00:00Bayangkan ada pesta besar yang rutin diadakan setiap tahun di tata surya kita.
00:04Pesta ini bukan diadakan di planet manapun,
00:07melainkan di ruang angkasa antara Mars dan Jupiter.
00:10Tamu undangannya adalah jutaan partikel debu kosmik yang melesat dengan kecepatan luar biasa tinggi.
00:16Ketika bumi kita melewati area pesta ini, partikel-partikel itu terbakar di atmosfer kita.
00:21Hasilnya adalah pertunjukan cahaya spektakuler yang kita kenal sebagai hujan meteor.
00:26Tapi pertanyaan besarnya adalah, dari mana datangnya jutaan puing kosmik ini?
00:31Para astronom telah lama mengamati pola hujan meteor Perseid yang muncul dari arah rasi bintang Perseus?
00:37Mereka menduga semua partikel ini berasal dari sumber yang sama.
00:41Namun identitas sumber itu menjadi misteri selama bertahun-tahun.
00:45Apakah ini sisa-sisa dari sebuah planet yang hancur?
00:48Atau mungkin sesuatu yang lebih aneh lagi?
00:51Misteri itu mulai terjawab pada tahun 1862 ketika dua astronom, Lewis Swift dan Horace 2T, menemukan sebuah komet baru.
01:00Komet ini, yang kemudian diberi nama Sarastus-Minape-Swift-Tuttle, mengorbit matahari dalam periode sekitar 133 tahun.
01:09Yang mengejutkan, orbitnya ternyata sangat cocok dengan jejak hujan meteor Perseid.
01:14Ternyata, setiap kali komet ini mendekati matahari, panasnya membuat es dan batuan di permukaannya menguap dan terlepas.
01:21Komet Swift-Tuttle adalah komet periode terbesar yang diketahui mengorbit dekat bumi dengan inti selebar 26 kilometer.
01:28Bayangkan sebuah gunung berukuran kota kecil yang melesat melintasi tata surya.
01:33Setiap 133 tahun, ia meninggalkan jejak debu dan es segar di sepanjang jalurnya.
01:39Jejak ini tidak menghilang, melainkan tetap berada di orbit selama ratusan tahun.
01:44Bumi kita dalam perjalanannya mengelilingi matahari akan melewati area yang dipenuhi jejak-jejak komet ini setiap tahun di bulan Agustus.
01:52Ketika bumi menabrak awan debu komet ini, partikel-partikelnya memasuki atmosfer dengan kecepatan 5,9 kilometer per detik.
02:00Itu lebih cepat dari peluru yang ditembakkan dari senapan mesin sekalipun.
02:05Gesekan dengan udara di atmosfer atas membuat partikel-partikel itu memanas hingga lebih dari 1650 derajat Celcius dan bersinar terang.
02:14Kita menyebutnya sebagai bintang jatuh, padahal sebenarnya itu adalah batuan luar angkasa yang terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi.
02:21Fenomena ini disebut ablasi, yaitu proses penguapan material akibat panas gesekan.
02:27Puncak hujan meteor Perseid biasanya terjadi antara tanggal 11 hingga 13 Agustus setiap tahun.
02:33Pada saat puncak, bumi melewati bagian terpadat dari jejak debu komet.
02:38Kecepatan puncak yang teramati bisa mencapai 100 hingga 150 meteor per jam dalam kondisi langit yang sangat gelap.
02:45Namun, untuk menikmatinya dari Indonesia, kita perlu memperhatikan fase bulan.
02:50Jika bulan sedang terang, cahayanya bisa mengurangi jumlah meteor yang terlihat.
02:54Waktu terbaik untuk mengamati adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar saat titik radiannya sudah tinggi di langit.
03:03Jadi, setiap kali kamu melihat bintang jatuh di bulan Agustus, ingatlah bahwa itu adalah sisa perjalanan komet raksasa yang melewati
03:11tata surya kita ratusan tahun lalu.
03:13Fenomena ini adalah pengingat indah bahwa kita adalah bagian dari alam semesta yang terus bergerak dan berubah.
03:19Kalau kamu punya pengalaman menarik saat mengamati hujan meteor atau ada pertanyaan tentang fenomena langit lainnya, tulis di kolom komentar
03:27ya.
03:28Jangan lupa untuk tekan tombol like dan bagikan video ini ke teman-temanmu yang suka melihat bintang.
03:33Terakhir, klik tombol subscribe agar kamu tidak ketinggalan video-video menarik lainnya tentang keajaiban alam semesta.
03:40Sampai jumpa di petualangan astronomi berikutnya.