Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto menceritakan kedekatannya dengan keluarga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menghadiri Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026.

Prabowo mengaku telah mengenal lingkungan keluarga besar NU sejak kecil.

Ia menyebut pernah tinggal berdekatan dengan keluarga Gus Dur di Jakarta.

"Saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama dari sejak kecil karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta," kata Prabowo saat menghadiri penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU, di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

Ia juga sempat berkelakar soal kedekatan dirinya dengan para kiai NU ketika membahas jalannya acara dan durasi pidato.

Dengan nada bercanda, Prabowo menyebut bahwa "kalau di sini harus patuh sama kiai", yang disambut suasana hangat dalam forum tersebut.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Frashiva Rizaldi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/676645/di-hadapan-ulama-nu-prabowo-cerita-kedekatan-dengan-keluarga-gus-dur
Transkrip
00:00Terima kasih atas sambutan yang luar biasa.
00:04Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nadatul Ulama.
00:18Nyaman dan aman, merasa aman.
00:22Sambutan yang demikian besar kepada saya.
00:27Karena masalah memang saya kenal keluarga besar Nadatul Ulama dari sejak kecil.
00:37Karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta.
00:46Dan yang saya, yang putri saya memang dari NU.
00:58Dan juga ada satu ciri khas yang saya dari dulu perhatikan.
01:03Bahwa Nadatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan.
01:13Tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air.
01:24Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotik.
01:31Sampai-sampai lagunya NU yang ditulis atau dibuat sebelum Indonesia Merdeka.
01:43Tapi sudah mengandung nilai-nilai cinta tanah air yang luar biasa.
01:50Dan ini masih dipertahankan setiap acara NU saya perhatikan lagu Syuh Banol Waton tidak pernah tidak dinyanyikan.
02:02Terima kasih.
02:05Bahkan nyanyinya itu tangannya pun harus kepalan.
02:12Ini luar biasa ini, saya, ini belum ada Kopassus.
02:17NU sudah lebih dari Kopassus.
02:25Sekarang apa itu ya, TNI kan ada itu.
02:29Kalau foto, salam komando.
02:32NU sudah dulu, sebelum kemerdekaan, sudah salam komando itu.
02:39Jadi saya, terima kasih.
02:42Saya diundang dan terima kasih atas dukungan keluarga besar NU.
02:53Keluarga besar NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit.
03:04Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator.
03:15Faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara.
03:20Sudah-sudah sekalian.
03:23Nah, karena itu saya yakin dan percaya bahwa Nahdlatul Ulama
03:32akan selalu punya peranan yang positif, yang baik untuk bangsa dan negara.
03:42Nahdlatul Ulama organisasi para kiai, para ulama.
03:49Para kiai dan para ulama adalah menurut saya,
03:53tokoh-tokoh yang paling dekat apalagi dengan rakyat di pedesaan.
04:07karena itu, para kiai dan para ulama.
04:13Karena itu, para kiai dan para ulama faham, mengerti apa yang dirasakan rakyat.
04:21para kiai dan para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah.
04:32karena itu ada suatu perkembangan alamiah.
04:46karena tentara, pejuang, polisi dan aparat juga berasal dari rakyat.
05:01karena itu, ulama, pemerintahan, tentara, kepolisian, sesungguhnya,
05:17paham dan mengerti perasaan rakyat.
05:38Boleh lanjut.
05:42Harus patuh sama kiai, kalau di sini, di istana nanti kiai patuh sama saya.
05:54Itu namanya ulama sama Umaroh, bersatu untuk negara dan bangsa.
06:02Saudara-saudara sekalian, sesungguhnya kita mengerti apa yang dirasakan rakyat kita.
06:10Saudara-saudara sekalian, saya dilantik tanggal 20 Oktober tahun 2024.
06:19Di hadapan seluruh rakyat.
06:24Saya disumpah untuk menjalankan undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945
06:35dan segala perundangan-undangan yang berlaku.
06:44Saya disumpah, saya harus menjalankan.
06:50Dan kita tidak perlu pura-pura.
06:55Kita tidak perlu bicara manis-manis, karena itu memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan.
07:07Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya, tapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya.
07:20Bahwa setelah sekian puluh tahun kita merdeka.
07:26Apalagi sudah saya menjadi presiden, saya melihat data-data, fakta-fakta.
07:32Saya merasa bahwa sesungguhnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang kita membiarkan.
07:53Penyimpangan-penyimpangan ini menurut keyakinan saya inilah yang membuat bangsa kita dalam keadaan sekarang
08:11yang dimana kita harus mengakui terlalu banyak kekayaan negara yang hilang, yang diambil dari hak rakyat, hak bangsa, memperkaya segelintir
08:36orang saja.
08:37Bahkan kekayaan tersebut terlalu banyak mengalir ke luar negeri.
08:44Tidak tinggal di bangsa Indonesia.
08:48Jadi kesulitan yang kita alami sekarang, kita harus berani menghadapi.
08:54Kita harus berani menghadapi kenyataan.
08:59Karena itu saya di depan konversi besar ini, walaupun penutupan saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan beberapa pandangan saya.
09:12Yang pertama, hanya bangsa yang bodoh yang akan meneruskan suatu sistem di mana kekayaan bangsa tidak tinggal di bangsa itu.
09:41Saudara-saudara sekalian, saya baru kurang lebih 18 bulan memimpin pemerintahan.
09:53Saya sendiri, saya sendiri syok, terkejut, sedih melihat beberapa besar kekayaan kita yang hilang selama ini.
10:10Ini bukan kita cari kesalahan.
10:14Kita anggaplah ini suatu kelalean kita bersama.
10:25Tapi saya disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat.
10:31Karena itu saya harus melaksanakan yang terbaik yang bisa saya laksanakan supaya saya tidak ingkar sumpah saya kepada bangsa dan
10:42rakyat.
10:43Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan