00:00Nah itu kita pikirkan nanti pas pembahasan anggaran 2028, tapi saya pikir kita bisa realokasi saran aslinya sehingga itu masih
00:09cukup.
00:10Tapi kalau untuk tahun depan nggak mau masih ada dari sektor pendidikan?
00:13Masih seperti ini, kan itu juga tahun-tahun depan kan, wajibannya 2028.
00:17Karena udah kebun dibahas kan 2027, kalau dihubung, berantakan semuanya. Itu yang kita cegah.
00:24Kalau nanti 2028 kira-kira bisa ambil dari pos mana?
00:27Nanti kita atur.
00:32Ya Mbak, Anda pasti incir yang besar-besar kan? Pasti Anda bilang MBG aja turunin, atau bisa lagi pertahanannya turunin,
00:43kesehatannya turunin, kayak gitu.
00:45Tapi yang jelas kan bisa diatur.
00:51Ya makanya kuncinya sekarang ke depan adalah peningkatan efisiensi pajak dan biaya cukai collection-nya ditangani dari kebocoran-kebocoran yang
01:02signifikan ke depan.
01:06Dan Anda bilang, Anda kan nanya berapa potensinya dari bajak aja yang nggak beroperasi dengan benar sesuai dengan aturan yang
01:14ada, yang dari Cina-Cina itu bisa 5 triliun lebih.
01:19Jadi ada juga bahan bangunan yang sama cara bekerjanya, 5 triliun lebih.
01:24Dari nanti yang seluruh depan-seluruh depan kita beresin juga, harusnya nanti akan lebih bagus.
01:30Karena yang bayar lebih banyak, dan perusahaan nasional juga jadi bisa lebih kompetitif.
01:37Yang perusahaan nasional bajak misalkan sekarang nggak berani gitu.
01:41Kenapa? Ketangkap, ketahuan.
01:42Tapi mereka ngasih tahu ke saya atau nggak beri sinyal lah.
01:46Kalau yang Cina nggak dibayar sini, saya juga akan begitu.
01:50Supaya bisa bersaing.
01:52Jadi saya mesti beresan betul itu dalam waktu dekat.
01:54Pak, mau klarifikasi aja untuk yang perusahaan bajak China itu, Pak, itu sebenarnya lebih ke intensifikasi apa intensifikasi sih, Pak?
02:02Mungkin kalau untuk tahun depan kan, Bapak kemarin juga bilang, untuk meningkatkan compliance itu arahnya ke depan-nya itu lebih
02:07baik.
02:08Intensifikasi kan seksiminsasi? Enggak, intensifikasi kan naikkan tarif.
02:11Ini eksensifikasi base-nya diperbesar dengan memaksa dia comply.
02:16Satu perusahaan itu aja sampai 1 triliun tuh dapetnya loh sebetulnya.
02:19Kemarin saya datangnya itu setahun ya.
02:24Tiga tahun lah.
02:25Belum kalau kita tarik lima tahun.
02:27Banyak tuh dapetnya.
02:30PPH, PPN, PPN, apa semua lah itu.
02:33Impornya juga bohong.
02:35Semuanya itu.
02:36Jadi kan kita beresin yang gitu.
02:42Ada, sudah sekarang Pak, diperiksa terus semuanya dan udah dihitung hutang pajaknya berapa.
02:50Iya, sebentar lagi, Tak Gin.
02:54Kendalanya ya dipajak masih lambat aja, nanti kita beresin.
03:00Fakta bahwa ada perusahaan seperti itu, puluhan tahun beroperasi, dan gak ketahuan.
03:06Berarti ada yang main memang.
03:11Yang melapor ke Pak Bubaya gak ada, tapi kita tahu sih ya, kira-kira ada yang main siapa aja.
03:21Jadi mau apa? Mau dipecat-pecat gitu.
03:26Iya, dalam waktu dekat.
03:32Pak, progres pembicaraan dengan Danantara gimana, Pak, soal yang wacana pengembalian sebagian dividen sebagai cadangan APBN?
03:41Kan kata Bapak lagi dibahas sama Danantara sama Pak Rosan, itu mungkin sampai saat ini bisa dibahas.
03:46Enggak dibahas, sudah dipastikan. Tinggal ditentuin kapan dia mengirim, itu aja.
03:50Itu kalau boleh tahu, porsinya berapa sepatnya dari dividen?
03:54Boleh, Pak.
03:57Biar aja. Sekitar Rp120 triliun.
04:00Itu tahun ini, Pak?
04:01Tahun ini.
04:02Rp120 triliun.
04:03Itu yang diputusan oleh Presiden.
04:06Kalau yang untuk tahun depan sudah ada pembicaraan?
04:09Belum, nanti tergantung kebijakan Pak Presiden.
04:13Tapi yang jelas itu kan bagus, dan antaranya keuntungannya meningkat, fiskal juga secara gak langsung diuntungkan.
04:21Kalau setahun-tahun sebelumnya saya cuma dapat Rp90 triliun dari dividen,
04:26kalau di Rp120 kan bagus, meningkat.
04:28Malah jadi saya gak rugi, pemerintah gak rugi, sama juga istimewa muntah.
04:32Kalau pendapatan gak terugi, malah nambah.
04:35Saya harapin ke depan untungnya lebih besar lagi.
04:37Kalau yang Rp120 triliun tahun ini, berarti akan kembali ke pos PNBP kekayaan Negara dipisahkan?
04:44PNBP ya? PNBP yang lain-lain kayaknya.
04:53Masih kita diskusikan?
04:54Nanti masih kita diskusikan untuk tanggal 15, yang jelas akan diserahkan ke kita kira-kira September.
05:03Ini kalau kita masih godok bentuknya yang paling pas seperti apa.
05:09melibatkan beberapa SMV dari Kementerian Keuangan.
05:13Tapi belum bisa saya umumkan karena belum terlalu masih dalam proses diskusi lah.
05:19SMV-nya berapa?
05:21Satu atau dua?
05:22Dua mungkin.
05:23PI ini ya?
05:25Belum.
05:26Bisa juga kita pakai yang SMV yang kecil, bisa juga yang besar.
05:30Kita lihat nanti skema yang paling pas seperti apa, masih diolah lah.
05:36Pak yang Rp120 triliun itu dari BK dan BUM.
05:40Keuntungan ya? Bukan dividen, dia keuntungan.
05:43Iya.
05:44Untuk tahun ini aja ya?
05:45Tahun ini?
05:47Sudah masuk Pak?
05:49Belum.
05:50Kapan?
05:51Saya mau nanya Pak Rosan juga, kapan mengirim uangnya?
05:54Itu tujuannya kalau dari sisi Kementeriannya untuk apa-apa?
05:58Untuk cadangan dulu supaya anggaran kita semakin kuat.
06:02Untuk supaya menjaga devisi tetap Rp285.
06:05antara itu juga untuk cadangan kalau kita perlu pengeluaran lebih yang tak terduga.
06:19PNBP, lain-lain ya?
06:22Kira-kira itu masuknya.
06:23Pak itu asumsinya, dividen totalnya berapa Pak?
06:26Maksudnya Rp120 triliun itu adalah berapa persen?
06:29Itu ditentu ini dari mana sih Pak Setelan di sana?
06:32Itu saya mungkin nggak berbicara itu.
06:34Karena punya Pak Rosan.
06:47BNBP.
06:48BNBP.
06:49Oh nggak apa-apa.
06:57Nggak apa-apa ini kan dicadangin ya Pak Gw.
07:13Saya mesti nunggu masukan dari Pak
07:18Proposal dari Kementerian Perindustrian.
07:22Tapi kan jumlahnya sama.
07:23Jumlahnya tuh dulunya 6 juta untuk 500 ribu.
07:26Sekarang 3 juta, terus 1 juta motor.
07:30Total kosnya 3 triliun.
07:32Sama.
07:33Nanti saya lihat apakah ada perubahan.
07:36Atau nggak sampai sekarang kami belum menerima
07:37proposal dari Kementerian Perindustrian.
07:39Surah gue kecil ya.
07:42Apar kayaknya nih.
07:55Oh kalau 6 kan kira-kira kalau kita lihat.
07:59Ini angka yang diperdebatkan sebetulnya nih.
08:00Di BPS tuh kalau kita lihat input-output table
08:04ada namanya kooposien teknik tenaga kerja.
08:071% PDB maksudnya berapa.
08:10Kalau 1% yang sekarang tuh
08:12kita lihat 400 ribu angkanya.
08:14Kalau 6, 6 kali 4 berarti 2,4 juta lapangan kerja
08:17akan tercipta dari pertumbuhan 6%
08:19lapangan kerja baru ya.
08:21Belum cukup untuk menyerap semua tenaga kerja
08:24yang masuk ke usia kerja.
Komentar