Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menegaskan akar persoalan korupsi berada di hulu, yakni pada proses rekrutmen dan kaderisasi politik.

Menurut Bima Arya, kepala daerah yang terseret kasus korupsi kerap lahir dari sistem pemilihan dan kaderisasi yang tidak berjalan sesuai prinsip antikorupsi.

Ia menilai, partai politik perlu dibenahi secara mendasar, salah satunya dengan mendorong kemandirian finansial partai.

Bima Arya menyebut, sistem politik Indonesia banyak mengadopsi praktik negara-negara Eropa yang memberikan dukungan pendanaan negara atau state funding bagi partai politik.

Di negara-negara tersebut, kata Bima Arya, bantuan negara diberikan agar partai dapat menjalankan fungsi utamanya, mulai dari kaderisasi, advokasi, hingga pendidikan politik.

Namun di Indonesia, kondisi itu belum berjalan optimal. Banyak partai politik masih harus berjuang sendiri secara finansial, yang berisiko menurunkan kualitas kader dan membuka celah praktik transaksional.

Bima Arya menilai, peningkatan bantuan keuangan negara kepada partai politik dapat meringankan beban partai dan memungkinkan lahirnya kandidat yang lebih berkualitas, baik untuk pemilu legislatif maupun pilkada.

Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia, Danang Widoyoko menekankan bahwa persoalan kepala daerah bukan semata soal mahalnya biaya politik, melainkan soal integritas partai dalam merekrut dan mempromosikan calon pemimpin.

Ia menyoroti masih lemahnya mekanisme penelusuran rekam jejak calon kepala daerah, yang sering kali hanya berfokus pada kemampuan finansial, bukan integritas dan kapasitas kepemimpinan.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan komentarnya.



Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/jtVCelbFEEs?si=kF3xxWEf-rVhuuEN




#kpk #korupsi #pati



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/645692/bima-arya-soroti-hulu-korupsi-partai-politik-dinilai-gagal-bangun-integritas-dan-kaderisasi-rosi
Transkrip
00:00Saya masih bersama dengan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya dan Seksyen Transparency International Indonesia, Danang Widoyoko.
00:06Tadi soal integritas partai politik, apa yang bisa didorong pemerintah soal itu?
00:09Nah, ini yang saya bilang hulunya, preemptive, preventive-nya.
00:16Jadi, begini, kenapa ada korupsi? Karena kepala daerahnya tidak punya integritas.
00:23Kenapa tidak punya integritas? Karena mungkin cara memilihnya ataupun kaderisasinya tidak jalan.
00:36Kenapa cara memilihnya itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip anti korupsi dan krisering tidak jalan?
00:44Ya, karena partai politiknya perlu dibenahi.
00:46Bagaimana membenahi partai politiknya?
00:48Ya, membuat partai politik itu mandiri secara finansial, satunya.
00:52Nah, caranya bagaimana? Ya, ini.
00:55Kita kan, sistem politik kita banyak sekali terinspirasi dari negara-negara di Eropa sebetulnya.
01:01Nah, di sana, state funding itu kuat.
01:03Jadi, negara punya komitmen untuk membuat fungsi-fungsi partai berjalan.
01:08Jadi, ada bantuan dari negara, subsidi dari negara, agar partai itu berjalan.
01:15Agar partai itu bisa melakukan kandarisasi, bisa advokasi, bisa juga pendidikan politik.
01:21Nah, sekarang kan kita nggak jalan itu, kebanyakan partai itu fight sendiri.
01:28Ya, berbahayanya kan ketika partai itu tidak mandiri.
01:31Nah, ketika subsidi negara ini masuk, maka semestinya akan meringankan partai, kemudian fungsi-fungsi jalan.
01:37Sehingga kemudian munculah kandarisasi, munculah kandar-kandar berkualitas untuk pilek, untuk pilkada, dan lain-lain.
01:44Kesitu juga sebetulnya.
01:45Tapi tidak mudah kemudian untuk memastikan bahwa apa yang diberikan negara kepada partai,
01:54itu digunakan sepenuhnya untuk penguatan fungsi partai politik.
01:57Nah, pertanggung jawabannya itu seperti apa kalau pun ada.
01:59Pertanggung jawabannya seperti apa, dan bagaimana mereka melakukan kegiatan itu sehingga tepat sasaran.
02:06Dan memilih misalnya, siapa yang akan jadi calon kepala daerah, perlukah melibatkan KPK?
02:13Kita pernah waktu itu rekam jejak menteri, ditris oleh KPK, apakah ini juga perlu jadi satu syarat untuk dicalonkannya kepala daerah?
02:22Sebetulnya kan itu bagian dari proses pemilihan ya, kalau track recordnya bagus gitu ya,
02:26mestinya ya dia, dan tidak ada perkara, tidak ada kasus, mestinya dia akan mendapatkan dukungan gitu untuk dipilih.
02:35Tapi masalahnya itu kan yang tidak berjalan gitu.
02:38Jadi, sekali lagi problemnya itu, kalau terkait misalnya kepala daerah gitu,
02:43itu bukan sekedar biaya mahal, tapi integritas partai politik.
02:47Bagaimana dia merekrut dan juga mempromosikan gitu ya.
02:51Artinya tentu dia harus cari tahu, ini orang punya masalah enggak, bukan sekedar duitnya aja yang diintip gitu kan.
02:57Kedepan dia bisa memimpin apa enggak gitu.
02:59Ini yang seringkali, ini yang tidak berjalan dan tidak mudah juga,
03:03karena tidak semua partai bulat memberikan dukungan gitu.
03:06Banyak partai yang agak-anggan gitu untuk, kalau dibantu negara itu, ya jangan sepenuhnya lah kira-kira seperti ini.
03:14Jadi menawar kalau bisa sedikit aja gitu.
03:17Jadi itu yang saya kira tantangannya itu, selain mengkoordinasikan di birokrasi tadi,
03:23mudah-mudahan kemenegeri sudah bisa cepat.
03:26Nah di partainya ini juga tidak bulat, tidak semua partai juga memberikan cukup dukungan
03:30untuk peningkatan bantuan keuangan dari negara.
03:35Itu yang jadi PR berikutnya nih.
03:37Ada satu hal sebetulnya Friska, kita kan banyak bicara tentang instrumen negara, regulasi.
03:44Tetapi di luar negara, menurut saya, peran civil society juga sangat penting.
03:51Dulu, saya ingat sekali, ada masanya ketika NGO, kemudian pengat pemilu,
03:57itu mempublish rekam jejak para politisi atau calak-calak.
04:02Jadi publik itu kemudian tertarik untuk mendalam itu semua.
04:08Itu saya lihat sekarang agak berkurang sebetulnya.
04:11Nggak tahu kenapa, mungkin Mas Danang bisa jelaskan ya.
04:14Tapi bolong-bolong atau kekurangan-kekurangan di sistem negara ini,
04:21semestinya juga bisa ditambal gitu ya,
04:24dengan penguatan civil society yang memainkan peran-peran pengawasan dan edukasi tadi.
04:31Ya kalau hari ini partai politik masih kedodoran untuk melakukan fungsi pendidikan politik,
04:35ya dilengkapilah gitu.
04:37Seharusnya kan itu oleh KPU atau Bawaslu gitu misalnya.
04:43Nah tetapi kalau itu dirasakan masih kurang menyentuh, kan seharusnya bisa nih.
04:48Nah kalau dulu memang banyak donor-donor yang masuk ke sini,
04:52untuk pendidikan politik, untuk kesadaran pemilih, itu banyak donor.
04:57Sekarang udah nggak ada, atau udah jarang lah gitu ya,
05:00ya mungkin karena dianggap demokrasi kita sudah matang.
05:03Tapi ini masih penting, masih penting.
05:05Jadi kemudian akan menggiring, membawa pemilih lebih aware
05:13untuk menjatuhkan pilihannya kepada orang-orang yang berintegritas.
05:16Nah kalau kemendagri bagaimana mendorong ini?
05:19Untuk memberikan pendidikan politik misalnya untuk publik?
05:21Kalau kita ada di Dirjen Polpum misalnya Friska,
05:25itu ada pemilihan kebangsaan dan lain-lain gitu.
05:28Tapi lagi-lagi ini kita harus secara detail memastikan metodenya tepat.
05:32Ya hari ini kan kita melakukan sosialisasi empat pilar,
05:36wasan kebangsaan, harus disesuaikan dengan algoritme kekinian.
05:40Kalau nggak nyampe juga begitu ya, nggak nyampe.
05:44Ya kalau saya melihat misalnya Komika, Stand Up gitu ya,
05:49itu salah satu pendidikan politik sebetulnya.
05:52Oke, nah tapi dari civil society, apa yang bisa didorong?
05:54Untuk mengawasi, sekaligus juga untuk membuka,
05:57oke ini siapa saja calon-calon kepala daerah yang memang punya integritas?
06:01Apa saja track recordnya?
06:02Sejauh ini sudah berjalan atau memang tidak digubris juga oleh partai politik?
06:05Iya, sebetulnya proses itu dilakukan di semua tingkat ya.
06:11Artinya kalau kita melihat civil society itu kan luas ya.
06:16Bukan cuma organisasi non-pemerintah,
06:19tapi juga ada akademisi, ada media.
06:21Itu saya kira di semua tingkatan,
06:24baik di provinsi maupun di kabupaten kota,
06:27itu pasti aktif melakukannya ketika ada pemilu atau pilkada.
06:34Makanya jangan dihapus tuh, pilkada langsung.
06:36Karena itu mematikan sebetulnya peran dan dinamika masyarakat sipil
06:41untuk memberikan informasi gitu ya.
06:43Artinya informasi itu yang terus disampaikan.
06:46Jadi, tapi masalahnya jadi tidak mudah,
06:49karena tadi di partai punya preferensi lain,
06:53terus kemudian juga ada praktik-praktik manipulitik itu kan
06:57yang melakukan pertama-tama adalah politisi gitu.
07:00Dan studi yang sering banyak dirujuk dari Punahuddin Mutadi itu
07:04yang penerima utama manipulitik adalah para pemilih
07:08yang punya parti ID tinggi,
07:10yang punya kedekatan dengan partai politik.
07:12Jadi, balik-balik lagi ini.
07:14Problemnya PR terbesar kita adalah bagaimana integritas partai politik kita.
07:17Nah, sekarang kalau bolak-balik-balik,
07:19tapi kan untuk kepala daerah yang terpilih ini sudah-sudah berjalan.
07:23Agar tidak terjebak kejebakan Batman,
07:25kita nggak lihat lagi, nggak diskusi lagi soal OTT dalam waktu dekat ini.
07:28Apa sih sebenarnya yang harus dilakukan Pak Bima
07:31untuk kepala daerah menghindari tadi?
07:33Jangan sampai kayak rasin rulet lah.
07:36Tunggu giliran siapa yang terjebak, eh dia kena OTT lagi.
07:39Pemimpin itu kan sumber-sumber recruitment-nya itu variatif.
07:44Ada jalur partai, ada jalur birokrasi,
07:48ada juga jalur misalnya swasta begitu ya.
07:53Nah, menurut saya kanal-kanal inilah yang harus kita benahi bersama-sama.
08:00Tadi kita panjang lebar bicara kanal dari partai politik.
08:04Itu kita benahi, antaranya dengan SIPP.
08:06Tapi kan birokrasi juga, sumber recruitment juga.
08:10Bagaimana membenahi ini?
08:11Ini urusan PAN-RB, urusan BKN, dan lain-lain begitu.
08:16Kemudian swasta.
08:17Mas Danang tadi banyak bicara swasta.
08:19Swasta ini sebenarnya jauh lebih advance begitu ya.
08:21Tapi kemudian sekarang makin sedikit sekali gitu.
08:24Yang dari swasta mau terjun ke sini.
08:27Ya karena situasi politik yang semakin menantang begitu ya.
08:30Jadi yang ingin saya katakan adalah,
08:32ya kita harus masing-masing bedah sumber recruitment,
08:36kandilisasi kepemiliran bangsa ini dari mana saja,
08:39dan sama-sama itu pekerjaan kita.
08:41Kalau saya spesifik saja.
08:43Jadi pertama menurut saya,
08:45Pak Awamen perlu memperkuat inspektoratnya,
08:48buat kanal khusus untuk inspektorat di Kemendagri,
08:52kalau ada masalah bisa kirim inspektoratnya untuk ngecek,
08:55jadi orang bisa lapor gitu.
08:57Jadi nggak harus kepenegakan hukum lah gitu ya.
08:59Langsung ditangani oleh Kemendagri.
09:00Saya belum tahu persis bagaimana aturan kemenangannya,
09:03tapi tolong disiapkan gitu ya.
09:05Itu yang menurut saya bisa dilakukan.
09:06Kemudian yang karena itu tentu tidak mudah,
09:09tidak mudah karena butuh biaya besar juga,
09:11makanya prioritasnya.
09:12Nah, prioritasnya apa?
09:13Lihat program MCP dengan KPK tadi.
09:16Prioritaskan yang MCP-nya rendah skornya gitu.
09:19Karena di MCP itu kan mereka mengukur soal,
09:21mengukur soal pengadaan barang dan jasa,
09:23ini terbuka apa tidak.
09:24Mengukur bagaimana recruitment ASN-nya,
09:27promosi dan mutasinya.
09:28Di MCP itu ada indikator-indikatornya.
09:30Fokus saja daerah-daerah yang rawan untuk mulai.
09:33Jadi kalau ada tim yang bisa dipercaya,
09:37katakanlah masyarakat bisa percaya bahwa
09:38itu bisa dibenahi, tentu kita bisa mencegah langsung praktek korupsi.
09:45Sepakat gitu.
09:46Tapi Mas, itu kan MCP sebetulnya untuk semua.
09:49Tapi memang harus jadi atensi daerah-daerah yang kita anggap rawan tadi ya.
09:54Terutama ada daerah-daerah yang langganan korupsi
09:57kepada daerahnya itu.
09:59Oh, berulang kali.
10:00Iya, bisa tiga-empat kali periode kuadera.
10:03Nah, itu harus jadi pasien khusus, saya sepakat.
10:05MCP itu harusnya fokus ke sana.
10:07Dan tadi kanal aduan langsung ke Kemendagri,
10:09bisa kan di...
10:10Bukan ke Kemendagri, itu ada lapor itu loh.
10:12Lapor itu ya, silahkan bisa lapor ke sana.
10:14Tapi prosesnya...
10:15Tapi prosesnya panjang tadi, kata.
10:17Saya pernah pakai dan tidak puas dengan ini.
10:20Kalau straight ke Kemendagri, mungkin kan itu?
10:22Yang OTT hari ini, ini sebenarnya dengan Kemendagri langsung.
10:26Inspektorat bisa langsung turun kalau ada promosi mutasi yang bermasalah.
10:31Karena yang kasus di Pati itu kan desa, yang di Ponorogo sebelumnya itu yang Kepala Dinas ya.
10:38Direktur Rumah Sakit waktu itu.
10:40Memang ya boleh aja ada langsung gitu ya.
10:44Tapi kan gini, kita nggak mau juga warga itu bingung.
10:47Ini kalau kebakaran ngadunya ke nomor ini,
10:50kalau ada bencana ke nomor ini ada korupsi.
10:53Jadi banyak banget gitu ya.
10:54Nah, ini memang harus kita pikirkan.
10:55Ya, komplain sistem, kanal aduan yang memang memudahkan warga.
11:01Nanti kita telusuri deh yang lapor itu sebetulnya,
11:04bottlenecking-nya, sumbatannya di mana.
11:07Yang jadi solusi ke depannya tidak hanya soal penegakan hukum operasi tangkap tangan saja,
11:12tapi juga preventifnya itu betul-betul harus dibenahi dari berbagai sisi.
11:16Jangan sampai ada kecolongan lagi di berbagai sisi.
11:18Terima kasih Wakil Menteri Dalam Negeri, Pak Bima Arya.
11:22Terima kasih.
11:22Mas Danang Widoyoko, Seksi & Transpansi International Indonesia.
Komentar

Dianjurkan