Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSRec, Pratama Persadha mengatakan struktur internet yang biasa kita temukan sehari-hari itu sebenarnya itu hanya 5% saja, atau yang disebut surface web. Tetapi 95% sisanya itu ada di dark web dan deep web. Di dalamnya berisi isinya itu macam-macam informasi.

"(informasi) yang bagus juga ada, tapi yang jelek, yang jahat juga banyak, karena susah untuk dideteksi, susah untuk di-profiling, susah untuk dikejar. Sehingga dark web inilah yang menjadi tempat favorit para penjahat di seluruh dunia untuk melakukan aktivitasnya," katanya.

Menurutnya, tidak terlalu susah bagi anak-anak untuk mengakses informasi dari dark web tersebut. Hal ini perlu diwaspadai, sebab konten kekerasan lebih banyak ditemukan di dark web dan deep web.

Maka menurutnya, aparat keamanan dan intelijen dituntut mampu memonitor konten di dark web maupun deep web.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/JpnBh08AbH8?si=LWdT2YD8lIWx0gGF



#sman72 #ledakan #siswa

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/631618/pakar-keamanan-siber-ungkap-konten-kekerasan-banyak-ditemukan-di-dark-web-dan-deep-web-dipo
Transkrip
00:00Apa yang terlibat dalam keselodakan ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan dia juga memiliki ketarikan pada konten kekerasan.
00:20Anak-anak ini menjadi korban kekerasan di sekolah, tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua untuk tumbuh dan berkembang.
00:27Apakah sekolah gagal memberikan rasa aman dan nyaman sebab insiden kekerasan di dunia pendidikan terus berulang?
00:37Belonjaknya angka kasus kekerasan di lingkungan pendidikan terpotret jelas dalam laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI.
00:45Pada tahun 2021, tercatat 142 kasus kekerasan terjadi di lingkungan sekolah dan meningkat di tahun 2022 menjadi 194 kasus.
00:55Tren kenaikan berlanjut pada tahun 2023 dengan jumlah kasus sebanyak 285 dan melonjak tajam menjadi 573 kasus pada tahun 2024.
01:08Dari seluruh laporan, 42 persen merupakan kekerasan seksual, sementara 31 persen lainnya adalah kasus perundungan.
01:16Akibat berbagai tekanan korban, perundungan kerap berubah sifat menjadi tertutup dan tak jarang mencari pelarian.
01:26Dunia maya menjadi salah satunya.
01:27Alih-alih menemukan jalan keluar, mereka justru tersesat dalam informasi yang salah dan meniru ekspresi kekerasan sebagai cara keliru untuk menyelesaikan masalah.
01:37Hal ini memperkuat narasi bahwa perundungan bukan hanya soal pelaku dan korban,
01:43melainkan ekosistem yang memicu mental anak tergerus secara perlahan.
01:48Makin dini usia anak itu menggunakan HP, makin buruk kondisi kesehatan mental mereka pada saat dewasa muda.
01:56Ini menandakan bahwa ini sudah menjadi haram. Kita harus betul-betul restriktif.
02:01SMP Negeri 1 Blora
02:314 pelaku perundungan ke sekolah lain.
02:35Sementara itu 33 siswa lain yang diduga terlibat dilakukan pembidaan oleh pihak kepolisian.
02:41Di Aceh Besar, seorang santri kelas 12 nekat membakar gedung asramanya pada 31 Oktober pukul 3 dini hari.
02:50Dari hasil pemeriksaan polisi, pelaku mengungkap kerap mendapat hinaan yang merendahkan dirinya.
02:55Ia juga mengaku membakar bangunan asrama agar barang milik teman-teman yang diduga melakukan perundungan ikut ludes di lalap api.
03:05Bakar psikologi forensik Reza Indragiri bilang kasus kekerasan di sekolah muncul dari mekanisme belajar sosial
03:11di mana anak meniru apa yang mereka lihat, dengar, atau simak dari lingkungan maupun dunia digital.
03:18Faktor internal seperti kesedihan, kemarahan, dan penderitaan yang menumpuk juga kerap menjadi pemicu utama
03:24yang kemudian meledak dalam bentuk kekerasan setara dengan beban emosi yang mereka pendak.
03:29Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan bukan sekedar anak yang menjadi pelaku
03:58atau berkonflik dengan hukum.
04:01Lalu bagaimana negara menuntut pertanggung jawaban pidana seorang anak
04:04namun di saat bersamaan, ia juga menjadi korban dari rentetan kekerasan.
04:13Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam.
04:19Dendam terhadap beberapa perlakuan-perlakuan terhadap yang bersangkutan.
04:25Nah, di sini dia mencoba untuk mencari bahkan di situs website bagaimana orang-orang itu meninggal dunia
04:39atau mengalami kecelakaan atau mengalami kekerasan.
04:44Sudah dari hasil penyelidikan polisi baik terhadap ponsel maupun laptop dari anak yang kemudian berkonflik dengan hukum,
04:55ditemukan dugaan bahwa memang terduga pelaku peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta
05:01memiliki ketertarikan terkait dengan konten kekerasan.
05:05Dan seperti apa, apakah sebegitu mudahnya anak-anak kita mengakses konten kekerasan di dunia maya?
05:13Saya sudah bersama dengan Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber Cisrek, Pak Pratama.
05:18Pratama, terima kasih untuk waktunya, Pak.
05:19Siap, Mas Debo.
05:20Pak, yang ingin saya tanyakan sebenarnya seberapa banyak, Pak, konten-konten bermuatan kekerasan yang kemudian tersebar di dunia maya?
05:28Gini, jadi kalau kita melihat ya, struktur internet itu sebenarnya, itu 5% saja yang biasa kita selami sehari-hari ini.
05:40Namanya surface web, ya.
05:42Tetapi 95% sisanya itu ada di dark web dan deep web.
05:47Yang itu di dalamnya isinya itu macam-macam, yang bagus juga ada.
05:52Tapi yang jelek, yang jahat juga banyak gitu.
05:55Karena susah untuk dideteksi, susah untuk di profiling, susah untuk dikejar, begitu.
05:59Sehingga dark web inilah yang menjadi tempat favorit para penjahat di seluruh dunia, gitu, untuk melakukan aktivitasnya.
06:05Oke, bahwa kalau artinya bisa disederhanakan, Pak, karena tadi sudah disebut presentasenya.
06:105% yang kita biasa lihat sehari-hari, 95% itu masuk ke dalam dark web ataupun deep web.
06:16Artinya konten, mohon maaf, yang berunsur kekerasan ataupun negatif lebih banyak.
06:21Jauh lebih banyak, jauh lebih banyak yang ada di dark web dan deep web ini, gitu, iya kan.
06:27Semudah apa sebenarnya untuk anak-anak kita atau mungkin masyarakat mengakses dark web tersebut?
06:33Sebenarnya nggak terlalu susah, gitu.
06:34Tidak terlalu susah?
06:35Nggak terlalu susah.
06:36Karena juga ini adalah dunia yang terbuka untuk semua orang.
06:41Termasuk anak-anak, Pak?
06:42Termasuk anak-anak, gitu.
06:44Selama dia tahu caranya, dia bisa masuk ke dark web ini, gitu.
06:47Bisa, Pak, pertama mungkin tunjukkan?
06:49Oh iya, bisa, bisa, bisa.
06:50Tapi pertama, kita disclaimer dulu ya, Pak, ya.
06:53Bahwa kita tidak mencontohkan, tapi kita ingin membuktikan bahwa betul banyak konten-konten negatif ataupun konsumen keras.
06:59Kita nggak ngajarin ya, gitu.
07:00Cuma tunjukkan ya.
07:01Jadi kita pakai browser khusus.
07:04Tapi ini bisa di-download secara umum?
07:07Bisa, bisa di-download.
07:08Kemudian juga, kita juga bisa menemukan hal seperti ini, nih.
07:11Tapi gini, Pak, pertama.
07:12Apakah ketika seseorang ataupun anak-anak mengakses website ini, apakah tidak ada mungkin prosedur verifikasi umur dan lain sebagainya?
07:20Tidak ada.
07:21Tidak ada?
07:21Tidak ada.
07:22Aparat keamanan kita, aparat intelijen kita harus memiliki kemampuan teknologi untuk bisa melakukan monitoring terhadap lingkungan dark web ini, gitu.
07:30Meskipun polisi sebelumnya juga sudah menyebutkan anak yang kemudian berkonflik dengan hukum ini tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme tertentu.
07:37Gini, tapi ketika dia melakukan akses terhadap konten-konten yang isinya radikal, dia sudah terpapar oleh paham radikalisme ini.
07:48Sudah terpapar oleh paham.
07:49Menurut saya sudah terpapar.
07:50Kalau tidak terpapar, sekarang kita pakai logika berpikir normal saja, gitu.
07:54Ya, masa iya?
07:55Apa namanya?
07:56Dia sampai nekat, gitu.
07:57Bikin bom.
07:58Belajar bikin bom.
08:00Nah, itulah yang menyebabkan sebenarnya harus dicari.
08:03Anak ini sebenarnya dia afiliasinya kemana, nih?
08:06Dia komunitasnya siapa saja.
08:09Nah, oleh karena itu memang kita berharap.
08:10Ini Polri ini ketika dia pegang laptopnya si pelaku, pegang handphonenya si pelaku, melakukan analisis digital forensik,
08:17nanti akan bisa tahu apa namanya dia mengakses kemana saja.
08:21Siapa teman-teman yang diajak berkomunikasi.
08:24Dia beli bahannya di mana.
08:25Yang ngajarin dia siapa, gitu, ya kan?
08:28Yang jadi tutornya itu siapa, gitu.
08:30Kan pasti dia belajar, gitu, ya kan?
08:32Pertanyaan saya, apakah kemudian ketika, karena konteksnya ini anak, ketika seorang anak membuka dark web,
08:39itu juga bisa berkomunikasi mungkin, Pak Pratama, dengan orang lain?
08:42Ya, bisa.
08:42Gini, kan kita ini bisa ngaku siapa saja.
08:45Mau umurnya berapa, laki-laki atau perempuan.
08:48Kita mengaku dari mana, negara mana.
08:51Kita kan bisa semuanya.
08:52Nah, oleh karena itu, aparat penegak akum juga harus ngerti.
08:54Untuk bikin profile juga, gitu, ya kan?
08:56Dia bikin fake profile, yang penting bikin histori dan macem-macem,
08:59emang nggak bisa instan, gitu.
09:01Sehingga dia masuk ke forum-forum, bisa masuk ke forum-forum dark web itu,
09:04yang ngomongin pasal radikalisme, narkoba, dan lain-lain, begitu.
09:07Sehingga bisa melakukan monitoring.
09:09Aktor-aktor terorisme, aktor-aktor radikalisme saat ini,
09:13mereka udah nggak kayak dulu lagi.
09:15Mereka tahu bahwa anak-anak muda ini labil,
09:18dan mereka sangat hobi sekali main internet.
09:21Mereka masuk dari situ, mereka masuk ikut-ikutan main game online, ngobrol.
09:25Kan di game online ada fasilitas untuk kita chat.
09:28Iya kan?
09:29Nah, dari situ ngobrol, udah sama-sama klik,
09:32kemudian diajak keluar,
09:33oh, kita main, itu diskortasi-diskusinya yuk.
09:35Akhirnya pakai Discord, pakai Telegram,
09:37akhirnya masuk ke komunitasnya dia.
09:39Nah, di situlah dia akan terpapar.
09:41Tapi bagaimana dengan mungkin upaya untuk kemudian
09:43memperkuat sistem perlindungan digital kita?
09:47Sisi pendidikan anak-anak kita,
09:49itu harus dipikirkan.
09:51Itu yang menurut saya harus diajarakan benar,
09:53dibikin kurukulum yang benar.
09:54Yang jahatnya internet itu adalah algoritmanya.
09:57Kenapa?
09:57Karena begitu kita nyari konten terhadap misalnya kekerasan,
10:01dia akan dikasih konten-konten yang sama,
10:03berlimpah konten-konten kekerasan.
10:06Begitu dia melihat konten-konten tersebut,
10:08dia akan didekatkan sama orang-orang
10:10yang memang mereka senang dengan konten kekerasan.
10:13Ini jahatnya internet.
10:14Dan itu jadi ancaman nyata bagi anak-anak kita.
10:17Tentu kita harap ini jadi perhatian serius,
10:20tidak hanya oleh aparat penegak hukum,
10:21tapi juga oleh pemerintah.
10:22Terima kasih banyak Pak Pertama Habsada,
10:24Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber Cisrek,
10:26untuk coba nih.
10:27Terima kasih, Mas.
10:29Yang sudah pasti ini adalah akumulasi.
10:31Akumulasi dari kebutuhan-kebutuhan emosi
10:33yang tidak terpenuhi.
10:34Jadi ketika anak ini tidak mendapatkan
10:36apa yang dia butuhkan di lingkungan terdekatnya,
10:39dia akan mencari di luar sana.
10:44Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan