00:00Lalu apa motif Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat unggahan provokatif di tengah buntut-buntunya negosiasi dengan Iran?
00:07Kita bahas bersama Wibawanto Dogro Widodo, Pakar Gapolitik dan Kewangan Nasional, Sekaligus Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri, DPPI Kalemhanes RI,
00:16dan Peneliti Asia Middle East Santral Pizarro Gozali.
00:19Selamat petang, Mas Wibawanto. Selamat petang, Mas Gozali.
00:23Selamat petang, Mbak Ilwana.
00:24Ya, saya ke Mas Wibawanto dulu kalau begitu. Mas Wibawanto, apa yang Anda baca? Motif apa yang ingin disampaikan Trump
00:31melalui unggahan provokatif? Hormuz sudah jadi kekuasaan dari Amerika?
00:40Saya belum mendengar suara Anda, Mas Wibawanto.
00:46Saya bilang peta yang dimaksud oleh Trump itu bukan berarti hanya geografis ya. Jadi ini bicara mengenai kepasahan ya.
00:53Jadi kita bedakan, mana itu kedaulatan, mana itu dominasi, mana itu presence ya.
01:00Jadi disini apa yang diharapkan oleh Trump itu adalah menggunakan presence yang kuat dari militer Amerika, khususnya Angkatan Laut,
01:07untuk bisa memperoleh dominasi akses strategis dan operasional terhadap Hormuz.
01:13Kenyataan ini bukan berarti sovereignty.
01:15Itu poinnya tuh. Karena Hormuz itu adalah wilayahnya Oman dan Iran.
01:19Dan berdasarkan Ungklos Pasal 34, mereka lah yang mempunyai wilayah itu.
01:23Dan berdasarkan Pasal 38, bahwa negara yang mempunyai akses langsung kepada cokohi harus memberikan hak transit dengan tujuan damai.
01:35Jadi itu yang harus dilakukan.
01:36Jadi ini adalah de facto operasional control yang diinginkan oleh Trump.
01:40Ya Amerika menentukan siapa yang bisa lewat situ, dia memberikan Amerika sebagai penyedia keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
01:49Dan ini bicara mengenai kredibilitas dan detenance Amerika yang mau dipertahankan oleh Trump.
01:54Karena Hormuz itu adalah top point geopolitik.
01:57Siapa yang bisa mengamankan akses kepada Hormuz itu mempunyai pengaruh besar di dalam ekonomi global.
02:04Karena ini berhubungan dengan energi, pasal energi dan lain-lain.
02:10Jadi di sini Trump kembali lagi melakukan apa yang disebut dengan diplomasi coercive.
02:14Yang disampaikan adalah strategic signaling, itu yang pertama.
02:18Yang kedua adalah tekanan psikologi.
02:20Yang ketiga adalah menaikkan bargaining dalam negosiasi.
02:24Dan yang keempat adalah memberikan detenance baru terhadap Iran.
02:27Dan Iran pun juga memiliki kemampuan counter yang asimetris.
02:31Itu yang kita sudah ketahui bersama.
02:33Jadi kembali lagi, ini yang berbahaya adalah jika ada yang namanya escalation trap.
02:38Bahwa apa yang disampaikan oleh Trump, ditanggapi serius oleh Iran, direspon dengan counter threat, terjadi miskulasi dan eskalasi.
02:46Nah dampaknya adalah apa?
02:47Ya kembali lagi kepada risiko-risiko yang terkait dengan Hormuz.
02:51Baik itu untuk shippingnya, insurance, oil price, inflasi, dan juga ekonomi global.
02:56Nah Cina di mana posisinya dalam kondisi ini?
02:59Cina itu maunya semua itu stabil.
03:01Tidak Amerika, tidak Iran yang menguasai Hormuz.
03:04Tetapi semua menghormati ongklus itu prinsipnya itu.
03:07Nah ini jadi merupakan suatu kondisi yang mana akhirnya.
03:11Baik Amerika dan Iran itu tidak akan mendapatkan semua yang mereka mau.
03:15Tetapi mereka juga di dalam teori security and the securitization itu.
03:20Semakin pemimpin itu mengklaim mana yang ancaman, mana yang isu security, semakin mengeras pernyataan-pernyataan itu, ya semakin diulang-ulang,
03:29semakin susah juga mereka mundur dari situ.
03:31Nah ini ada perbedaan persepsi memang.
03:33Kalau bagi Amerika, Amerika harus menjadi yang namanya jaga hegemoni, stabilitas di Timur Tengah.
03:39Sementara bagi Iran, Amerika itu adalah ancaman ekstensial terhadap sovereignty dan juga keamanan rezimnya.
03:45Sementara Israel, Iran itu juga ancaman eksistensial.
03:49Ini yang belum ketemu.
03:50Dan Hormuz ini menjadi titik pertempuran dari semua yang sekarang sedang bertarung.
03:54Dan posisi dari negara-negara Gulf, posisi dari India, posisi dari China, termasuk Rusia, itu adalah ingin supaya ada stabilitas
04:02dan akses yang bebas kembali seperti kondisi sebelum 28 Februari 2026 di Hormuz.
04:09Dan itulah yang oleh Trump, itu maksudnya itu.
04:13Oke, Mas Pizarro, kalau dari pandangan Anda, apakah ungan provokatif tersebut sudah berhasil menekan Iran, nanti dijawab.
04:20Kompas Petang, sering kembali saudara, tetap bersama kami di Kompas TV.
04:23Kompas Petang, jadi Mas Pizarro, apakah Anda melihat bahwa saat ini Iran sudah tertekan dengan ungan provokatif dari Amerika Serikat?
04:31Toh buktinya mereka sudah merespon bahwa membantah pernyataan dari Trump?
04:37Yang jelas Ilona tidak bisa mengklaim sebuah slat hormus hanya modal cuitan ya, hanya modal status di media sosial.
04:43Menurut saya itu juga akan ditertawakan oleh dunia internasional.
04:46Dan itu yang sekarang terjadi di Iran ya, di Iran kita melihat mereka nggak begitu sangat serius merespon pernyataannya Donald
04:53Trump.
04:53Bahkan kita lihat ya, petinggi-petinggi IRJC mengatakan kami lebih percaya super taksi ketimbang Donald Trump.
04:58Karena klaim-klaim dia selama ini yang mengatakan menguasai slat hormus atau bahkan mengendelkan slat hormus, itu tidak confirm di
05:05lapangan.
05:05Bahkan yang menarik Ilona kalau kita lihat ya, sekarang misalkan di kapalnya saja di US Abraham Lincoln, itu kan laporan
05:11-laporan mengatakan terjadi krisis mental, tekanan mental bagi para awak Amerika Serikat yang sudah hampir 9 bulan tidak pernah visit
05:19court ya, tidak pernah menyentuh pelabuhan gitu.
05:21Kemudian bagaimana cara Donald Trump kemudian, oke lah mungkin teritori itu menguasai teritori itu jauh, atau mendominasi lah selemah-lemahnya
05:29iman Amerika Serikat gitu ya untuk melakukan tekanan slat hormus.
05:32Itu kan juga tidak terkonfirmasi, kalau kita lihat Iran masih bisa menembak kapal-kapal Uni Emirat Arab kan, dua kemarin
05:37ada kapal Adnok di slat hormus yang kapal Uni Emirat Arab yang ditembak oleh Iran.
05:42Dan menariknya untuk pertama kali, Iran itu pakai drone laut gitu. Jadi saya lihat ada dua pola sekarang yang terjadi
05:46di Iran ya, pertama dia semakin mengintensifkan produksi militer alutsista untuk kemudian mengantisipasi jika-jika kalau memang terjadi perang panjang,
05:56kemudian polanya sudah berubah tuh pada kualitas serangan dia.
06:00Memakai drone laut, kemudian serangan inisiatif misalnya ke Jordan, dan ini slat-slat tidak lepas ketika kemudian memang diplomasi, negosiasi
06:09itu masih menjalan buntu.
06:10Kemudian juga kalau kita lihat juga, kalau kita lihat memang Iran sudah nggak begitu saat mementingkan lah apa kata Donald
06:14Trump gitu kan, klaim-klaim Donald Trump gitu, bahkan untuk masuk ke meja perundingan itu kan juga kita lihat masih
06:19belum ada tandanya.
06:20Makanya kan sekarang kalau kita lihat Ilona, itu ada pergeseran shifting dari para mediator yang tadinya misalkan Pakistan begitu mendominasi
06:27untuk melakukan mediasi.
06:28Tapi kalau kita lihat karena sudah buntu juga, ada aktor-aktor baru misalkan kayak Iran, kayak Turki dan sebagainya untuk
06:33kemudian membawa Iran kembali mau masuk ke meja perundingan.
06:36Tapi sampai sekarang itu masih sulit.
06:37Mas Bivawanto, ini bukan sekali dua kali Trump mengeluarkan statement yang bahkan diragukan, tidak benar, tidak pernah terbukti begitu.
06:45Jadi sebenarnya strategi apa yang tengah disiapkan oleh Amerika?
06:49Ya, jadi kita harus melihatnya tuh dari teori struktural realism ya, bahwa kondisi anarki di dunia ini,
06:56di mana tidak ada kekuatan lebih besar dari negara, di atas negara, dalam sistem dunia, itu dibutuhkan yang namanya kekuatan,
07:03pertarungan terhadap untuk survive, mengamankan kepentingan nasionalnya, dan harus menghadapkan power, itu poinnya tuh.
07:11Nah, makanya ada yang namanya balance of power, ada yang namanya balance of threat, ada yang namanya balance of interest.
07:17Balance of power tuh dalam kuat-kuat, threat, ancaman-ancaman, dan balance of interest tuh dalam negara yang interestnya sama.
07:23Dalam hal ini misalnya, Cina dan negara-negara lain, itu sama interestnya.
07:27Mereka mau supaya ini stabil, kembali kepada kondisi sebelum adanya.
07:31Kalau keinginan mereka adalah kestabilan, Mas Bivawanto, maaf saya potong,
07:34artinya apakah negara-negara di global, termasuk yang punya kebutuhan di Selat Hormuz, akan lebih memilih Amerika, ketimbang Iran?
07:43Ya, jadi jawabannya akan begini, kita lihat ya, polanya ya, map yang Trump bilang, itu apa maksudnya?
07:49Sinyal kekuasaan, kembalikan kepada kami untuk menge-establish kondisi di Uklos,
07:54kondisi di Hormuz seperti sebelum 28 Februari, itu poinnya tuh Trump yang mau sampaikan ya.
07:59Dua, power, kami tidak mengejar yang namanya dominasi dalam konteks sovereignty,
08:05tetapi power, US Navy bisa bekerja sama, US military bisa bekerja sama dengan negara-negara lain
08:11untuk mengamankan kembali untuk menge-enforce nilai-nilai Uklos disitu, itu maksudnya.
08:15Law, law ini maksudnya adalah, yang tadi disampaikan oleh Mas Pisaro tuh,
08:20tidak ada yang namanya bisa meng-claim sovereignty hanya lewat social media.
08:24Nah mungkin, itu ada hukumit rasionalnya.
08:25Market, market ini bicara mengenai interdependency, ya jadi aliran liberalisme,
08:31semua itu saling membutuhkan, Iran pun membutuhkan, gitu loh, ya.
08:34Bahwa market, global market untuk energi ini harus tetap.
08:38Dan berikutnya eskalasi itu merugikan semuanya, gitu loh.
08:40Nah, makanya yang saya mau tekankan di sini adalah,
08:43strategi ini harus bisa ada kompatibilitas antara apa yang Amerika inginkan,
08:48apa yang Iran inginkan, dan juga apa yang negara-negara Gulf Country Council
08:52dan Great Power lain itu inginkan.
08:53Nah, hanya kalau kembali lagi ke pertanyaan tadi, Bang.
08:57Itu konteksnya tuh adalah sekarang, semua itu harus bisa menahan diri.
09:01Kembali lagi ke sana.
09:02Karena persepsi yang salah dari salah satu pihak,
09:06baik itu Amerika terhadap Iran, terhadap, dan Iran terhadap Israel dan Amerika,
09:10begitu juga Israel terhadap Amerika, terhadap Iran.
09:13Itu yang menjadi akar dari semua pergulatan yang setelah ini terjadi, gitu.
09:18Jadi, strategi dari Presiden Trump saat ini adalah memastikan bahwa Amerika tetap mempunyai deterans,
09:25Amerika harus merestore keadaan, Amerika harus memberikan jaminan keamanan di Timur Tengah,
09:30dan yang mana setelah ini, Mbak, yang terjadi sebenarnya adalah perbutan order baru di dalam Middle East.
09:37Yang saya bukan lagi nanti Amerika yang memimpin, dan juga bukan Iran yang memimpin,
09:42tetapi akan ada multi-polarity, gitu loh.
09:45Nah, ada Amerika, ada Amerika-Israel bersama Gulf Country Council,
09:49tapi Iran juga diperhitungkan, dan juga negara-negara Great Power lainnya seperti Cina,
09:54dan India juga mempunyai power dan akses yang cukup strategis di Timur Tengah
10:02untuk mengamankan kepentingan ekonomi, dan juga keamanan dalam hal militer.
10:06Dan kalau cara mengenai kekuatan militer, Amerika paling kuat,
10:09tetapi kekuatan militer itu tidak bisa menjamin adanya regional order yang mana Amerika yang mendominasi.
10:16Begitu juga, itu poinnya.
10:19Iran juga begitu, ya, Iran juga harus bisa bernegosiasi Amerika dan Israel juga.
10:23Akhirnya ke titik kesimbangan baru, Mbak.
10:25Oke, titik kesimbangan baru.
10:26Saya ke Mas Pizarro, jadi menurut Anda ke mana, ke arah mana mereka berdua?
10:30Lalu kemudian sebenarnya, siapa lagi yang akan menemani Iran
10:33di tengah kebutuhan dari global kestabilan terkait dengan slot Hormuz?
10:39Iya, sebenarnya diplomasi dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran
10:42itu belum sepenuhnya tertutup, Mbak Ilona, ya.
10:44Tetapi titik komponinya sekarang semakin sempit.
10:46Setelah terjadi pelanggaran MOJ berkali-kali, serang Amerika Serikat berkali-kali,
10:51dan Iran kemudian mematuk harga sekarang lebih tinggi ketimbang yang sebelumnya.
10:54Ini menurut saya akan menjadi sangat sulit untuk kemudian mencari kesepahaman di antara mereka.
10:59Kemudian kan kita mengetahui bahwa sekarang ada kocok ulang ke posisi keamanan yang ada di Iran.
11:05Kalau kita lihat naiknya Muhsin Reza'i, Hasan Taib,
11:07ini kan aktor-aktor yang sangat hard-hawki, sangat garis kerat di sana.
11:11Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka memasang syarat-syarat baru
11:15jika kemudian ingin masuk ke menja perundingan, penuncuran kemudian pencairan aset,
11:21kemudian pencabutan sanksi, dan lain sebagainya.
11:23Yang itu tentu berbeda dengan sebelumnya.
11:25Nah, saya kira sekarang tantangan utamanya bukan bagaimana kemudian mencari kesepakatan di antara mereka,
11:29tetapi membawa bagaimana mereka mau dulu ke menja perundingan.
11:32Ini yang menurut saya menjadi tantangan yang sangat utama.
11:34Di satu sisi, kalau kita lihat Iran sudah dalam posisi yang mereka sudah enggan masuk ke diplomasi,
11:38tetapi kalaupun mereka mau masuk, ada harga yang begitu mahal harus dibayar oleh Donald Trump.
11:42Tetapi kan pertanyaannya, Donald Trump butuh konsumsi kemenangan politik-politik domestik di Amerika Serikat,
11:47dia tidak mau kemudian tunduk begitu saja kepada Iran,
11:49dia juga pasti akan mematuhkan harga yang sangat tinggi,
11:51karena kan cara dia kemudian juga mengklaim Hormuz menjadi milik dia,
11:54itu kan juga bagian cara dia kemudian untuk menenangkan politik domestik di inter-Amerika Serikat.
11:58Nah, saya kira perlu ada penegakan kembali dari editor terbaru,
12:02ada Pakistan, ada Oman, mungkin juga ada Turki dan sebagainya,
12:05yang coba mendorong mereka kembali kemajuan perundingan.
12:07Saya kira itu cara yang kemudian bisa membawa Iran ketika dia diberikan konsensi terlebih dahulu.
12:11Ya, semoga ada waktu dekat menantikan ke meja perundingan antar kedua negara.
12:16Terima kasih Mas Wibawanto, terima kasih Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
12:20Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
12:21Terima kasih Mas Pizarro telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar