- 5 bulan yang lalu
- #ekonomi
- #lapangankerja
- #menkoperekonomian
KOMPAS.TV Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga sebesar 5,04 persen di tahun ini, masih lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Menurut Airlangga, dengan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal tiga sebesar 5,04 persen, pemerintah optimistis pertumbuhan dapat terjaga di level 5 persen pada akhir tahun.
Untuk mendorong kinerja ekonomi di kuartal keempat, pemerintah berupaya meningkatkan aktivitas ekonomi melalui bantuan sosial. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia, diakui Airlangga, sejalan dengan kenaikan konsumsi masyarakat.
Hal itu dilihat dari indikasi kenaikan inflasi dan investasi emas. Bagaimana caranya menginjak gas daya beli dan investasi?
Kompas Bisnis akan menanyakan kepada Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal, dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Profesor Rahma Gafmi.
#ekonomi #lapangankerja #menkoperekonomian
Baca Juga [FULL] Respons Projo & Pengamat Bakal Ada Gelombang Besar Relawan Projo Gabung Gerindra | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/nasional/628390/full-respons-projo-pengamat-bakal-ada-gelombang-besar-relawan-projo-gabung-gerindra-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/628391/full-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-melambat-apa-strategi-pemerintah-sapa-pagi
Menurut Airlangga, dengan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal tiga sebesar 5,04 persen, pemerintah optimistis pertumbuhan dapat terjaga di level 5 persen pada akhir tahun.
Untuk mendorong kinerja ekonomi di kuartal keempat, pemerintah berupaya meningkatkan aktivitas ekonomi melalui bantuan sosial. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia, diakui Airlangga, sejalan dengan kenaikan konsumsi masyarakat.
Hal itu dilihat dari indikasi kenaikan inflasi dan investasi emas. Bagaimana caranya menginjak gas daya beli dan investasi?
Kompas Bisnis akan menanyakan kepada Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal, dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Profesor Rahma Gafmi.
#ekonomi #lapangankerja #menkoperekonomian
Baca Juga [FULL] Respons Projo & Pengamat Bakal Ada Gelombang Besar Relawan Projo Gabung Gerindra | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/nasional/628390/full-respons-projo-pengamat-bakal-ada-gelombang-besar-relawan-projo-gabung-gerindra-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/628391/full-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-melambat-apa-strategi-pemerintah-sapa-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Putri Oktaviani.
00:04Sesuai siklus historical pertumbuhan ekonomi kuartal 3 selalu melambat dibanding kuartal sebelumnya.
00:12Badan Pusat Statistik kemarin 5 November mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal 3 saudara melambat ke 5,04%.
00:19Konsumsi pemerintah naik tetapi konsumsi rumah tangga yang berhubungan dengan daya beli melambat.
00:26Investasi juga melambat.
00:27Dua sektor ini perlu digas untuk menciptakan lapangan pekerjaan agar pertumbuhan ekonomi makin berkualitas.
00:36Nah kita dengarkan saudara penjelasan Badan Pusat Statistik komponen apa saja sebetulnya yang mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi.
00:43Berikut ini.
00:45Dari sisi domestik, kinerja perekonomian pada triwulan 3 2025 ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga.
00:56Dari kebijakan ekonomi juga turut menopang kinerja perekonomian di triwulan 3 tahun 2025
01:03seperti kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi penetapan BI rate bulan September 2025 pada level 4,75%
01:16sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta kebijakan fiskal dalam mendorong efektivitas belanja melalui pelaksanaan berbagai program seperti makan bergisi gratis.
01:31Oke kita ke data berikutnya ya.
01:34Kita lihat line chart yang ada di layar sini.
01:38Kuartal 3 yang ada di blok warna kuning.
01:42Ini yang warna kuning.
01:43Nah 3 tahun terakhir saudara trennya tuh selalu melambat di kuartal ketiga.
01:48Tapi khusus tahun ini bisa diapresiasi ini kuartal 3.
01:51Ya rasanya tidak ada apa-apa.
01:53Ekonomi bisa tumbuh di 5%.
01:57Kita lihat ya pertumbuhan ekonomi 2023 sampai 2025.
02:00Di kuartal 2 2023 itu 5,17%.
02:04Kuartal 3 2023 4,94%.
02:09Emang trennya nurun ya.
02:10Kemudian di kuartal 4 2023 bisa di 5,04%.
02:15Kuartal 1 2024 5,11%.
02:19Kuartal 2 2024 5,05%.
02:23Kuartal 3 2024 4,95%.
02:27Kuartal 4 2024 5,02%.
02:30Kuartal 1 2025 4,87%.
02:34Kuartal 2 2025 5,12%.
02:38Dan yang terbaru di kuartal 3 2025 ini 5,04%.
02:44Nah saudara kita ke data berikutnya yaitu pertumbuhan ekonomi berdasarkan pengeluaran.
02:51Ini dia pertumbuhan ekonomi kuartal 3 2025 menurut pengeluaran.
02:54Ini dalam persen ya hitungannya.
02:56Jadi konsumsi rumah tangga itu 4,89%.
02:59Kemudian konsumsi LNPRT 4,28%.
03:04Konsumsi pemerintah ada di 5,49%.
03:09PMTB 5,04%.
03:11Ekspor ada di 9,91%.
03:16Dan impor 1,18%.
03:21Semua angkanya sebetulnya menarik ya.
03:23Konsumsi rumah tangga, investasi.
03:25Tapi yang paling mencolok adalah impor.
03:27Kalau kuartal 2 kemarin itu tunggunya 11,65%.
03:32Tapi kali ini kok melambatnya ini keterlaluan di level itu dia tadi 1%.
03:37Kenapa ya?
03:38Apa karena manufaktur kita yang masih seret produksi dan banyak PHK?
03:43Nah nanti kompas bisnis akan konfirmasi ke tenaga ahli istana dan juga ekonomi.
03:47Tapi kita ke data berikutnya terlebih dahulu.
03:51Oke, udah tahun ke tahun konsumsi rumah tangga itu selalu tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi.
03:58Kalau ekonomi agregat tadi kan 5,04%.
04:02Konsumsi rumah tangga itu cuma 4,89%.
04:07Padahal kelompok ini saudara berkontribusi 53,14% terhadap PDB.
04:14Konsumsi rumah tangga ini mencerminkan mobilitas penduduk, penjualan eceran bahan bakar kendaraan,
04:20peningkatan jumlah penumpang, angkutan rel dan laut, serta perjalanan wisatawan domestik.
04:24Pemerintah juga membantah kalau konsumsi rumah tangga yang melambat ini sebagai wajah dari lemahnya daya beli.
04:32Kita ke data selanjutnya.
04:36Oke, ini berikutnya yang melambat adalah pembentukan modal tetap bruto PMTB yang tumbuh 5,04% di kuartal 3.
04:48Kalau kita bandingkan di kuartal 2 kan 6,99% nih dan ini juga penyumbang 29,09% terhadap PDB.
04:56Nah PMTB ini saudara sederhananya itu adalah investasi.
04:59Jadi kesimpulannya ada dua yang perlu digas.
05:02Konsumsi rumah tangga yang tadi dan juga ini investasi agar menciptakan lapangan pekerjaan.
05:07Nah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Elangga Hartarto menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga sebesar 5,04% di tahun ini
05:18masih lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu.
05:23Menurut Elangga dengan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal 3 sebesar 5,04%
05:29pemerintah optimistis pertumbuhan dapat terjaga di level 5% pada akhir tahun.
05:37Untuk mendorong kinerja ekonomi di kuartal keempat, pemerintah berupaya meningkatkan aktivitas ekonomi melalui bantuan sosial.
05:44Selain itu pertumbuhan ekonomi Indonesia diakui Elangga sejalan dengan kenaikan konsumsi masyarakat.
05:51Hal itu dilihat dari indikasi kenaikan inflasi dan investasi emas.
05:59Angka yang 5,04 itu berarti kita bisa menjaga di level 5%.
06:05Dibandingkan kuartal yang lalu kan juga jauh lebih baik.
06:13Di kuartal year on year ya.
06:16Nah upaya kita perlu lakukan di Q4 itu kita harus tingkatkan lagi ekonomi supaya angka rata-rata 5,2 bisa dicapai.
06:25Kita kan menggelontorkan bantuan sosial.
06:32Dan nilainya kan hampir 30 triliun.
06:36Jadi bagaimana caranya injak gas, daya beli dan juga investasi?
06:41Kompas Bisnis akan tanya ke tenaga ahli utama badan komunikasi pemerintah Fitra Faisal dan guru besar
06:46Fakultas Ekonomi Universitas Elangga Profesor Rahma Gafmi.
06:51Kembali di Kompas Bisnis, saudara bagaimana caranya injak gas, daya beli dan investasi?
06:57Kompas Bisnis akan tanya ke tenaga ahli utama badan komunikasi pemerintah Fitra Faisal dan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Elangga Profesor Rahma Gafmi.
07:06Selamat pagi Mas Fitra dan juga Profesor Rahma.
07:09Selamat sehat semuanya.
07:10Selamat pagi.
07:11Selamat pagi, Mbak Alta.
07:12Oke, saya ke Mas Fitra dulu nih.
07:14Mas Fitra secara historical, kalau tadi juga sempat dibahas di Wall Data,
07:17kuartal 3 ini kan kayaknya selalu melambat, tapi hebat juga nih.
07:21Nggak ada apa-apa, sepi faktor musiman, tapi ekonomi bisa tetap di atas 5 persen.
07:25Masalahnya Mas Fitra, konsumsi rumah tangga ini kerap di bawah pertumbuhan agregat.
07:29Kalau tadi kan 5,04 ternyata konsumsi di bawah itu gitu, 4,98 kalau tidak salah.
07:34Nah, selain stimulus yang sifatnya temporary, apa yang akan digas sama pemerintah ke depan?
07:41Ya, menarik karena memang kalau kita melihat trajektorinya seperti yang tadi disampaikan,
07:47efek seasonalnya sudah memudar ya.
07:50Tetapi di sisi yang lain, kalau kita juga melihat ada efek dari trade diversion dari tarif Amerika Serikat,
07:56yang mana itu selalu konsisten ya, membuat surplus perdagangan kita di atas 4 bilion USD di 3 bulan terakhirnya.
08:04Sehingga pada akhirnya ini memupuk surplus yang cukup signifikan,
08:09dan pada akhirnya kita bisa lihat dari sisi angka ekspornya, pertumbuhannya 9,91 persen.
08:14Meskipun kalau kita lihat juga di konsumsi rumah tangga memang tidak terlalu tinggi ya,
08:194,89 persen, bahkan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, 4,97 persen.
08:24Tetapi ini dikompensasi ya, dengan adanya peningkatan ya, dengan jalur perdagangan tersebut.
08:31Dan surplusnya semakin tinggi, karena kita lihat juga dari sisi import, itu cuma 1,18 persen.
08:37Nah, kenapa importnya anjlong? Karena memang ini ada inventory play ya,
08:41jadi bagaimana produsen-produksi itu menggunakan inventory sebelumnya untuk input produksi,
08:46sehingga produksinya itu memang digenjot dari sisi apa yang sudah dibeli sebelumnya ya,
08:52di beberapa bulan sebelumnya.
08:53Dan itu yang mengakibatkan importnya juga tidak terlalu tinggi.
08:56Dan itu pada gilirannya memompah pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga,
09:01meskipun tidak sebaik di kuartal kedua.
09:04Dan bahkan kalau kita, tapi dibandingkan dengan kuartal satu, ini jauh lebih baik.
09:08Dan tentunya ini sesuai dengan ekspektasi para ekonom,
09:12kalau kita lihat konsensus ekonom di kuartal ketiga, itu 5 persen memang.
09:16Nah, 5,04 persen ya somewhat in line ya dengan konsensus ekonom tersebut.
09:20Nah, kalau kita lihat terutama di angka konsumsi, yang pertumbuhan yang 4,89 persen ini,
09:25ini sejalan dengan tren turunnya, base money, di kuartal ketiga ya.
09:31Dan itu juga sempat disampaikan Pak Purubaya beberapa kali,
09:33pertumbuhan base money ini memang merupakan salah satu gejala pelambatan,
09:37terutama dari sisi konsumsi, karena itu menunjukkan transaksi ekonomi.
09:42Dan itulah kenapa sebabnya Pak Purubaya melakukan pemindahan ya,
09:47dari anggaran yang sebelumnya diparkir di Bank Indonesia,
09:50kemudian diinjeksikan di Imbara.
09:51Dan itu setidak-tidaknya bisa kelihatan di money supply growth ya, money base-nya,
09:57yang mana sebelumnya cuma 7 persenan, sekarang terakhir di bulan September,
10:01itu sudah 18 persen lagi yang ngejusted.
10:05Jadi harapannya di kuartal keempat ini bisa jauh lebih tinggi pertumbuhannya.
10:10Oke, termasuk juga di kuartal keempat, kalau kita tahu kan juga ada faktor musiman nih Mas Fitra ya,
10:14artinya harapan bisa terdongkrak, termasuk juga tadi soal konsumsi ada faktor secara eksternal.
10:18Saya ke Prof. Ramaghavmi.
10:20Prof, ekonomi kan melambat, tapi sukses nih di atas 5 persen.
10:23Tapi Pak Erlangga, nolak kalau daya belinya dibilang melemah.
10:27Analisis Anda, benarkah daya beli masyarakat kita sudah sebaik lempoh merintah,
10:32atau cuma cantik di atas kertas saja?
10:34Sebenarnya gini, Mbak.
10:37Kalau saya lihat, ya saya tidak menutup mata gitu ya,
10:40hasil yang dicapai bahwa memang sesuai dengan prediksi pada etara ekonom 5 persen
10:47dan ternyata pada level 5.04 persen gitu.
10:51Tapi kita kan harus cross-check dulu juga dengan output sektor primer, sekender, dan tersier gitu.
10:58Yang tentunya kita sekarang kan bisa melihat bahwa peralihan tenaga kerja dari sektor formal ke informal itu kan
11:06dalam 5 tahun terakhir ini angkanya memang sangat fantastis gitu ya.
11:10Maka itu tentunya ini juga kita harus melihat bahwa tidak hanya melihat dari pertumbuhan ekonomi aja sebenarnya Mbak Okta,
11:18kita harus melihat dulu bagaimana kita dari sisi koefisien elastisitas penyerapan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi itu.
11:27Jadi kita tidak hanya melihat bahwa oh ini sudah bagus hasilnya, bahwa pertumbuhan ekonomi kita tercapai gitu ya.
11:35Tapi koefisien elastisitas tenaga kerja itu adalah kan ukuran yang digunakan untuk mengukur seberapa besar sih perubahan jumlah tenaga kerja yang diserap
11:44akibat adanya perubahan PDB kita atau pertumbuhan ekonomi kita.
11:47Nah, hitung-hitungan saya sebenarnya kemarin ketika BPS itu rilis gitu ya, ternyata kan hanya terjadi koefisiennya itu 0,26.
11:58Artinya dari TPT yang terjadi sekarang walaupun dikatakan diklima menurun pengangguran kita itu,
12:04tapi kan TPT-nya masih cukup tinggi, 7,4 sekian persen gitu.
12:087,4 juta sekian orang gitu.
12:12Nah, ini kan juga kalau kita hitung dengan koefisien elastisitas penyerapan kerja itu, Mbak Okta,
12:21itu 0,26 itu hanya, kalau itu betul terjadi itu hanya 1,9 juta orang gitu.
12:27Artinya kan masih rendah dan wajar kalau impor itu kita menurun.
12:32Karena kan kelas menengah sekarang ini kan sedang terhimpit.
12:36Jadi, mungkin Mas Fitra tadi saya oke setuju dengan menurutnya impor itu karena masih para pelaku usaha
12:42masih menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya gitu ya.
12:46Nah, tapi ini terjadi bahwa kelas menengah itu memang betul-betul terhimpit sekarang.
12:51Nah, mungkin juga kalau saya lihat pertumbuhan konsumsi itu dengan pertumbuhan konsumsi pemerintah,
12:58konsumsi rumah tangga itu dengan pemerintah itu lebih tinggi konsumsi pemerintah sebenarnya.
13:02Nah, ini juga tidak jelas konsumsi pemerintah selain belanja pegawai kemana gitu.
13:08Nah, ini yang juga harus diperjelas juga nanti data-data itu secara spesifik sehingga kita juga mengakui bahwa
13:16jangan sampai nanti, mohon maaf ini hanya di atas kertas saja, tapi kenyataannya memang paradoks sekali gitu.
13:23Kalau kita melihat bahwa pertumbuhan ekonomi berhasil, tapi bay rate diturunkan.
13:27Dan kenapa diturunkan? Karena memang tidak gerak sektor realnya.
13:30Dan juga sekarang karena bank itu bandel, tidak menurunkan juga suku bunganya akibat adanya penurunan BI rate,
13:37maka BI memberikan insentif KLM sekarang yang akan diperlakukan pada 1 Desember nanti.
13:43Artinya apa? Ini masih hati-hati perbankan juga untuk menyalurkan karena memang bandingnya sektor real.
13:49Jadi kita tidak bisa semata-mata hanya melihat bahwa pertumbuhan ekonomi kita itu sudah bagus.
13:54Kalau kita bandingkan dengan Vietnam, itu jauh.
13:57Jadi kita sebenarnya agak malu, Mbak, karena Vietnam itu adalah negara yang dulunya banyak perang,
14:02infrastrukturnya lebih jelek dari kita, kita yang lebih bagus gitu.
14:06Tapi sekarang di kuartal 3 bisa bertumbuh 8,23 persen.
14:10Nah, ini tidak ada apa-apanya kalau kita bandingkan dengan Vietnam.
14:14Dan perlu hati-hati juga.
14:16Kenapa? Karena rupiah kita masih under pressure.
14:18Artinya tekanan global ini masih cukup rawan untuk ekonomi kita Indonesia.
14:23Apalagi sekarang juga ditengarai bahwa akan terjadi booming teknologi juga.
14:28Jadi ada bubble teknologi di Amerika.
14:31Ini juga perlu kita persiapkan ke depan ini.
14:34Jangan sampai dampak itu akan membahayakan pada ekonomi kita.
14:37Selain itu juga kita melihat bahwa hal-hal yang demikian ini paling tidak jelas bahwa pemerintah ini
14:45ini ke depan karena saya kemarin berbincang-bincang dengan teman-teman BBCS
14:50bahwa tidak ada penyelapan tenaga kerja baru yang dilakukan pemerintah.
14:54Ini yang kondisinya memang real Mbak Okta seperti itu.
14:56Oke Prof. Rahman kami tangkap.
14:57Artinya memang secara kondisi realnya justru kalau tercermin dari bagaimana tingkat serapan tenaga kerja ini masih rendah.
15:05Mas Fitra, investasi yang tercermin di angka PMTB ini jauh melambat.
15:08Impor juga jeblok. Apakah ini bisa dikonfirmasi bahwa manufaktur kita sepi permintaan
15:13seiring tadi kalau dikatakan serapan tenaga kerjanya rendah, PHK juga bertambah
15:17meskipun anomali juga nih kayaknya indeks manufaktur kita di atas 50 artinya kontraksi?
15:24Di atas 50 artinya ekspansi.
15:25Oh ekspansi ya?
15:26Jadi kalau kita lihat dalam beberapa bulan terakhir indeks manufacturing justru sudah meningkat ya.
15:31Jadi ini sebenarnya wajar saja ketika misalnya ada kenaikan ya ekspansi di atas 50
15:37biasanya memang ada inventory surplus.
15:39Dan ketika inventory surplus itu ada kalahnya memang PMI juga turun.
15:43Dan itu sebenarnya faktor yang biasa saja gitu kan.
15:46Dan kita melihat bahwa menjelang kuartal keempat angka PMI sudah 3 bulan berturut-turut
15:51itu menuju fase yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
15:54Nah kalau kita lihat dari sisi penyerapan tenaga kerja ya.
15:57Tiga industri atau sektor yang memang menyerap tenaga kerja paling tinggi adalah
16:01sektor pertanian, sektor perdagangan, dan juga sektor industri pengolahan.
16:06Yang mana mereka ini rata-rata pertumbuhan sektoralnya memang di atas 50%.
16:12Kecuali sektor pertanian.
16:14Tapi kalau kita bicara sektor pertanian,
16:16sektor pertanian ini sebenarnya kalau dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya
16:20itu tumbuh 4,93% jauh spiking dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal ke-2 dan kuartal ke-1
16:25yang cuma 1,6%.
16:26Kenapa?
16:27Karena ada aktivitas permintaan yang tinggi di sektor pertanian,
16:32didrag salah satunya oleh MBG,
16:33sehingga ini menjadi demand pool production.
16:37Dan pada akhirnya kita bisa melihat bahwa kinerja sektornya itu cukup tinggi
16:40dan menyerap tenaga kerja yang juga cukup baik.
16:43Nah kalau kita bicara mengenai inklusif, ya pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian,
16:47ya biasanya inklusif.
16:48Karena memang dia sangat terkait ya dengan proses pengentasan kemiskinan
16:53dan pengurangan angka pengangguran yang paling banyak memang di desa dalam konteks ini
16:59penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian.
17:02Nah, kalau kita lihat juga memang betul bahwa middle class kita dalam tekanan,
17:07dalam 5 tahun terakhir kita melihat 2019 itu jumlah middle class 57,9 juta,
17:12sekarang tinggal 47,3 juta,
17:14anjelok 9,5 juta orang.
17:15Nah itulah yang kemudian dilihat pemerintah perlu diantisipasi dengan fokus kepada
17:19terutama industri pengolahan.
17:20Dan kalau kita bicara industri pengolahan,
17:22ini sudah 2 kuartal ya berturut-turut,
17:25itu tumbuh di atas 5%.
17:27Bahkan kalau kita melihat adjusted version-nya di kuartal 1 itu juga di atas 5%.
17:31Jadi terakhir, meskipun kalau kita bandingkan dengan kinerja di kuartal kedua yang 5,68%,
17:38tetap saja di industri pengolahan di kuartal ketiga 5,54%
17:42ini sejalan dengan fokus kita kepada industrialisasi.
17:45Nah tapi industrialisasi saya tidak cukup tentunya ya.
17:47Bagaimana kita juga melihat bagaimana industrialisasi ini
17:49adalah industrialisasi yang inklusif ya, memiliki absorptive capacity.
17:53Dan dalam hal ini yang kita lihat bahwa investasi di human capital
17:56dan penyerapan tenaga kerja yang lebih signifikan ini menjadi fokus perhatian ke depan.
18:02Nah pemerintah dalam hal ini mencoba untuk melakukan 3 pilar sekaligus ya,
18:08merujuk pada apa yang pernah dilakukan oleh AB,
18:10ABNomics, 3 arrows.
18:12Yang pertama adalah monetary easing,
18:13dan yang kedua adalah fiscal stimulus,
18:16dan yang terakhir adalah structural reform.
18:18Nah ini yang dilakukan,
18:20kalau kita lihat bagaimana kemarin ada injeksi 200 triliun rupiah,
18:24kehimbaran,
18:25di sisi yang lain ada peningkatan aktivitas di sektor real
18:29dengan cara stimulasi,
18:31ya dengan stimulus fiskal 16,3 triliun di kuartal ketiga,
18:35yang kita harapkan dampaknya itu akan terasa di kuartal keempat.
18:38Fokusnya kepada industri pariwisata dan ekonomi kreatif,
18:41karena sebagai presiden di kuartal kedua,
18:43kita melihat bagaimana pertumbuhan di sektor jasa lainnya 11,3%,
18:48dan juga pertumbuhan di sektor jasa perusahaan yang juga di atas 9%,
18:52itu merupakan buah dari intervensi yang sebenarnya tidak terlalu banyak.
18:57Kalau kita lihat dari kuartal kedua misalnya,
19:00ada 24,4 triliun stimulus fiskal,
19:03itu 10,7 triliun untuk bantuan suksi di upah,
19:0611,9 triliun rupiah untuk bansos,
19:08tetapi yang menarik adalah 900 miliar untuk transportasi,
19:11dan ternyata yang kecil ini memiliki dampak pengganda yang cukup signifikan,
19:15memiliki interlinkages yang cukup baik dengan sektor ekonomi kreatif.
19:19Nah, makanya sebagai presiden,
19:21ini kemudian di carry over di kuartal ketiga,
19:24dengan 16,3 triliun rupiah ini juga fokus kepada sektor ekonomi kreatif.
19:28Nah, memang belum sangat terasa ya,
19:31kita harapkan memang ada efek lagnya di kuartal keempat itu akan kelihatan,
19:34tetapi setidaknya kalau kita lihat di sektor jasa lainnya yang masih tumbuh 9,9%,
19:40dan juga sektor jasa perusahaan yang tumbuh 9,9% juga,
19:44dan kalau kita lihat juga di sektor akomodasi makanan dan minuman yang tumbuhnya juga signifikan,
19:49ditambah infokom yang juga tumbuh di atas 9%,
19:52ini menjadi semacam enabler wadah pertumbuhan ekonomi kita di kuartal keempat.
19:57Apalagi dari injeksi likuiditas yang 200 triliun rupiah itu,
20:00hitung-hitungan ad hoc-nya yang saya hitung,
20:03itu akan ada tambahan 0,3 sampai 0,4%.
20:06Sehingga kalau kita lihat di kuartal keempat,
20:08bisa jadi itu di atas 5,3% pertumbuhan ekonominya.
20:11Dan di whole year bisa minimal 5,05 atau bahkan 5,1%.
20:16Oke, tadi dikatakan ya pemerintah memberikan tadi stimulus maupun juga tadi injeksi 200 triliun rupiah.
20:22Nah, ini Prof Gahmi, seberapa berdampak ini?
20:24Kemudian juga soal realisasi investasi di BKPM kan emang naik.
20:27Masalahnya Prof, beberapa tahun lalu,
20:29kalau bicara data, 1 triliun investasi bisa menyerapnya 2.500 tenaga kerja.
20:34Sedangkan sekarang mentoknya di 1.200-an.
20:37Pemerintah harusnya bisa sadar nih kalau padat karya geser ke padat modal.
20:40Apa yang harus dilakukan pemerintah agar demografi ini nggak jadi petaka buat pertumbuhan ekonomi?
20:45Ya, ini Mbak Oktaz.
20:50Sebenarnya fokus pemerintah sekarang bagaimana mengundang foreign direct investment
20:55dengan cara memberikan suatu kemudahan-kemudahan termasuk dari insentif fiskalnya yang jelas,
21:01juga perlu apa namanya perizinan-perizinan yang diberikan suatu kemudahan,
21:06dan juga property rights-nya jelas, kepastian hukumnya jelas,
21:10SDM-nya yang punya suatu skill.
21:13Karena kita tahu sekarang, Mbak, bahwa angkatan kerja kita rata-rata itu masih berpendidikan rendah.
21:18Jadi low skill, low libar atau unskilled libar gitu.
21:24Kita masih mempunyai sekitar kurang lebih 55 persen angkatan kerja di Indonesia
21:28hanya berpendidikan SD dan SMP.
21:31Nah, kalau itu tidak digenjot, maka kita itu tetap berjalan di tempat.
21:35Jadi tidak bisa kita hanya berbicara pertumbuhan ekonomi saja
21:39kalau kita tidak bisa meng-upgrade dari indikator-indikator yang lain.
21:44Nah, ini juga termasuk bonus demografi yang menjadi masalah.
21:49Karena kalau saya lihat, bonus demografi yang dengan 69 persen penduduk usia produktif itu
21:57nanti ke depan, kalau ini tidak hati-hati, maka ini akan menjadi booming ya.
22:02Time boom-nya itu akan datang gitu.
22:06Kapan itu tiba waktunya gitu.
22:08Karena memang ini secara nyata, lihat dari 69 persen usia produktif itu
22:16sekarang tidak ada suatu kelonggaran untuk memperoleh suatu lapangan kerja yang formal.
22:22Memang ada, Mbak, sekarang lapangan kerja formal, tapi itu kan hanya temporary.
22:26Sifatnya itu adalah kontrak atau hanya sistem magang.
22:30Nah, seperti sarjana-sarjana itu yang diberikan kesempatan satu tahun magang,
22:34itu kan sebenarnya tidak menyelesaikan masalah gitu ya.
22:38Sementara sarjana sekarang sudah banyak yang nganggur gitu.
22:41Nah, intinya ke depan bagaimana pemerintah ini bisa untuk membangun pertumbuhan ekonomi itu
22:47sesuai dengan harapan Mbak Okta tadi menyampaikan.
22:50Jadi, dari koefisien elastisitas penyerapan kerja itu harusnya kalau kita ingin menyerap tenaga kerja 400 ribu
22:59per 1 persen dari PDB kita, maka kita paling tidak mempunyai pertumbuhan ekonomi 8-10 persen.
23:06Nah, itu tetapi kan berat untuk kita kejar ke sana gitu ya.
23:09Nah, intinya apa yang harus dilakukan?
23:11Ya, kita harus ada program-program yang skala prioritas.
23:15Jadi, artinya abaikan dulu yang tidak prioritas gitu.
23:17Jadi, intinya membangun investasi itu menjadi kewajiban,
23:21memberikan suatu fasilitas kepada para investor itu juga kewajiban,
23:25termasuk juga bagaimana suku bunganya, property rights-nya, kepastian hukumnya, kemudahan berusahaannya,
23:33dan juga insentif fiskalnya, SDM-nya yang siap untuk langsung dapat menerima pekerjaan yang diberikan.
23:40Seperti itu. Jadi, kita itu tidak bertele-tele jadinya, tidak membuang waktu gitu.
23:45Kenapa? 5 tahun itu prosesnya cepat.
23:47Jadi, sahawati Pak Prabowo ini sudah habis masanya nanti, kita belum apa-apa.
23:52Artinya apa? Untuk menggapai kepada Indonesia emas itu masih kita berat gitu.
23:56Seperti itu, Mbak Oktar.
23:57Oke, insentif juga perlu, tapi balik lagi soal bagaimana SDM dan juga serapannya,
24:02yang juga penting termasuk juga bagaimana pemilihan skala prioritas itu tadi.
24:06Prof Rahman dan juga Mas Vita, nanti kita lanjutkan kembali.
24:08Nah, saudara, kami akan kembali usaha jeda, rupiah jatuh ke Rp16.700.
24:13Apakah ada faktor distres, alas ketidakpercaya investor terhadap angka yang dirilis BPS?
24:18Kami lanjutkan usaha jeda.
24:18Kembali di Kompas Bisnis Saudara dan kita akan melanjutkan perbincangan bersama dengan
24:24Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Fitra Faisal dan Guru Besar Fakultas Ekonomi
24:28Universitas Erlangga Prof. Rahma Ghafmi.
24:30Mas Fitra, Prof Rahma kita lanjutkan kembali.
24:32Kalau tadi sempat disinggung soal bagaimana tenaga kerja kemudian juga upaya-upaya investor ini
24:38banyak membuka ekspansi investasi sehingga bisa tadi ada hubungannya dengan serapan tenaga kerja.
24:45Tapi kita kalau bicara, saya ke Prof Rahma, Prof Pertumbuhan Ekonomi diklaimkan baik tadi.
24:50Tapi kenyataannya kalau kita bicara soal rupiah malah jatuh ke Rp16.700an.
24:55Apakah ada sentimen tentang distrasnya investor pada angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS ini?
25:02Ya, gini Mbak Okta, exchange rate ini kan memang jadi suatu acuan para investor gitu ya.
25:10Tapi kita jangan lupa bahwa sebenarnya salah satu yang mempengaruhi pada USD itu
25:17ini kita kan kemarin kan kita lihat ya saham-saham mulai dari Dow Jones, Nasdaq dan sebagainya itu pada merah semua.
25:25Dan itu kan kita melihat bahwa ada suatu apa namanya kembali nanti ada tanda-tanda ada krisis keuangan kembali
25:34yang mengancam Amerika Serikat.
25:36Akibat tadi gelombong-gelombong teknologi itu tadi, ini sebenarnya hanya masalah waktu aja Mbak Okta.
25:42Tapi ini juga menjadi apa istilahnya peringatan juga bagi Indonesia gitu ya.
25:48Artinya kita jangan sampai terpuruk kepada dolar yang lebih tajam lagi.
25:53Nanti BI itu jangan menurunkan suku bunga lagi.
25:56Jadi karena ini salah satunya juga pengaruh tekanan USD itu karena penurunan suku bunga BI rate itu.
26:04Karena ini juga akan membawa kepada rupiah menjadi lebih tertekan lagi.
26:09Nah ini intinya nanti supaya kita itu tetap menjaga stabilitas ekonomi dan juga bagaimana stabilitas nilai tukar juga tetap terjaga.
26:19Satu adalah memberikan suatu kepercayaan kepada investor.
26:24Jadi membangun kepercayaan pada investor.
26:26Bahwa apa yang akan disiapkan oleh pemerintah itu betul-betul nyata nanti ketika ada investor masuk ke Indonesia.
26:32Karena itu merupakan indikator, acuan indikator investor adalah etching rate.
26:37Seperti itu Mbak Okta.
26:38Oke artinya gini tadi soal bagaimana membangun kepercayaan investor tapi juga kalau kita bicara soal bagaimana nilai tukar ini kan ada faktor eksternal.
26:50Nah Mas Fitra tanggapan Anda termasuk juga bagaimana tadi kalau rupiah terpuluh tapi ESG ini pecah rekor.
26:54Tidak masalah ya jadi kita melihat begini Mbak.
26:59Ini suatu hal yang sangat normal.
27:02Jadi kalau kita lihat pertumbuhan base money di bulan Agustus itu sekitar 7% dan sekarang di bulan September menuju Oktober sudah 18%.
27:11Itu sudah hampir pasti akan membuat rupiah itu lebih lemah.
27:15Tetapi kita ingat bahwa memang ada faktor antara ya.
27:17Jadi itu adalah hal yang bisa kita lihat di jangka pendek tetapi ketika basis produktif yang itu bisa meningkat itu rupiah akan kembali lagi setambil.
27:25Nah dalam hal ini apa sih yang diharapkan dengan adanya peningkatan base money yaitu aktivitas ekonomi muncul.
27:31Dan itulah yang kemudian kita bisa lihat di kuartal keempat karena dari sisi analisa dampak ekonominya itu bisa meningkatkan growth factor 0,3 sampai 0,4%.
27:40Nah ketika misalnya pertumbuhan ekonomi kita di kuartal 4 sesuai dengan target atau trajectory tadi 5,4%.
27:47Maka ini juga bisa meningkatkan atau berpotensi untuk membuat rupiah lebih baik lagi dari sisi pertama dari sisi ekspektasi yang berarti ada growth factor yang lebih baik di 2026 dan itu akan mengundang investor masuk.
28:01Dan yang kedua adalah dari sisi peningkatan kapasitas produktif.
28:04Nah apa yang kita bisa lihat dari peningkatan kapasitas produktif kita bisa lihat bagaimana PMTB itu pertumbuhannya selalu di atas 5% dalam 2 kuartal berturut-turut sehingga itu sesuai dengan trajectory nya.
28:14Tetapi ya tentunya ya PMTB atau investasi ya industri realisasi bahkan ya ini adalah satu hal tentunya kita juga harus membuatnya lebih inklusif.
28:23Dan sehingga apa yang pemerintah lakukan adalah membuat aspek intertemporal.
28:27Investasi intertemporal itu dimana sih dari sisi MBG memperkuat nutrisi ya anak-anak sehingga pada akhirnya bisa kita harapkan human capitalnya itu bisa meningkat ya sama antara 5 sampai 10 tahun ke depan.
28:38Dan yieldnya itu di kemungkinan tahun 15.
28:42Nah tadi Prof. Ramas saya dengar juga menyampaikan bahwa ini yang penting mereka itu compatible.
28:47Nah ini adalah cara pemerintah untuk membuat itu compatible.
28:49Tapi itu di jangka menengah panjang.
28:51Bagaimana seri-seri di jangka pendek intervensinya?
28:53John Maynard Keynes pernah bicara bahwa in the long run we are all dead.
28:56Tetapi pada akhirnya di bukunya yang sama dia juga menunjukkan bahwa jangka panjang itu ditentukan oleh seri intervensi di jangka pendek.
29:02Apa yang dilakukan di jangka pendek?
29:04Yaitu fokus kepada pembendahan stimulus, memberikan stimulus yang juga pada akhirnya akan memberikan efek matching ya antara ketersediaan tenaga kerja dengan kompatibilitas di industri.
29:16Nah stimulus-stimulus ini sifatnya ad hoc, sifatnya intervensi di jangka pendek ya bisa kita bilang bahwa ini adalah aspek intervensinis pemerintah yang hanya akan terjadi di jangka pendek akan memudar antar waktu.
29:29Tetapi di sisi yang lain pemerintah juga melakukan investasi dari sisi kapasitas produktifnya, dari sisi industri dan human capitalnya.
29:35Ada sekolah rakyat, sekolah Garuda ya tadi kita juga sempat mendengar bagaimana ada incompatibility dari anak-anak yang tidak kemudian bisa masuk kerja.
29:45Kenapa? Ya karena scale-nya harus kemudian dibuat, fondasinya dari awal.
29:48Nah sekolah rakyat, sekolah Garuda itu adalah untuk menjawab tantangan-tantangan di jangka panjang tersebut.
29:53Oke, ada optimisme di tahun depan.
29:56Dan Prof Gahmi, kemana arah pertumbuhan ekonomi kalau kita bicara soal tahun ini full year?
30:00Dilihat dari penyerapan belanja pemerintah yang tentunya masih belum didorong nih dan rupiah yang masih bertahan lemah sampai dengan saat ini?
30:07Sebenarnya gini Mbak Okta, kita yang sekarang bermasalah itu bukan di moneternya ya.
30:11Oke.
30:12Jadi kemarin The Fed kan sudah juga menurunkan suku bunganya, tapi The Fed juga menyampaikan bahwa nanti bulan Desember itu belum tentu dia juga bisa nurunin suku bunga lagi.
30:23Nah itu adalah hal yang wajar-wajar saja, karena mungkin di sini dampak dari tarif Trump itu terhadap inflasi itu masih butuh waktu kan gitu.
30:33Artinya di sini ada kelambatan.
30:35Jadi mungkin nanti jangan harap bahwa suku bunga tinggi itu merupakan suatu hal-hal yang sangat baik.
30:42Itu mungkin akan segera berlalu gitu.
30:45Artinya jangan harap juga suku bunga tinggi itu rezim yang selalu melakukan bahwa itu akan segera berlalu gitu loh Mbak.
30:55Jadi artinya apa?
30:56Nanti BI itu harus menjaga jangan sampai menurunkan suku bunga BI lagi, karena di sini nanti harus menjaga juga tekanan rupiah jangan sampai terlalu dalam.
31:05Yang kedua Mbak, kalau kita melihat ini tentunya apa yang disampaikan Mas Fitra itu adalah sebuah suatu pernyataan atau statement pemerintah yang selalu digaung-gaungkan.
31:16Tapi yang kita butuhkan sekarang itu adalah bukti dan nyata bahwa kebijakan-kebijakannya itu Mbak yang harus ditunggu oleh masyarakat dan juga para calon-calon investor yang mau masuk ke Indonesia.
31:27Tapi ini harus banyak keluhan-keluhan dari para pengusaha juga.
31:32Artinya regulasi yang diberikan pemerintah itu kadang-kadang tidak dilit dengan yang terjadi di lapangan.
31:37Implementasinya itu sulit Mbak di lapangan.
31:39Gitu Mbak Oke yang bisa di sini mengendalikan bagaimana caranya sektor usaha ini bisa berjalan dengan mulus.
31:47Karena satu-satunya kunci adalah apa Mbak?
31:49Kalau sektor usaha ini tidak jalan dengan baik, intinya kita tidak akan ada penyirapan kerja gitu ya.
31:54Nah kita tidak akan bisa juga hidup gitu.
31:57Nah ini konsumsi rumah tangga kan ditopang karena adanya pendapatan, karena adanya income.
32:02Income itu dibangun oleh para investor.
32:05Nah ini kalau kita tidak bijak dalam hal regulasi juga, jadi artinya jangan memberatkan investor gitu.
32:11Ini ke depan juga agak sulit gitu untuk ngejar Vietnam yang bertumbuh yang sangat dasyat itu Mbak Okta seperti itu.
32:18Oke artinya jangan cuma ditiup-tiupin angin segar tapi juga ada gebrakannya pemerintah.
32:23Mas Fitra gimana? Apa antisipasi pemerintah?
32:25Kalau tadi kondisinya tentunya kita butuh optimisme di 2026 termasuk juga bagaimana rupiah yang kita harapkan bisa menguat.
32:32Karena kita harus ingat nih Mas, pembayaran utang jatuh tempo.
32:35Ya jadi gini Mbak, rupiah itu adalah derivat dari aktivitas industri ya.
32:41Itu sudah saya tulis di buku saya, Realist Insurid and Trade Balance.
32:45Nah oleh karenanya kalau kita menguatkan aktivitas industri nya yang sudah terbukti ya di beberapa kuartal terakhir,
32:52itu merupakan salah satu cara untuk menjadi fondasi penopang rupiah ke depan.
32:56Nah untuk hutang, debt to GDP ratio kita masih di bawah 40%, debt service ratio masih dalam rentang yang mau adai.
33:03Dan dalam hal ini saya rasa tinggal bagaimana pemerintah menciptakan aktivitas produktif ya.
33:08Sehingga pada akhirnya revenue generating mechanismnya itu bisa terjadi tahun 2026.
33:12Nah ketika ekonomi tumbuh, maka revenue harusnya juga tumbuh ya.
33:16Dan dari sisi itulah kemudian pemerintah melakukan apa yang dilakukan oleh, sempat dilakukan oleh Abenomics ya.
33:21Ketika Abe, waktu itu Prime Minister Abe di tahun 2011, dan saya menyaksikan di situ karena saya masih ambil PhD saya di Jepang.
33:29Itu dalam kerentan waktu itu ketika dia melakukan reform tiga ero itu,
33:34dia berhasil kemudian membangkitkan perekonomian Jepang yang memang sudah tertinggal selama 20-30 tahun terakhir.
33:40Dan ketika kita melakukan misalnya tadi monetary easing, fiscal policy, dan juga yang salah satu yang paling penting adalah structural reform,
33:46ini menjadi bagian atau pilar paling penting untuk kemudian menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi kita di beberapa tahun ke depan.
33:52Dari sisi trajectory-nya, kalau kita bicara konsumsi, itu tidak lagi bisa diandalkan.
33:57Yang pemerintah ingin lakukan ke depan adalah supply side growth ya, atau supply side trajectory,
34:03yang pada akhirnya pasti akan mendrive income dan konsumsi juga.
34:06Oleh karenanya, penguatan basis industri menjadi sangat penting dan imminent.
34:10Dan di sisi yang lain, yang seperti tadi saya jelaskan, bahwa absorptive capacity-nya juga perlu dikuatkan.
34:16Tidak penting ketika industri cuma kuat tetapi tidak mampu kemudian menyerap tenaga kerja.
34:22Artinya rakyat itu di luar sentra kuasa.
34:25Yang akan kita lihat ke depan adalah bagaimana injecting human capital supaya dia bisa compatible,
34:31supaya ada absorptive capacity yang membandai dengan aktivitas investasi yang masuk.
34:36Dan pada akhirnya kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi,
34:40tetapi juga sustainable dan inclusive.
34:42Iya, tentu. Rakyat pun juga menantikan, Mas Fitra, bagaimana apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini punya dampak signifikan.
34:48Karena yang dibutuhkan tidak cuma insentif secara temporer saja,
34:50tapi juga keberlanjutan supaya itu tadi angka-angkanya tidak cuma cantik di atas kertas,
34:54tapi juga punya kondisi real yang juga bisa didasarkan masyarakat,
34:59termasuk juga kemudahan cari kerja, investasi, dan juga rupiah juga semakin kuat, semakin gacor.
35:03Terima kasih tenaga ahli utama Badan Komunikasi Pemerintah, Mas Fitra Faisal,
35:07dan juga Guru Besar, Fakultus Ekonomi Universitas Air Langga, Prof. Ahmad Gahmi,
35:10sudah bersama di Kompas BZ. Sehat Selalu.
35:13Terima kasih, Mbak.
Komentar