Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membatalkan serangan tetap mengancam terus menekan Iran. Merespons Trump Iran mengancam zona perang akan meluas hingga ke luar Timur Tengah.

Bagaimana dampaknya dalam proses negosiasi dan bagaimana strategi Iran di balik ancaman terbarunya ini.

Kita bahas bersama Direktur Kerja Sama dan Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisha Kusumasomantri dan pakar militer dan intelijen Universitas Indonesia Stanislaus Riyanta.

#pakar #peneliti #iran #as

Baca Juga Kondisi Terkini, Massa di Kawasan Sudirman Mulai Membubarkan Diri | BERITA UTAMA di https://www.kompas.tv/regional/674514/kondisi-terkini-massa-di-kawasan-sudirman-mulai-membubarkan-diri-berita-utama



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/674516/full-peneliti-pakar-militer-bahas-soal-iran-ancam-perluas-perluas-perang-di-timur-tengah
Transkrip
00:00Meski sudah membatalkan serangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap mengancam terus menekan Iran.
00:06Merespons Trump, Iran mengancam zona perang akan meluas hingga keluar Timur Tengah.
00:12Bagaimana dampaknya dalam proses negosiasi dan bagaimana strategi Iran dibalik ancaman terbarunya ini?
00:18Kita bahas bersama Direktur Kerjasama dan Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusumasomantri
00:24dan Pakar Militer dan Intelijen Universitas Indonesia Stanislaus Rianta.
00:29Selamat malam Pak Stanis dan juga Mbak Aisyah.
00:33Selamat malam Mbak Friska.
00:36Selamat malam saya ke Mbak Aisyah dulu.
00:38Ini menarik ya, tidak sampai 24 jam Trump meralat pernyataannya atau memperbarui lah pernyataannya bilang nggak jadi untuk menyerang Iran.
00:49Tapi di sisi lain juga tampaknya belum jadi akhir perang.
00:53Sebenarnya apa yang kita bisa baca dari movement yang tiba-tiba ini Mbak Aisyah?
00:57Ya sebenarnya kita bisa melihat ini dari beberapa aspek.
01:00Yang pertama kita lihat sebenarnya ini merupakan gaya diplomasi dari Donald Trump.
01:05Jadi memang Donald Trump ini selalu berusaha untuk mengancam pihak lawan, memberikan kemudian ancaman yang bombastis.
01:13Tetapi kemudian di tengah-tengah dia menarik kembali ancaman tersebut.
01:16Dan kemudian memberikan apa yang dia inginkan sebenarnya, yaitu adalah peace deal sebenarnya.
01:21Tetapi dia berusaha untuk membingkai itu sebagai sebuah ancaman sehingga lawannya sebenarnya ketakutan terlebih dahulu.
01:27Ini berhasil di dalam beberapa kasus seperti misalnya negosiasi perdagangan di antara Inggris dan Amerika Serikat.
01:32Tetapi permasalahannya ini akan mengikis erosi dari pihak yang satunya lagi yaitu adalah Iran.
01:37Karena berkali-kali sebenarnya Donald Trump sudah melakukan hal ini.
01:40Lalu yang kedua ini merupakan koersif diplomasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk bisa mendapatkan leverage yang lebih tinggi dari
01:47negosiasi yang nanti dilakukan oleh Iran.
01:50Lalu yang ketiga saya kira ini juga merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh Donald Trump.
01:54Karena saat ini sebenarnya Donald Trump ini terjepit dari segala macam arah.
01:58Yang pertama dia dihadapkan dengan sebenarnya tekanan dalam negeri di mana harga ini semakin naik.
02:02Lalu kemudian masyarakat juga semakin tidak percaya kepada pemerintah.
02:06Dan menurut survei terbaru ini dari Reuters menyatakan bahwa hanya 29% masyarakat Amerika Serikat yang setuju dengan cara Donald
02:13Trump menangani peperangan di Iran.
02:15Jadi itu ratingnya sangat rendah sekali.
02:17Nah sementara sebenarnya Donald Trump juga mengalami tekanan.
02:21Tapi tekanan ini sebenarnya dari hawkish Amerika.
02:24Politisi-politisi yang memang pro perang seperti Lindsey Graham dan kawan-kawannya.
02:27Serta kemudian kita juga bicara dari lobby-lobby Zionist Israel terhadap kemudian pemerintahan Amerika Serikat.
02:34Karena kita tahu bahwa Donald Trump di kepemimpinan keduanya ini sebenarnya mendapatkan banyak sekali danya kampanye dari pengusaha-pengusaha Amerika
02:42Serikat yang memiliki afiliasi dengan Zionist Israel gitu.
02:46Sehingga mau tidak mau Donald Trump harus memberikan sebenarnya sebuah win-win solution.
02:50Antara kemudian mengedepankan kepentingan negara untuk bisa keluar dari peperangan tersebut secepat mungkin dan mendapatkan dukungan dari masyarakat menjelang mid
03:01-term election dan juga kemudian memuaskan para pendukungnya serta sponsor-sponsor politiknya.
03:06Jadi ini sebenarnya sesuatu yang tidak mudah bagi Donald Trump gitu dengan resiko-resiko tersendiri tentunya.
03:12Nah apakah ini sudah jadi win-win solution Pak Stanis dari langkah terbarunya Donald Trump yang bisa setidaknya jadi jalan
03:19tengah untuk semua pihak?
03:21Sementara kalau terakhir Israel kan bilang bahwa ya harus digempur terus dong.
03:24Ini juga ada kepentingan politik Netanyahu jelang pemilu di sana sekitar Oktober nanti.
03:30Ya yang punya kepentingan politik kan tidak ada Netanyahu ya.
03:34Trump juga punya kepentingan politik.
03:35Jadi ada pemilu-pemilu selama pemilu jeda dan ini saya kira yang paling berat bagi Trump untuk menghadapi itu.
03:42Jadi dia harus mempertanggungjawabkan perang ini kepada pabrik kemudian dia mempertanggungjawabkan dana yang sudah 500 triun lebih untuk perang.
03:49Dan ya saya menarik Mbak Ira itu yang survei di Routers itu sekitar hanya 29 persen saja.
03:55Ini angka yang cukup parah dan saya kira ini adalah suatu situasi tekanan yang cukup berat bagi Trump.
04:01Nah gayanya Trump itu dalam situasi normal saja dia mengancam kemudian dia labil apalagi dengan tekanan seperti ini.
04:07Saya kira Trump akan semakin tidak stabil ketika tekanan-tekanannya itu semakin parah menyerah dia.
04:15Tapi apapun itu saya melihat bahwa Trump sebenarnya mencari exit strategi untuk keluar dari Iran secepatnya tanpa dia kehilangan muka.
04:24Karena beban semakin berat untuk perang kemudian dia juga banyak tekanan.
04:28Tapi keluar dari Iran dengan kekalahan atau keluar dari Iran tanpa Iran kalah ini kan cukup memalukan bagi Trump nanti.
04:36Apalagi kan semua tahu bahwa Amerika sebagai negara yang besar, negara nomor satu dunia.
04:41Tapi menghadapi Iran yang levelnya nomor 15 mungkin di global firepower itu tidak masuk akal menurut-menurut statistik.
04:48Dan ternyata ini akan mengubah, akan bisa mengubah pandangan dunia terhadap Amerika dan mengubah pandangan dunia terhadap Iran.
04:55Dan ini cukup mengganggu Trump sehingga labil itulah yang mungkin secara otomatis menjadi perilaku Trump ketika menghadapi situasi dengan Iran.
05:04Nah Mbak Aisyah dengan responsnya Iran terbaru bahkan tidak gentar dengan ancaman Trump yang tadi Mbak Aisyah juga bilang tampaknya
05:15ini untuk menaikkan leverage-nya Amerika Serikat daya tawarnya di perrundingan.
05:19Nah tapi bagaimana kita melihat langkah Iran yang justru bilang bahwa ya mereka bahkan siap untuk memperluas serangan di kawasan
05:26timur tengah ini Mbak Aisyah?
05:29Iya karena Iran sejak awal memang menerapkan sebenarnya pendekatan yang sifatnya hanya retaliatory.
05:35Jadi mereka sebenarnya tidak pernah menyerang terlebih dahulu tetapi hanya mengantisipasi sebenarnya serangan dari Amerika Serikat dan membalas ke sejumlah
05:42fasilitas yang dimiliki atau mendukung Amerika Serikat ya.
05:45Termasuk kemudian fasilitas-fasilitas di negara teluk.
05:47Nah yang menariknya ini kan kita lihat sebenarnya dari Iran sendiri mereka ini diklaim sudah kehilangan sekitar 30-40%
05:54dari total kekuatan angkatan udara dan angkatan lautnya dan itu menurut klaim Amerika Serikat.
05:59Tetapi sepertinya yang saat itu dihitung sebagai 30-40% itu adalah kemudian perhitungan berdasarkan platform.
06:07Mereka belum menghitung terkait kemampuan keseluruhan termasuk diantaranya adalah drones, misil, lalu kemudian penginderaan.
06:15Itu semua sebenarnya termasuk ke dalam kekuatan militer, angkatan udara dan angkatan laut.
06:19Belum lagi kalau kita bicara tentang angkatan darat.
06:21Sejauh ini sebenarnya angkatan darat Iran itu sama sekali belum digunakan.
06:25Jadi sebenarnya Iran memiliki kapasitas yang sebenarnya cukup memadai untuk bisa memperpanjang perang ini.
06:30Nah jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, saat ini Amerika Serikat itu kesulitan dalam memproduksi persenjataan lain.
06:36Iran di sisi lain ya, ini sudah memiliki rate produksi yang cukup kencang, sekitar 50-100 drone syahid dalam satu
06:43bulan.
06:43Sementara Amerika Serikat itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memproduksi teknologi seperti apa namanya, TAN System atau kemudian Patriot System.
06:50Itu kan cukup menarik kalau kita lihat, terjadi perbedaan kemudian kapasitas dan kemampuan di dalam ya, merefuel gitu ya, atau
06:58mengisi ulang kemudian amunisi di dalam melanjutkan peperangan ini.
07:01Belum lagi kalau kita bicara tentang kemudian keuangan Amerika Serikat, ini sangat terbatas.
07:06Karena kita tahu bahwa kemarin war power resolution sudah ditandatangani oleh Kongres.
07:10Dan ketika kemudian Presiden bahkan memilih untuk memveto hal tersebut, maka kemudian ya Kongres bisa melakukan yang namanya adalah war
07:18of the purse atau perang dompet.
07:20Yang mana sebenarnya Donald Trump tidak akan disetujui 200 miliar USD yang kemarin diajukan untuk melanjutkan peperangan.
07:27Nah ujung-ujungnya Donald Trump ini terhimpit lebih banyak faktor dari dalam negerinya ya.
07:32Kalau kita bahas bahkan sejak awal perang, bahkan di tengah lah, tengah menuju hari ini, tampaknya Donald Trump sudah banyak
07:40kepentingan di dalam negeri yang membuat menyita kepentingannya untuk melanjutkan perang ini.
07:44Nah jadi dalam fase sekarang sebenarnya, apa yang bisa kita baca, exit plan paling memungkinkannya itu seperti apa ya?
07:51Pas Tanis maupun Mbak Aisyah, kita bahasnya saat lagi di Sapa Indonesia Palang.
07:56Masih di Sapa Indonesia Palang bersama dengan Direktur Kerjasama dan Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma-Somantri,
08:04serta Pekar Militer dan Intelijen Universitas Indonesia Stanislaus Rianta.
08:08Saya ke Pak Stanis, sejauh ini the most possible way atau exit plan-nya apa ya Pak Stanis yang memungkinkan
08:16atau yang logis?
08:17Karena di sisi lain Iran juga kan kekeh bahwa nggak mau tunduk dengan klausulnya Amerika Serikat.
08:22Kalau in terms of apa yang Amerika Serikat mau, tapi Amerika Serikat juga kayaknya ingin cepat-cepat aja lah beres
08:28dengan tekanan dari dalam negeri yang sudah didapatkan Trump.
08:31Pak Stanis.
08:32Kalau misalnya perundingan tidak ada titik temu, paling masuk akal ada dua skema.
08:40Yang pertama adalah jeda tanpa batas waktu.
08:43Jadi udah jeda adalah kita berhenti perang, tapi musuhnya tetap gitu.
08:47Jeda tanpa batas waktu.
08:48Yang kedua adalah skema sama-sama klaim menang.
08:52Jadi Amerika mengklaim menang, kemudian Iran mengklaim menang, kemudian selesai perangnya.
08:57Jadi perangnya biar dilanjutin sama Israel itu.
08:59Kayaknya sudah ada transfer ini ke Israel.
09:02Jadi kita lihat sebenarnya Israel mulai agak agresif, jadi sebenarnya perangnya sudah mulai ditransfer ke Israel ini.
09:07Jangan sampai perangnya berhenti itu kan.
09:09Karena kalau misalnya perundingan, saya kira kalau kedua belah pihak ini sama-sama ngotot dan tidak mungkin ada yang mau
09:15kalah.
09:15Iran juga keras, Amerika juga keras.
09:18Saya kira skemanya yang paling bagus ya udah jeda saja lah.
09:20Sejeda kemudian sama-sama berhenti, tau batas waktu, musuhnya tetap, atau sama-sama menang.
09:26Atau yang ketiga, Amerika pergi, kemudian perangnya dilanjutkan oleh Israel.
09:31Saya kira itu yang skenario-skenario yang akan terjadi seperti itu.
09:34Ya, itu yang bisa terjadi dari sisi pastanis.
09:37Mbak Isha, karena kalau misalnya Amerika Serikat melakukan aksi yang lebih ofensif,
09:42terolah mengancam untuk mengambil alih Pulau Kark, serta fasilitas minyak dan gas, itu juga tidak mudah buat AS ya, Mbak
09:49Isha?
09:50Tidak mudah. Pertanyaannya AS punya resource nggak untuk melakukan hal tersebut?
09:53Karena sekarang dari segi stockpile munitions saja, dia sudah menggunakan hampir 50% dari defense systemnya,
10:00baik itu dari TAT system maupun dari Patriot system.
10:03Lalu kemudian kita tahu ya, tadi ya, anggaran dari Kongres ini belum juga disetujui,
10:08dan kemudian ada tekanan yang besar sekali dari dalam negeri untuk menghentikan peperangan.
10:13Tapi permasalahannya kan sekarang, sebenarnya kita dihadapkan ke dalam beberapa skenario.
10:17Yang pertama tadi, yang Mas Tani sebutkan bahwa ini perangnya mungkin akan menjadi perang jangka panjang,
10:21tidak ada perubahan fundamental, tetapi dibiarkan menggantung.
10:24Jadi istilahnya kita sebut sebagai Gray Zone Warfare.
10:26Nah yang kedua, mungkin ini akan terjadi terus ekskalasi.
10:29Tetapi ekskalasi pun kemungkinan besar ini akan terjadi dalam tataran yang tidak terlalu parah,
10:35seperti apa yang terjadi di awal-awal peperangan.
10:37Ini akan jadi low intensity conflict ya, untuk terus mendapatkan tekanan satu sama lain dan menciptakan leverage.
10:43Ini yang terjadi ketika keduanya tetap berada di dalam perangkap ekskalasi atau escalation trap.
10:47Nah yang ketiga, permasalahannya ini adalah yang paling possible, yaitu adalah ya sudah melakukan konsesi.
10:52Nah sekarang yang dibutuhkan oleh Amerika Serikat ini adalah desperasi untuk mendapatkan simbolik win.
10:58Jujur, apapun yang didapatkan oleh Amerika Serikat, taruhlah dia mendapatkan simbolik win di bidang nuklir.
11:03Iran setuju dengan konsesi tertentu yang teknis yang kemudian dibicarakan.
11:07Tetapi permasalahannya, apa yang dibicarakan dan diminta oleh perjanjian nuklir antara Iran dan Amerika Serikat,
11:12ini merupakan sesuatu yang sudah pernah dibahas di JCPOE di tahun 2015.
11:15Dan menariknya, kalau ditanya apa kemudian yang berubah di antara 2015 dengan sekarang, kita nggak tahu apa yang berbeda.
11:23Karena sama-sama sebenarnya AS menuntut Iran untuk mengirimkan uraniumnya ke luar negeri, dan itu dilakukan juga dulu ke Rusia
11:28gitu ya.
11:29Dan kemudian untuk downblending atau kemudian mengurangi bauran uranium.
11:33Serta memasukkan asesor, itu semua dilakukan gitu.
11:35Nah sekarang, Iran meskipun pada akhirnya dia melakukan konsesi ya, dan kemudian melakukan negosiasi dan ada hal-hal yang harus
11:42dikompromi.
11:42Saya kira sebenarnya masih akan menjadi kemenangan strategis untuk Iran.
11:46Karena apa? Pertama, secara rezim dia masih bertahan, dan ini merupakan tujuan strategis Iran.
11:52Jadi bar kemenangannya cukup rendah, pertama itu.
11:54Jadi bar kemenangannya sudah tercapai.
11:56Yang kedua, ini membuka sebenarnya peluang bagi Iran untuk membicarakan hal-hal yang tadinya tertutup pintunya.
12:01Termasuk misalnya pencairan dana Iran di luar negeri, lalu kemudian mengenai kayak ganti rugi pasca perang ya.
12:07Lalu kemudian kita juga bicara mengenai penghentian seluruh perang di front timur tengah,
12:12serta kemudian masalah pengontrolan selat hormus.
12:15Itu kan hal-hal yang sebenarnya tadinya tidak pernah dibicarakan.
12:17Nah saya mau mempropos, sebenarnya ada dua skenario sekarang di mana perangnya bisa berhenti.
12:22Yang pertama, saya rasa ini di bulan Agustus ya, jadi awal Agustus atau akhir Juli.
12:30Ketika musim panas, kebutuhan energi semakin meningkat,
12:32dan kemudian panas membuat tentara Amerika Serikat sulit untuk beroperasi di timur tengah.
12:38Nah yang kedua, ini adalah di bulan November, ketika putusan dari pemilu selat di Amerika Serikat keluar.
12:44Dan kita harapkan sebenarnya ketika Republikan kalah,
12:47maka kemudian yang terjadi adalah Demokrat dapat mengontrol suara,
12:52serta memakzulkan sebenarnya putusan-putusan,
12:54serta kebijakan yang dikeluarkan oleh administrasi Donald Trump.
12:57Nah, ditambah lagi kebutuhan energi sedang tinggi-tingginya,
13:00karena di belahan dunia utara itu sedang musim dingin, jadi butuh pemanas.
13:04Jadi saya rasa sekarang skenario-nya hanya dua itu saja,
13:07mau berhenti di bulan Agustus atau di bulan November.
13:10Tapi itu tentu saja, hanya prediksi.
13:12Ya, dan itu setidaknya yang paling mungkin kita lihat ya,
13:16dari beberapa term yang ada, Agustus dan November,
13:20setidaknya bisa jadi jalan keluar,
13:22atau jalan yang paling possible untuk exit plan ini mulai dilakukan.
13:27Nah, kalau Pak Stanis, dalam kondisi seperti ini,
13:30apakah Iran ya tadi bisa menghidupkan kartu-kartu yang selama ini masih mati?
13:34Soal penjaraan aset misalnya,
13:37lalu juga soal nuklir kan sudah jadi dibahas,
13:40soal uranium ini sebenarnya sudah tidak ada yang sudah pernah dibahas sebelumnya.
13:44Tapi untuk menghidupkan kartu-kartu tadi,
13:46apakah ini jadi momentumnya?
13:47Seperti yang disampaikan Mbak Aisyah, Pak Stanis.
13:50Ya, saya lebih percaya Iran daripada Amerika kalau soal kartu.
13:55Jadi, saya yakin ini Iran masih punya banyak kartu dan belum dikeluarkan.
13:59Tetapi kalau Amerika, Donald Trump itu kan kartu-kartu yang diomongkan,
14:02itu ternyata kartunya kartu ya,
14:04kartu yang bukan seperti yang diomongkan,
14:06Trump berkali-kali mengancam tapi tidak direalisasikan.
14:08Sementara Iran itu diam-diam beberapa kali juga melakukan serangan,
14:12dan itu terjadi.
14:13Jadi, kalau misalnya soal gertak-gertakan,
14:16Iran nggak perlu gertakan,
14:17dia langsung melakukan aksi.
14:19Dan dalam situasi perang ini,
14:22Amerika itu perang dengan senjata.
14:23Sementara Iran itu perang dengan ideologi.
14:25Ini berbeda, kontesnya berbeda.
14:27Dan lebih berbahaya Iran ketika dia melakukan perang daripada Amerika.
14:32Jadi, saya sejujurnya khawatir ketika nanti kesabaran Iran itu habis.
14:38Saya yakin dia masih punya kartu yang kartu terbaik Iran,
14:41apakah dia punya senjata yang lain yang belum dikeluarkan,
14:43atau dia bisa menggunakan senjata terberatnya,
14:46yaitu senjata Slat Hormuz sebenarnya.
14:48Mungkin Iran kalau misalnya memperpanjang blokade Slat Hormuz satu-dua bulan lagi,
14:53ini ekonomi semakin kacau.
14:55Karena kita tahu bahwa logistik dunia itu banyak sekali lewat di sana.
14:59Ketika ini satu bulan, dua bulan diperpanjang,
15:02sekarang kita merasakan sendiri saat ini seperti apa di Indonesia.
15:05Kalau ditambah satu-dua bulan lagi,
15:06akan semakin kacau.
15:08Dan itu senjata-senjata yang paling mematikan bagi yang dimiliki oleh Iran,
15:12saya kira adalah blokade Slat Hormuz.
15:15Dan ini yang dampaknya tidak hanya ke Amerika,
15:17tapi dampaknya ke seluruh dunia.
15:18Jadi ini cukup berbahaya.
15:19Ini yang tidak kita harapkan,
15:22karena dampaknya dirasakan termasuk oleh Indonesia.
15:25Setidaknya kita punya satu harapan,
15:28bahwa akhir dari perang ini setidaknya di beberapa poin,
15:31bisa segera terjadi dalam waktu dekat ini.
15:33Kalau tidak ada kejutan lagi dari Donald Trump,
15:35seperti beberapa jam yang lalu.
15:36Terima kasih Mbak Aisyah Kusuma Somantri,
15:40Direktur Kerjasama dan Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence,
15:44serta Pakar Militer dan Intelijen Universitas Indonesia,
15:47Stanislav Rianta.
15:48Terima kasih Pak Stanis,
15:49terima kasih Mbak Aisyah.
15:50Terima kasih Mbak Friska,
15:51selamat malam.
15:52Terima kasih.
15:52Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan