00:00Bukan mendukung, saya mau memperhatikan jalannya sidang dari perspektif penalaran hukum.
00:06Bukan mendukung, saya mau memperhatikan jalannya sidang dari perspektif penalaran hukum.
00:13Saya mengajar legal reasoning, karena itu saya ingin tahu apakah sidang ini dituntun oleh nalar hukum yang bersih
00:21atau di dalamnya ada defect, ada karat politik, ada karat pesanan, segala macam.
00:26Hanya itu yang saya ingin uji sebetulnya.
00:30Dari yang mau faksikan tadi, sepanjang sidangan seperti apa penilaian?
00:33Saya kira jak sepintar, tetapi dia kelelahan untuk menghubungkan fakta untuk jadi bukti itu.
00:40Bukti untuk jadi tuduhan, disitu dia gagal saya kira.
00:43Saya lihat bahwa misalnya, bagaimana misalnya menghubungkan antara satu kecemasan bahwa saudara Nadiem kok membawa masuk tim khusus.
00:56Bukankah itu fungsi dari kementerian?
01:00Sebetulnya seorang menteri, kalau dilihat kementeriannya bodoh, ya dia bawa yang pinter, kan mudah aja.
01:05Nah itu bukan kriminal tuh.
01:07Jadi jaksa, saya sebut istilah tadi, kelelahan untuk mengubah chattingan di WhatsApp menjadi what's wrong.
01:16Nah itu dia gagal-gagal.
01:18Whatsapp ya, Whatsapp.
01:19What's wrong itu adalah pembuktian nalar.
01:20Nah nalarnya mungkin belum nyampe itu.
01:23Kalau saya komentar lebih lanjut, nanti saya intervensi sidang.
01:28Oke, salam akal sehat.
01:29Selamat menikmati.
02:17Selamat menikmati.
02:20Selamat menikmati.
02:45Saya mau memperhatikan jalannya sidang dari perspektif penalaran hukum.
02:53Saya mengajar legal reasoning, karena itu saya ingin tahu apakah sidang ini dituntun oleh nalar hukum yang bersih atau di
03:02dalamnya ada defect.
03:04Ada karat politik, ada karat pesanan, segala macam.
03:07Hanya itu yang saya ingin uji sebetulnya.
03:10Saya kira jaksa pintar, tapi dia kelelahan untuk menghubungkan fakta untuk jadi bukti itu.
03:20Bukti untuk jadi tuduhan.
03:22Di situ dia gagal, saya kira.
03:40Di televisi Anda.
Komentar