Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik bertanya kepada Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla apakah ada konsesi tambang yang berhasil mereklamasi atau mereboisasi atau mengembalikan ekosistem semula. Sebab, bumi yang kita tinggali saat juga akan diwariskan kepada anak cucu kelak.

Gus Ulil mengatakan penolakan aktivitas penambangan sama sekali juga berbahaya.

"Yang bilang tidak berbahaya, ada enggak Gus?," tanya Iqbal.

"Oke, kalaupun berbahaya, apakah sama sekali kita tidak boleh menambang? Ini anugerah Allah. Pohon anugerah, tambang anugerah. Mari kita lihat kalkulasi maslahat mafsadatnya," jawab Gus Ulil.

"Itulah Gus yang diminta, kapan pemerintah mau beralih dari sini," lanjut Iqbal.

"Kenapa harus beralih?," tanya Gus Ulil.

"Harus beralih. Karena kalau kita tidak beralih, kita sudah tidak punya bahkan Kementerian Kehutanan sendiri bilang di dalam programnya kuota deforestasi kita itu sudah lebih kecil daripada yang sudah terdeforestasi. [...] Tidak semua hal harus kita ekstraksi. Tidak semua hal atau anugerah ini mencari nikmat kita. Ada anugerah di muka bumi ini yang menjadi nikmat dan harus kita wariskan kepada anak cucu kita," pungkas Iqbal.

Saksikan selengkapnya di sini: https://youtu.be/Mdnt29MOemc

#tambang #nikel #rajaampat #saverajaampat

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/599556/tanggapi-tambang-nikel-raja-ampat-beda-pendapat-pbnu-dan-greenpeace-soal-bahaya-penambangan-rosi
Transkrip
00:00Tunjukkan satu saja ada konsesi yang berhasil mereklamasi, mereboisasi kembali kepada ekosistem awalnya.
00:08Tunjukkan satu saja di mana wilayah pertambangan di Indonesia ini yang mampu mengembalikan ke ekosistem awalnya.
00:16Pertanyaan baliknya adalah kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal?
00:24Karena kita butuh Gus.
00:26Loh maksudnya dibiarkan rusak.
00:28Dan itu wajib Gus.
00:30Bukan begitu. Ini saya ambil analogi lain.
00:34Saya waktu kecil di kampung saya, saya menikmati ekosistem yang baik.
00:38Pohon banyak, sawah banyak.
00:40Sekarang karena pertambahan penduduk, ekosistem itu hilang.
00:45Anak saya tidak lagi bisa menikmati itu.
00:47Gus tidak head to head dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk.
00:50Karena eskapator dengan manusia emisi yang dikeluarkan beda Gus.
00:53Kita satu orang Gus hanya bisa menebang satu pohon misalnya dalam satari.
00:58Tapi eskapator bisa menebang ribuan hektare dalam satari.
01:01Itu enggak head to head Gus.
01:02Ini yang saya sebut dengan wahhabisme itu.
01:05Wahhabisme itu artinya gini Rosi.
01:07Orang wahabi itu begitu kepinginnya menjaga kemurnian teks.
01:14Sehingga teks tidak boleh disentuh sama sekali.
01:17Harus puritan.
01:18Puritanisme teks itu adalah wahabi.
01:20Nah saya mengatakan teman-teman lingkungan ini yang terlalu ekstrim.
01:24Yang mengatakan bahwa...
01:25Saya tidak melihat apa yang dikatakan oleh Iqbal itu ekstrim sih.
01:29Enggak.
01:29Saya mengatakan arahnya...
01:31Sesuatu yang keniscayaan yang harus dilakukan.
01:33Arahnya adalah dia seperti menolak sama sekali mining.
01:37Karena industri ekstraksi selalu pada dirinya adalah dangerous dan itu berbahaya.
01:43Yang bilang tidak berbahaya ada enggak Gus?
01:44Enggak.
01:45Oke.
01:45Kalaupun berbahaya, apakah sama sekali kita tidak boleh menambang?
01:50Ini anugerah Allah.
01:52Pohon anugerah.
01:53Tambang anugerah.
01:55Pohon ada manfaatnya.
01:56Tambang juga ada manfaatnya.
01:57Mari kita lihat kalkulasi maslahat-masadatnya.
02:01Ada jutaan orang yang juga mengambil manfaat dari tambang ini.
02:05Batu bara itu real.
02:07Anak-anak kita itu bisa sekolah.
02:09Oke kalau begitu tadi kembali.
02:10Karena mereka bisa menikmati listrik ini yang ditanagai oleh batu bara.
02:14Itulah Gus yang kita minta.
02:16Kapan pemerintah mau beralih dari sini?
02:18Kenapa harus beralih?
02:20Harus beralih.
02:21Karena kalau kita tidak beralih kita sudah tidak punya.
02:23Bahkan kementerian kehutanan sendiri bilang di dalam program follow-nya.
02:27Kuota deforestasi kita itu sudah lebih kecil daripada yang sudah terdeforestasi.
02:31Enggak maksud saya gini?
02:32Enggak ada ruang Gus.
02:33Maksud saya?
02:33Ini ada namanya hitung-hitungan Gus.
02:35Daya dukung, daya tampung lingkungan.
02:37Dalam satu wilayah dia memungkinkan untuk diekstraksi lagi atau tidak?
02:41Kalau dia sudah tidak mencukupi maka berhenti.
02:43Contoh begini Gus.
02:45Kan tadi sering menyampaikan dengan transportasi pertumbuhan penduduk.
02:48Jakarta sudah lebih pembangunannya.
02:52Sudah banyak sekali.
02:53Sehingga harusnya kita mengatakan yang namanya moratorium pembangunan misalnya.
02:57Apa salah moratorium pembangunan?
02:59Dan jangan salah Gus.
03:00Pemerintahan Jokowi itu pernah menerbitkan perpressoar moratorium izin hutan.
03:06Artinya pemerintah pun menargetkan agar tidak terjadi deforestasi.
03:10Sehingga di moratorium.
03:12Jadi ada batas atas Gus.
03:15Tidak semua hal harus kita ekstraksi.
03:17Tidak semua hal atau anugerah ini menjadi nikmat kita.
03:21Ada juga anugerah di muka bumi ini yang menjadi nikmat dan harus kita wariskan kepada anak cucu-cucu kita.
03:26Kalau kita bicara soal sesungguhnya apa yang kita lakukan.
03:33Pembangunan apakah itu dengan ekstraksi.
03:36Sebenarnya kesejahteraan ini tanah, bumi, air dan seluruh yang ada di dalamnya.
03:42Kata konstitusi sih buat masyarakat Indonesia.
03:44Buat masyarakat Indonesia atau untuk kelompok oligarki semata.
Komentar

Dianjurkan