Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
DISCLAIMER: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan bunuh diri.

---

NGADA, KOMPAS.TV - Meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur, akibat bunuh diri menjadi pelajaran bagi bangsa.

Di saat anak-anak seusianya menikmati masa bermain dan belajar, korban justru memilih mengakhiri hidup karena kecewa tidak dibelikan alat tulis dan buku untuk sekolah.

Inilah catatan Kompas TV, pelajaran dari kisah pilu di Ngada.

Baca Juga Geger! Pria Ditemukan Tewas di Bandar Lampung, Tergeletak dengan Kepala Terbungkus Plastik di https://www.kompas.tv/regional/649358/geger-pria-ditemukan-tewas-di-bandar-lampung-tergeletak-dengan-kepala-terbungkus-plastik

#ngada #ntt #perlindungan anak

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/649360/full-pelajaran-dari-kisah-pilu-siswa-sd-di-ngada-ntt-siapa-harus-berbenah-cakom

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Intro
00:00Meninggalnya siswa SD di Ngadang Nusa Tenggara Timur akibat bunuh diri, jadi pelajaran bagi bangsa.
00:15Di saat anak-anak seusianya sedang menikmati masa bermain dan belajar, korban justru memilih mengakhiri hidup.
00:23Karena kecewa, tidak dibelikan alat tulis dan buku untuk sekolah.
00:27Inilah catatan Kompas TV, pelajaran dari kisah pilu di Ngadang.
00:38Anak ini tidak tahu lagi mungkin, dia juga terasa bermarki hidup terlalu tinggi.
00:46Kedahang setiap hari.
00:48Ya, pengalaman sekolah itu lapar.
00:49Di halaman rumah berdinding bambu inilah, YBR, siswa kelas 4 sekolah dasar di Kecamatan Cerebu U, Ngadang Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya.
01:14Hanya secari kertas, berisikan surat terakhirnya kepada sang ibu yang mengantarkan kepergiannya dengan cara yang tragis.
01:24Usianya mungkin belum cukup untuk memahami rumitnya kehidupan.
01:32Namun akhir tragis ini menjadi cerminan bahwa di usianya yang baru menginjak 10 tahun,
01:39ia merasakan kesedihan yang mendalam.
01:42Jangankan membayar uang tenggakan sekolah.
01:48Membeli buku dan pena pun, ia tak mampu.
01:52Peristiwa kematian ini diawali dengan kewajiban beliau untuk selain membelanjakan barang-barang itu juga,
02:03untuk membayar uang sekolah.
02:04Ada kewajiban uang sekolah yang belum ia penuhi.
02:07Sehingga kemudian mamanya kebejawa untuk mendapatkan bantuan dana,
02:14tetapi dana, oke salah dana BOS,
02:18tetapi mamanya itu tidak bisa.
02:24Gubernur NTT pun mengaku kasus ini jadi tamparan sekaligus kegagalan bagi pemerintah provinsi NTT
02:33dalam mendeteksi dini persoalan kesejahteraan masyarakat.
02:42Ini memang kami akan banyak harus memperbaiki diri,
02:49karena ini menurut saya adalah kegagalan yang banyak faktor di NTT.
02:51Khususnya pemerintah kabupaten yang ada terkait dengan bagaimana mekanisme pemerintahan,
02:58mekanisme peranata sosial, keagamaan, adat,
03:03sampai tidak bisa menjangkau sampai persisipan terjadi ini,
03:06tentu ini memukul kami secara bersama.
03:09Dan nanti kami akan segera untuk melakukan berbagai langkah,
03:12untuk ini tidak boleh terjadi lagi di waktu-waktu depan di tempat manapun.
03:15Sementara itu pengamat pendidikan sekaligus dosen FKIP Universitas Nusa Jendana,
03:24Marcel Robot bilang,
03:26meninggalnya YBR memberikan pesan penting bagi pemerintah Indonesia,
03:30terkait sulitnya sejumlah keluarga mendapatkan fasilitas pendidikan,
03:34seperti yuran dan juga perlengkapan sekolah.
03:36Jadi biasanya tahun ajaran baru itu kesulitan,
03:42kalau sejumlah anak di dalam keluarga itu sekolah,
03:44itu mereka kesulitan membeli tas,
03:46kesulitan membeli sepatu,
03:49baju seragam,
03:50dan seterusnya termasuk membeli buku tulis dan full pen.
03:54Jadi khusus untuk pemerintah NTT,
03:57itu mesti ada pemikiran
03:59untuk melakukan intervensi dana afirmasi itu ya,
04:04khusus untuk tahun ajaran baru.
04:07Saat itu mereka kesulitan bukan main.
04:15Tragedi yang terjadi di ngada Nusa Tenggara Timur
04:18bukan sekedar kisah duka keluarga,
04:21melainkan cerminan luka sosial yang selama ini terabaikan.
04:27Ketika masa depan seorang anak gagal
04:30untuk dijaga karena kendala sosial,
04:33pertanyaannya adalah,
04:35siapa yang lalai dalam menjaga stabilitas sosial?
04:41Tim Liputan, Kompas TV
04:44Meninggalnya anak berusia 10 tahun
04:59di ngada Nusa Tenggara Timur
05:00akibat bunuh diri
05:01adalah tamparan bagi kita semua warga bangsa Indonesia.
05:06Di saat anak-anak seusianya sedang menikmati
05:09masa-masa bermain dan belajar riang gembira,
05:11korban justru memilih mengakhiri hidup
05:15karena kecewa tidak dibelikan alat tulis dan buku untuk sekolah.
05:19Ibu korban tak mampu membeli buku atau pulpen
05:22karena miskin dan tidak punya uang.
05:25Gubernur Melchianus Leikalena mengakui,
05:28peristiwa ini adalah tamparan
05:29sekaligus kegagalan bagi pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
05:34Kegagalan sistem pemerintah dalam deteksi dini,
05:38persoalan masyarakat yang berujung gagal,
05:41beri solusi bagi warga miskin.
05:43Kejujuran, Gubernur NTT patut diberi jempol.
05:47Tindakan nyata aparatnya di lapangan
05:49agar ini tidak terulang harus dibuktikan.
05:52Tata kelola pelayanan publik wajib dibenahi.
05:55mulai pembenahan administrasi kependudukan,
05:59evaluasi kebijakan pendidikan,
06:01serta menguatkan kembali solidaritas
06:04dan gotong royong masyarakat.
06:11Sosiolog Universitas Gajah Mada,
06:14Andreas Budi Widianta berpendapat,
06:17kasus bunuh diri anak di Ngada
06:19adalah puncak akumulasi tekanan sosial
06:22akibat kegagalan negara
06:24dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
06:28Kata Andreas, ketimpangan ekonomi yang semakin lebar
06:31menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrim,
06:36bahkan tidak punya dan memenuhi alat pendidikan paling dasar.
06:40Karena itu, kebijakan negara
06:42jangan hanya berkutat kepada masalah administrasi
06:46atau program-program besar,
06:48tapi harus menjangkau persoalan nyata
06:51yang dihadapi masyarakat miskin.
06:53Kalau ada makan bergizi gratis,
06:56perlu juga dipikirkan
06:57memberi alat kelengkapan sekolah gratis
06:59kepada siswa dari kalangan miskin.
07:02Jangan sampai negara
07:04abai dalam menyediakan
07:06kebutuhan dasar masyarakat.
07:08Jangan cuma menuntut generasi muda
07:10jadi generasi unggul,
07:11tapi menyediakan kebutuhan dasar
07:13agar semua warganya hidup layak,
07:16malah tidak mampu.
07:23Apalagi Badan Pusat Statistik atau BPS
07:25menyatakan garis kemiskinan nasional
07:28per September 2025 naik 5,30 persen
07:33dibandingkan Maret 2025.
07:36Pemerintah harus memiliki data kependudukan yang akurat
07:39agar dapat menyalurkan bantuan tepat sasaran.
07:43Meningkatnya angka bunuh diri di Indonesia
07:49juga perlu jadi perhatian.
07:52Data Pusat Informasi Kriminal Nasional
07:54dalam dua tahun terakhir
07:56terjadi lebih dari seribu kasus bunuh diri.
08:00Lebih dari 50 persen pelakunya.
08:02Kaum muda.
08:03Angka ini menunjukkan
08:05perlunya negara
08:06menyediakan layanan psikologis
08:08dan pendidikan mental
08:09hingga ke daerah-daerah.
08:11Semua berharap
08:13kematian anak yang bunuh diri
08:15di Ngada ini
08:15jadi yang terakhir.
08:21Lebih dari itu
08:22harapan agar pembangunan
08:24yang dilakukan negara
08:25harus adil dan merata
08:26tidak hanya menguntungkan segelintir elit.
08:29Masyarakat miskin harus diberi akses mudah
08:32untuk dapat menjangkau
08:33semua layanan publik
08:35mulai dari pendidikan,
08:37kesehatan,
08:37serta bantuan sosial.
08:39Demikian catatan Kompas TV
08:41sampai jumpa lagi
08:42pekan depan.
Komentar

Dianjurkan