00:00Apa yang terlibat dalam keselodakan ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan dia juga memiliki ketarikan pada konten kekerasan.
00:20Anak-anak ini menjadi korban kekerasan di sekolah, tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua untuk tumbuh dan berkembang.
00:27Apakah sekolah gagal memberikan rasa aman dan nyaman sebab insiden kekerasan di dunia pendidikan terus berulang?
00:37Belonjaknya angka kasus kekerasan di lingkungan pendidikan terpotret jelas dalam laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI.
00:45Pada tahun 2021, tercatat 142 kasus kekerasan terjadi di lingkungan sekolah dan meningkat di tahun 2022 menjadi 194 kasus.
00:55Tren kenaikan berlanjut pada tahun 2023 dengan jumlah kasus sebanyak 285 dan melonjak tajam menjadi 573 kasus pada tahun 2024.
01:08Dari seluruh laporan, 42 persen merupakan kekerasan seksual, sementara 31 persen lainnya adalah kasus perundungan.
01:16Akibat berbagai tekanan korban, perundungan kerap berubah sifat menjadi tertutup dan tak jarang mencari pelarian.
01:26Dunia maya menjadi salah satunya.
01:27Alih-alih menemukan jalan keluar, mereka justru tersesat dalam informasi yang salah dan meniru ekspresi kekerasan sebagai cara keliru untuk menyelesaikan masalah.
01:37Hal ini memperkuat narasi bahwa perundungan bukan hanya soal pelaku dan korban,
01:43melainkan ekosistem yang memicu mental anak tergerus secara perlahan.
01:48Makin dini usia anak itu menggunakan HP, makin buruk kondisi kesehatan mental mereka pada saat dewasa muda.
01:56Ini menandakan bahwa ini sudah menjadi haram. Kita harus betul-betul restriktif.
02:01SMP Negeri 1 Blora
02:314 pelaku perundungan ke sekolah lain.
02:35Sementara itu 33 siswa lain yang diduga terlibat dilakukan pembidaan oleh pihak kepolisian.
02:41Di Aceh Besar, seorang santri kelas 12 nekat membakar gedung asramanya pada 31 Oktober pukul 3 dini hari.
02:50Dari hasil pemeriksaan polisi, pelaku mengungkap kerap mendapat hinaan yang merendahkan dirinya.
02:55Ia juga mengaku membakar bangunan asrama agar barang milik teman-teman yang diduga melakukan perundungan ikut ludes di lalap api.
03:05Bakar psikologi forensik Reza Indragiri bilang kasus kekerasan di sekolah muncul dari mekanisme belajar sosial
03:11di mana anak meniru apa yang mereka lihat, dengar, atau simak dari lingkungan maupun dunia digital.
03:18Faktor internal seperti kesedihan, kemarahan, dan penderitaan yang menumpuk juga kerap menjadi pemicu utama
03:24yang kemudian meledak dalam bentuk kekerasan setara dengan beban emosi yang mereka pendak.
03:29Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan bukan sekedar anak yang menjadi pelaku
03:58atau berkonflik dengan hukum.
04:01Lalu bagaimana negara menuntut pertanggung jawaban pidana seorang anak
04:04namun di saat bersamaan, ia juga menjadi korban dari rentetan kekerasan.
04:13Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam.
04:19Dendam terhadap beberapa perlakuan-perlakuan terhadap yang bersangkutan.
04:25Nah, di sini dia mencoba untuk mencari bahkan di situs website bagaimana orang-orang itu meninggal dunia
04:39atau mengalami kecelakaan atau mengalami kekerasan.
04:44Sudah dari hasil penyelidikan polisi baik terhadap ponsel maupun laptop dari anak yang kemudian berkonflik dengan hukum,
04:55ditemukan dugaan bahwa memang terduga pelaku peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta
05:01memiliki ketertarikan terkait dengan konten kekerasan.
05:05Dan seperti apa, apakah sebegitu mudahnya anak-anak kita mengakses konten kekerasan di dunia maya?
05:13Saya sudah bersama dengan Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber Cisrek, Pak Pratama.
05:18Pratama, terima kasih untuk waktunya, Pak.
05:19Siap, Mas Debo.
05:20Pak, yang ingin saya tanyakan sebenarnya seberapa banyak, Pak, konten-konten bermuatan kekerasan yang kemudian tersebar di dunia maya?
05:28Gini, jadi kalau kita melihat ya, struktur internet itu sebenarnya, itu 5% saja yang biasa kita selami sehari-hari ini.
05:40Namanya surface web, ya.
05:42Tetapi 95% sisanya itu ada di dark web dan deep web.
05:47Yang itu di dalamnya isinya itu macam-macam, yang bagus juga ada.
05:52Tapi yang jelek, yang jahat juga banyak gitu.
05:55Karena susah untuk dideteksi, susah untuk di profiling, susah untuk dikejar, begitu.
05:59Sehingga dark web inilah yang menjadi tempat favorit para penjahat di seluruh dunia, gitu, untuk melakukan aktivitasnya.
06:05Oke, bahwa kalau artinya bisa disederhanakan, Pak, karena tadi sudah disebut presentasenya.
06:105% yang kita biasa lihat sehari-hari, 95% itu masuk ke dalam dark web ataupun deep web.
06:16Artinya konten, mohon maaf, yang berunsur kekerasan ataupun negatif lebih banyak.
06:21Jauh lebih banyak, jauh lebih banyak yang ada di dark web dan deep web ini, gitu, iya kan.
06:27Semudah apa sebenarnya untuk anak-anak kita atau mungkin masyarakat mengakses dark web tersebut?
06:33Sebenarnya nggak terlalu susah, gitu.
06:34Tidak terlalu susah?
06:35Nggak terlalu susah.
06:36Karena juga ini adalah dunia yang terbuka untuk semua orang.
06:41Termasuk anak-anak, Pak?
06:42Termasuk anak-anak, gitu.
06:44Selama dia tahu caranya, dia bisa masuk ke dark web ini, gitu.
06:47Bisa, Pak, pertama mungkin tunjukkan?
06:49Oh iya, bisa, bisa, bisa.
06:50Tapi pertama, kita disclaimer dulu ya, Pak, ya.
06:53Bahwa kita tidak mencontohkan, tapi kita ingin membuktikan bahwa betul banyak konten-konten negatif ataupun konsumen keras.
06:59Kita nggak ngajarin ya, gitu.
07:00Cuma tunjukkan ya.
07:01Jadi kita pakai browser khusus.
07:04Tapi ini bisa di-download secara umum?
07:07Bisa, bisa di-download.
07:08Kemudian juga, kita juga bisa menemukan hal seperti ini, nih.
07:11Tapi gini, Pak, pertama.
07:12Apakah ketika seseorang ataupun anak-anak mengakses website ini, apakah tidak ada mungkin prosedur verifikasi umur dan lain sebagainya?
07:20Tidak ada.
07:21Tidak ada?
07:21Tidak ada.
07:22Aparat keamanan kita, aparat intelijen kita harus memiliki kemampuan teknologi untuk bisa melakukan monitoring terhadap lingkungan dark web ini, gitu.
07:30Meskipun polisi sebelumnya juga sudah menyebutkan anak yang kemudian berkonflik dengan hukum ini tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme tertentu.
07:37Gini, tapi ketika dia melakukan akses terhadap konten-konten yang isinya radikal, dia sudah terpapar oleh paham radikalisme ini.
07:48Sudah terpapar oleh paham.
07:49Menurut saya sudah terpapar.
07:50Kalau tidak terpapar, sekarang kita pakai logika berpikir normal saja, gitu.
07:54Ya, masa iya?
07:55Apa namanya?
07:56Dia sampai nekat, gitu.
07:57Bikin bom.
07:58Belajar bikin bom.
08:00Nah, itulah yang menyebabkan sebenarnya harus dicari.
08:03Anak ini sebenarnya dia afiliasinya kemana, nih?
08:06Dia komunitasnya siapa saja.
08:09Nah, oleh karena itu memang kita berharap.
08:10Ini Polri ini ketika dia pegang laptopnya si pelaku, pegang handphonenya si pelaku, melakukan analisis digital forensik,
08:17nanti akan bisa tahu apa namanya dia mengakses kemana saja.
08:21Siapa teman-teman yang diajak berkomunikasi.
08:24Dia beli bahannya di mana.
08:25Yang ngajarin dia siapa, gitu, ya kan?
08:28Yang jadi tutornya itu siapa, gitu.
08:30Kan pasti dia belajar, gitu, ya kan?
08:32Pertanyaan saya, apakah kemudian ketika, karena konteksnya ini anak, ketika seorang anak membuka dark web,
08:39itu juga bisa berkomunikasi mungkin, Pak Pratama, dengan orang lain?
08:42Ya, bisa.
08:42Gini, kan kita ini bisa ngaku siapa saja.
08:45Mau umurnya berapa, laki-laki atau perempuan.
08:48Kita mengaku dari mana, negara mana.
08:51Kita kan bisa semuanya.
08:52Nah, oleh karena itu, aparat penegak akum juga harus ngerti.
08:54Untuk bikin profile juga, gitu, ya kan?
08:56Dia bikin fake profile, yang penting bikin histori dan macem-macem,
08:59emang nggak bisa instan, gitu.
09:01Sehingga dia masuk ke forum-forum, bisa masuk ke forum-forum dark web itu,
09:04yang ngomongin pasal radikalisme, narkoba, dan lain-lain, begitu.
09:07Sehingga bisa melakukan monitoring.
09:09Aktor-aktor terorisme, aktor-aktor radikalisme saat ini,
09:13mereka udah nggak kayak dulu lagi.
09:15Mereka tahu bahwa anak-anak muda ini labil,
09:18dan mereka sangat hobi sekali main internet.
09:21Mereka masuk dari situ, mereka masuk ikut-ikutan main game online, ngobrol.
09:25Kan di game online ada fasilitas untuk kita chat.
09:28Iya kan?
09:29Nah, dari situ ngobrol, udah sama-sama klik,
09:32kemudian diajak keluar,
09:33oh, kita main, itu diskortasi-diskusinya yuk.
09:35Akhirnya pakai Discord, pakai Telegram,
09:37akhirnya masuk ke komunitasnya dia.
09:39Nah, di situlah dia akan terpapar.
09:41Tapi bagaimana dengan mungkin upaya untuk kemudian
09:43memperkuat sistem perlindungan digital kita?
09:47Sisi pendidikan anak-anak kita,
09:49itu harus dipikirkan.
09:51Itu yang menurut saya harus diajarakan benar,
09:53dibikin kurukulum yang benar.
09:54Yang jahatnya internet itu adalah algoritmanya.
09:57Kenapa?
09:57Karena begitu kita nyari konten terhadap misalnya kekerasan,
10:01dia akan dikasih konten-konten yang sama,
10:03berlimpah konten-konten kekerasan.
10:06Begitu dia melihat konten-konten tersebut,
10:08dia akan didekatkan sama orang-orang
10:10yang memang mereka senang dengan konten kekerasan.
10:13Ini jahatnya internet.
10:14Dan itu jadi ancaman nyata bagi anak-anak kita.
10:17Tentu kita harap ini jadi perhatian serius,
10:20tidak hanya oleh aparat penegak hukum,
10:21tapi juga oleh pemerintah.
10:22Terima kasih banyak Pak Pertama Habsada,
10:24Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber Cisrek,
10:26untuk coba nih.
10:27Terima kasih, Mas.
10:29Yang sudah pasti ini adalah akumulasi.
10:31Akumulasi dari kebutuhan-kebutuhan emosi
10:33yang tidak terpenuhi.
10:34Jadi ketika anak ini tidak mendapatkan
10:36apa yang dia butuhkan di lingkungan terdekatnya,
10:39dia akan mencari di luar sana.
10:44Terima kasih telah menonton!
Komentar