- 2 jam yang lalu
- #karhutla
- #bnpb
- #kabutasap
- #kebakaranhutan
- #indonesia
- #kompastv
KOMPAS.TV Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia terus dilakukan melalui jalur darat maupun udara. Enam provinsi menjadi prioritas penanganan, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi.
Di tengah upaya penanganan, muncul desakan warga melalui unjuk rasa terkait penanganan karhutla yang dinilai berlangsung lama. Sejumlah hal menjadi perhatian, mulai dari kondisi terkini wilayah terdampak, kendala pemadaman, sinergi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan pemerintah daerah, hingga koordinasi penanganan kesehatan warga akibat asap karhutla.
Kita bahas bersama Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan.
#karhutla #bnpb #kabutasap #kebakaranhutan #indonesia #kompastv
Baca Juga Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Palembang, Sejumlah Penerbangan Tertunda | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/695191/kabut-asap-ganggu-penerbangan-di-bandara-palembang-sejumlah-penerbangan-tertunda-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695196/full-mengapa-pemadaman-karhutla-di-indonesia-berlangsung-lama-ini-penjelasan-bnpb
Di tengah upaya penanganan, muncul desakan warga melalui unjuk rasa terkait penanganan karhutla yang dinilai berlangsung lama. Sejumlah hal menjadi perhatian, mulai dari kondisi terkini wilayah terdampak, kendala pemadaman, sinergi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan pemerintah daerah, hingga koordinasi penanganan kesehatan warga akibat asap karhutla.
Kita bahas bersama Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan.
#karhutla #bnpb #kabutasap #kebakaranhutan #indonesia #kompastv
Baca Juga Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Palembang, Sejumlah Penerbangan Tertunda | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/695191/kabut-asap-ganggu-penerbangan-di-bandara-palembang-sejumlah-penerbangan-tertunda-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695196/full-mengapa-pemadaman-karhutla-di-indonesia-berlangsung-lama-ini-penjelasan-bnpb
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Dan kita akan membahas soal penanganan Karhutlah bersama dengan pelaksanaan tugas Kapus Datin dan Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton
00:08Panjaitan.
00:08Selamat pagi Pak Berton.
00:11Selamat pagi.
00:13Pak Berton dengan Imron di studio.
00:15Pak, terkait dengan data terkini, kalau tidak salah kemarin itu ya, pertanggal 9 Oktober 2026 ada lebih dari 123 ribu
00:25hektare begitu ya,
00:26yang didata terbakar baik yang sudah pada maupun yang masih terdata ada titik api di sana.
00:32Kalau per hari ini, datanya seperti apa Pak Berton?
00:35Ya, per hari ini masih 156 hektare sebenarnya yang sedang ditangani.
00:45Tentu ini akan sangat dinamis, jadi angka ini sangat dinamis mengingat terkadang sudah kita padamkan tetapi muncul lagi atau muncul
00:54di tempat-tempat lain.
00:55Jadi, itu yang kita tangani saat hari ini.
01:01Jadi, sisanya itu sudah dipastikan benar-benar padam Pak?
01:05Atau masih ada peluang atau kemungkinan untuk api kembali muncul di titik-titik yang sudah dinyatakan padam tersebut?
01:11Masih tetap ada peluang untuk terjadinya kebakaran baru di titik-titik yang sudah dikatakan padam.
01:18Karena ini kan karakteristiknya dari gambut.
01:22Gambut itu memang hanya hujan yang bisa membuat itu menjadi tergenang.
01:30Hujan yang deras dan tentu tidak satu kali dua kali untuk memadamkan secara completely totally padam.
01:37Jadi, memang kita harus menunggu waktu hujan alamiah ini terjadi.
01:45Walaupun demikian, kita tetap akan melakukan berbagai upaya untuk memadamkan.
01:51Satgas darat kita senantiasa bekerja siang malam untuk melakukan berbagai upaya untuk pemadaman.
02:00Tentu untuk satgas udara tentu akan menyesuaikan kondisi di lapangan.
02:07Apakah memang visibility atau jarak pandang memungkinkan.
02:11Atau juga kalau memang ada bibit awan, bibit awan di angkasa tentu ini juga bisa lakukan operasi modifikasi cuaca.
02:20Jadi, situasional untuk adanya di penanganan satgas udara, tetapi untuk satgas darat tetap dilakukan semaksimal mungkin.
02:34Oke.
02:35Ada enam provinsi begitu ya Pak, betul data dari BMPB yang tercatat mengalami karhutlah Pak?
02:43Ya, ada enam provinsi prioritas, tapi ada juga provinsi lain yang tidak prioritas.
02:49Enam provinsi prioritas artinya memang peraturan presiden menyatakan itu untuk ditangani karena memang gahan lambut.
02:57Tetapi di provinsi lain juga ada, tapi itu relatif jadi lahan mineral yang relatif lebih gampang untuk dipadamkan daripada dibandingkan
03:09dengan karhut gambut.
03:12Di wilayah mana saja Pak yang menjadi prioritas?
03:15Atau yang bahkan hingga hari ini, per hari ini begitu ya Pak ya, titik kapinya masih cukup besar berdasarkan pantauan
03:20dari BNPB?
03:22Ya, tentu kita lihat ada di Sumatera Selatan, kemudian Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah ini.
03:29Tiga ini sangat intens sekali.
03:33Di samping ada juga Kalimantan Barat maupun Jambi.
03:36Nah, Riau, untuk Riau memang sudah terjadi hujan alamiah, sehingga ini sudah padam.
03:46Kami mendapatkan laporan tidak ada lagi titik api.
03:49Namun demikian kualitas udara masih relatif terganggu, karena memang asap dari Sumatera Selatan maupun Jambi
03:57menyebrang atau terbang ke Riau, sehingga memang di sana juga masih ada kabut, asap, tapi tidak terlalu setebal yang ada
04:13di Sumatera Selatan.
04:15Termasuk juga di beberapa wilayah yang dikeluhkan warga, karena kondisinya atau apinya semakin mendekat ke permukiman warga.
04:22Berapa jaraknya yang terdekat dengan permukiman warga Pak, atau setidaknya dengan wilayah yang dipadati oleh aktivitas warga?
04:30Kalau untuk itu kami tidak bisa menyampaikan, karena memang kami tidak terlalu sedetail itu sampai ke lapangan,
04:41tapi memang ada laporan sudah dekat dengan pemukiman warga.
04:47Nah, sedekatnya itu mungkin 120 meter saya tidak kurang paham.
04:52Yang penting bagi kami adalah kami tetap melakukan berbagai upaya, baik itu yang dekat dengan pemukiman tentu ini menjadi prioritas
05:02juga,
05:03serta yang relatif ada di daerah yang jauh pun sekalipun itu bisa kita jangkau untuk melakukan pemadaman tersebut.
05:18Oke, kalau saat gas udara tadi Pak Berton katakan masih menunggu situasi atau secara situasional akan diberlakukan,
05:25termasuk soal visibilitas di udara. Lalu bagaimana dengan saat gas darat? Apa kendala yang ditemui di lapangan Pak Berton?
05:31Ya, tentu sekali lagi kami akan tetap menyatakan ini bahwa yang utama itu adalah gambut.
05:39Gambut. Karakteristik gambut ini memang membutuhkan air yang luar biasa banyak untuk memadamkan sampai 2-3 meter ke bawah.
05:49Jadi itu tidak sekedar disiram, tapi memang membutuhkan treatment hingga gambut tersebut basah.
05:57Basah, guyup, sehingga ini padam dan tidak ada lagi.
06:03Sehingga membutuhkan air yang banyak.
06:06Pihak lain, kita juga tahu bukan cuma di dekat pemukiman, juga di tempat yang jauh.
06:13Jauhnya ini sulit dijangkau, baik itu melalui jalan kaki ataupun melalui kendaraan.
06:21Ini juga membuat kita kesulitan untuk memadamkan.
06:26Di pihak lain lagi, visibility juga di tentu teman-teman yang bekerja di saat gas darat juga.
06:34Visibility ini juga bisa mengganggu kesehatan mereka.
06:36Dan tentu juga perlu istirahat untuk memberikan energi maupun mereka juga perlu menghirup udara yang baru
06:46untuk tidak senantiasa ada di dekat-dekat dengan api maupun asap.
06:54Oke, ini kan dampaknya begitu serius ya Pak, terutama untuk kesehatan.
06:58Apakah ada yang perlu dievakuasi atau mungkin saat ini ada yang diungsikan begitu warga yang jaraknya,
07:08tempat tinggalnya dekat sekali dengan kebaran api Karhutla?
07:13Jadi begini, kalau masalah di Karhutla ini terutama karena asap,
07:19ini sangat dipengaruhi sebenarnya oleh adanya angin yang membawa asap.
07:25Jadi ketika asap terbang ke utara, angin ke utara, asap akan dibawa ke utara.
07:31Keselatan akan dibawa ke selatan.
07:33Hal ini menyebabkan kurang efektifnya ketika ada evakuasi.
07:38Karena kita tidak tahu kapan itu akan beralih kemana.
07:43Nah, yang kita lakukan adalah kami senantiasa berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan,
07:51Dinas Kesehatan, untuk lebih mendekatkan fasilitas kesehatan ke warga,
07:56sehingga ini bisa orang-orang yang memang rentan terhadap saluran pernafasan akut misalnya,
08:05ada infeksi, ini juga bisa ditangani dengan baik.
08:09Kemudian menyampaikan atau mendorong masker lebih dekat dengan warga,
08:17sehingga bisa dengan mudah untuk dibagikan.
08:20Ini langkah-langkah kita, bukan kepada warganya, tetapi pelayanannya yang kita lebih dekatkan.
08:26Berarti dorong untuk, tanda-danda katakan, mendekatkan fasilitas kesehatan untuk lebih menjangkau kepada warga,
08:31agar warga tidak perlu jauh keluar rumah di tengah kepungan asap.
08:35Berarti salah satunya dengan jemput bola atau puskesmas keliling begitu, Pak Berton?
08:40Ya, kita berharap sebenarnya puskesmas keliling lebih banyak,
08:43tapi kami kurang memahami datanya.
08:46Ini yang kita dorong untuk teman-teman Kementerian atau Dinas Kesehatan bekerja,
08:51termasuk juga tentu ada pos-pos atau desa-desa yang dibagikan masker,
08:58sehingga kepala desa 2-3 orang bisa membagikan ke setiap rumah tangga,
09:02dan ini tidak perlu mereka mencari ke luar rumah,
09:07dan lebih banyak aktivitas di dalam rumah tentunya.
09:10Pak Berton, kali ini terkait dengan upaya penanganan yang dilakukan oleh Satgas Udara.
09:15Mungkin saja BNPB juga sudah berkoordinasi dengan BMKG dalam hal ini.
09:19Penanganan oleh Satgas Udara sangat dipengaruhi oleh cuaca,
09:24begitu salah satunya.
09:25Apakah untuk hari ini memungkinkan upaya penanganan yang dilakukan oleh Satgas Udara,
09:29mungkin Pak Berton sudah berkomunikasi juga dengan BMKG?
09:32Seperti apa, Pak Berton?
09:33Ya, kami mendapat laporan di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Selatan,
09:38ada beberapa yang bisa dilakukan untuk OMC.
09:43tempatnya saya lupa, tapi tadi saya baca di laporan,
09:46bahwa ini memungkinkan untuk melakukan OMC dan juga uterbombing.
09:52Jadi, tentu ini sangat situasional lagi.
09:56Kalimantan Barat ini memang saat ini sudah relatif lebih baik dari 2 minggu yang lalu,
10:01karena memang ada bibit-bibit udara di angkasa,
10:05sehingga ini bisa dilakukan.
10:06Nah, di Kalimantan Selatan, di beberapa tempat menuju dekat dengan Kalimantan Barat,
10:12ini juga memungkinkan untuk dilakukan.
10:14Jadi, kita berharap, kita berdoa bersama-sama secara berkebangsaan sebenarnya,
10:20untuk situasi ini bisa dibantu dengan alam,
10:26namun kalaupun memang pemerintah dalam hal ini ingin melaksanakan percepatan,
10:32tentu bisa dilaksanakan setelah ada bibit-bibit awan.
10:35Kita berharap bibit-bibit awan maupun hujan alamiah segera terjadi dalam waktu dekat ini.
10:44Informasi terbaru juga yang kami dapatkan per hari ini,
10:48atau khususnya Jumat waktu setempat begitu ya Pak ya, di Malaysia,
10:51tepatnya di Kuala Lumpur,
10:52warga di sana juga mengeluhkan kabut asap yang pekat,
10:55yang diduga berasal dari asap dan pakar hutlah di Kalimantan dan juga wilayah sekitarnya.
11:00Bahkan di sana, sekolah juga untuk sementara di beberapa wilayah diliburkan,
11:03atau dengan menggunakan belajar daring,
11:07seperti apa koordinasi yang dilakukan khususnya dengan pemerintah atau pihak berwenang?
11:13Tentu kita menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa ini,
11:20di mana warga negara tetangga kita, Malaysia, Singapura juga ada asap yang diduga berasal dari Indonesia.
11:31Namun juga kami bisa menyampaikan bahwa ada beberapa waktu yang lalu ini,
11:38bahwa Bapak Presiden Prabowo juga sudah menjalin komunikasi dengan pimpinan negara dari Singapura maupun Malaysia.
11:45Dan ini menandakan sebenarnya untuk kita memperkuat kerjasama,
11:49penanganan kebakaran hutan dan lahan,
11:52dan bagaimana caranya.
11:53Dan ini tentu kita berharap ada lakang konkret dari kedua negara,
12:02sehingga bisa membantu dalam hal ini penanganan karhutlah.
12:10Langkah konkret ini tentu diwujudkan dengan ada kerjasama,
12:16ataupun komunikasi, koordinasi dengan kementerian lembaga,
12:19sehingga masyarakat kita bisa dapat menikmati hasil dari kerjasama ataupun koordinasi tersebut.
12:28Oke, Pak Berton, ini kan desakan muncul dari berbagai pihak,
12:32bahkan ada unjuk rasa yang mendesak agar percepatan penanganan atau upaya
12:38pemadaman karhutlah ini segera dilakukan dengan sangat maksimal.
12:42Informasinya juga, pemerintah juga bekerjasama dengan pemerintah Jepang,
12:45begitu ya Pak ya. Seperti apa tindak lanjut dan updatenya sejauh ini Pak?
12:49Apakah juga tidak hanya dengan depan, tapi juga dengan negara lainnya juga Pak Berton?
12:54Ya, tentu kita memahami dan menghargai kekhawatiran masyarakat maupun harapan masyarakat
13:02untuk segera masalah karhutlah ini diatasi dengan baik.
13:07Namun demikian, seperti yang saya katakan tadi,
13:10itu tidak semudah kita membalikkan tangan karena banyak kendala-kendala di lapangan.
13:15Tentu, pemerintah menjalin kerjasama dengan berbagai negara termasuk Jepang.
13:23Jepang juga sudah melaksanakan kemarin itu,
13:29membantu kita dengan mengirimkan tiga sinuk dan personil-personil.
13:35Dan mereka sudah melaksanakan dengan baik tugas dan misi mereka berhasil.
13:40Namun demikian, misi tersebut juga berakhir karena memang tugas mereka hanya beberapa,
13:48ada batas waktu yang diberikan.
13:52Namun demikian, tentu untuk bantuan dari negara-negara lain,
13:57kami sebagai penerima manfaat tentu akan merasakan,
14:05tentu kami senang ataupun bisa mendapatkan dari bantuan yang dari negara-negara tersebut.
14:17Tetapi kami tidak mengerti dengan komunikasi yang dilaksanakan
14:22karena itu adalah tugas dan tanggung jawab dari kementerian lembaga yang lain.
14:28Jadi, ada beberapa komunikasi yang kami dengar dari beberapa negara.
14:32Tentu ini juga komunikasi ini perlu dimatangkan atau dikongkritkan dengan langkah-langkah yang tentu,
14:40yang konkret.
14:41Sehingga kita menunggu seperti apa nanti dari negara-negara tetangga atau sahabat kita
14:48yang akan memberikan bantuan kepada Indonesia.
14:51Baik.
14:51Pak Berton, kita akan jeda dulu sejenak,
14:53nanti akan kami lanjutkan kembali wawancara bersama dengan Pak Berton
14:55terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia.
15:00Tetaplah bersama kami di Breaking News Kompas TV.
15:05Breaking News Kompas TV terkait dengan Karhutlah di sejumlah wilayah kembali untuk kandal saudara.
15:10Dan masih bersama kami, Kepala Pusat Data Informasi dan Kebencanaan Berton Panjaitan dari BNPB.
15:17Terima kasih, Pak Berton.
15:18PLT Kepus Datin dan Kebencanaan BNPB masih bergabung bersama kami.
15:21Pak Berton, tadi ada katakan ada Satgas Darat, Satgas Udara, dan juga operasi modifikasi cewaca yang juga dilakukan.
15:28Lalu, inovasi lainnya untuk penanganan yang dilakukan oleh BNPB,
15:31khususnya untuk penanganan karhutlah di sejumlah wilayah, seperti apa?
15:35Ya, tentu memang kita itu tidak berhenti seperti melakukan secara konvensional.
15:46Jadi, ada beberapa yang sudah kita coba upaya untuk melakukan penanggulan bencana ini.
15:54Yang pertama adalah menggunakan drone thermal untuk mendeteksi titik api di dalam tanah.
16:00Jadi, ini kita memastikan berapa jaraknya sih dari permukaan sampai ke bawah ada titik api.
16:09Sehingga kita membutuhkan air berapa untuk memadamkan ini dan upaya apa yang kita lakukan.
16:14Itu juga sedang kita lakukan sebenarnya.
16:17Kemudian yang kedua, kita juga menggunakan larutan surfaktan,
16:21di mana larutan ini membantu air membasahi dan menembus mineral organik yang terbakar dengan lebih baik.
16:30Jadi, ini bisa mentrep oksigen sehingga oksigennya tidak mengenai ke lahan gambut sehingga dia bisa lebih cepat padam.
16:41Kemudian ada juga yang ketiga yang baru-baru ini kita laksanakan di Sumatera Selatan,
16:45yaitu menggunakan gel pemadam.
16:48Jadi, seperti yang saya katakan tadi bahwa kita memang membutuhkan air yang banyak.
16:54Nah, dengan jad kimia ini, dengan air yang relatif sedikit,
16:59tetapi bisa membuat gel yang lebih banyak.
17:02Dan itu ketika disebarkan ke titik-titik api,
17:06dia akan bisa turun sampai ke bawah sehingga ini juga mentrep atau membasahi lahan gambut,
17:15oksigen tidak bisa masuk sehingga pemadaman bisa dilaksanakan.
17:18Nah, ini yang sekarang kita uji coba karena memang yang sangat efektif itu adalah
17:24dengan cara Satgas Darat ini bekerja secara maksimum untuk menyebarkan ini.
17:33Dan kemungkinan besar juga, gel ini juga akan kita terapkan di beberapa tempat di Kalimantan
17:39dengan helikopter.
17:41Sekarang lagi belajar bagaimana caranya untuk menjatuhkan gel ini
17:47karena memang masih metode baru.
17:50Dan mudah-mudahan ini bisa berhasil.
17:53Kalau kita berhasil, akan kita terapkan nanti di tempat-tempat lain tentunya.
17:58Baik.
17:58Pak Berton, ini kan kalau tidak salah hitung sudah sekitar 4 bulan ya Pak.
18:01Terjadi karhutlah di berbagai wilayah di Indonesia, di sejumlah wilayah di Indonesia.
18:05Berbagai upaya penanganan telah dilakukan.
18:07Kemudian berbagai kendala juga telah dihadapi oleh tim
18:10yang berupaya terus menangani kebakaran hutan di sana.
18:13Ada nggak sih Pak target dari BNPB dan tim khususnya
18:17sampai kapan karhutlah ini dapat meredah?
18:21Tentu target kita itu adalah memadamkan api secara komplit tidak ada lagi.
18:27Tapi, nah itu sepertinya ini akan terbantus dengan adanya hujan alami.
18:36Nah kita berharap hujan alami ini setelah dasarian ketiga bulan Oktober ini
18:41yaitu mungkin sekitar minggu ketiga, minggu keempat akan terjadi di beberapa tempat.
18:48Ada juga nanti dasarian pertama di bulan November.
18:55Ini yang kita harapkan nanti bisa berakhir dengan sempurna.
18:58Kita tahu di Riau sebenarnya titik api yang dilaporkan tidak ada lagi
19:04karena memang hujan sudah turun secara alamiah.
19:07Nah kita, seperti yang katakan tadi, kita mohon doa dan harapan seluruh rakyat Indonesia
19:13untuk kita sama-sama memohon kepada Tuhan Yang Maesah
19:17agar hujan segera terjadi.
19:20Demikian Mas.
19:21Baik, tentu saja kita berharap agar penanganan kebakaran hutan
19:25dan lahan yang dilakukan dapat berjalan semaksimal mungkin
19:28serta layanan kesehatan dapat semakin dekat menjangkau masyarakat
19:32untuk dapat mengobati penderitaan kesehatan warga yang dialami.
19:37Terima kasih atas informasi yang Anda bagikan di program Breaking News pagi hari ini
19:42PLT, Kapus Datin dan Kebencanaan BNPB, Pak Berton Panjaitan.
19:45Salam sehat Pak Berton.
19:47Terima kasih.
19:49Saudara Breaking News Kompas TV akan kembali usai jidah.
19:52Tetaplah bersama kami.