00:06Tegas, Iran membantah duduk semeja dengan Amerika Serikat lanjut berunding.
00:12Sikap Iran bertolak belakang dengan klib Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal negosiasi dengan Iran masih berjalan.
00:19Bahkan Trump mengancam Iran meminta adanya kesepakatan atau menyerah.
00:24Trump bahkan menyebut Selat Hormuz berpeluang besar dibuka dalam bahasa negosiasi.
00:51Penasehat militer pemimpin tertinggi Iran Mohsen Rezai menegaskan tidak ada negosiasi maupun kesepakatan damai baru dengan Amerika Serikat.
01:01Iran bahkan menyebut klib Trump soal pembukaan total Selat Hormuz sebagai kebohongan publik.
01:33Teheran telah berulang kali menutup Selat Hormuz.
01:36Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Februari.
01:41Iran kembali menegaskan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz berada di bawah kendalinya.
01:51Trump terus menekan Iran untuk bernegosiasi meskipun dalam klaim terakhirnya yang menyebut negosiasi antara Teheran dengan AS tengah berjalan dibantah
02:00oleh Iran.
02:01Selat Hormuz juga terus memanas karena AS dan Iran adu kuat pengaruh lewat tindakan militer di Selat Hormuz.
02:07Apakah sikap Trump yang terus menekan Iran untuk bernegosiasi bisa berujung kesepakatan kedua negara?
02:14Kita bahas bersama Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Geja Mada Prof. Heribertus Jaka Triana.
02:22Selamat pagi Pak Jaka.
02:24Selamat pagi Mbak Upta. Salam sehat selalu.
02:26Salam sehat Pak Jaka.
02:27Pak Jaka klaim negosiasi Trump ini kan dibantah sama Iran.
02:30Apakah artinya kesepakatan berujung perdamaian ini bisa dikatakan ya mustahil terjadi di situasi saat ini?
02:37Pertama kalau kita lihat sejarah sejak 8 April kita bisa melihat bahwa kedua belah pihak
02:43itu memainkan persepsi publik melalui pernyataan-pernyataan resmi yang dikutip melalui sosial media sehingga membangun opini publik.
02:50Saya kira ini yang sedang dimainkan oleh kedua negara untuk membangun persepsi dan dukungan dari masyarakat internasional maupun masyarakat domestik
02:59dari masing-masing negara.
03:00Ini tujuannya jelas.
03:01Yang pertama adalah ini ingin membangun kesepakatan bahwa mereka itu pada pole position yang paling menguntungkan di dalam bentuk negosiasi
03:10dan penggunaan kekerasan saat sekarang.
03:12Yang kedua saya kira kalau kita lihat pada saat sekarang mereka sedang memainkan koridor-koridor untuk melaksanakan kebijakan diplomatik yang
03:22difasilitasi oleh Turki, Oman dan Qatar.
03:25Ini juga bisa kita lepaskan.
03:27Sehingga pernyataan-pernyataan itu ada di atas permukaan tetapi kenyataannya mereka juga memainkan panggung diplomasi untuk mencapai kesepakatan.
03:36Saya kira nanti deal-nya juga akan terjadi tetapi tidak akan pernah menghasilkan apa yang disebut sebagai peace agreement antara
03:42Amerika dengan Iran.
03:44Oke, tidak pernah ada peace agreement.
03:46Lantas Pak Jaka ini ada yang menarik kemarin terakhir Trump ini mengultimatum Iran soal ini adalah kesempatan terakhir untuk berunding
03:53karena akan ada konsekuensi yang lebih besar lagi dibandingkan dengan perang.
03:58Apa tanggapan Anda soal ini?
03:59Saya kira apa yang disampaikan Trump itu selalu konsisten mulai kebijakan politik luar negerinya.
04:05Yaitu apa? Eskalasi untuk de-eskalasi sehingga mereka punya daya tekan, daya posisi di dalam perundingan yang melebih dari Iran.
04:13Sehingga saya kira ini adalah sebagai sebuah ancaman yang dinyatakan oleh Amerika untuk menekan secara politik, militer, dan ekonomi kepada
04:22Iran.
04:22Saya kira ini konsisten dilakukan oleh Trump untuk memperoleh apa itu yang disebut sebagai posisi yang paling baik sebelum mereka
04:29nanti ketemu di dalam meja perundingan.
04:31Walaupun sifatnya itu adalah sangat taktis, sifatnya sangat pendek, tetapi gunanya adalah untuk menjedah supaya mereka bisa mengkalkulasi kekuatan kedepannya
04:40lagi.
04:41Oke, Pak Jaka ini juga militer Amerika Serikat merilis rekaman suara menunjukkan blokade maritim terhadap Iran di Selatuh Hormuz.
04:47Tampaknya kedua negara ini apakah memang saling ingin menunjukkan kekuatankah di Selatuh Hormuz? Bagaimana Anda melihat ini?
04:54Oh ya, Hormuz itu menjadi jantung, menjadi derut nadi konflik ini.
04:59Kenapa? Karena Iran itu sangat-sangat menguasai bahwa yang namanya ketegangan antara Amerika, titik tekan utamanya itu adalah Selatuh Hormuz.
05:09Kenapa? Karena ini menjadi urat nadi ekonomi dunia.
05:12Ketika kita lihat perjanjian deal yang kemarin berhenti, itu kan terjadi juga manajemen antara Iran dengan Oman terkait dengan Selatuh
05:22Hormuz.
05:22Yang ini menjadi sebuah diskursus ambiguitas yang meeskalasi penggunaan kekerasan bersenjata saat sekarang.
05:29Sehingga kalau kita lihat ke depan saya kira penggunaan Selatuh Hormuz akan tetap menjadi tekan di antara Amerika dengan Iran.
05:36Sehingga sekali lagi Hormuz sekarang menjadi center of attention dalam penggunaan kekerasan bersenjata.
05:42Walaupun kalau kita lihat antara Amerika dengan Iran tetap menggunakan kekerasan bersenjata secara proporsional.
05:49Sehingga kepentingan militer itu masih tetap menjadi rambu-rambu.
05:52Kenapa? Karena mereka ingin duduk sama-sama untuk sedikit mengakhiri ketegangan di antara mereka.
05:58Dengan intensitas di Selatuh Hormuz sebagai satu bentuk titik tekan tawar-menawar di antara mereka.
06:05Oke, tapi Pak Jaga kalau melihat sekarang lagi adu kuat nih di Selatuh Hormuz kok tadi dikatakan demikian.
06:11Lantas untuk mencapai titik atau ada optimisme nggak soal tadi pencapaian peace agreement atau paling tidak sama-sama saling menekan
06:19ego antara kedua belah pihak ini?
06:20Saya kira kalau sampai peace agreement saya kok tidak yakin.
06:25Yang terjadi adalah adanya satu deal-deal jangka pendek yang mereduksi terkaitan sifatnya teknis taktis untuk kepentingan ekonomi, kepentingan militer
06:35jangka pendek.
06:36Intinya nuklir, hormuz, sanksi ekonomi terhadap Iran itu pasti akan direaktualisasi dalam kesepakatan-kesepakatan jangka pendek di antara para pihak.
06:46Sehingga saat sekarang penggunaan kekerasan bersenjata yang terukur itu menjadi pilihan antara Amerika dengan Iran yang sama-sama ingin memperoleh
06:56satu jembatan terkait dengan tiga isu utama itu tadi.
06:59Siapa yang mundur duluan, siapa yang maju duluan, siapa yang berkedip duluan itulah nanti yang akan memperoleh keuntungan maksimal di
07:06dalam ketegangan penggunaan kekerasan bersenjata ini.
07:09Saya kira Iran juga melaksanakan taktik yaitu rekan, tawar, dan juga lakukan diplomasi untuk mencapai titik temu di dalam penggunaan
07:20kekerasan bersenjata di antara Amerika kedua ini.
07:23Oke, Pak Jaka kalau melihat saat ini situasinya apa sih Pak yang membuat ya lagi-lagi semakin alat begitu, meskipun
07:30ini di sisi lain Amerika Serikat selalu mengklaim bahwa terjadi negosiasi, terjadi mediasi, dan lain sebagainya terhadap Iran.
07:38Yang pertama adalah terkait dengan ketidakpercayaan di antara kedua belah pihak.
07:43Sejak awal ini kan dibangun atas dasar ketidakpercayaan.
07:47Kalau kita lihat sejarah antara Amerika dengan Iran, ketika kita melihat pelaksanaan JCPOE 2015-2018, Amerika keluar dari JCPOE, itu
07:57kan menjadi sebuah sinyal bahwa di antara kedua negara ada ketidakpercayaan.
08:02Satu. Lalu yang kedua kalau kita lihat, terkait dengan penggunaan nuklir, ini kan juga menjadi sebuah diskursus yang tidak selesai
08:10di level bilateral, di level multilateral.
08:13Pertimbangan terkait dengan hak kedaulatan negara penggunaan nuklir untuk damai, lalu batas pengayaan uranium sampai level 60% kan juga
08:21menjadi sebuah ambiguitas di dalam penggunaan kebijakan politik luar negeri masing-masing negara.
08:26Yang ketiga saya kira saat sekarang, proksi di antara masing-masing negara juga semakin menguat, di mana ini membebani sektor
08:34ekonomi, sektor suplai alutsisa militer itu juga semakin berat bagi kedua negara.
08:40Sehingga dari sisi ekonomi ini juga sama-sama terjebit, kalau kita lihat Iran sekarang dompetnya juga sudah kosong, Amerika sudah
08:48mengeluarkan sekitar 530 triliun,
08:52sehingga beban ini saya kira semakin apa itu menjadi hal yang sangat menekan di antara kedua negara, sehingga endingnya nanti
08:59adalah terjadi satu kesepakatan less to less appraisal di antara kedua negara untuk menghentikan pertikan ini, sehingga bisa terjedah kembali.
09:09Oke, Pak Jaka tadi kalau bisa dikatakan ada rasa ketidakpercayaan antara kedua belah pihak yang juga menarikkan soal bagaimana klaim
09:17adanya negosiasi,
09:18tapi Trump ini tidak memberikan tenggat waktu. Apa yang bisa terjadi atau dampaknya apa karena tidak ada tenggat waktunya ini?
09:25Saya kira ini mengindikasikan bahwa Amerika siap untuk menggunakan opsi-opsi pertama militer, lalu yang kedua adalah tekanan internasional di
09:34level PBB misalnya,
09:36di level IAEA misalnya, dan juga di level regional. Saya kira opsi-opsi ini juga terkonfirmasi oleh Senkom ketika kemarin
09:44menyiarkan perencanaan terkait dengan opsi-opsi non-militer,
09:48karena mereka yakin bahwa opsi militer pasti akan ditanggapi Iran secara keras juga,
09:52sehingga alternatif-alternatif inilah yang sekarang sedang dilakukan, kajian secara apa itu, ekstensif, bahwa penggunaan-penggunaan tekanan Amerika kepada Iran
10:03dengan cara yang lain itu sedang dirancang, sedang digunakan, sekali lagi, untuk bisa membawa pada pole position yang paling baik
10:12untuk mencapai deals-nya.
10:13Oke, dengan adanya klaim tidak ada negosiasi dan sebagainya, apakah ini seperti apa?
10:18Pak Iran menunjukkan bahwa posisinya lebih dari Amerika Serikat atau seperti apa, Pak Jaka?
10:22Saya kira itu pernyataan resmi, tetapi di belakang itu terjadi komunikasi-komunikasi bilateral diplomatik yang terjadi di antara Amerika dengan
10:31Iran.
10:32Kita bisa melihat saat sekarang Iran juga pada posisi, oke, kita akan bertahan,
10:37tetapi tetap membuka pintu komunikasi diplomatik yang difasilitasi oleh tiga negara yang saya sebutkan tadi.
10:43Kenyataannya ini masih terjadi, kenyataannya ini masih terbuka, sehingga pernyataan resmi kadang berbeda dengan backdoor channel diplomasi yang sedang terjadi.
10:54Kita tunggu nanti, saya kira ini tetap di permukaan berbeda dengan di layar belakang,
10:59semoga kedamaian, semoga nanti deal sejangka pendek akan bertemu sebagai satu bentuk kompromi antara Amerika dengan Iran terkait dengan nuklir,
11:09hormus, dan sanksi ekonominya.
11:11Ya, tentu kita harapkan ada upaya-upaya diplomasi yang berhasil di antara kedua belah pihak.
11:15Pak Jaka menarik juga soal bagaimana hormus ditutup, ini kan berefek langsung, tadi juga sudah disebutkan soal bagaimana kondisi energi
11:21global, maksud kami.
11:22Apakah ini memang disadari peduh oleh Iran untuk menekan Amerika, atau seperti apa Pak Jaka?
11:28Pasti, ini adalah strategi militer Iran yang memang secara konsisten dilakukan.
11:33Kenapa? Karena mereka paham betul bahwa peran atau penggunaan kekerasan bersenjata saat sekarang,
11:38kalau Iran melawan dengan kecanggihan teknologi, alutsista mereka tidak akan mampu.
11:42Tapi mereka memiliki keuntungan geografis terkait dengan penggunaan selat hormus,
11:46yang ini bisa menekan supply chain energi dunia, ekonomi,
11:50dan juga menekan secara global terkait dengan kepentingan non-politik Amerika di kawasan.
11:56Ini yang dimanfaatkan betul-betul oleh Iran, sehingga konfliknya bisa bertahan lama,
12:00sehingga reaching out dari kesepakatan itu selalu creeping ataupun merangkak sejalan sedikit demi sedikit,
12:09sehingga ini akan menjadi posisi yang lama, karena memang hormus menjadi titik sentral di dalam pertikaan ini.
12:16Oke, ini saling punya kekuatan antar masing-masing negara,
12:20tadi kalau satu dari segi alutsista maupun satu lagi dari segi punya kawasan yang di mana dikatakan selat hormus.
12:25Nah, lantas perang AIS-Iran ini, Pak Jaka ini kan juga tentunya merembet ke negara teluk lainnya,
12:30di mana Rapsaudi dan Utyaman ini juga ikut terlibat.
12:33Anda melihat apakah ini akan melibatkan semakin banyak negara lainnya,
12:36karena itu tadi balik lagi soal bagaimana banyak kepentingan juga di dalam perang ini?
12:41Saya kira iya, bahwa redefinisi, reaktualisasi geopolitik kawasan itu semakin terlihat
12:48dalam eskalasi yang terjadi saat ini.
12:50Bagaimana saat sekarang Amerika mengembangkan latihan perang dengan Uni Emirat Arab dan juga Arab Saudi,
12:57ini menjadi sebuah tanda atau sinyal bahwa ketika konflik ini tidak akan selesai,
13:02ini akan menjadi bara yang akan lebih luas.
13:04Sinyal ini juga memberikan satu indikasi bahwa ketika kita melihat proksi-proksi di antara negara,
13:10misalnya Iran dengan Disbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan lain sebagainya,
13:15ini juga mengirimkan sinyal bahwa ketika kepentingan politik di antara kedua belah biak ini tidak selesai,
13:21maka mereka punya daya sumbu untuk menyulut ketegangan-ketegangan di kawasan
13:26yang pasti akan menjadi sebuah reaktualisasi dari kepentingan geopolitik kawasan.
13:31Yang kalau kita lihat, unilateralisme Amerika saat sekarang menjadi apa itu,
13:36ujung tanduk terkait dengan kekuasaannya.
13:39Bagaimana saat sekarang kondisi-kondisi ini menjadi sebuah pelajaran berharga buat kita
13:44terkait dengan hukum dan juga hubungan internasional ke depannya.
13:47Oke, Pak Jaka sedikit juga kita menurut sedikit soal bagaimana dampak energi itu tadi.
13:52Apa yang tentunya perlu diwaspadi, termasuk juga kita di Indonesia,
13:54soal bagaimana dampak energi yang dikhawatirkan terjadi
13:58karena adanya masih ada ketegangan antara Iran dan juga Amerika Serikat ini?
14:02Pertama, harus dilakukan yang namanya diversifikasi produsen, supplier,
14:06terkait dengan ketahanan energi nasional Indonesia.
14:09Produsen-produsen minyak, gas, yang ada di wilayah-wilayah non-teluk perlu dikomunikasikan.
14:17Saya kira tiga bulan yang lalu Presiden Prabowo pergi ke Rusia,
14:21pergi ke apa itu, negara-negara lain.
14:23Ini menjadi sebuah indikasi bahwa langkah untuk alternatif supplier energi itu terjadi.
14:28Lalu yang kedua saya kira, bagaimana sekarang kita bisa mendefinisikan
14:33kemampuan ketahanan energi nasional perlu dibangun.
14:36Terkait dengan ketahanan bagaimana cara untuk memproduksi minyak kita,
14:41sehingga tidak tergantung dari ekspor.
14:43Saya kira pembangunan kilang, lalu juga pemanfaatan-pemanfaatan alternatif energi,
14:48itu juga perlu digalakkan.
14:49Lesson learned dari konflik yang terjadi di Iran adalah itu.
14:52Bagaimana kita harus siap untuk bisa melakukan diversifikasi
14:56dan juga pemanfaatan energi-energi alternatif di nasional negara kita.
15:01Karena apa? Perang di Iran dengan Amerika membawa dampak baik langsung maupun tidak langsung
15:07yang mau tidak mau harus kita antisipasi ke depannya.
15:10Oke, ini perlu diperhatikan bagaimana hormus kembali memanas.
15:13Kita harapkan ada upaya-upaya diplomasi ataupun negosiasi,
15:15kalau tadi Pak Jaka bilang di balik layar ini bisa menghasilkan keputusan yang baik.
15:19Terima kasih Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada,
15:23Heribertus Jaka Triana sudah bersama di Sapa Indonesia.
15:26Pagi, sehat selalu Pak Jaka.
15:27Sehat selalu Pak Jaka.
15:30Saudara, meski operasi SAR kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 telah dihentikan sejumlah.
Komentar