Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KENDARI, KOMPAS.TV - Kabut duka kemiskinan kembali menelan korban.

Belum kering duka air mata atas meninggalnya anak laki-laki di Ngada, tragedi itu kembali terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kesulitan ekonomi membuat seorang bocah perempuan harus ikut mencari nafkah dengan menjajakan tisu kepada pengendara di lampu merah.

Aspal basah di perempatan lampu merah PLN Wua-Wua, Kendari, Kamis (29/01/2026) malam menjadi saksi bisu tragedi memilukan.

Seorang bocah perempuan menghembuskan napas terakhirnya.

Najwa sore itu pamit hendak berjualan tisu kepada sang ibu.

Ia berjanji akan membawa beras untuk keluarga sebagai makan malamnya.

Bagi Najwa dan keluarga, uang receh dari pengendara hasil berjualan tisu bukan sekadar tambahan, tetapi menjadi penopang kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya.

Ekonomi keluarga sulit memaksa Najwa ikut membantu orang tua untuk mencari nafkah.

Ini bukan hanya kecelakaan lalu lintas. Najwa menjadi potret getir tentang anak-anak yang terpaksa bekerja di jalan demi bertahan hidup.

Usai dilakukan pengecekan oleh polisi dan memeriksa sejumlah saksi, diketahui korban tewas akibat tertabrak alat berat.

Dari CCTV di lokasi terlihat sebuah alat berat jenis loader melaju saat malam peristiwa terjadi.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap penabrak korban.

Pelaku ditangkap di Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-Wua, Kendari.

Alat berat yang dikendarai pelaku saat kejadian juga ikut disita.

Peristiwa ini menyentuh banyak hati, termasuk Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka.

Bersama jajarannya, Andi berkunjung ke rumah Najwa, membawa sejumlah bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.

Gubernur menyebut akan memfasilitasi pekerjaan bagi orang tua korban serta membantu renovasi rumah.

Baca Juga Bocah Penjual Tisu Tewas Tertabrak Alat Berat, Gubernur Sultra Janji Bantu Orangtua Korban di https://www.kompas.tv/regional/649491/bocah-penjual-tisu-tewas-tertabrak-alat-berat-gubernur-sultra-janji-bantu-orangtua-korban

#penjualtisu #alatberat #bocahtewas

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/649650/pilu-deret-fakta-bocah-penjual-tisu-tewas-tertabrak-alat-berat-keluarga-tak-terdata-bansos
Transkrip
00:01Kabut duka kemiskinan kembali menelan korban, belum kering duka air mata atas meninggalnya anak laki-laki di Ngada, tragedi itu kembali terjadi di kendari Sulawesi Tenggara.
00:14Kesulitan ekonomi membuat seorang bocah perempuan harus ikut mencari nafkah dengan menjajakan tisu kepada pengendara di lampu merah.
00:24Namun tak ada yang menyangka langkah kecilnya malam itu justru berakhir di bawah roda alat berat yang bahkan tak sempat melihatnya.
00:33Ia tak pernah kembali dan meninggalkan duka bagi keluarga.
00:38Aspal basah di perempatan lampu merah PLN Wawa Kendari pada Kamis 29 Januari malam menjadi saksi bisu, tragedi memilukan.
01:01Seorang bocah perempuan mengembuskan nafas terakhirnya, tangis seri sang ibu memecah malam, hatinya hancur memeluk raga anaknya yang sudah tak bernyawa.
01:15Di selaisak yang mengguncang dada, terucap kalimat yang membuat siapapun yang mendengar ikut terluka.
01:23Saya suruh dia pergi jual tisu karena kami mau makan, sudah tidak ada nasi.
01:31Najwa sore itu pamit hendak berjualan tisu kepada sang ibu.
01:40Ia berjanji akan membawa beras untuk keluarga sebagai makan malamnya.
01:46Bagi Najwa dan keluarga, uang receh dari pengendara hasil berjualan tisu bukan sekadar tambahan,
01:53tetapi menjadi penopang kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya.
01:57Ekonomi keluarga sulit memaksa Najwa ikut membantu orang tua untuk mencari nafkah.
02:03Di bawah guyuran hujan di Kamis malam, ia tetap berdiri sambil menjajakan tisu di tengah dingin yang menusuk.
02:11Namun, malam itu tak ada beras.
02:13Najwa telah tiada.
02:15Ia tertabrak alat berat yang tengah melintas.
02:19Ini bukan hanya kecelakaan lalu lintas, saudara.
02:21Najwa menjadi potret getir tentang anak-anak yang terpaksa bekerja di jalan demi bertahan hidup.
02:28Kematian Najwa seakan petir di siang bolong.
02:53Kabar kematian Najwa diketahui sang ibu di malam hari.
02:56Salah satu anaknya berlari menuju rumah membawa kabar duka.
03:00Saudaranya sudah tiada.
03:03Sang ibu mempercepat langkah menuju jalan raya tempat sang anak selalu berjualan tisu bersama saudaranya.
03:10Tangisnya tak bisa terbendung saat melihat tubuh kecil sang anak telah tergeletak di asfal tak bernyawa.
03:16Awalnya sang ibu menduga anaknya menjadi korban tabrak lari.
03:31Namun usai dilakukan pengecekan oleh polisi dan memeriksa sejumlah saksi,
03:36diketahui korban tewas akibat tertabrak alat berat.
03:39Dari CCTV di lokasi terlihat, sebuah alat berat jenis loader menuju atau melaju saat malam peristiwa terjadi.
03:48Korban sempat dibawa ke rumah sakit Bayangkara Kendari, namun jawanya tak tertolong.
03:53Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap penabrak korban.
04:06Pelaku ditangkap di Kelurahan Anawai, kejabatan Wawa Kendari.
04:10Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mendalami kronologi kejadian
04:15dan memastikan unsur-unsur dalam peristiwa kecelakaan tersebut.
04:23Alat berat yang dikendarai pelaku saat kejadian juga ikut disita, saudara.
04:31Wheel loader, alat berat yang menabrak Najwa adalah alat berat beroda karet
04:36yang dilegapi baket besar di bagian depan.
04:40Saat ini alat berat ini telah disita polisi dan disimpan di Polresta Kendari.
04:44Terima kasih.
05:12Peristiwa ini menyentuh banyak hati, termasuk Gubernur Sulawesi Tegara Andi Sumanger Ruka.
05:24Ia merasakan duka mendalam atas peristiwa ini.
05:28Bersama jajarannya, Andi berkunjung ke rumah Najwa sambil membawa sejumlah bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
05:35Di rumah sederhana itu, semua kesedihan sang ibu terkuak.
05:40Kemiskinan yang mereka derita memaksa sang anak turun ke jalan untuk membantu mencari nafkah.
05:47Gubernur menyebut akan memfasilitasi pekerjaan bagi orang tua korban serta membantu renovasi rumah.
05:53Ia juga meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran bagi warga yang membutuhkan.
06:01Tidak serabutan ya.
06:06Jadi kita menghimbau ke depan karena ada anaknya tujuh.
06:11Maka kita himbau supaya tidak melakukan lagi.
06:15Membiarkan anaknya di jualan di pinggir jalan.
06:20Karena resikonya, para desa, para padura, tolong dilihat masyarakatnya.
06:26Ya, dan diyakinkan bahwa bantuan sosial itu tepat sasaran.
06:35Di rumah inilah Najwa, bocah kelas 4 SD ini tinggal bersama orang tua dan ke-6 saudaranya.
06:44Kondisi rumah jauh dari kata layak untuk dihuni 9 orang anggota keluarga.
06:49Tak hanya kondisi rumah, kondisi ekonomi keluarga korban pun sangat terbatas.
06:55Ayahnya bekerja serabutan, sementara sang ibu tidak memiliki pekerjaan tetap.
07:00Hal inilah yang memaksa sang anak akhirnya ikut bekerja membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarga walaupun resiko mengancam keselamatan mereka.
07:11Ditambah, keluarga korban juga tak tersentuh bansos dari pemerintah karena adanya kendala administrasi dari data kependudukan.
07:19Sebetulnya ekonominya sangat susah, apalagi sejak saya tidak dapat bantuan dari PKH.
07:35Karena memang anak kartu keluarga saya katanya bermasalah, KTP keluarga saya bermasalah.
07:41Jadi sejak itulah saya tidak pernah dapat apa-apa.
07:45Jadi saya kalau istilahnya makan, hanya untuk makan saja.
07:49Satu liter beras itu kadang tidak cukup.
07:53Kematian Najwa menjadi tamparan keras bagi sistem perlindungan anak dan jaminan sosial di daerah.
08:00Kemiskinan ekstrim memaksa anak dibawa umur turun ke jalanan demi kebutuhan pokok untuk keluarga.
08:05Kini Najwa telah pergi, ia meninggalkan pesan terakhir perjuangan melawan lapar yang berakhir di bawah roda alat berat.
08:14Dua anak di Kendari dan Ngada, Nusa Tenggara Timur meninggal dalam kondisi yang seharusnya tidak terjadi saudara.
08:23Di Ngada, seorang anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya karena tekanan kemiskinan yang terlalu berat bagi tubuh dan jiwanya.
08:30Di Kendari, korban tidak memilih jalan itu.
08:34Namun, kemiskinan yang sama telah merenggut hidupnya secara paksa.
08:47Sebelumnya, seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur pergi meninggalkan luka yang tak akan pernah kering.
08:55Dengan sepucuk surat yang berisi pesan memilukan.
08:58Surat terakhir untuk mama.
09:01Di atas kertas kusam, jemari kecilnya menorekan kalimat untuk sang mama untuk terakhir kalinya.
09:07Surat yang berisi pesan cinta sekaligus pesan perpisahan kepada sang mama.
09:12Ia meminta agar mama tak menangis dan merelakan kepergiannya.
09:17Sebelum mengakhiri hidupnya, korban diketahui sempat meminta uang 10 ribu rupiah untuk membeli buku dan pena kepada ibunya.
09:25Namun, mendapatkan uang 10 ribu rupiah bukanlah hal mudah.
09:29Bagi sang ibu yang bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan, uang 10 ribu rupiah sangat sulit.
09:37Dengan keterbatasan, ia harus membiayai lima orang anaknya.
09:41Pondok bambu di kebun sunyi berukuran 2x3 meter inilah tempat ia menghabiskan kesehariannya bersama sang nenek tercinta.
09:54Pondok bambu ini menjadi saksi kehidupan sederhananya sebelum ia ditemukan meninggal dunia.
10:00Tak ada pintu kaca apalagi rangkaian baja.
10:03Di ruang sempit ini, terdapat sebuah tungku api yang berdampingan langsung dengan tempat tidur mereka.
10:11Kondisi ekonomi seadanya, bahkan mereka pun tak terdana bansos karena ada kendala dalam administrasi pada data kependudukan orang tuanya.
10:20Peristiwa yang dialami bocah di Ngada ini membuat gubernur NTT marah.
10:34Seorang siswa kelas 4 SD mengakhiri hidupnya karena dipicu persoalan ekonomi menjadi tamparan bagi negara.
10:41Di depan jajaran pemerintahan NTT, ia murka yang menyebut tragedi kemanusiaan ini terjadi sebagai kegagalan pemerintah menciptakan sistem perlindungan sosial bagi warganya.
10:54Ia meminta jajarannya untuk mengevaluasi kejadian ini dan meminta peristiwa ini menjadi yang terakhir kalinya.
11:01Pemerintah kita juga gagal, provinsi sama, perbuatan Ngada juga sama.
11:18Kita punya peran akal agama juga gagal, peran akal budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin itu.
11:25Kematian dua anak di dua wilayah yang berbeda bukan sekadar tragedi individual, tetapi realitas sehari-hari bagi jutaan warga.
11:43Kematian kedua anak ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa pembangunan tidak boleh lagi diukur dari pertumbuhan ekonomi semata.
11:50Pembangunan sejatinya adalah ketika tidak ada satupun anak yang meninggal karena lapar, karena sakit yang bisa diobati, atau karena keluarga miskin untuk mengakses layanan dasar.
12:02Kemiskinan tidak hanya merampas nasi dari meja makan, ia juga merampas masa depan mimpi dan bahkan nyawa anak-anak yang seharusnya masih belajar dan bermain.
Komentar

Dianjurkan