00:00di 50 sigmat yang telah kami keluarkan.
00:02Dan kemudian ada hal yang juga barusan saya laporkan kepada Bapak Sekretaris Kabinet.
00:07Ada empat bandara yang posisi dari pengamatan paper test itu telah menunjukkan negatif,
00:14yaitu di Soekarno-Hatta, Alim Perdana Gusuma, Husin Sasranegara, dan Budiarto Curug.
00:20Untuk Soekarno-Hatta, ini empat kali berturut-turut paper testnya telah menunjukkan hasil negatif,
00:26artinya tidak ada debu volkanik yang terpantau dari paper test ini.
00:31Hal ini terus kami komunikasikan dengan VAC yang ada di Darwin agar sigmatnya dapat dipulihkan,
00:39dan kemudian nanti Bapak Menteri Perhubungan selanjutnya akan menjelaskan terkait dengan otoritas bandara
00:45yang akan menentukan pembukaan mungkin secara terbatas dari bandara-bandara yang telah dipantau
00:51empat kali berturut-turut telah bersih dari debu volkanik.
00:56Kemudian juga kami membuat, atas arahan Bapak Seskap dan Bapak Mensesnek,
01:01kami membuat Aviation Weather Station, jadi website yang secara terupdate terus-menerus,
01:08karena banyak sekali pertanyaan masyarakat, bandara mana yang sedang ditutup, sampai kapan.
01:12Nah ini semua bisa dibuka di dalam website ini.
01:15Terima kasih Pak Seskap dan Pak Mensesnek atas arahannya.
01:18Dan saat ini ada 9 bandara yang ditutup di Indonesia, 8 yang ada di sekitar Selat Sunda akibat letusan gunung
01:26Anak Krakatau,
01:27dan 1 yaitu di bandara Lewa-Leba Wanupitu yang ada di Lembata ditutup karena adanya letusan gunung Ili Lewatolog.
01:38Ini posisinya akan bisa diakses masyarakat dan secara real time akan berubah ketika bandara-bandara ini mulai beroperasi kembali.
01:46Kemudian kami masuk ke tsunami, bahwa setelah kejadian erupsi dari gunung Krakatau dulu waktu di tahun 2018,
02:01ada longsoran yang menyebabkan tsunami waktu itu di Tanjung Lesung dan sekitarnya,
02:06ini kami telah memasang 20 tsunami gig yang tersebar di sekitar area Selat Sunda.
02:12Tsunami gig ini terus-menerus memantau dan sampai saat ini tidak ada anomali kenaikan muka air laut akibat tsunami
02:20yang diakibatkan oleh erupsi gunung Anak Krakatau.
02:24Kemudian juga kami juga memantau erupsi gunung Krakatau,
02:29selebihnya nanti akan dibahas mungkin oleh Kepala Badan Geologi,
02:34bahwa ada tiga lokasi rekaman magnet bumi yang kami pasang di Lampung Selatan,
02:40kemudian diseram hingga di Sukabumi, ini juga memantau anomali dari erupsi gunung Anak Krakatau.
02:46Dan juga kami pantau sejak dari pukul 23, tanggal 4 September,
02:52hingga yang terjadi pada saat ini, amplitude gangguan geomagnetik dan jumlah sambalan petir vulkanik,
03:00itu menunjukkan tingkat erupsi yang lebih kecil dari dua erupsi pada tanggal 4 September malam,
03:07dan juga tanggal 5 September. Jadi ada proses peluruhan dari erupsi berdasarkan data medan magnet
03:14dan juga dari petir vulkanik yang dimiliki BMKG.
03:18Kemudian juga ada 20 lebih sensor seismograf yang berada di sekitar Selasunda,
03:25ini terus memantau terkait dengan erupsi gunung Anak Krakatau,
03:31dan juga potensi terjadinya flank collapse juga seperti tahun 2018,
03:36agar kita terus bersiap untuk kedatangan tsunami apabila memang akan terjadi.
03:41Kemudian juga kami kebetulan juga telah memasang high frequency radar
03:47yang dapat memantau kondisi gelombang, arus, angin, dan juga sekarang kita setting menjadi tsunami mood,
03:56sehingga ketika tsunami datang pada jarak sekitar 150 km,
04:00ini dapat dideteksi dengan adanya high frequency radar array ini yang telah kita pasang di pantai Carita
04:07hingga memanjang hingga ke Tanjung Lesung.
04:10Kemudian juga untuk selain penerbangan,
04:14juga BMKG terus memonitor koordinasi dengan Direktur Jenderal Perhubungan Laut,
04:18Kementerian Perhubungan untuk kondisi perairan.
04:21Telah diterbitkan juga notice to mariners,
04:24intinya bahwa ada pelarangan pergerakan atau aktivitas kapal
04:30dalam gradius 3 km dari kawah gunung Anak Krakatau
04:33selama badan biologi menetapkan 100 level 3 untuk siaga.
04:38Kemudian sedikit tentang modifikasi cuaca,
04:41sedikit lagi ini adalah hal yang sangat menantang bagi BNPB dan juga BMKG
04:47dalam melaksanakan operasi modifikasi cuaca,
04:49karena kita harus menjaga agar tidak terjadi kerusakan mesin pesawat,
04:53penurunan jaga pandang, dan gangguan navigasi dan sensor pesawat akibat debu vulkanik,
04:58juga harus adanya perubahan rute karena ada sebaran debu ini.
05:01Kemudian tadinya akan dilaksanakan di Bandara Hussein Sastra Negara,
05:07tapi kemudian ditutup dan sekarang semoga dalam waktu dekat bisa dibuka
05:11agar dari Hussein, kemudian dari Kertajati,
05:13ini juga bisa beroperasi dan akan lebih efektif lagi
05:17apabila bandar udara di Pondok Cabe bisa dibuka.
05:20Karena kita bisa melihat bahwa semakin jauh jaraknya dari Selasunda,
05:24maka efektivitas dari operasi modifikasi cuaca ini akan menurun.
05:28Misalnya kalau kita harus melaksanakan dari posku Ahmad Yani,
05:31maka jangkauannya agak terbatas untuk dapat menghujankan daerah di sekitar Selasunda tersebut.
05:38Kemudian juga izin kami laporkan, Bapak Presiden,
05:42bahwa BMKG dan BNPB itu juga telah memiliki pengalaman
05:48dalam melakukan operasi modifikasi cuaca dalam menangani debu vulkanik
05:53di letusan Gunung Lautobi.
05:55Ini juga telah berhasil dengan efektif memicu presipitasi atau hujan yang merata di wilayah karger,
06:02membersihkan pemukiman dan jalan raya dari abu,
06:05dan juga mendukung pemulihan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.
06:09Harapannya nanti dengan pengalaman ini kita dapat menerapkan hal yang sama
06:13di daerah sekitar Selasunda untuk mengurangi dampak bagi masyarakat luas.
06:20Saya kira demikian yang dapat kami laporkan,
06:22Bapak Presiden, saya kembalikan kepada Bapak Seska.
06:25Terima kasih.
06:28Terima kasih.
06:31Terima kasih Bapak Kepala BMKG.
06:34Selanjutnya mungkin
Komentar