Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV Presiden AS Donald Trump terus menekan Iran untuk bernegosiasi meskipun dalam klaim terakhirnya yang menyebut negosiasi antara Teheran dengan AS tengah berjalan dibantah oleh Iran.

Apakah sikap Trump yang terus menekan Iran untuk bernegosiasi bisa berujung kesepakatan kedua negara?

Kita bahas bersama Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Heribertus Jaka Triyana.

Video Editor: Novaltri

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/684079/full-guru-besar-ugm-soal-selat-hormuz-jadi-titik-panas-perang-iran-as-belum-damai
Transkrip
00:06Tegas, Iran membantah duduk semeja dengan Amerika Serikat lanjut berunding.
00:12Sikap Iran bertolak belakang dengan klib Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal negosiasi dengan Iran masih berjalan.
00:19Bahkan Trump mengancam Iran meminta adanya kesepakatan atau menyerah.
00:24Trump bahkan menyebut Selat Hormuz berpeluang besar dibuka dalam bahasa negosiasi.
00:51Penasehat militer pemimpin tertinggi Iran Mohsen Rezai menegaskan tidak ada negosiasi maupun kesepakatan damai baru dengan Amerika Serikat.
01:01Iran bahkan menyebut klib Trump soal pembukaan total Selat Hormuz sebagai kebohongan publik.
01:33Teheran telah berulang kali menutup Selat Hormuz.
01:36Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Februari.
01:41Iran kembali menegaskan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz berada di bawah kendalinya.
01:51Trump terus menekan Iran untuk bernegosiasi meskipun dalam klaim terakhirnya yang menyebut negosiasi antara Teheran dengan AS tengah berjalan dibantah
02:00oleh Iran.
02:01Selat Hormuz juga terus memanas karena AS dan Iran adu kuat pengaruh lewat tindakan militer di Selat Hormuz.
02:07Apakah sikap Trump yang terus menekan Iran untuk bernegosiasi bisa berujung kesepakatan kedua negara?
02:14Kita bahas bersama Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Geja Mada Prof. Heribertus Jaka Triana.
02:22Selamat pagi Pak Jaka.
02:24Selamat pagi Mbak Upta. Salam sehat selalu.
02:26Salam sehat Pak Jaka.
02:27Pak Jaka klaim negosiasi Trump ini kan dibantah sama Iran.
02:30Apakah artinya kesepakatan berujung perdamaian ini bisa dikatakan ya mustahil terjadi di situasi saat ini?
02:37Pertama kalau kita lihat sejarah sejak 8 April kita bisa melihat bahwa kedua belah pihak
02:43itu memainkan persepsi publik melalui pernyataan-pernyataan resmi yang dikutip melalui sosial media sehingga membangun opini publik.
02:50Saya kira ini yang sedang dimainkan oleh kedua negara untuk membangun persepsi dan dukungan dari masyarakat internasional maupun masyarakat domestik
02:59dari masing-masing negara.
03:00Ini tujuannya jelas.
03:01Yang pertama adalah ini ingin membangun kesepakatan bahwa mereka itu pada pole position yang paling menguntungkan di dalam bentuk negosiasi
03:10dan penggunaan kekerasan saat sekarang.
03:12Yang kedua saya kira kalau kita lihat pada saat sekarang mereka sedang memainkan koridor-koridor untuk melaksanakan kebijakan diplomatik yang
03:22difasilitasi oleh Turki, Oman dan Qatar.
03:25Ini juga bisa kita lepaskan.
03:27Sehingga pernyataan-pernyataan itu ada di atas permukaan tetapi kenyataannya mereka juga memainkan panggung diplomasi untuk mencapai kesepakatan.
03:36Saya kira nanti deal-nya juga akan terjadi tetapi tidak akan pernah menghasilkan apa yang disebut sebagai peace agreement antara
03:42Amerika dengan Iran.
03:44Oke, tidak pernah ada peace agreement.
03:46Lantas Pak Jaka ini ada yang menarik kemarin terakhir Trump ini mengultimatum Iran soal ini adalah kesempatan terakhir untuk berunding
03:53karena akan ada konsekuensi yang lebih besar lagi dibandingkan dengan perang.
03:58Apa tanggapan Anda soal ini?
03:59Saya kira apa yang disampaikan Trump itu selalu konsisten mulai kebijakan politik luar negerinya.
04:05Yaitu apa? Eskalasi untuk de-eskalasi sehingga mereka punya daya tekan, daya posisi di dalam perundingan yang melebih dari Iran.
04:13Sehingga saya kira ini adalah sebagai sebuah ancaman yang dinyatakan oleh Amerika untuk menekan secara politik, militer, dan ekonomi kepada
04:22Iran.
04:22Saya kira ini konsisten dilakukan oleh Trump untuk memperoleh apa itu yang disebut sebagai posisi yang paling baik sebelum mereka
04:29nanti ketemu di dalam meja perundingan.
04:31Walaupun sifatnya itu adalah sangat taktis, sifatnya sangat pendek, tetapi gunanya adalah untuk menjedah supaya mereka bisa mengkalkulasi kekuatan kedepannya
04:40lagi.
04:41Oke, Pak Jaka ini juga militer Amerika Serikat merilis rekaman suara menunjukkan blokade maritim terhadap Iran di Selatuh Hormuz.
04:47Tampaknya kedua negara ini apakah memang saling ingin menunjukkan kekuatankah di Selatuh Hormuz? Bagaimana Anda melihat ini?
04:54Oh ya, Hormuz itu menjadi jantung, menjadi derut nadi konflik ini.
04:59Kenapa? Karena Iran itu sangat-sangat menguasai bahwa yang namanya ketegangan antara Amerika, titik tekan utamanya itu adalah Selatuh Hormuz.
05:09Kenapa? Karena ini menjadi urat nadi ekonomi dunia.
05:12Ketika kita lihat perjanjian deal yang kemarin berhenti, itu kan terjadi juga manajemen antara Iran dengan Oman terkait dengan Selatuh
05:22Hormuz.
05:22Yang ini menjadi sebuah diskursus ambiguitas yang meeskalasi penggunaan kekerasan bersenjata saat sekarang.
05:29Sehingga kalau kita lihat ke depan saya kira penggunaan Selatuh Hormuz akan tetap menjadi tekan di antara Amerika dengan Iran.
05:36Sehingga sekali lagi Hormuz sekarang menjadi center of attention dalam penggunaan kekerasan bersenjata.
05:42Walaupun kalau kita lihat antara Amerika dengan Iran tetap menggunakan kekerasan bersenjata secara proporsional.
05:49Sehingga kepentingan militer itu masih tetap menjadi rambu-rambu.
05:52Kenapa? Karena mereka ingin duduk sama-sama untuk sedikit mengakhiri ketegangan di antara mereka.
05:58Dengan intensitas di Selatuh Hormuz sebagai satu bentuk titik tekan tawar-menawar di antara mereka.
06:05Oke, tapi Pak Jaga kalau melihat sekarang lagi adu kuat nih di Selatuh Hormuz kok tadi dikatakan demikian.
06:11Lantas untuk mencapai titik atau ada optimisme nggak soal tadi pencapaian peace agreement atau paling tidak sama-sama saling menekan
06:19ego antara kedua belah pihak ini?
06:20Saya kira kalau sampai peace agreement saya kok tidak yakin.
06:25Yang terjadi adalah adanya satu deal-deal jangka pendek yang mereduksi terkaitan sifatnya teknis taktis untuk kepentingan ekonomi, kepentingan militer
06:35jangka pendek.
06:36Intinya nuklir, hormuz, sanksi ekonomi terhadap Iran itu pasti akan direaktualisasi dalam kesepakatan-kesepakatan jangka pendek di antara para pihak.
06:46Sehingga saat sekarang penggunaan kekerasan bersenjata yang terukur itu menjadi pilihan antara Amerika dengan Iran yang sama-sama ingin memperoleh
06:56satu jembatan terkait dengan tiga isu utama itu tadi.
06:59Siapa yang mundur duluan, siapa yang maju duluan, siapa yang berkedip duluan itulah nanti yang akan memperoleh keuntungan maksimal di
07:06dalam ketegangan penggunaan kekerasan bersenjata ini.
07:09Saya kira Iran juga melaksanakan taktik yaitu rekan, tawar, dan juga lakukan diplomasi untuk mencapai titik temu di dalam penggunaan
07:20kekerasan bersenjata di antara Amerika kedua ini.
07:23Oke, Pak Jaka kalau melihat saat ini situasinya apa sih Pak yang membuat ya lagi-lagi semakin alat begitu, meskipun
07:30ini di sisi lain Amerika Serikat selalu mengklaim bahwa terjadi negosiasi, terjadi mediasi, dan lain sebagainya terhadap Iran.
07:38Yang pertama adalah terkait dengan ketidakpercayaan di antara kedua belah pihak.
07:43Sejak awal ini kan dibangun atas dasar ketidakpercayaan.
07:47Kalau kita lihat sejarah antara Amerika dengan Iran, ketika kita melihat pelaksanaan JCPOE 2015-2018, Amerika keluar dari JCPOE, itu
07:57kan menjadi sebuah sinyal bahwa di antara kedua negara ada ketidakpercayaan.
08:02Satu. Lalu yang kedua kalau kita lihat, terkait dengan penggunaan nuklir, ini kan juga menjadi sebuah diskursus yang tidak selesai
08:10di level bilateral, di level multilateral.
08:13Pertimbangan terkait dengan hak kedaulatan negara penggunaan nuklir untuk damai, lalu batas pengayaan uranium sampai level 60% kan juga
08:21menjadi sebuah ambiguitas di dalam penggunaan kebijakan politik luar negeri masing-masing negara.
08:26Yang ketiga saya kira saat sekarang, proksi di antara masing-masing negara juga semakin menguat, di mana ini membebani sektor
08:34ekonomi, sektor suplai alutsisa militer itu juga semakin berat bagi kedua negara.
08:40Sehingga dari sisi ekonomi ini juga sama-sama terjebit, kalau kita lihat Iran sekarang dompetnya juga sudah kosong, Amerika sudah
08:48mengeluarkan sekitar 530 triliun,
08:52sehingga beban ini saya kira semakin apa itu menjadi hal yang sangat menekan di antara kedua negara, sehingga endingnya nanti
08:59adalah terjadi satu kesepakatan less to less appraisal di antara kedua negara untuk menghentikan pertikan ini, sehingga bisa terjedah kembali.
09:09Oke, Pak Jaka tadi kalau bisa dikatakan ada rasa ketidakpercayaan antara kedua belah pihak yang juga menarikkan soal bagaimana klaim
09:17adanya negosiasi,
09:18tapi Trump ini tidak memberikan tenggat waktu. Apa yang bisa terjadi atau dampaknya apa karena tidak ada tenggat waktunya ini?
09:25Saya kira ini mengindikasikan bahwa Amerika siap untuk menggunakan opsi-opsi pertama militer, lalu yang kedua adalah tekanan internasional di
09:34level PBB misalnya,
09:36di level IAEA misalnya, dan juga di level regional. Saya kira opsi-opsi ini juga terkonfirmasi oleh Senkom ketika kemarin
09:44menyiarkan perencanaan terkait dengan opsi-opsi non-militer,
09:48karena mereka yakin bahwa opsi militer pasti akan ditanggapi Iran secara keras juga,
09:52sehingga alternatif-alternatif inilah yang sekarang sedang dilakukan, kajian secara apa itu, ekstensif, bahwa penggunaan-penggunaan tekanan Amerika kepada Iran
10:03dengan cara yang lain itu sedang dirancang, sedang digunakan, sekali lagi, untuk bisa membawa pada pole position yang paling baik
10:12untuk mencapai deals-nya.
10:13Oke, dengan adanya klaim tidak ada negosiasi dan sebagainya, apakah ini seperti apa?
10:18Pak Iran menunjukkan bahwa posisinya lebih dari Amerika Serikat atau seperti apa, Pak Jaka?
10:22Saya kira itu pernyataan resmi, tetapi di belakang itu terjadi komunikasi-komunikasi bilateral diplomatik yang terjadi di antara Amerika dengan
10:31Iran.
10:32Kita bisa melihat saat sekarang Iran juga pada posisi, oke, kita akan bertahan,
10:37tetapi tetap membuka pintu komunikasi diplomatik yang difasilitasi oleh tiga negara yang saya sebutkan tadi.
10:43Kenyataannya ini masih terjadi, kenyataannya ini masih terbuka, sehingga pernyataan resmi kadang berbeda dengan backdoor channel diplomasi yang sedang terjadi.
10:54Kita tunggu nanti, saya kira ini tetap di permukaan berbeda dengan di layar belakang,
10:59semoga kedamaian, semoga nanti deal sejangka pendek akan bertemu sebagai satu bentuk kompromi antara Amerika dengan Iran terkait dengan nuklir,
11:09hormus, dan sanksi ekonominya.
11:11Ya, tentu kita harapkan ada upaya-upaya diplomasi yang berhasil di antara kedua belah pihak.
11:15Pak Jaka menarik juga soal bagaimana hormus ditutup, ini kan berefek langsung, tadi juga sudah disebutkan soal bagaimana kondisi energi
11:21global, maksud kami.
11:22Apakah ini memang disadari peduh oleh Iran untuk menekan Amerika, atau seperti apa Pak Jaka?
11:28Pasti, ini adalah strategi militer Iran yang memang secara konsisten dilakukan.
11:33Kenapa? Karena mereka paham betul bahwa peran atau penggunaan kekerasan bersenjata saat sekarang,
11:38kalau Iran melawan dengan kecanggihan teknologi, alutsista mereka tidak akan mampu.
11:42Tapi mereka memiliki keuntungan geografis terkait dengan penggunaan selat hormus,
11:46yang ini bisa menekan supply chain energi dunia, ekonomi,
11:50dan juga menekan secara global terkait dengan kepentingan non-politik Amerika di kawasan.
11:56Ini yang dimanfaatkan betul-betul oleh Iran, sehingga konfliknya bisa bertahan lama,
12:00sehingga reaching out dari kesepakatan itu selalu creeping ataupun merangkak sejalan sedikit demi sedikit,
12:09sehingga ini akan menjadi posisi yang lama, karena memang hormus menjadi titik sentral di dalam pertikaan ini.
12:16Oke, ini saling punya kekuatan antar masing-masing negara,
12:20tadi kalau satu dari segi alutsista maupun satu lagi dari segi punya kawasan yang di mana dikatakan selat hormus.
12:25Nah, lantas perang AIS-Iran ini, Pak Jaka ini kan juga tentunya merembet ke negara teluk lainnya,
12:30di mana Rapsaudi dan Utyaman ini juga ikut terlibat.
12:33Anda melihat apakah ini akan melibatkan semakin banyak negara lainnya,
12:36karena itu tadi balik lagi soal bagaimana banyak kepentingan juga di dalam perang ini?
12:41Saya kira iya, bahwa redefinisi, reaktualisasi geopolitik kawasan itu semakin terlihat
12:48dalam eskalasi yang terjadi saat ini.
12:50Bagaimana saat sekarang Amerika mengembangkan latihan perang dengan Uni Emirat Arab dan juga Arab Saudi,
12:57ini menjadi sebuah tanda atau sinyal bahwa ketika konflik ini tidak akan selesai,
13:02ini akan menjadi bara yang akan lebih luas.
13:04Sinyal ini juga memberikan satu indikasi bahwa ketika kita melihat proksi-proksi di antara negara,
13:10misalnya Iran dengan Disbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan lain sebagainya,
13:15ini juga mengirimkan sinyal bahwa ketika kepentingan politik di antara kedua belah biak ini tidak selesai,
13:21maka mereka punya daya sumbu untuk menyulut ketegangan-ketegangan di kawasan
13:26yang pasti akan menjadi sebuah reaktualisasi dari kepentingan geopolitik kawasan.
13:31Yang kalau kita lihat, unilateralisme Amerika saat sekarang menjadi apa itu,
13:36ujung tanduk terkait dengan kekuasaannya.
13:39Bagaimana saat sekarang kondisi-kondisi ini menjadi sebuah pelajaran berharga buat kita
13:44terkait dengan hukum dan juga hubungan internasional ke depannya.
13:47Oke, Pak Jaka sedikit juga kita menurut sedikit soal bagaimana dampak energi itu tadi.
13:52Apa yang tentunya perlu diwaspadi, termasuk juga kita di Indonesia,
13:54soal bagaimana dampak energi yang dikhawatirkan terjadi
13:58karena adanya masih ada ketegangan antara Iran dan juga Amerika Serikat ini?
14:02Pertama, harus dilakukan yang namanya diversifikasi produsen, supplier,
14:06terkait dengan ketahanan energi nasional Indonesia.
14:09Produsen-produsen minyak, gas, yang ada di wilayah-wilayah non-teluk perlu dikomunikasikan.
14:17Saya kira tiga bulan yang lalu Presiden Prabowo pergi ke Rusia,
14:21pergi ke apa itu, negara-negara lain.
14:23Ini menjadi sebuah indikasi bahwa langkah untuk alternatif supplier energi itu terjadi.
14:28Lalu yang kedua saya kira, bagaimana sekarang kita bisa mendefinisikan
14:33kemampuan ketahanan energi nasional perlu dibangun.
14:36Terkait dengan ketahanan bagaimana cara untuk memproduksi minyak kita,
14:41sehingga tidak tergantung dari ekspor.
14:43Saya kira pembangunan kilang, lalu juga pemanfaatan-pemanfaatan alternatif energi,
14:48itu juga perlu digalakkan.
14:49Lesson learned dari konflik yang terjadi di Iran adalah itu.
14:52Bagaimana kita harus siap untuk bisa melakukan diversifikasi
14:56dan juga pemanfaatan energi-energi alternatif di nasional negara kita.
15:01Karena apa? Perang di Iran dengan Amerika membawa dampak baik langsung maupun tidak langsung
15:07yang mau tidak mau harus kita antisipasi ke depannya.
15:10Oke, ini perlu diperhatikan bagaimana hormus kembali memanas.
15:13Kita harapkan ada upaya-upaya diplomasi ataupun negosiasi,
15:15kalau tadi Pak Jaka bilang di balik layar ini bisa menghasilkan keputusan yang baik.
15:19Terima kasih Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada,
15:23Heribertus Jaka Triana sudah bersama di Sapa Indonesia.
15:26Pagi, sehat selalu Pak Jaka.
15:27Sehat selalu Pak Jaka.
15:30Saudara, meski operasi SAR kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 telah dihentikan sejumlah.
Komentar

Dianjurkan