00:00Bang Ray, kalau Anda melihatnya bagaimana, kan ini awalnya adalah isu dari ijasa.
00:06Apa yang Anda lihat? Apakah memang isu dari ijasa,
00:09lalu kemudian berlanjut pada putusan Mahkamah Konstitusi dengan sejumlah pertimbangannya,
00:14apakah ini sekarang bergeser ke legitimasi politik karena ada pernyataan dari Pak Jokowi?
00:21Iya, saya tadi menyebut ini kan semacam sob ya.
00:24Nah, sob pertama tuduh mereka itu tukang gaduh, tukang nyari kekuasaan karena nggak dapat jabatan, blablabla lah ya.
00:31Dan itu sampai sekarang nggak terbukti, langsung masuk ke sob kedua.
00:35Apa itu, katakan saja di belakang mereka itu ada aktor-aktor politik dan seterusnya gitu.
00:42Nanti sob ketiga itu biasanya diadukan ke polisi.
00:45Bum Indraiannya sehingga saya mau digugat lagi ke polisi kan, setahu saya gitu.
00:50Nah, itu udah sobnya tuh.
00:52Nah, kenapa itu dilakukan?
00:53Karena biasanya argumennya udah nggak ada, argumen dari Pak Jokowi gitu.
00:57Karena argumen dari Pak Jokowi nggak ada, ya maka yang disebut operasi politik yang berjalan seperti yang sekarang ini gitu.
01:05Dan saya udah paham itu semua, dan oleh karena itu saya bilang saya nggak peduli.
01:09Karena apapun yang disebut.
01:10Jangan kan saya, Bung Semaraja nggak tahu kok siapa dalang yang dimaksud oleh Pak Jokowi kan.
01:15Yang tahu itu kan cuma Pak Jokowi sendiri gitu.
01:18Nah, oleh karena itu ya biarkan aja Pak Jokowi sibuk dengan urusan dia memikirkan bahwa
01:23dari belakang ini semua ada dalangnya.
01:25Biarkan aja tambah-tambah pikiran Pak Jokowi dengan itu semua.
01:28Kalau kita sih santai-santai aja ya.
01:30Karena justru yang kita dorong itu adalah fasilitas bagi Pak Jokowi untuk membuktikan bahwa beliau benar.
01:36Apa itu?
01:37Ya kangket itu.
01:38Di hak kangket itu lah di uji.
01:40Apa benar ada ijazahnya?
01:42Ijazah itu ijazah SD, ijazah SMP, ijazah SMA,
01:45atau ijazah S1-nya.
01:47Atau hanya ada ijazah SMA, SD-nya saya, SMP-nya saya, S1-nya saya.
01:53Ijazah SMA-nya nggak ada.
01:54Ya kita nggak tahu.
01:55Nah justru kita sedang memfasilitasi oleh Pak Jokowi.
01:58Oke.
01:59Maka kalau disebut.
02:00Maaf Bang Reh.
02:00Itu antesnya.
02:02Tapi Bang Reh, bagaimana Anda menjawab pernyataan dari Bung Semar bahwa memang Pak Jokowi sekuat itu.
02:09Sehingga harus di downgrade reputasinya.
02:12Kalau nggak kuat didiemin, Mbak.
02:15Gimana Bang Reh menjawab itu?
02:16Kan saya udah mengatakan, saya nggak terlalu peduli soal elektabilitas siapapun.
02:20Pertualan saya itu, ada wakil presiden yang dinyatakan makamah konstitusi, nggak punya ijazahnya.
02:25Nggak, nggak, kalau soal makamah konstitusi, Reh salah dong.
02:29Itu bagian dari tambahan pertimbangan.
02:32Kalau SMP itu, amat putusan, Reh.
02:34Yang jadi patok itu amat putusan, Reh.
02:37Kau salah, kau.
02:38Kau salah.
02:39Kalau bicara soal keputusan MK.
02:41Itu amat putusannya, amat putusannya ditolak gugatan dan tidak didiskualifikasi.
02:46Clear.
02:47Nggak ada lagi debat.
02:48Oh iya, iya.
02:49Nah, persoal bahwa kalian mau menggoreng, menggoreng ya, bahan tambahan pertimbangan dari MK boleh.
02:55Tapi jangan juga sesat soal amat putusannya.
02:59Amat putusannya clear.
03:00Digugat itu, apa, digugat, ditolak ya gugatannya.
03:03Dan yang kedua, tidak diterima soal disqualifikasi.
03:08Sudah clear.
03:09Jangan juga akhirnya saya akan-akan.
03:11Tapi kan ada pertimbangan dari MK juga, Bang Semar.
03:14Kenapa?
03:15Ada pertimbangan dari MK juga.
03:17Kan tambahan pertimbangan, Mbak.
03:18Ini waktu saya berbicara rasanya ya.
03:20Kalau misalnya bahan pertimbangan itu untuk menopang putusan amat putusannya, itu mungkin bisa ada yang lainnya.
03:28Gitu lho.
03:31Ya, itu sudah semua setuju.
03:32Dan semua sudah paham.
03:34Tapi di dalam pertimbangannya ada yang disebutkan dengan nyata-nyata, Sudara Gibran itu tidak punya ijasa.
03:40Ya, nah ini yang akhirnya kita melihat.
03:43Ini adalah pengakuan dari pihak ijasa.
03:45Kalau ijasa itu lalu gelit juga.
03:48Kenapa di mata-mata yang ditutupkan, mereka akan menjawab, mereka akan menjawab, mereka akan ditutup.
03:53Kenapa tidak dibawa oleh para pendukungnya sendiri?
03:56Gini deh, Bung Semar.
03:59Maaf, ditahan dulu, Bang Rey.
04:01Semua proses sudah dilewati.
04:03Oke.
04:04Supaya pernyataan para pendukungnya sendiri bisa dibungkinkan di akhir-akhir.
04:10Oke, coba langsung kita tanyakan ke Bung Semar, Bang Rey.
04:13Sebentar.
04:13Bung Semar, mengapa tidak menjawab polemik ini dengan transparansi dokumen daripada menuding adanya politisasi?
04:22Betul.
04:23Kan semua kan ada juga, ada momentumnya.
04:25Kalau misalnya memang dia oleh negara nggak diminta, buat apa?
04:28Justru kan Gibran ini kan patuh konstitusi.
04:31Patuh konstitusi itu ketika mahkamah konstitusi memutuskan, menolak gugatan dan tidak didisqualifikasi, ya sudah.
04:37Kan begitu.
04:38Apalagi, nah ketika kalian coba untuk menggoreng tambahan pertimbangan, boleh saja.
04:43Tapi jangan juga melihat bahwa itu bagian penting dari putusan mahkamah konstitusi.
04:49Dan Rey ini penggiat pemilu.
04:50Dia harus tahu.
04:51Dari 2024 pas Kapi Pres, pas Kapi Pres, sudah mengerti bahwa ada masalah yang sangat sosial terkait dengan perperatan aktivitas.
05:03Itu yang maksud saya, hasilnya Rey paham.
05:05Oh ternyata proses, proses percalonan Pak Pelabung dan Pemilu, clear.
05:10Mereka yang tidak terbukti memiliki,
05:12Secara legitimasi, konstitusi, clear.
05:15Karena memang, KPU sudah, pendidikan sudah,
05:19Cuma kan kita masih berpikir hati kepada...
05:22Jangan-jangan Rey, sudah tidak lagi punya keilmuan soal pemilu.
05:27Kalau keilmuan yang pemilu masih digaikan, saya tidak paham.
05:30Sekalipun kita tidak tahu hijau apa-apa itu.
05:33Bang Rey, kalau tadi Bung Semar sempat menyatakan bahwa Pak Jokowi ini cukup kuat,
05:40Sehingga ada alasan ketika Pak Jokowi menyebutkan bahwa dirinya di-downgrade untuk reputasi politiknya.
05:48Kalau dari kacamata Anda, kekuatan seperti itu.
05:51Saya masih tidak mau ngomongin itu karena dia mengakui bahwa Pak Jokowi itu...
05:53Nah, gimana Bang Rey?
05:55Tidak dipotong semar dan...
05:56Silahkan Bang Rey.
05:57Tidak dipotong ya, kita beri-i-i yang kemarin ya.
05:59Silahkan dulu Bang Rey.
06:00Silahkan Bang Rey.
06:03Ya, karena tadi ada motong di tengah jalan.
06:05Oke, saya mau ngomong ya.
06:06Tidak boleh potong, kawan.
06:07Oke, Bung Semar, tahan dulu Bung Semar.
06:09Kita dengarkan dulu pernyataan dari Bang Rey.
06:11Ya, bagaimana dong, Mbak?
06:12Dia potong saya boleh, saya potong saya tidak boleh.
06:14Saya mau ngomong, saya berbicara ya.
06:17Itulah sebabnya saya mengatakan.
06:20Itulah sebabnya saya mengatakan kita pakai angket.
06:23Kalau enggak, begini-gini saja nih.
06:25Tidak ada selesainya.
06:27Saya mengatakan bahwa di jasa di Gibrang itu mana?
06:31Pendukung di Gibrang mengatakan ada ijasanya.
06:34Menyelesaikannya apa?
06:35Menyelesaikannya melalui yang angket.
06:37Jangan digirim-girim.
06:38Makanya saya dorong.
06:39Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa ini.
06:43Mengada-ngada.
06:44Oke.
06:45Apa yang membuat, Bung Semar, apa yang membuat Anda menuding Bang Rey ini mengada-ngada?
06:52Pernyataannya, sebenarnya kan tujuannya Bang Rey dari udah jelas.
06:57Ingin hak angket di DPR.
06:59Perintah hukum dari putusan mahkamah konstitusi itu, Mbak, enggak ada.
07:02Perintah dan keputusan konstitusi jelas.
07:06Menolak gugatan dan tidak mendiskualifikasi.
07:09Sudah, enggak ada lagi.
07:10Jadi jangan juga seakan-akan bahwa karena takut si menjalankan apa yang menjadi.
07:16Saya jawab nanti ya.
07:17Enggak ada itu.
07:18Oke.
07:19Gimana Bang Rey yang menjawab itu?
07:21Oke.
07:22Inilah kegeluran Bung Semar.
07:24Dia pikir angket itu langsung HMP menyatakan pendapat.
07:29Bukan.
07:30Ya.
07:31Mas, saya tahu soal itu.
07:32Hal angket itu untuk memfasilitasi Pak Jokowi, menjelaskan kepala publik,
07:39bahwa temuan mahkamah konstitusi itu tidak benar.
07:44Jadi kita ini jadi bingung menghadapi keluarga Pak Jokowi dan pendukungnya, kan?
07:49Dibuka MK, salah.
07:51Dibuka, apa namanya?
07:53Salah.
07:54Oke.