Skip to playerSkip to main content
  • 2 years ago
Pemerintah menetapkan kuota penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 90 atau Pertalite untuk tahun anggaran 2024 sebesar 31,7 juta kiloliter (KL). Kepala BPH Migas Erika Retnowati menerangkan angka itu ditetapkan mengacu pada realisasi penjualan Pertalite sepanjang 2023 yang berada di level 30 juta KL atau 92,24% dari alokasi saat itu sebesar 32,56 juta KL. Erika menuturkan realisasi penjualan Pertalite sepanjang 2023 dapat ditekan dengan program subsidi tepat yang dijalankan PT Pertamina (Persero). Erika mengatakan penjualan untuk tahun ini bakal kembali dioptimalkan lewat pengaturan-pengaturan yang telah lebih dahulu dilakukan Pertamina

Category

📺
TV
Transcript
00:00 [MUSIK]
00:15 Ya halo pemirsa, apa kabar anda hari ini?
00:17 Langsung dari studio IDX Channel Jakarta, saya Prasetyo Ibowo kembali hadir dalam Market Review
00:23 yang akan mengupas isu-isu penggerak ekonomi Indonesia.
00:26 Dan kali ini kita akan membahas dari sektor energi, khususnya dari BBM yang memang ada pendugasan khusus disana
00:32 yaitu Pertalet, dimana kuotanya di tahun 2024 ini akan sedikit dikurangi dibandingkan dengan tahun 2023 lalu.
00:40 Apa saja yang menjadi pemicunya langsung saja kita mulai Market Review selengkapnya.
00:45 [MUSIK]
00:53 Ya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPHMigas menetapkan kuota Pertalet pada tahun 2024
01:00 sebesar 31,7 juta kiloliter atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencapai 32,5 juta kiloliter.
01:10 Salah satu faktor penurunan kuota BBM bersubsidi tersebut diantaranya adalah realisasi di tahun lalu yang 92,24% dari kuota.
01:20 Pengendaliannya juga disebut sudah lebih baik.
01:23 [MUSIK]
01:26 Pemerintah melalui Badan Pengatur Minyak dan Gas Bumi atau BPHMigas memastikan kuota penyelurahan BBM khusus pendugasan
01:34 atau JBKB jenis Pertalet pada 2024 sebesar 31,7 juta kiloliter.
01:41 Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2023 yang mencapai 32,56 juta kiloliter.
01:49 Kepala BPHMigas Erika Retnowati menyatakan turunnya kuota penyelurahan Pertalet pada tahun 2024
01:57 lantaran realisasi konsumsi Pertalet sepanjang 2023 yang tidak mencapai kuota yang ditetapkan
02:04 yang hanya sebesar 92% atau sekitar 30 juta kiloliter.
02:10 Kondisi tersebut karena pengendalian BBM sudah baik yang dibarengi dengan beralihnya
02:15 masyarakat menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi.
02:20 Namun demikian Erika memastikan penyelurahan Pertalet pada tahun ini belum akan dibatasi
02:27 seperti solar bersubsidi pasalnya pihaknya masih menunggu revisi Propres 191 tahun 2014 yang baru
02:35 untuk konsumsi penggunaan solar.
02:38 Sekitar 30 juta KL ya, 30 juta KL itu memang mengalami pertumbuhan dari 2022 ya
02:50 tapi memang pertumbuhannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
02:54 Kalau ditanya kenapa seperti itu, kenapa tidak mencapai target ya berarti pengendaliannya lebih baik.
03:00 Mungkin juga masyarakat mulai memilih transportasi umum kemudian untuk tahun 2024
03:09 kuota yang kami siapkan adalah sekitar 31,7 juta KL ya jadi ini memang sedikit lebih kecil dari 2023.
03:20 Erika menambahkan berbeda dengan Pertalet penggunaan solar subsidi sepanjang 2023
03:27 justru melebihi kuota yang ditetapkan di mana penyelurahan solar bersubsidi mencapai 103%
03:34 sebesar 17,5 juta KL.
03:37 Sedangkan untuk 2024 kuota solar bersubsidi naik 2 juta KL menjadi 19 juta KL.
03:44 Dari Jakarta, Ade Firman Shah, IDX Channel.
03:53 Ya Pemirsa untuk membahas tema kita hari ini Pemerintah Pangkas Kuota Pertalain
03:57 di tahun 2024 kita sudah tersambung melalui Zoom bersama dengan Bapak Yayan Satyakti
04:02 bila adalah pengamat ekonomi energi dari Universitas Pajajaran.
04:06 Selamat pagi Pak Yayan.
04:08 Selamat pagi Mas Prasetyo dan selamat pagi juga para Pemirsa IDX Channel sekalian.
04:15 Baik Pak Yayan terima kasih juga atas waktu yang disempatkan tadi di awal sudah disampaikan informasi
04:19 bahwa memang kuotanya di tahun 2024 ini sedikit dikurangi dibandingkan dengan tahun 2023.
04:25 Yang disebutkan tadi dari sisi pendiskusian kemudian pembatasan yang dilakukan begitu bisa dikatakan sukses.
04:32 Tapi kalau dari kacamata Pak Yayan melihat dengan adanya penggunaan BBM Pertalat khususnya
04:39 yang tidak mencapai target di tahun 2023 itu sebenarnya apa yang bisa dilihat di sisi lain?
04:45 Apakah memang transportasi umum itu akhirnya banyak digunakan oleh masyarakat saat ini?
04:52 Oke, terima kasih ya. Pertanyaannya, nah mungkin pertama kita lihat dari sisi angka dulu.
05:00 Itu kan ada penurunan, kalau tahun kemarin itu terjadi kenaikan sebesar 9% yaitu dari 29,9 juta kilometer
05:13 kemudian naik menjadi 32,56 juta kilometer tahun 2023.
05:20 Kemudian sekarang turun itu menjadi 31,7 juta kilometer itu kurang lebih kalau kita bandingkan antara 2023 dengan 2024 itu sebesar 3%.
05:32 Jadi kalau misalkan kita berbicara mengenai preferensi apakah masyarakat itu secara signifikan mulai bergeser
05:41 misalkan konsumsinya dari penurunan terhadap Pertalat saya kira dari sisi angka walaupun penurunan tapi kecil ya relatif kecil.
05:56 Nah kalau misalkan kita lihat apalagi kita berbicara sekarang mengenai misalkan climate change,
06:03 perubahan perilaku masyarakat untuk menggunakan energi yang lebih bersih itu jumlah itu masih tidak signifikan.
06:12 Tetapi kalau dari sisi news saya kira itu bagus.
06:15 Kenapa bagus? Karena kita lihat sudah ada mulai pergeseran ataupun preferensi.
06:22 Tapi kalau misalkan kita berbicara preferensi itu harus dicek itu dengan nilai Pertamax ya ataupun BBM yang non-penugasan.
06:35 Apakah misalkan Pertamax itu naik secara signifikan atau misalkan ada penjualan kompetitor dari Pertamina misalkan seperti Shell dan lain-lain
06:45 apakah terjadi peningkatan sehingga kita lihat shiftingnya itu seperti apa.
06:49 Nah kemudian kalau misalkan juga sekarang kita lihat apakah transportasi publik ya,
06:58 saya kira itu bisa juga tetapi kalau kita bandingkan di sini masalahnya tidak ada data secara spasial
07:06 misalkan seperti di wilayah provinsi DKI Jakarta atau misalkan wilayah-wilayah kota besar yang ada di Pulau Jakarta.
07:15 Seberapa besar misalkan pergeseran itu terjadi.
07:19 Nah jika pergeseran itu terjadi dimana misalkan Pertalight itu tidak bergerak malah turun kemudian Pertamax itu turun juga
07:28 nah kemungkinan bahwa sektor transportasi umum di sini bisa dijadikan indikasi bahwa masyarakat menggunakan itu.
07:38 Nah tetapi kan sangat relatif sulit ya datanya dalam jangka waktu misalkan satu tahun ini untuk melihat hal tersebut.
07:47 Jadi kemungkinan itu bisa terjadi pergeseran dan juga bisa kemungkinan adanya mungkin bisa karena daya beli masyarakat yang menurun juga ya
07:59 karena misalkan di beberapa wilayah terjadi layoff, PHK, dan lain-lain itu bisa kemungkinan terjadi.
08:06 Berarti sebenarnya masih ada beberapa faktor yang perlu dikajep gitu ya Pak Yayan ya melihat bagaimana dengan penggunaan kota di tahun 2023.
08:15 Betul, betul. Tetapi saya sangat setuju ya bahwa kota BBM itu khususnya yang penugas saat Pertalight itu turun
08:23 artinya bahwa ada kemungkinan ya untuk menghemat khususnya dari sisi APBN dan kemudian masyarakat itu sudah mengerti terhadap preferensi energi yang baik.
08:39 Jadi di sini ada kualitas konsumsi, ada peningkatan kualitas konsumsi di mana masyarakat itu mulai menggunakan energi yang lebih bersih dan lebih berkualitas.
08:49 Nah lebih berkualitas ini artinya dia akan lebih bersih terhadap lingkungan, berarti peningkatan kualitas lingkungan walaupun mungkin sangat sedikit.
08:58 Baik, tapi adakah mungkin faktor lain dengan mulai maraknya penggunaan EV atau kendaraan listrik begitu Pak Yayan?
09:07 Karena kan kita lihat baik yang kendaraan roda 2 maupun roda 4 di kota-kota besar saat ini kan sudah cukup marak.
09:16 Kalau kita lihat proporsinya ya mungkin masih relatif sedikit ya, tapi kalau misalkan kita lihat sekitar tadi penurunannya sekitar 3% ya
09:27 atau misalkan kita lihat di sini 1 juta kiloliter ya saya kira itu relatif sedikit.
09:32 Itu mungkin kita bisa evaluasi tahun depan dan juga kita lihat pergerakan dari penjualan khususnya mobil-mobil electric vehicle itu seberapa besar.
09:44 Walaupun kita lihat misalkan di sektor otomotif itu sudah naik ya, dan memang kalau dari sisi secara hitung-hitungan ekonomis bahwa khususnya konsumsi mobil listrik itu lebih hemat.
09:58 Bisa berapa puluh persen ya, misalkan bisa sampai 60-70 persen ya bahkan ada ya minimal katakan 40 persen itu bisa menghemat energi dan juga konsumsinya juga bisa lebih murah.
10:15 Tetapi kalau misalkan hanya baru beberapa bulan terakhir ya, katakan satu semester saya kira itu angkanya tidak begitu signifikan.
10:22 Oke, dan kita tahu juga ada kebijakan pembatasan BBM Pertalat yang juga belum diberlakukan.
10:28 Meksikopun ya kita tahu juga rencananya sudah digaungkan sejak tahun 2022 lalu yang karena juga masih menunggu penetapan regulasi ada perpres di sana.
10:36 Lantas bagaimana Anda melihatnya?
10:38 Kalau kita lihat ya mungkin ini salah satu juga selain dari tadi kemungkinan transportasi publik,
10:46 kemudian juga ada nyampan preferensi masyarakat terhadap kualitas penggunaan BBM
10:52 dan juga tadi ya masalah efektivitas subsidi khususnya efektivitas dari alokasi ataupun distribusi dari BBM penugasan.
11:03 Walaupun saya lihat di beberapa daerah ya misalkan seperti di Bandung ya itu orang masih tetap menggunakan misalkan BBM penugasan.
11:14 Apalagi ada yang plat merah, kemudian juga ada yang mobil-mobil katakan 1500 atau misalkan 2000 CC itu masih menggunakan itu.
11:25 Tetapi kalau kita lihat pergeserannya tadi ya masyarakat saat ini sudah mulai adanya perubahan preferensi
11:36 ataupun shifting untuk memperberi konsumsi kualitas energi mereka itu terjadi ya.
11:41 Tetapi secara signifikannya kapan ya kita lihat kalau misalkan kita lihat dengan perubahan seperti ini
11:47 dan pemerintah memberikan layanan yang lebih baik saya kira dalam jangka waktu 5-10 tahun yang akan datang
11:54 itu akan menghasilkan perubahan yang sangat signifikan.
11:58 Kita tahu juga kan pemerintah tengah mengkaji untuk membuat perbedaan harga pertalian sesuai dengan jenis kedaran yang akan digunakan.
12:04 Seberapa efektifnya juga kebijakan itu begitu akan dilakukan.
12:08 Kemudian bagaimana preferensi ini bisa menjadi satu nilai tambah juga untuk bisa ada shifting peralihan kepada BBM mungkin yang lebih berkualitas dan lebih ramah lingkungan.
12:17 Kita bahas nanti di segmen berikutnya kita akan jadalulu sebentar Pak Yahyan.
12:21 Dan Pemirsa kami akan segera kembali usai pariwara berikut ini.
12:34 Anda masih bergabung bersama kami dalam market review Pemirsa berikut ini kami sampaikan sejumlah data untuk Anda
12:39 terkait dengan anggaran belanja subsidi BBM jenis tertentu.
12:43 Ya seperti yang bisa Anda saksikan di layar televisi Anda untuk anggaran belanja subsidi jenis BBM tertentu di tahun 2023 itu tercatat 23,3 triliun rupiah.
12:54 Sementara di tahun 2024 naik sekitar 10% menjadi 25,7 triliun rupiah.
13:01 Itu dia untuk anggaran belanja JBT atau jenis BBM tertentu.
13:05 Selanjutnya dari sisi alokasi subsidi energi.
13:09 RAPBN tahun 2024 itu 185,9 triliun dan di tahun 2024 rencananya ada 189,1 triliun rupiah.
13:22 Berarti ada kedeikan sekitar 1,73% untuk alokasi subsidi energi.
13:30 Beberapa data yang akan kami elaborasikan nanti bersama dengan Bapak Yayan Satyakti.
13:36 Pak Yayan kita akan lanjutkan kembali.
13:38 Bicara mengenai beberapa data tadi yang sudah disampaikan anggaran belanja subsidi untuk JBT jenis BBM tertentu ini justru mengalami kenaikan 10%.
13:47 Apa yang bisa Anda review ini Pak?
13:49 Ini disebabkan karena harga ya, jadi harga minyak dunia kalau kita lihat di sini secara global.
13:59 Misalkan seperti negara-negara di timur tengah bahkan di Arab Saudi mengatakan bahwa break even point untuk crude price itu di 80 USD per barrel.
14:19 Sehingga kemungkinan harganya itu akan naik.
14:23 Jadi di sini bahkan di beberapa misalkan energy outlook misalkan seperti di United States Energy Outlook.
14:32 Kemudian juga di beberapa wilayah misalkan seperti di Eropa juga mengatakan bahwa khususnya harga retail khususnya untuk BBM itu akan naik.
14:41 Nah sehingga berdasarkan hal tersebut pemerintah mengasumsikan di sini di APBN bahwa adanya kenaikan harga khususnya yang akan mempengaruhi terhadap retail BBM.
14:53 Sehingga walaupun jumlah tadi kuotanya turun tetapi APBN nya naik berarti price nya itu naik.
15:03 Nah saya kira di sini ini untuk risk mitigation kemungkinan bahwa APBN yang sekarang yang kita harus kemarin juga kan seperti dikatakan oleh Ibu Menkyu, Ibu Sri Mulyani bahwa kondisi kita dalam keadaan defisit.
15:21 Kita lihat sekarang kita ini defisit finance kemudian juga setidaknya kita harus memanage khususnya untuk belanja-belanja BBM ini agar lebih efisien.
15:32 Dan saya kira ini relatif baik ya dengan menurunkan walaupun dari sisi jumlahnya ini masih relatif kecil itu hanya sekitar 3% khususnya penurunan dari BBM penugasa.
15:46 Oke lantas Pak Ian bagaimana tanggapan anda juga terkait dengan wacana perbedaan harga pertahwai yang disesuaikan dengan jenis kendaraan ya begitu.
15:53 Apakah kebijakan ini akan tepat nantinya begitu efektif begitu dan kira-kira harga yang sesuai itu akan dalam rentang berapa kalau bicara mengenai jenis kendaraannya nanti?
16:04 Nah ini kalau saya sih gak begitu setuju ya.
16:12 Ada pertalait ada rentang kalau misalkan lebih baik kalau misalkan sekarang pertalait ada ya ada.
16:19 Kalau misalkan sisanya misalkan daripada rentang seperti itu yaudah masyarakat untuk membeli Pertamax ya.
16:26 Sehingga apa sehingga disini dari sisi distribusi dan juga dari sisi efisiensi secara operasional itu bisa mudah bagi Pertamina.
16:36 Dan saya kira dengan pelajaran seperti yang sekarang ini justru jadi prospek ya seharusnya mungkin ke depan ya.
16:45 Selain dari efektivitas subsidi tersebut dan kemudian juga untuk terus membatasi pertalait.
16:53 Dan biarkan masyarakat itu untuk mengkonsumsi energi yang mendekati keekonomiannya.
16:58 Dan saya kira mungkin langkah baiknya mungkin untuk meningkatkan tadi ya jadi di shifting misalkan seperti solar-solar di wilayah nelayan dan lain-lain itu yang lebih bermanfaat ya.
17:08 Misalkan subsidi itu hanya untuk selain lain itu kendaraan penumpang khususnya misalkan untuk distribusi pangan, distribusi logistik dan lain-lainnya.
17:18 Daripada kita memberikan konsumsi khususnya untuk sektor transportasi yang selain meningkatkan emisi dan juga itu tidak begitu efisiensi.
17:28 Ya tadi di awal juga anda sempat menyinggung terkait dengan daya beli masyarakat begitu dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini.
17:34 Ada beberapa sektor yang mengalami tekanan begitu ya dari sisi industri ini apakah itu juga menjadi salah satu faktor juga akhirnya tidak mencapainya penggunaan kuota di tahun 2023?
17:46 Ya mungkin kalau detail ya secara detail disini saya hanya memperlihatkan ada beberapa indikasi ya.
17:58 Jadi indikasinya kalau kita lihat ada perlambatan misalkan seperti ekspor dan lain-lain.
18:04 Dan kemudian juga kita lihat angka pertumbuhan ekonomi juga misalkan seperti IAMF itu merubah misalkan Indonesia dari 5 sekian persen ya kita turun itu menjadi 5 persen saja.
18:18 Artinya bahwa ada perlambatan tadi dan ini saya kira ini sesuai juga dengan adjustment dari kinerja keupatan APBN yang lebih sehat dan lebih prudent.
18:30 Sehingga dengan kondisi seperti itu ya memang seperti pengeluaran-pengeluaran khususnya untuk konsumsi BBM itu memang harus turun ya untuk melakukan efisiensi dari sisi APBN.
18:48 Kemudian mencoba bahwa pemerintah itu menyediakan energi ataupun solusi-solusi alternatif khususnya untuk energi alternatif agar secara perlahan-lahan masyarakat diedukasi untuk shifting seperti ini.
19:02 Baik berarti tahun 2024 ini akan lebih smooth begitu kalau kita lihat dengan beragam upaya yang sudah dilakukan di sepanjang tahun 2023 lalu.
19:10 Apakah perlu ada strategi baru? Tahan lagi jawabannya Pak Yayan kita akan cedera kembali sebentar.
19:14 Dan Pemirsa kami masih akan segera kembali sesaat lagi.
19:17 [Musik]
19:25 Baik Pemirsa kita lanjutkan kembali perbincangan menarik ini bersama dengan Bapak Yayan Satiakty, pengamat ekonomi energi Universitas Pajajaran.
19:33 Baik Pak Yayan, ini menarik sebelum kita membahas terkait dengan kebijakan.
19:37 Apa saja yang mungkin perlu disiapkan lagi untuk menyambut tahun 2024 ini terkait dengan realisasi penyeluruhan jenis BBM tertentu, JBT yakni solar bersubsidi yang justru mencapai angka 103%
19:51 jauh di atas dari kuota yang ditetapkan begitu 3% kenaikannya. Anda melihat bagaimana dengan kondisi seperti saat ini?
19:58 Anda tadi juga menyebutkan subsidi sebaiknya memang solar khususnya begitu yang diberikan kepada nelayan-nelayan, masyarakat yang benar-benar membutuhkan untuk kegiatan usaha dan memenuhi kebutuhan hidup mereka justru.
20:10 Memang untuk yang solar ini itu agak relatif. Sebetulnya kalau kita lihat secara teknis untuk menghitung tingkat efektivitasnya ya itu lebih mudah.
20:26 Lebih mudahnya itu jika misalkan pemerintah langsung misalkan membatasi bahwa misalkan kendaraan yang berplat kuning ya itu yang akan memperoleh subsidi misalkan.
20:38 Atau misalkan untuk beberapa kendaraan yang memang itu yang sifatnya untuk memperbaiki sistem rantai pasok misalkan khususnya pada komoditas-komoditas tertentu misalkan seperti bahan makanan, kemudian juga bako dan lain-lain.
21:00 Atau yang paling penting juga itu solar khususnya di wilayah-wilayah pesisir ya khususnya para nelayan yang harus sekian lama kemudian juga mereka tidak memiliki infrastruktur yang baik misalkan seperti POM BBM dan lain-lain.
21:21 Nah itu sebetulnya ya kalau kita lihat itu lebih kalau kita bandingkan antara misalkan yang gasolin atau misalkan dengan fuel ya konsolat tadi mungkin kalau menurut saya sih bahwa subsidi itu yang lebih besar itu harusnya di solar dibandingkan dengan di gasolin.
21:44 Karena kalau kita lihat di gasolin ini itu kan sebagian besar masyarakat middle income ya misalkan orang yang punya mobil, yang punya motor ya itu kan orang yang diatas geris kemiskinan ya walaupun misalkan kita bisa memberikan subsidi misalkan jika misalkan motornya ataupun mobilnya itu merupakan digunakan untuk produktif misalkan.
22:08 Sedangkan kalau misalkan untuk konsumsi itu tidak bisa.
22:11 Nah adanya pergeseran yang lebih efektif ini ya saya kira itu akan memperbaiki juga struktur APBN kita dan juga akan mengurangi khususnya dari multi round effect ketika BBM ataupun subsidi BBM itu dicabut.
22:31 Karena yang selalu menjadi masalah itu bahwa multi round effect ketika misalkan subsidi BBM ini dicabut ya itu pada misalkan seperti komoditas apa padi atau misalkan beras maaf ya khususnya ke harga yang sifatnya ke sembako.
22:50 Nah sedangkan kalau kita lihat yang digasolin itu sekarang itu orang sudah apa yang mengkonsumsinya juga tidak sebanyak dan juga tidak memberikan multi player efek sebesar yang di khususnya BBM solar.
23:06 Nah saya kira dan ini terlihat ya ketika misalkan terjadi pemulihan ekonomi kebutuhan khususnya BBM solar itu lebih meningkat karena apa?
23:16 Karena tadi ketika pemulihan ekonomi kemudian juga tradenya itu berjalan kemudian juga hub hub perdagangan semakin membaik maka konsumsi dan lain-lain juga sama dan ini memang yang harus menjadi perhatian khususnya bagi pemerintah.
23:33 Oke Pak lantas bagaimana proyeksi anda di tahun 2024 ini untuk penyaluran, pendistribusian, BBM, penugasan khusus begitu seperti Vertalite ini apakah juga akan lebih smooth di tahun 2024 ini?
23:45 Ya mudah-mudahnya itu tidak kejadiannya seperti tahun yang lalu ya kita tidak bisa memprediksi dengan baik sehingga sampai terjadi perubahan ya di APBNP sehingga subsidi nya menjadi membesar.
24:04 Nah saya kira dengan pengalaman seperti tahun kemarin dan kemudian juga infrastruktur yang kita bangun pada saat ini semakin baik misalkan seperti Pertamina sudah memiliki infrastruktur ya misalkan di masing-masing pembensin dia punya aplikasi dan lain-lain.
24:20 Nah sehingga kemungkinan efektivitas khususnya untuk penyaluran subsidi BBM itu akan lebih efektif dan akan membaik dan juga mudah-mudahan prevenansi masyarakat itu semakin tinggi untuk tidak menggunakan BBM yang penugasannya khususnya misalkan di gasolin.
24:38 Sehingga masyarakat berlaku ataupun meningkatkan kualitas khususnya konsumsi BBM agar menjadi BBM yang ramah lingkungan dan lebih berkualitas.
24:53 Itu dia beberapa faktor yang bisa mempengaruhi dari penggunaan BBM Pertalat di tahun 2024. Ada prevenansi masyarakat juga yang semakin membaik berarti dalam artian memang ada shifting dari BBM yang mungkin ronnya di sekitar 90 naik lagi menjadi 92 dan seterusnya.
25:09 Berarti memang sudah ada begitu kesadaran di masyarakat untuk menggunakan BBM yang lebih ramah lingkungan dan tadi Pak Ian juga sudah menyebutkan ramah juga buat mesin begitu ya Pak Ian ya.
25:19 Betul, betul. Baik Pak Ian terima kasih banyak atas waktu dan sharing yang sudah anda sampaikan kepada pemirsa pada hari ini. Selamat melanjutkan aktivitas anda kembali. Salam sehat Pak Ian terima kasih.
25:29 Salam sehat.
25:31 [suara anjing]
25:33 [SUARA JINGLE]
25:35 (Sampai jumpa di video selanjutnya)
Comments

Recommended