KOMPAS.TV - Kecanduan gadget atau gawai pada anak semakin mengkhawatirkan karena mengurangi waktu bermain di luar dan interaksi sosial mereka.
Berawal dari keresahan ini, Gerakan 100 Komunitas Bermain hadir sebagai sebuah inisiatif yang bertujuan membawa kembali keceriaan bermain secara langsung dan mengurangi ketergantungan anak pada gadget atau gawai.
Kita bersama Wahyu Aji, Inisiator Gerakan 100 Komunitas Bermain Tanpa Gawai.
Kita juga bersama Psikolog Anak dan Keluarga, Sani Budiantini Hermawan.
Baca Juga Liburan Seru di Akhir Tahun, Bermain "Water Sport" di Pantai Ancol di https://www.kompas.tv/regional/563133/liburan-seru-di-akhir-tahun-bermain-water-sport-di-pantai-ancol
#anak #bermain #gadget
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/589503/full-berbagai-kegiatan-di-gerakan-anak-bermain-tanpa-gadget
Berawal dari keresahan ini, Gerakan 100 Komunitas Bermain hadir sebagai sebuah inisiatif yang bertujuan membawa kembali keceriaan bermain secara langsung dan mengurangi ketergantungan anak pada gadget atau gawai.
Kita bersama Wahyu Aji, Inisiator Gerakan 100 Komunitas Bermain Tanpa Gawai.
Kita juga bersama Psikolog Anak dan Keluarga, Sani Budiantini Hermawan.
Baca Juga Liburan Seru di Akhir Tahun, Bermain "Water Sport" di Pantai Ancol di https://www.kompas.tv/regional/563133/liburan-seru-di-akhir-tahun-bermain-water-sport-di-pantai-ancol
#anak #bermain #gadget
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/589503/full-berbagai-kegiatan-di-gerakan-anak-bermain-tanpa-gadget
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Sapa Indonesia akhir pekan hadir dengan informasi kecanduan gadget atau gawai pada anak semakin mengkhawatirkan
00:07karena mengurangi waktu bermain di luar dan interaksi sosial mereka.
00:11Berawal dari keresahan ini, gerakan 100 komunitas bermain hadir sebagai sebuah inisiatif yang bertujuan membawa kembali keceriaan bermain secara langsung
00:21dan juga mengurangi ketergantungan anak pada gadget atau gawai.
00:24Nah, seperti yang sudah dijanjikan tadi, kita sekarang sudah bersama dengan Wahyu Aji selaku inisiator gerakan 100 komunitas bermain tanpa gawai.
00:34Benar ya di sini ya?
00:34Selamat pagi Mas Yatwin, Mbak Oktar, terima kasih sudah diundang Kompas TV hari ini.
00:40100 komunitas bermain tanpa gawai, sebetulnya kayaknya nggak cuma anak-anak nih Mas Wahyu, tapi juga ada anak-anak 30 tahunan.
00:47Itu kenapa sih Mas Wahyu alahir gerakan ini?
00:49Jadi gini, ini sebenarnya keresahan kita bersama kan sebenarnya. Jadi gerakan ini itu awalnya kita bikin nggak untuk langsung gede, Mbak.
00:58Jadi kita kepengen karena kita GNFI, terus kita kerjasama sama komunitas namanya Kampung Lali Gadget di Sidoarjo, Jawa Timur.
01:05Mereka itu sudah bergerak sudah tahun 2018 dan ternyata banyak anak-anak orang tua yang senang main di situ.
01:11Terus akhirnya kita kepikiran, kalau komunitas seperti ini diduplikasi ke berbagai macam daerah, kayaknya bagus deh.
01:17Terus kita mencari komunitas-komunitas yang kira-kira bergerak di bidang anak yang mau kita dampingin untuk bisa menjadi seperti itu.
01:24Ternyata pas waktu kita buka, itu yang daftar tadinya kita nyari 100 aja, yang daftar 500.
01:30Dan dari semua pulau besar di Indonesia, dari Aceh, Sumatera, Nusa Tenggara, Jawa, Kalimantan, sampai Papua.
01:37Artinya kita melihat bahwa kayaknya keresahan ini adalah keresahan semua orang deh.
01:42Karena bukan hanya di kota-kota besar, tapi di pulau-pulau kecil pun kayaknya orang konsen terhadap ini.
01:49Lihat anak-anak bermain atau mungkin kecanduan gadget atau gawai itu udah jadi kayak semacam keresahan bersama,
01:57tapi kita nggak tahu harus ngapain untuk mengatasinya.
02:01Itulah kenapa kita bikin, yuk kita bikin 100 dulu komunitas bermain tanpa gadget atau gawai.
02:08Dan kayaknya ini kalau misalnya bisa terus-menerus kita lakukan akan lebih banyak lagi sih.
02:14Oke, ini biasanya emang kalau anak-anak mungkin karena terbiasa juga ya masih apa-apa, kayaknya dikasih gadget, lagi makan dikasih gadget gitu.
02:20Mas, tadi ngomong soal 500 pendaftar, lalu sekarang nanti akan dipotong, sudah dipotong jadi 100.
02:27Tapi kalau saya lihat di timeline itu hanya butuh 30 di akhirnya.
02:30Iya, 30.
02:30Itu kenapa mas?
02:32Gini, sebenarnya itu kan kita bentuknya bootcamp, Mas Edwin.
02:37Jadi kita kepengen benar-benar kayak mendampingi komunitas-komunitas ini,
02:40karena mereka ada di kota besar, kota kecil, pulau-pulau kecil gitu ya.
02:45Kita akan mendampingi mereka dengan kurikulum selama 2-3 bulan.
02:49Jadi apa yang kami tahu tentang kurikulum bermain, cara bermain, bagaimana membuat kampanye yang baik sehingga banyak orang tertarik,
02:57itu nanti kita akan ajarin selama 2 bulan ini.
03:00Nah, kalau misalkan 100 atau 500 langsung misalkan kita ajarin, kayaknya kita nggak intens.
03:05Itulah kenapa kita bikin per gelombang, per batch.
03:0930, nanti mungkin nyambung lagi 30, nyambung lagi 30.
03:12Oke.
03:13Tapi dengan antusiasme ini, sepertinya kita akan coba berubah strategi.
03:17Jadi kayaknya gimana agar lebih banyak, dan sehingga bisa lebih banyak teman-teman yang bisa bergabung.
03:25Cuman tanpa mengurangi intensitas untuk kita bisa saling belajarnya.
03:29Kita khawatirnya kalau misalnya kuantitasnya aja yang banyak, nanti justru nggak intensif untuk kita saling belajar.
03:34Oke, Mas Saji tadi seperti yang Okta bilang ya,
03:36tadi keresahan tuh muncul karena kita lihat HP tadi.
03:39Iya, maksudnya terbiasa gitu kan.
03:41Apa-apa lagi nonton, buka HP.
03:43Buka HP ya.
03:43Jadi kayak iPad kit semua ya.
03:45Benar-benar.
03:46Dan itu terjadi biasanya gini, karena biasanya kan tahun jawab orang dewasa sebenarnya itu.
03:52Agar anak nggak seperti itu.
03:54Tapi kadang-kadang seringkali kita bingung,
03:56antara nggak ada waktu, nggak ada ruang,
03:58nggak punya ide untuk main apa sama anaknya, sama ponakannya, sama adiknya,
04:03atau nggak ada alternatif lain serain gawai.
04:06Nah, itu tadi ya, Mas Saji.
04:07Berarti memang harus diisi aktivitas sebetulnya lebih kreatif ya.
04:10Kalau dilihat nih aktivitasnya banyak.
04:12Dan mostly ada main-main kayak lagi main gangsin gitu kan.
04:14Nah, ini tuh emang kegiatannya di bootcampnya itu isinya bermain aja kah, Mas?
04:19Atau ada kegiatan apa lagi sih sebenarnya?
04:20Iya, kalau bootcamp sendiri itu nanti kan peserta orang dewasa ya, pelaku komunitas tadi itu.
04:25Jadi kita ngajarin kurikulum atau ngasih ide-ide alternatif silabus,
04:29ini loh permainan-permainan yang mungkin dilakukan di komunitas Anda gitu ya.
04:33Terus, dan permainan itu banyak banget.
04:36Bukan hanya permainan apa namanya yang pakai alat,
04:39bahkan pakai daun, pakai pohon pisang, pakai tanah liat.
04:43Bukankah dulu, kalau saya sih angkatannya, dulu kita apapun itu jadi bahan permainan.
04:49Jadi imajinatif juga ya, Mas?
04:50Imajinatif, dan sekarang semuanya nggak ada itu.
04:53Walaupun mungkin kita pet gitu ya, peternak atau peliharaan, tapi di handphone.
04:58Itu kan nggak bisa menggantikan langsung kita sentuhan ya kan.
05:01Dan menurut kami itu adalah merebut hak anak untuk bermain.
05:05Mas, ini jadi menarik karena begitu banyaknya masyarakat yang ingin ikut terlibat,
05:11anime masyarakat tinggi.
05:13Tapi biasa komunitas ini mayoritas apa sih Mas?
05:15Komunitas anak atau beragam sekali?
05:17Menarik, beragam banget.
05:18Ternyata yang konsen terhadap masalah ini itu beragam.
05:20Ada komunitas ibu-ibu, komunitas TBM ya, Taman Bacaan Masyarakat.
05:26Ada komunitas Karang Taruna.
05:28Bahkan mereka ada juga yang relawan TIK gitu.
05:31Macem-macem.
05:32Beragam ya?
05:32Beragam.
05:33Jadi kita memang nggak khusus untuk komunitas yang memang bergerak di bidang anak gitu ya.
05:38Ternyata semua itu mereka punya program-program yang menyasar anak-anak.
05:43Nah itulah sebenarnya yang kita ini.
05:44Jadi memang sasarannya adalah ketika mereka bergabung di sini nantinya bisa ada apa ya Mas?
05:49Semacam ilmu atau juga pengalaman yang bisa dibagikan lagi.
05:52Betul, betul.
05:53Oke. Ini tuh berarti udah running atau gimana Mas?
05:56Kita sedang running.
05:57Ini sedang seleksi karena mau nggak mau kita harus seleksi tadi itu.
06:01Rencana awal Mei kita running programnya ya.
06:05Tapi walaupun kita seleksi 100 atau nanti jadi 30 yang udah daftar 500 tadi,
06:11tetap kita akan maintain sebagai komunitas.
06:13Jadi kita saling berbagi, kita bentuk selama grup WhatsApp.
06:16Bahkan terpikir karena anumunnya besar, mudah-mudahan nanti kita akan bekerjasama dengan beberapa pihak
06:22untuk melakukan pertemuan komunitas-komunitas ini sih sebenarnya.
06:25Jadi partner lah, mitra gitu ya.
06:27Bener, karena sayang banget.
06:28Ini semangatnya lagi tinggi-tingginya.
06:30Mudah-mudahan nanti siapa tahu bikin program sama Kompas, kita bikin apa namanya.
06:34Kalau ada, kata ada sama-sama teman-teman kamu di gadget,
06:36ada program bagus namanya Elimpiade.
06:39Apa itu?
06:41Elimpiade.
06:41Bukan Olimpiade, tapi Elimpiade gitu ya.
06:44Itu sudah berjalan kemarin dalam skala terbatas di Sidoarjo.
06:48Barangkali nanti kita akan coba, mudah-mudahan bisa kembangkan lagi.
06:52Karena kalau Olimpiade itu kan hanya anak-anak pinter nih.
06:55Tapi kalau Elimpiade, sebenarnya semua orang itu bisa ikutan.
06:58Semua anak bisa ikutan karena semua anak pada prinsipnya pengen main.
07:02Bahkan bukan hanya anak sih sebenarnya, Mbak.
07:04Karena sebenarnya ada buku bagus namanya Homoludens.
07:09Manusia itu adalah makhluk yang bermain.
07:12Enggak terbatas berapapun usianya sebenarnya.
07:16Kita kalau misalnya sambil nunggu, mungkin sambil nunggu siaran, mainin pulpen, itu kan main kan.
07:22Nah itu kayaknya kalau kita ikut Elimpiade deh.
07:24Menang bisa ya, bisa punya potensi.
07:28Mas Haji ini yang jadi juga pengen tahu nih, kan keresahan masing-masing nih.
07:32Keresahan kita semua kan.
07:34Mas, itu pendekatan seperti apa nanti ke anak-anaknya?
07:38Teaser aja singkat.
07:39Jadi seperti yang ditayangan ya, pendekatan.
07:42Sebenarnya anak-anak itu mereka main gadget, mereka gak main tradisional atau main apapun.
07:47Bukan karena mereka senang gadget, tapi mereka gak terpapar tentang alternatif-alternatif mainan itu.
07:53Tadi karena orang tuanya, orang dewasanya gak ada ide atau gak ada waktu, gak ada ruang atau malas aja ya gitu.
07:59Jadi disitu nanti tuh bermain dengan gadgetnya ditaruh, bukan dipaksa sebenarnya ditaruh.
08:04Karena mereka ketika melihat permainan dan berbagai macam, apa namanya, barang-barang yang mereka suka,
08:09otomatis mereka akan meletakkan gadgetnya itu kan sebenarnya.
08:12Tanpa harus disuruh.
08:13Nah disitulah mereka bermain dan orang dewasanya juga ada disitu untuk menemani mereka.
08:18Oke, nah semakin seru ya.
08:19Tapi nanti kita jeda dulu Mas Wahyu, nanti juga kita akan bahas soal apa sih sebetulnya,
08:24apakah kecanduan gadget ini menjadi masa psikologis kah gitu kan, dan bagaimana cara mencegahnya.
08:28Nah, saya jeda saudara-saudara di Sapa Indonesia, Air Pekan.
08:31Oke, kembali lagi di Sapa Indonesia, Air Pekan.
08:33Saudara, kalau tadi kita membahas soal bagaimana gerakan 100 komunitas bermain tanpa gawai,
08:38nah di segmen ini spesial juga nih, karena kita akan kehadiran psikolog anak dan keluarga,
08:41Ibu Sani Budiantini Herman.
08:43Selamat pagi, Ibu Sani.
08:44Ibu Sani, selamat pagi.
08:51Selamat pagi, Ibu.
08:52Selamat pagi semuanya.
08:54Selamat pagi.
08:55Ibu, ini menarik nih, kalau tadi kita bicara soal gerakan komunitas gitu ya, tanpa gawai.
09:01Nah, sebetulnya tuh kalau misalnya kita melihat sekarang fenomenanya,
09:04apakah memang kecanduan gawai gitu ya gadget tuh jadi,
09:08apa sih Ibu sebetulnya penyebabnya, apakah ini menjadi gangguan psikologis kah, atau seperti apa?
09:12Iya, iya.
09:14Tapi saya benar-benar senang suka cita menyambut komunitas ini gitu ya,
09:18karena selama saya 25 tahun praktek nih, ternyata kecanduan gadget itu berdampak negatif terhadap psikologis seorang anak ya.
09:29Salah satunya adalah anak itu jadi mudah frustrasi,
09:33anak itu jadi cepat anxiety, kena panic attack, dan sekarang ini muncul banyak akhirnya ke arah depresi.
09:41Jadi ini luar biasa dampak anak yang bermain gawai, dan sudah kecenderungan, sudah kecanduan begitu.
09:50Kenapa? Karena kita tahu dengan bermain gadget itu, anak sebenarnya terblok dengan dunia luar.
09:56Ya kan? Anak tuh jadi tidak ada interaksi secara langsung, hanya bermain dengan gawainya,
10:01dan kalaupun interaksi itu seputar gawain.
10:04Jadi anak bermain, kalau bermain yang tim itu pun berinteraksinya secara terbatas,
10:10karena hanya seputar yang dimainkan.
10:12Sehingga anak tidak bisa akhirnya mengerti, memahami aspek yang ada di luar sana.
10:19Anak tidak tahu siang dan malam, anak tidak tahu hujan atau tidak.
10:22Karena kan kalau kita di dalam ruangan, otomatis kita tidak bisa connect dengan lingkungan.
10:27Bahkan mungkin ibunya teriak, ibunya manggil, ibunya sakit.
10:31Itu juga anak tidak bisa berempati di situ, karena anak tidak terbiasa berinteraksi langsung.
10:39Nah, sedangkan yang saat ini kita khawatirkan, ketika anak sudah kecanduan,
10:45dan anak jadi lupa akan kewajiban yang sehari-hari mesti dilakukan,
10:50dan hanya berinteraksi dengan gadget, sehingga yang dia kejar juga hal-hal yang sifatnya tidak realistis,
10:59atau sebenarnya tidak wajib di dunia nyatanya.
11:04Nah, karena mereka hanya bermain di dunia maya, dan mengejar hal-hal yang sifatnya maya tadi.
11:09Kalaupun menangnya maya, kalaupun dia mengejar ranking juga itu maya.
11:16Dan ini berbanding kebalik dengan kegiatan mereka di sekolah.
11:19Karena dengan bermain gawai, biasanya anak jadi susah berkonsentrasi.
11:23Kenapa?
11:24Karena ketika bermain gawai, multistimulasi itu masuk.
11:28Ada cahaya, ada movement, ada suara.
11:31Sehingga anak sebenarnya kegiatan oktak itu minim.
11:35Tidak ada gerakan motorik, tidak ada interaksi langsung.
11:40Sementara kalau di kelas, itu kan mono-stimulasi ya.
11:44Hanya suara guru, tidak ada background yang bergerak-gerak, tidak ada cahaya.
11:49Sehingga anak sebenarnya dituntut harus aktif secara kegiatan otak ketika berada di sekolah.
11:55Nah, ketika dia sudah kecanduan bermain gadget,
11:57maka otak terbiasa tidak aktif, cenderung pasif.
12:01Karena given stimulasi.
12:03Sementara kalau di sekolah harus aktif.
12:04Di situ yang membuat anak menjadi tidak fokus,
12:07tidak menangkap pelajaran yang diajarkan,
12:09dan bahkan cenderung ngantuk dan bosan.
12:12Itu yang menjadi masalah kita sekarang ini,
12:14dan sangat nyata dampak negatifnya pada anak.
12:16Nah, itu istilahnya kayak brain rot gitu ya.
12:19Jadi kita kayak nggak terstimulus gitu dengan aktivitas-aktivitas.
12:22Artinya gini ya,
12:23kalau tadi Bu Sani mengatakan ada interaksi gitu,
12:26yang menjadi keharusan gitu,
12:29supaya anak tuh bisa aktif,
12:31terus juga bisa beraktifitas dengan baik gitu ke depannya.
12:36Nah, berarti Mas Wahyu,
12:37sebetulnya sasarannya tidak hanya anak-anak atau menkomunitasnya,
12:41tapi dari mereka ini juga bisa diharapkan,
12:43anak orang tua-orang tuanya juga bisa...
12:45Ikut terlibat.
12:46Ikut terlibat juga ya?
12:47Betul.
12:48Mungkin nanti bisa dikonfirmasi Bu Sani,
12:50kalau menurut kami,
12:51sebenarnya ketika anak kecaduan gadget,
12:53itu adalah kesalahan orang dewasa sih sebenarnya.
12:56Jadi anak,
12:57kalau misalnya diajak main,
12:59mereka pasti akan main kok.
13:00Kalau misalnya mereka diajak baca,
13:01mereka baca.
13:02Tapi ketika mulai dini,
13:04mereka nggak dibiasakan untuk itu.
13:05Karena tadi orang tuanya nggak sempat,
13:07nggak punya ide,
13:08nggak punya waktu,
13:09nggak punya ruang,
13:10atau mungkin nggak punya alternatif lain selain gadget,
13:13akhirnya anak main seperti itu kan.
13:15Jadi kalau kami itu seringkali bilang kayak gini,
13:18kenapa anak kecanduan gawai?
13:20Karena orang dewasa nggak bisa seasik gawai.
13:25Kita menjadi orang yang...
13:26Aduh, kita asik nggak ya?
13:27Kita bukan menjadi orang yang asik untuk anak-anak kita,
13:30adik-adik kita gitu ya.
13:32Mungkin dengan berbagai macam alasan lah ya,
13:36kita sibuk, kita bekerja,
13:37semua pekerjaan kita di handphone,
13:38dan akhirnya ketika kita lihat handphone,
13:41walaupun menurut bekerjaan,
13:41anak kan tuh ayah main handphone aja.
13:44Contoh jadinya ya?
13:45Akhirnya nyontoh.
13:47Jadi mungkin mohon maaf ke orang dewasa,
13:49ke teman-teman kita semuanya,
13:51menurut kami,
13:52anak-anak kecanduan gadget itu sebabnya adalah
13:55karena orang dewasa yang menyebabkan seperti itu.
13:58Oke, lalu mungkin ini sedikit mas,
14:00pengen tahu,
14:01apakah dari gerakan 100 komunitas bermain tanpa gadget ini
14:05juga ikut melibatkan orang-orang dewasa
14:07yang di sekitar anak-anak itu sendiri?
14:08Pasti, karena pekiat komunitas ini adalah orang-orang dewasa.
14:11Mereka ada ibu-ibu,
14:12mereka ada relawan,
14:14pelajar,
14:15pramuka,
14:16begitu ya,
14:16karena mereka beragam latar belakangnya.
14:19Jadi mereka yang merasa,
14:22apa namanya,
14:23suka main dengan anak,
14:25suka main dengan anak itu gak harus orang yang lucu,
14:27orang yang periang,
14:28tapi kan semua orang tadi,
14:29homo ludens kan,
14:30senang main gitu.
14:31Jadi bagaimana mereka mengajak anak-anak bermain.
14:33Jadi targetnya mereka.
14:35Oke, nah itu tadi Ibu Sani,
14:36bener gak kalau misalnya anak-anak nih,
14:38kecanduan gadget,
14:39kecanduan gawai,
14:40gara-gara pengaruh orang dewasanya juga,
14:42artinya apa yang bisa jadi catatan,
14:43terutama buat orang tua-orang tua yang punya anak,
14:45usia misalnya,
14:46ya balita,
14:46gitu,
14:47supaya tidak terbiasa nih,
14:48apa-apa gadget,
14:48apa-apa gadget.
14:49Iya, ini menarik ya.
14:52Seringkali saya tuh kalau ada klien datang gitu ya,
14:55di tempat praktek,
14:56saya kan suka nanya tuh,
14:57kamu mainnya apa gitu ya,
14:59di rumah gitu kegiatannya.
15:01Seringkali mereka ya gadget latan,
15:03katanya.
15:03Apalagi,
15:04bingung mau mainnya apa gitu.
15:06Jadi sebenarnya mereka juga kehabisan ide,
15:08jadi ya tadi mungkin ya orang tuanya juga tidak ada ide,
15:12ya anaknya otomatis tidak mendapatkan itu kan,
15:16ide-ide kreatif gitu,
15:17yang ada di lingkungan gitu.
15:18Padahal itu kan penting banget.
15:20Dan saya setuju banget,
15:21anak itu akan,
15:22they will learn what they see.
15:24Kalau orang tuanya juga main gadget,
15:25ya pasti anaknya juga main gadget kan,
15:27itu yang diajarin kan.
15:28Tapi kalau orang tuanya kreatif,
15:30ya pakai apa,
15:31zaman dulu tuh,
15:32juruk,
15:33apa namanya,
15:33juruk Bali dibuat.
15:34Juruk Bali.
15:35Iya, daun macam-macam.
15:37Iya, kendaraan gitu kan.
15:38Jadi anak juga akan terlatih dan mengikutinya gitu.
15:42Dan saya senangnya sebenarnya ketika anak bersentuhan dengan lingkungan,
15:45itu sebenarnya intelektualitasnya itu meningkat ya.
15:50Karena kan banyak sekali yang dia bisa kembangkan dari sisi kreatifitas,
15:55motorik halus, motorik kasar gitu ya.
15:57Kemudian dia juga interaksi langsung dengan orang,
15:59berempati,
16:00ada teriakan,
16:01ada apa namanya,
16:03analisa gitu.
16:04Jadi menurut saya bermain dengan lingkungan yang langsung gitu ya,
16:08membuat anak jauh memiliki kreatifitas dan kemampuan intelektual yang jauh lebih tinggi.
16:13Nah ini orang tua juga harus jangan kurang ide gitu ya,
16:17karena apapun bisa jadi permainan anak yang mengasihkan tergantung orang tuanya.
16:21Dan bisa lihat inspirasi nanti dari komunitas-komunitas ya.
16:24Banyak banget mainan-mainan yang nanti akan diajarkan di gerakan ini.
16:28Okta, sebenarnya ini juga,
16:30kalau dulu kita mungkin kecil pengen banget punya gawai gitu ya,
16:32tablet atau mungkin laptop untuk belajar.
16:35Tapi ini jadi pisau bermata dua,
16:37Busani sebenarnya gimana sih cara mengakali gitu?
16:39Mentekle,
16:40bagaimana pendekatan yang baik untuk ngajarin anak-anak,
16:43mengajak anak-anak untuk mau meninggalkan gadget,
16:45lalu bermain?
16:47Ya, memang gadget itu kan sebenarnya gak bisa dilepaskan dengan kegiatan anak saat ini,
16:51karena biasanya anak juga belajar dari situ.
16:55Kemudian juga, apa namanya,
16:56online learning juga sekarang kan juga pakai gadget gitu ya.
17:00Jadi memang butuh gadget untuk memang sebagi media belajar.
17:03Cuma yang sekarang menyedihkan kan anak gak tahu alternatif selain gadget itu dia ngapain gitu kan.
17:08Dan kalau kecanduan gadget,
17:10anak itu juga akhirnya punya dampak negatif.
17:12Tadi ada obesitas, gak fokus,
17:14gak bisa mengatur waktu.
17:16Karena kan gadget itu,
17:17kalau kita main di ruangan aja,
17:18kita gak tahu udah malam apa belum,
17:19hujan apa enggak,
17:20udah makan apa belum gitu kan.
17:22Jadi sebenarnya,
17:23banyak sekali dampak negatif gadget,
17:25kalau jamnya tidak diatur.
17:28Nah, sekarang makanya harapan saya sebenarnya dengan anak tuh bisa ada alternatif kegiatan,
17:33jadi dia ada pilihan, ya kan.
17:35Oh, sekarang gadgetnya ditaruh dulu nih,
17:37karena dia lagi mau main,
17:39apa,
17:39misalnya,
17:40gadu,
17:41apa,
17:42batu-batu,
17:44ketak-ketak di bumbu gado-gado misalnya.
17:46Atau engkek,
17:47atau bekel misalnya.
17:49Jadi ada alternatif kegiatan,
17:50karena anak zaman sekarang juga gak tahu dia mau ngapain,
17:52bosen gitu.
17:53Bosen gak mau bosen.
17:54Makanya gadget itu adalah pilihan utamanya.
17:55Nah, itu seru banget tuh,
17:57kalau dilihat ada aktivitas main hula hoop nih,
18:00kayaknya.
18:00Hula hoop,
18:00wuih.
18:00Blok tentu kita bisa ya,
18:01Winnia.
18:03Keseimbangan macam-macam.
18:04Mas Oyu,
18:04artinya kalau misalnya digerakan,
18:07yang saat ini dijalani oleh teman-teman komunitas,
18:09ada gak sih rekomendasi permainan,
18:11yang sebetulnya bisa menstimulus anak-anak,
18:13supaya bisa lebih aktif.
18:14Apakah itu permainan yang harus dengan banyak orang gitu,
18:17misalnya kayak main benteng gitu kan,
18:19atau seperti apa Mas Oyu?
18:20Ya,
18:21sebenarnya gini,
18:22permainan itu banyak banget.
18:22Kita punya kayak daftar permainan itu mungkin ratusan bahkan ya.
18:26Dan kita sering kali ketika ada orang tua datang,
18:28itu menambah ide,
18:29karena nostalgia mereka waktu itu main itu.
18:31Jadi ditambahkan gitu.
18:33Jadi permainan itu kan macam-macam,
18:34ada yang bisa sendirian,
18:35misalkan apapun lah.
18:37Kita waktu,
18:38kalau waktu kecil kan,
18:39kalau misalnya main mobil-mobilan aja,
18:40bisa jadi berbagai macam cerita yang di luar,
18:43imajinasi yang luas kan,
18:45misalkan main ludo atau apa,
18:46atau mungkin main klereng gitu kan.
18:48Atau yang tadi,
18:49kalau misalnya bisa dan boleh,
18:51kadang-kadang orang tua takut ya,
18:52kalau orang tua anaknya main keluar ya.
18:54Tapi kalau bisa keluar,
18:55main dengan temennya,
18:56bukan mabar handphone ya,
18:58tapi main bola,
18:59main peta kumpet,
19:01main engklek,
19:02atau apapun gitu ya.
19:04Dan biasanya ketika anak itu dibiarkan di luar,
19:06di alam,
19:07mereka pasti menemukan apapun yang dijumpainya,
19:10sebagai alat remain.
19:11Daun jambah mainan,
19:13kulit jeruk jadi mainan,
19:15ranting jadi mainan.
19:16Tapi kalau enggak kita kasih ruang untuk itu,
19:19ya udah mereka hanya di gadget itu aja.
19:22Tapi memang kembali lagi,
19:23masyarakat juga udah berubah kali ya mas ya,
19:25jadi memang apa-apa lebih banyak kita ke gadget gitu,
19:28dibandingkan dengan main di luar.
19:30Iya betul,
19:30nah itu kadang-kadang orang tua juga ragu ya,
19:32apalagi dengan berita banyak,
19:34misalkan ada orang jahat di luar sana.
19:36Jadi anak,
19:38kami juga mungkin nanti bisa dikonfirmasi ya,
19:40anak akhirnya lahir atau dibesarkan dalam ketakutan,
19:45bahwa dunia luar itu bahaya buat kamu,
19:47dan eksploratifnya itu akan kurang.
19:50Padahal ketika dia bisa bermain dengan anak lain-lain,
19:53tanpa dengan gewe ya,
19:55mereka bebas gitu aja,
19:56itu pasti akan banyak pengalaman yang mereka dapatkan sih.
19:58Oke,
19:59Mas Haji dari pengalaman,
20:01mungkin yang diajarkan nanti nih,
20:02kedepannya kan progresnya masih panjang untuk beberapa komunitas.
20:05Ada tips gak sih sebenarnya untuk menangani anak tantrum gini,
20:08dari gerakan komunitas.
20:11Gak mau ntar,
20:11Bu Sani juga nambahin gitu ya,
20:13kalau melengkapi.
20:13Kadang-kadang kalau HP yang direbut,
20:15langsung terlihat.
20:16Tapi,
20:17Mungkin Bu Sani juga ini,
20:18saya baca berita ya,
20:20karena kami ada di Sudoarjo juga,
20:22tahun lalu itu di Rumah Sakit Jiwa Menur,
20:25itu satu semester aja ada 3.000 anak yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa,
20:29dan sebagian besar,
20:30kata diri rumah sakitnya,
20:31itulah karena kecanduan gawai.
20:32Itu aja udah sefakta yang luar biasa kan.
20:35Tantrum kan mungkin levelnya ngeselin,
20:38tapi dia masih aman.
20:40Di deket rumah saya,
20:42di daerah di Bandung,
20:43sekitar 1-2 tahun yang lalu,
20:47itu ada anak SMP bunuh diri,
20:48gara-gara handphonenya diambil sama orang tuanya,
20:51disuruh belajar.
20:53Artinya,
20:54hal-hal ini luar biasa banget.
20:56Kalau tantrum mungkin Bu Sani,
20:57tapi paling tidak,
20:58kalau anak saya aja misalkan ya,
20:59itu biasanya memang awal-awal,
21:02kalau kita udah gak kadang-kadang lepas dengan perangasan dan gadget gitu ya,
21:06mereka tantrum.
21:06Tapi,
21:07saya belajar bahwa,
21:09orang tua gak boleh kalah dengan tantrum itu.
21:11Mungkin dia adalah penyesuaian,
21:12ketika dia terlalu terbuai oleh gadget,
21:15terus diambil,
21:16mungkin dia bosen dan lain-lain,
21:17tapi,
21:17kalau orang tuanya nyerah,
21:18yaudah.
21:19Jadi,
21:19kita biasanya,
21:20orang tua juga harus sabar,
21:21dan nemenin dia bermain.
21:23Ini mutlak banget.
21:24Kami di keluarga,
21:25Mbak,
21:26itu bikin peraturan harian.
21:28orang tua bikin peraturan,
21:30misalkan anak harus baca,
21:31anak harus ngaji,
21:32dan sebagainya.
21:32Dan anak saya,
21:34itu pasal terakhir dia masukin,
21:36kelas 2 SD.
21:37Boleh gak aku masukin pasal 1?
21:39Orang tua mengajak bermain,
21:41atau menemani bermain.
21:42Itu pasal kuncian buat dia,
21:44agar,
21:45ketika kita nyuruh apapun,
21:47yaudah,
21:48kalau mau nyuruh main,
21:49atau lepas gadget,
21:49ajak,
21:50apa,
21:50temenin dong,
21:51main.
21:51Jadi,
21:52kayaknya,
21:53kuncinya kalau menurut saya,
21:54orang dewasa harus nemenin,
21:56anak untuk main.
21:57Dan ini PR bagi kita semua ya,
21:58dengan kesibukan,
21:59dengan macam-macam,
22:00apakah?
22:02Mungkin.
22:04Bu Sani,
22:04ada tambahan tadi untuk itu?
22:07Iya.
22:08Kalau anak tantrum itu kan,
22:09sebenarnya ekspresi emosi yang berlebihan,
22:11karena,
22:12yang diinginkan kan,
22:13tidak tercapai.
22:14Nah,
22:14biasanya,
22:15berkaitan dengan gadget,
22:17gitu.
22:17Karena anak udah suka,
22:18begitu diambil,
22:19atau begitu disuruh kegiatan lain,
22:21jadinya marah,
22:22dan tantrumnya keluar,
22:23gitu.
22:24Jadi memang,
22:24orang tua harus ada pendekatan yang baik nih,
22:27karena anak akan,
22:28sebenarnya perlu diperkenalkan kegiatan lain,
22:30sehingga anak tahu,
22:31walau tidak bermain gadget,
22:33ada kegiatan menarik lainnya,
22:34di luar sana.
22:35Sehingga anak juga,
22:36ketika di,
22:37ajak bermain lain,
22:38mereka happy,
22:40excited,
22:40dan tidak muncul tantrumnya.
22:42Oke,
22:43ini biasanya,
22:43kalau misalnya bermain kan,
22:45cuma,
22:45kalau ketemu teman-teman di sekolah ya,
22:47gitu,
22:47makanya kalau di rumah ini,
22:48harus lebih aktif nih orang tuanya.
22:50Para orang tua,
22:51kita main.
22:52Mas,
22:52ada kegiatan terdekat yang dilakukan oleh gerakan 100 komunitas bermain tanpa gadget ini?
22:59Yang terdekat,
23:00kita akan mulai bootcamp kita,
23:02untuk tadi memperkuat,
23:03atau memperkaya ide teman-teman komunitas,
23:06agar mereka bisa menjadi lebih asik,
23:08bagaimana memanajemen organisasi mereka,
23:10biar lebih luas dampaknya,
23:12itu mulai awal Mei ini sih mbak.
23:13dan lihat antusiasme tadi ya,
23:16yang bergabung di komunitas ini itu dari Sabang sama Merauke,
23:19dan itu menandakan bahwa kecemasan ini adalah kecemasan semua orang,
23:23kita mungkin sedang berpikir untuk bisa memperluas kegiatan ini,
23:27bukan hanya,
23:28apa namanya,
23:28bootcamp,
23:29tapi ada pertemuan-pertemuan misalkan regional dan sebagainya.
23:31Oke,
23:32nah itu akan dilakukan setiap tahun kah Mas?
23:37Belum terpikir,
23:38tapi rasanya ini masalah kita semua,
23:40jadi ini GNFI,
23:41dan Kamu Lali Gadget itu hanya menginisiasi di awal,
23:45startnya aja,
23:45tapi kita pengen nanti finishnya,
23:47itu banyak orang yang terlibat sih sebenarnya.
23:49Jadi ini adalah gerakan bersama,
23:52karena saya rasa ketika ngomong sama siapapun,
23:55itu kayaknya iya nih,
23:56punya masalah yang sama,
23:57jadi ini kayaknya dengan Kompas TV,
23:58dengan yang lain mungkin kita bisa barengan.
24:00Saya sempat lihat di media sosialnya,
24:02memang ingin dibuat menjamur gitu.
24:04Iya.
24:04Oke, mungkin kita nanti bisa ikutan juga ya?
24:06Iya, boleh gak nih Mas Gakirani?
24:08Tadi bikin eling piade.
24:09Eling piade.
24:11Nah, mungkin saya ke Busani deh,
24:12Busani,
24:13ada gak pesan untuk terutama orang tua,
24:15supaya kalaupun memang tidak ikut dalam gerakan ini gitu,
24:19di tahun ini,
24:19tapi mungkin bisa dilakukan di rumah gitu,
24:21apa sih tips-tipsnya terutama untuk orang tua,
24:23supaya anak-anak bisa lebih aktif?
24:26Ya, yang pertama awareness dulu nih,
24:28akan adanya masalah ini di orang tua,
24:29dan orang tua jangan menyerah,
24:32justru harus mencari solusi,
24:34cari cara,
24:34supaya kecanduan gadget pada anak ini,
24:37segera diberantas begitu.
24:39Dan tadi,
24:40di awal,
24:40jangan sampai ketika orang tua memberikan gadget pada anak,
24:43sebenarnya itu awal dari semua masalah,
24:45yang akan timbul ke depannya gitu.
24:46Jadi,
24:47waktu memberikan gadget juga harus ada kesepakatan,
24:50kemudian gadget itu juga milik orang tua yang dipinjamkan,
24:52bukan melulu,
24:53ini privasi anak yang kita tidak bisa,
24:55negosiasi begitu ya,
24:59dan menurut saya,
25:00orang tua juga perlu tahu,
25:01cara bagaimana mengajari anak bermain yang lain,
25:04alternatif yang lain,
25:05karena gadget juga tidak bisa kita hindari 100%,
25:09karena memang itu adalah bagian dari media belajarnya anak,
25:12tapi juga anak juga punya kegiatan lain,
25:14karena orang tuanya kreatif,
25:15orang tuanya juga mau belajar,
25:17dan dalam satu hari palingnya ada kegiatan lain,
25:19yang diintroduce kepada anak gitu,
25:21yang mengasihkan dan orang tua juga ikut bermain,
25:23sehingga kita ada PR nih,
25:25apa sih hari ini yang anak lakuin permainan di luar dari bermain di gadgetnya gitu,
25:30jadi dibuat PR orang tua,
25:32dan ngebayang gak kalau misalnya sehari satu aja,
25:35atau ya seminggu satu aja,
25:36dalam sebulan udah lumayan lah kekumpul,
25:39banyak kegiatan yang anak bisa mainkan,
25:41dan mengasihkan juga selain gadgetnya.
25:43Bu Sani tadi yang seperti yang disampaikan oleh Mas Aji,
25:45juga berarti harus lihat dari berkaca daddy sendiri,
25:48tapi kalau untuk orang dewasa gimana Bu singkat aja,
25:51gimana tips-tips untuk kita yang balita-balita yang tua ini?
25:55Kalau kita orang tua kan memang orang dewasa kan,
25:58jadi memang kita harus aware bahwa anak itu akan ngikutin kita,
26:00kalau kita hanya ikut bermain, ikut asik,
26:02anak juga bisa mengambil rasa senengnya gitu,
26:06jadi kita pun juga harus excited gitu ya,
26:08dan tadi orang tua juga ya,
26:10sebagai orang dewasa ya walaupun belum punya anak,
26:12juga perlu mawas diri,
26:13karena bermain gadget itu membuat banyak masalah psikologi,
26:17seperti ada anxiety, depresi itu dari situ gitu kan,
26:19bahkan media sosial pun yang terlalu berlebih,
26:22membuat kita tuh jadi kena panic attack,
26:23dan ketika kita selesai bermain,
26:26kadang-kadang jadinya drain gitu,
26:28malah jadinya hampa itu juga bisa terjadi di orang dewasa,
26:32makanya segera sekarang orang dewasa pun,
26:34mulai memikirkan hal-hal kegiatan yang sehat gitu ya,
26:37untuk dirinya perkembangan psikologisnya gitu.
26:39Oke, Mas Aji, ada sosial media kah yang bisa diintip nih,
26:43oleh pemirsa Kompas TV?
26:44Oke, nanti ada di Good News from Indonesia,
26:47at KNFI, social medianya,
26:49atau di Kampung Melayu Gadget, gitu.
26:51Nanti kita akan share, apa namanya,
26:53aktivitas kita atau update kegiatan ini,
26:55melalui social media,
26:56dan dapat ide juga,
26:58kita mungkin nanti akan bikin konten-konten
27:00yang membuat atau ngasih ide ke orang dewasa
27:02untuk bermain apa.
27:04Supaya kita jadi orang dewasa yang psik.
27:06Ada idenya, ada idenya ya.
27:08Oke, terima kasih banyak sekali lagi,
27:10para narsumber kitapan hari ini,
27:14yang luar biasa,
27:15disini sudah ada Wahyu Aji,
27:16sekalaku inisiatif gerakan 100 komunitas
27:18bermain tanpa geja.
27:21Terima kasih.
27:22Terima kasih, Mas Oyu,
27:23dan juga Ibu Sani,
27:25Ibu Dianti,
27:26nih, Hermawan,
27:26psikolog anak dan keluarga.
27:27Terima kasih, Ibu Sani.
27:29Ya, saudara,
27:30sampai Indonesia yang bekan,
27:31harus kami akhiri.
27:33Saya Putri Oktaviani.
27:34Dan saya, Tuincan.
27:35Terima kasih atas kebersamaan Anda.
27:37Sampai jumpa.
27:37Selamat beraktifitas.
Komentar