00:01Kabut duka kemiskinan kembali menelan korban, belum kering duka air mata atas meninggalnya anak laki-laki di Ngada, tragedi itu kembali terjadi di kendari Sulawesi Tenggara.
00:14Kesulitan ekonomi membuat seorang bocah perempuan harus ikut mencari nafkah dengan menjajakan tisu kepada pengendara di lampu merah.
00:24Namun tak ada yang menyangka langkah kecilnya malam itu justru berakhir di bawah roda alat berat yang bahkan tak sempat melihatnya.
00:33Ia tak pernah kembali dan meninggalkan duka bagi keluarga.
00:38Aspal basah di perempatan lampu merah PLN Wawa Kendari pada Kamis 29 Januari malam menjadi saksi bisu, tragedi memilukan.
01:01Seorang bocah perempuan mengembuskan nafas terakhirnya, tangis seri sang ibu memecah malam, hatinya hancur memeluk raga anaknya yang sudah tak bernyawa.
01:15Di selaisak yang mengguncang dada, terucap kalimat yang membuat siapapun yang mendengar ikut terluka.
01:23Saya suruh dia pergi jual tisu karena kami mau makan, sudah tidak ada nasi.
01:31Najwa sore itu pamit hendak berjualan tisu kepada sang ibu.
01:40Ia berjanji akan membawa beras untuk keluarga sebagai makan malamnya.
01:46Bagi Najwa dan keluarga, uang receh dari pengendara hasil berjualan tisu bukan sekadar tambahan,
01:53tetapi menjadi penopang kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya.
01:57Ekonomi keluarga sulit memaksa Najwa ikut membantu orang tua untuk mencari nafkah.
02:03Di bawah guyuran hujan di Kamis malam, ia tetap berdiri sambil menjajakan tisu di tengah dingin yang menusuk.
02:11Namun, malam itu tak ada beras.
02:13Najwa telah tiada.
02:15Ia tertabrak alat berat yang tengah melintas.
02:19Ini bukan hanya kecelakaan lalu lintas, saudara.
02:21Najwa menjadi potret getir tentang anak-anak yang terpaksa bekerja di jalan demi bertahan hidup.
02:28Kematian Najwa seakan petir di siang bolong.
02:53Kabar kematian Najwa diketahui sang ibu di malam hari.
02:56Salah satu anaknya berlari menuju rumah membawa kabar duka.
03:00Saudaranya sudah tiada.
03:03Sang ibu mempercepat langkah menuju jalan raya tempat sang anak selalu berjualan tisu bersama saudaranya.
03:10Tangisnya tak bisa terbendung saat melihat tubuh kecil sang anak telah tergeletak di asfal tak bernyawa.
03:16Awalnya sang ibu menduga anaknya menjadi korban tabrak lari.
03:31Namun usai dilakukan pengecekan oleh polisi dan memeriksa sejumlah saksi,
03:36diketahui korban tewas akibat tertabrak alat berat.
03:39Dari CCTV di lokasi terlihat, sebuah alat berat jenis loader menuju atau melaju saat malam peristiwa terjadi.
03:48Korban sempat dibawa ke rumah sakit Bayangkara Kendari, namun jawanya tak tertolong.
03:53Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap penabrak korban.
04:06Pelaku ditangkap di Kelurahan Anawai, kejabatan Wawa Kendari.
04:10Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mendalami kronologi kejadian
04:15dan memastikan unsur-unsur dalam peristiwa kecelakaan tersebut.
04:23Alat berat yang dikendarai pelaku saat kejadian juga ikut disita, saudara.
04:31Wheel loader, alat berat yang menabrak Najwa adalah alat berat beroda karet
04:36yang dilegapi baket besar di bagian depan.
04:40Saat ini alat berat ini telah disita polisi dan disimpan di Polresta Kendari.
04:44Terima kasih.
05:12Peristiwa ini menyentuh banyak hati, termasuk Gubernur Sulawesi Tegara Andi Sumanger Ruka.
05:24Ia merasakan duka mendalam atas peristiwa ini.
05:28Bersama jajarannya, Andi berkunjung ke rumah Najwa sambil membawa sejumlah bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
05:35Di rumah sederhana itu, semua kesedihan sang ibu terkuak.
05:40Kemiskinan yang mereka derita memaksa sang anak turun ke jalan untuk membantu mencari nafkah.
05:47Gubernur menyebut akan memfasilitasi pekerjaan bagi orang tua korban serta membantu renovasi rumah.
05:53Ia juga meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran bagi warga yang membutuhkan.
06:01Tidak serabutan ya.
06:06Jadi kita menghimbau ke depan karena ada anaknya tujuh.
06:11Maka kita himbau supaya tidak melakukan lagi.
06:15Membiarkan anaknya di jualan di pinggir jalan.
06:20Karena resikonya, para desa, para padura, tolong dilihat masyarakatnya.
06:26Ya, dan diyakinkan bahwa bantuan sosial itu tepat sasaran.
06:35Di rumah inilah Najwa, bocah kelas 4 SD ini tinggal bersama orang tua dan ke-6 saudaranya.
06:44Kondisi rumah jauh dari kata layak untuk dihuni 9 orang anggota keluarga.
06:49Tak hanya kondisi rumah, kondisi ekonomi keluarga korban pun sangat terbatas.
06:55Ayahnya bekerja serabutan, sementara sang ibu tidak memiliki pekerjaan tetap.
07:00Hal inilah yang memaksa sang anak akhirnya ikut bekerja membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarga walaupun resiko mengancam keselamatan mereka.
07:11Ditambah, keluarga korban juga tak tersentuh bansos dari pemerintah karena adanya kendala administrasi dari data kependudukan.
07:19Sebetulnya ekonominya sangat susah, apalagi sejak saya tidak dapat bantuan dari PKH.
07:35Karena memang anak kartu keluarga saya katanya bermasalah, KTP keluarga saya bermasalah.
07:41Jadi sejak itulah saya tidak pernah dapat apa-apa.
07:45Jadi saya kalau istilahnya makan, hanya untuk makan saja.
07:49Satu liter beras itu kadang tidak cukup.
07:53Kematian Najwa menjadi tamparan keras bagi sistem perlindungan anak dan jaminan sosial di daerah.
08:00Kemiskinan ekstrim memaksa anak dibawa umur turun ke jalanan demi kebutuhan pokok untuk keluarga.
08:05Kini Najwa telah pergi, ia meninggalkan pesan terakhir perjuangan melawan lapar yang berakhir di bawah roda alat berat.
08:14Dua anak di Kendari dan Ngada, Nusa Tenggara Timur meninggal dalam kondisi yang seharusnya tidak terjadi saudara.
08:23Di Ngada, seorang anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya karena tekanan kemiskinan yang terlalu berat bagi tubuh dan jiwanya.
08:30Di Kendari, korban tidak memilih jalan itu.
08:34Namun, kemiskinan yang sama telah merenggut hidupnya secara paksa.
08:47Sebelumnya, seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur pergi meninggalkan luka yang tak akan pernah kering.
08:55Dengan sepucuk surat yang berisi pesan memilukan.
08:58Surat terakhir untuk mama.
09:01Di atas kertas kusam, jemari kecilnya menorekan kalimat untuk sang mama untuk terakhir kalinya.
09:07Surat yang berisi pesan cinta sekaligus pesan perpisahan kepada sang mama.
09:12Ia meminta agar mama tak menangis dan merelakan kepergiannya.
09:17Sebelum mengakhiri hidupnya, korban diketahui sempat meminta uang 10 ribu rupiah untuk membeli buku dan pena kepada ibunya.
09:25Namun, mendapatkan uang 10 ribu rupiah bukanlah hal mudah.
09:29Bagi sang ibu yang bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan, uang 10 ribu rupiah sangat sulit.
09:37Dengan keterbatasan, ia harus membiayai lima orang anaknya.
09:41Pondok bambu di kebun sunyi berukuran 2x3 meter inilah tempat ia menghabiskan kesehariannya bersama sang nenek tercinta.
09:54Pondok bambu ini menjadi saksi kehidupan sederhananya sebelum ia ditemukan meninggal dunia.
10:00Tak ada pintu kaca apalagi rangkaian baja.
10:03Di ruang sempit ini, terdapat sebuah tungku api yang berdampingan langsung dengan tempat tidur mereka.
10:11Kondisi ekonomi seadanya, bahkan mereka pun tak terdana bansos karena ada kendala dalam administrasi pada data kependudukan orang tuanya.
10:20Peristiwa yang dialami bocah di Ngada ini membuat gubernur NTT marah.
10:34Seorang siswa kelas 4 SD mengakhiri hidupnya karena dipicu persoalan ekonomi menjadi tamparan bagi negara.
10:41Di depan jajaran pemerintahan NTT, ia murka yang menyebut tragedi kemanusiaan ini terjadi sebagai kegagalan pemerintah menciptakan sistem perlindungan sosial bagi warganya.
10:54Ia meminta jajarannya untuk mengevaluasi kejadian ini dan meminta peristiwa ini menjadi yang terakhir kalinya.
11:01Pemerintah kita juga gagal, provinsi sama, perbuatan Ngada juga sama.
11:18Kita punya peran akal agama juga gagal, peran akal budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin itu.
11:25Kematian dua anak di dua wilayah yang berbeda bukan sekadar tragedi individual, tetapi realitas sehari-hari bagi jutaan warga.
11:43Kematian kedua anak ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa pembangunan tidak boleh lagi diukur dari pertumbuhan ekonomi semata.
11:50Pembangunan sejatinya adalah ketika tidak ada satupun anak yang meninggal karena lapar, karena sakit yang bisa diobati, atau karena keluarga miskin untuk mengakses layanan dasar.
12:02Kemiskinan tidak hanya merampas nasi dari meja makan, ia juga merampas masa depan mimpi dan bahkan nyawa anak-anak yang seharusnya masih belajar dan bermain.
Komentar