Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 14 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Peraih Nobel Ekonomi 2024 James A. Robinson menilai keberhasilan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan membangun institusi politik dan ekonomi yang inklusif.

"Untuk menjadi negara yang sukses, sebuah negara membutuhkan institusi ekonomi dan politik yang inklusif," kata Robinson.

Robinson menilai Indonesia telah mengalami perkembangan dalam membangun institusi politik yang demokratis.

Robinson mengatakan bahwa Indonesia memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang.

"Menurut saya, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar," katanya.

Sementara itu, Akademisi sekaligus Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menilai keadilan dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan Indonesia.

Komarudin menilai nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan secara nyata dan dapat diukur melalui kondisi kehidupan masyarakat.

"Negara ini dibentuk untuk melayani rakyat. Rakyat adalah pemberi mandat, dan negara adalah pihak yang harus melayani mereka," kata Komaruddin.

Video Editor: Noval

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688090/james-a-robinson-soroti-potensi-indonesia-yang-belum-dimanfaatkan-optimal

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00There, so I think Indonesia, there are successes, you know, you could say it's much more complicated.
00:27There's many different sorts of institutions, you know, political institutions, you know,
00:32I think if you think about inclusive political institutions then that's about the nature
00:37of the state, the capacity of the state to raise taxes, to implement policy, but it's
00:43also about the distribution of power.
00:46You know, you think of that in terms of democracy, in terms of how well democracy does at making
00:53politicians accountable, inducing them to provide services to the people to kind of act in the
00:59general, the collective welfare.
01:02Economic institutions, I'm not an expert on the Indonesian economy, so, you know, I could
01:08say, you know, if I just looked at the data, you know, obviously in the political sphere
01:12Indonesia has become, it's disentangled itself from colonialism, you know, it's slowly built
01:20democratic political institutions in the past 20 years after having had a long period of autocratic
01:26rule under President Suharto and the military, you know, so it's built inclusive political
01:33institutions.
01:33I'm not quite sure I understand how the state works here or the economy.
01:38I would say that if you look at the big picture, if you look at the national income, you know,
01:43for example, the capital of Indonesia, it's about $5,000, you know, it's grown, it's grown,
01:50you know, but it's grown much less rapidly than it could have done if you compare it to,
01:56say, South Korea over the same period of time or Taiwan.
02:00I think that tells you something about the potential that is there.
02:04So, I think Indonesia, there are successes.
02:08You know, you could say it's a much more complicated country.
02:10It's a much more complicated place to build a post-colonial state than South Korea.
02:15and so the problems were harder.
02:17That may well be true.
02:19But I think those numbers suggest there's a lot of unfilled potential here.
02:41When the people of the country were fighting for Indonesia, there were three obsessions of them.
02:48One, the independence.
02:49The independence.
02:50Then it's already figured that we are being developed.
02:54It's about it.
02:55Then the economic- encima internal agreement
02:56and in언ference,
02:57it is obviously necessary.
02:58So, because it was a small case,
03:01the first world of 나 was filled up for healthier people.
03:06In the right room,
03:08that was a annual experience and vital situation.
03:13많은 germans that are состояниarms of them.
03:15So, great times the things and metaphors of them are draining and into publication,
03:19And the sanctification families whose father's community,
03:19dan kesejahteraan
03:20dan muara dari Pancasila itu adalah
03:23keadilan dan kesejahteraan
03:25bagi rakyat Indonesia
03:26nah sekarang ini
03:30yang terjadi adalah
03:32tidak ada satu
03:35roadmap, komitmen
03:37indikator
03:38padahal
03:41Pancasila itu sebagai galuan negara
03:43garis besar halal negara itu
03:46tidak usah dibuat, tidak apa-apa
03:47ikuti saja Pancasila
03:49dari keberagamaan, melahirkan
03:51kemanusiaan yang adil dan beradab
03:54ini pesan agama
03:55dan nilai universal
03:56kemudian persatuan Indonesia
03:59ditemukan dengan cara apa?
04:01musyawarah, mufakat
04:02maka kita menciptakan sistem demokrasi
04:06untuk apa?
04:07untuk keadilan sosial dan kesejahteraan
04:10dengan kata lain
04:11sekarang ini Pancasila
04:13harus dibaca dari bawah
04:16diukur dari bawah
04:18itu observable, measurable
04:19kalau ketuhanan itu abstrak
04:22tapi sudah berhasil
04:23tapi keadilan ini
04:25sebab kalau tidak
04:26Indonesia ini
04:27gagal tidak
04:28tapi lamban sekali jalannya
04:31dan terlalu mahal
04:32ongkosnya
04:33negara ini
04:35dibentuk untuk melayani rakyat
04:38rakyat itu majikan
04:40rakyat itu bukandung
04:41mereka yang dilayani
04:42jangan kemudian mereka lupa
04:45pada ibu kandungnya
04:46sehingga jadi maling undang
04:48negara
04:48jangan sampai kerja
04:54cara baru nonton di Smart TV
04:56nonton live streaming
04:58dan ribuan tayangan Kompas Gramedia
05:00langsung dari Smart TV kamu
05:02cara installnya
05:04buka Google Play Store di Smart TV kamu
05:06cari Kompas TV melalui pencarian
05:10pilih aplikasi lalu install
05:12selesai
05:13kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV
05:17download Kompas TV apps
05:20di TV kamu
05:20sekarang juga
Komentar

Dianjurkan