- 6 menit yang lalu
- #arabsaudi
- #houthi
- #iran
JAKARTA, KOMPAS.TV - Iran membantah tuduhan Arab Saudi bahwa Teheran terlibat dalam serangkaian serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi.
Bantahan Iran itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei dalam sebuah pernyataan.
Sementara Arab Saudi melalui koalisi yang dipimpinnya mengungkap secara tak langsung keterlibatan pihak pemasok senjata canggih ke milisi Houthi di Yaman, berupa drone serang yang diarahkan ke bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Iran justru menawarkan diri menjadi mediator untuk membantu akhiri konflik Houthi dan Riyadh.
Lalu akankah konflik ini bisa berakhir? bagaimana peran Iran diantara Riyadh dan Houthi?
Kita akan bahas persama Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Gajah Mada, Heribertus Jaka Triyana.
#arabsaudi #houthi #iran
Produser: Theo Reza
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/696654/full-pengamat-timur-tengah-guru-besar-ugm-soal-ada-iran-di-balik-houthi-gempur-saudi
Bantahan Iran itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei dalam sebuah pernyataan.
Sementara Arab Saudi melalui koalisi yang dipimpinnya mengungkap secara tak langsung keterlibatan pihak pemasok senjata canggih ke milisi Houthi di Yaman, berupa drone serang yang diarahkan ke bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Iran justru menawarkan diri menjadi mediator untuk membantu akhiri konflik Houthi dan Riyadh.
Lalu akankah konflik ini bisa berakhir? bagaimana peran Iran diantara Riyadh dan Houthi?
Kita akan bahas persama Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Gajah Mada, Heribertus Jaka Triyana.
#arabsaudi #houthi #iran
Produser: Theo Reza
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/696654/full-pengamat-timur-tengah-guru-besar-ugm-soal-ada-iran-di-balik-houthi-gempur-saudi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:04Intro
00:11Konflik antara Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman kian memanas.
00:15Milisi Houthi merilis video serangan ke kompleks istana kepresiden Al-Ma'ashik di aden Yaman,
00:20pemerintahan yang diakui internasional.
00:22Dalam peristiwa itu, 5 orang tewas dan 16 lainnya terluka ketika 5 rudal menghantar markas sementara pemerintah Yaman.
00:30Serangan keistana kepresiden Yaman dilakukan bersamaan dengan pertempuran sejumlah front Houthi di Yaman
00:35dengan pasukan bersenjata pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
00:40Serangan balasan pun dilakukan Arab Saudi.
00:43Berdasarkan laporan media Arab Saudi di Riyadh, koalisi yang dipimpin Arab Saudi merilis rekaman video
00:48yang menunjukkan serangan udara yang menargetkan dermaga maritim, pipa bahan bakar,
00:52dan fasilitas penyimpanan bahan bakar yang dikuasai milisi Houthi.
00:57Sementara, Iran membantah tuduhan Arab Saudi bahwa Teheran terlibat dalam serangkai yang sedangkan Houthi ke wilayah Arab Saudi.
01:05Iran menyatakan tuduhan itu tak berdasar.
01:08Iran justru menawarkan diri sebagai mediator antara Houthi Arab Saudi.
01:13Bantahan Iran itu disampaikan jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Bagai dalam sebuah pernyataan.
01:18Ismail Bagai dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP menyatakan Republik Islam Iran menolak klaim apapun bahwa Iran berperan dalam operasi
01:27Yaman Houthi.
01:29Arab Saudi melalui koalisi yang dipimpinnya mengungkap secara tak langsung keterlibatan pihak pemasok senjata canggih ke milisi Houthi di Yaman,
01:36berupa drone serang yang diarahkan ke bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
02:04Bagaimana cara yang dikutipan,
02:23Di tengah memanasnya eskalasi Arab Saudi dengan milisi Houthi di Yaman, Presiden Amerika Serikat justru menyarankan Arab Saudi menerima tawaran
02:30bantuan Israel untuk melawan Houthi.
02:33Hal itu dikaitkan pula dengan kemungkinan Saudi bergabung dengan kesepakatan Abraham.
02:55Sebelumnya serangan pada Kamis itu menewaskan seorang pilot dan dua warga negara Saudi lainnya serta melukai sejumlah orang.
03:01Serangan ke bandara kembali terjadi pada Sabtu 10 Oktober yang menewaskan 13 orang dan melukai 300 orang.
03:07Selain itu, Houthi juga menyerang sejumlah wilayah di Arab Saudi dan infrastruktur energi negeri itu.
03:14Houthi juga menyerang sejumlah infrastruktur yang dikelola pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
03:23Iran membantah tudingan Arab Saudi yang menyebut Tehran terlibat dalam serangkaian serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi.
03:31Iran justru menawarkan diri sebagai mediator untuk bisa membantu akhiri konflik Houthi dan juga Riyad.
03:37Lalu akankah konflik ini bisa berakhir, saudara?
03:39Bagaimana peran Iran di antara Riyad dan juga Houthi?
03:43Kita akan bahas bersama dengan pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Gajah Mada Heribertus Jakai
03:51Triana
03:51yang sudah terhubung bersama kami melalui sambungan Zoom di Sampai Indonesia Pagi.
03:54Selamat pagi, Mas Hasibullah, Pak Jaka.
03:57Selamat pagi, Mbak.
04:00Saya mau ke Mas Hasibullah lebih dulu.
04:02Mas, kita mengingat kembali ya serangan milisi Houthi ke Arab Saudi yang sempat memanah sebenarnya.
04:11Tapi kalau Anda melihat eskalasinya saat ini seperti apa, Mas Hasibullah?
04:16Baik, terima kasih Mbak Nanda.
04:19Selamat pagi, Mbak Nanda dan Prof. Jaka dan pemirsa semua.
04:23Yang pertama menjawab pertanyaan ini, saya ingin memulai dari update yang terbaru.
04:29Kalau dalam cacatan harian saya di sosial media itu,
04:32ini sudah memasuki di hari ke-13 dari operasi Fajaryaman dimulai dari 3 Oktober, 5 Oktober.
04:39Atau memasuki di hari ke-99 dari perang yang saya sebut sebagai bab kedua.
04:47Yang itu nanti di dalamnya termasuk adalah terbukanya kembali front di antara Arab Saudi dengan Houthi
04:54yang dimulai dari tanggal 13 Juli.
04:57Jadi ini kita bisa update nanti Mbak Nanda di hari-hari itu,
05:01karena bagi saya sangat menentukan operasi di lapangan.
05:06Jadi ada perubahan strategi yang cukup signifikan di bab kedua,
05:11terutama di antara tanggal 10 Juli itu sampai 13 Juli.
05:16Dan itu menurut saya dampaknya sangat terlihat di lapangan.
05:19Nah yang terbaru, kalau kita lihat dari pernyataan-pernyataan di hari ke-13 ini,
05:25maka yang pertama yang sangat menarik menurut saya,
05:28pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Yaman
05:32yang menolak inisiatif atau usulan Iran untuk menjadi mediator.
05:37Ini sekaligus nyambung dengan pertanyaan redaksi kepada saya
05:41untuk melihat bagaimana sikap Iran terkait dengan penolakan itu.
05:46Saya terus terang melihat pernyataan Iran terkait dengan keterlibatannya
05:51dalam perang Yaman ini adalah pernyataan politik
05:56yang segala sesuatunya diukur untuk kepentingan dia,
06:00tapi kebenaran subtantifnya itu tidak selalu kasat mata,
06:06seperti perspektif agademisi.
06:08Ini perspektif politis.
06:10Jadi dia menyampaikan sesuatu yang dimaksudkan untuk mendatangkan kepentingan
06:15sebanyak-banyaknya tanpa harus ada beban pembuktian kebenaran subtantif
06:22kira-kira yang sifatnya kasat mata.
06:24Walaupun kebenaran subtansinya sebenarnya masih bisa dikorek-korek.
06:29Itu karakter politis.
06:32Misalkan terkait dengan keterlibatan Iran.
06:35Iran membantah bahwa dia terlibat dalam katakanlah serangan ke Arab Saudi.
06:40Secara langsung ya, karena mungkin tidak terlibat di situ.
06:43Tapi kalau mungkin pertanyaannya apakah Iran tidak terlibat dalam pelatihan,
06:49dalam katakanlah mentoring kepada kelompok-kelompok yang ada di Yaman,
06:54atau mungkin malah bantuan senjata langsung,
06:56saya rasa itu subtansi-subtansi yang sengaja tidak dikasat mata di situ.
07:01Tapi sekali lagi, Iran menunjukkan punya peran di situ.
07:06Nah justru, Mbak Nanda bagi saya,
07:08perkembangan ini, ini yang catatan kedua yang ingin saya sampaikan,
07:12semakin menunjukkan bahwa perang ini ada tali temali
07:16dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
07:19Saya garis bawahi dua tali temali itu.
07:22Secara historis memang Arab Saudi punya masalah dengan huti yang belum selesai.
07:26Tahun 2022 saya bilang dia terpaksa rekonsiliasi
07:29karena perubahan kebijakan politik luar negeri Amerika.
07:32Kalau kita baca kebijakan Arab Saudi dari tahun 2021 sampai 2023,
07:38itu seragam.
07:39Saya sebut sebagai kebijakan yang rekonsiliatif.
07:42Karena sekali lagi ada perubahan kebijakan Amerika dari Trump ke Joe Biden.
07:49Yang kita tahu, Arab Saudi banyak punya problem di situ.
07:53Dia mengubah kebijakannya di tahun-tahun itu
07:55untuk sebuah kelincahan kebijakan politik luar negerinya.
07:59Nah yang kedua, tali temali secara aktor yang saya bilang.
08:03Secara aktor apa?
08:04Yaitu bahwa perang di Yemen sekarang
08:07tidak bisa dipisahkan daripada perang yang terjadi di wilayah lain di Temur Tengah.
08:12Terutama perang Amerika-Israel melawan Iran
08:15atau bahkan mungkin juga perang Israel melawan Hezbollah
08:19atau bahkan Israel melawan Hamas di Palestina, di Gaza pada tahun 2023.
08:25Ini adalah tali temalinya.
08:27Bahkan yang terbaru sebagai pengantar Mbak Nanda,
08:32saya mencatat ada kayak semacam penggunaan pola
08:37kalau dalam bisnis mungkin disebut sebagai multi-level marketing.
08:41Ini yang digunakan kayak semacam pola multi-level proxy.
08:44Di mana mereka-mereka yang bertarung di lapangan
08:48itu tidak selalu dikaitkan secara langsung,
08:50tapi pola strukturnya sama,
08:52bahwa yang dapat untung paling banyak
08:54itu adalah mereka yang berada di paling atas daripada bisnis ini,
08:59daripada koalisi ini.
09:01Jadi misalkan dengan pola yang terbaru di Houthi ya,
09:04dengan pernyataan tadi,
09:06itu kan jelas bahwa ini Arab Saudi tidak ingin langsung nodding Iran.
09:10Tapi otoritas Yaman atau pemerintahan Yaman yang katakanlah sebagai proksinya
09:16sudah mulai menarik Iran.
09:18Dia menolak Iran untuk menjadi mediator
09:21karena Iran dianggap sebagai pihak dalam perang terhadap Yaman ini.
09:26Itu jelas.
09:27Itu jelas bagi saya adalah sebuah pernyataan politik yang memang dimaksudkan
09:31tujuannya untuk mulai menarik Iran kepada perang ini,
09:34tapi Iran sekali lagi dia juga sadar bahwa ini kayak semacam senjata yang kurang lebih sama.
09:40Dia tidak ingin langsung dikaitkan secara langsung dalam perang ini.
09:44Karena ini terakhir di awal ingin saya sampaikan,
09:48bagian daripada perubahan yang sangat signifikan dalam perang Bab II
09:52atau di awal perang Houthi dengan Arab Saudi ini,
09:56yang saya bilang adalah perubahan strategi.
09:58yaitu kalau Iran menggunakan strategi dari defensif ke ofensif,
10:04salah satunya adalah Houthi menjadi lebih berani itu bagian daripada wujud nyata ofensif dia.
10:11Nah, Amerika saya bilang melakukan perubahan dengan cara mengubah isu perang ini,
10:17termasuk peran-peran yang terlibat di situ aktornya,
10:20sehingga dia menjadi lebih,
10:23lebih tadi,
10:24lebih dapat banyak untung di level atas
10:26tidak tanpa harus bertarung lebih berdarah-darah.
10:30Oke.
10:30Misalkan,
10:31kalau kita catat sebentar lagi Mbak Nanda sedikit,
10:35kita lihat di perubahan di situ,
10:37perangnya sudah bukan menjadi perubahan rezim Iran.
10:41Jadi per 10 Juli,
10:43perangnya sudah menjadi perang tentang energi,
10:46perang tentang minyak,
10:47tentang pelayaran.
10:49Yang itu sebenarnya lebih mudah bagi Amerika dan koalisinya
10:53untuk memobilisir koalisi global.
10:55Tapi sepertinya sampai sekarang ini belum tercapai,
10:59karena sekali lagi masyarakat dunia masih mengingat bahwa
11:02apapun yang dilakukan Amerika di Hormuz,
11:06ya tetap dia yang juga memulai perang ini,
11:08termasuk Arab Saudi hari ini.
11:10Apapun alibi yang dia sampaikan,
11:12bahwa ini menggunakan katakanlah tanah suci diserang,
11:15padahal masih jauh gitu ya,
11:16ini orang akan juga mengingat bahwa 13 Juli itu
11:19yang memulai serangan duluan itu adalah pihak Arab Saudi.
11:23Begitu Mbak Nanda.
11:24Oke, saya mau ke Prof. Jaka kalau begitu.
11:26Tadi bahasanya Bang Hasibullah adalah menang merah ya,
11:29tapi kalau dari sudut pandang Prof. Jaka terkait dengan kasus ini,
11:32memang benarkah Iran terlibat
11:35dari dua konflik ini sesuai dengan tudingan Arab Saudi?
11:38Padahal memang sebenarnya sudah ditampik ya oleh Iran.
11:42Dari sisi hukum dan hubungan internasional,
11:45saya menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Iran,
11:48itu adalah sebuah pernyataan secara eksplisit
11:51untuk mengatakan plausible deniability.
11:54Kenapa?
11:55Karena dengan menyatakan menyangga,
11:57maka manfaatnya akan jauh lebih besar
11:59untuk menghindari frontal keperangan secara formal antar negara.
12:04Yang terjadi adalah saat sekarang bagaimana Iran,
12:07bagaimana Houthi,
12:09bagaimana pihak-pihak yang sedang bertikai ini
12:10adalah menguatkan terkait dengan deterrence efek masing-masing
12:14untuk mencapai kepentingan nasional masing-masing.
12:17Sehingga sekali lagi kalau kita lihat,
12:19perkembangan-perkembangan ke depan
12:20tentu ini akan semakin mengacaukan
12:23apa yang disebut sebagai nexus
12:25atau keterkaitan antara para pihak
12:27di dalam konflik bersenjata saat sekarang.
12:29Yang sekali lagi,
12:30saya sepakat dengan pendapat Mas Hasibullah,
12:32sekarang ini pertentangannya adalah bukan negara dengan negara,
12:36tapi sudah bergeser ke area-area yang lain
12:38yang akan merubah situasi geopolitik kawasan
12:42dengan memainkan peran-peran secara informal,
12:46memainkan ketidakjelasan nexus
12:48atau keterkaitan antara para pihak
12:50untuk mencapai tujuan-tujuan mereka secara geopolitik praktis
12:53maupun geopolitik secara dunia.
12:55Sekali lagi,
12:56pernyataan formal untuk menolak
12:58itu lebih menguntungkan daripada mengakui
13:00untuk menghindarkan adanya pertanggung jawaban negara,
13:03konflik antar negara,
13:04eskalasi yang lebih besar,
13:06sehingga kepentingan mereka terjaga.
13:08Oke, tapi kalau kita berbicara lebih jauh lagi,
13:12melebar begitu ya, Prof. Jaka,
13:15sebenarnya akan berdampak seperti apa
13:17untuk secara global?
13:19Seperti halnya kalau kita mengingat Iran dan juga Amerika Serikat,
13:21kita tahu dampak-dampaknya seperti apa secara global,
13:23tapi dengan konflik antara Houthi dan juga Arab Saudi ini,
13:27bagaimana ke depannya akan terasa mungkin secara global?
13:31Pertama, akan terjadi pergeseran kekuatan peta politik-geopolitik kawasan.
13:36Pertama, kita akan melihat bahwa saat sekarang,
13:38kalau kita lihat apa means and method warfare yang dipakai oleh Houthi,
13:43itu memberikan satu sinyal bahwa
13:45yang disebut sebagai penggunaan senjata yang sifatnya itu adalah murah,
13:50yang sifatnya itu adalah rakitan,
13:52itu dapat mengalahkan kecanggihan means and method warfare yang lebih advance,
13:57lebih tinggi teknologinya.
13:59Sehingga ini memberikan sinyal bahwa
14:01terjadi satu pergeseran paradigma berperang
14:04yang harus diantisipasi oleh para pihak yang bertikeh.
14:07Satu adalah itu gambaran yang nyata.
14:09Lalu yang kedua,
14:10bahwa saat sekarang terjadi satu pergeseran
14:13bahwa UEA misalnya,
14:14ataupun Arab Saudi misalnya,
14:16telah berpecah kongsi terkait dengan penggunaan kekerasan bersenjata
14:20dengan zaman dan Houthi.
14:21Ini menjadi pergeseran-pergeseran yang menarik secara geopolitik,
14:25yang akan menempatkan isu-isu sentral baru,
14:27bahwa di kawasan Arab,
14:29itu akan terjadi satu ring of fire
14:31yang belum akan selesai dalam waktu yang akan dekat,
14:34yang ini tentu akan ada faktor-faktor ekonomi,
14:37ideologi, politik keamanan regional,
14:40yang nanti akan menjadikan isu akan semakin bertambah,
14:43sehingga sekali lagi,
14:45penjagaan keterkaitan antara nexus atau hubungan para pihak,
14:48itu pasti akan menjadi cheering
14:50di dalam apa itu pelaksanaan konflik yang sedang terjadi.
14:54Sehingga sekali lagi,
14:55yang ke depan yang akan terjadi adalah
14:56tetap ada pengaburan ketentuan hukum perang internasional,
15:00hukum hubungan internasional,
15:02yang ini memang dipertahankan oleh para pihak.
15:04Ini yang kita harus hati-hati untuk melegitimasi,
15:07untuk menyatakan sah tidaknya kekuatan kekerasan bersenjata,
15:10tetapi lebih cenderung kepada bagaimana mempertahankan ini
15:14untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka.
15:16Ini yang saya kira jelas situasinya saat sekarang.
15:19Oke, saya mau ke Mas Hasibullah lagi,
15:23terlibat Iran kan menawarkan diri sebagai mediator Mas Hasibullah.
15:29Nah, dari manuver politik ini,
15:32kalau dari Mas Hasibullah melihat,
15:34dengan menawarkan diri untuk bisa menjadi mediator,
15:37Houthi, Diama, dan juga Arab Saudi,
15:39strategi apa sih atau keuntungan apa untuk Iran
15:41terkait dengan hal ini sebenarnya Mas Hasibullah?
15:45Ya, sebenarnya dengan menawarkan diri sebagai mediator,
15:49itu paling tidak menunjukkan bahwa Iran
15:52merupakan salah satu aktor yang sangat menentukan sekarang di Timur Tengah.
15:57Dan kalau kita bicara sisi lain,
15:59katakanlah memang ada sisi optimis,
16:01tapi saya juga melihat di sisi lain ada sisi,
16:03katakanlah ada sisi pesimis,
16:05tapi di sisi lain ada sisi optimis.
16:07Sisi pesimisnya memang perang ini semakin eskalatif,
16:11bahkan sangat mungkin ini bisa semakin besar,
16:14dampaknya termasuk kepada masyarakat global,
16:16karena memang itu yang dimasukkan oleh Iran.
16:19Kalau kita kembali kepada pola serangan Iran,
16:21yang dari awal saya bilang,
16:23dia menggunakan kombinasi tiga serangan,
16:26yaitu serangan seperti sepak bola,
16:28serangan langsung dalam bentuk rudal ke target-target seperti di Israel,
16:32serangan lambung,
16:34yaitu yang dilakukan melalui katakanlah isu hormus,
16:37kemudian dengan menyerang Arab Saudi,
16:39dan yang terbaru kita memasukkan di Bab Mandib,
16:42itu bagian daripada bola lambung.
16:44Bola lambung dia yang tujuannya adalah
16:47bagaimana menekan Amerika dengan kenaikan harga-harga.
16:50Jadi serangan-serangan di sini tidak langsung berdampak kepada Iran,
16:55tapi dampaknya melalui harga-harga yang timbul daripada situ.
16:58Dan saya kalau tadi ditanyakan,
17:01kenapa ditanyakan Iran memainkan peran usulan begitu,
17:07saya tetap dalam bayangan atau dalam analisa,
17:10karena Iran mencoba untuk mengimbangi seperti tadi,
17:14maka lagi-lagi seperti sepak bola,
17:16November itu adalah batas akhir waktu normal.
17:20Jadi batas akhir waktu normal artinya apa?
17:22Kalau sampai perang ini melewati November,
17:25terutama kalau kemudian Republik menang,
17:28maka saya yakin Iran pun akan sangat berat,
17:31menghadapi situasi itu.
17:32Atau paling tidak itu spekulasi yang sangat gelap kalau bagi Iran.
17:35Bagi Iran sekarang jauh lebih mudah merebut kemenangan di akhir waktu.
17:40Walaupun mungkin ini tidak akan sedramatis pertandingan timnas
17:43seperti melawan Bangladesh atau di final kita juara.
17:47Saya menduga tidak akan sepanas itu.
17:49Tapi sudah mulai jelas terlihat bahwa Iran mencoba untuk memanfaatkan sisa waktu normal ini,
17:55agar kemenangan-kemenangan itu bisa dicapai.
17:58Salah satunya apa?
17:59Setelah terjadi eskalasi dengan Houthi,
18:01maka dia mencoba untuk menjadi mediator.
18:03Itu bagi saya bukan bahasa basi.
18:06Dia akan betul-betul mampu untuk bisa meredam Houthi.
18:10Nah itu yang saya bilang tadi,
18:11sisi optimis dari perang ini.
18:13Walaupun terjadi eskalasi di mana-mana,
18:15karena Iran bisa mengontrol dan bisa didengar oleh Houthi,
18:20maka yang dia lakukan bisa berdampak kepada upaya deeskalasi.
18:25Begitu juga saya melihat dari sisi Arab Saudi.
18:29Walaupun Arab Saudi sudah besar-besaran terlibat dalam perang ini,
18:32kalau Amerika menginginkan agar ini menuju deeskalasi,
18:36maka menurut saya ini masih bisa diharapkan sisi baiknya.
18:40Akan menjadi susah dan mustahil itu memang kalau Israel.
18:44Ini yang saya bilang,
18:45semua konflik di Timur Tengah menjadi susah ketika melibatkan Israel.
18:48Apa yang terjadi di Libanon,
18:50apa yang terjadi dengan, katakanlah,
18:52kesepahaman awal di antara Iran dengan AS,
18:55itu menjadi contohnya.
18:57Jadi ketika mereka sudah sepakat,
18:58bahkan Trump seakan-akan menjadi gerantornya bahwa ini Israel,
19:02Israel tidak peduli.
19:04Apakah kemungkinan ke depan Israel akan terlibat di konflik ini?
19:08Mas Asyibullah?
19:09Ya.
19:10Saya terus terang melihatnya,
19:13apakah akan terlibat,
19:15itu Israel sudah punya kalkulasinya sendiri.
19:17Karena sekali lagi,
19:18Israel sudah pernah tarung langsung dengan Houthi.
19:20Sebagaimana Houthi juga sudah punya rekam jejak sendiri dengan Israel.
19:23Jadi kalau kemudian ditanyakan,
19:25misalkan,
19:26wah ini Amerika,
19:27apa namanya,
19:28mendorong agar Arab Saudi menerima,
19:31katakanlah,
19:31bantuan dari Israel.
19:32Itu secara subtansi sebenarnya tidak begitu signifikan.
19:36Jangankan bantuannya,
19:37perang langsungnya sudah pernah terjadi di antara Amerika dengan Israel melawan Houthi.
19:43Nah,
19:43oleh karena itu,
19:44kalau kemudian ada usulan,
19:46agar katakanlah Arab Saudi menerima,
19:49bantuan daripada Israel,
19:50itu hanya semata-mata untuk mempertebal kepentingan yang dia dapat.
19:54Yaitu Abraham Akkot tadi,
19:56bahwa dengan pola ini,
19:57maka akan semakin didorong temannya sendiri,
20:00untuk kemudian memberikan keuntungan kepada,
20:02yang saya bilang tadi,
20:04di multi-level marketing itu,
20:05orang yang paling di atas.
20:07Nah,
20:08persoalannya,
20:08saya tidak melihat sampai sekarang Arab Saudi menyadari itu.
20:12Bahwa yang dia lakukan,
20:14justru yang saya bilang,
20:16menguntungkan Amerika sebesar-besarnya,
20:18menguntungkan Israel juga pada tahap terbentuk,
20:21dan mengorbankan rakyat,
20:23rakyat Yaman,
20:24rakyat Arab Saudi,
20:25yang lebih menginginkan berdamai tentang ini semua,
20:29dan membela kemerdekaan Palestina.
20:31Oke,
20:32kalau Pak Jaka melihatnya seperti apa untuk status hukum internasionalnya ya,
20:36di mana ada sebuah negara di sini Iran,
20:39kemudian menawarkan diri sebagai mediator,
20:41untuk aktor non-negara dengan konflik asimetrisnya,
20:45dengan menghadapi sebuah negara berdaulat Arab Saudi,
20:48bagaimana Prof melihatnya?
20:51Pertama,
20:52saat sekarang terjadi satu pergeseran paradigma,
20:54di dalam apa itu formalitas hukum dan hubungan internasional.
20:58Kalau kita lihat,
20:59keberhasilan Houthi,
21:00menyerang Arab dan WA dengan rudal balistik antarbenua,
21:04ini menunjukkan satu kekuatan,
21:05bahwa aktor-aktor non-negara saat sekarang memiliki peranan yang penting,
21:09di dalam hukum dan hubungan internasional.
21:12Justru disilah terjadi apa yang disebut sebagai kekosongan hukum,
21:15kekosongan hubungan internasional,
21:17yang mereduksi betul,
21:19bahwa hukum internasional sekarang bukan lagi pada subjek-subjek utama,
21:23tapi sudah juga mengarah pada redefinisi terkait dengan hak dan kewajiban aktor non-negara.
21:28Nah, ini yang perlu kita kaji, kita waspadai,
21:32sehingga hak dan kewajiban hukum yang muncul,
21:34itu dapat secara legitimesi,
21:36dan dapat secara akuntabilitas dapat dipaksakan.
21:38Nah, pertanyaannya saat sekarang adalah,
21:40bagaimana menyikapi,
21:42terkait dengan situasi yang terjadi saat sekarang di kawasan Arab?
21:46Ini sekali lagi yang saya tadi sampaikan,
21:49bagaimana hukum dan hubungan internasional harus mencari titik temu
21:53terkait dengan nexus atau keterkaitan antara para pihak
21:56untuk dapat mengkualifikasikan pemenuhan hak dan kewajiban hukum internasional
22:00dalam hubungan internasional.
22:02Saya kira, kalau kita lihat saat sekarang,
22:04posisinya itu adalah masih abu-abu.
22:06Kenapa?
22:06Karena banyak terjadi ambiguitas,
22:08banyak terjadi apa yang tertulis dengan yang terjadi itu sangat berbeda,
22:12sehingga laporan-laporan dari misalnya PBB
22:15itu selalu berhati-hati untuk menentukan pemenuhan hak dan kewajiban hukumnya.
22:19Sehingga sekali lagi,
22:20sebelum adanya pernyataan secara tegas letterless dari para pihak,
22:25sebelum adanya keputusan dari misalnya pengadilan internasional
22:28ataupun yang memiliki otoritas untuk menentukan hal tersebut,
22:33ini masih menjadi sebuah tanda tanya besar
22:35yang para pihak itu mengambil celah-celah di sana.
22:37Yang sekali lagi,
22:39kita lihat bagaimana memanfaatkan celah-celah yang ada ini
22:42untuk bisa membawa kepentingan mereka ke arah yang menguntungkan.
22:47Tadi Pak Hasibullah menyatakan bahwa ini adalah tingkat waktu terakhir
22:51untuk menentukan posisi paling baik
22:53untuk tingkat waktu yang bisa digunakan oleh para pihak
22:57dalam melakukan diplomasi ke depannya.
22:59Sekali lagi,
22:59ini yang saya kira menarik sekali
23:02terkait dengan pelaksanaan hukum dan hubungan internasional
23:05dalam situasi saat sekarang.
23:07Mbak Nanda.
23:07Oke, kalau banyak pihak membawa kepentingannya masing-masing
23:11dengan tawaran Iran untuk bisa menjadi mediator ini juga masih belum dapat respons
23:16begitu ya dari Riyad.
23:17Dari sudut pandangan Anda, Prof, kiranya siapa yang memang ideal
23:20untuk menjadi pendengah di sini?
23:23Saya kira tawaran untuk menjadi mediator itu adalah sebuah langkah
23:27untuk menciptakan branding yang baik.
23:30Untuk menciptakan bahwa mereka menjadi penengah,
23:33bahwa mereka itu adalah peace-loving stage.
23:35Yang saya kira secara internasional ini menjadi sinyal-sinyal
23:39sebaik sebuah diplomasi apa itu baik
23:42untuk menentukan status negara tersebut.
23:44Namun demikian, saya kira risiko-risiko yang harus dihitung oleh Iran
23:48terkait dengan keberadaan Houthi,
23:50terkait dengan posisinya dengan Israel,
23:53terkait dengan Arab,
23:54ini juga menjadi sebuah risiko-risiko yang harus dimitigasi oleh Iran
23:57ketika menawarkan diri sebagai mediator.
24:00Saya kira langkah yang paling tepat saat sekarang adalah
24:03posisi dari negara-negara Arab,
24:05Arab dengan UWA,
24:07yang paling aman untuk melakukan itu adalah negara-negara yang sampai saat sekarang itu
24:11masih memainkan peran sebagai mediator utama,
24:14seperti Oman, Khattar, dan lain sebagainya,
24:16yang saya kira itu dipercaya oleh para pihak.
24:19Sebagai, satu, basis komunikasi di antara negara yang terdampak,
24:23lalu yang kedua, mereka tidak punya kepentingan secara politis
24:26yang memiliki rekam jejak atau historis yang ahistoris,
24:30seperti yang sampaikan Mas Hasibullah tadi.
24:32Sehingga kalau kita lihat posisinya saat sekarang,
24:34saya akan mengatakan Oman, Khattar,
24:36itu akan menjadi pihak-pihak yang layak untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi mediasi
24:42di dalam konteks hukum dan hubungan internasional dalam situasi saat sekarang.
24:45Oke, saya mempergisar lagi ke Mas Hasibullah.
24:49Nah, dari konflik ini, Mas Hasibullah,
24:52Anda melihat siapa sih sebenarnya pihak yang paling diuntungkan
24:56dari konflik asimetris ini, Houthi dan juga Arab Saudi?
25:02Iya, tergantung itu pertanyaannya kepentingan apa?
25:05Kalau kepentingan materi, kepentingan ekonomi, ya tentu saja,
25:12atau kepentingan politik,
25:13saya selalu sampaikan yang paling diuntungkan dari semua ini adalah Israel.
25:18Kalau dalam konteks yang lebih makro, gitu ya.
25:21Atau bahkan dengan perubahan strategi yang saya bilang
25:26Amerika menurunkan, katakanlah garis permusuhan di Timur Tengah, gitu ya.
25:30Kalau dengan Iran itu adalah dia menarik garis permusuhan ke level tertinggi,
25:35sehingga Amerika dengan Israel menjadi common enemy,
25:38dimusuhin sana-sini, gitu ya.
25:39Lalu kemudian dengan perubahan strategi di perang bab kedua itu,
25:44Amerika menurunkan garis permusuhan di Timur Tengah,
25:47menjadi perang di antara negara kawasan,
25:49maka yang paling untung sekali lagi, Amerika dan Israel.
25:52Karena Israel tidak perlu bertempur,
25:54tidak perlu berdarah-darah,
25:56dia mendapatkan untung dari semua ini.
25:58Minimalnya rudal-rudal Houthi berkurang,
26:01daripada sebelumnya dialamatkan ke Tel Aviv,
26:03sekarang juga digunakan ke Riyadh.
26:05Minimalnya, apa namanya, serangan-serangan yang dilakukan kepada Amerika juga berkurang.
26:11Karena sekarang sudah mulai digunakan untuk menyerang negara-negara Arab Teluk, misalkan.
26:16Jadi, itu yang saya bilang bagian daripada perubahan nyata,
26:19dari perubahan strategi di bab kedua itu,
26:22yang salah satu item pentingnya adalah menurut saya,
26:25terutama dengan dibukanya kembali front di antara Arab Saudi dengan Houthi,
26:31yang sekali lagi memang itu punya dimensinya tersendiri.
26:34Terakhir, saya mungkin tadi nyambung dengan Probyaka gitu ya,
26:38tentang siapa yang menjadi mediator.
26:40Saya dari awal, Mbak Nanda,
26:41melihat perang ini sebenarnya sudah nggak cukup,
26:43di mediasi hanya dua sampai tengah negara.
26:46Bahkan kita lihat, menurut saya,
26:47kita butuh sampai enam negara,
26:49yang itu bisa powernya saling melengkapi.
26:51Katakan ada Rusia atau Tiongkok,
26:54itu terserah salah satu dari keduanya.
26:56Lalu kemudian ada Turki,
26:58yang itu cukup berpengaruh di Timur Tengah.
27:00Lalu kemudian ada Mesir,
27:03yang itu juga sangat kuat.
27:05Lalu kemudian ada Qatar,
27:06dan ada Pakistan,
27:08yang sekarang memang sedang aktif.
27:10Dan terakhir, saya mengusulkan ada Indonesia,
27:12sebagai negara yang dengan populasi muslim terbesar di dunia,
27:16dan punya pengalaman rekonsiliasi,
27:19resolusi konflik yang sangat mapan.
27:20Banyak profesor-profesor dan guru besar
27:23yang saya tidak meragukan keahlian beliau-beliau
27:26untuk memberikan pikiran-pikiran yang jernih
27:29tentang tata dunia hukum internasional yang lebih damai,
27:33tidak hanya tajam kepada musuh-musuhnya Amerika,
27:37tapi tidak berlaku kepada Amerika dan Israel.
27:39Sekarang hukum internasional itu adalah mentok,
27:42karena sekali lagi,
27:43ketika Israel yang menjadi objek hukum,
27:45maka hukumnya tidak berlaku.
27:47Malah hakimnya disangsi,
27:48bahkan mau dihancurkan.
27:49Jadi itu problem utamanya peradaban kita sekarang.
27:52Nah semoga dengan mediasi-mediator yang lengkap ini tadi,
27:56termasuk peran Indonesia,
27:57bisa memberikan yang ideal bagi dunia,
28:00bukan hanya bagi kita.
28:02Oke, ini menarik.
28:03Ada satu nama tadi,
28:04negara Indonesia yang bisa menjadi salah satu referensi mediator
28:07dari Masa Sibullah
28:07untuk Komplikasi Metris,
28:09Houthi, dan juga Arab Saudi.
28:10Kita lihat eskalasi ke depannya seperti apa,
28:12harapannya tentu adalah genjatan senjata permanen
28:15bisa benar-benar terjadi.
28:16Terima kasih sudah berbagi waktunya bersama dengan kami,
28:19pengamati murtengah Sibullah Satrawi,
28:21dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Gejamada,
28:24Heribertus Jakatriana.
28:25Selamat pagi, selamat beraktivitas.
28:28Terima kasih, Mbak Adana.
28:29Saudara, tetaplah bersama kami di Sapa Indonesia pagi.
28:32Kami akan kembali dengan informasi
28:34stok BBM terbatas di Bali
28:36membuat antrian pajang tak terelakan.
28:38Pemprov Bali mensiasatinya dengan penerapan plat genjil genap
28:43untuk kendaraan yang ingin beli BBM di SPBU.