Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan kesiapan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026. Langkah antisipasi dilakukan menyusul adanya indikasi kemunculan fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga 2027 dan berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang.

Usai rapat koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan bersama pemerintah daerah, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, menjelaskan bahwa langkah antisipasi utama yang perlu dilakukan adalah menjaga ketersediaan sumber air, terutama di kawasan hutan pedalaman yang jauh dari aliran sungai.

Menurut Edy, pengalaman saat fenomena El Nino pada 2015 menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah tepian sungai, tetapi juga di tengah kawasan hutan dan lahan gambut yang sulit dijangkau.

Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya karhutla yang dapat menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat.

#kalimantantengah #karhutla #pemerintah

Baca Juga Hasil Turki Vs Paraguay: Gol Cepat Matias Galarza Bawa Paraguay Menang Meski dengan 10 Pemain di https://www.kompas.tv/olahraga/675954/hasil-turki-vs-paraguay-gol-cepat-matias-galarza-bawa-paraguay-menang-meski-dengan-10-pemain

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/675959/kalimantan-tengah-siaga-karhutla-2026-antisipasi-dampak-el-nino-hingga-2027-sapa-pagi
Transkrip
00:00Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan kesiapannya dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutlah pada tahun 2026.
00:08Hal ini menyusul adanya indikasi kemunculan fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga 2027 dan berpotensi memicu musim kemarau lebih
00:17panjang.
00:21Usai rapat koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan bersama pemerintah,
00:25Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edi Pratau menjelaskan, antisipasi utama yang perlu dilakukan adalah menjaga ketersediaan sumber air,
00:32terutama di kawasan hutan pedalaman yang jauh dari sungai.
00:35Menurutnya pengalaman Sat El Nino 2015 menunjukkan kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah tepi sungai,
00:41namun juga di tengah hutan dan lahan gamut yang sudah dijangkau.
00:44Ini tidak hanya terjadi di wilayah pinggiran dekat sungai, yang memang pasti kalau dekat sungai kan sumber airnya akan banyak,
00:52rembesan-rembbesan.
00:53Tapi kebakaran ini bisa terjadi di tengah hutan, di tengah kawasan hutan yang memang sumber airnya tidak ada, kering.
01:01Karena kering, nah oleh karenanya ini yang penting dilakukan selain modifikasi cuaca tadi ya,
01:06bantuan hujan buatan, mumpung awan masih tersedia, nanti kan akan terjadi di bulan Juli, Agustus, September, Klobar katanya tadi ya,
01:17kalau mulai Juni, Juli tadi. Nah, mumpung masih dalam tahap, masih ada awan, itu bisa dilakukan modifikasi hujan buatan.
01:25Nah, tetapi juga yang harus kita perhatikan adalah kalau terjadi kebakaran, apalagi El Nino,
01:33itu apalagi terjadi di lahan gamut, ya, gamut yang memiliki ketebalan 2 sampai 4 meter,
01:39itu kita harus secara arif juga melakukan, ya, bisa, bagus digantungkan water booming,
01:45tapi yang kita jaga itu jaraknya, karena kipas helikopter itu juga akan nanti, apa, membarah gitu ya,
01:53mengipasi gitu, seperti sate gitu ya, karena gamut itu kan di bawah yang menggerogoti,
01:58di atas permukaan mungkin tidak terbakar, asap saja.
02:00Selain modifikasi cuaca atau hujan buatan, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya penyiapan embung,
02:06yakni kolam penampungan air hingga tangki air darurat, untuk mendukung operasi pemadaman di darat.
02:12Langkah ini dinilai krusial, mengingat sumber air kerap berjarak hingga beberapa kilometer dari titik kebakaran.
02:17EDI juga mengingatkan penanganan kebakaran di lahan gamut memerlukan perhatian khusus.
02:22Jahwa Majid, Muhammad Jamjari, Kompas TV, Jakarta.
Komentar

Dianjurkan