Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
BALI, KOMPAS.TV - Pernyataan 'Bali kotor' menjadi teguran keras Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah yang digelar di Sentul, Selasa (3/2/2026).

Persoalan sampah, khususnya di kawasan Pantai Kuta yang menjadi ikon pariwisata Indonesia, kembali menjadi sorotan publik.

Lalu, bagaimana evaluasi dan langkah konkret yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Badung dalam menangani persoalan sampah di Pantai Kuta pasca-teguran langsung Presiden Prabowo Subianto?

Simak dialognya bersama Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, Bali, Anak Agung Dalem.

#bali #prabowo #kuta

Baca Juga [FULL] WALHI Beri Saran ke Pemerintah soal Penanganan Sampah | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/nasional/648146/full-walhi-beri-saran-ke-pemerintah-soal-penanganan-sampah-kompas-siang



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/648147/full-dlhk-ungkap-langkah-penanganan-sampah-usai-bali-ditegur-kotor-oleh-presiden-prabowo
Transkrip
00:00Kita akan bahas penanganan sampah di Pantai Kutep bersama Kabupaten Kebersihan DLHK Kabupaten Badung Bali, Anak Agung Dalem.
00:07Selamat siang Pak Agung, bagaimana penanganan sampah usai teguran Presiden Prabowo kemarin Bapak?
00:15Ya, terima kasih Bella atas kesempatan siang ini.
00:19Barangkali yang memang sekarang sedang viral gitu masyarakat mengetahui bagaimana Bapak Presiden
00:26melakukan penegasan atau mengingatkan atau mengkoreksi bahwa daerah harus segera menyelesaikan sampahnya.
00:34Nah, berkaitan dengan sampah yang ada di Kutep, kami perlu ingatkan kembali bahwa Kutep memiliki musim sampah.
00:44Itu berkaitan dengan muson barat dan muson timur.
00:49Ketika muson barat yang tadi sudah disampaikan oleh koordinator kami di lapangan,
00:53yaitu mulai September sampai Maret itu adalah muson barat.
00:57Itu akan menimbulkan arus susur laut yang dari barat.
01:00Dan ketika dalam arus susur laut dan gelombang laut dari barat tersebut
01:05meng-cover ada sampah yang mengapung di lautan,
01:11maka dia akan terangkut ke arah timur.
01:15Kebetulan Kutep berada di sisi barat Kabupaten Badung
01:18dan kemudian dia merupakan cerukan karena adanya landasan pacu pesawat,
01:26Bandara Ngurah Rai, dan di bawahnya lagi adalah ada ceruk yang akibat dari
01:30Pura Uluwatu menjorok ke tengah.
01:33Itu yang menyebabkan sampah-sampah laut yang ada di arus susur air laut
01:39kemudian terdampar di Pantai Kutep.
01:42Ini adalah musiman yang tiap tahun akan berulang.
01:46Begitu juga ketika susur laut timur pada muson timur
01:50itu akan mengangkut sampah-sampah dari Indonesia Timur.
01:53Itu biasanya adalah ganggang laut.
01:56Beda dengan yang dari barat.
01:58Dari barat yang melalui Pulau Jawa, Pulau Sumatera tentu
02:01merupakan daerah padat penghasil sampah
02:03yang pada daerah-daerah tertentu seperti tadi disebutkan
02:07bahwa di Hulu masih belum optimal, mungkin dibuang ke saluran,
02:12ke sungai, kemudian dihanyut, ke samudera, samudera,
02:14kemudian terangkut ke Pantai Kutep.
02:17Itu yang merupakan musiman yang sebenarnya kami sudah tanggulangi,
02:23sudah tangani secara berkelanjutan.
02:26Itu kita lakukan dengan kerjasama dengan NGO,
02:30dengan siswa-siswa, bahkan yang terakhir ini selama dua tahun ini dengan TNI.
02:36Nah, terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah menekankan kembali
02:41bahwa ini merupakan masalah kita bersama,
02:43sehingga secara nasional kemungkinan ini akan menjadi suatu hal
02:48merupakan batu loncatan untuk kita melakukan integrasi kembali,
02:55penguatan integrasi untuk menangani sampah laut dengan instansi-instansi.
03:01Di Bali, dengan serta-merta kemudian Gubernur sudah membentuk Satgas
03:06untuk penanggulangan sampah ini.
03:08Kemudian di Badung, tadi subuh kita sudah bergerak melakukan penanganan sampah
03:14di dua lokasi, yaitu Pantai Kutep dan Pantai Kedonganan.
03:18Itu ada seribu orang di Kutep, ada 500 orang di Kedonganan
03:24untuk bisa segera membersihkan sampah-sampah yang masih ada di Pantai Kutep.
03:30Demikian mungkin untuk diketahui.
03:33Pak Agung, kalau tadi kan memang ada faktor juga dari musim seperti itu ya,
03:38juga mungkin ada sampah-sampah yang dibuang sembarangan,
03:42kemudian masuk ke sungai dan kemudian terbawa ke laut.
03:45Nah, sebenarnya apa upaya PMK Badung terutama untuk menangani sampah ini?
03:52Karena kita lihat ini tidak bisa hanya misalnya,
03:55oh antisipasi menjelang musim ini kita harus melakukan apa.
03:59Tapi upaya yang benar-benar dilakukan supaya tidak terjadi lagi seperti itu Pak.
04:05Ya, upaya yang kita lakukan tentu kita berkoordinasi dengan provinsi,
04:09dengan Bapak Gubernur, kemudian dengan kementerian.
04:12Karena di Bali ada Pus Dal, merupakan perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
04:19Untuk diketahui bahwa sampah yang datang dari arah barat itu tentu dari Pulau Jawa,
04:25Pulau Sumatera, dan ini akan berputar kemudian akan berakhir di Pulau Madagaskar, Afrika.
04:31Itu sudah ada penelitiannya bahwa kemasan-kemasan yang hanyut itu,
04:35kalau kita teliti ada dari Banyuwangi, ada dari Genteng, ada dari Banyumas, ada dari Garut,
04:42itu terkumpul pada sampah-sampah kemasan yang merapat di Pantai Kutu.
04:48Sehingga kita berkoordinasi bagaimana seharusnya sampah itu sudah bisa berkurang yang masuk ke laut.
04:54Ini tentunya dengan daerah-daerah di barat Pulau Bali harus memang melakukan pengurangan sampah di hulu.
05:01Harus bisa melakukan pengolahan sampah sebelum dibuang ke lingkungan.
05:08Ini sangat penting.
05:09Kalau itu bisa ditahan atau dikurangi tentu sampah yang masuk ke sungai dan ke samudera akan menjadi berkurang.
05:16Nah, kalau seandainya dia harus merapat ke Pantai Kutu,
05:20kita juga sudah berkoordinasi dengan Gubernur bahwa kita melakukan upaya
05:27percepatan penanganan sampah di Pantai.
05:32Karena tidak mungkin Pantai yang menjadi warungnya Kabupaten Badung dan Bali
05:36yang sudah mengundang begitu banyak pariwisata,
05:39bahkan saat ini masih dinobatkan sebagai destinwil pariwisata nomor satu di dunia
05:44dengan 7.000 wisatawan kemudian menyajikan sampah laut.
05:50Nah, ini sampah laut yang tidak bisa kita stop karena dia datang menit demi menit
05:55harus kita segera selesaikan dengan penanganan bersama seluruh unsur.
06:00Dan kita sudah siapkan alat berat, kita siapkan tenaga,
06:05tetapi kemudian yang jadi persoalan adalah bagaimana mengolahnya.
06:08Ini mengolah menjadi hal penting yang harus kita pikirkan bersama dari pusat hingga ke Kabupaten.
06:14Karena untuk TPA suung yang sekarang overload sebenarnya adalah untuk menampung residu sampah rumah tangga
06:21atau sampah sejenis sampah rumah tangga.
06:23Tentu tidak diperuntukkan untuk sampah laut.
06:27Nah, sampah laut ini harus kita bisa buat pengolahan yang bisa menjadikan dia sesuatu yang bernilai.
06:36Saat ini kita secara bertahap juga memang melakukan pemilihan sampah tersebut yang anorganik
06:43tentunya kita bawa ke TPA atau yang bernilai akan diambil oleh NGU untuk bisa dimanfaatkan.
06:50Tetapi kemudian kayu-kayu gelondongan yang banyak jumlahnya dan sekarang ini sekitar 3.000 ton
06:56sudah kita kumpulkan dan kita angkut.
06:59Kita bawa ke pusat daur ulang kami di Mengwitani.
07:03Di sana kami cacah dengan mesin cacah kemudian menjadi serbuk.
07:07Setelah jadi serbuk bisa kita manfaatkan untuk kompos, untuk urugan, untuk material-material yang lain.
07:13Jadi ini memang masih sulit sehingga perlu campur tangan barangkali secara nasional
07:18bagaimana membuat pengolah sampah laut sehingga dia tidak harus dibuang ke TPA.
07:25Demikian.
07:25Pak Gung, lalu ke depannya apa yang mau dilakukan supaya tidak terjadi lagi penumpukan sampah
07:30baik karena musim tadi ataupun juga masyarakat yang belum teredukasi secara sempurna bagaimana memilah sampah
07:36supaya teguran Presiden ini juga tidak terjadi kembali.
07:39Apa yang mau dilakukan, Bapak?
07:42Ya, kunci yang paling penting harus kita lakukan adalah berkurang menghasilkan sampah.
07:48Jadi ayo kita masyarakat Indonesia dimanapun berada,
07:51jangan sampai banyak kita membuat barang-barang atau membawa barang yang kemudian terbuang menjadi sampah.
07:57Kalau sebagian besar masyarakat bisa mengurangi timbulan sampah itu,
08:02kita sudah mendapatkan poin yang besar dalam pengelolaan sampah.
08:06Tapi ketika harus ada sampah, ayo kita kelola.
08:08Yang paling utama adalah harus kita pilah.
08:10Ketika sudah dipilah menjadi organik,
08:13senyatanya organik itu dengan sendirinya akan menjadi kompos.
08:17Kalau kita sudah pilah dengan baik,
08:19kemudian kita tempatkan pada komposter atau tepuh modern yang sekarang dibuat di Bali secara sistematis.
08:28Kemudian anorganiknya itu bernilai.
08:31Ada kardus, ada surat kabar, ada plastik.
08:34Itu sudah pasti ada bank sampah yang akan ngambil.
08:36Hanya 15 persen residu, residu yang hanya kita harus bawa ke TPA
08:41dan tidak harus dibuang ke sungai.
08:44Kalau itu kita lakukan secara masif oleh masyarakat Indonesia,
08:48tentu akan berkurang sampah yang dibuang ke lingkungan, ke sungai, ke samudera,
08:53dan kemudian akan berkurang sampah yang merapat di obyek-obyek pantai pariwisata kita.
08:59Itu yang harus kita kebanyakan secara terus menerus.
09:02Begitu Bella.
09:03Baik, memang yang paling penting adalah bagaimana masyarakat secara umum bisa memilah sampah
09:08seperti yang tadi Bapak sampaikan,
09:10mana sampah yang organik dan juga mana sampah yang anorganik
09:13supaya tidak lagi terjadi penumpukan, terutama daerah-daerah wisata,
09:17karena wisata dan juga wisata ini sangat penting sekali untuk Indonesia.
09:22Terima kasih atas perbincangannya siang hari ini.
09:25Anak Agung Dalem, Kabit Kebersihan DLHK, Kabupaten Badung, Bali.
09:29Selamat beraktivitas kembali Bapak, terima kasih.
09:31Terima kasih Bella.
09:33Salam Indonesia untuk semua masyarakat Indonesia.
09:36Baik, terima kasih.
Komentar

Dianjurkan