 itu saya sudah dihubungi orang, bisa nggak dihentikan.
05:32Karena dianggap, ada yang menyamakan ini kayak petisi 50.
05:37Mau upaya makar?
05:38Mau makar.
05:39Nah, saya bilang, saya ini kan lihat aja nanti.
05:43Ini siaran langsung kok siaran aja.
05:45Nah, terus tanggal 26, itu makin tekanan makin tinggi.
05:51Ya, tapi jiwa petarung saya tetap jalan.
05:53Aku harus tunjukkan bahwa saya diduk bukanlah orang seperti yang diduga oleh mereka.
05:59Nah, akhirnya orang yang awalnya merancang dengan saya, mengundurkan diri juga.
06:06Dia nggak mau datang.
06:06Dan Bapak melihat itu ada koneksinya, ada keterkaitannya antara larangan untuk membuat acara itu di rumah Pak Syed Dido, dan ada yang mundur dari acara itu.
06:16Nah, yang menarik, yang awalnya nggak mau datang, tahu-tahu datang, itu orang dalam.
06:23Nah, setelah saya telusuri, orang ini datang, saya tanya, eh, kenapa lu datang?
06:28Aku disuruh dari dalam untuk mengikuti apa acara ini.
06:35Oke, oke.
06:36Nah, berjalan lah Mbak Rusin.
06:38Nah, terus orang yang diutus ini, dia bilang kasih tau saya, jam 3 sudah melapor ke dalam.
06:44Karena kesimpulan kita saat itu hanya menyatakan bahwa sebenarnya perusaha bangsa ini adalah karena kedaulatan sudah diambil.
06:53Yang lain itu hanya dayang-dayang pelaksana berbangsa dan bernegara.
06:59Presiden pun ditentukan oleh yang sudah mengambil kedaulatan, yaitu oligarki.
07:04Semua sudah diambil.
07:05Jadi kedaulatan politik, hukum, ekonomi, sumber daya alam dan wilayah sudah terambil.
07:11Nah, sehingga kita menyimpulkan, ini kalau kita terus diadu mereka dengan dukung-mendukung, bangsa ini akan hancur.
07:23Oke, sebentar.
07:24Supaya penonton Rosi bisa tahu relevansinya.
07:27Jadi Pak Said Tidu membuat satu acara yang dicurigai atau ditengarai bisa menjadi upaya makar.
07:33Sehingga bahkan salah satu inisiasi acara itu mengundurkan diri.
07:37Dan kemudian ada semacam orang dalam yang datang ke acara dan melihat sendiri isi acara itu.
07:42Dan ternyata bisa dibilang sama sekali jauh dari upaya makar.
07:46Apakah karena acara ini yang kemudian tidak ditandai sebagai upaya makar, makanya Pak Said Tidu jadi bertemu Presiden?
07:53Dan sepertinya, karena kesimpulannya adalah itu, kami beroposisi terhadap orang yang menghalangi kembalinya ke dolatan.
08:04Itu kesimpulan kita.
08:05Clear tuh ya?
08:06Ya, itu dilaporkan oleh orang nih utus ini dan kelihatannya Pak Presiden mengambil, oh ini oke nih.
08:12Ini oke nih kesimpulan ini.
08:14Nah, kami tidak beroposisi ke Prabowo, kami tidak beroposisi.
08:17Tapi, oposisi kami adalah siapapun yang pernah yang memegang ke dolatan itu, mengambil ke dolatan itu, siapa yang pernah menyerahkan itulah oposisi kami ke sana.
08:28Jadi, itulah sebenarnya cikal bakal mengapa Bapak bertemu dengan Presiden.
08:33Apakah, betul ya Pak ya, oleh di inisiasi juga atau di Pak Safri Samsuddin yang ikut membuka jalan?
08:42Sepertinya, saya tidak tahu, karena bukan dia yang menghubungi saya.
08:47Nah, orang yang diutus itu menyatakan, tolong nah, setelah itu, ini kan tanggal 27, 28 saya sudah dihubungi, siapkan lima orang untuk menghadap Presiden.
08:59Oke, jadi Pak Syed diminta untuk menyiapkan lima orang?
09:03Untuk tanggal 31 awalnya, di Hambalang, tiba-tiba dimajukan.
09:07Nah, saya bilang begini, jangan saya menyiapkan, jadi saya kirim puluhan nama, yang hadir semua saya pilih, silahkan dipilih.
09:14Siapa yang dipilih oleh istana, nah akhirnya terpilihlah lima orang itu kan, dengan saya.
09:19Nah, jadi yang memilih adalah mereka, mereka yang memilih.
09:24Itu kejadiannya sebenarnya.
09:25Jadi, sebenarnya, mungkin Pak Presiden menyatakan loh, teman seperjuangan saya ada di luar.
09:32Yang selama ini mungkin dihalangi seakan-akan musuh.
09:36Padahal agenda kita kebetulan sama.
09:39Apakah lima tokoh yang kemudian kita sudah tahu, sama-sama ada Pak Said Nidu, Pak Abraham Samad, ada Mantan Kabar Reskrim, ada Siti Zuhro.
09:49Nah, apakah ini representasi keahlian, atau menurut Bapak ini representasi mereka, suara-suara kritis mereka?
09:58Saya tidak tahu kriterianya, karena, seperti yang pemainnya, Ferry Amsari kan hadir juga.
10:04Semua nama yang itu saya lakukan.
10:06Pak, Ferry Amsari nggak hadir dong?
10:08Hadir.
10:09Ferry Amsari?
10:09Nggak, di tempat saya, di rumah saya.
10:11Oh, oke.
10:11Jadi, semua yang hadir itu saya kirim.
10:13Oke, semua yang hadir, yang Bapak undang yang tadi ya di tengah, dicurigai sebagai upaya makar itu, Bapak kasih listnya ke Presiden?
10:20Atau ke utusan Presiden?
10:22Silahkan dipilih oleh istana.
10:23Dipilihlah lima itu.
10:25Jadi, saya nggak tahu apa kriteria digunakan untuk memilih.
10:30Pak Safri, kemudian tadi kita lihat cuplikan pernyataan Pak Safri.
10:34Tidak ada tokoh, tidak ada oposisi di negara ini.
10:37Apakah memang Pak Said Didu juga sekarang tidak lagi bersifat oposan dalam hal ini?
10:45Mungkin kalau dalam terminologi di demokrasi kita tidak ada oposisi, tapi bersuara kritis lagi.
10:51Apakah karena sudah bertemu dengan Presiden, seorang Said Didu sekarang melempom?
10:57Saya tidak punya bakat diam kalau melihat sesuatu.
11:01Pasti saya akan teriak.
11:03Saya akan teriak.
11:04Lihat setelah itu kan saya masih teriak.
11:05Masih teriak bagaimana transmigrasi di gua, apa, diambil tanahnya.
11:11Saya tidak akan.
11:12Dan di dialog itu perlu kami gambarkan.
11:15Pak Rusi itu menurut saya.
11:18Kan begini.
11:19Kalau begitu gini.
11:20Apa kritik terbesar atau misalnya masukanlah yang paling keras yang Bapak sampaikan pada Presiden?
11:29Dan Bapak melihat Presiden menerimanya dengan sangat terbuka?
11:33Saya melihat begini, Presiden sangat menghargai saat itu karena dia sendiri yang mempresentasikan.
11:39Padahal dia memperkenalkan staff yang kita kenal dekat itu, main lu, main sekap, dan ada sepuluh.
11:47Dan menyampaikan ini ordal saya di samping meja.
11:51Setelah itu dia presentasi satu jam.
11:53Dan di presentasi itu karena begini, ada beberapa pertanyaan yang saya harus tahu Pak Presiden Prabowo ini.
12:01Apakah Pak Presiden Prabowo ini memang keberlanjutan Jokowi?
12:05Apakah Pak Presiden Prabowo ini masih dibawa bayang-bayang Jokowi?
12:10Itu kan harus, apa sih, apakah Presiden Prabowo ini sebenarnya masih betul, hanya omon-omon, tidak berani ambil keputusan.
12:20Itu kan yang tertanam di ini saya dari dialog itu.
12:23Nah, apakah Pak Prabowo ini memang dengan pasangannya Capres ini memang itu pasangan yang sesuai dengan keinginan atau ada sesuatu?
12:32Itu di kepala saya.
12:34Dan apakah Prabowo ini memang masih bisa diharapkan untuk memperantas korupsi dan mengambil kedolatan oligarki?
12:44Itu yang tertanam.
12:45Dan malam itu terjawab.
12:47Terjawab semua.
12:48Terjawab.
12:49Semua itu terjawab.
12:50Jadi semua pertanyaan Bapak tentang suatu hal yang sebenarnya saat menjadi juga banyak pertanyaan orang.
12:56Apakah itu dijawab langsung oleh karena pertanyaan Pak Said Didu?
13:01Atau dari penjelasannya Pak Prabowo?
13:03Dari penjelasan.
13:04Karena begini, saya tidak bisa menanya itu.
13:06Karena pasti ini politik.
13:08Tapi saya menanggap.
13:09Saya kasih contoh begini.
13:11Bapak Presiden, Bapak Presiden sekarang itu dari tujuh Presiden sebelumnya, baru kali ini ada Presiden yang berani menyinggung oligarki.
13:22Baru kali ini.
13:23Dan dengan Bapak menyinggung itu, itu bagaikan itu Bapak sudah masuk akan, musuh akan bangkit semua.
13:32Dan saya bilang, Bapak sudah sampai di titik to kill or to be killed.
13:37Bapak membunuh atau dibunuh.
13:40Dan Bapak, mohon maaf, waktu Bapak tidak lama loh Pak, tidak panjang.
13:46Dan Bapak saya melanggap, Bapak masih lambat untuk mengambil.
13:50Nah, saya agak-agak keras gitu.
13:51Nah, saya tunggu beliau ini, dia nggak biasa aja.
13:55Nah, akhirnya dia menjelaskan semua, ini begini, intinya begini.
14:00Kan pada saat presentasi dia sebutkan tuh, dia sebutkan nama.
14:04Inilah perampok negara, perampoknya sekian, caranya menyimpannya begini.
14:09Sampai dia menyatakan, bayangkan under invoice saja oleh orang-orang ini, itu 1,2 triliun dolar.
14:181,2 triliun dolar, artinya 20 ribu triliun.
14:21Selama 30 tahun.
14:23Dan dia bilang, ini orang-orangnya ini aja, yang melakukan itu.
14:26Nah, terus dia jelaskan lagi, ini kita harus kasih pelajaran, ini nggak bisa ya, harus dihentikan.
14:32Orang ini melihuk begini.
14:34Nah, oke, artinya saya masih percaya bahwa dia tidak omon-omon ini.
14:39Nah, setelah itu.
14:40Sebut nama itu ya Pak ya?
14:41Sebut nama.
14:42Dan menariknya Bu Rosi, jadi ya agar Pak Bipaham, nama-nama yang disebutkan itu tidak jauh beda dengan nama yang sering saya sebutkan.
14:51Secara terbuka?
14:51Secara terbuka.
14:52Jadi, ya, itu nama-namanya.
14:55Dan, begini.
14:56Oke.
14:57Kalau begitu begini, saya jadi penasaran.
14:59Apakah nama-nama yang disebutkan Presiden ketika bertemu dengan Anda, Pak Zaididu, adalah juga nama-nama yang bertemu di dua malam lalu?
15:09Termasuk, misalnya begini Pak, banyak yang mengatakan, jalur informasi ke Pak Presiden itu dinilai terbatas,
15:19atau hanya difilter, sehingga orang merasa jangan-jangan Pak Prabowo ini atau Presiden tidak mendengar informasi yang utuh.
15:27Kalau dari interaksi Pak Zaididu gimana tuh?
15:31Benar gak kalau informasi yang diterima Pak Presiden itu memang dipilih-pilih gitu?
15:36Saya bisa menyatakan, iya, bisa tidak.
15:39Ada dua kejadian.
15:40Jadi, semua data, bocor dari mana, anggaran, berapa judi online, saya pun tidak bisa menunjukkan.
15:46Judi online tuh menyatakan 12 miliar dolar.
15:50Itu, dia sebutkan itu.
15:52BUMN tuh, angkanya dia 20 miliar dolar.
15:55Itulah keluar pernyataan, hati-hati, bekas direksi BUMN, pimpinan BUMN, jangan tidurnya.
16:01Karena dia memang akan kejar.
16:03Tapi, pada saat saya menyampaikan, Pak Presiden, kenapa itu PIK 2 masih menggusur lahan pertanian dan tambang?
16:13Oh, Pak Zaididu nanya.
16:14Iya, langsung. Eh, kok masih jalan?
16:18Eh, itu mantikan ya.
16:20Nah, maksud saya, berarti sebenarnya, dan reaktif langsung, bukan berpikir,
16:25Artinya, di hati dia tuh berarti ada informasi yang dipilter dong, sehingga dia nggak nyampe itu.
16:31Jadi, saya menyatakan, informasi inti dia punya, sampai nama-nama.
16:38Nah, dia menyatakan, saya untuk menghadapi hukum supaya saya objektif.
16:43Kalau ada laporan penertiban hukum, maka namanya kututup.
16:48Supaya, siapa tahu ada saudara saya. Saya nggak pandang siapa.
16:50Ya, itu memang diucapkan juga secara terbuka.
16:52Nah, jadi, nah, berbagai hal yang saya, termasuk ini, saya kan ingin mendapatkan informasi,
17:03karena sampai cawapres itu kan masih sekarang masih agak kontraversi,
17:10apakah Prabowo memang memilih secara objektif bahwa memang dia terbaik,
17:16ataukah dipaksa atau terpaksa memilih.
17:18Maksudnya Wakpres Gibran sekarang, Wakpres-Nya Pak Prabowo?
17:21Ya, nah, saya kan ingin mendapatkan, saya kan biasanya ya, saya peneliti,
17:26jadi saya ingin mendapatkan apa sebenarnya yang terjadi.
17:29Nah, setelah dia menyelaskan bahwa,
17:33dia menyatakan, saya, beberapa calon wapres yang saya inginkan jadi wapres saat itu,
17:42beberapa nama disebutkan dikriminalisasi.
17:45dikriminalisasi.
17:47Artinya, ada suatu kejadian dong, nah, disini kriminalisasi calonnya dia,
17:52disini berjalan untuk memuluskan Gibran, di MK.
17:57Nah, masih ingat dulu kejadian, nah, saya biasanya sudah mengenalisis kalau seperti ini,
18:02ingat kejadian ada kata-kata Gibran pada saat, ini, Pak Prabowo, Bapak tenang.
18:09Saya sudah disini waktu itu.
18:10Bapak sudah disini.
18:11Nah, bagi saya, ini ada sesuatu pasti di balik ini,
18:15seakan-akan Pak Prabowo itu sedang terancam dan diselamatkan oleh Gibran.
18:20Nah, kita harus ingat, waktu Ketua MK, Pak Usman,
18:26menyatakan, setelah memutuskan yang batas bawah umur,
18:31dia kan menyatakan, dan itu dikemukakan oleh Pak Gatot di tempat lain,
18:37dia kemukakan batas atas, batas bawah sudah,
18:40Alhamdulillah hari ini batas bawah sudah selesai, batas atas yang belum.
18:44Itu sama dengan ancaman sebenarnya.
18:46Eh, hati-hati kalau nggak batas bawah ini-ini.
18:49Nah, lihat deklarasi Pak Prabowo di Kertanegara,
18:56itu kan tanpa Gibran kan.
18:58Nah, baru ini disenayankan baru ini.
19:01Nah, oh berarti ini, saya dugaan saya, analisis saya,
19:06memang ini, itulah yang ditafsirkan, ini strategi.
19:10Hanya-hanya asumsi Bapak ini bisa juga dibantah dengan sangat mudah.
19:15Karena satu, dalam banyak kesempatan,
19:19Pak Prabowo lah yang menginginkan Mas Gibran sebagai calon wakil presidennya,
19:24dan beberapa kali meminta itu kepada Pak Jokowi,
19:26jadi itu bisa dibantah bahwa itu keinginan murni dari Pak Prabowo
19:30sebagai calon presiden pada waktu itu.
19:33Dan kalau kita lihat juga secara terbuka,
19:34Presiden Prabowo sungguh menjaga maruah Pak Jokowi
19:38dengan bahkan mengatakan hidup Jokowi, hidup Jokowi.
19:41Jadi saya rasa asumsi Pak Zaididu bisa dengan mudah dibantah.
19:45Jadi saya ingin menyatakan bahwa itu oke, itu kan, itu strategis buah.
19:50Saya kasih contoh lagi.
19:52Dia ingat kasus Garuda Biru.
19:57Agustus, ya.
19:59Tahun lalu.
20:00Yang mahkamah agung meluluskan,
20:07saya katakan meluluskan kaisan bisa jadi gungur di Jawa Tengah.
20:11Dan ingat saat itu.
20:12Itu soal demo ketika undang-undang mau diubah,
20:16soal batas umur calon kepala daerah.
20:20Dan saat itu,
20:20Dasko sebagai kota DPR sudah menyatakan besok akan sidang pleno
20:24untuk merubah undang-undang pilkada sesuai dengan putusan mahkamah agung.
20:30Nah, tak tahu besoknya dibatalkan.
20:33Dan kita tahu yang bisa,
20:35mohon maaf, yang bisa memerintah Dasko Insya Allah hanya Pak Prabowo.
20:40Artinya, Pak Prabowo memang kalau orang menyatakan bahwa dia tunduk sekali Pak Jokowi,
20:46saya menyatakan tidak.
20:48Saya menyatakan tidak.
20:49Dia, jadi Pak Prabowo sekarang menuju menjadi dirinya sendiri.
20:56Apa relevansinya, Pak Sayedidu?
20:57Antara demo menolak waktu itu batas umur untuk calon kepala daerah
21:04yang waktu itu memang ditengah rai,
21:06ini adalah jalan untuk Mas Kaisang menjadi kepala daerah.
21:09Apa hubungannya?
21:11Kalau Pak Prabowo itu memang dibawa bayang-bayang Jokowi,
21:15dia enggak lakukan dong.
21:16Dan pada saat pertemuan itu,
21:20dia menjelaskan bahwa jangan menganggap saya ini dibawa bayang-bayang Jokowi.
21:26Dan ada cerita bahwa beberapa usulan Pak Jokowi itu ditolak sama dia.
21:30Cuma saya enggak buka di publik.
21:33Nah, itu berbagi.
21:35Nah, jadi saya menyatakan ketidaksabaran publik,
21:41seakan-akan Pak Presiden Prabowo ini masih dibawa bayang-bayang Jokowi,
21:46saya ingin menyatakan sepertinya memang mungkin itu adalah penghormatan
21:51cara Prabowo menghormati Jokowi Dodo.
21:55Bukan berarti di bawah bayang-bayang Jokowi Dodo.
21:58Oh, seperti bahasa Jawa Mikul.
22:01Mikul Dodo.
22:02Menen Jero.
22:04Jadi tidak dengan cara menjelek-jelekan pendahulunya,
22:08tetapi ia tetap punya sikap sendiri.
22:10Punya sikap sendiri.
22:10Yang kemudian bisa dilihat banyak orang misalnya,
22:13seperti Anda,
22:14mengatakan,
22:15ini apa benar masih di bawah bayang Presiden sebelumnya?
22:18Nah, tapi kan gini,
22:21saya nggak yakin, Pak Zaididro,
22:24saya tidak yakin kalau Presiden sampai mengatakan pada Anda dan para tokoh lainnya,
22:29jangan dikira saya masih di bawah bayang-bayang Pak Jokowi.
22:32Ijinkan saya untuk nggak percaya Pak Presiden mengatakan itu.
22:36Saya ini menyatakan bahwa,
22:39ini dia menunjukkan fakta-fakta yang ingin menunjukkan bahwa,
22:44begini, saya begini,
22:46ada suatu dia loh menyatakan,
22:47Denny,
22:48tentang dua periode.
22:52Tuan Dio periode.
22:54Dia bilang,
22:54jangan pernah berhak,
22:56jangan pikirkan dua periode.
22:58Sementara,
22:59di luar sudah menyatakan,
23:00Mahkam Jokowi menyatakan,
23:01oke kami dukung Prabowo dua periode bersama Gibran.
23:06Ya kan?
23:07Nah, tapi pada malam itu,
23:09Pak Presiden menyatakan,
23:10saya belum berniat untuk menyatakan dua periode.
23:13Malam lebih ini, Mbak Rosi,
23:15dia menyatakan begini,
23:17kalau memang saya gagal dan dianggap salah,
23:21saya bersedia mendapat hukuman dari rakyat.
23:25Dan saya bilang,
23:25ini baru pemimpin.
23:27Jadi bukan memikirkan dua periode.
23:29Jadi pihak-pihak yang ini menyatakan,
23:32Pak Prabowo masih sampai di titik,
23:34dia mau bekerja sangat baik untuk rakyat.
23:36Dan kalau rakyat merasa dia gagal dan salah,
23:40maka dia menyatakan,
23:41saya bersedia dihukum oleh rakyat.
23:43Itu kata-katanya yang saya,
23:45oh oke ini.
23:47Oke, jadi dia tidak memikirkan dua periode.
23:49Ini yang membuat Pak Saididu merasa bahwa Presiden,
23:52tidak cuma omong-omong.
23:53Yang saya menyatakan tidak omong-omong,
23:56kan begini,
23:57langkah,
23:58begini,
23:59saya di depan mata saya,
24:01pada saat pemberian,
24:03pemberhentian OJK,
24:05pengunduran diri.
24:05Itu malam yang sama ya?
24:06Harus yang sama.
24:07Pengunduran diri.
24:08Ya.
24:09Pada saat menekati jam 18,
24:11dia keluar,
24:11terima telepon,
24:12pas dia Pak Presiden masuk,
24:14bagus nih,
24:15OJK mengundurkan diri.
24:17Nah,
24:17saya kan orang jahil.
24:19Kenapa Pak?
24:20Emang,
24:20ini harus,
24:21saya kasih ultimatum dia,
24:23harus mundur 10 jam 18.
24:25Saya bilang,
24:25ini baru pemimpin.
24:27Nah,
24:27maksud saya ini,
24:28biar Pak Blik tahu,
24:29bahwa sebenarnya,
24:30Pak Presiden itu mengambil keputusan,
24:32setiap saat dengan cepat,
24:33asal informasinya,
24:35benar.
24:35Nah,
24:36jadi,
24:36untuk memperbaiki,
24:38dia cepat mengambil,
24:38mengambil keputusan.
24:40Nah,
24:40sama dengan,
24:41yang pengambil alihan,
24:43sawit,
24:44tambang,
24:45itu tiap hari,
24:46dilakukan.
24:47Tiap hari dilakukan,
24:48dan ingat,
24:49nah,
24:50saya bilang,
24:51banyak sekali,
24:52contoh,
24:52bahwa Presiden Prabowo,
24:54bukan keberlanjutan,
24:55dari Jokowi.
24:56Banyak sekali contoh,
24:57contoh yang pemenang,
24:59pada saat sawit itu,
25:00itu kan,
25:00kelanjutan,
25:02dari Jokowi dong,
25:02yang 3,3 juta hektare,
25:04yang dulu dipimpin,
25:05Luhut,
25:06Binsar Panjaitan,
25:08yang Pak Luhut,
25:08menyatakan,
25:09akan dinegosiasi ulang,
25:10dengan pemilik lama,
25:12pas masuk Prabowo,
25:13enggak dinegosiasi ulang,
25:14diambil ali oleh negara.
25:15Itu,
25:16fakta bahwa,
25:17dia tidak,
25:18kelanjutan dari itu.
25:20Oh,
25:20Anda ingin mengatakan,
25:20inilah contoh kasusnya.
25:21Contoh kasusnya.
25:22Yang tidak perlu diucapkan,
25:23tidak perlu ucapkan.
25:24Tetapi,
25:24by action.
25:26Ya.
25:26Tapi Pak,
25:27bisa begini enggak,
25:27pertanyaannya,
25:28ketika misalnya,
25:29oh ya bagus,
25:30kalau mengundurkan diri saja,
25:32daripada saya tangkap,
25:33atau kemudian,
25:34akan ambil alih,
25:35atau jangan,
25:36enak-enak saja,
25:38nanti akan didatangi,
25:39kejaksaan.
25:39Bagaimana Anda menjelaskan,
25:42bahwa,
25:43ini management by fear.
25:45Oke.
25:45Management yang,
25:47menakut-nakuti dengan,
25:49ditangkap,
25:51lalu akan nanti,
25:52dipanggil kejaksaan.
25:54Tidakkah ini,
25:55menambah kekhawatiran,
25:57para pelaku pasar,
25:59investor,
26:00bahwa,
26:00mungkin maksudnya baik,
26:01tapi kalau dilakukan,
26:03dengan cara-cara,
26:05di masuk penjara,
26:07di hukum,
26:08dipanggil kejaksaan,
26:10siap,
26:10bagaimana,
26:11pelaku pasar bisa tenang.
26:13Nah,
26:14sepertinya,
26:15beliau itu punya data,
26:17karena dia sampaikan saat itu,
26:19ini yang main,
26:20ini yang harus dihentikan,
26:21kalau ini tidak di stop segera,
26:23ini hancur.
26:24Jadi,
26:24siap menyatakan,
26:25termasuk kayaknya,
26:26waktu soal goreng-menggoreng saham,
26:28dan kemudian pengunduran diri,
26:30Pak Prabowo menyebut,
26:31siapa saja yang sering menggoreng saham,
26:33beliau tahu semua,
26:34nama-namanya.
26:35Dan sebutkan namanya,
26:36dan saya,
26:37ada namanya,
26:39ini tukang goreng,
26:40ini apa,
26:40ini tidak boleh katanya.
26:41Jadi,
26:41jadi maksud saya,
26:43istilahnya menurut saya,
26:45ini,
26:46kebakaran yang harus disemprot,
26:48itu tidak bisa lagi di,
26:50tidak di jalan lain,
26:51karena,
26:52tiap hari,
26:53akan berlanjut terus.
26:54Nah,
26:55jadi saya menyatakan,
26:56ini memang Pak Presiden,
26:57kalau darurat,
26:58diambil keputusan yang sangat-sangat cepat.
27:00Tapi,
27:00jawab secara singkat,
27:01Pak Sadidu,
27:02bagaimana menjelaskan bahwa,
27:03ini bukan manajemen by fear?
27:06Saya menyatakan,
27:07ini pasti,
27:08akan dibahas seperti itu.
27:10Tapi,
27:10kalau sistemnya sudah,
27:11sudah sangat rusak,
27:13itu tidak ada yang lain.
27:14Tidak ada yang lain.
27:15Nah,
27:15kita contoh lah,
27:17Pak Hartu dulu,
27:18menyewa,
27:21apa namanya,
27:21bea cukai dari Swiss,
27:23karena sudah,
27:24saking korupnya,
27:25saking korupnya,
27:26jadi,
27:26cukai pada waktu itu.
27:27Pak Sadidu,
27:28kira-kira begitu.
27:30Yang masih harus jawab,
27:32apakah nama yang-nama yang disebut,
27:33itu termasuk yang juga datang,
27:35bertemu dengan Presiden,
27:37menghabiskan waktu lebih dari 4 jam,
27:38berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto,
27:41apa hasil kesepakatan,
27:42atau apa,
27:44sens yang diterima oleh para tokoh oposisi itu,
27:46dengan para Presiden.
27:47Saya masih bersama Sekretaris Kementerian BUMN,
27:502005-2010,
27:51Bapak Said Didu.
27:53Pak Said Didu,
27:54Bapak mengatakan bahwa,
27:58ketika bicara soal aset negara,
28:00yang dirampok,
28:02atau kemudian,
28:03yang bayar di bawah,
28:05sehingga negara dirugikan.
28:08Pak Presiden menyebut nama-nama,
28:10jadi,
28:10ia mengidentifikasi betul,
28:12siapa saja,
28:13kelompok-kelompok yang selama ini menikmati,
28:16praktek-praktek kotor,
28:19untuk memperkaya diri sendiri,
28:20dan merugikan negara.
28:22Saya tahu,
28:24kita tidak mengatakan hal ini,
28:25siapa saja nama itu,
28:26tapi Bapak,
28:27bisa bersaksi ya,
28:29itu nama-nama disebutkan oleh Pak Presiden Prabowo.
28:32Ini,
28:33catatan saya ketemu Pak Presiden,
28:34ini ada 4 halaman nih,
28:36termasuk nama-nama ada di sini.
28:38Catatan saya.
28:39Jadi, disebutkan nama.
28:40Setelahkan Pak Said Didu,
28:43dan beberapa tokoh lainnya bertemu,
28:44setelah itu para mantan Menteri Luar Negeri,
28:48Uwamen,
28:48juga bertemu,
28:49soal posisi Indonesia di Board of Peace,
28:52lalu kemudian para tokoh agama,
28:54ulama,
28:55juga dikumpulkan.
28:56Lalu Apindo,
28:57juga dikumpulkan.
29:00Dan hari Selasa,
29:01dua hari yang lalu,
29:02juga bertemu dengan para Taipan.
29:04Kembali ke pertanyaan awal saya,
29:06apakah nama yang bertemu di pertemuan terakhir,
29:09hari Selasa lalu,
29:10yang disebut dengan Taipan,
29:11itu juga sebenarnya nama-nama yang disebut
29:13sebagai mereka yang terindikasi
29:16menguasai sebagian besar aset Indonesia.
29:21Saya menurut,
29:22kita lihat yang ini kan,
29:24yang disebutkan sebelumnya itu kan,
29:26diundang untuk ketemu Presiden.
29:28Yang terakhir ini,
29:30yang lima Taipan ini kan,
29:32meminta waktu menghadap.
29:34Jadi agak berbeda ini.
29:37Bapak tahu dari mana mereka minta waktu?
29:38Kan itu kan dijelaskan,
29:40Bapak meminta waktu menghadap.
29:42Dijelaskan oleh set kapal,
29:45Bapak ini meminta waktu menghadap.
29:47Kenapa emang?
29:48Apa yang membedakan itu dan kemudian jadi bermakna?
29:51Mudah-mudahan,
29:52bukan karena pertemuan saat kita ketemu dengan beliau,
29:55nama itu sebut bocor.
29:58Siapa tahu bocor.
30:00Siapa tahu bocor.
30:02Sehingga ada pihak yang meminta waktu untuk menghadap.
30:06Untuk mengklarifikasi.
30:08Untuk mengklarifikasi.
30:09Nah, tapi data menunjukkan,
30:11bahwa memang sebagian besar kekayaan,
30:14yang menghadap terakhir ini memang datanya loh.
30:17Tidak berarti apakah dia salah atau tidak salah.
30:19Tapi memang lima orang yang menghadapi nilai,
30:21yang mengusah ekonomi paling besar di Indonesia.
30:24Sekarang.
30:25Itu fakta.
30:27Fakta data yang ada.
30:28Nah, apakah itiat dianggap,
30:30apa namanya,
30:31ikut merampok negara,
30:33ikut main under pricing,
30:36sehingga pada under invoice dan lain-lain,
30:39itu saya tidak bisa menyebutkan di sini.
30:42Saya tidak bisa menyebutkan di sini.
30:43Yang jelas hasil pertemuan itu disebutkan
30:45bagaimana Presiden mengajak untuk membangun satu incorporated.
30:49Jadi, para pengusaha itu juga diajak untuk membangun Indonesia.
30:52Nah, yang perlu di sini,
30:53karena Presiden belum mungkin saat itu,
30:56orang-orang ini aku harus sadarkan.
30:59Kalau dia tidak mau sadar,
31:01maka hukum yang akan berjalan.
31:04Dan saya tidak pandang bulu.
31:06Kalau masih dia tidak mau,
31:07kalau saya sadarkan memang hukum,
31:09maka saya umumkan kepada rakyat,
31:12biar rakyat yang menguang hukum.
31:13Begitu Presiden.
31:15Jadi, sudah sampai di titik itu,
31:17sudah saya menyatakan,
31:18ini Presiden sangat serius.
31:20Karena langkahnya adalah,
31:22siapa tahu pertemuan itu untuk menyadarkan.
31:24Dan menyatakan,
31:25siapapun yang melanggar hukum,
31:27saya tidak pandang bulu.
31:29Jadi, dia pakai dua-duanya,
31:31menyadarkan,
31:34tapi bukan berarti menghilangkan hukum.
31:36Tapi, kalau dia masih bandel,
31:38maka nama ini saya umumkan kepada rakyat,
31:40biar rakyat yang menghukum.
31:41Tapi, Presiden menyatakan,
31:43saya menghindari yang terakhir.
31:45Karena saya tidak mau bangsa ini terjadi revolusi.
31:48Itu dikatakan.
31:49Saya tidak mau.
31:50Itulah mungkin yang menyebabkan kita sekarang,
31:53orang-orang di luar selama ini,
31:54menyatakan,
31:56Presiden cuma omong-omong.
31:58Padahal sebenarnya,
31:59yang ada di kepala dia,
32:01kalau terlalu cepat ini,
32:02maka bisa terjadi keretakan,
32:04yang tidak dia inginkan.
32:06Jadi,
32:07kepada Pak Masyar.
32:09Akan terjadi keretakan.
32:10Presiden juga merasakan,
32:13atau ada dalam perhitungan Presiden,
32:16kalau terlalu radikal juga,
32:18atau terlalu cepat mengutuskan sesuatu,
32:21maka akan ada serangan balik padanya.
32:25Saya pikir,
32:25dia sadari,
32:27tapi dia tidak,
32:28dia menyatakan,
32:29dia,
32:29dia begini,
32:30ada orang menyatakan,
32:31apakah Presiden memang takut atau ragu?
32:33Saya tidak melihat keraguan itu.
32:35Dia tidak takutkan,
32:37dalam bangsanya pecah.
32:38Bukan terhadap dirinya.
32:40Bangsanya pecah.
32:41Itu yang dia takutkan.
32:42Terjadi.
32:43Apa,
32:43bagaimana menjelaskan bahwa ketika mau,
32:46serius memberantas korupsi,
32:47dan kemudian menindak mereka yang selama ini memang,
32:52apa,
32:53mengambil atau,
32:54apa,
32:55merampok aset negara,
32:58kalau itu diambil tindakan tegas,
32:59maka bangsa pecah.
33:00Bukankah itu justru,
33:02akan dapat dukungan bagi,
33:04bukan itu maksudnya.
33:05Bukan itu maksudnya.
33:06Kalau korupsi dia,
33:07pelenggaran dia tidak ada ampun.
33:09Tidak ada ampun sama sekali.
33:10Yang dia takutkan,
33:11kalau nama ini bocor,
33:13itu menjadi,
33:14itu yang dia tidak mau,
33:16tidak mau nama ini,
33:16bocor keluar.
33:18Biarkan aja hukum yang bekerja.
33:20Kalau siapapun melanggar,
33:21dia akan ini.
33:22Jadi,
33:22mohon saya bilangin bahwa,
33:24yang dia tidak mau nama ini bocor,
33:26karena tidak mau terjadi revolusi.
33:29Ya, saya nggak ngerti,
33:30apa hubungannya ketika 50 nama ini disebutkan,
33:33kalau Tom memang,
33:34melakukan praktek yang tercelah,
33:38apa hubungannya dengan revolusi?
33:39Nah, begini.
33:41Dia biarkan hukum yang bekerja.
33:43Bukan karena isu data.
33:45Nah, karena itu kan masih diperiksa.
33:48Kalau hukum yang bekerja,
33:50dia nggak ada.
33:51Dia tidak sama sekali ingin melindungi siapapun.
33:55Sampai dia bilang,
33:56kalau aparat hukum menyampaikan ada kasus,
33:58maka saya minta namanya ditutup.
34:01Karena jangan pandang bulu.
34:04Kalau dia melanggar hukum.
34:06Nah, itulah yang saya menyebabkan kesimpulan,
34:08bahwa sebenarnya,
34:09Pak Presiden ini,
34:10dia tidak pandang bulu siapapun.
34:12kalau melanggar hukum,
34:13dia tidak akan melindungi.
34:16Nah, kecuali mungkin dia memang,
34:18orang menyatakan,
34:19apakah ada target?
34:20Di target.
34:21Nah, saya pikir dia punya,
34:23bahwa orang ini harus disadarkan,
34:25berhentilah merampok negeri ini.
34:27Ya itulah 50 nama,
34:29dan ada 10 nama yang lebih parah lagi dia.
34:31Dia sebutkan.
34:32Dia sebutkan, 10 nama itu.
34:35Jadi,
34:35nah, itulah yang menimbulkan harapan.
34:37Ini ada harapan nih,
34:38Presiden ini,
34:41dan saya gabungkan,
34:42menyatakan,
34:43jangan kami ke dua periode.
34:44Kalau saya gagal,
34:45dan rakyat menganggap salah,
34:47saya bersedia mendapatkan,
34:49dihukum oleh rakyat.
34:50Dihukum itu,
34:51mendapatkan hukum,
34:52di penjara maksudnya,
34:54dihukum itu bisa karena tidak dipilih,
34:55dan lain-lain.
34:56Ya, Pak Abraham Samad waktu itu,
34:58mengatakan bahwa,
34:59salah satu yang juga dibicarakan,
35:00adalah tentang,
35:01reformasi,
35:02Polri,
35:03dan pergantian Kapolri.
35:04Tapi kemudian itu dibantah oleh,
35:06anggota DPR,
35:07Ketua Komisi 3,
35:08Habibur Rahman,
35:09bahwa sama sekali tidak.
35:10Mana yang benar?
35:11Ada hal yang,
35:12saya klarifikasi,
35:13Pak,
35:13saya didukkan,
35:14karena Pak Abraham,
35:15dan beberapa tokoh lainnya,
35:16mengatakan,
35:17ada pembicaraan,
35:18dengan Pak Presiden,
35:19soal reformasi Polri,
35:21dan kemudian,
35:21soal pergantian Kapolri.
35:23Di situ,
35:24terasa,
35:25macam,
35:26reformasi Polri ini,
35:27nggak akan bisa jalan,
35:27kalau Kapolri ini,
35:28nggak diganti.
35:29itu rasanya,
35:31seruan dari para tokoh,
35:33gitu kira-kira.
35:33Dan itu,
35:34kemudian dibantah oleh,
35:35Ketua Komisi 3,
35:36Pak Habibur Rahman,
35:37yang mengatakan,
35:37itu tidak ada,
35:38tidak benar bahwa,
35:39reformasi,
35:40ada pembicaraan dengan Presiden,
35:41tentang pergantian Kapolri.
35:43Jadi sebenarnya,
35:44pembicaraan tentang reformasi Polri,
35:46dan pergantian Kapolri,
35:47ada atau nggak?
35:48Saya agak mendalam.
35:50Ada?
35:50Ada,
35:51dan sampai Pak Presiden menanyakan,
35:52karena Susno kan,
35:54ada Susno 2G,
35:55kira-kira,
35:56yang baik itu yang mana sih?
35:57Apakah,
35:58polisi itu dibawa langsung Presiden,
36:02atau dibawa kementerian?
36:03Itu Presiden bertanya.
36:05Dan dijelaskan oleh,
36:07Susno 2G,
36:08dan kita jelaskan.
36:09Memang,
36:10nuansa pertama malam itu,
36:11kita menyatakan bahwa,
36:13Pak,
36:13ini tuntutan publik,
36:14tentang Kapolri,
36:15ini tidak bisa diabaikan.
36:17Karena saya akan-akan,
36:18apapun yang Presiden lakukan,
36:20kalau ini tidak dilakukan,
36:21itu saya akan-akan,
36:22Presiden takut kepada Kapolri.
36:25Itu,
36:25itu intinya.
36:26Dan malam itu,
36:29menurut saya,
36:29terklarifikasi,
36:31bahwa,
36:32anggapan kita selama ini,
36:33kan selalu pun belum menyatakan,
36:34dia tidak berani mengganti,
36:36karena,
36:37mungkin ada,
36:38alas budi,
36:39atau mungkin ada,
36:40sesuatu yang dia pegang.
36:41Itu kan yang ada di pulih.
36:42Nah,
36:43malam ini terbantahkan menurut saya.
36:45Alas budi maksudnya,
36:46karena,
36:46kemenangan,
36:48Pak Prabowo,
36:49dan Mas Gibran,
36:50adalah karena juga,
36:51campur tangan Parcok.
36:53Ya.
36:54Dan dijelaskan bahwa,
36:55dan datanya ada,
36:56ada yang dijelaskan bahwa,
36:58pada saat itu,
36:59Parcok ini konsentrasi,
37:01memenangkan partainya,
37:03partainya Kaisang.
37:04PSI.
37:05bukan memenangkan Prabowo.
37:08Nah,
37:09jadi,
37:09nah,
37:09terus,
37:10jadi tidak ada,
37:11tidak ada bahwa itu,
37:13balas budi.
37:13Nah,
37:14setelah itu.
37:14Oh,
37:15itu konteksnya.
37:15Jadi,
37:16Anda menangkap kesan bahwa,
37:17Pak Prabowo,
37:19tidak takut,
37:20untuk melakukan reformasi,
37:21di kepolisian.
37:23Karena,
37:24dia tidak merasa,
37:24bahwa harus balas budi.
37:25Balas budi.
37:26Nah,
37:27terkonfirmasi lagi,
37:28setelah itu,
37:28pertemuan kan,
37:29saya,
37:30enam mata,
37:32dengan beliau.
37:33Dan,
37:34menyampaikan,
37:35langkah-langkah yang diambil,
37:37mereformasi Polri.
37:39Oh,
37:39ini setelah lima tokoh,
37:40terus Bapak,
37:41sama Pak Presiden,
37:43Pak Syed Lidu,
37:43dan satu tokoh lagi.
37:44Satu tokoh,
37:44satu orang,
37:45orang-orang ini.
37:48Dan,
37:48saya dengarkan dengan tekun,
37:51oke,
37:52jadi,
37:52saya menyatakan ke publik,
37:54rencana Presiden melakukan reformasi Polri,
37:58itu,
37:58menurut saya,
37:59sudah jalan yang benar.
38:00Dan,
38:01mencapai titik tertentu,
38:03yang saya,
38:04oke.
38:04Nah,
38:05jadi,
38:05apa yang dikatakan oleh Habibur Rahman,
38:08itu menurut saya,
38:10ini,
38:10ini,
38:11saya,
38:12saya,
38:13menyayangkan,
38:14karena Habibur Rahman itu,
38:15Partai Gerindra,
38:17dan,
38:18menaikkan,
38:18menjadi keputusan,
38:20pleno,
38:21seakan-akan menekam Presiden,
38:23untuk,
38:23tidak ada pilihan,
38:24kecuali,
38:25bahwa Kapolri,
38:26hasil doa Presiden.
38:27Padahal,
38:28Presiden malam itu,
38:29masih bertanya,
38:29yang mana yang terbaik.
38:31Nah,
38:32saya,
38:33sekasian Presiden,
38:34janganlah menekam Presiden,
38:36biarkanlah Presiden ambil keputusan.
38:38Nah,
38:39jadi,
38:40menyatakan salah kapra,
38:41menurut saya,
38:41Pak Habibur Rahman,
38:43mungkin,
38:43dia tidak tahu,
38:44karena dia tidak hadir,
38:45gitu ya,
38:46tapi,
38:47yang saya sayangkan,
38:48Kader Partai Gerindra,
38:50yang,
38:50saya akan menekam Presiden,
38:52agar mengambil keputusan,
38:54sesuai dengan,
38:56keputusan Komisi 3.
38:57Yang menarik,
38:57Mbak Rusi,
38:58baru kali ini loh,
38:59namanya,
39:00keputusan Komisi,
39:01dinaikkan di pleno,
39:02yang tidak terkait,
39:03dengan,
39:04apa namanya,
39:05pemilihan orang,
39:06keputusan,
39:07itu dinaikkan.
39:08Nah,
39:08jadi,
39:09padahal Pak Presiden,
39:11lagi jernih betul,
39:12untuk memikirkan,
39:14saya membacanya begini,
39:15Presiden ini,
39:16tidak gegabah,
39:17hanya,
39:18penggantian Kapolri,
39:19menyelesaikan masalah polisi,
39:21karena sudah sering sekali,
39:22penggantian Kapolri,
39:23saya mendengarkan,
39:24ini,
39:24dia menyelesaikan,
39:26secara tuntas,
39:27tentang,
39:27kepolisian,
39:28sehingga,
39:29terkesan lamban,
39:31penggantian Kapolri.
39:32Ya,
39:32itu,
39:33jadi,
39:33pergantian orang itu,
39:35bukan melulu,
39:35akan menyelesaikan,
39:36masalah,
39:37semuanya.
39:39Tapi,
39:40Anda menangkap,
39:40bahwa satu,
39:42bahwa,
39:43ini bukan karena,
39:43urusan balas budi,
39:44bukan,
39:45dan ini juga,
39:46bukan karena,
39:47ada semacam,
39:49ketakutan,
39:50karena tidak punya orang.
39:52Pertanyaannya adalah,
39:53sebenarnya punya orang atau tidak?
39:54Kalau,
39:55ya,
39:56mohon maaf,
39:56dia,
39:56dia,
39:57nama itu disebut,
39:59karena saya tahu,
40:00saya tahu,
40:01dan menurut saya,
40:02oke,
40:03oke,
40:03kalau itu,
40:04langkah itu dilakukan,
40:05saya yakin,
40:06itu,
40:07akan,
40:07rakyat akan dapat tepuk tangan.
40:09Oke.
40:09Prabowo akan dapat,
40:10Prabowo akan dapat tepuk tangan,
40:12kalau yang dia,
40:13jelaskan saat itu,
40:15enam mata,
40:17dia lakukan,
40:18saya yakin,
40:19bahwa,
40:20rakyat mungkin,
40:20akan berpesta,
40:22menyatakan,
40:23kami sudah punya presiden yang sebenar.
40:25Tentu Anda tidak bisa mengatakannya sekarang,
40:28Pak Syedidu,
40:29tetapi nanti,
40:30ketika ada pengumuman,
40:31entah kapan itu,
40:32itu prerogatif presiden Prabowo,
40:34itu akan saya tanyakan kembali ke Pak Syedidu,
40:36apakah ini orangnya,
40:37yang sama dengan yang dikatakan kepada Anda,
40:40pada saat pertemuan,
40:41enam mata.
40:42Pertanyaan terakhir saya,
40:43Pak Syedidu,
40:45Anda,
40:47kan tadi Anda mengklasifikasikan,
40:48orang-orang yang bertemu di rumah,
40:50itu adalah orang dalam,
40:51pavilion,
40:52yang belum masuk ke dalam,
40:54lalu orang yang sudah kehilangan harapan,
40:58atau orang yang tetap masih memiliki harapan,
41:01Anda di posisi yang mana setelah bertemu dengan presiden?
41:04Saya selalu bahwa,
41:06saya di posisi orang luar,
41:08dan yang punya harapan,
41:10yang menitipkan harapan.
41:12Karena begini,
41:12kenapa saya menitakan,
41:14bahwa saya punya harapan ke dia,
41:15karena,
41:16saya ini ketemu presiden yang punya patriotisme,
41:21punya nasionalisme,
41:22dan punya keberanian,
41:24untuk melakukan perbaikan.
41:27Nah,
41:27yang menarik itu,
41:28pada saat selesai itu,
41:30kayaknya kita perlu ketemu dua minggu sekali.
41:33Presiden sibuk lah, Pak.
41:34Saya bilang,
41:35Pak,
41:35udah lah, Pak,
41:36kami butuh keputusan tiap hari,
41:38bukan pertemuan dua minggu sekali.
41:40Tapi ada keputusan,
41:41saya perlu suntikan keberanian.
41:43Nah,
41:46saya bilang, Pak,
41:47kurang-kurangnya,
41:47nggak Anda lebih berani dari saya.
41:50Wah,
41:50ngasak presiden ngomong gitu,
41:52Pak.
41:52Iya,
41:52maksudnya mungkin,
41:53saya kan pilihkan pejabat,
41:54tapi berani,
41:56mau dia.
41:57Oh,
41:58he's trying to be,
41:59inilah,
42:00modest.
42:00Ya.
42:01Nah,
42:01jadi,
42:02saya menganggap bahwa,
42:04sepertinya,
42:05presiden memang ini,
42:06butuh dukungan rakyat,
42:07agar dia,
42:08butuh keberanian,
42:09untuk mengambil langkah yang tegas.
42:11Karena,
42:13niatnya saya bilang,
42:14saya kasih menyatakan,
42:15Mbak Rosi,
42:16saya percaya presiden niatnya,
42:19seribu persen saya percaya.
42:20Tapi,
42:21saya frustrasi tentang caranya.
42:23Anda percaya seribu persen pada niatnya,
42:25tapi frustrasi dengan caranya.
42:27Nah,
42:28setelah saya ketemu malam ini,
42:29oke.
42:30Ternyata,
42:31bukan omong-omong,
42:33dia punya niat,
42:34dan ingin melaksanakan,
42:35dan dilaksanakan,
42:37sepertinya,
42:38itu hampir tiap hari dilaksanakan,
42:40cuma tidak diumumkan,
42:41di pelaksanaannya.
42:43Saya mengambil contoh tadi,
42:44tentang,
42:44pengunduran diri,
42:47OJK.
42:49Nah,
42:49ini saya berharap,
42:51nah,
42:51yang problem sebenarnya,
42:52adalah,
42:53Pak Presiden,
42:54tidak punya jubir,
42:55yang menyampaikan,
42:56apa yang sudah dilaksanakan.
42:58Apa yang sudah dilaksanakan.
42:59Yang mampu mengartikulasikan,
43:01apa yang menjadi prinsip-prinsip,
43:02atau,
43:04landasan berpikir,
43:05mengapa ia mengambil keputusan ini.
43:07Karena terlihat sekali,
43:08misalnya,
43:09soal,
43:10Board of Peace itu.
43:11Nah,
43:12begitu,
43:12para mantan menlu,
43:14atau,
43:14ya,
43:15sekelas Pak Dino Jalal,
43:16kemudian,
43:17bisa memahami,
43:18karena,
43:19hanya itu yang ada,
43:20di,
43:20meja kan,
43:22pilihan,
43:23satu-satu yang harus diambil,
43:24dan bisa punya peluang,
43:26untuk keluar,
43:26kalau itu tidak sesuai.
43:28Artinya,
43:28memang ada gap,
43:29antara apa yang menjadi,
43:30bagian dari keputusan,
43:32seorang Presiden,
43:32dan bagaimana,
43:33itu dikomunikasikan pada publik.
43:37Jadi,
43:37Pak Sayedidu,
43:38siap jadi jubir,
43:39Pak Presiden?
43:40Saya mungkin lebih bermanfaat,
43:41bersama rakyat di luar,
43:44untuk membantu,
43:45Presiden di dalam,
43:46untuk melaksanakan,
43:47apa yang dia cita-cita,
43:49untuk,
43:49begini,
43:49negeri ini,
43:50butuh pemimpin yang kuat,
43:52karena kerusakannya,
43:53harus dihentikan,
43:54harus dihentikan.
43:55Jangan kembali lagi,
43:56saya mengingatkan teman-teman,
43:58yang menganggap berposisi,
44:00hentikan sekarang,
44:01kita mendukung,
44:01mendukung si,
44:02A,
44:02si,
44:02B,
44:03si,
44:03sih.
44:04Karena,
44:05faktanya,
44:05oligarki juga,
44:06di belakang mereka.
44:08Itu yang,
44:09nah,
44:09akhirnya,
44:10kalau kita mendukung si,
44:11A,
44:11maka dia jual kita ke oligarki.
44:15Nah,
44:15jadi,
44:15kita sekarang punya agenda,
44:18mengembalikan,
44:19kedolatan.
44:19Nah,
44:19yang menarik,
44:20Pak Presiden,
44:23saya besok,
44:24akan rapat,
44:25tentang,
44:25pembentukan,
44:27gerakan,
44:29merebut kembali,
44:29kedolatan.
44:30GMKR itu?
44:31GMKR.
44:32Langsung,
44:32presiden,
44:32aku dukung,
44:35aku dapat,
44:36spontan.
44:37Artinya,
44:39memang di kepala beliau dulu,
44:40bahwa kedaulatan ini harus kembalikan.
44:42Secara prinsip,
44:43pasti setuju.
44:44Tetapi,
44:45ketika ada salah satu tokoh yang mengatakan,
44:47Adili,
44:47Jokowi,
44:49Mak Zulkan Gibran,
44:51saya rasa,
44:52itu,
44:52belum tentu juga sejalan dengan apa yang menjadi,
44:55rasanya presiden.
44:57Saya pikir ya,
44:58itu ya,
44:59tapi,
44:59saya bilang,
45:00menjelaskan begini,
45:01saya tanya teman-teman,
45:02kenapa ini muncul?
45:03Dia bilang,
45:03karena inilah yang menghambat,
45:05kedaulatan dikembalikan.
45:07Kan,
45:07tiga di situ kan,
45:09Repulmanasi Polri,
45:09tangkap Adili Jokowi,
45:13dan,
45:14saya bilang,
45:14kenapa ini masuk?
45:16Enggak,
45:16ini penghambat,
45:18kembalinya ke keadaulatan.
45:19Jadi,
45:19tapi saya yakin betul.
45:21Kan begini,
45:21Pak Prabowo kan begini,
45:23kalau kita lihat,
45:24saya selalu menyatakan,
45:25Pak Prabowo ini,
45:27otaknya Rambo,
45:28hatinya Rinto.
45:29Jadi,
45:30maksudnya,
45:30semangatnya untuk memperbaiki,
45:32ya,
45:32semangat Rambo.
45:33Tapi,
45:34kasih sayangnya itu,
45:35lagu-lagu Rinto kan kita tahu.
45:37Nah,
45:37tapi,
45:39nah,
45:39itulah,
45:39Prabowo.
45:41Nah,
45:41tapi,
45:42dia tidak juga menyatakan bahwa,
45:45saya menyatakan begini,
45:47Pak Prabowo,
45:48tidak memenghukum orang,
45:50tapi dia tidak melindungi orang yang kena hukum.
45:53Itu,
45:55tangkapan saya sekarang.
45:57Pak Prabowo,
45:57tidak ada niat menghukum orang,
45:59tapi tidak mau membela orang yang memang melanggar hukum.
46:03Oke,
46:03clear kalau begitu.
46:04Clear.
46:04Terima kasih, Pak Saididu.
46:06Saya rasa ini cukup menjelaskan tentang pertemuan tadi.
46:10Dan rasanya,
46:11tetap nyalakan optimisme,
46:13bukan dukung-mendukung orang,
46:15tetapi yang didukung adalah kebijakannya.
46:20Terima kasih ya, Pak Saididu.
46:21Terima kasih.
46:21Selamat malam.
46:23Dan terima kasih juga bagi Anda yang telah menyaksikan Rosy.
46:25Kita jumpa lagi Kamis depan,
46:26hanya di Kompas TV,
46:27independen terpercaya.
46:29Sampai jumpa.
46:30Terima kasih.
46:30Terima kasih.
46:31Terima kasih.
46:32Terima kasih.
46:34Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan