00:00Untuk mengupas serangan Israel terhadap Iran, kita bahas bersama Tegu Reza Syah, pengamat hubungan internasional Universitas Pajajaran.
00:11Pak Reza, selamat petang.
00:13Selamat petang, salam dari Bandung.
00:15Oke Pak Reza, Amerika sudah bilang dia tidak terlibat, tapi tahu sudah diakui oleh Presiden Trump.
00:21Kemudian juga dampaknya adalah perundingan nuklir dengan Amerika Serikat batal, sudah dipastikan batal.
00:26Bagaimana kita bisa membaca benang merah di antara semua ini Pak Reza?
00:31Saya pikir, Iran sudah cukup bukti bahwa terselenggaranya perjanjian nuklir ataupun tidak terselenggaranya perjanjian nuklir, Amerika Serikat tidak ada.
00:47Karena dalam bayangan para pimpinan Iran, itu mereka ada satu stigma bahwa Amerika Serikat itu dikenal sebagai syaitan al-akbar atau syaitan besar,
01:00yang kalau berbicara itu bohong, kalau membuat komitmen itu akan ingkar, dan kalau terlibat dalam perjanjian-perjanjian itu mereka akan menggunting dalam lipatan.
01:08Untuk itu Iran sudah melihat bahwa keberhasilan Israel menyerang Iran itu tidak terlepas dari pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang ada di sana.
01:18Misalnya di Qatar, di Bahrain, di Kuwait, dan Uni Arab Emirat.
01:21Nah itu analisis dari pihak Iran.
01:24Pada saat yang sama, dari pihak Israel, Israel juga sangat percaya diri.
01:28Dimana mereka punya kemampuan yang sangat sistemik, namanya itu kombinasi dari command, control, computing, surveillance, reconnaissance, dan counterintelligence.
01:39Dan sistem intelijen Israel memang sangat luar biasa, dan mereka bisa mendeteksi dengan sangat spesifik
01:44dimana beradanya pakar-pakar nuklir Iran, dan juga dimana beradanya jenderal-jenderal Iran tersebut.
01:51Jadi ini sangat menarik, tapi saat yang sama, kita juga lihat bahwa yang Iran kirimkan itu baru berjumlah 100 misil.
02:01Misalnya kalau kita perhatikan statement dari pejabat-pejabat Amerika Serikat di Kongres,
02:07mereka mengatakan Iran itu sebenarnya masih memiliki 3.000 balistik misil.
02:13Ini adalah statement dari jenderal Kenneth McKenzie, yang berbicara di depan komite Senat itu sekitar tahun 2002 silam.
02:22Dan dia mempercayai bahwa sanksi yang diberikan oleh Barat terhadap Iran itu tidak mempan.
02:27Dan Iran terus mampu membuat perangkat-perangkat perang, terutama sekali drone dan misil, dengan harga yang lebih murah.
02:35Jadi ini adalah suatu hal yang menarik, dimana Iran sangat mengandalkan pada drone dan misil,
02:41kemudian juga mengandalkan sistem perlindungan keamanan lewat satelit.
02:48Konon, Iran sudah punya satelit.
02:49Dan pada saat yang sama, Israel sangat mengandalkan pesawat-pesawat siluman mereka.
02:54Dan ini yang menarik bahwa ini adalah revolusi dalam perang modern.
03:00Oke Pak Reza, tapi bagaimana kita juga melihat peran negara-negara besar di belakang konflik ini?
03:06Ada siapa saja yang terlibat sebenarnya?
03:07Kalau kita mengikuti ya, bahwa yang terlibat itu pasti adalah Amerika Serikat.
03:16Dan di belakang, pertama adalah Amerika Serikat, kemudian Jerman ada di situ, Perancis ada di situ, Inggris ada di situ.
03:23Tapi di kalangan tiga negara Uni Eropa ini, itu Jerman tampaknya melunak.
03:29Karena Jerman mulai mengkritisi perilaku-perilaku Zionism yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asisi manusia.
03:39Tapi di Timur Tengah juga terdapat negara-negara yang bermuka dua.
03:44Misalnya diam-diam mereka menginjinkan pesawat-pesawat Israel melintasi wilayah mereka,
03:50dan mereka juga mengganggu secara sinyal drone-drone Iran dan pesawat-pesawat Iran yang dikirim dari Teheran dan sekitarnya.
03:59Negara-negara yang mendua itu saya perhatikan adalah Mesir, Uni Arab Emirat, Saudi Arabia, Qatar, dan juga Turki.
04:06Kemudian Syria juga begitu.
04:08Jadi intinya adalah saat ini yang terjadi adalah masing-masing pihak mencoba meyakinkan bahwa mitra-mitranya itu akan melakukan sesuatu,
04:16ataupun tidak melakukan sesuatu dalam hal terjadinya krisis yang berkrisis nambungan.
04:21Misalnya intelijen Arab Saudi berhasil meyakinkan Mesir untuk tidak terlibat,
04:26karena ada ancaman dari Israel di mana Israel berkemampuan meledakkan termonuklir secara terbatas di sekitar bendungan Aswan.
04:38Dan Mesir sangat tahu resikonya akan terjadi banjir besar dan juga kematian lebih dari 1 juta jiwa.
04:44Pak Reza, ultimatum ini kan juga tapi disampaikan Iran ke beberapa negara.
04:48Misalnya tadi ada Inggris, kemudian Perancis, dan juga Amerika Serikat.
04:52Nah melihat eskalasinya, apa dampaknya yang akan terasa di Timur Tengah dulu, kemudian juga apa dampaknya akan dirasakan oleh global?
05:01Pertama di dampak di Timur Tengah adalah adanya suatu potensi ya,
05:04di mana Iran kalau tidak mendapat jawaban yang jelas dari negara-negara teluk,
05:13maka Iran berpotensi menghajar atau menyerang pangkalan-pangkalan militer yang ada di sana,
05:19terutama pangkalan-pangkalan militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
05:22Dan untuk itu mereka sudah siap dengan peluru kendali yang khusus.
05:26Misalnya untuk menyerang pangkalan Al-Udeh Air Base, itu yang hanya berjarak 275 km dari Iran,
05:34maka tampaknya sudah disiapkan peluru kendali Khalil Fars dan Zohair.
05:39Dan untuk Bahrain yang berjarak 1200 km dari Iran,
05:44di mana di situ ada pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat, itu sudah disiapkan Shahab Tiga dan Resvan.
05:51Kemudian juga untuk Kuwait, yang di mana ada pangkalan militer Amerika Serikat di sana,
05:56dan jarak dari Kuwait adalah 1400 km dari Teheran, itu sudah disiapkan Resvan dan Gadar Seri H.
06:02Untuk Budi Arab Emirat, yang jaraknya adalah 1700 km dari Iran,
06:07sudah disiapkan Gadar Seri H dan Gadar Seri F.
06:10Oke, kalau untuk global bagaimana Pak Reza?
06:13Untuk global kita sudah melihat bahwa harga-harga minyak sudah naik,
06:17sudah harga naik lebih dari 30 persen.
06:19Kemudian juga Iran punya potensi mempengaruhi kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz
06:29dan di perairan manapun di sekitar Iran.
06:31Kemudian juga Iran berpotensi menekan negara-negara tertentu seperti Yaman
06:38untuk meningkatkan serangan mereka terhadap lalu lintas dari negara-negara yang pro pada Israel.
06:46Jadi ini adalah hal-hal yang sangat mungkin sudah dilakukan oleh kedua negara tersebut.
06:51Dalam berupaya meredam konflik ini, apakah juga ada peran-peran yang bisa dimaksimalkan
06:59dari Amerika, Rusia, maupun Tiongkok juga dalam hal ini?
07:02Pak Reza?
07:04Saya pikir Tiongkok sangat berkepentingan ya.
07:07Karena Tiongkok sangat ingin agar di kawasan Timur Tengah tersebut terjadi program-program infrastruktur
07:13kalau bisa melebihi program yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Arab Saudi
07:18yang senilai 600 miliar dolar.
07:20Dan untuk itu, China sangat mengharapkan terjadinya perdamaian di kawasan itu.
07:26Sedangkan Rusia, Rusia baru membuat suatu kebijakan yang lebih jelas
07:29saat nanti adanya pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Vladimir Putin
07:36sekitar tanggal 18 sampai 20 Juni bulan ini.
07:42Kalau selama ini Indonesia dan Rusia masih menjawab secara normatif,
07:46saya sangat berharap nanti akan ada koalisi moral antara Rusia dan Indonesia plus yang didukung oleh negara-negara Oki,
07:53negara-negara GNB, dan juga negara-negara Arab League ya.
07:59Dan saya sangat berharap.
07:59Dan untuk itu suasana masih cair.
08:01Kalau kita berbicara persiapan untuk perang, kedua pihak sudah siap untuk perang.
08:07Misalnya Iran saat ini sudah melakukan uji coba atas berbagai peluru kendali,
08:12apakah itu yang solid propellant SRBM, ataupun liquid propellant SRBM,
08:18ataupun liquid propellant MRBM, maupun solid propellant MRBM.
08:23Dimana mereka baru-baru saja melantik seorang jenderal baru,
08:29namanya Brigadir Jenderal Syed Majid Moussafi,
08:32yang secara khusus menangani Islamic Revolution Guard di bidang teknologi ruang angkasa.
08:38Jadi Iran menghadapi masalah.
08:40Dimana banyak jenderal-jenderalnya yang berpotensi memimpin Iran masa depan itu sudah wafat.
08:46Dimana dalam 36 jam terakhir, mereka sudah kehilangan.
08:48Dengan kondisi seperti itu, apakah masih terbuka jalan damai ruang diplomasi
08:53dengan mengingat banyak tokoh-tokoh Iran yang tewas dalam itu,
08:57eskalasinya juga masih memanas.
08:58Adakah ruang diplomasi?
09:02Ruang diplomasi itu senantiasa ada ya.
09:05Cuman masalahnya siapa yang akan berbicara,
09:07siapa yang akan didengar oleh Presiden Iran Masud Bezeskian,
09:11dan juga siapa yang akan didengar oleh pemimpin revolusi Iran,
09:15yakni Ayatollah Syed Ali Khamenei.
09:17Saya pikir tidak banyak pemimpin-pemimpin dunia yang didengar itu.
09:20Tapi saya masih berharap hasil dari KTT Istimewa,
09:25Oki dan Liga Arab, dua tahun silam di Arab Saudi,
09:29itu secara khusus mengamanahkan Indonesia untuk mengupayakan segala daya dan upaya
09:34untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah.
09:36Sekarang situasi adalah lebih dasyat dari yang diamanahkan oleh Oki dan Liga Arab tersebut,
09:42tapi bagaimanapun Indonesia hendaknya bekerja keras.
09:44Di bersama Indonesia itu ada ASEAN, ada Oki, ada GNB, ada kerjasama selatan-selatan,
09:50dan juga biasanya kita didukung oleh Liga Arab.
09:52Saya sangat berharap pada detik-detik yang sangat kritis seperti ini,
09:56Indonesia mengupayakan sebisa mungkin berkonsultasi dengan Sekjen PBB.
10:01Oke. Pak Reza, terima kasih sudah berbagi pandangan di Kompas Petang.
10:04Saya selalu ya Pak Reza.
10:06Terima kasih.
Komentar