Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan dan unggahan bernada provokatif di tengah buntu dan memanasnya negosiasi dengan Iran.

Kita bahas bersama Wibawanto Nugroho Widodo, Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional sekaligus Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri DPP IKAL Lemhannas RI, serta Peneliti Asia Middle East Centre, Pizaro Gozali.



#presidenAS #AS #IRAN

Baca Juga Seskab Teddy: Atas Instruksi Presiden Prabowo, 253 Ton Logistik Telah Dikirim ke NTT di https://www.kompas.tv/advertorial/686418/seskab-teddy-atas-instruksi-presiden-prabowo-253-ton-logistik-telah-dikirim-ke-ntt



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/686421/full-pakar-peneliti-bahas-motif-trump-unggah-klaim-selat-hormuz-wilayah-baru-as
Transkrip
00:00Lalu apa motif Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat unggahan provokatif di tengah buntut-buntunya negosiasi dengan Iran?
00:07Kita bahas bersama Wibawanto Dogro Widodo, Pakar Gapolitik dan Kewangan Nasional, Sekaligus Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri, DPPI Kalemhanes RI,
00:16dan Peneliti Asia Middle East Santral Pizarro Gozali.
00:19Selamat petang, Mas Wibawanto. Selamat petang, Mas Gozali.
00:23Selamat petang, Mbak Ilwana.
00:24Ya, saya ke Mas Wibawanto dulu kalau begitu. Mas Wibawanto, apa yang Anda baca? Motif apa yang ingin disampaikan Trump
00:31melalui unggahan provokatif? Hormuz sudah jadi kekuasaan dari Amerika?
00:40Saya belum mendengar suara Anda, Mas Wibawanto.
00:46Saya bilang peta yang dimaksud oleh Trump itu bukan berarti hanya geografis ya. Jadi ini bicara mengenai kepasahan ya.
00:53Jadi kita bedakan, mana itu kedaulatan, mana itu dominasi, mana itu presence ya.
01:00Jadi disini apa yang diharapkan oleh Trump itu adalah menggunakan presence yang kuat dari militer Amerika, khususnya Angkatan Laut,
01:07untuk bisa memperoleh dominasi akses strategis dan operasional terhadap Hormuz.
01:13Kenyataan ini bukan berarti sovereignty.
01:15Itu poinnya tuh. Karena Hormuz itu adalah wilayahnya Oman dan Iran.
01:19Dan berdasarkan Ungklos Pasal 34, mereka lah yang mempunyai wilayah itu.
01:23Dan berdasarkan Pasal 38, bahwa negara yang mempunyai akses langsung kepada cokohi harus memberikan hak transit dengan tujuan damai.
01:35Jadi itu yang harus dilakukan.
01:36Jadi ini adalah de facto operasional control yang diinginkan oleh Trump.
01:40Ya Amerika menentukan siapa yang bisa lewat situ, dia memberikan Amerika sebagai penyedia keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
01:49Dan ini bicara mengenai kredibilitas dan detenance Amerika yang mau dipertahankan oleh Trump.
01:54Karena Hormuz itu adalah top point geopolitik.
01:57Siapa yang bisa mengamankan akses kepada Hormuz itu mempunyai pengaruh besar di dalam ekonomi global.
02:04Karena ini berhubungan dengan energi, pasal energi dan lain-lain.
02:10Jadi di sini Trump kembali lagi melakukan apa yang disebut dengan diplomasi coercive.
02:14Yang disampaikan adalah strategic signaling, itu yang pertama.
02:18Yang kedua adalah tekanan psikologi.
02:20Yang ketiga adalah menaikkan bargaining dalam negosiasi.
02:24Dan yang keempat adalah memberikan detenance baru terhadap Iran.
02:27Dan Iran pun juga memiliki kemampuan counter yang asimetris.
02:31Itu yang kita sudah ketahui bersama.
02:33Jadi kembali lagi, ini yang berbahaya adalah jika ada yang namanya escalation trap.
02:38Bahwa apa yang disampaikan oleh Trump, ditanggapi serius oleh Iran, direspon dengan counter threat, terjadi miskulasi dan eskalasi.
02:46Nah dampaknya adalah apa?
02:47Ya kembali lagi kepada risiko-risiko yang terkait dengan Hormuz.
02:51Baik itu untuk shippingnya, insurance, oil price, inflasi, dan juga ekonomi global.
02:56Nah Cina di mana posisinya dalam kondisi ini?
02:59Cina itu maunya semua itu stabil.
03:01Tidak Amerika, tidak Iran yang menguasai Hormuz.
03:04Tetapi semua menghormati ongklus itu prinsipnya itu.
03:07Nah ini jadi merupakan suatu kondisi yang mana akhirnya.
03:11Baik Amerika dan Iran itu tidak akan mendapatkan semua yang mereka mau.
03:15Tetapi mereka juga di dalam teori security and the securitization itu.
03:20Semakin pemimpin itu mengklaim mana yang ancaman, mana yang isu security, semakin mengeras pernyataan-pernyataan itu, ya semakin diulang-ulang,
03:29semakin susah juga mereka mundur dari situ.
03:31Nah ini ada perbedaan persepsi memang.
03:33Kalau bagi Amerika, Amerika harus menjadi yang namanya jaga hegemoni, stabilitas di Timur Tengah.
03:39Sementara bagi Iran, Amerika itu adalah ancaman ekstensial terhadap sovereignty dan juga keamanan rezimnya.
03:45Sementara Israel, Iran itu juga ancaman eksistensial.
03:49Ini yang belum ketemu.
03:50Dan Hormuz ini menjadi titik pertempuran dari semua yang sekarang sedang bertarung.
03:54Dan posisi dari negara-negara Gulf, posisi dari India, posisi dari China, termasuk Rusia, itu adalah ingin supaya ada stabilitas
04:02dan akses yang bebas kembali seperti kondisi sebelum 28 Februari 2026 di Hormuz.
04:09Dan itulah yang oleh Trump, itu maksudnya itu.
04:13Oke, Mas Pizarro, kalau dari pandangan Anda, apakah ungan provokatif tersebut sudah berhasil menekan Iran, nanti dijawab.
04:20Kompas Petang, sering kembali saudara, tetap bersama kami di Kompas TV.
04:23Kompas Petang, jadi Mas Pizarro, apakah Anda melihat bahwa saat ini Iran sudah tertekan dengan ungan provokatif dari Amerika Serikat?
04:31Toh buktinya mereka sudah merespon bahwa membantah pernyataan dari Trump?
04:37Yang jelas Ilona tidak bisa mengklaim sebuah slat hormus hanya modal cuitan ya, hanya modal status di media sosial.
04:43Menurut saya itu juga akan ditertawakan oleh dunia internasional.
04:46Dan itu yang sekarang terjadi di Iran ya, di Iran kita melihat mereka nggak begitu sangat serius merespon pernyataannya Donald
04:53Trump.
04:53Bahkan kita lihat ya, petinggi-petinggi IRJC mengatakan kami lebih percaya super taksi ketimbang Donald Trump.
04:58Karena klaim-klaim dia selama ini yang mengatakan menguasai slat hormus atau bahkan mengendelkan slat hormus, itu tidak confirm di
05:05lapangan.
05:05Bahkan yang menarik Ilona kalau kita lihat ya, sekarang misalkan di kapalnya saja di US Abraham Lincoln, itu kan laporan
05:11-laporan mengatakan terjadi krisis mental, tekanan mental bagi para awak Amerika Serikat yang sudah hampir 9 bulan tidak pernah visit
05:19court ya, tidak pernah menyentuh pelabuhan gitu.
05:21Kemudian bagaimana cara Donald Trump kemudian, oke lah mungkin teritori itu menguasai teritori itu jauh, atau mendominasi lah selemah-lemahnya
05:29iman Amerika Serikat gitu ya untuk melakukan tekanan slat hormus.
05:32Itu kan juga tidak terkonfirmasi, kalau kita lihat Iran masih bisa menembak kapal-kapal Uni Emirat Arab kan, dua kemarin
05:37ada kapal Adnok di slat hormus yang kapal Uni Emirat Arab yang ditembak oleh Iran.
05:42Dan menariknya untuk pertama kali, Iran itu pakai drone laut gitu. Jadi saya lihat ada dua pola sekarang yang terjadi
05:46di Iran ya, pertama dia semakin mengintensifkan produksi militer alutsista untuk kemudian mengantisipasi jika-jika kalau memang terjadi perang panjang,
05:56kemudian polanya sudah berubah tuh pada kualitas serangan dia.
06:00Memakai drone laut, kemudian serangan inisiatif misalnya ke Jordan, dan ini slat-slat tidak lepas ketika kemudian memang diplomasi, negosiasi
06:09itu masih menjalan buntu.
06:10Kemudian juga kalau kita lihat juga, kalau kita lihat memang Iran sudah nggak begitu saat mementingkan lah apa kata Donald
06:14Trump gitu kan, klaim-klaim Donald Trump gitu, bahkan untuk masuk ke meja perundingan itu kan juga kita lihat masih
06:19belum ada tandanya.
06:20Makanya kan sekarang kalau kita lihat Ilona, itu ada pergeseran shifting dari para mediator yang tadinya misalkan Pakistan begitu mendominasi
06:27untuk melakukan mediasi.
06:28Tapi kalau kita lihat karena sudah buntu juga, ada aktor-aktor baru misalkan kayak Iran, kayak Turki dan sebagainya untuk
06:33kemudian membawa Iran kembali mau masuk ke meja perundingan.
06:36Tapi sampai sekarang itu masih sulit.
06:37Mas Bivawanto, ini bukan sekali dua kali Trump mengeluarkan statement yang bahkan diragukan, tidak benar, tidak pernah terbukti begitu.
06:45Jadi sebenarnya strategi apa yang tengah disiapkan oleh Amerika?
06:49Ya, jadi kita harus melihatnya tuh dari teori struktural realism ya, bahwa kondisi anarki di dunia ini,
06:56di mana tidak ada kekuatan lebih besar dari negara, di atas negara, dalam sistem dunia, itu dibutuhkan yang namanya kekuatan,
07:03pertarungan terhadap untuk survive, mengamankan kepentingan nasionalnya, dan harus menghadapkan power, itu poinnya tuh.
07:11Nah, makanya ada yang namanya balance of power, ada yang namanya balance of threat, ada yang namanya balance of interest.
07:17Balance of power tuh dalam kuat-kuat, threat, ancaman-ancaman, dan balance of interest tuh dalam negara yang interestnya sama.
07:23Dalam hal ini misalnya, Cina dan negara-negara lain, itu sama interestnya.
07:27Mereka mau supaya ini stabil, kembali kepada kondisi sebelum adanya.
07:31Kalau keinginan mereka adalah kestabilan, Mas Bivawanto, maaf saya potong,
07:34artinya apakah negara-negara di global, termasuk yang punya kebutuhan di Selat Hormuz, akan lebih memilih Amerika, ketimbang Iran?
07:43Ya, jadi jawabannya akan begini, kita lihat ya, polanya ya, map yang Trump bilang, itu apa maksudnya?
07:49Sinyal kekuasaan, kembalikan kepada kami untuk menge-establish kondisi di Uklos,
07:54kondisi di Hormuz seperti sebelum 28 Februari, itu poinnya tuh Trump yang mau sampaikan ya.
07:59Dua, power, kami tidak mengejar yang namanya dominasi dalam konteks sovereignty,
08:05tetapi power, US Navy bisa bekerja sama, US military bisa bekerja sama dengan negara-negara lain
08:11untuk mengamankan kembali untuk menge-enforce nilai-nilai Uklos disitu, itu maksudnya.
08:15Law, law ini maksudnya adalah, yang tadi disampaikan oleh Mas Pisaro tuh,
08:20tidak ada yang namanya bisa meng-claim sovereignty hanya lewat social media.
08:24Nah mungkin, itu ada hukumit rasionalnya.
08:25Market, market ini bicara mengenai interdependency, ya jadi aliran liberalisme,
08:31semua itu saling membutuhkan, Iran pun membutuhkan, gitu loh, ya.
08:34Bahwa market, global market untuk energi ini harus tetap.
08:38Dan berikutnya eskalasi itu merugikan semuanya, gitu loh.
08:40Nah, makanya yang saya mau tekankan di sini adalah,
08:43strategi ini harus bisa ada kompatibilitas antara apa yang Amerika inginkan,
08:48apa yang Iran inginkan, dan juga apa yang negara-negara Gulf Country Council
08:52dan Great Power lain itu inginkan.
08:53Nah, hanya kalau kembali lagi ke pertanyaan tadi, Bang.
08:57Itu konteksnya tuh adalah sekarang, semua itu harus bisa menahan diri.
09:01Kembali lagi ke sana.
09:02Karena persepsi yang salah dari salah satu pihak,
09:06baik itu Amerika terhadap Iran, terhadap, dan Iran terhadap Israel dan Amerika,
09:10begitu juga Israel terhadap Amerika, terhadap Iran.
09:13Itu yang menjadi akar dari semua pergulatan yang setelah ini terjadi, gitu.
09:18Jadi, strategi dari Presiden Trump saat ini adalah memastikan bahwa Amerika tetap mempunyai deterans,
09:25Amerika harus merestore keadaan, Amerika harus memberikan jaminan keamanan di Timur Tengah,
09:30dan yang mana setelah ini, Mbak, yang terjadi sebenarnya adalah perbutan order baru di dalam Middle East.
09:37Yang saya bukan lagi nanti Amerika yang memimpin, dan juga bukan Iran yang memimpin,
09:42tetapi akan ada multi-polarity, gitu loh.
09:45Nah, ada Amerika, ada Amerika-Israel bersama Gulf Country Council,
09:49tapi Iran juga diperhitungkan, dan juga negara-negara Great Power lainnya seperti Cina,
09:54dan India juga mempunyai power dan akses yang cukup strategis di Timur Tengah
10:02untuk mengamankan kepentingan ekonomi, dan juga keamanan dalam hal militer.
10:06Dan kalau cara mengenai kekuatan militer, Amerika paling kuat,
10:09tetapi kekuatan militer itu tidak bisa menjamin adanya regional order yang mana Amerika yang mendominasi.
10:16Begitu juga, itu poinnya.
10:19Iran juga begitu, ya, Iran juga harus bisa bernegosiasi Amerika dan Israel juga.
10:23Akhirnya ke titik kesimbangan baru, Mbak.
10:25Oke, titik kesimbangan baru.
10:26Saya ke Mas Pizarro, jadi menurut Anda ke mana, ke arah mana mereka berdua?
10:30Lalu kemudian sebenarnya, siapa lagi yang akan menemani Iran
10:33di tengah kebutuhan dari global kestabilan terkait dengan slot Hormuz?
10:39Iya, sebenarnya diplomasi dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran
10:42itu belum sepenuhnya tertutup, Mbak Ilona, ya.
10:44Tetapi titik komponinya sekarang semakin sempit.
10:46Setelah terjadi pelanggaran MOJ berkali-kali, serang Amerika Serikat berkali-kali,
10:51dan Iran kemudian mematuk harga sekarang lebih tinggi ketimbang yang sebelumnya.
10:54Ini menurut saya akan menjadi sangat sulit untuk kemudian mencari kesepahaman di antara mereka.
10:59Kemudian kan kita mengetahui bahwa sekarang ada kocok ulang ke posisi keamanan yang ada di Iran.
11:05Kalau kita lihat naiknya Muhsin Reza'i, Hasan Taib,
11:07ini kan aktor-aktor yang sangat hard-hawki, sangat garis kerat di sana.
11:11Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka memasang syarat-syarat baru
11:15jika kemudian ingin masuk ke menja perundingan, penuncuran kemudian pencairan aset,
11:21kemudian pencabutan sanksi, dan lain sebagainya.
11:23Yang itu tentu berbeda dengan sebelumnya.
11:25Nah, saya kira sekarang tantangan utamanya bukan bagaimana kemudian mencari kesepakatan di antara mereka,
11:29tetapi membawa bagaimana mereka mau dulu ke menja perundingan.
11:32Ini yang menurut saya menjadi tantangan yang sangat utama.
11:34Di satu sisi, kalau kita lihat Iran sudah dalam posisi yang mereka sudah enggan masuk ke diplomasi,
11:38tetapi kalaupun mereka mau masuk, ada harga yang begitu mahal harus dibayar oleh Donald Trump.
11:42Tetapi kan pertanyaannya, Donald Trump butuh konsumsi kemenangan politik-politik domestik di Amerika Serikat,
11:47dia tidak mau kemudian tunduk begitu saja kepada Iran,
11:49dia juga pasti akan mematuhkan harga yang sangat tinggi,
11:51karena kan cara dia kemudian juga mengklaim Hormuz menjadi milik dia,
11:54itu kan juga bagian cara dia kemudian untuk menenangkan politik domestik di inter-Amerika Serikat.
11:58Nah, saya kira perlu ada penegakan kembali dari editor terbaru,
12:02ada Pakistan, ada Oman, mungkin juga ada Turki dan sebagainya,
12:05yang coba mendorong mereka kembali kemajuan perundingan.
12:07Saya kira itu cara yang kemudian bisa membawa Iran ketika dia diberikan konsensi terlebih dahulu.
12:11Ya, semoga ada waktu dekat menantikan ke meja perundingan antar kedua negara.
12:16Terima kasih Mas Wibawanto, terima kasih Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
12:20Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
12:21Terima kasih Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar

Dianjurkan