00:00Terima kasih Anda masih di Kompas Siang.
00:02Saudara upaya pemadaman dan pembasahan lahan
00:05masih dilakukan di sejumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan.
00:11Berdasarkan data pemerintah Provinsi Kota Palangkaraya
00:15dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah,
00:18hingga Senin 19 Oktober 2026 terdapat sekitar 12 lokasi utama
00:23yang menjadi perhatian untuk pemadaman.
00:25Mulai dari Kelurahan Tanjung Pinang, Kelurahan Bukit Tunggal,
00:30hingga Kelurahan Menteng Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
00:35Secara keseluruhan terdapat 6.639 kejadian karhutlah
00:39di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah.
00:42Kondisi ini membuat upaya pemadaman terus dilakukan,
00:46baik oleh petugas gabungan maupun relawan.
00:56Dan berikut ini saudara merupakan pantauan udara kondisi terkini,
01:01Jalan Insinyur Soekarno, Kelurahan Jikanraya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
01:08pada selasa pagi.
01:09Api terlihat sudah padam di beberapa hektare lahan,
01:13namun kabut asap tebal masih menyelimuti kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
01:18Berdasarkan data gabungan pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah,
01:22Kominfo, dan BPBD,
01:24hingga pukul 2.51 waktu Indonesia Barat,
01:27hari ini terdapat 26 titik panas yang tersebar
01:31di kurang lebih 25 lokasi di kota Palangkaraya.
01:42Kabut asap yang menyelimuti kota Palembang kembali menebal.
01:46Selain jarak pandang berkurang,
01:49indeks pencemaran udara di Palembang kembali berada di level berbahaya.
01:58Kabut asap yang tebal membatasi jarak pandang yakni sekitar 700 meter.
02:04Sementara indeks standar pencemaran udara di Palembang
02:08menunjukkan kondisi udara berada di level berbahaya
02:11akibat kabut asap.
02:14Kabut asap yang masih menyelimuti Palembang
02:18akibat terbakarnya lahan-lahan gambut
02:20terutama di Kabupaten Ogan, Komering, Ilir.
02:23Kondisi ini pun dikeluhkan warga,
02:26terutama mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
02:32Keluar orderan pertama jam setengah tujuh,
02:35itulah sudah tebal itu, sampai sekarang.
02:41Terang, mengurangi kemasukan kita,
02:43kenal banyak budak libur, Pak.
02:46Yang ngangkut kami ini budak sekolah ini lah,
02:48kan yang agak ngeramik itu.
02:49Ya, makin nyusai, Pak, kami.
02:52Ya, terutama untuk bernafas.
02:54Ya, ya, ya.
02:55Ya, ya, ya.
02:56Biarpun kita tidak ganti orderan, ya,
02:58bernafas kan paling tidak sesak nafas kita.
03:00Biasa kita plong, enak, tidak pakai masker, kan.
03:05Sekarang ya harus pakai masker, dua lapis pula, nak.
03:09Informasi terkini terkait kabut asap,
03:12kita bergabung dengan jurnalis Kompas TV Sahwa Majid
03:14dan juru kamera Bimo Wicaksana di Palangkaraya
03:17dan jurnalis Kompas TV Purwantoro di Palembang.
03:21Kita ke Kalimantan terlebih dahulu.
03:23Selamat siang, Sahwa.
03:25Bagaimana kondisi terkini kabut asap di Palangkaraya hingga siang ini?
03:33Ya, Renata dan juga saudara,
03:35hingga siang hari ini di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah
03:38masih diselimuti oleh kabut asap yang tebal.
03:42Begitu jika melihat dari indeks konsentrasi partikulat
03:46di Kota Palangkaraya hingga pukul 8 pagi hari ini,
03:49dasarkan data dari BMKG,
03:51ini berada di level sekitar lebih dari 800 mikrogram per meter kubik.
03:57Ini jauh melempaui batas level indeks berbahaya begitu.
04:02Karena memang jika melihat indeks berbahaya itu
04:05ketika sudah berada di atas 250 mikrogram per meter kubik.
04:09Dan jika melihat secara langsung dengan mata pada siang hari ini di Kota Palangkaraya,
04:15lebih tepatnya saat ini saya berada di Jalan Insinyur Soekarno,
04:19kabut asap terlihat lumayan tebal dengan jarak pandang kurang lebih 500 meter.
04:25Dan terlihat memang sedikit menguning begitu jika dibandingkan dengan hari kemarin.
04:32Ini juga tergambarkan dari indeks udara tadi yang dikumpulkan oleh BMKG.
04:39Dan hingga saat ini Renata dan juga saudara,
04:43di Kota Palangkaraya sendiri masih lumayan banyak titik api yang masih terus berupaya untuk dipadamkan.
04:51Berdasarkan data dari Pemprov Kalimantan Tengah
04:55dan juga data dari Badan Penanggulan Bencana Daerah,
04:59hingga hari ini 20 Oktober 2026 terdapat sekitar 26 titik panas
05:08yang tersebar di kurang lebih 25 lokasi di seluruh Kota Palangkaraya.
05:12Dan upaya pemadaman terus dilakukan baik oleh relawan, oleh pemadam kebakaran, dan juga aparat gabungan.
05:21Dan yang menjadi tantangan terbesar dari para relawan, pemadam kebakaran, dan juga aparat gabungan
05:28dalam memadamkan api di lokasi-lokasi titik panas ini adalah
05:32bagaimana kurangnya air begitu Renata dan juga saudara.
05:36Karena memang pada saat ini merupakan kemarau panjang.
05:41Dan di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini,
05:45sulit sekali begitu untuk mendapatkan sumber air yang cukup banyak debit airnya
05:51untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang mencapai ribuan hektare begitu.
05:56Maka dari itu, kemarin kami juga sempat berbincang dengan beberapa relawan
06:02yang memadamkan api.
06:04Itu mereka harus memanfaatkan air dari sumber-sumber warga
06:09dan juga menggunakan air yang cukup terbatas.
06:12Maka dari itu, ada beberapa titik-titik kebakaran hutan dan lahan
06:17yang sedikit membutuhkan waktu yang sedikit panjang untuk dipadamkan.
06:23Karena memang keterbatasan sumber air yang berada di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini.
06:30Dan makadari itu, dari pemadaman juga dilakukan beberapa upaya dengan melakukan inovasi-inovasi
06:37seperti salah satunya dengan membuat busa expired begitu.
06:41Busa expired ini terbentuk dari gabungan dari kimia dan juga tepung tapioca.
06:48Busa expired ini dipercaya dapat memadamkan lebih cepat
06:51dengan debit air yang digunakan lebih sedikit.
06:55Maka dari itu, hingga saat ini kami bisa melihat di Renata dan juga saudara bisa melihat
07:00hingga saat ini Kota Palangkaraya masih diselimuti oleh kabut asap
07:05karena memang hingga saat ini titik-titik api, titik-titik panas maksud saya
07:10di Kota Palangkaraya masih terus bertambah
07:15dan juga jika berkurang besoknya bisa berubah lagi begitu
07:19karena masih belum 100% dapat dipadamkan Renata.
07:23Baik, dari informasi yang kami dapatkan ada 26 titik panas
07:27yang masih menyala di Palangkaraya.
07:31Keterbatasan air ini juga menjadi kendala yang harus dihadapi oleh relawan maupun petugas.
07:36Terima kasih, Sahwa. Kita bergeser ke Palembang, Sumatera Selatan.
07:41Kita tanyakan ke jurnalis Kompas TV Purwantoro.
07:44Purwantoro, bagaimana kondisi kabut asap di Palembang hari ini?
07:49Ya, Renata.
07:52Kondisi kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan pada pagi tadi memang menebal dari hari sebelumnya.
08:03Jika di Senin pada pagi hari itu secara visibility itu atau jarak pandang itu terlihat lebih serah
08:11kemudian lebih jauh.
08:14Namun pada pagi hari ini sekitar pukul 7.30 itu jarak pandang hanya mencapai 700 meter.
08:23Kemudian kualitas udara dari data Kementerian Lingkungan Hidup itu mencatat ada sebesar 411 mikrogram per meter kubik.
08:39Artinya kondisi kualitas udara yang ada di Palembang kembali berada pada posisi berbahaya terutama bagi kesehatan.
08:50Ini hampir merata, kondisinya kabur kemudian menebal.
08:55Namun saat matahari muncul pada bisa menembus, jadi agak sedikit terang.
09:00Namun masih terlihat keputihan dan diperkirakan menjelang siang atau siang menjelang sore nanti itu kembali akan menebal, Renata.
09:12Baik Purwantoro, kami catat perkembangan di sana termasuk juga tadi Anda sampaikan bahwa kabut asap dan pakar hutlah ini bahkan
09:23mempengaruhi jarak pandang hingga 700 meter.
09:25Terima kasih banyak informasi lengkapnya.
09:28Purwantoro dari Palembang dan sebelumnya ada Zahwa Majid dan Bimowicaksana dari Palangkaraya.
09:33Terima kasih.
09:33Terima kasih.
09:33Terima kasih.