- 10 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal seperti konflik geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga dipicu persoalan domestik, terutama menyempitnya ruang fiskal pemerintah.
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik.
Namun, faktor domestik dinilai memiliki peran yang lebih besar karena memengaruhi kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
"Satu adalah dari sisi eksternal. Kita belakangan ini menghadapi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ini membuat tekanan terhadap nilai tukar banyak negara berkembang termasuk Indonesia karena adanya flight to safety dari mata uang US dolar ke negara-negara maju," kata Teuku Riefky dalam program Kompas Bisnis, Senin (1/6/2026).
"Kedua ini yang mungkin lebih besar peranannya adalah faktor domestik," lanjut Teuku Riefky.
Baca Juga Jawab Al Jazeera, Purbaya Yakin Rupiah akan Menguat Seiring Pertumbuhan Ekonomi di https://www.kompas.tv/nasional/672049/jawab-al-jazeera-purbaya-yakin-rupiah-akan-menguat-seiring-pertumbuhan-ekonomi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/672209/rupiah-dekati-rp18-000-lpem-ui-soroti-masalah-fiskal-hingga-kepercayaan-investor
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, sodara ada kado di hari lahir Pancasila kali ini.
00:05Bagi Anda dan juga saya warga negara Indonesia nih.
00:08Namun bukan kado yang kita harapkan, ya ini dolar saat ini sudah nyaris menyentuh 18 ribu rupiah.
00:14Padahal sejumlah upaya sudah dilakukan oleh Bank Indonesia dan juga pemerintah.
00:18Banyak alasan yang diungkapkan mengapa rupiah terus-menerus menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
00:23Mulai dari faktor global, penutupan selat hormus yang memicu kenaikan harga minyak dunia,
00:28hingga faktor domestik seperti banyaknya permintaan dolar di kuartal 2 termasuk untuk kebutuhan haji.
00:35Bank Indonesia optimistis rupiah akan kembali menguat pada semester 2 mulai Juli hingga Agustus di rentang 16.500.
00:42Sementara pemerintah melalui pidato presiden di DPR beberapa waktu lalu menargetkan rupiah berada di kisaran 16.800 hingga 17.500
00:51pada tahun 2027.
00:53Namun realitas saat ini tampaknya jauh dari optimisme pemerintah.
00:57Kita lihat data.
01:00Nah ini dia saudara kita lihat dulu nilai tukar rupiah di perbankan terhadap dolar Amerika Serikat.
01:07Ini ada beberapa jenis memang saudara ada yang dari Jisdor Bank Indonesia ada juga dari Pasar Spot dan yang saya
01:15takdehkan saat ini yang di perbankan yang data di 29 Mei 2026.
01:20Bisa Anda lihat ini ada angka beli dan angka jual.
01:24Dari beberapa bank besar Indonesia seperti BRI, Mandiri, BNI dan juga BCA memang menawarkan harga jual dolar yang berbeda-beda.
01:32Yang tertinggi ada di BRI, data per 29 Mei 2026 nilai jual rupiah berada di 17.000.
01:39Maksud kami nilai jual dolar per 1 dolar ada di 17.990 rupiah.
01:44Ini tinggal 10 poin lagi menuju ke 18.000.
01:49Sementara Mandiri menjual di 17.925 sama seperti BNI dan terakhir BCA di 17.940.
02:00Harga jual dan beli di perbankan merupakan angka nyata pertukaran langsung sehingga nominal mendekati 18.000 rupiah per dolar Amerika
02:08Serikat.
02:09Makin terasa nyata di tengah-tengah masyarakat.
02:12Lalu kita cek juga saudara bagaimana nilai tukar rupiah di pasar spot di data selanjutnya.
02:19Nah ini dia saudara, jika harga jual dolar di perbankan sudah tembus di 17.990 rupiah pada penutupan perdagangan Jumat
02:27pekan lalu,
02:28nilai tukar rupiah di pasar spot masih berada di level 17.881 per dolar Amerika Serikat.
02:37Nah sementara kalau kita review lagi lebih jauh selama sepekan terakhir, memang ini pelemahan terus terjadi bahkan tidak satu haripun
02:45rupiah menguat dalam sepekan terakhir.
02:47Kita lihat pada hari Senin, tempatnya pada tanggal 25 Mei, rupiah berada di 17.744, melemah lagi terhadap dolar Amerika
02:56Serikat di tanggal 26 Mei di 17.796,
03:00kembali melemah tipis di 27 Mei di angka 17.801 dan kembali melemah lagi begitu di 28 Mei di angka
03:1017.846 per dolar Amerika Serikat.
03:15Bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat, saudara rupiah juga makin loyo menghadapi mata uang negara tetangga terdekat kita Singapura yang
03:23hampir tembus 14.000 rupiah.
03:26Lalu upaya-upaya apa saja yang sudah dilakukan pemerintah dan juga Bank Indonesia untuk memperkuat rupiah, kita ke data berikutnya.
03:35Ya saudara, beberapa upaya dilakukan oleh pemerintah diantaranya dengan mengaktifkan Bond Stabilization Fund.
03:41Intervensi ini dilakukan pada pasar obligasi demi menjaga tingkat imbal hasil dengan membeli SBN yang dilepas asing.
03:50Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang mengalokasikan anggaran 2 triliun rupiah per hari untuk menjalankan skema ini.
03:58Strategi lainnya dari Menteri Keuangan adalah menyiapkan Pandabon atau penerbitan surat utang global berdenominasi Renminbi di Tiongkok
04:08untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
04:11Upaya lainnya juga adalah pemerintah baru merilis beragam stimulus untuk semester 2 tahun 2026 dan diharapkan berdampak pada penguatan rupiah.
04:20Purbaya juga yakin rupiah akan kembali menguat seiring ekonomi domestik yang terus tumbuh.
04:26Berikut pernyataan lebih lengkap dari Purbaya Yudi Sadewa.
04:28Kita telah berkuali ke depan rupiah di tempat yang terlalu berada di tempat yang terlalu berada di tempat yang terlalu.
04:41Theoretically, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, kebetulan Anda juga akan kembali.
04:53I'm now focusing on making sure that domestic economy will continue to grow strong in the midterm, in the near
05:03term, and in the longer term.
05:04That will eventually strengthen the currency almost automatically, because I believe investors, especially FDI and foreign investors, would like to
05:15invest in a country where the country offers the most promising growth.
05:23In the region, we are growing much faster than many countries.
05:28Even in G20, we are number two after India.
05:32So our economic prospect is strong, and the weakening rupiah has not created a dampening effect on our economic activities.
05:44Ya lalu dari sisi Bank Indonesia, apa saja yang sudah dilakukan?
05:48Kita lihat, Saudara, ini selain meningkatkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, BI juga telah menyiapkan tujuh strategi penguatan rupiah.
05:59Di antaranya, Saudara, yang pertama adalah memperkuat intervensi di sejumlah pusat keuangan global, kemudian optimalisasi instrumen moneter SRBI,
06:07ada juga stabilisasi pasar SBN, kemudian penguatan likuiditas perbankan, memperketat pembelian falas dalam negeri,
06:14dan juga memperkuat intervensi di pasar offshore, hingga meningkatkan pengawasan perbankan dan juga korporasi.
06:26Dengan beragam strategi yang dilakukan pemerintah dan juga Bank Indonesia,
06:31mengapa rupiah terus terperosok hingga nyaris menyuntuh level psikologis 18 ribu,
06:36apalagi usaha yang belum optimal?
06:38Bagaimana juga dari sisi fiskal, sesuai jida?
06:41Saudara rupiah terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan juga Bank Indonesia.
06:47Namun, tak cukup ampuh membuat rupiah perkasa.
06:50Apa yang masih kurang?
06:52Bagaimana juga dari sisi fiskal?
06:54Kita bahas bersama Tegu Rifki, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat LPEM,
07:00Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
07:03Mas Tegu, selamat pagi.
07:07Mas Tegu?
07:10Selamat pagi Mas Tegu, kalian bisa mendengar suara saya?
07:18Mas Tegu?
07:25Ya saudara, sebagai pembukaan, kita lihat juga bagaimana kondisi rupiah saat ini diperbankan.
07:32Ada beberapa angka yang memang ditawarkan begitu oleh sejumlah bank di Indonesia, bank besar.
07:39Ada BRI, Mandiri, BNI dan juga BCA.
07:42Di mana harga tertinggi ditawarkan oleh BRI di angka Rp17.990.
07:48Artinya ini masih ada 10 poin lagi menuju ke Rp18.000.
07:52Dan sementara di BCA itu di angka Rp17.940.
07:59Sementara di dua bank, yaitu Mandiri dan juga BNI, angka penjualan masih juga di atas Rp17.800.
08:07Kita kembali, siapa?
08:10Tegu Rifki, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat LPEM, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.
08:15Mas Tegu, selamat pagi.
08:17Selamat pagi, Mas. Apa kabar?
08:19Kabar baik.
08:20Mas Tegu, ini melawan dolar Amerika Serikat, rupiah, tak henti-hentinya terperosok dan juga menjadi kekhawatiran banyak pihak masyarakat, begitu
08:29termasuk.
08:30Ini terus-menerus jatuh di level terendah sepanjang sejarah.
08:33Apa sebetulnya akar masalahnya, Mas Tegu?
08:37Ya, kalau dilihat dari akar masalah, sebetulnya ada dua.
08:41Satu adalah dari sisi eksternal.
08:44Kita kan belakangan ini menghadapi konflik geopolitik ya di Timur-Tengah.
08:49Nah, ini membuat tekanan terhadap nilai tukar.
08:52Banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
08:55Karena adanya flight to safety dari mata uang US dollar ke negara-negara maju.
09:03Itu satu.
09:04Tapi yang kedua, ini yang mungkin lebih besar peranannya adalah faktor domestik, di mana postur fiskal kita ini semakin menyerbit.
09:14Lalu juga kita lihat belakangan banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang memang tidak terlalu kondusif untuk dunia swasta.
09:22Misalnya pembentukan badan ekspor.
09:24Nah, ini yang membuat kemudian investor-investor itu tidak terlalu confident dengan outlook perekonomian Indonesia.
09:31Sehingga ini mendorong terjadinya capital outflow lebih lanjut yang membuat pelemahan rupiah ini terus berlanjut.
09:40Ada beberapa faktor eksternal dan juga domestik termasuk tadi yang disebutkan oleh Mas Tegu terkait dengan postur fiskal yang menyempit.
09:48Sebelum kita bahas mengenai fiskal, kita bahas dulu terkait dengan kebijakan-kebijakan apa ataupun upaya-upaya apa saja yang telah
09:55dilakukan oleh Bank Indonesia.
09:56Mas Tegu, terakhir Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga jadi 5,25 persen.
10:02Sempat ada penguatan tipis terjadi selama 2 hari setelah diputuskan terkait kenaikan BI Red.
10:10Namun setelah itu rupiah terus loyo.
10:12Kenapa strategi ini seakan kurang ampuh, Mas Tegu?
10:16Ya, memang kalau kita lihat dari sisi kebijakan moneter ini sudah optimum ya dalam melakukan intervensi untuk nilai tukar rupiah.
10:25BI sudah melakukan intervensi di tingkat suku bunganya, sudah dinaikkan sebesar 50 basis poin.
10:32Selain itu juga dari sebelumnya BI sudah banyak sekali menggunakan cadangan devisanya untuk melakukan intervensi di pasar DNDF, pasar NDF,
10:42dan juga pasar SRBI.
10:44Yang paling tidak dalam 4 bulan terakhir ini sudah menggunakan cadangan devisa hingga 10 miliar USD.
10:51Artinya dari sisi moneter ini sebetulnya sudah optimum melakukan usaha stabilisasi nilai tukar rupiah.
10:58Tapi memang isu utamanya ini adalah di sisi fiskalnya.
11:03Di mana fiskal kita ini terus menyempit.
11:05Jadi memang kebijakan moneter ini ada limitasinya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah hingga problem utamanya diselesaikan, yaitu dari sisi
11:16fiskal.
11:18Berarti dari sisi moneter sudah optimum, namun kita belum bahas begitu ya, tetepnya dengan sisi fiskalnya.
11:25Sebelumnya, Mas Tegu, ini ada optimisme dari Bank Indonesia yang bilang rupiah akan menguat pada kuartal 3, artinya tinggal 1
11:33bulan lagi.
11:34Apakah menurut Anda masuk akal dengan kondisi saat ini, termasuk juga ada pengaruh eksternal tadi yang disebutkan oleh Mas Tegu?
11:42Ya, memang kalau kita lihat di kuartal 3 mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan tekanan terhadap rupiah ini bisa berkurang
11:54ya.
11:54Salah satunya adalah ada potensi, potensi geopolitik di Timur Tengah ini bisa meredah di kuartal 3.
12:01Tapi memang ketidakpastian itu masih sangat tinggi.
12:03Kedua, ini memang juga ada faktor dari lewatnya musim haji gitu, karena saat musim haji ini kan demand terhadap foreign
12:12currency itu meningkat.
12:14Jadi memang ada tekanan dari situ juga di triwulan 2 saat ini.
12:19Dan terakhir, ini mungkin juga melewati fase pembagian dividen.
12:24Biasanya itu tekanan terhadap rupiah cenderung melemah.
12:28Tapi kita perlu lihat lagi nanti kalau memang tekanan utamanya berasal dari sisi fiskal,
12:34dan ini masih belum tersolve juga di kuartal 3, nampaknya masih akan berlanjut kelemahan rupiah.
12:39Tapi memang ada beberapa faktor yang sudah tethering off di kuartal 3 nanti.
12:44Oke, bicara soal intervensi, tadi juga Anda sempat menyinggung soal intervensi yang sudah dilakukan secara maksimal oleh Bank Indonesia.
12:52Begitu kan sebelumnya juga BI menyiapkan ataupun merilis begitu 7 strategi penguatan rupiah, utamanya soal intervensi.
12:59Bagaimana mengaitkan hal ini dengan rasio kecukupan cadangan devisa yang turun cukup signifikan, Mas Tegu?
13:06Iya, kalau kita lihat cadangan devisa sebetulnya masih cukup banyak ya.
13:11Kita akan punya cadangan devisa terakhir di sekitar 140 miliar, 146 miliar USD.
13:17Ini mungkin setara dengan 6 bulan atau 5,8 bulan impor Indonesia.
13:23Tapi memang ini terus menyusut gitu.
13:25Jadi kalau dibilang cukup memang saat ini masih cukup ample.
13:29Tapi ke depannya kalau memang tekanan ini masih berlanjur, bukan tidak mungkin bahwa nanti cadangan devisa kita terus menipis secara
13:41drastis.
13:42Nah ini yang perlu diantisipasi oleh Bank Indonesia dan juga pemerintah.
13:47Karena bisa jadi ini bukan instrumen yang paling efektif dalam meredam pelemahan nilai tukar rupiah.
13:53Tapi memang dari sisi fiskal space yang perlu diperlebar untuk mengkonferensi investor.
14:01Kondisinya saat ini adalah BI masih bisa untuk terus melakukan intervensi.
14:05Tapi juga ini apa akan ada limitasinya dan bisa jadi ini tidak akan terlalu efektif apabila terus dilanjikan.
14:14Oke ada limitasinya begitu ya.
14:15Dari tadi Anda juga sempat beberapa kali menyinggung terkait dengan fiskal begitu.
14:21Terkait dengan koordinasi fiskal dan juga moneter.
14:23Dari sisi fiskal, apa yang perlu dilakukan sebetulnya bisa dijelaskan lebih detil lagi Mas Teguh?
14:28Karena kerap ada kontradisi dari klaim pemerintah soal ekonomi yang tumbuh dengan kekhawatiran global soal kerentanan fiskal kita.
14:37Ya, pertama yang pemerintah perlu pikirkan itu adalah untuk memperluas ruang fiskal kita.
14:44Kenapa ini penting?
14:45Karena ini akan dilihat sebagai investor sebagai kemampuan pemerintah membayar utang yang diterbitkan.
14:53Jadi dengan penerbitan SBN, Sun, segala macem.
14:57Kemampuan pemerintah untuk pengkalan investor terkait kemampuan bayarnya adalah dengan memiliki ruang fiskal yang cukup empel.
15:06Nah, di sini kita melihat bahwa belakangan ini ruang fiskal pemerintah itu terus menyimpit.
15:11Satu, dari faktor eksternal. Dengan adanya konflik geopolitik Timur Tengah, ini kan harga minyak terus meningkat.
15:19Dengan harga minyak yang terus meningkat, ini tentu beban subsidi dan kompensasi di ruang fiskal kita juga terus meningkat.
15:26Selain dari faktor eksternal ini, kita tahu juga banyak program flagship pemerintah yang memang secara fiskal ini cukup mahal.
15:33Ada makan bergisi gratis, kooperasi desa darah putih, lalu juga berbagai macam program-program populis lainnya.
15:43Nah, ini maka ruang fiskal kita cukup signifikan.
15:46Artinya, yang pemerintah perlu lakukan adalah untuk melakukan realokasi anggaran secara meaningful atau secara signifikan
15:54agar kemudian fiskal space kita bisa dijaga untuk meng-convince investor bahwa kemampuan membayar utang pemerintah ini masih cukup besar.
16:05Oke, Mas Teguh kita ketahui juga ada informasi dari pemerintah beberapa waktu lalu terkait dengan program-program strategis dari Presiden
16:13Prabowo
16:13termasuk terkait dengan pemotongan anggaran MBG sebesar kurang lebih, kalau tidak salah 67 triliun.
16:20Menurut Anda, apakah penghematan ini efektif atau sebetulnya ada angka-angka yang sebetulnya dihitung lebih dari angka tersebut?
16:30Ya, saya rasa sebetulnya secara bentuk kebijakan ini sudah mengarah ke arah yang tepat ya.
16:37Artinya, memotong kebijakan-kebijakan yang memang kurang produktif di saat ini.
16:42Tapi, dalam skalanya atau dalam size dari pemotongan ini memang masih terlalu kecil.
16:4967 triliun atau 60 sekian triliun rupiah ini memang masih belum mampu menutup
16:57apa kekurangan tambahan fiskal kita yang muncul akibat kenaikan harga minyak.
17:05Jadi, memang ini perlu lebih besar lagi skalanya.
17:08Dan juga ini kalau kita lihat memang sejauh ini penerimaan pajak kita relatif masih belum menunjukkan performa yang cukup baik.
17:16Jadi, artinya dari sisi realokasinya ini sudah tepat gitu secara konsep, tapi memang size-nya ini masih terlalu kecil.
17:25Jadi, memang pemerintah perlu memperbesar size tersebut untuk mendapatkan confidence dari investor.
17:32Oke, Mas Teku, target dari Presiden Prabowo rupiah di tahun 2027 adalah dikisaran 16.800 hingga 17.500 begitu.
17:44Belajar dari apa yang terjadi di 2026.
17:48Apa yang patut diperhatikan oleh pemerintah nanti di tahun 2027 agar target rupiah di angka tersebut bisa tetap terjaga?
17:57Saya rasa yang paling penting adalah keredibilitas dari postur fiskal kita saat ini.
18:03Sejauh ini memang banyak investor dan analis yang meragukan kemampuan kita untuk bisa mencapai defisit di bawah 3%.
18:11Nah, ini yang menjadi perutama dari pemerintah dalam menyusun APBN yang kemudian nanti akan dibawa ke DPR di Agustus.
18:19Ini postur fiskalnya perlu betul-betul meyakinkan investor bahwa postur fiskal kita itu kredibel, prudent, dan memang bisa dijaga untuk
18:28kebutuhan-kebutuhan pembangunan yang produktif.
18:31Kalau ini tidak bisa dilakukan atau misalnya investor tidak konfins dengan postur fiskal kita di tahun 2027, saya rasa arus
18:40modal keluar ini akan terus berlanjut.
18:42Dan ini akan membuat semakin sulit mencapai target nilai tukar di APBN 2027 nantinya.
18:50Berarti yang perlu diperhatikan adalah dan perlu dipelajari begitu yang terjadi di tahun 2026 adalah soal kredibilitas postur APBN.
18:57Kemudian kalau kita tarik lagi ke upaya-upaya pemerintah lainnya, Mas Tuku, ada juga seperti mengaktifkan Bond Stabilization Fund atau
19:06BSF dan juga ada soal Panda Bond.
19:09Apakah menurut Anda seberapa besar ini pengaruhnya terhadap penguatan atau paling tidak menstabilkan rupiah?
19:15Saya rasa to some extent akan ada pengaruh ya, terutama di instrumen surat utang kita gitu.
19:25Tapi stabilisasi bonds ini memang hanya akan memperlambat arus modal keluar.
19:31Tidak akan secara signifikan menahan atau bahkan menarik kembali modal masuk.
19:36Jadi memang ini tidak terlalu efektif dalam framework mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
19:44Paling jauh ini hanya akan bisa menjaga imbal hasil surat utang kita itu relatif stabil.
19:50Tapi dalam meng-attract investor saya rasa ini bukan instrumen utama yang dibutuhkan selain dari realokasi postur fiskal secara signifikan.
20:00Jadi issuance ini sih sebetulnya fine-fine aja gitu dan akan ada dampaknya.
20:05Tapi memang bukan menjadi stimulus utama dalam mendorong penguatan rupiah nantinya.
20:11Oke bukan stimulus utama dan juga tidak bisa secara signifikan gitu memperkuat rupiah.
20:15Ada juga kebijakan yang jadi perhatian begitu dari Bank Indonesia ini terkait soal percepatan transaksi mata uang lokal khususnya dengan
20:24Tiongkok.
20:25Transaksi langsung rupiah yuan ini seberapa besar juga akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat?
20:33Saya rasa memang penggunaan dolar US ini masih belum tergantikan ya.
20:39Karena kan ini masih menjadi main currency secara global.
20:41Tapi penggunaan lokal currency dengan China atau Tiongkok ini bisa jadi cukup signifikan.
20:51Karena memang China ini adalah partner dagang utama kita.
20:54Baik dari sisi ekspor maupun impor.
20:56Sehingga kemudian akan mengurangi permintaan terhadap US dolar.
21:01Tapi ini pun memang juga bukan menjadi satu-satunya resep yang bisa diandalkan untuk kemudian mengembalikan rupiah ke dalam tren
21:10penguatannya.
21:11Tapi saya rasa ini semua kalau diambung memang menjadi inisiatif yang cukup baik gitu.
21:16Hanya saja memang ini tetap perlu disempurnakan dengan realokasi fiskal tadi.
21:22Oke.
21:22Mas Teguh terakhir ini banyak juga pertanyaan dari warga yang kerap keluar negeri begitu terutama ke negara tetangga kita ke
21:29Singapura dan juga ke Malaysia.
21:31Mengapa rupiah bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat tetapi juga tertekan terhadap mata uang negara tetangga.
21:37Seperti dolar Singapura yang bahkan sudah menyentuh 14.000 dan juga ringgit Malaysia yang kalau tidak salah menyentuh 4.500.
21:44Mengapa demikian Mas Teguh?
21:45Ya memang ini menunjukkan bahwa isunya itu adalah lebih ke arah kondisi domestik Indonesia.
21:53Jadi bukan secara eksternal dari tensi geopolitik.
21:57Karena kalau hanya dari tensi geopolitik harusnya mata uang semua negara berkembang itu melemah dalam makniput yang sama.
22:06Tapi kalau Indonesia ini melemahnya lebih parah dari yang lain dan bahkan melemah terhadap mata uang negara tetangga.
22:13Artinya memang ada isu domestik yang membuat investor ini melakukan capital outflow dari Indonesia.
22:19Dan capital outflow ini tidak hanya terjadi di US dollar.
22:22Capital outflow ini terjadi di Singapura dollar dan Malaysia ringgit.
22:26Sehingga ini membuat memang kita ini terus mengalami kelemahan.
22:29Artinya ini memverifikasi kurang lebih bahwa isu utama yang kita hadapi saat ini itu adalah dari sisi domestik.
22:39Terutama dari sisi fiskal tadi karena memang monetarnya ini sudah terus-menerus melakukan intervensi.
22:45Tapi memang masih belum menunjukkan arah efektivitas yang cukup signifikan.
22:51Oke artinya kalau kita melihat bagaimana rupiah tertekan bukan hanya terhadap dollar Amerika Serikat.
22:55Tetapi juga terhadap dollar Singapura dan juga ringgit Malaysia ini mencerminkan kondisi domestik.
23:00Terutama soal fiskal begitu dari sisi fiskal karena dari segi moneter beragam upaya sudah maksimal dilakukan oleh Bank Indonesia.
23:08Terima kasih Teku Rifki peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat LPM FEBUI.
23:15Atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis. Sehat selalu Mas.
23:19Terima kasih Mas. Sehat selalu.
Komentar