- 3 bulan yang lalu
- #mbg
- #satutahunprabowogibran
- #prabowo
- #gibran
KOMPAS.TV - Anggaran Pemerintah untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai triliunan. Namun, hingga kini serapan anggaran masih jauh dari maksimal. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana jaminan bahwa dana sebesar itu benar-benar sampai ke masyarakat tanpa menimbulkan masalah baru, seperti kasus keracunan?
Sahabat KompasTV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube KompasTV, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.
Jangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia, yuk subscribe channel youtube KompasTV. Aktifkan juga lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV.
Sahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv
#mbg #satutahunprabowogibran #prabowo #gibran
Baca Juga Beda Pendapat soal Tata Kelola Program MBG: Program Ini Bisa Jadi Lapangan Pekerjaan |LAPORAN KHUSUS di https://www.kompas.tv/nasional/624279/beda-pendapat-soal-tata-kelola-program-mbg-program-ini-bisa-jadi-lapangan-pekerjaan-laporan-khusus
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/624280/anggaran-mbg-capai-triliunan-siapa-yang-benar-benar-diuntungkan-laporan-khusus
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Tahun ini ada 70 triliun rupiah yang dianggarkan untuk makan bergizi gratis.
00:09Tahun depan 335 triliun rupiah dengan target 82,9 juta penerima manfaat untuk makan bergizi gratis.
00:19Tapi tahun ini tidak terserap, masih penasaran nih 70 triliun yang tidak terserap yang dikembalikan.
00:23Lalu apakah ada jaminan dari pemerintah ketika 335 triliun anggaran yang cukup besar itu
00:29bisa diberikan kepada masyarakat atau penerima manfaat tanpa ada keracunan?
00:37Insya Allah.
00:39Dengan perbaikan-perbaikan ya insya Allah.
00:42Mekanisme seperti apa yang dilakukan Pak Menko dan juga jajaran terkait
00:49agar segala kendala ini bisa dilakukan atau dihindari Pak Menko?
00:53Tadi saya sudah mengatakan kalau sekarang itu semua dikerjakan oleh badan gizi.
00:59Semuanya.
01:00Oke, semuanya ya?
01:01Penyelenggaraannya, pengawasnya, semua.
01:04Nanti ini dibagi.
01:06Di dalam tata kelola kita perbaiki.
01:09Nanti badan gizi penyelenggaraan.
01:13Ya penyelenggaraan.
01:15Pengawasan nanti beda.
01:17Pengawasannya itu nanti dari Kementerian Kesehatan.
01:19Karena punya akses sampai ke desa.
01:22Ada puskas mas.
01:23Sampai ke dusun ada.
01:25Sama Menteri Dalam Negeri yang bisa langsung ke Gubernur, Bupati, Wali Kota,
01:30camat sampai ke Kepala Desa.
01:31Jadi pengawasannya melekat dekat tempat di tempat desa.
01:35Kalau sekarang terjadi di satu kecamatan, maka langsung badan pusat.
01:40Oh, BGN-nya langsung ya?
01:41Habis pusat, Pak Dadan, terus Pak Presiden gitu ya.
01:44Nah itu.
01:45Jadi nanti dibagi.
01:46Kemudian tata kelola tadi.
01:48Tata kelola juga kita perbaiki.
01:49Kan ada pelaporan, ada pertanggung jawaban, dan seterusnya.
01:54Mas Media, ada catatan khusus untuk ini ketika nantinya
01:57mekanismenya tata kelolanya akan diperbaiki.
02:01Akan melibatkan PMDA juga berarti ya?
02:02Oleh karena itu, kita berdasarkan hitungan kita,
02:06tahun depan 335 itu insya Allah akan terserap.
02:09Oke, insya Allah.
02:10Itu adalah cita-cita kita bersama ya?
02:12Karena kita nggak, Pak Presiden itu bagaimana ya?
02:15Kalau suatu daerah itu datang, berkunjung,
02:18ada banyak yang bertanya, Pak, kok kami sekolahnya belum dapat
02:21sepuluh sekolah sebelah.
02:22Itu kan, Pak Presiden ini orangnya kalau dengar anak-anak begitu
02:27selangsung, anu ya.
02:28Baik, baik.
02:29Kalau bisa secepatnya itu dapat semua.
02:31Langsung tersentuh ya, Pak Presiden ya.
02:33Selius, mencatatnya seperti apa?
02:35Iya.
02:35Bisa kak terserap anggaran sedemikian besar?
02:37Kami khawatir cuma disampaikan kritik-kritik aja.
02:39Saya sampaikan solusi karena mumpung ada Pak Menteri.
02:42Anggapan bahwa MBG ini mendorong perekonomian lokal,
02:47wujudkan itu.
02:49Pelaksananya seharusnya bukan dapur-dapur besar
02:51yang ratusan juta miliaran rupiah infrastrukturnya.
02:55Pelaksananya harusnya komunitas di level terbawah, sekolah,
03:00karena mereka yang paling tahu bagaimana makan anak-anak di sana.
03:03Ada satu contoh di Pulau Sumba,
03:06di Wai Ngapu.
03:07Itu makanan untuk MBG itu dari luar pulau.
03:10Jadi, kalau memang ini ingin menghasilkan nilai tambah,
03:14libatkan entitas lokal.
03:17Libatkan orang tua, sekolah, dan komunitas lokal.
03:20Bukan dapur-dapur besar.
03:21Itu yang pertama.
03:22Yang kedua, saya kira,
03:24ini anggaran besar sekali.
03:25Rp335 triliun.
03:27Dan kalau uangnya tidak berputar di bawah,
03:29ekonomi nggak akan tumbuh.
03:31Saya bisa bayangkan mungkin Pak Rosan,
03:32kalau seandainya itu diberikan ke Pak Rosan untuk investasi,
03:35satu provinsi dapat Rp2-3 triliun untuk bangun industri,
03:38menciptakan lapangan kerja.
03:40Orang bekerja,
03:41ngasih makan anaknya dengan bergizi.
03:45Yang kedua, satu lagi yang sangat signifikan,
03:46saya ingin menitapkan pesan saja Pak Azulhas,
03:49Pak Rosan,
03:50dengan segala kerendahan hati.
03:52Rp335 triliun sekarang,
03:54dan Rp245 triliun itu dari pendidikan.
03:58Pendidikan.
03:59Pasti ada track of sektor pendidikan.
04:00Jadi maksudnya dialihkan begitu, realokasi?
04:03Anggarannya dari pendidikan.
04:04Jadi MBG itu diambilkan dari anggaran pendidikan.
04:07Nah kalau kita keluarkan MBG ini dari anggaran pendidikan,
04:11anggaran pendidikan kita itu sebetulnya turun 20%.
04:14Jadi jangan sampai ketika kita mendorong MBG ini,
04:18yang juga lagi-lagi banyak yang bermasalah,
04:21kita melupakan esensi dasar dari pendidikan.
04:23Sama satu lagi,
04:25MBG, saya hitung pakai data susenas,
04:27adalah program paling inclusion error paling tinggi.
04:31Artinya adalah penikmat MBG banyak juga dari kalangan desil 5 ke atas,
04:35dari kalangan menengah ke atas.
04:37Ini bermasalah.
04:39Karena yang harus menerima MBG ini adalah dari sil bawah.
04:42Masyarakat yang tidak punya nutrisi,
04:43dan itu ada di daerah 3 ke atas.
04:44Gimana Pak Menko menjawabnya?
04:46Satatan dari Selios cukup banyak.
04:48Pak Menko mungkin ingin menjawabnya?
04:50Silahkan.
04:50Boleh.
04:51Nanti bisa dilanjutkan Pak Rosan.
04:52Tadi ya,
04:55kita melihat pengalaman 28 tahun.
05:00Saya ambil contoh,
05:03karena saya ini pelaku ya,
05:0484 itu saya sudah berdagang dengan Tiongkok,
05:07dengan Korea Selatan.
05:08Kita disebut Macan Asia waktu itu.
05:10Kita tidak kalah dengan Tiongkok.
05:13Tapi lama-lama kan kita ini ketinggalan.
05:17Walaupun kita juga maju,
05:18tapi orang majunya lebih cepat.
05:19Nah, salah satu faktornya itu,
05:21dulu kalau kita ketemu orang Tiongkok,
05:23orang Korea Selatan sama kita.
05:25Kalahnya juga berani.
05:26Oh, sekarang dia sudah tinggi-tinggi.
05:28IQ mereka mungkin 120 rata-rata ke atas.
05:31Nah, kenapa?
05:32Sebab ya gizi tadi itu.
05:34Oleh karena itu,
05:35ini menjadi perlumat sangat mendasar,
05:37dan maka nember gizi itu hak warga negara.
05:39Oleh karena itu diputuskan,
05:40ini harus kita lakukan dulu.
05:42Oke, mungkin Pak Rosan ingin menambahkan,
05:45kalau tadi Selios masukannya cukup menarik,
05:48ketika investasi diberikan ke daerah,
05:51nanti otomatis orang tuanya juga akan memberikan
05:54makan bergizi gratis kepada anak-anak ya?
05:56Saya tambah sedikit.
05:56Silahkan.
05:57Jadi kalau,
05:58karena kami ini kan suka pertemuan besar
06:01dengan masyarakat gitu ya.
06:03Saya pernah satu pertemuan dengan 2.000
06:06di satu desa,
06:07di tempat saya itu.
06:09Kalau masyarakat 2.000
06:11yang ada di desa itu,
06:13kita tanya mereka,
06:14Pak, Bapak anak ada 3 atau ada 4,
06:17coba hitung,
06:19berapa keperluan kamu 1 tahun,
06:21agar anakmu bisa sekolah,
06:23agar anakmu bisa hidup yang layak,
06:25makan yang sempurna,
06:26yang bagus,
06:27itu nggak bisa ngitung.
06:28Dia nggak bisa mengitung.
06:30Dia hanya bisa,
06:31ini kerjaanmu upahnya sekian.
06:33Kenapa?
06:33Karena rata-rata memang gitu tadi.
06:36IQ-nya itu mungkin 70 atau 80,
06:38dia hanya bisa dikasih pekerjaan ini,
06:40hakmu ini,
06:41seperti itu.
06:42Nah, kita ingin punya masyarakat yang,
06:44yang apa,
06:45yang gizi-nya cukup,
06:47badannya sehat,
06:48cerdas,
06:49sehingga bisa kreatif,
06:50bisa produktif,
06:51baru kita bisa maju.
06:52Tapi kan sempat ada catatan dari masyarakat juga nih,
06:55Pak Menko,
06:55bahwa ketika makan bergizi gratis,
06:57diberikan kepada anak-anak makan siang.
07:00Makan malamnya belum tentu bergizi gitu.
07:03Paling tiga kan sudah ada.
07:05Ini kan pilihannya nggak ada sama sekali,
07:07atau mesti ada kan.
07:08Oke.
07:09Kita belum bisa tiga kali,
07:10sekatu kali Alhamdulillah.
07:12Oke,
07:12tadi yang sorotan di MBG adalah soal juga anggaran,
07:16Pak Rosan.
07:17Kalau di tahun ini kan sudah dianggarkan 71T,
07:2070 ini dikembalikan artinya 1T yang terserap gitu ya,
07:22di MBG-nya.
07:23Tapi tahun depan kan tiga kali lipat,
07:25empat kali lipat bahkan,
07:26335 triliun rupiah.
07:28Gimana caranya pertanyaannya?
07:2970T aja tahun ini dikembalikan,
07:32tapi tahun depan besar sekali,
07:33335 triliun rupiah.
07:36Oke,
07:37saya menambahkan dulu.
07:38Saya setelahnya senang juga dengar diskusinya dari mas media ini,
07:42menunjukkan bahwa memang program ini,
07:45apa semangatnya itu,
07:46apa dari seluruh masyarakat,
07:48untuk program ini berhasil kan berarti sangat-sangat tinggi.
07:50Dan itu kita harus apresiasi yang pertama.
07:51Iya, betul.
07:52Yang kedua,
07:53ini mungkin saya koreksi sedikit ya,
07:55tambahan lah.
07:57Dananya 71,
07:58betul,
07:5871 triliun kemudian ditambah jadi 100,
08:00ya kan?
08:00Tambah 100.
08:01Jadi ditambah 100 jadi 171,
08:03tapi yang dikembalikan 70 triliun.
08:04Itu kenapa?
08:0531 yang dipakai.
08:06Memang awalnya konsepnya,
08:08walaupun sebetulnya MBG ini bukan di saya,
08:10tapi kebetulan saya ikut mendengarkan
08:13dan ikut memberikan masukan juga,
08:15apa?
08:15Awalnya 71.
08:16MBG ini awalnya itu semuanya,
08:18dapurnya lah,
08:19kalau saya bilang SPPG,
08:20itu mau dibangun oleh?
08:22oleh Badan Kisina Nasional.
08:24Tapi kemudian,
08:26dalam perjalanannya,
08:27kita menyampaikan bahwa,
08:28kalau ini dibangun oleh,
08:30semuanya oleh BGN,
08:32ya kan?
08:32Oleh Badan Kisina Nasional,
08:34keikut serta tangan dari dunia usaha itu kan jadi,
08:37tidak berjalan.
08:39Nah,
08:39oleh sebab itu,
08:40dapur-dapur ini,
08:42banyak justru dibikin oleh dunia usaha,
08:46oleh salah satunya,
08:48oleh banyak oleh UMKM,
08:50yang banyak oleh pengusaha-usaha daerah,
08:52saya tahu banget gitu,
08:53kenapa?
08:53Karena saya dapat laporan dari Kadin,
08:55saya dapat laporan dari teman-teman Apindo,
08:57itu.
08:57Jadi,
08:58budget yang tadi dialokasikan,
08:59untuk bangun,
09:02dapur,
09:03untuk bangun-bangunannya,
09:05yang dimana setiap bangunan itu,
09:06kurang lebih,
09:07kosnya sitar hampir 2-3 miliar,
09:09tergantung ya,
09:10itu justru digerakkan oleh para dunia usaha di daerah.
09:14Makanya akhirnya 70 itu dikembalikan?
09:16Iya,
09:17karena kenapa?
09:18Itu capex yang di awal,
09:20itu sekarang oleh,
09:22kita ingin menggerakkan dunia usaha nih,
09:23di daerah.
09:24Jadi,
09:25terjadilah penurunan budget itu.
09:27Nah,
09:27itu yang pertama,
09:28itu yang menerangkan kenapa,
09:30bukan budget yang tidak terserap,
09:31karena justru kita ingin menggerakkan,
09:33pengusaha-pengusaha di daerah,
09:35untuk ikut semua di MBG,
09:36yang penting dari MBG itu memberikan guideline,
09:39misalnya,
09:40oh,
09:41nanti kalorinya harus segini.
09:43Memang betul,
09:44mesti ada penyempurnaan dari tata kelolanya,
09:47kita setuju,
09:48ya kan?
09:49Karena memang,
09:50walaupun MBG ini sudah berjalan di 100 negara lebih,
09:54ini bukan cuma baru,
09:55ini 100 negara lebih,
09:56Indonesia ini negara nomor 79 yang menjalankan ini.
09:58Karena nomor 1.
09:59Ya,
09:59nomor 79.
10:01Tentunya,
10:02proses pembelajarannya,
10:04penyempurnaannya,
10:05itu pasti,
10:06apalagi dari segi number,
10:08dari segi angkanya,
10:09memang,
10:11angkanya kan,
10:12salah satu yang paling tinggi mungkin sesudah India.
10:15Sesudah India,
10:16ini nomor 2 kita ada tertinggi ini,
10:17ya kan?
10:18Datanya.
10:19Jadi,
10:20justru,
10:21memang saya setuju sekali,
10:22justru dengan adanya MBG ini,
10:25dunia usaha di daerah harus hidup.
10:27Ya,
10:27pengusahanya,
10:29kemudian ibu-ibunya,
10:31kemudian para pengusaha,
10:32apa,
10:33para perternak,
10:34tadi sampai disampaikan oleh Pak Zul,
10:37ya,
10:38untuk penyedak,
10:39apa,
10:39tanamannya,
10:40juang tanaman,
10:41sayur,
10:41telur,
10:42justru,
10:43inginnya adalah pemberdayaan di daerah.
10:45Dengan adanya daerah ini hidup,
10:48dengan dana yang dikeluarkan,
10:50setiap tahunnya nanti memang meningkat,
10:51menjadi 340 triliun,
10:53itu bisa diharapkan daerah ini bisa berkembang dan tumbuh.
10:56Oke.
10:57Sehingga pemerataan di seluruh Indonesia itu terjadi.
10:59Di luar dari output yang diharapkan dari anak-anak ini,
11:04yang mendapatkan dari ibu-ibu hamil,
11:06bisa mendapatkan apa,
11:08makan siang bergizi ini,
11:10dan outputnya mereka akan jadi lebih baik,
11:12lebih sehat.
11:13Kalau realisasinya seperti itu,
11:15kita boleh kasih tepuk tangan dulu dong,
11:17ke pemerintah.
11:18Tapi,
11:19sebentar Pak Zulhas,
11:22kalau dari pemerintah sudah menyatakan statementnya,
11:25saya ingin dengar catatan di publiknya.
11:27Karena tadi Mas Farul udah senyum-senyum aja nih Pak Zulhas.
11:29Jadi saya penasaran,
11:31Mas Farul,
11:31gimana,
11:32catatan atau sentimen publik terhadap MBG ini seperti apa sih?
11:37Iya,
11:37sebenarnya sentimen publik terhadap MBG ini mix.
11:40Mix?
11:40Mix feeling gitu?
11:41Sisi mix feeling,
11:42satu sisi memang yang mendapat manfaatnya banyak,
11:46tapi memang di media kita berseliwaran segala macam kabar dan berita ya.
11:51Nah,
11:52mungkin hal yang paling menarik ini Pak,
11:53sebenarnya ya kalau terkait sentimen di publik juga,
11:55dan ada beberapa hal yang mulai jadi concern juga,
11:59ini terkait inflasi karena MBG Pak.
12:02Misal Pak,
12:02tahun depan beneran tercapai 82,9 juta penerima per hari,
12:08kira-kira strategi suplai pangan kita gimana?
12:11Itu yang saya mau jelaskan.
12:13Jadi programnya ini memang terkait ya,
12:16kalau satu ketinggalan memang bisa keteter.
12:19Oleh karena itu makan bergizi,
12:21itu keterkaitan dengan suasana pada pangan.
12:24Maka ini juga harus sama,
12:26itu harus seiring-sejalan.
12:28Beriring, tadi ada pertanyaan yang bagus,
12:30ini harus bisa menghidupkan usaha-usaha di desa,
12:32maka lahirlah Kopdes.
12:33Karena nanti SPPG di desa itu,
12:37kerjasamanya sama kooperasi belanjanya.
12:41Nah kooperasi ini apa fungsinya?
12:43Kooperasi itu nanti memang kita bentuk dengan cara yang benar ya,
12:47agar dia bisa juga sebagai optiker.
12:51Nanti hasil pertanian,
12:53hasil kalau di situ nelayan ikan,
12:55karena di kooperasi akan dilengkapi dengan gudang,
12:57dengan kolsturin, dan lain-lain.
12:59Sehingga nanti kooperasi ini bisa jadi optiker,
13:02hasil-hasil pertanian, hasil sayur,
13:05dan seterusnya.
13:06Ini kooperasi yang akan suplai ke,
13:08selain diperlukan oleh masyarakat,
13:10juga suplai kerjasama dengan SPPG,
13:12atau dapur itu tadi.
13:13Jadi ini sebetulnya,
13:15satu dengan lain itu terkait.
13:17Oke, Mbak Afu,
13:19realistis nggak sih apa yang dicita-citakan
13:21Pak Zulhas dan juga pemerintah?
13:24Karena kita tahu sebenarnya tujuannya positif,
13:27tujuannya baik,
13:28dan harus didorong oleh setiap elemen.
13:30Tapi realistis tidak?
13:32Iya, pertama tadi ketika disebutkan
13:33Indonesia adalah negara ke-70 sekian yang melakukan ini,
13:36yang perlu kita sadari bersama adalah
13:38setup geografis dari Indonesia,
13:41ekonomi, dan budayanya sangat berbeda.
13:45Jadi ketika negara-negara landlock,
13:48misalnya yang memang di satu area saja
13:50melakukan penyediaan makanan secara direct,
13:54misalnya dari pemerintah,
13:55memang itu strategi distribusinya mungkin cukup simpel.
13:59Untuk Indonesia jauh lebih kompleks,
14:00karena sangat tersebar dari ujung ke ujung,
14:03dan pun ketika kita bilang akan benar-benar
14:05mengaktifasi pelaku-pelaku usaha lokal,
14:08apakah itu dunia usaha maupun kooperasi,
14:09perlu dilihat juga sebenarnya,
14:11karena ada risiko juga apakah
14:13pelaksanaannya benar-benar mengaktifkan
14:15UMKM yang sifatnya lokal,
14:17atau menciptakan elite capture lain.
14:18Karena baik itu di level kabupaten,
14:21maupun perkotaan,
14:22bisa jadi ada elite capture,
14:25dalam arti elite bisnis,
14:27apakah itu pelaku usahanya,
14:31ataupun dalam konteks penyediaan kooperasinya,
14:33apakah dia benar-benar mampu
14:35meredistribusi ulang ke berbagai lapisan
14:37di masyarakat, itu satu.
14:38Kedua, karena MBG ini memang jadi
14:41pertaruhan ekonomi yang sangat besar
14:42dalam konteks Indonesia,
14:43karena kalau di negara lain,
14:45mungkin dalam konteks anggaran,
14:47dia tidak melakukan upaya yang sebegitu besarnya
14:50untuk menarik anggaran dari pos lain
14:52dengan sangat signifikan,
14:53kalau di Indonesia,
14:55konsekuensi fiskalnya sangat-sangat besar,
14:56karena tadi Mas Media sudah sampaikan juga,
14:59mengambil dari sektor pendidikan,
15:00belum lagi kaitannya dengan penyediaannya,
15:02nanti berhubungan dengan inflasi dan sebagainya.
15:04Jadi, setiap pilihan desain,
15:06tadi apakah dilakukan lewat kooperasi,
15:08atau dilakukan lewat dunia usaha,
15:11itu harus diperhitungkan,
15:12model konsekuensi ekonominya akan seperti apa,
15:14karena sangat-sangat besar,
15:15jadi tidak bisa kita mengambil keputusan,
15:17hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kualitatif,
15:21atau berdasarkan apa yang dipahami,
15:22maka peran organisasi seperti Sialios,
15:24dan juga banyak organisasi riset,
15:26data itu harus digunakan.
15:28Yang saya khawatirkan,
15:28ketika Bapak Presiden diberikan statistik,
15:32tentang angka keracunan,
15:34yang saya masuk dengan State Capacity,
15:35untuk belajar itu mengakui,
15:36terhadap kekurangan dan permasalahan.
15:38Jadi, alih-alih,
15:39itu hanya sekian persen saja dari implementasi,
15:42justru harus secara serius,
15:43juga memastikan standar kebersihan,
15:46nutrisi, dan sebagainya,
15:47itu menjadi prasyarat utama,
15:48sebelum kita meneskalakan program ini,
15:50dalam konsekuensi fiskal yang besar tadi.
15:52Oke, jawabannya nanti akan dijawab oleh Pak Menko,
15:54Pak Rosel, dan juga Mas Deraja,
15:55tetap,
15:56dan mungkin nanti akan ada masukan juga,
15:58dari Pasani,
15:59dari pelaku usaha ya.
15:59Sampai yang saya jendela ya Bapak-Bapak ya,
16:01tetap bersama kami.
Jadilah yang pertama berkomentar