Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko menyebut mahasiswa yang naik ke atas panggung saat diskusi di UGM tak melontarkan pertanyaan apa pun.

Budiman pun menolak tudingan sebagai pengkhianat reformasi karena dia merasa sebagai aktivis 98, dia mendukung pemerintahan yang terpilih secara demokratis.

Mengapa kericuhan dalam diskusi di Universitas Gadjah Mada yang menghadirkan tiga pejabat bisa terjadi?

Kita akan bahas dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, yang juga hadir dalam diskusi di UGM, dan Guntur Romli, Juru Bicara PDIP.

Baca Juga [FULL] Debat Ray Rangkuti Vs Budiman Sudjatmiko soal Mahasiswa Geruduk Dialog Pejabat di UGM di https://www.kompas.tv/nasional/675272/full-debat-ray-rangkuti-vs-budiman-sudjatmiko-soal-mahasiswa-geruduk-dialog-pejabat-di-ugm

#budimansudjatmiko #ugm #mahasiswa

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/675274/full-wamentan-sudaryono-ungkap-kronologi-mahasiswa-geruduk-dialog-pejabat-di-ugm-ini-respons-pdip
Transkrip
00:00Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sujat Miko menyebut,
00:05mahasiswa yang naik ke atas panggung saat diskusi di UGM tidak melontarkan pertanyaan apapun.
00:11Budiman pun menolak tudingan sebagai pengkhianat reformasi karena dia merasa sebagai aktivis 1998
00:18yang mendukung pemerintahan yang terpilih secara demokratis.
00:23Juga ada ucapan yang tajam mencap Anda sebagai pengkhianat reformasi.
00:27Mahasiswa mengaku kecewa sebagai Anda mantan aktivis 98.
00:31Respons Anda seperti apa?
00:32Saya tidak bergabung pada sebuah pemerintahan diktatorial.
00:37Saya bergabung pada sebuah pemerintahan yang sampai Februari tahun 2024 tidak jelas menang atau tidak.
00:45Apa bahwa ini?
00:47Artinya saya bergabung pada sebuah pemerintahan yang bukan hasil dari sebuah bentuk kudeta atau apa,
00:54tapi hasil pemilu.
00:55Satu, pemilu dan demokrasi itu hasil dari reformasi.
01:00Dan kebetulan menang, kebetulan menang.
01:04Pertanyaan di mana itu pengkhianatannya?
01:07Mengapa kericuhan dalam diskusi di Universitas Gejah Made yang menghadirkan tiga pejabat bisa terjadi?
01:13Kita akan bahas langsung bersama dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono
01:18yang juga hadir pada saat itu dalam diskusi di UGM serta Guntur Romli, jurubicara PDI Perjuangan.
01:24Selamat malam, Mas Wamen juga Mas Guntur dengan Friska di sini.
01:30Selamat malam.
01:31Selamat malam, Bang Guntur.
01:33Selamat malam, Mas Dar.
01:34Selamat malam.
01:35Saya ke Mas Dar dulu yang kemarin ada langsung di diskusi UGM.
01:40Sebenarnya apa yang menyebabkan diskusi di dalam ruangan maupun juga di luar ruangan setelah Mas Dar keluar dari ruangan itu
01:47tidak kondusif?
01:47Mas.
01:50Yang jelas gini ya, mungkin saya jelaskan dulu ya.
01:52Yang jelas kami, kegiatan kami itu adalah kopdar ngopi darat.
01:59Ada Pak Nusron dan kebetulan ada Pak Budiman.
02:02Dan ini bukan event yang pertama gitu.
02:05Jadi kan kami biasa kopdar dengan kelompok petani, kelompok mahasiswa, kelompok pedagang pasar, kelompok lain-lain, dan lain-lain ya.
02:14Jadi kami intinya adalah ini bagian ihtiar kami sebagai anggota kabinet untuk mensiarkan, memberitahu, menerangkan apa yang sedang kita kerjakan
02:24sekaligus kita juga mendengar aspirasi dari bawah.
02:28Misalnya, dan di pertemuan dengan mahasiswa ini juga bukan yang pertama.
02:32Kami sudah lakukan di beberapa kali, di beberapa kota gitu.
02:36Dan hasilnya oke, bagus gitu.
02:38Jadi banyak juga yang kami akhirnya dapat insight sesimpel.
02:41Misalnya orang lapor di desanya, harga pupuk mahal misalnya.
02:45Sehingga kami bisa juga langsung tindak lanjuti atau irigasi yang rusak.
02:49Kemudian ada yang ada sengketatan, dan lain-lain waktu itu.
02:52Oleh Pak Nusron juga langsung di follow up.
02:55Jadi intinya adalah, sementara intinya adalah kami datang di UGM dengan niat baik untuk kita berdiskusi dengan siapapun.
03:06Dengan siapapun.
03:06Ada yang pro, ada yang kontra, ada yang whatever lah.
03:08Pokoknya kita ketemu dengan audiens dengan berbagai macam.
03:12Dan disitu adalah mahasiswa game, dan mahasiswa sekitar game.
03:15Jadi, dan kami niatan kami baik.
03:17Ya kami datang.
03:18Dan acara juga sudah jalan sekitar 40 menit kalau nggak salah gitu.
03:23Kemudian entah kenapa ada sekelompok orang atau sekelompok mahasiswa yang kemudian naik ke panggung.
03:30Dan itu bukan juga yang pertama.
03:32Di acara kami yang sebelumnya juga naik panggung biasa.
03:35Kemudian kita kasih make, ya mungkin barangkali mau teriak.
03:39Apapun boleh gitu di acara itu.
03:41Ternyata bukan untuk bertanya gitu.
03:44Tapi ternyata untuk mengajak kawannya yang lain kemudian untuk kemudian membuarkan kegiatan itu.
03:51Jadi tidak mau adanya kegiatan diskusi itu gitu.
03:55Akhirnya kami juga sempat bertahan disitu cukup lama.
03:57Jadi kami nggak langsung pergi juga.
03:59Jadi kalau tadi di siaran sebelumnya ada kejar-kejaran, saya kira nggak ada kejar-kejaran.
04:04Ya kan?
04:04Jadi sebetulnya nggak semencekam yang diceritakan sih gitu.
04:09Maksudnya, jadi kami kemudian setelah sekian lama, ada lempar air, terus ada yang berusaha mengukul saya gitu.
04:17Nah karena ada yang berusaha mengukul tadi, kebetulan kena pak usaha sebelah sini tapi nggak terlalu serius lah gitu.
04:24Cuman kayak kesenggol aja gitu.
04:26Terus akhirnya kami, kemudian nggak kondisif, kami putuskan untuk pulang.
04:32Nah jadi kita pulang, ya sudah kita naik mobil sama Pak Nusron.
04:35Terus kemudian kita mau pulang, mobil kami dihadang.
04:39Nah mobil dihadang ya kita nunggu setengah, nunggu sepuluh menit lah.
04:43Sambil ngobrol dalam mobil, tiba-tiba di luar terlihat,
04:46Mana Pak Nusron, mana Pak Terino kalau berani sini ya?
04:49Kami keluar.
04:50Loh gimana?
04:52Ada apa?
04:52Mau bagaimana lagi gitu?
04:54Jadi kami keluar, kami hadapi lah.
04:57Kan niatan kami itu adalah mencerahkan dan juga mendengar.
05:01Kami ingin dengar sebetulnya apa yang mau disampaikan itu gitu.
05:07Jadi sehingga setelah kami keluar, terus mereka minta diskusi.
05:11Oke, diskusi akhirnya kita duduk di aspal, di jalan, kemudian diskusi.
05:16Nah diskusinya itu kemudian ya terjadi diskusi lah gitu ya.
05:20Ada pertanyaan kemudian kami jawab dan lain-lain.
05:23Terus kami merasa bahwa memang diskusinya itu gak nyambung gitu.
05:26Dalam hal bagaimana mas?
05:29Ya misalnya kan kami, ada yang bertanya misalnya contoh mempertanyakan mengenai food estate
05:35atau film Festa Pesta Babi gitu.
05:37Yang jelas kan Pak Anusuran juga dituduh menggusur orang Papua.
05:42Apalagi program cetak sawah kan di Kementerian Pertanian.
05:45Ya kami sampaikan, ya sudah.
05:47Mari setelah ini siapapun itu yang merasa ragu, ikut saya saja ke Papua.
05:53Di tempat cetak sawah, di tempat yang Festa Babi itu mari kita lihat.
05:57Bener enggak?
05:59Bener enggak tuh maksudnya programnya bener enggak?
06:01Rakyatnya digusur bener enggak?
06:03Kalau digusur di mana?
06:04Siapa namanya kan?
06:05Jadi kan kita ingin terbuka di situ.
06:08Cuma enggak mau gitu.
06:10Maunya, wah gue enggak nonton.
06:12Jadi ya saya merasa akhirnya enggak.
06:16Enggak tahu ya ada jual-beli pertanyaan dan jawaban yang bagus.
06:21Jadi akhirnya daripada ini udah deh kita pulang aja.
06:24Akhirnya kita pulang gitu.
06:25Itu aja sih sebetulnya.
06:27Kalau saya tanyakan ke Mas Guntur yang melihat
06:30kondisi seperti ini apa?
06:32Apa sebenarnya yang bisa kita baca Mas Guntur?
06:34Kenapa diskusinya buntu, bahkan bisa ricuh yang terjadi di UGM?
06:39Berbeda dengan beberapa diskusi yang sudah terjadi sebelumnya Mas Guntur?
06:44Ya Mbak Friska, semestinya memang mahasiswa yang diundangnya
06:48untuk menyampaikan apa yang menjadi motif mereka
06:52melakukan kegiatan dalam diskusi tersebut.
06:56Namun saya bisa memahami mahasiswa melakukan protes itu
07:00karena tempat diskusi itu kan di kampus.
07:03Saya juga biasa terlibat dengan acara-acara mahasiswa di kampus
07:08dan biasanya kalau kita kerjasama dengan mahasiswa
07:11dan kita tidak ingin merendahkan intelektualitas kampus tersebut
07:15kita juga mengundang menjadikan pembicara dosen setempat dan mahasiswa setempat
07:21bukan hanya sekedar peserta atau sekedar penonton.
07:24Ini untuk menunjukkan bahwa kita mengakui kestaraan intelektual
07:29antara kita dengan kampus yang kita adakan
07:32dan jangan hanya jadikan kampus itu sebagai tempat saja
07:35atau tempat sosialisasi.
07:38Bicara soal pertanian, soal Pancasila, UGM sangat kaya dengan guru-guru besar
07:44dosen-dosen yang kritis terkait tema-tema tersebut.
07:47Jadi kalau saya sendiri menyayangkan tidak adanya narasumber yang berbeda
07:54dalam kegiatan tersebut.
07:57Padahal yang kita inginkan adalah dialog yang positif, dialog yang produktif
08:04dan tidak hanya dialog atau monolog yang searah
08:08hanya narasumber sejenis misalnya dari narasumber para menteri saja
08:14karena yang kita lihat bahwa dalam kampus itu adalah gagasan dialektika
08:21perdebatan itu yang lebih penting daripada sekedar misalnya
08:26sosialisasi terkait apa yang dicapai oleh pemerintah.
08:30Saya kira mahasiswa tidak akan mau kalau hanya menyimak presentasi searah tersebut
08:36dan saya memahami apabila mahasiswa kemudian protes karena melihat
08:41kegiatan tersebut tidak lebih dari sebagai bagian dari sosialisasi
08:47atau disebut dengan propaganda dengan tidak adanya narasumber yang lain
08:52tidak cover both side.
08:54Ya boleh saja ada narasumber yang ingin menyampaikan gagasan pemerintah.
08:58Tapi saya kira dosen-dosen peneliti dan mahasiswa di UGM juga punya
09:02bahan yang kaya yang tentu saja bisa memberikan perspektif yang berbeda.
09:09Mungkin itu ya yang bisa saya komentari.
09:12Apakah bottleneck ini juga terjadi pada saat diskusi
09:16sehingga memantik adanya kericuhan di tengah diskusi maupun di luarnya
09:20plus juga tadi salah satu pernyataan dari SEMA UGM adalah
09:25pada saat itu mereka mempertanyakan kepada Mas Dar juga Mas Nusron
09:30apakah para pejabat ini bersalah atau tidak dengan kondisi Indonesia saat ini
09:35dan mereka menganggap jawabannya tidak memuaskan.
09:39Kita akan bahas ini sesat lagi di Sapa Indonesia Malam.
09:42Sapa Indonesia Malam masih bersama dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono
09:46yang juga hadir dalam diskusi di UGM.
09:48Juga Guntur Romli, juru bicara PDI Perjuangan saya ke Mas Dar.
09:52Saya bacakan dulu ini pernyataan dari SEMA UGM official
09:56terkait dengan kejadian kemarin.
09:58Secara eksplisit kami mempertanyakan kepada Nusron Wahid dan Sudaryono
10:01apakah kalian merasa bersalah dengan kondisi Indonesia saat ini?
10:05Mereka secara eksplisit mengatakan tidak merasa bersalah.
10:07Pada saat itu ada yang mempertanyakan hal itu Mas Dar pada saat diskusi?
10:12Ada yang nanya.
10:13Maka kan kita duduk bersilah tiba-tiba nanya masalah tadi kan.
10:18Pesta babi dalangan kan kita kemudian ngajak,
10:21yaudah kalau gak percaya ayo kita pergi ke sana gitu ya.
10:25Terus mereka kan gak mau.
10:26Terus tiba-tiba pertimbul pertanyaan,
10:28apa sih, merasa bersalah gak gitu?
10:30Kan bingung juga ya, maksudnya apa?
10:32Salah apa ya?
10:33Apa?
10:34Maksud pertanyaannya apa gitu ya?
10:36Itu sih maksud saya.
10:37Saya jujur aja,
10:39saya gak ngeh gitu, gak dong aja.
10:40Maksud pertanyaannya apa gitu.
10:42Maksudnya apa gitu?
10:44Merasa salah gak?
10:45Gula gak?
10:46Merasa salah.
10:46Ya mungkin tadi gak sholat subuh gitu kan salah juga kan gitu.
10:49Iya kan?
10:50Tapi kan mungkin bukan itu gitu ya.
10:53Atau tadi skip sholat atau skip apa gitu ya.
10:58Jadi saya jujur aja ini,
11:00pertanyaan itu dilontarkan dan saya juga
11:03sebetulnya gak gitu ngeh, gak gitu dong juga.
11:05Dan saya yakin panusur juga artinya maksudnya apa sih gitu.
11:07Gak paham juga gitu.
11:08Maksudnya apa kita gak paham jujur aja.
11:10Sehingga merasa bahwa karena lontaran pertanyaan
11:14dan juga kita juga menanggapinya itu
11:18kemudian tidak nyambung,
11:19terus banyak teriakan dan seterusnya ya.
11:21Jadi aku merasa
11:22emang gak bisa diteruskan lah diskusinya lah gitu.
11:25Jadi ya makanya akhirnya saya bikin,
11:28setelah saya pulang naik mobil,
11:30kemudian saya dipanya sama Didit kan,
11:33bikin klarifikasi gitu.
11:35Biasanya juga mengundang siapapun tadi
11:37yang termasuk yang adik-adik yang kemarin,
11:40sekelompok teman-teman adik-adik yang kemarin itu juga,
11:44saya siap untuk diskusi lagi.
11:46Gak ada masalah gitu.
11:47Termasuk juga adik-adik yang sebetulnya sudah
11:50memenuhi tempat tadi ya.
11:52Bukan yang sekelompok ya,
11:54tapi yang mayoritas yang hadir itu sebetulnya sudah baik gitu.
11:58Artinya kan memang acara sudah berjalan sekitar 40 menit ya.
12:02Jadi sebetulnya saya jujur saja Mbak,
12:06saya dalam hal ini kami beri tingkat baik ya.
12:09Orang boleh berkopin apapun,
12:11termasuk tadi saya hormatilah pendapatnya Bang Guntur.
12:14Tapi yang jelas ini kan ikhtiar kami,
12:17ya tentu saja kalau dibilang misalnya kurang ini,
12:20harusnya begini ya tentu saja harusnya,
12:22dan harusnya itu kan selalu punya banyak harusnya ya.
12:25Itu relatif lah,
12:26itu kan pandangan masing-masing.
12:27Tentu saya berbeda,
12:28dan kami berusaha untuk ketemu dengan semua kalangan.
12:31Tidak hanya ketemu dengan mahasiswa,
12:33kami ketemu dengan kelompok Kiai,
12:36kami ketemu dengan kelompok Gus-Gus,
12:38kami ketemu dengan kelompok Petani,
12:40itu bagian kami di Pertanian misalnya,
12:42kami ketemu dengan kelompok Nelayan,
12:43dan kami ketemu dengan kelompok mahasiswa juga di Jakarta
12:48ataupun di kota-kota lain sebelum kejadian yang di Yogyakarta.
12:52Dan saya jujur saja ini bukan berarti kemudian kami
12:55bekerja lati, kemudian sedih enggak,
12:57ya ini satu tantangan bahwa memang ada
13:01sekelompok orang yang memiliki pandangan lain,
13:04dan tentu saja ini jadi satu PR bagi kami,
13:07bagi saya khususnya,
13:08aduh mestinya ya mungkin bagaimana ya cara ngasih taunya ya gitu.
13:12Maksud saya,
13:12saya tetap ingin bisa berdialog dengan siapapun,
13:14dengan mereka semua,
13:16dan saya membuka dialog itu,
13:18termasuk barangkali kalau ada orang tuanya yang petani,
13:21atau ada yang memang mau berkecimpung di dunia pertanian,
13:24misalnya khususnya ya di bidang saya,
13:26ya aku sebagai ibaratnya sebagai akak,
13:29ya kami siap lah,
13:30kami siap untuk ketemu,
13:32untuk dialog,
13:32untuk diskusi,
13:33untuk apapun membedah sama,
13:34apapun kami siap lah.
13:36Saya pasti,
13:37saya juga enggak sempurna gitu,
13:39maksud saya,
13:39dan program pemerintah itu juga kan,
13:41pasti adalah gitu,
13:43kita maunya pupuk itu,
13:46nyampe semua ke petani,
13:47mungkin ada satu dua yang enggak nyampe,
13:48pupuknya itu harganya diskon 20%,
13:51mungkin ada juga yang masih tinggi,
13:52nah itu kita kan butuh juga,
13:54aspirasi laporan-laporan dari bawah,
13:57termasuk juga dari teman-teman mahasiswa,
13:58dan itu kami dapatkan di perteman-perteman sebelumnya,
14:01dan itu kami sangat,
14:02sangat grateful lah,
14:04terhadap,
14:04terhadap apa yang terjadi sebelumnya itu.
14:07Mas Guntur,
14:07agar saluran kritik,
14:10disampaikan selugas mungkin,
14:12bisa disampaikan secara langsung,
14:14dengan,
14:16secara klop begitu,
14:17artinya boleh menyampaikan kritik apapun,
14:19dan dijawab secara lugas,
14:21sebenarnya apa yang bisa dilakukan,
14:22bagaimana memfasilitasinya ya Mas Guntur,
14:24agar kejadian kemarin tidak terulang tentunya,
14:27dan betul-betul diserap aspirasinya,
14:29apa yang jadi kegelisahan masyarakat,
14:31termasuk masyarakat,
14:32Mas Guntur.
14:33Ya,
14:34ya,
14:35Mbak,
14:35jadi,
14:36kalau saya sendiri kan,
14:37sangat menghormati dan menghargai,
14:39itu dari Mas Dar tadi,
14:40yang memang,
14:42apa,
14:43melakukan kunjungan,
14:45berdialog dengan semua lapisan masyarakat,
14:47tapi saya kira,
14:48dalam pertemuan itu,
14:50kan ada beda-beda,
14:52kita bertemu dengan siapa,
14:54terus caranya bagaimana,
14:56bukan bermaksud ingin mengajari Mas Dar,
14:58tentu saja yang lebih ahli,
15:00terkait dengan kunjungan ini,
15:02tetapi,
15:03dalam tradisi kampus itu kan,
15:05sangat berbeda,
15:05jadi,
15:06tidak hanya misalnya,
15:09mensosialisasikan,
15:10apa yang sudah dikerjakan oleh pemerintah,
15:12kemudian menampung aspirasi,
15:14tapi dalam tradisi kampus kan,
15:16ada semacam dialektika,
15:18ada semacam kritik,
15:19yang tentu saja,
15:20jangan menganggap,
15:21bahwa apa yang sudah kita kerjakan ini,
15:23sudah benar-benar yang terbaik,
15:26makanya,
15:26membuka ruang,
15:27untuk membuka,
15:28perspektif yang berbeda,
15:30dari guru besar yang ada di kampus tersebut,
15:32atau dengan mahasiswa,
15:34dalam dialog yang setara,
15:37saya kira ini bisa,
15:38menjadi salah satu solusi ya,
15:40agar kejadian ini,
15:42tidak kembali terulang,
15:44di masa yang akan datang,
15:46karena memang sedih,
15:47kalau ada misalnya,
15:48diskusi di kampus,
15:49kemudian berhenti,
15:50kemudian,
15:51lebih banyak muncul adalah,
15:53soal emosi,
15:55dengan kata-kata yang saya lihat,
15:57juga tidak beratur,
15:58tapi ya gimana,
15:59dalam kondisi emosional,
16:01memang seperti itu,
16:02dan memang,
16:02ya sudah seharusnya itu dihentikan,
16:04biar tidak merembet ke hal-hal yang,
16:07apa,
16:07tidak baik,
16:08dan kita juga,
16:10melihat itu,
16:10tidak ada kekerasan,
16:12menurut saya sudah,
16:13bagus lah ya,
16:13meskipun ya,
16:14Mas Dap tadi bilang seperti itu,
16:16tapi menurut saya ya,
16:17untuk ke depan,
16:18dalam berdialog dengan lapisan masyarakat,
16:20ada,
16:20karakter yang berbeda-beda,
16:23yang ngobrol dahulu,
16:24dengan kiaikan berbeda,
16:25dengan mahasiswa,
16:26dengan dosen,
16:27dengan guru besar ya,
16:29format mungkin,
16:30acaranya juga,
16:32disesuaikan dengan tempat,
16:34di mana itu dia adakan,
16:35agar,
16:36apa,
16:38semua pihak bisa memberikan,
16:40sumbang sih,
16:41pikiran,
16:42tidak hanya,
16:43monolog,
16:44dan presentasi,
16:46searah saja,
16:46dan,
16:47mahasiswa,
16:47jangan hanya dijadikan sebagai,
16:49penonton,
16:50atau,
16:51pelihat saja,
16:51tapi aktif memberikan,
16:53masukan sebagai,
16:54darah sumber,
16:55dan juga,
16:55dosen-dosen yang lain,
16:57itu sih,
16:57masukan dari saya.
16:59Bang,
16:59kemampuan di tanggapan tadi,
17:00masukan dari Mas Guntur,
17:02untuk,
17:02ya,
17:04ya,
17:05terima kasih Bang Guntur,
17:06ya,
17:06apapun,
17:06kami catat ya,
17:08tentu saja,
17:10hanya memang,
17:10saya mungkin perlu,
17:12perlu sampaikan,
17:13bahwa,
17:13memang bukan,
17:14kok kita monolog,
17:15kita ngomong,
17:16terus,
17:17kemudian,
17:18mahasiswa yang datang,
17:18itu cuma dengerin,
17:19sehingga sih,
17:19jadi kita membuka,
17:22semacam presentasi awal,
17:23habis itu,
17:24habis itu ada tanya jawab,
17:26dan,
17:26dan di dalam tanya jawab itu,
17:28bahkan,
17:29ya,
17:29bahkan kami,
17:30atau,
17:30kadang-kadang Pak Nusron,
17:32atau saya itu,
17:32sering menyampaikan kalimat gini,
17:34adili kami,
17:35gitu,
17:36di forum ini,
17:37adili kami,
17:38apa yang,
17:39yang menggundahkan hatimu,
17:40apa yang selama ini,
17:42jadi undang-undang,
17:42apa yang selama ini,
17:44tentang pemerintah yang,
17:45apapun,
17:46sampaikan di sini,
17:47gitu,
17:48barangkali,
17:49bisa kita jawab,
17:50kita jelaskan jawabannya,
17:52kalau memang,
17:53dengan berapi-api,
17:54orang semangat,
17:55menjelaskan tentang aspirasinya,
17:57itu kemudian,
17:58aspirasi itu,
17:59ternyata,
18:00ya,
18:00ternyata,
18:01memang belum kami kerjakan,
18:02ya,
18:02kami akan kerjakan,
18:03gitu,
18:04atau,
18:04barangkali,
18:05harus kami klarifikasi,
18:06kami klarifikasi,
18:07kami jawab,
18:07kalau belum,
18:08kami kerjakan,
18:09bisa jadi,
18:10menjadi sebuah masukan,
18:10harus kami kerjakan,
18:11jadi,
18:12sebetulnya,
18:13Bang Guntur,
18:14terima kasih atas masukannya,
18:16saya,
18:16really appreciate it,
18:18tapi,
18:19yang jelas,
18:19saya,
18:20kami,
18:20ya,
18:21kami dalam,
18:22dalam,
18:22mungkin,
18:22barangkali,
18:23kalau nanti,
18:24berkenan,
18:24Bang Guntur,
18:25saya bisa WhatsApp,
18:25link-link,
18:26total politik,
18:27di edisi sebelumnya,
18:28yang kami kerjakan,
18:30gitu,
18:30sehingga,
18:30sehingga,
18:31kebayang,
18:32gitu,
18:32kira-kira,
18:33penghakimannya,
18:34bahkan,
18:34kadang,
18:35kalau ditanya,
18:36terlalu,
18:36mohon maaf,
18:37misalnya,
18:37ditanya pertanyaan-pertanyaan,
18:39terkait,
18:39pertanian,
18:40gitu,
18:40kami,
18:40aduh,
18:41nanti aja deh,
18:41kalau pertanian,
18:42we aja,
18:43gitu,
18:43tanya yang lain-lain deh,
18:45isu-isu aktual,
18:45gitu,
18:46kadang-kadang,
18:46kita menchallenge,
18:47adik-adik mahasiswa itu,
18:48untuk bertanya,
18:49yang lebih sulit,
18:49gitu,
18:50Bang Guntur,
18:51tapi,
18:51saya,
18:51really appreciate it,
18:53atas,
18:53koreksi,
18:54atau masukan dari Bang Guntur,
18:55mungkin,
18:56kita juga bisa,
18:57tentu saja,
18:57tentu saja,
18:58ketemu petani,
18:59Kiai,
18:59dan mahasiswa,
19:00tentu,
19:01terima-tanya pasti berbeda,
19:02pasti.
19:03Di kesempatan berikutnya,
19:04kita berharap,
19:05ruang kritik ini,
19:06bisa dibuka,
19:07seluas-luasnya,
19:08dan ada diskusi,
19:09yang lebih produktif lagi,
19:10agar,
19:11masukan,
19:12kegelisahan masyarakat,
19:13bisa disampaikan dengan baik,
19:14dan dijawab langsung,
19:15oleh,
19:15Mas Sudaryono,
19:16dan para pejabat,
19:17di pemerintahan,
19:18Pak Prabowo,
19:19terima kasih banyak,
19:19atas waktunya,
19:21Wakil Menteri Pertanian,
19:22Mas Sudaryono,
19:23terima kasih juga Mas Guntur,
19:24Guntur Omli,
19:24Juru Bicara PD Perjuangan,
19:26Selamat malam.
Komentar

Dianjurkan