Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum juga sepenuhnya padam.

Di Desa Sungai Pelang, api bahkan mengancam rumah warga yang berada tak jauh dari area lahan terbakar.

Seorang warga Kalbar bernama Linda mengaku tidak berani kembali ke rumah ketika kebakaran hutan berlangsung. Api dari lahan yang terbakar terus mendekati rumah warga.

Linda bersama suaminya bahkan harus menyemprot area sekitar rumah untuk mencegah api merambat.

Kondisi tersebut sudah berlangsung hampir satu bulan.

Asap dari kebakaran pun terus dihirup warga yang bertahan di sekitar lokasi.

Kondisi semakin sulit karena lahan yang terbakar merupakan gambut dengan kedalaman yang mencapai puluhan meter.

Bahkan, jika tidak segera ditangani, salah satu petugas di lapangan memperkirakan api dapat merambat ke permukiman dalam waktu kurang dari satu jam.

Kepala Pelaksana BPBD Kab. Ketapang, Kalbar, Yunifar Purwantoro mengatakan api tidak selalu terlihat di permukaan. Namun, panas dan bara masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut.

Pemadaman pun terus dilakukan oleh tim gabungan.

Namun, untuk kebakaran di lahan gambut, proses pemadaman tidak bisa serta-merta membuat api benar-benar hilang.

Pemadaman dilakukan menggunakan sejumlah peralatan, termasuk mobil tangki, mesin penyemprot, hingga nozzle.

Tim juga mengandalkan water bombing untuk membantu menangani titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau dari darat.

Namun, asap tebal juga menjadi kendala bagi proses pemadaman dari udara.

Keterbatasan alat membuat petugas harus bekerja secara bergantian, sementara titik api masih tersebar.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/yCH1QCwce2o




#karhutla #kalimantan #bencana

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/689654/warga-ketapang-sebut-sudah-1-bulan-area-rumahnya-terdampak-karhutla-dipo
Transkrip
00:01Sebenarnya saya mendapatkan informasi bahwa ada salah satu sumber titik panas atau mungkin bahkan titik api yang menyala persis di
00:11dekat rumah warga yang ada di perbatasan jalan provinsi ini, saudara.
00:15Saya akan coba masuk ke dalam untuk melihat seperti apa situasinya.
00:20Oke.
00:22Dan ini adalah rumahnya ya.
00:25Rumah warga terdekat dari area lahan yang terbakar, sekarang kamu mendekat.
00:34Amin, ibu yang punya rumah ini, ibu, setiap hari tinggal di sini?
00:38Iya, memang kami kan di sini betuk pun, Bang.
00:41Selama ada kebakaran, kami tidak berani balik.
00:44Tidak berani balik, Bang. Takutlah.
00:47Takut kebakaran lahan ini membakar juga rumah ibu?
00:50Iya, pastilah, Bang. Kami berdua sama bapak itu dari belakang nyemprot ini sampai maghrib, sampai maghrib baru masuk ke rumah.
00:56Sudah berapa lama kondisi seperti ini?
00:59Pokoknya kami, ibu yang bertahan di sini sudah hampir sebulan lah.
01:02Sudah hampir sebulan ya?
01:03Sudah mulai api dari sana itu kan harapannya mati, tapi ternyata sampai sini juga apinya.
01:09Berarti ibu menghirup asap ini sudah kurang lebih sebulan?
01:12Iya.
01:16Saya akan coba masuk ke area lebih dalam ya.
01:20Di sini sudah ada pasional TNI dan juga PPBD.
01:24Ada titik api di sini, Pak?
01:26Tidak, Pak.
01:27Mari saya coba menggunakan kenyalaan, karena ingin menyatakan.
01:30Saya akan coba masuk ke dalam ya, saudara, untuk melihat seperti apa titiknya.
01:34Ini menggunakan selang ya, yang sudah disambungkan ke mobil pembangunan kebakaran.
01:39Nah, perampasannya sudah sampai di sini tadi.
01:41Sudah sampai di sini, Pak?
01:42Iya.
01:42Ini yang masih parah asap ya.
01:44Oh, oke.
01:45Ini saat ini ada kebulan asap yang sangat pekat ya, Pak.
01:48Iya, pekat sekali, Pak.
01:49Oke.
01:50Tapi kalau melihat posisi titik sumber panas, Pak, atau api di sini, apakah memungkinkan merambut ke rumah warga?
01:58Karena jaraknya sudah dekat sekali ini.
02:00Iya, ini kalau dibiarkan, tidak sampai satu jam, sudah sampai ke rumah warga ini.
02:25Terus saya akan masuk secara langsung ke area lahan yang kemudian terbakar di Kabupaten Ketapan.
02:32Tepatnya di desa sungai Telang, tetapi karena area ini adalah area yang berbahaya, saya tidak akan sendiri.
02:38Saya akan ditemani dengan Bapak Bupati Ketapang, Bapak Alexander Medina, dan juga Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang, Pak Alex, dan
02:48juga Pak Unifar.
02:49Terima kasih untuk waktunya, Pak.
02:51Di depan kita persis, Pak, bisa dilihat bahwa pertama 1 September, area ini berubah, ataupun menjelma menjadi lautan api.
02:58Apa yang sesungguh terjadi saat itu, Pak?
03:00Ya, karena itu suatu malam hari itu angin lebih kencang, dan ini lahan gambut dalam.
03:06Nah, kalau gambut itu, apinya ada di bawah, ya.
03:11Kalau kedalaman sampai 20-30 meter, kalau siang hari tidak nampak.
03:15Kalau malam nanti kelihatan merah-merah apinya.
03:17Di area pelang ini, kedalaman gambut dari 10 sampai 40 meter.
03:21Gambut terdalam di wilayah Ketapang di sini.
03:23Gambut terdalam di wilayah Ketapang?
03:25Oke.
03:26Makanya kebakaran lahan juga yang terparah di sini, gambutnya.
03:30Oh, oke. Ini wilayah terparah, ya?
03:32Ya, jilanya sini. Dari jalan pelang ini.
03:35Untuk titik apinya sendiri, Pak?
03:38Ya.
03:38Awal mulai titik api itu gimana?
03:41Salah satunya ada beberapa titik api.
03:43Widung itu lagi 8 pengadaman.
03:45Oh, oke.
03:46Di tim gabungan kita dari TNI, Polri, ya.
03:49BPPD.
03:50Artinya ini proses pengadaman masih terus berlangsung, ya, Pak, ya?
03:53Ya, kalau gambut itu nggak bisa sangat-sangat tuntas.
03:55Tidak bisa seratus persen tuntas.
03:58Jadi, ada hujan, ya?
04:00Kalau kita ini aja ada berlembab, apa, untuk pendinginian lah pengadaman sementara.
04:04Secara perubahan, Pak, saya juga sudah melihat secara visual drone,
04:07area ini begitu luas.
04:09Berapa sebarang yang terbakar?
04:11Lebih kurang 500 titik, lah.
04:13500.
04:13Dari hari ini kan sampai hari ini lebih kurang 2 ribu.
04:16Iya.
04:162 ribu dari rendah menengah sampai ketinggi.
04:19Kalau kita ambil 50 persen keakurasiannya, ya, mungkin di sini ada 25 titik tanah gambut.
04:27Hati-hati.
04:28Ini bukan berarti nggak ada api, nih.
04:30Asapnya ada api.
04:31Di dalamnya, ya, Pak, ya?
04:32Yang masih berasap, nih.
04:33Dalamnya masih ada api, nih.
04:35Ada satu selang yang digunakan.
04:37Ada titik lain, mungkin, Pak?
04:38Ada.
04:38Yang bisa di...
04:39Di sana.
04:40Tujuk apa?
04:40Ada juga.
04:41Ini banyak, nih.
04:42Oke, boleh kita ke sana, ya, Pak, ya?
04:43Oke.
04:44Saya bersama dengan Pak Bupati.
04:45Jadi, kan banyak orang ngira, loh, apa yang dipadamkan?
04:48Nggak ada apinya?
04:49Sebenarnya, nggak gitu kalau digambut.
04:50Artinya, meskipun yang terlihat kepulauan asap, tidak terlihat api pada saat kondisi terang,
04:56tetapi ini sebenarnya masih area yang menjadi sumber panas, ya, Pak, ya?
05:01Iya.
05:03Jadi, tunjukkan itu salah satu personil yang sedang membasahi, ya?
05:07Kurang lebih kurang lebih kurang, ya.
05:08Tapi pertanyaannya, Pak, proses pemadaman ini apakah memang hanya menggunakan selang?
05:12Atau mungkin ada metode lain?
05:14Ya, yang kita punyai, nih.
05:16Yang kedua, kan kita water bombing, ya, Minatak Probe.
05:19Water bombing, sebentar lagi terbang.
05:20Ya, water bombing.
05:21Water bombing sebentar lagi terbang?
05:22Ya, cuman kan kalau asap terlalu kuat, dia juga nggak bisa.
05:25Tidak bisa melihat, ya?
05:26Bukit semua dari atas.
05:28Oh, mungkin nggak masih salah.
05:29Tapi, mohon maaf, ketika dua bulan atau mungkin satu bulan lebih,
05:34proses pemadaman karhotla ini belum kunjung selesai,
05:37apakah mungkin ada kekurangan alat-alat mungkin, Pak?
05:40Atau mungkin sumber daya manusia?
05:42Ya, salah satunya alat kita akui, ya.
05:45Alat kita kurang.
05:46SDM kita cukup.
05:47Karena kita juga dapat tambahan dari Mabes Polri, dari Brimob, dan dari Mabes Teddy, ya.
05:52Dan alat ini pertama dari mobil tanki, ya.
05:55Yang kedua, alat mesin penyiram, termasuklah, apa itu, pumpop nozzol.
06:02Nah, itu satu, ya.
06:03Yang kedua, sumber air.
06:05Sumber air yang utama.
06:06Maka, kita lihat tadi, di situ kan sudah digali baru.
06:09Nah, awalnya, susut sekali air kita harus angkut dulu pakai mobil tanki ke sini.
06:14Baru mereka disengisihkan, semprot, gitu.
06:16Dan ini ada kebaran api, ya?
06:18Ya, ini yang masih menyala.
06:19Ini kalau ini api permukaan.
06:21Nah, ini tadi kan nggak ada api, kan?
06:22Iya.
06:22Nah, sekarang ada api.
06:23Jadi, awalnya dia hanya aneh, hanya kayak gini, nih.
06:27Oh, oke.
06:27Hanya seperti ini, ya, Pak?
06:28Hanya asap.
06:28Tapi ketika ada bahan bakarnya, dia akan menyala.
06:31Ini kan bahan bakar, ya.
06:32Oh, oke.
06:32Bahan bakar itu ya rumput, daun yang kering.
06:35Ah, kayaknya, sana-sana.
06:37Di sana, ya?
06:38Nah, di sana juga ada kebaran api lagi.
06:40Di sini, Pak, muncul.
06:41Oh, oke.
06:42Ini karena kita sudah lokalisir tadi, kan?
06:44Sudah diberikan pembasangan.
06:50Dengan area kebakaran lahan di wilayah kita saat ini yang bahkan menyentuh hingga ratusan hektare.
06:57Dengan alat, mohon maaf sekali lagi, seadanya.
07:00Dan juga dengan hal-hal yang masih banyak dibutuhkan.
07:02Apakah bisa seluruh titik di sini padam, Pak?
07:07Nah, semampu kami.
07:08Kalau bilang bisa atau tidak, ya.
07:10Yang penting kita sudah itiar.
07:11Kita kompak lah semua sargas yang ada, ya.
07:14Semampu kami.
07:16Ya, yang kedua ya, minta pertolongan tadi.
07:18Oh, terbombing, kan?
07:19Setelah itu, ya, kalau bisa sudah mencukupi syarat, ya kita minta hujan.
07:25Kalau tidak ada hujan, itu akan mempersulit juga, Pak?
07:27Ya, tinggal pas lagi nih.
07:30Semampu kita beritiar lah.
07:31Ya, berjuang lapangan.
07:32Tapi kalau ada bantuan alat, mungkin kan pengarahan sumber daya lebih maksimal, ya.
07:37Sekarang kan alat terbatas, kan kita giliran.
07:39Gili-giliran, gitu.
07:41Sedangkan titiknya banyak.
07:45Terjadi juga kebakaran hutan lelan itu di beberapa wilayah konsesi.
07:49Lalu pertanyaannya, apakah ada potensi kelalaian pengawasan, Pak?
07:53Yang kemudian dilakukan sehingga kebakaran terus berulang.
07:55Terima kasih.
07:57Terima kasih.
07:57Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan