Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
GARUT, KOMPAS.TV Sebuah ledakan terjadi saat proses pemusnahan amunisi usang di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin (12/05) pagi. Insiden tragis ini menyebabkan 13 orang meninggal dunia.

Dari total korban jiwa, empat di antaranya merupakan anggota TNI, sementara sembilan lainnya adalah warga sipil.

Ledakan terjadi ketika tim melakukan prosedur penghancuran amunisi yang sudah tidak layak pakai.

Lebih lengkap terkait dengan ledakan pemusnahan amunisi di Garut, simak dialog KompasTV bersama Kepala CIDE sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas.

Baca Juga Buntut Ledakan di Garut, Komisi I DPR Pertanyakan SOP Pemusnahan Amunisi Kedaluwarsa di https://www.kompas.tv/regional/592793/buntut-ledakan-di-garut-komisi-i-dpr-pertanyakan-sop-pemusnahan-amunisi-kedaluwarsa

#ledakan #garut #amunisi #tni #sipil

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/592806/full-ledakan-pemusnahan-amunisi-di-garut-pengamat-militer-bongkar-adanya-potensi-kelalaian
Transkrip
00:00Breaking News Kompas TV kembali bersama saya, Sindi Permadi.
00:04Saudara, belasan orang tewas saat pemusnahan amunisi tak layak pakai di Garut, Jawa Barat pada Senin pagi.
00:15Pemusnahan amunisi tak layak pakai terjadi di Desa Sagara, Cibalong, Garut, Jawa Barat.
00:21Dari rekaman video amatir terlihat ledakan terjadi sebanyak dua kali.
00:25Ledakan terjadi pada Senin sekitar pukul 9 pagi.
00:30Sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat ledakan saat pemusnahan amunisi di Garut, Jawa Barat, Saudara.
00:48Pemusnahan amunisi kadaluarsa tersebut terjadi Senin pagi di Desa Sagara, Garut, Jawa Barat.
00:5511 korban tewas, diantaranya Kolonel CPL Antonius Hermawan, Mayor CPL Andar Rohanda.
01:04Sementara 9 orang lainnya diduga berasal dari warga sipil.
01:08Seluruh korban langsung dievakuasi ke RSUD Pamengpek, Garut.
01:12Pemusnahan amunisi kadaluarsa terjadi Senin pagi di Desa Sagara, Garut.
01:34Ketiga belas jenazah korban ledakan pemusnahan amunisi langsung dibawa ke RSUD Pamengpek, Garut, Jawa Barat untuk proses identifikasi.
01:43Sejumlah kantong jenazah yang berisi korban ledakan bom di Desa Sagara, Garut, Jawa Barat dibawa ke RSUD Pamengpek dari 13 korban.
02:09Diduga 4 korban tewas merupakan anggota TNI, sementara lainnya merupakan warga sipil.
02:16Dari pernyataan Kadis Penat, Brikjen Wahyu Yudayana, kejadian ini terjadi pada pukul 9.30 pada Senin 13 Mei,
02:40ketika dilakukan pemusnahan amunisi akhir tidak layak pakai inventaris TNI-AD di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
02:52Kalau pernyataan dari Kadis Penat, secara prosedur sudah dilakukan pengecekan personil dan lokasi peledakan sebelum dilakukan.
03:01Insiden ledakan yang menewaskan 13 orang setidaknya terjadi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
03:14Peristiwa terjadi saat pemusnahan amunisi tidak layak pakai pada Senin 12 Mei 2025, pukul 9.30 pagi.
03:23Sebanyak 13 orang tewas, 4 diantaranya merupakan prajurit TNI, dan 9 lainnya merupakan warga sipil.
03:38Kembali ke pernyataan dari Kadis Penat dalam press conference-nya tadi,
03:43tim penyusun amunisi pemusnahan menyiapkan dua lubang sumur untuk pemusnahan amunisi yang sudah kadal warsa atau tidak layak pakai.
03:51Kemudian ketika sudah dipastikan aman, dilakukan peledakan di dua sumur yang sudah diisi dengan amunisi akhir untuk dihancurkan.
04:01Dua peledakan pertama berjalan sempurna dan aman.
04:05Kemudian di luar dua sumur yang sudah diisi dan diledakan tadi,
04:09disiapkan ada satu lubang lagi untuk menghancurkan detonator yang digunakan dalam penghancuran dua sumur sebelumnya.
04:17Namun ketika penyusunan amunisi mengisi lubang itu dengan detonator,
04:22di lubang itu terjadi ledakan yang kemudian menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
04:30Empat diantaranya merupakan prajurit TNI, dan 9 lainnya merupakan warga sipil.
04:38Seluruh jenazah sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Pamengbek,
04:43yang informasinya tidak begitu jauh dari lokasi, sekitar 6 km ke 13 jenazah ini tengah dilakukan identifikasi.
04:57Sementara untuk korban luka, kami masih konfirmasi termasuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Pamengbek,
05:05yang berada di Garut, Jawa Barat.
05:07Evakuasi langsung dilakukan menggunakan ambulans dari lokasi yang berada di Desa Sagara,
05:17Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menuju RSUD Pamengbek yang jaraknya sekitar 6 km.
05:24Kalau tadi pernyataan dari Direktur Umum, Direktur Utama RSUD Pamengbek menyatakan,
05:34kalau 13 jenazah ini ada yang langsung dibawa ke kamar jenazah, ada pula yang melalui IGD.
05:40Kami masih konfirmasi apakah ada korban lain, korban luka yang dirawat,
05:44ataupun juga masih ada korban lain yang masih memerlukan perawatan intensif
05:51akibat ledakan saat pemusnahan amunisi.
05:57TNI tengah melakukan sterilisasi di lokasi yang merupakan lahan milik BKSDA.
06:04Lahan ini menurut TNI memang kerap menjadi lokasi pemusnahan amunisi tidak layak pakai
06:12atau yang sudah keadaan luarsa.
06:14Investigasi menyeluruh dilakukan untuk mengecek, menelisik apakah SOP sudah dilakukan secara sempurna
06:24atau belum karena 9 orang dari 13 orang yang tewas merupakan warga sipil.
06:35Dan bersama kami sudah terhubung Pak Anton Ali Abbas, pengamat militer.
06:41Pak Anton, selamat petang.
06:44Pak Anton bisa dengar suara studio?
06:47Dengar, jelas. Suara saya jelas ya?
06:51Jelas. Bersama Cindy Pak Anton.
06:53Pak Anton, apa yang bisa Anda cermati ketika proses pemusnahan amunisi
06:57bisa menyebabkan 9 orang sipil tewas?
07:00Ya, pertama saya tentu ikut berduka cerita yang mendalam dan prihatin atas insiden ini.
07:08Tentu saja insiden ini semestinya tidak perlu terjadi.
07:13Itu satu.
07:14Yang kedua memang kalau misalnya dilihat sepintas dari lokasi ya, lokasinya sudah ada jarak aman.
07:20Sebenarnya kalau kita bicara secara umum, bahwa TNI dan Kementerian Pertahanan dalam hal ini
07:25itu sudah mempunyai panduan yang cukup rijit terkait bagaimana pengelolaan amunisi.
07:33Dan itu sampai ke level tingkatan tiap matra, baik angkatan darat, laut udara.
07:38Mereka sudah punya aturan main.
07:41Misalnya jenisnya bahan apa, lalu berapa jumlahnya, maka berapa radius yang harus diamankan,
07:47sebenarnya sudah ada.
07:48Tentu saja ketika ada insiden ini, ini yang kemudian menjadi tanda tanya saya.
07:56Kenapa? Kok bisa? Ada jatuhnya korban jiwa.
08:02Jadi itu yang kemudian kalau tadi saya mencoba mencermati bagaimana pandangan dari TNI
08:12dalam hal ini Kapus PEN TNI sudah mencoba menjelaskan mereka akan melakukan tim investigasi dan lain-lain.
08:17Saya pikir itu memang perlu untuk dilakukan.
08:19Itu satu.
08:19Yang kedua memang ada baiknya kemudian SOP-nya itu harus ditinjau ulang.
08:25Karena bagaimanapun juga ketika ada perwira aktif juga ikut jatuh jadi korban gitu misalnya,
08:30artinya tentu saja ini mensiratkan.
08:34Ada problem yang memang harus diantisipasi ke depan sehingga kemudian kejadiannya tidak berulang lagi gitu.
08:43Jadi karena SOP-nya sudah rigid, tapi ketika kita bicara dengan implementasi misalnya itu tentu saja
08:48jangan-jangan ada dinamika di lapangan.
08:52Ya tadi ada warga, ada korban misalnya itu saya pikir korbannya sudah paham sekali
08:58bagaimana pengelolaan disposal sebuah amunisi gitu.
09:01Tapi jadi ada kejadian ini itu yang membuat saya prihatin kemudian ada apa gitu ya.
09:05Jadi memang tim investigasi yang dilakukan oleh TNI itu menjadi penting.
09:09Jadi tidak hanya sekitar kejadian tapi juga ikut melakukan evaluasi terkait SOP.
09:13gitu ya SOP-nya seperti apa.
09:16Karena bagi saya semestinya jatuhnya korban jiwa ini semestinya bisa dihindari gitu.
09:24Jadi terkait ya namanya warga sipil terkadang ya terkadang memang merasa ingin buru-buru ya.
09:31Tadi ini ada nilai ekonomis dan lain-lain.
09:34Tapi kan ada sensitivitas ya sensitivitas ketika kita bicara bahan peledak yang ini amunisi ada kaliber besar dan kaliber kecil
09:44misalnya ini campuran ketika itu diledakkan itu kan biasanya itu ditanam lalu diledakkan gitu.
09:50Jadi kan itu sebenarnya ada sensitivitas apakah semuanya sudah meledak atau belum gitu dan lain-lain.
09:54Ada butuh berapa waktu lama dan siapa yang melakukan clearance dan lain-lain.
09:58Nah ini kan memang semestinya harus cermati.
10:01Jadi itu yang saya pikir penting nanti kedepannya tim investigasi tidak hanya sekedar mencari tahu bagaimana jadi di lapangan
10:11tapi juga SOP, juklak, juknis terkait pemusnahan amunisi dan juga bahan peledak yang sudah kadaluarsa maupun rusak
10:21ini penting untuk kemudian ditinjau ulang.
10:24Nah Pak Anton tapi kalau panduannya ini kan artinya ketika proses pemusnahan itu masih berlangsung
10:29ada warga sipil yang sudah ada di dalam.
10:31Seharusnya seperti apa?
10:32Sesteril apa seharusnya pemusnahan amunisi itu berlangsung?
10:36Nah itu yang kemudian saya juga menjadi tanya-tanya.
10:38Kok bisa warga sipil ini bisa masuk ke dalam gitu ya.
10:42Jadi artinya apa?
10:44Artinya kondisinya nggak terlalu steril amat atau kayak apa?
10:47Atau memang ada warga yang mencoba misalnya masuk jalan tikus karena ini
10:51karena mereka berebut ya, berebut untuk mengambil puing-puing itu.
10:55Ini yang memang bagi saya menjadi concern ketika kita melakukan pemusnahan, pemusnahan amunisi gitu.
11:03Jadi kalau misalnya dilihat dari gambar ya, lihat itu sebenarnya ada jarak gitu.
11:07Jadi TNI itu sebenarnya sudah ada panduan, ada jarak aman.
11:09Berapa kilogram, jenisnya kayak apa, itu jarak amannya bagaimana dan lain-lain itu
11:14TNI sudah punya panduan yang cukup rigid gitu ya.
11:17Tapi tadi ada sensitivitas.
11:19Ketika sudah meledak, kemudian ada yang masuk, sebenarnya siapa melakukan clearance dan lain-lain gitu ya.
11:24Ini yang apakah misalnya korban TNI itu karena mengejar warga yang ingin masuk ke dalam gitu dan lain-lain.
11:32Nah ini kan kita juga masih belum tahu karena informasinya sejauh ini masih simpang siur.
11:37Tapi bagi saya, concern saya adalah ya tadi, pengamanan perimeter kemudian mau nggak mau ke depan akan harus dievaluasi.
11:45Bagaimana gitu ya, bagaimana pengamanan perimeter itu dilakukan.
11:49Dan termasuk juga kemudian penentuan lokasinya.
11:52Artinya bahwa memang lokasinya ini memang harus steril.
11:55Tidak hanya sekedar kita pertimbangan adalah ini adalah jarak aman, jauh dan lain-lain gitu ya.
11:59Jadi bagaimana kemudian lokasi ini memang steril dari masyarakat gitu.
12:05Sehingga mereka memang tidak mudah untuk masuk dan lain-lain gitu.
12:08Tapi kalau untuk di Juknisnya sendiri, untuk menjaga steril lokasi pemusnahan.
12:13Apakah harus sampai dijaga ketat oleh anggota atau bahkan harus sampai dipagari areanya.
12:18Di Juknis itu seperti apa Pak?
12:22Kalau ini kayaknya sudah masuk di level lapangan ya.
12:26Level lapangan tentu saja itu nanti beda-beda setiap ininya ya dalam praktiknya.
12:32Tapi memang, semestinya memang ini kalau dari beberapa informasi yang saya dapatkan,
12:38memang ini ditahunlah, ini harus ada jarak aman dan lain-lain.
12:42Dan lokasinya, semestinya kan ini memang sudah dilakukan di lokasi yang tempat aman.
12:47Cuma memang kok bisa ada masyarakat yang masuk?
12:49Nah itu yang menjadi memang tanda-tanya.
12:51Bagaimana masyarakat bisa mengakses ke arah sana gitu.
12:54Apakah mereka lewat jalur tikus?
12:56Atau memang karena mereka sudah memang menonton dan lain-lain.
13:00Nah ini yang bagi saya, ini urusannya tim investigasi nanti yang akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
13:08Jadi memang kalau dari sisi panduan segala rupa, di atas kertas itu sudah aman.
13:14Dan kalau misalnya memang itu dilakukan, bagi saya sih itu sudah cukup mitigasi.
13:18Tapi lagi-lagi ketika kita bicara tentang praktik di lapangan kan tentu dinamikanya berbeda-beda.
13:23Walaupun misalnya dari sisi TNI, mereka sangat berpengalaman dalam melakukan disposal ini.
13:28Tapi lagi-lagi ketika kita menghadapi masyarakat yang memang punya konsen terhadap ada nilai ekonomis dan lain-lain.
13:34Ini kan juga, makanya tadi saya bilang, ada dinamika di lapangan yang memang ternyata butuh juga mendapatkan perhatian lebih.
13:41Jadi bagaimana kemudian baik itu melakukan sosialisasi, lalu juga meminta pengertian dari masyarakat untuk tidak buru-buru masuk dan lain-lain.
13:52Nah ini yang bagi saya, ke depan itu juga untuk penting ya.
13:56Penting aspek ini untuk juga dikembangkan dan diperkuat.
14:01Ini dugaan awal saya seperti itu, Mbak.
14:03Pak Anton, tapi mungkin bisa dibantu jelaskan juga kepada publik.
14:06Sebenarnya serawan apa amunisi yang sudah keadaan luar saya ini?
14:09Iya, kalau ditanya serawan apa, kalau misalnya kita bicara tentang keadaan luar saya.
14:16Keadaan luar saya itu kadang-kadang mereka, jadi DTN itu kan ada kriterianya ya.
14:22Ada kriterianya mulai dari jenisnya sampai di tingkat rusaknya kayak apa.
14:28Jadi kalau sudah di kategori itu, lalu nanti beratnya gitu ya.
14:32Beratnya juga akan menentukan seberapa besar potensi daya rusaknya
14:36dan bagaimana kemudian kita menciptakan yang namanya tadi jarak aman.
14:41Di TNI itu ada panduannya gitu.
14:43Jadi rusak ini, apakah dia masih bisa diperbaiki dan lain-lain.
14:47Kalau misalnya dia tidak diperbaiki, maka seperti apa.
14:50Penyimpanannya kayak apa gitu dan lain-lain.
14:52Itu di TNI sudah ada detailnya gitu ya.
14:54Jadi mereka punya hitung-hitungannya.
14:57Bagaimana misalnya nanti gudang penyimpanannya dan lain-lain.
14:59Termasuk juga nanti kemudian ketika kita bicara tentang pemusnahan.
15:04Pemusnahannya apakah model seperti apa.
15:06Apakah model diledakan atau model ditimbun dan lain-lain.
15:11Nah ini yang lagi-lagi tergantung dari jenis berat dan sejumlah spesifikasi lain yang harus dipertimbangkan.
15:20Jadi biasanya kalau misalnya nanti dia untuk diledakan, maka itu nanti akan ada bantuan dari TNT atau dinamit gitu.
15:27Dia ditanam di dalam tanah misalnya paling minim adalah 2 meter, lalu ditimbun gitu.
15:35Diledakan dari jarak jauh gitu ya.
15:37Nah itu makanya ini yang kalau dugaan saya, dugaan awal saya ketika lihat ini, oh ini kan sudah diledakan dari jauh.
15:44Jadi kan kita bisa lihat misalnya di gambar, apakah juridik TNI-nya sudah ada dalam jarak aman gitu.
15:49Jadi dari lokasi ledakan gitu.
15:53Nah ini kan problemnya adalah ketika ledakan kedua gitu.
15:56Jadi ada munisi yang belum meledak gitu.
16:00Yang belum meledak dan ketika munisi itu memang sudah rusak, ada kadar luarsa memang rentan gitu ya.
16:06Ada yang rentan dengan sinar matahari dan macam-macam.
16:08Sinar matahari panas dan lain-lain.
16:10Jadi kita lihat lokasinya panas, pemicunya menjadi rentan.
16:13Karena dia tidak stabil.
16:15Dia tidak stabil sehingga mudah kemudian terjadi ledakan.
16:19Gitu, itu yang sebenarnya dari sisi TNI saya yakin sebenarnya prosedurnya sudah rigid.
16:25Mereka yang melakukan juga sudah berpengalaman.
16:27Tapi lagi-lagi ketika ada dinamika di lapangan, ini ada masyarakat yang ingin masuk dan lain-lain.
16:31Apalagi lokasinya luas gitu ya.
16:36Ada banyak yang spot-spot yang bisa saja misalnya masyarakatnya entah itu bisa nyuruh sebelah dan lain-lain.
16:42Nah ini yang memang dinamikanya menjadi beragam.
16:45Dan ini yang bagi saya penting itu ke depan menjadi perhatian lebih bagi TNI dalam rangka pemusnahan amunisi dan badan peledak.
16:56Artinya bisa dilihat ada celah kemungkinan adanya kelalaian di kasus ini Pak?
17:00Kalau apakah ini ada kelalaian dari SOP atau misalnya karena tadi saya bilang ini adalah dinamika di lapangan gitu.
17:10Ini yang nanti akan dilakukan oleh tim investigasi gitu.
17:14Saya tentu tidak bisa mendaului wah ini ada klien satu atau dengan lain gitu ya.
17:18Jadi karena saya yakin yang salah satu korban misalnya itu sudah berulang kali melakukan ini.
17:24Jadi dia sudah sangat paham sebenarnya dengan prosedur, dengan SOP, dengan apa yang dia lakukan.
17:29Jadi dia sangat kompeten gitu ya.
17:31Tapi tadi ketika beliau gugur, ini yang kemudian bagi saya adalah salah satu kedukaan bagi TNI ketika kehilangan prajurit yang sangat kompeten.
17:44Karena itulah penting untuk kemudian kita investigasi.
17:48Bukan segedar untuk mencari siapa yang salah dan benar, bukan.
17:50Tapi bagaimana kemudian kita bisa mencegah peristiwa seperti ini tidak terulang kembali.
17:56Jadi ada yang memang ke depan harus kita perbaiki dan evaluasi.
18:03Oke, investasi dan evaluasi.
Komentar

Dianjurkan