Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Tangis ibu korban santri yang tewas akibat kasus pembakaran oleh seniornya di Lombok pecah saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Tak kuasa berbicara, sang ibu diwakili oleh tim kuasa hukum Hotman Paris Hutapea untuk menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo di hadapan Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman.

"Saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden dan wakil rakyat. Anak saya ke ponpes untuk belajar agama, bukan untuk disiksa," ujar anggota Tim Hotman 911, Titi Tantry, saat membacakan pesan ibu korban.

Baca Juga 2 Santri Korban Pembakaran di Lombok Tengah Temui Komisi III DPR, Minta Keadilan | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/680235/2-santri-korban-pembakaran-di-lombok-tengah-temui-komisi-iii-dpr-minta-keadilan-kompas-siang

#dpr #komisiiiidpr #santri #lombok #hotman #breakingnews


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/680261/tangis-ibu-korban-depan-dpr-terkait-kasus-santri-dibakar-di-lombok-beri-pesan-ke-presiden-prabowo
Transkrip
00:00Ya, Ibu, mungkin ada yang ingin disampaikan?
00:04Pakai diterjemahin.
00:07Iya, nggak apa-apa.
00:10Pelan-pelan aja, sabar, Bu, tenang.
00:14Mencet, Mbak, dipencet ini ya.
00:47Ijin pimpinan karena kebetulan beliau ini ada tekanan psikologis.
00:53Di satu sisi dia tidak bisa menyampaikan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
00:58karena beliau ini berasal dari kampung di Pulau Lombok dan berada di dalam kemiskinan.
01:07Jadi berkomunikasi pun dengan tim kami yang di Hotman 911 itu menggunakan penerjemah.
01:14Kebetulan kami ini adalah tim dari Pulau Lombok.
01:18Jadi apa yang disampaikan oleh beliau ini memang almarhum anak korban Sobirin ini
01:26pernah menceritakan tiga hari sebelum pembakaran itu menyampaikan bahwa dia pernah diancam oleh anak pimpinan PONPES
01:38akan dibakar kalau tidak menuruti kemauan dari si pelaku.
01:43Kemudian pernah ditanyakan oleh ibunya si korban
01:49Sanak, wah mdek tebuli atau wah mdek tepantok le sekolah
01:55atau dalam bahasa Indonesia nya apakah kamu pernah dibuli dipukul di sekolah
02:00si anak ini tidak berani bercerita pimpinan
02:02karena selalu diancam sama anak pimpinan PONPES-nya.
02:07akhirnya begitu terjadi pembakaran
02:09tiga hari setelah terjadi pembakaran
02:12baru bisa berbicara si anak
02:14baru menyampaikan bahwa dia itu dibakar
02:17di dalam ruangan itu adalah ruangan kosong pimpinan
02:21kemudian api terisi bensin itu menyebar di situ
02:25sehingga mulai dari wajah sampai sekujur tubuh kaki korban itu
02:29kena luka bakar yang sangat drastis 80 persen
02:33hanya bagian perut dan paha sedikit yang tidak kena bakar pimpinan.
02:38Terima kasih.
02:40Ya mungkin bisa disampaikan Bu
02:42Insya Allah kiam kita ini komisi tiga
02:46akan berupaya maksimal untuk memberikan ya
02:50agar korban almarhum bisa mendapatkan keadilan.
02:54Apa ya Sampai Angku?
02:56Sampai kan?
02:58Harapkan Ibu ya.
03:04Ya bisa dipahami, bisa memahami ya.
03:07Kalau tadi disampaikan, nanti disampaikan ke beliau ya
03:10bahwa korum ini kita selenggarakan dalam rangka mencari
03:14masalah seperti apa dan memberikan keadilan kepada korban.
03:18Bapak-bapak ini mau bantu supaya Ibu dapat keadilan ya.
03:23Apa ya Mendeng?
03:26Kedeng banget buat.
03:37Intinya begini ya, pimpinan kameran kami sudah berbicara memang.
03:42Pada intinya adalah beliau ingin pimpinan ponpes itu diberikan sanksi seberat-beratnya
03:48atas tindakan yang tidak memperdulikan anak-anak, tidak menjaga anak-anak.
03:54Karena kan di ponpes ini saat orang tua ini menitipkan anak-anak ini di ponpes itu sudah menulis surat ya.
04:01Apa namanya itu Pak?
04:02Pernyataan?
04:04Apa?
04:04Pernyataan perdamaian.
04:05Bukan, kalau menitipkan anak itu menyerahkan sepenuhnya kepada ponpes ini gitu.
04:11Jadi sudah ada pernyataan karena pihak ponpes ini tidak mengambil sikap yang tepat ataupun menjaga anak-anak mereka.
04:19Jadi beliau minta dihukum seberat-beratnya agar para tersangka ini juga mendapatkan ganjaran yang setimpal gitu.
04:27Karena beliau kan sudah tidak bisa melihat anaknya sama sekali.
04:31Kemudian bapak suami dari Al-Mahrum juga sudah tua dan sakit-sakitan.
04:37Jadi sangat memohon kepada pimpinan dan juga aparat penegak hukum untuk bisa melihat kasus ini secara objektif.
04:46Jangan hanya melihat sisi nama baik saja yang dijaga.
04:51Karena negara tidak hadir awalnya ini.
04:54Seharusnya negara itu hadir sejak awal.
04:56Itu gunanya ada pemerintahan di sana pimpinan.
04:58Terima kasih.
04:59Vokasi secara hukum juga ingin membantu pengobatan secara medis.
05:05Dua-duanya yang penting pemulihan apakah secara hukum dan pemilihan secara medis.
05:11Sama-sama kita ingin lakukan ke korban dan para korban.
05:14Yang jelaskan sudah ada yang meninggal.
05:16Tentu kita tidak bisa ampaikan aspek hukumnya.
05:20Mungkin masih ada lagi dari pihak Mbak Putri cukup ingin menyampaikan?
05:27Ibu?
05:29Sudah tenang?
05:31Ya, enggak apa-apa.
05:32Bahasa sasak nanti ada yang terjemahkan.
05:56Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:00Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
06:24Tijen pimpinan apakah bisa kami wakilkan?
06:27Ya, silakan.
06:28Karena kan kami berkomunikasi beberapa hari ini dengan dia.
06:31Ya, disampaikan saja apa yang bersangkutan.
06:35Harapan kepada yang pertama yaitu kepada Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya hormati dan saya cintai kami, saya hanyalah seorang
06:44ibu kampung yang miskin, yang tidak punya harta dan sekarang tubuh sudah sakit-sakitan, jalan pun sudah tidak normal lagi.
06:51Karena hancurnya hati saya melihat anak saya, Sahril Sobiran, dibakar hidup-hidup sampai meninggal dunia.
06:59Sebagai rakyat kecil, saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden sebagai Bapak dari seluruh anak di Indonesia.
07:05Anak saya ke pondok santren untuk belajar agama agar jadi anak yang baik, bukan untuk disiksa.
07:10Saya ditelanjangi oleh anak pemilik PONPES, lalu dibakar sampai mati.
07:15Ketika saya menolak surat damai, mereka membuang kami.
07:18Bapak Presiden, orang miskin seperti saya ini tidak tahu harus mengadu kemana lagi.
07:22Karena pihak kepolisian dan orang Departemen Agama di Lombok Tengah justru ikut mengarahkan pondok pesantren untuk menyodorkan surat damai demi
07:30menutupi kejahatan ini.
07:31Saya memohon kepada Bapak Presiden, tolong turunkan orang-orang kepercayaan Bapak dari Jakarta untuk memeriksa oknum-oknum polisi dan pejabat
07:39di daerah yang ikut membungkam darah anak saya.
07:42Tolong pastikan hukum tidak pandang bulu meskipun pelakunya adalah anak tuan guru atau pemilik pondok pesantren.
07:49Nyawa anak saya tidak bisa dibeli dengan selembar kertas damai.
07:55Harapan kepada pimpinan dan anggota DPR Komisi 3, para wakil rakyat yang terhormat di DPR RI, khususnya Bapak dan Ibu
08:03di Komisi 3.
08:04Saya datang jauh-jauh dari Lombok dengan langkah kaki yang tertati-tati dan fisik yang sakit karena saya percaya di
08:11ruangan ini masih ada hati nurani yang tersisa untuk membela orang kecil seperti saya.
08:16Harapan saya sangat sederhana, jangan biarkan kasus kematian anak saya, Sahril Sobirin, menguap dan dilupakan hanya kami orang miskin yang
08:26tidak punya uang dan kekuasaan.
08:28Saya memohon kepada Komisi 3 untuk menggunakan wewenang besar yang Bapak dan Ibu miliki guna mendesak ke Polri, mengusut tuntas
08:35kandang pembungkaman ini.
08:37Tolong awasi polisi-polisi di daerah kami yang tega-teganya menyuruh pihak pesantren meminta tanda tangan damai di atas luka
08:45bakar 80% anak saya.
08:47Saya meminta keadilan yang seadil-adilnya seret semua pelaku penganyayaan, pelaku pembakaran dan orang-orang besar di dalam pesantren yang
08:55ikut menyembunyikan kejahatan ini ke dalam penjara.
08:59Jika DPR RI tidak membantu saya, kemana lagi kami orang kampung yang pincang dan buta hukum seperti saya ini harus
09:06mencari keadilan di negeri ini.
09:08Terima kasih.
09:09Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan