00:00Intro
00:00Meninggalnya siswa SD di Ngadang Nusa Tenggara Timur akibat bunuh diri, jadi pelajaran bagi bangsa.
00:15Di saat anak-anak seusianya sedang menikmati masa bermain dan belajar, korban justru memilih mengakhiri hidup.
00:23Karena kecewa, tidak dibelikan alat tulis dan buku untuk sekolah.
00:27Inilah catatan Kompas TV, pelajaran dari kisah pilu di Ngadang.
00:38Anak ini tidak tahu lagi mungkin, dia juga terasa bermarki hidup terlalu tinggi.
00:46Kedahang setiap hari.
00:48Ya, pengalaman sekolah itu lapar.
00:49Di halaman rumah berdinding bambu inilah, YBR, siswa kelas 4 sekolah dasar di Kecamatan Cerebu U, Ngadang Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya.
01:14Hanya secari kertas, berisikan surat terakhirnya kepada sang ibu yang mengantarkan kepergiannya dengan cara yang tragis.
01:24Usianya mungkin belum cukup untuk memahami rumitnya kehidupan.
01:32Namun akhir tragis ini menjadi cerminan bahwa di usianya yang baru menginjak 10 tahun,
01:39ia merasakan kesedihan yang mendalam.
01:42Jangankan membayar uang tenggakan sekolah.
01:48Membeli buku dan pena pun, ia tak mampu.
01:52Peristiwa kematian ini diawali dengan kewajiban beliau untuk selain membelanjakan barang-barang itu juga,
02:03untuk membayar uang sekolah.
02:04Ada kewajiban uang sekolah yang belum ia penuhi.
02:07Sehingga kemudian mamanya kebejawa untuk mendapatkan bantuan dana,
02:14tetapi dana, oke salah dana BOS,
02:18tetapi mamanya itu tidak bisa.
02:24Gubernur NTT pun mengaku kasus ini jadi tamparan sekaligus kegagalan bagi pemerintah provinsi NTT
02:33dalam mendeteksi dini persoalan kesejahteraan masyarakat.
02:42Ini memang kami akan banyak harus memperbaiki diri,
02:49karena ini menurut saya adalah kegagalan yang banyak faktor di NTT.
02:51Khususnya pemerintah kabupaten yang ada terkait dengan bagaimana mekanisme pemerintahan,
02:58mekanisme peranata sosial, keagamaan, adat,
03:03sampai tidak bisa menjangkau sampai persisipan terjadi ini,
03:06tentu ini memukul kami secara bersama.
03:09Dan nanti kami akan segera untuk melakukan berbagai langkah,
03:12untuk ini tidak boleh terjadi lagi di waktu-waktu depan di tempat manapun.
03:15Sementara itu pengamat pendidikan sekaligus dosen FKIP Universitas Nusa Jendana,
03:24Marcel Robot bilang,
03:26meninggalnya YBR memberikan pesan penting bagi pemerintah Indonesia,
03:30terkait sulitnya sejumlah keluarga mendapatkan fasilitas pendidikan,
03:34seperti yuran dan juga perlengkapan sekolah.
03:36Jadi biasanya tahun ajaran baru itu kesulitan,
03:42kalau sejumlah anak di dalam keluarga itu sekolah,
03:44itu mereka kesulitan membeli tas,
03:46kesulitan membeli sepatu,
03:49baju seragam,
03:50dan seterusnya termasuk membeli buku tulis dan full pen.
03:54Jadi khusus untuk pemerintah NTT,
03:57itu mesti ada pemikiran
03:59untuk melakukan intervensi dana afirmasi itu ya,
04:04khusus untuk tahun ajaran baru.
04:07Saat itu mereka kesulitan bukan main.
04:15Tragedi yang terjadi di ngada Nusa Tenggara Timur
04:18bukan sekedar kisah duka keluarga,
04:21melainkan cerminan luka sosial yang selama ini terabaikan.
04:27Ketika masa depan seorang anak gagal
04:30untuk dijaga karena kendala sosial,
04:33pertanyaannya adalah,
04:35siapa yang lalai dalam menjaga stabilitas sosial?
04:41Tim Liputan, Kompas TV
04:44Meninggalnya anak berusia 10 tahun
04:59di ngada Nusa Tenggara Timur
05:00akibat bunuh diri
05:01adalah tamparan bagi kita semua warga bangsa Indonesia.
05:06Di saat anak-anak seusianya sedang menikmati
05:09masa-masa bermain dan belajar riang gembira,
05:11korban justru memilih mengakhiri hidup
05:15karena kecewa tidak dibelikan alat tulis dan buku untuk sekolah.
05:19Ibu korban tak mampu membeli buku atau pulpen
05:22karena miskin dan tidak punya uang.
05:25Gubernur Melchianus Leikalena mengakui,
05:28peristiwa ini adalah tamparan
05:29sekaligus kegagalan bagi pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
05:34Kegagalan sistem pemerintah dalam deteksi dini,
05:38persoalan masyarakat yang berujung gagal,
05:41beri solusi bagi warga miskin.
05:43Kejujuran, Gubernur NTT patut diberi jempol.
05:47Tindakan nyata aparatnya di lapangan
05:49agar ini tidak terulang harus dibuktikan.
05:52Tata kelola pelayanan publik wajib dibenahi.
05:55mulai pembenahan administrasi kependudukan,
05:59evaluasi kebijakan pendidikan,
06:01serta menguatkan kembali solidaritas
06:04dan gotong royong masyarakat.
06:11Sosiolog Universitas Gajah Mada,
06:14Andreas Budi Widianta berpendapat,
06:17kasus bunuh diri anak di Ngada
06:19adalah puncak akumulasi tekanan sosial
06:22akibat kegagalan negara
06:24dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
06:28Kata Andreas, ketimpangan ekonomi yang semakin lebar
06:31menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrim,
06:36bahkan tidak punya dan memenuhi alat pendidikan paling dasar.
06:40Karena itu, kebijakan negara
06:42jangan hanya berkutat kepada masalah administrasi
06:46atau program-program besar,
06:48tapi harus menjangkau persoalan nyata
06:51yang dihadapi masyarakat miskin.
06:53Kalau ada makan bergizi gratis,
06:56perlu juga dipikirkan
06:57memberi alat kelengkapan sekolah gratis
06:59kepada siswa dari kalangan miskin.
07:02Jangan sampai negara
07:04abai dalam menyediakan
07:06kebutuhan dasar masyarakat.
07:08Jangan cuma menuntut generasi muda
07:10jadi generasi unggul,
07:11tapi menyediakan kebutuhan dasar
07:13agar semua warganya hidup layak,
07:16malah tidak mampu.
07:23Apalagi Badan Pusat Statistik atau BPS
07:25menyatakan garis kemiskinan nasional
07:28per September 2025 naik 5,30 persen
07:33dibandingkan Maret 2025.
07:36Pemerintah harus memiliki data kependudukan yang akurat
07:39agar dapat menyalurkan bantuan tepat sasaran.
07:43Meningkatnya angka bunuh diri di Indonesia
07:49juga perlu jadi perhatian.
07:52Data Pusat Informasi Kriminal Nasional
07:54dalam dua tahun terakhir
07:56terjadi lebih dari seribu kasus bunuh diri.
08:00Lebih dari 50 persen pelakunya.
08:02Kaum muda.
08:03Angka ini menunjukkan
08:05perlunya negara
08:06menyediakan layanan psikologis
08:08dan pendidikan mental
08:09hingga ke daerah-daerah.
08:11Semua berharap
08:13kematian anak yang bunuh diri
08:15di Ngada ini
08:15jadi yang terakhir.
08:21Lebih dari itu
08:22harapan agar pembangunan
08:24yang dilakukan negara
08:25harus adil dan merata
08:26tidak hanya menguntungkan segelintir elit.
08:29Masyarakat miskin harus diberi akses mudah
08:32untuk dapat menjangkau
08:33semua layanan publik
08:35mulai dari pendidikan,
08:37kesehatan,
08:37serta bantuan sosial.
08:39Demikian catatan Kompas TV
08:41sampai jumpa lagi
08:42pekan depan.
Komentar